Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRATIKUM

GENETIKA TERNAK

“PERSILANGAN DIHIBRID”

Disusun Oleh :
Kelompok 5
Nama NIM
Dhimas Yusantoro 181510102011

Asisten Pedamping.
Dr. Desy Cahya Widianingrum, S.Pt.

PROGRAM STUDI PETERNAKAN


FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER
KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
SEPTEMBER, 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Kegiatan : Persilangan Dihibrid


Nama MK : Genetika Ternak
Kelas : R
Kelompok : 5
Nama : Putra Awang Eka Pranata
Dhimas Yusantoro
Anggita Habibatul Maimunah
Desy Natasia Ramadani
Afif Andriansyah

Telah diperiksa oleh asisten pendamping pada tanggal: September 2019

Bondowoso, 29 September 2019

Mengetahui,
Asisten Pendamping Ketua Kelompok

Dr. Desy Cahya Widianingrum, S.Pt. Putra Awang Eka Pranata


NRP.760018057 NIM. 181510102005

i
DAFTAR ISI
LEMBAR
PENGESAHAN……………………………………………………......Error!
Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ............................................................................................................ i

RINGKASAN ........................................................................................................ iii

DAFTAR GAMBAR ............................................. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... iv

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2Manfaat dan Tujuan ........................................................................................ 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 3

BAB III. MATERI METODE ................................................................................ 5

3.1 Materi ............................................................................................................ 5

3.2 Metode ........................................................................................................... 5

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 6

4.1 Hasil............................................................................................................... 6

4.2 Pembahasan ................................................................................................... 9

BAB V. KESIMPULAN ....................................................................................... 11

5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 11

5.2 Saran ............................................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 12

LAMPIRAN ........................................................... Error! Bookmark not defined.

ii
RINGKASAN

Pada praktikum persilangan monohybrid dan dihybrid mahasiswa


diharapkan dapat menentukan genotip dan fenotip yang baik dan benar sesuai
dengan cara perhitungan perkiraan. Hal ini dikarenakan penggabungan secara bebas
sampai mendapatkan hasil yang diinginkan. Ciri-ciri yang diturunkan oleh induk
yaitu tinggi badan, bobot ternak, warna bulu, dan lain sebagainya. Disediakan
beberapa soal mengenai persilangan monohibrid dan dibibrid dan dikerjakan secara
berkelompok atau individu. Persilangan dihibrid menghasilkan perbandingan
9:3:3:1 dan persilngan monohibrid menghasilkan perbandingan 3:1.

iii
DAFTAR LAMPIRAN
Gambar 1. Persilangan Monohibrid .................................................................................... 4
Gambar 2. Persilangan Dihibrid.......................................................................................... 4

iv
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Genetika merupakan bidang dari penelitian sains untuk melestarikan pewarisan
dengan pengembangan ilmu biologi. Pada pengembangan ilmu tersebut didapat
hasil modifikasi persilangan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Persilangan
yang diciptakan yaitu monohybrid dan dihybrid.
Pada genetika yang akan dibahas yaitu pewarisan sifat genetika monohybrid
dan dihybrid. Pada kedua pewarisan sifat ini mempunyai perbedaan utama yaitu
pada penurunan sifat yang sama, dimana pada monohybrid menurunkan pewarisan
satu sifat dan untuk dihybrid mempelajari penurunan sifat dengan 2 sifat yang
berbeda pada persilangan yang sama. Pada persilangan monohybrid pewarisan sifat
menghasilkan satu sifat saja, seperti bentuk tubuh pada ternak. Hukum Mendel I
berlaku pada persilangan monohybrid karena pada saat pembentukan kedua gamet
terjadi pelepasan atau pemisahan secara bebas yang artinya tidak mempengaruhi
sifat sel sebelum dipasangkan. Sementara itu, persilangan dihybrid berlaku hukum
mendel II yang mempelajari dua sifat yang berbeda dalam penurunan sifat.
Persilangan dihybrid dapat memvariasi hasil keturunannya mulai dari bentuk tubuh,
warna kulit. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan rasio genotip yang beragam dan
mempunyai dua sifat atau lebih. Hukum mendel II berlaku pada persilangan
dihybrid dimana gen dalam gamet akan bergabung secara bebas dan membentuk
individu baru tanpa adanya syarat tertentu, yang artinya gen yang ada di dalam
gamet akan bergabung dan membentuk individu baru. Hukum mendel II berlaku
sebagai hukum asortasi bebas

