Anda di halaman 1dari 20

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Dasar - Dasar Teoritis

1. Definisi Supporter dan sejarah sepak bola

Menurut Daniel L. Wann: “suporter yang menyaksikan pertandingan

olahraga sebagai pribadi yang aktif secara fisik, politik dan sosial. Oleh karena itu

keberadaan suporter bukan hanya soal dukungan. Suporter membuat pertandingan

menjadi lebih berkesan dan dinamis. Bahkan tak jarang keberadaan suporter justru

lebih menonjol dan menarik perhatian ketimbang pertandingannya sendiri”.

Sepak Bola adalah sebuah permainan kelas pekerja, demikian bangsa

Erofa mengenalnya. Permainan yang tidak mengenal sekat dan batas

kemanusiaan; hanya pada sepak bola-lah manusia menjadi sama dan satu.

Mungkin saya berlebihan, tetapi pada suatu ketika, sejarah mencatat bahwa

bangsa Aztec pernah memainkan sesuatu yang kurang lebih sama dengan sepak

bola sebagai bentuk pemujaan pada Yang maha Kuasa, (Anthony Sutton.

2017:xii).

Sepak bola sebagai olahraga paling populer, telah menarik begitu banyak

orang untuk menjadi suporternya dengan fanatisme yang sangat kental. Fanatisme

ini yang kemudian mendorong suporter sepak bola untuk mengorganisir dirinya

serta melakukan berbagai aksi yang mencolok sebagai manifestasi dari fanatisme

tersebut. Suporter adalah orang yang memberikan dukungan atau sokongan dalam

9
10

satu pertandingan, demikian KBBI mendefinisikannya. Pengertian ini tidak

merujuk pada pertandingan yang spesifik, namun keberadaan suporter pada

kenyataannya begitu lekat dengan pertandingan olahraga.

Sejarah Sepak Bola Dunia

Sejarah sepak bola sebagai olahraga digemari sejak abad ke-2 M sampai abad ke-

3 M di Cina. Pada masa Dinasti Han, masyarakat menggiring bola kulit dengan

memasukkan dalam jaring kecil yang disebut dengan Tsu Chu. Permainan sepak

bola juga dimainkan di Jepang dengan nama lain Kemari. Pada abad ke-16 sepak

bola juga digemari di Italia. Lalu permainan sepak bola banyak ditemukan di

berbagai negara seperti Inggris, Meksiko, Romawi, Amerika Tengah hingga

Romawi Kuno.

Namun saat sepak bola sampai ke Inggris, pada tahun 1365 Raja Edward

III melarang untuk memainkan sepak bola, karena dalam permainan sepak bola

terjadi banyak kekerasan dan tindakan yang brutal. Namun pada tahun 1360 Raja

Edward III mengizinkan kembali berlakunya permainan sepak bola. Namun

permainan sepak bola tidak ada perubahan, tetap penuh dengan kekerasan dan

tindakan brutal. Hingga pada tahun 1572, Ratu Elizabeth I melarang kembali

permainan sepak bola tanpa ada kompromi dan disertai sanksi tegas kepada orang

yang masih melakukan permainan sepak bola yaitu dengan memenjarakan orang

tersebut. Namun akhirnya pada tahun 1680 larangan untuk tidak melakukan

permainan sepak bola dicabut kembali oleh Raja Charless II.


11

Sejarah sepak bola modern berdasarkan tahun :

 Pada tahun 1863 terbentuk asosiasi sepak bola Inggris

 Pada tahun 1885 terdapat pertandingan sepak bola diluar wilayah Inggris, yaitu

Kanada melawan Amerika

 Pada tahun1886 diadakan rapat pertemuan untuk pertama kali yang membahas

tentang pembentukan kelompok yaitu asosiasi sepak bola dunia

 Pada tahun 1888 terdapat wasit menjadi pemegang penih permainan sepak bola

 Pada tahun 1904, dibentuk Federation Internationale de Football Asociation

(FIFA) do Prancis yang beranggotakan Swedia, Swiss, Spanyol, Belanda,

Belgia, Prancis.

Federation Internationale de Football Asociation (FIFA)

Federation Internationale de Football Asociation (FIFA) didirikan pada

tahun 1904 di Prancis. Federation Internationale de Football Asociation (FIFA)

memiliki slogan “FOR THE GAME, FOR THE WORLD”. FIFA adalah badan

internasional pengatur sepak bola, FIFA juga mempromosikan sepak bola,

mengatur transfer pemain antar tim, memberikan gelar kepada pemain sepak bola

terbaik di dunia, dan menerbitkan daftar peringkat dunia FIFA setiap bulannya

Federation Internationale de Football Asociation (FIFA) memberikan sebuah kode

tiga huruf (Tigram FIFA) kepada negara anggota dan negara non-anggota FIFA.

Sampai saat ini terdapat 209 negara yang tergabung dalam FIFA. Markas
12

Federation Internationale de Football Asociation (FIFA) terletak di Zurich, Swiss.

Kompetisi terpenting yang diadakan oleh FIFA yaitu pertandingan sepak bola

seluruh dunia atau yang sering kita sebut piala dunia. Pada babak final piala dunia

adalah tontonan yang paling digemari melebihi Olimpiade. BBC adalah stasiun

TV pertama kali yang menayangkan acara sepak bola pada tahun 1938 dan pada

tahun 1966 dengan menggunakan fitur replay pada setiap pertandingan sepak

bola. Kemudian FIFA memperlebar sayapnya dengan mendirikan beberapa badan

asosiasi regional yang terdiri atas beberapa negara, yaitu :

 UEFA atau Union of European Football Associations. Didirikan pada tahun

1954 dengan 53 anggota yang menaungi negara-negara Eropa. Turnamen

utama dalam UEFA adalah UEFA European Championship.

 CAF atau Confederation Africaine de Football. Didirikan pada tahun 1957

dengan 53 anggotan + 2 rekan yang menaungi negara-negara Afrika. Turnamen

utama adalah African Cup Of Nations.

 AFC atau Asian Football Confederation. Didirikan pada tahun 1954 dengan 46

anggota yang menaungi negara-negara Asia. Turnamen utama dari AFC adalah

Asian Cup.

 CONMEBOL atau Confederación Sudamericana de Fútbol. Didirikan pada

tahun 1916 dengan 10 anggota yang menaungi negara-negara Amerika Selatan.

Turnamen utama yaitu Copa Amerika.

 CONCACAF atau Confederation of North, Central American and Caribbean

Association Football. Didirikan pada tahun 1961 dengan 40 anggota yang


13

menaungi Amerika Utara, Amerika Tengah, Karibia. Turnamen utama

CONCACAF Gold Cup.

 OFC atau Oceania Football Confederation. Didirikan pada tahun 1966 dengan

11 anggota + 6 rekan yang menaungi negara-negara di Oseania. Turnamen

utamanya adalah OFC Nations Cup.

Sejarah Sepak Bola Indonesia

Perkembangan sepak bola di Indonesia tidak terlepas dari pedagang dari

cina yang datang tidak hanya untuk berdagang, namun juga menyebarkan sepak

bola pada masyarakat Indonesia. Telah tercatat pada tahun 1915 sudah terdapat

banyak club sepak bola yang berdiri dan didirikan oleh warga Tiong Hoa. Pada

tahun 1920 terdapat club sepak bola seperti UMS Jakarta dan Surabaya yang

menjadi club ter hebat dalam persepakbolaan Hindia Belanda. Peristiwa penting

pula dalam sejarah sepak bola indonesia yaitu pada tanggal 19 April 1930

didirikan PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang bertugas

menaungi club sepak bola yang ada di Indonesia. Sejarah sepak bola di Indonesia

tidak lepas dari seorang tokoh yang bernama Soeratin Sosrosoegondo. Beliau

merupakan anak seorang pribumi yang yang telah mengikuti sekolah Teknik

Tinggi Heckelenburg, Jerman. Menurutnya sepak bola adalah salah satu

meningkatkan rasa Nasionalisme untuk melawan Belanda. Namun pada tahun

1938, Soeratin Sosrosoegondo memutuskan secara sepihak dengan NIVU karena

beliau kesal setiap kali mengikuti pertandingan sepak bola selalu menggunakan

bendera NIVU atau Belanda. Namun untuk beberapa waktu, sepak bola di
14

Indonesia mengalami vakum. Karena Jepang telah berhasil mengusir Belanda dan

menjajah Indonesia.

Hingga tahun 1979, kompetisi sepak bola nasional di Indonesia diselenggarakan

secara amatir, dan lebih dikenal dengan istilah "Perserikatan".

Pada tahun 1979–80 diperkenalkan kompetisi Liga Sepak Bola Utama

(Galatama). Meski demikian, baik Perserikatan maupun Galatama tetap berjalan

sendiri-sendiri. Galatama merupakan kompetisi sepak bola semi-profesional yang

terdiri dari sebuah divisi tunggal (kecuali pada musim tahun 1983 dan 1990 terdiri

dari 2 divisi). Galatama merupakan salah satu pioner kompetisi semi-professional

dan professional di Asia selain Liga Hong Kong.

Pada tahun 1994, PSSI menggabungkan Perserikatan dan Galatama dan

membentuk Liga Indonesia, memadukan fanatisme yang ada di Perserikatan dan

profesionalisme yang dimiliki Galatama. Dengan tujuan meningkatkan kualitas

sepak bola Indonesia.

Pada tahun 2008, PSSI menyelenggarakan Liga Super Indonesia sebagai

liga sepak bola profesional pertama di Indonesia, menggantikan Divisi Utama

sebagai kompetisi tingkat teratas.

Pada tahun 2011, PSSI mengganti Liga Super Indonesia (ISL) dengan

Liga Prima Indonesia (IPL). Dualisme kompetisi ini bertahan hingga beberapa

tahun. Setelah kongres luar biasa PSSI pada tanggal 17 Maret 2013, Liga Prima

Indonesia dan Liga Super Indonesia berada di bawah pengawasan PSSI sebelum
15

digabungkan pada tahun 2014. Gejolak politik sepak bola Indonesia belum usai.

Belum genap beberapa tahun usai penggabungan Liga Primer Indonesia dengan

Liga Super Indonesia. Pada tanggal 17 April 2015, Menteri Pemuda dan Olahraga

(Menpora) Imam Nahrawi membekukan PSSI dengan alasan PSSI tidak

mematuhi peraturan olahraga nasional. Akibat intervensi tersebut, PSSI dibekukan

oleh FIFA. Satu tahun kemudian, Menpora mencabut sanksi terhadap PSSI. Pada

tanggal 13 Mei 2016, FIFA mencabut sanksi yang diberikan untuk Indonesia

setelah menerima laporan bahwa Menpora telah mencabut surat pembekuan

aktivitas terhadap PSSI. Pada tahun 2017, kompetisi sepak bola profesional

tertinggi di Indonesia yaitu Liga Super Indonesia (ISL) berganti nama menjadi

Liga 1 di bawah kepemimpinan ketua PSSI yang baru, Edy Rahmayadi. Liga 1

akan diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia Baru.

2. Loyalitas, Fanatisme dan Rivalitas Supporter

Loyalitas, sebuah kata yang cukup akrab di telinga para suporter Klub

Sepakbola dan para pihak yang terlibat dalam sebuah pertandingan. Loyalitas

sendiri berasal dari kata Loyal, yang memiliki makna patuh, setia, taat, komitmen

dan juga pengorbanan. Selain itu Loyalitas lebih banyak bersifat emosional,

loyalitas adalah kualitas perasaan, dan perasaan tak selalu membutuhkan

penjelasan rasional.

Kalau Loyalitas Kaum Pekerja (termasuk adalah pemain bola) adalah kepada

pihak atau klub yang mengontraknya termasuk juga loyalitas kepada suporternya.

sedikit banyak suporter juga berperan dalam menggaji pemain dengan pembelian
16

tiket atau merchandise resmi Klub. Pemain Bola termasuk dalam loyalitas pada

profesi. karena tanpa loyalitas tidak bisa dikatakan profesional.

Loyalitas ini muncul biasanya adalah karena adanya kepuasaan dan kenyamanan

dalam bekerja atau bermain bola. Memang benar kata Legenda Sepakbola

Indonesia, bambang Pamungkas, bahwa Loyalitas tidak bisa membeli susu,

membayar listrik dan pemenuhan kebutuhan hidup tapi Loyalitas tidak melulu

diukur dengan materi.seperti diawal Loyalitas lebih banyak bersifat emosional.

Loyalitas sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indoneia (KBBI) : Kepatuhan,

Kesetiaan.

Tentang fanatisme pada sepakbola, Johan Cruyff pernah berkata, "There is only

one ball, so you need to have it.". Karena sebuah bola, fanatisme itu muncul tanpa

kita sadari. Mungkin selama masih ada sepakbola di bumi ini, fanatisme akan

selalu ada, dalam sedih dan gembira. Mengutip dari artikel Pandit.football yang

berjudul fanatisme dalam sepakbola, pernyataan johan cruyff.

Kata Fanatisme sendiri berasal dari dua kata yaitu fanatic dan isme.

Fanatik sebenarnya berasal dari bahasa latin “fanaticus” yang dalam bahaa

inggrisnya diartikan sebagai frantic atau frenzied. Artinya adalah gila-gilaan,

kalut, mabuk atau hingar binger. Dari asal kata ini, tampaknya kata fanatic dapat

diartikan sebagai sikap seseorang melakukan atau mencintai sesuatu secara serius

dan sungguh-sungguh. Sedangkan “isme” dapat diartikan sebagai suatu bentuk

keyakinan atau kepercayaan. Jadi dari dua definisi diatas ditarik kesimpulan

bawha fanatime adalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap
17

suatu ajaran baik itu politik, agama dan sebagainya dalam hal ini tentang klub

sepakbola. (Sudirwan, 1998).

Perkembangan sepakbola di setiap zaman menghasilkan banyak

perubahan, dari mulai taktik, teknologi dan kreativitas supporter. Termasuk

fanatisme itu sendiri, hadir beriringan dengan sepakbola. Terutama di sepakbola

Indonesia, Supporter hadir dengan membawa fanatisme nya masing-masing untuk

mendukung klub kesayangan nya di stadion ataupun televisi, Apalagi jika

berhadapan dengan tim besar atau rival klub itu sendiri. Di Indonesia, maraknya

semakin tumbuh fanatisme semakin mengahalangi supporter lawan untuk dating

menyaksikan langsung itu karena adanya permusuhan atau dikaitkan dengan

rivalitas yang selama ini berjalan, entah sampai kapan fanatime buta

menghancurkan sepakbola itu sendiri, identitas klub kebanggaan membuat semua

supporter selalu mengagung-agungkan masing-masing klub kesayangan nya.

Dari fanatisme itu sendiri, Munculah rivalitas yang terjadi. Atau dari

rivalitas dapat pula memunulkan fanaitsme berlebih. Artinya: Fanatisme dan

Rivalitas seiringan dengan sifat-sifat supporter sepakbola di dalam stadion

ataupun diluar stadion, yang memunculkan pertemanan bahkan sampai

permusuhan. Rivaliatas diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

rivalitas/ri·va·li·tas/ n perihal rival; pertentangan; permusuhan; persaingan: rasa --

antara mereka sering menimbulkan perkelahian. Beberapa petandingan, dengan

tingkat rivalitas yang tinggi seringkali menimbulkan perasaan mesti menang,

karena identitas klub kebanggaan sangatlah berharga, namun tidak sedikit pula
18

yang mesti berakhir ricuh dengan tensi pertandingan yang tinggi. Baik itu dari

antar pemain ataupun supporternya sendiri. Rivalitas di sepakbola Indonesia,

terjadi antara Pendukung Persib dan Pendukung Persija.

3. Rasisme

“Tidak seorang pun yang terlahir untuk membeni orang lain karena warna kulit,

latar belakang ataupun agamanya. Orang belajar untuk membenci, dan jika

meraka dapat belajar untuk membenci, mereka dapat di ajarkan untuk mencintai,

karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada kebalikan nya. Aku

sangat membenci diskriminasi ras dan segala bentuk nya. Saya akan

memperjuangkan nya selama hidup saya. Saya akan memperjuangkan nya

sekarang, dan akan melakukan nya hingga akhir hayat” (Nelson Mandela).

“Dulu saya berpikir bahwa teriakan rasialis hanyalah sebuah fase, tapi semakin

banyak orang yang terlibat itu di sesalkan. Kita harus menghentikan nya ini

karena suatu hari anda tidak tahu apa yang akan terjadi jauh dari lapangan”

(Samuel Eto’o).

Menurut peneliti, melihat kutipan di atas. Maka, peneliti menganggap bahwa

kejadian rasisme ini bukanlah hal yang sepele, dapat diartikan begitu berbahaya

nya rasisme yang terjadi di dalam lapangan sepak bola ataupun di luar lapangan.

dapat menyebabkan segala hal yang terjadi tak terbayangankan, hingga kematian

dan keributan dapat terjadi begitu saja, akibat dari rasisme itu sendiri.
19

Sejarah Rasisme

Orang yang rasis adalah orang yang meyakini bahwa karakteristik

turunan yang dibawa sejak lahir secara biologis menentukan perilaku manusia.

Doktrin rasisme menegaskan bahwa darah adalah penanda identitas bangsa-etnis.

Rasisme, termasuk antisemitisme rasial (prasangka atau kebencian terhadap

Yahudi atas dasar teori biologis yang salah), selalu merupakan bagian integral dari

Sosialisme Nasional Jerman (Nazisme). Nazi menganggap semua sejarah manusia

sebagai sejarah perjuangan yang ditentukan secara biologis antara orang-orang

dengan berbagai ras berbeda. Setelah naik ke tampuk kekuasaan, Nazi

mengesahkan UU Nuremberg pada tahun 1935, yang mengodifikasikan apa yang

mereka anggap sebagai definisi biologis ke-Yahudi-an. Menurut teori ras Nazi,

bangsa Jerman dan bangsa eropa utara lainnya adalah ras “Arya” yang unggul.

Selama perang Dunia II, dokter-dokter Nazi mengadakan eksperimen medis palsu

untuk menemukan bukti fisik keunggulan bangsa Arya dan kelemahan bangsa

non-Arya. Kendati telah membantai tawanan non-Arya dalam jumlah yang tak

terbilang pada eksperimen ini, Nazi tidak dapat menemukan bukti apa pun untuk

teori mereka tentang perbedaan ras biologis di antara manusia. Rasisme Nazi

menimbulkan pembantaian dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selama PerangDunia II, pimpinan Nazi memulai apa yang mereka sebut “bersih-

bersih etnis” dikawasan timur, yang meliputi Polandia dan Uni Soviet, yang

didudukinya. Kebijakan ini mencakup pembantaian dan pemusnahan ras yang

disebutnya “ras” musuh melalui genosida terhadap kaum Yahudi Eropa dan

penghancuran pimpinan bangsa Slavia. Kaum Nazi yang rasis memandang


20

penyandang cacat fisik dan mental sebagai bahaya biologis bagi kemurnian ras

Arya. Setelah merencanakan dengan cermat, dokter-dokter jerman mulai

membunuhi orang-orang cacat di berbagai lembaga penampungan di seluruh

Jerman dalam operasi yang mereka perhalus dengan istilah “euthanasia”.

Kata Rasisme pertama kali digunakan secara umum pada 1930-an.

fenomena rasisme sebenarnya sudah muncul jauh sebelumnya. Pengertian

Rasisme itu sendiri selalu berubah. tribalisme, xenophoobia, keangkuhan dan

prasangka serta permusuhan dan perasaan negatif terhadap satu kelompok etnis

atau bangsa yang lain -- kadang diiringi dengan sikap brutal --sering kali

dihubungkan dengan rasisme. Dimulai dengan munculnya pandangan dan sikap

antisemitisme, buku ini menelusuri penyebaran pikiran-pikiran rasis saat mulai

maraknya ekspansi bangsa-bangsa eropa dan dimulainya perdagangan budak-

budak afrika. abad pencerahan dan berkembangnya nasionalisme memberikan

konteks baru dalam perdebatan menyangkut segi-segi rasisme ini. Dengan

penguasaan yang luar biasa, George Fredrickson menyajikan sejarah rasisme di

Barat dari kemunculannya di akhir abad pertengahan hingga saat ini. (Ikram

Banjaran sari, Sejarah Rasime)

Menurut kamus besar bahasa Indonesia rasisme diartikan sebagai paham

atau golongan yang menerapkan penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik (

seperti warna kulit ) dalam masyarakat. Rasisme juga bisa diartikan sebagai

paham diskriminasi suku, agama, ras (SARA), golongan ataupun ciri-ciri Fisik

umum untuk tujuan tertentu (biologis).


21

Rasisme dalam Dunia Olahraga. Rasisme, dalam bentuk apapun tidak

dapat ditoleransi. Rasisme hanya betujuan untuk merugikansi korban. Hal tersebut

yang melatar belakangi diadakannya World Conference Against Racism, (WCAR)

yang diadakan oleh UNESCO. Konferensi tersebut telah diadakan sebanyak tiga

kali, yakni pada tahun 1978, 1983, dan 2001. WCAR rencananya akan kembali

diadakan pada tahun 2009 di Jenewa, Swiss. Rasisme di sepak bola seperti yang

tercantum di Wikipedia adalah penyalahgunaan / diskriminasi pemain, pejabat dan

penggemar karena warna kulit, agama kebangsaan, atau etnis. Bisa berupa ejekan

ucapan, tulisan, tindakan, atau bahkan lemparan benda benda yang bernada rasis

(kulit pisang, tulang,dll). Beberapa mungkin menjadi sasaran (juga) karena

hubungan mereka dengan tim lawan. Namun, ada beberapa contoh individu yang

menjadi sasaran bahkan oleh para penggemar mereka sendiri. Sepakbola adalah

salah satu cabang olahraga yang paling sering terjadi Rasisme, karena di cabang

olahraga ini telah banyak tindakan Rasisme yang dilakukan oleh para pemain

sepakbola ataupun suprter klub sepakbola. Isu rasisme mulai muncul dalam dunia

sepakbola sejak Arthur Wharton, pemain berkulit hitam profesional pertama

bergabung dengan klub /inggris Darlington pada tahun 1889. Setiap kali Wharton

berlaga di kandang lawan, terdengar cemoohan yang ditujukan kepadanya. Dan

beberapa kejadian Rasisme di sepakbola Indonesia, sering terjadi ketika

kesebelasan yang penuh dengan rivalitas bertanding. Bahkan terjadi ketika kedua

kesebelasan itu tidak bertanding. Tindakan Rasisme sendiri sudah lama di buat

hukuman oleh fifa, Federasi Internasional hingga Federasi Indonesia sendiri

(PSSI). Menurut FIFA, diskriminasi adalah : “Anyone who offends the dignity of a
22

person or group of persons through contemptuous, discriminatory or denigratory

words or actions concerning race, colour, language, religion or origin” Yang

berartikan: Siapapun yang menyinggung martabat seseorang atau sekelompok

orang melalui hinaan, tindakan diskriminatif, atau pencemaran nama baik, atau

melalui tindakan yang berhubungan dengan ras, warna kulit, bahasa, agama atau

suku bangsa. Sedangkan menurut FIFA sebagai lembaga tertinggi sepakbola di

dunia, telah di atur di dalam kode disiplin fifa no 58 tentang diskriminasi.

Isi dalam no 58 kode disiplin FIFA tersebut adalah :

1 a) Siapapun yang menyinggung martabat seseorang atau sekelompok

orang melalui hinaan, tindakan diskriminatif, atau pencemaran nama baik, melalui

tindakan yang berhubungan dengan ras, warna kulit, bahasa, agama atau suku

bangsa akan dihukum sebanyak 5 kali pertandingan. Kemudian, dilarang masuk

stadion, dan didenda minimal 20000 franc swiss (176 Juta Rupiah). Jika pelaku

adalah official tim, maka jumlah denda adalah sebesar 30000 franc swiss (264

Juta Rupiah).

b) Jika beberapa orang (official team atau pemain) dari klub yang sama

atau timnas terus menerus melanggar ayat 1 poin a di atas, atau memperburuk

keadaan, maka tim tersebut akan mengalami pengurangan nilai sebanyak 3 poin

pada saat pelanggaran pertama dan 6 poin pada saat pelanggaran selanjutnya,

Pelanggaran yang dilakukan terus menerus akan mengakibatkan degradasi bagi

tim. Dalam system gugur, tim akan langsung didiskualifikasi.


23

2. a) Jika supporter tim melanggar ayat 1a , maka denda minimal 30000

franc swiss akan dijatuhkan kepada timnas atau klub terlepas dari melakukan

kesalahan atau lalai melakukan pengawasan.

b) Pelanggaran serius akan mengakibatkan sanksi tambahan, seperti

pertandingan tanpa penonton, WO, pengurangan nilai, atau diskualifikasi.

3. Penonton yang melanggar ayat 1a akan menerima sanksi berupa

pelarangan masuk stadion selama 2 tahun. (FIFA Disciplinary code Hal-33, 58

Diskriminasi).

Di Indonesia tindakan rasis sudah tertulis dalam kode disiplin PSSI 2018, Bagian

Ketiga tentang Perilaku yang menghina dan diskriminatif Pasal 59 dan pasal 60 :

Perilaku yang menghina dan penerapan prinsip fair play

1. Setiap orang yang menghina, melecehkan atau mendiskreditkan orang

lain bagaimanapun caranya khususnya dengan menggunakan gerak tubuh

ataudengan kata-kata yang dianggap menghina orang lain, atau melanggar asas

fair play atau melakukan suatu tindakan yang tidak sportif dengan cara

apapun,dikenakan sanksi berupa sanksi denda sekurang-kurangnya sebesar Rp.

25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).

2. Setiap orang yang tunduk terhadap Kode Disiplin PSSI ini, yang

membuat pernyataan baik secara lisan maupun secara tertulis yang

mendiskreditkan keputusan perangkat pertandingan, keputusan Badan Yudisial

PSSI atau keputusan PSSI lainnya bagaimanapun caranya yang dipublikasikan


24

secara khusus melalui pamflet, selembar kertas, spanduk, dan sejenisnya maupun

yang dimuat atau disiarkan melalui media massa cetak,

media sosial atau media massa elektronik dikenakan sanksi larangan beraktivitas

yang terkait dengan sepak bola sekurang kurangnya 3 (tiga) bulan dan sanksi

denda sekurang kurangnya sebesar Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).

Pasal 60, Tindakan Diskriminatif :

1. Pemain atau Ofisial yang melakukan tindakan yang bersifat

diskriminatif terhadap orang lain dengan menggunakan perkataan atau tindakan

yang bersifat menghina, meremehkan atau merendahkan yang terkait dengan

warna kulit, bahasa, agama, etnis atau suku bangsa atau melakukan tindakan

lainnya yang dapat dianggap diskriminatif dijatuhi sanksi sebagai berikut:

a. Sanksi skors selama setidaknya 5 (lima) pertandingan; dan

b. Sanksi larangan memasuki stadion setidaknya 1 (satu) pertandingan dan sanksi

denda setidaknya Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) apabilacdilakukan oleh

Pemain atau Rp. 450.000.000,- (empat ratus lima puluh juta rupiah) apabila

dilakukan oleh ofisial, yang akan ditanggung klubnya.

2. Apabila penonton atau kelompok penonton (suporter) dari klub atau

badan tertentu melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam ayat (1) diatas,

baik dengan cara memasang bendera, spanduk, tulisan, atribut, choreo atau

sejenisnya selama pertandingan berlangsung, terlepas dari alasan lemahnya


25

pengawasan oleh badan atau klub yang didukung oleh kelompok penonton

tersebut, badan atau klub dikenakan sanksi :

a. denda sekurang-kurangnya Rp. 450.000.000,- (empat ratus lima puluh juta

rupiah); dan

b. Apabila dianggap perlu, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti akibat

yang ditimbulkan, pengulangan tindakan, dan sebagainya, Komite Disiplin PSSI

atau Komite Banding PSSI dapat menjatuhkan sanksi lain, seperti Penutupan

seluruh stadion atau sebagian, dinyatakan kalah dengan pengurangan poin

(forfeit), pengurangan poin atau diskualifikasi dari kompetisi yang sedang

berlangsung.

3. Apabila identitas yang bersangkutan diketahui, setiap penonton atau

kelompok penonton yang melakukan tindakan sebagaimana dimaksud Pasal 60

ayat (1) dan Pasal 60 ayat (2) diatas dikenakan sanksi berupa larangan memasuki

stadion dalam pertandingan atau. (Kode Disiplin PSSI 2018 BAB II Hal 24-25)

B. Kerangka Berpikir

Perkembangan sepak bola yang semakin pesat membuat sepak bola

menjadi olah raga yang dikenal orang banyak dan menjadi salah satu olah raga

yang populer di Indonesia. Minat masyarakat yang tinggi terhadap sepak bola

membuat olah raga ini dikembangkan dengan adanya kompetisi dari berbagai

level yang diikuti oleh berbagai macam tim dari penjuru Indonesia. Popularitas

sepak bola dan adanya tim-tim dari berbagai daerah membuat terciptanya individu
26

maupun kelompok yang mendukung suatu kesebelasan tertentu ataupun disebut

suporter.

Dari suporter inilah tercipta sekumpulan individu dan kelompok dengan

motif yang sama (mendukung tim yang sama) dan tercipta kelompok suporter

yang memiliki berbagai macam cara untuk mendukung tim kesayangannya

dimana salah satunya terdapat kelompok suporter Persib bandung yang

mendukung Persib Bandung itu sendiri. Daya tarik Persib Bandung membuat

penggemarnya beragam hal diluar nalar dilakukan untuk mendukung Persib

Bandung. Perilaku diluar nalar tersebut dapat pula diartikan sebagai keyakinan,

kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran politik, agama dan sebagainya

(Sudirwan, 1988), dalam hal ini diterapkan dalam mendukung tim sepak bola atau

dapat disebut fanatisme. Penelitian ini mengupas mengenai terjadinya fanatisme

dengan prilaku rasisme kepada pemain dan supporter lawan. Dari fanatisme

tersebut akan dikupas lebih mendalam mengenai bentuk-bentuk fanatisme yang

terjadi dalam Supporter Persib Bandung dan Faktor-faktor apa saja yang membuat

terjadinya fanatismedengan perlakuan rasisme keada pemain dan supporter lawan

dalam mendukung Persib Bandung. Berdasarkan deskripsi diatas, kerangka

berpikir dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :


27

Rasisme

Gambar. 2.1
Kerangka Berpikir Hubungan Fanatisme dengan Rasisme

A. Hipotesis Penelitian

Menurut Margono (2004:80) Hipotesis berasal dari perkataan hipo (Hypo) dan

tesis (Thesis). