Anda di halaman 1dari 10

SELUK-BELUK PENGAUDITAN DAN PERAN SPKN DALAM AUDIT DI

PEMERINTAHAN INDONESIA, MEMAHAMI FUNGSI BPK, BPKP, DAN


INSPEKTORAT DI PEMERINTAHAN INDONESIA

Tugas Mata Kuliah

Akuntansi Sektor Publik

Disusun Oleh:

Fantimatus Sofia

140810301179

Program Studi Strata Satu Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

UNIVERSITAS JEMBER

2016/2017
PENDAHULUAN

Didalam ringkasan ini kita akan membahas tentang seluk beluk


pengauditan dan peran SPKN dalam audit di Pemerintahan Indonesia sekaligus
memahami fungsi BPK, BPKP, dan Inspektorat di Pemerintahan Indonesia. Di
Indonesia lembaga yang bertugas untuk melaksanakan akuntabilitas dan transparasi
keaungan negara adalah BPK. Sesuai dengan mandat yang diberikan, BPK-RI
memiliki kewenangan dalam melakukan tigas jenis pemeriksaan yakni pemeriksaan
keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Untuk dapat
menghasilkan audit yang baik BPK-RI harus memiliki sebuah standar pemeriksaan
yang baik pula. Sesuai dengan Pasal 9 (1e) UU Nomor 15 Tahun 2006 Tentang BPK,
BPK-RI memiliki kewenangan untuk menetapkan standar pemeriksaan keuangan
negara setelah konsultasi dengan pemerintah pusat atau daerah yang wajib digunakan
dalam pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Berdasarkan
peraturan tersebut, pada bulan Januari 2007, BPK-RI telah menerbitkan Standar
Pemeriksaan Keungan Negara (SPKN) sebagai patokan dalam melakukan
peemriksaan pengelolaan keuangan negara.

Pada sebuah negara pasti memiliki sebuah masalah baik yang berasal
dari alam maupun masalah dari pengelola atau masyarakat yang berada pada negara
terebut, namun pada dasarnya hampir setiap negara di dunia ini memiliki tujuan yang
sama, yakni untuk menignkatkan kesejateraan, melindungi, dan memenuhi kebutuhan
masyarakatnya. Tujuan negara pada umumnya telah dirumuskan di dalam konstitusi
negara. Di Indonesia, tujuan negara tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum dll. Semakin rumitnya masalah yang menuntut
pemerintah untuk membuat suatu badan atau organisasi yang bertujuan untuk
mencegah terjadinya hal-hal yag tidak diingikan terbukti pada terbentuknya BPK,
BPKP dan Inspektorat di Pemerintah Indonesia, yang akan dibahas pada ringkasan ini
agar kita semua tau bagaimana dan apa saja peranan yang diemban oleh mereka.
PEMBAHASAN

 BAB 23 SELUK-BELUK PENGAUDITAN DAN PERAN SPKN DALAM AUDIT


DI PEMERINTAHAN INDONESIA

Perbedaan Pengawasan dan Pemeriksaan (Pengauditan)

Jenis-Jenis Audit Sektor Publik

1. Audit Keuangan
Audit keuangan adalah audit yang menjamin bahwa sistem akuntansi dan
pengendalian keuangan berjalan secara efisien dan tepat serta transaksi keuangan
diotorisasi serta dicatat secara benar.
2. Audit Kinerja
Audit Kinerja merupakan perluasan dari audit keuangan dalam hal tujuan dan
prosedurnya. Menurut SPKN, yang dimaksud dengan audit kinerja adalah pemeriksaan
atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri dari audit atas aspek ekonomi.
3. Audit Ekonomi dan Efisiensi
Audit ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk menentukan bahwa suatu entitas telah
memperoleh, melindungi, menggunakan sumber dayanya (karyawan, gedung, ruang,
dan peralatan kantor) secara ekonomis dan efisien.
4. Audit Efektivitas
Audit efektivitas bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil atau manfaat
yang diinginkan, kesesuaian hasil dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya dan
menentukan apakah entitas yang diaudit telah mempertimbangkan alternatif lain yang
memberikan hasil yang sama dengan biaya yang paling rendah.
5. Audit Investigasi
Audit investigasi adalah kegiatan pemeriksaan dengan lingkup tertentu, periodenya
tidak dibatasi, lebih spesifik pada area-area pertanggungjawaban yang diduga
menagndung inafesiensi atau indikasi penyalahgunaan wewenang, dengan hasil audit
berupa rekomendasi untuk ditindaklanjuti bergantung pada derajat penyimpangan
wewenang yang ditemukan.
Pendekatan-Pendekatan dalam Audit Sektor Publik

Banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam pekerjaan audit dan tidak ada satu
pendekatan pun yang merupakan pendekataan yang paliang tepat. Secara garis besar,
pekerjaan audit dapat dilaksanakan dengan menggunakan tiga pendekatan yakni:

· Audit transaksi
· Audit neraca

· Audit system.

Proses Audit dalam Sektor Publik

Didalam audit sektor publik adanya audit kinerja dimana audit kinerja ini adalah
perluasan dari audit keuangan dna kepatuhan. Sebelum melakukan audit, auditor
terlebih dahulu memperoleh informasi umum organisasi guna mendapatkan
pemahaman yang memadai tentang lingkungan organisasi yang diaudit, struktur
organisasi, misi organisasi, dan lain sebagainya. Berdasarkan rencana kerja yang telah
dibuat, auditor melakukan pengauditan, mengembangkan hasil-hasil temuan audit dan
membandingkan antara kinerja yang dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan
sebelumnya. Hasil temuan kemudian dilaporkan kepada pihak-pihak yang
membutuhkan disertai dengan rekomendasi yang diusulkan dari auditor. Pada akhirnya
rekomendasi-rekomendari yang diusulkan oleh auditor akan ditindaklanjuti oleh pihak-
pihak yang berwenang.

Peran dan Fungsi Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)

Sesuai dengan Peraturan BPK-RI Nomor 1 Tahun 2007 bahwa SPKN atau Standar
Pemeriksa Keuangan Negara adalah patokan untuk melakukan pemeriksaan
pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. SPKN dinyatakan dalam bentuk
Pernyataan Standar Pemeriksa yang selanjutnya disebut PSP. SPKN ini berlaku untuk
semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap entitas, program, kegiatan serta
fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan. SPKN ini
berlaku bagi Badan Pemeriksa Keuangam dan Akuntan Publik atau pihak lainnya yang
melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tangging jawab keuangan negara,
untuk dan atas nama Badan Pemeriksa Keuangan.

Sesuai denga UU Nomor 15 Tahun 2004 standar pemeriksaan (SPKN) memiliki


kedudukan sebagai dasar untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan
keandalan informasi mengenai pengelolaan tanggungjawab keuangan negara. Adapun
peran SPKN adalah memberikan patokan atau arahan per tahapan pemeriksaan
pengelolaan dan tanggung jawab keungan negara bagi pemeriksa. Dengan kata lain,
SPKN disusun untuk menjadi ukuran mutu bagi para pemeriksa dan organisasi
pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggungjaawab
keuangan negara. Dengan adanya standar pemeriksaan ini, diharapkan akan
meningkatkan kredibilitas informasi yang dilaporkan atau diperoleh dari entitas yang
diperiksa melalui pengumpulan dan pengujian bukti secara objektif. Dalam
penerapannya, SPKN berlaku untuk semua pemeriksaan yang dilaksanakan terhadap
entitas, program kegiatan, serta fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

Isu dan Tantangan dalam Audit di Pemerintahan Indonesia

Audit sektor publik tidak hanya memeriksa serta menilai kewajaran laporan keuangan
sektor publik, tetapi juga menilai ketaatan aparatur pemerintahan terhadap undang-
undang dan peraturan yang berlaku. Di samping itu, auditor sektor publik juga
memeriksa dan menilai tingkat ekonomis, efisiensi, serta efektivitas dari semua entitas
, program, kegiatan, serta fungsi yang dilakukan pemerintah. Dengan demikian, bila
kualitas audit sektor publik rendah, akan mengakibatkan risiko tuntutan hukum
(legitimasi) terhadap pejabat pemerintah dan akan muncul kecurangan, korupsi, kolusi
serta berbagai ketidakberesan.

Untuk itulah dibutuhkan pemahaman yang utuh dan tidak parsial atas SPKN. Media
sederhana yang dapat dilakukan untuk memulai suatu pemahaman terhadap SPKN
adalah melalui sosialisasi. Namun, kadangkala sosialisasi tidak berjalan efektif karena
hanya sekedar penyampaian. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu sosialisasi yang
dapat membuat pihak memahami makna SPKN sehingga memahami apa yang
dilaksanakan. Sosialisasi diperuntukkan bagi auditor BPK, auditee,
akademisi/profesi/pemerhati. Selain itu, penerapan atas SPKN kadang memungkinkan
terajadi perbedaan interpretasi dalam memahami SPKN. Dari semua perbedaan yang
terjadi maka pendapat atau interpretasi pihak penyusunlah yang harus diunggulkan.
Oleh karena itu, diterbitkan interpretasi atas SPKN. Terhadap kondisi yang sedang
berkembang dan belum diatur dalam SPKN, sambil menunggu perbaikan atau
tambahan untuk SPKN dapat dibuatkan buletin atas hal ini.

 BAB 24 MEMAHAMI FUNGSI BPK, BPKP, DAN INSPEKTORAT DI


PEMERINTAHAN INDONESIA

Pembahasan

Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam upaya memberantas atau menanggulangi


terjadinya tindak pidana korupsi di Indonesia, pemerintah telah membuat lembaga-
lembaga, badan-badan, atau komisi-komisi yang terkait dengan usaha-usaha
pemberantasan korupsi. Lembaga, badan atau komisi tersebut antara lain mahkamah
agung, badan pemerinksaan keuangan, komisi pemberantasan korupsi, kepolisian,
badan pengawasan keuangan dan pembangunan, dan kejaksaan agung, yang dalam
menjalankan tugasnya semuanya saling terkait dan saling mendukung dalam sebuah
sistem yang dibuat oleh pemerintah. Pada dasarnya badan pemeriksaan keuangan
(BPK) bertugas melakukan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan negara.
Dengan adanya pengawasan tersebut diharapkan tidak terjadi penyimpangan ataupun
guna menghindari adanya praktik-praktik yang mengakibatkan terjadinya kerugian
negara.berdasarkan landasan hukum, kewenangan badan pemeriksaan keuangan
telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23 E, yaitu untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara. Selain itu dalam UU
Nomor 15 Tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan tanggung jawab keuangan
negara, ditegaskan ulang tugas dan wewenang badan pemeriksaan keuangan untuk
memeriksa tanggung jawab pemerintah tentang keuangan negara, memeriksa semua
pelaksaan APBN, dan berwanang untuk meminta keterangan berkenaan dengan tugas
yang diembannya. Disinilah peran BPK untuk senantiasa melaporkan hasil auditnya
kepada lembaga yang kompeten untuk pemberantasan korupsi. Validitas data BPK
dapat dijadikan data awal bagi penegak hukum untuk melakukan penyidikan atas
indikasi korupsi yang dilakukan. Laporan BPK yang akurat juga akan menjadi alat bukti
dalam pengendalian. Bukti peran BPK cukup berpengaruh besar terhadap proses
penindakan kasus-kasus korupsi yaitu banyak proses hukum akan terhambat jika hasil
audit BPK tidak kunjung selesai. Berikut ini merupakan kedudukan BPK hingga nilai-
nilai dasar yang menjadi acuan bagi BPK untuk bekerja.

1. Kedudukan Badan Pemeriksa Keuangan


BPK merupakan lembaga tinggi negara yang berwenang untuk mengawasi
semua kekayaan negara yang mencakup pemerintah pusat, pemerintah
daerah, BUMN, BUMD, dan lembaga negara lainnya. BPK berkedudukan di
Jakarta dan memiliki perwakilan provinsi.
2. Tugas dan Wewenang Badan Pemeriksa Keuangan
BPK memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan
yang ada dalam undang-undang.
3. Keanggotaan Badan Pemeriksa Keuangan
Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat
dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan daerah dan
diresmikan oleh Presiden. Pimpinan BPK dipilih oleh anggota BPK.
4. Visi Badan Pemeriksa Keuangan
Terwujudnya BPK RI sebagai lembaga pemeriksa yang bebas dan mandiri,
profesional, efektif, efisien, dan modern dalam sistem pengelolaan keuangan
negara.
5. Misi Badan Pemeriksa Keuangan
Mewujudkan diri menjadi auditor eksternal keuangan negara yang bebas dan
mandiri, profesional, efektif, efisien, dan modern sesuai dengan praktik
internasional terbaik, berkedudukan di ibukota negara dan ibukota setiap
provinsi, serta mampu memberdayakan DPR,,DPD, dan DPRD dalam
melaksanakan fungsi pengawasannya terhadap pemerintah pusat dan daerah
untuk mewujudkan pemerintahan yang bebas dari korupsi, kolusi, dan
nepotisme (KKN).
6. Nilai-Nilai Dasar Badan Pemeriksa Keuangan
Ada nilai-nilai dasar yaitu independensi, integritas, dan profesionalisme

Berkaitan dengan adanya lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang


baru didirikan pada beberapa tahun yang lalu, maka BPK adalah badan yang
memeriksa keuangan instansi-instansi pemerintah ataupun pejabat pemerintah. Hasil
audit BPK merupakan indikator apakah telah terjadi penyelewengan dalam
penggunaan APBN atau tidak. Jika memang misalnya dideteksi terdapat
penyelewengan, maka hasil audit tersebut sangat berarti bagi KPK yang berperan
sebagai penyelidik dan penyidik yang pada akhirnya melakukan penuntutan pada
sidang di pengadilan tindak pidana korupsi.

Tugas pelaksanaan dan fungsi Badan Pegawas Keuangan dan Pembangunan


ditetapkan berdsarkan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata kerja LPND
sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2002 dan
terakhir dengan PP Nomor 64 Tahun 2005 tentang Perubahan Keenam atas
Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001. Berdasarkan peraturan tersebut, tugas
BPKP adalah untuk melaksanakan pengawasan keuangan dan pembangunan serta
penyelenggaraan akuntabilitas di daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Selanjutnya fungsi BPKP adalah sebagai berikut :

1. Penyiapan rencana dan program kerja pengawasan.


2. Pengawasan terhadap pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara
dan pengurusan barang milik/kekayaan negara.
3. Pengawasan terhadap pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja daerah
dan pengurusan barang milik/kekayaan pemerintah daerah atas permintaan
daerah.
4. Pengawasan terhadap penyelenggaraan tugas pemerintah yang bersifat
strategis dan/ atau lintas departemen/lembaga/wilayah.
5. Pemberian asistensi penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
6. Evaluasi atas laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah pusat dan
pemerintah daerah.
7. Pemeriksaan terhadap badan usaha milik negara.
8. Evaluasi terhadap pelaksanaan good corporate governance dan laporan
akuntabilitas kinerja pada badan usaha milik negara.
9. Investigasi terhadap indikasi penyimpangan yang merugikan negara.
10. Pelaksanaan analisis dan penyusunan laporan hasil pengawasan serta
pengendalian mutu pengawasan.
11. Pelaksanaan administrasi perwakilan BPKP
PENUTUP

Salah satu fungsi yang harus ada dalam proses akuntabilitas publik
adalah fungsi pemeriksaan atau auditing. Fungsi pemeriksaan berbeda dengan fungsi
pengawasan. Secara konsepsional, pelaksanaan pemeriksaan APBN/APBD sangat
berbeda dengan aspek pengawasan. Audit yang dilakukan pada sektor publik
pemerintah berbeda dengan yang dilakukan pada sektor swasta. Perbedaan tersebut
disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang pada sektor swasta. Audit
keuangan adalah audit yang menjamin bahwa sistem akuntansi dan pengendalian
keuangan berjalan secara efisien dan tepat serta transaksi keuangan diotorisasi serta
dicatat secara benar. Audit kinerja merupakan perluasan dari audit keuangan, dalam
hal tujuan dan prosedurnya. Menurut SPKN, yang dimaksud dengan audit kinerja
adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas audit atas
aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Audit investigasi adalah kegiatan
pemeriksaan dengan lingkup tertentu, periodenya yang dibatasi, lebih spesifik pada
area-area pertanggungjawaban yang diduga mengandung inefisiensi atau indikasi
penyalahgunaan wewenang, dengan hasil audit berupa rekomendadi untuk
ditindalanjuti bergantung pada derajat penyimpangan weweang yang ditemukan.

Dalam UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan


Keuangan untuk memeriksa tanggung jawab pemerintah tentang keuangan negara,
memeriksa semua pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),
dan berwenang untuk meminta keterangan berkenaan dengan tugas yang
diembannya.dengan demikian eksternal auditor berperan independen dan satu-
satunya lembaga negara (BPK) sesuai UU Nomor 15 Tahun 2004 yang berhak
memeriksa dan menilai dengan cara memberikan opini terhadap laporan keuangan
pemerintah daerah sebelum disampaikan pada DPRD. Pentingnya pengawasan
terhadap sektor publik (pemerintah) untuk menciptakan transparasi dan akuntabilitas,
vertikal maupun horizontal terhadap pelayanan publik; memastikan anggaran dikelola
secara ekonomis, efisien, dan efektif; meminimalkan terjadinya kebocoran anggaran
atau korupsi; dan memperbaiki manajemen berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA

Halim Abdul, dan Kusufi, M.S. (Peny) (2016). Teori, Konsep, dan Aplikasi Akuntansi
Sektor Publik Dari Anggaran Hingga Laporan Keuangan, Dari Pemerintah Hingga
Tempat Ibadah. Jakarta: Salemba Empat