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana hasil perhitungan persilangan dihybrid dari soal yang disajikan?

1
1.3 Manfaat dan Tujuan
Pada praktikum ini mahasiswa mempelajari persilangan monohybrid dan
dihybrid untuk memberikan pemahaman materi persilangan monohybrid dan
dihybrid secara mendalam, karena kedepannya persilangan monohybrid dan
dihybrid akan menyinggung secara langsung dan tidak langsung.

2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ilmu Genetika

Genetika merupakan cabang ilmu yang sering diajarkan pada biologi


dengan pewarisan sifat (Hereditas), variasi, dan ekspresi sifat-sifat menurun.
Pengertian genetika yang melewati berbagai macam penelitian menunjukan arti dan
ruang lingkup yang masih klasik dan seiring berkembangnya teknologi yang
menuntut perkembangan ilmu pengetahuan pula. Hal ini tidak lepas dari karya
Gregor Johan Mendel yang menciptakan hukum pewarisan sifat yaitu Hukum
Mendel I dan Hukum Mendel II yang berisi tentang pewarisan sifat monohybrid
dan dihybrid, sehingga menjadi landasan utama bagi perkembangan genetika.
Sesuai dengan landasan untuk melakukan pengembangan genetika,
permulaan dalam perkembangan genetika mengkaji bagaimana sifat atau gen
diwariskan dari induk ke keturunannya selama reproduksi serta bagaimana kerja
gen mengontrol berbagai sifat seperti warna bulu, bobot badan, tinggi badan.
Dewasa ini mulai dikembangkan lebih baik teknologi rekayasa genetika dalam
bidang peternakan, tujuannya untuk memberikan keturunan yang unggul dan
memberikan hasil produksi ternak yang unggul pula.

2.2 Monohibrid dan dihybrid

Percobaan yang dilakukan mendel tentang pewarisan sifat menghasilkan


pemisahan kromosom ketika meiosis melalui pembelahan yang merupakan menjadi
dasar fisik bagi Hukum mendel. Alel atau gen yang menentukan sifat tertentu
mempunyai pasangan yang berlokasi pada sepasang kromosom homolog pada
lokus yang sama. Karena homolog selalu berpisah kedalam berbagai sel ketika
meiosis, maka alel juga harus melakukan pemisahan dan hanya ada dua alel yang
bisa terdapat pada suatu individu pada satu lokasi.

Hukum Mendel I merupakan perpisahan suatu alel dari gen yang


berpasangan yang menciptakan keturunan generasi pertama yang disebut dengan

3
persilangan monohybrid dan mempunyai sifat yang menyerupai salah satu
induknya. Kemudian disilangkan lagi dengan yang menghasilkan keturunan
generasi kedua yang sama. Sifat yang dominan ditampakkan oleh hasil pewarisan
sifat dan sifat yang tidak tampak tertutupi dengan sifat dominan yang dihasilkan.
Sifat yang tertutup oleh sifat dominan disebut dengan sifat resesif.

Gambar 1. Persilangan Monohibrid

Persilangan dihybrid merupakan Hukum Mendel II yang artinya


penggabungan gen secara bebas. Dalam suatu sel dihibrida, kedua pasang
kromosom bisa tersusun dimana masing-masing akan tampil frekuensi yang sama
diantara sel-sel yang mengalami pematangan. Jadi dengan contoh A dan B berada
pada suatu belahan dari ekuator dalam sebuah sel, selain itu a dan b pada belahan
lain. Setelah melalui proses meiosis, memproduksi 4 gamet berbeda dengan jumlah
yang sama yaitu AB, Ab, aB, dan ab.

Gambar 2. Persilangan Dihibrid

4
BAB III MATERI METODE

3.1 Materi
Materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah persilangan dihybrid
dan diberikan soal-soal tentang persilangan dihibrid

3.2 Metode
1. Kelompok dibentuk yang masing-masing kelompok berjumlah 5 orang
2. Diamati beberapa sifat monohybrid dan dihibrid
3. Analisa dilakukan serta perhitungan hasil dari persilangan monohybrid dan
dihibrid

5
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
1. Diket : Gen P = warna kuning Gen Q = bertanduk
Persilangan PpQq dengan sesama menghasilkan 500 individu
Ditanya : Ketrunan yang berwarna kuning dan bertanduk ?
Jawab : PpQq x PpQq
PP QQ = PPQQ
Pp Qq = PpQq
Pp Qq = PpQq
Pp qq = ppqq
3 : 1 = 375 : 125 500/ 3+1 = 125
2. Diket : AABbcc , Aa Bb , AABBCCEEFf
Ditanya : Hasil F1 ?
Jawab : a. AABbcc x AABbcc
AA Bb cc = AABbcc
AA Bb cc = AABbcc
AA Bb cc = AABbcc
AA Bb cc = AABbcc
Perbandingan 3 :1
b. AaBb x AaBb
AB AB
Ab Ab
aB aB
ab ab
AB Ab aB Ab
AB AABB AABb AaBB AaBb
Ab AABb AAbb AaBb Aabb
aB AaBB AaBb AaBB aaBb
Ab AaBb Aabb aaBb Aabb

6
AABB = 1 AABb = 2 AaBB = 2
AaBb = 4 AAbb = 1 Aabb = 2
AaBB = 1 aaBb = 2 aabb = 1
Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1
c. AABBCCEEFf x AABBCCEEFf
AA BB CC EE Ff = AABBCCEEFf
AA BB CC EE Ff = AABBCCEEFf
AA BB CC EE Ff = AABBCCEEFf
AA BB CC EE Ff = AABBCCEEFf
Perbandingan 3 : 1
3. Diket : Rex bulu kasar (Rr)
Satin tidak mengkilap (Ss)
Ditanya : Keturunan F2 dan kemungkinan fenotip ?
Jawab : Rr x Ss
R S
r s
F1 = RS Rs Sr sr
F2 = - RS Rs
RR Rs SR Ss
- RS Sr
RS Rr SS Sr
- RS sr
Rs Rr Ss Sr
- Rs Sr
RS Rr Ss sr
- Sr sr
Ss Sr rr sr
- Rs rs
Rr Rs sr ss
RR = 1 Rs = 3 SR = 3 Ss = 4 Rr = 4
SS = 1 Sr = 3 sr = 3 rr = 1 ss = 1

7
4. Silisilah Keluarga

KARSOSOEDJONO SAMPAN
(Buyut) (Buyut)

POERNOMO SRI AMINI DARYONO PUDJIATI

(Kakek) (Nenek) (Kakek) (Nenek)

YOESWANTO YOESANDI YOESSANA YOESANTO


AGUS SUJATMIKO BUDI SUNTORO
(Paman) (Paman) (Ibu) (Paman)
(Paman) (Ayah)

DHIMAS YUSANTORO DHANU GALIH YUSANTORO


(Saya) (Adik)

8
4.2 Pembahasan
Hasil perhitungan dari soal nomor 1 menjelaskan bahwa keturunan yang
berwarna kuning dan bertanduk dari persilangan PpQq dengan sesama berjumlah
375. Jumlah ini didapat dari hasil persilangan dengan hasil perbandingan 3:1 yang
mewariskan sifat berwarna kuning, dan bertanduk dengan tidak berwarna kuning
dan tidak bertanduk, hasil persilangannya yaitu PPQQ, PpQq, PpQq, dan ppqq.
Total individu yang dihasilkan dari persilangan sesama PpQq berjumlah 500
kemudian dibagi dengan hasil penjumlahan perbandingan yaitu 3 + 1. Maka hasil
yang diperoleh yaitu 500 : 4 = 125 yang artinya keturunan hasil persilangan sesama
adalah persilangan tidak bertanduk dan tidak berwarna kuning (ppqq).

Perhitungan persilangan dihybrid pada nomer 2 pada gamet AABbcc


dengan sesama menghasilkan F1 yaitu AABBcc, AABbcc, AABbcc dan AAbbcc
yang menghasilkan perbandingan yaitu 3:1. Persilangan gamet yang dilakukan
sesama yaitu AaBb menghasilkan 16 fenotip (F1) yaitu AABB=1; AABb=2;
AaBB=2; AaBb=4; AAbb= 1; Aabb = 2; aaBB = 1; aaBb = 2 dan aabb =1, dan
menghasilkan rasio perbandingan 9:3:3:1.

Persilangan pada nomer 3 antara kelinci rex berbulu kasar (Rr) dengan
kelinci satin berbulu tidak mengkilap (Ss) terjadi enam kali persilangan (F2) yaitu
RSRs, RsSr, RSrs, RsSr, Srsr dan Rsrs hasil persilangan tersebut berjumlah 24
fenotip pada F2. Fenotip yang muncul pada persilangan ini adalah Rs (Berbulu
kasar mengkilap), RS (berbulu kasar tidak mengkilap), Sr (berbulu halus tidak
mengkilap), sr (berbulu halus mengkilap). Persilangan yang dilakukan adalah
monohybrid menggunakan satu sifat yang berbeda.

Silsilah keluarga yang ada pada nomer 4 merupakan asal-usul dari


pewarisan sifat yang diturunkan oleh buyut, kakek, dan ayah. Sifat-sifat yang
diturunkan oleh orang tua kepada anaknya disebut hereditas. Hal ini menjelaskan
bahwa hereditas merupakan genotif yang diwariskan dari induknya pada
keturunannya yang membuat mempunyai kesamaan karakter seperti induknya.
Keturunan karakter seperti warna kulit, tinggi badan, bentuk hidung bahkan
penyakit dapat diwariskan. Penurunan sifat dari segi penyakit dibawa oleh gen yang

9
ada di dalam DNA. Definisi pada hereditas apabila disederhanakan adalah sebagai
transmisi genetic dari orang tua keturunannya yang diwariskan oleh anaknya yang
terdiri dari satu sel alel dari masing-masing orang tua

10
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Pada praktikum ini mahasiswa mampu mempelajari dengan baik cara
melakukan persilangan monohybrid dan dihybrid melalui soal-soal yang dikerjakan
dan juga melakukan analisis terhadap silsilah keluarga tiap individu mahasiswa.

5.2 Saran
Proses mengerjakan soal-soal untuk mendapatkan hasilnya yaitu
memperbanyak latihan dan memperdalam pengetahuan tentang persilangan pada
ternak apabila akan mengambil bidang ini untuk kedepannya

11
DAFTAR PUSTAKA

Firdauzi, N. Fitria. 2014. Rasio Perbandingan F1 Dan F2 Pada Persilangan Starin


N X B, Dan Strain N X Tx Serta Resiproknya. Jurnal Biology Science &
Education .vol 3(2).
Melinda. 2017.) Teori Hereditas Mendel: Evolusi Atau Revolusi (Kajian Filsafat Sains).
Jurnal Pembelajaran Biologi, vol 4(2).

Nusantari, Elya. 2014. Genetika: Belajar Genetika dengan Mudah dan Komprehensif.
Yogyakarta. Deepublish

12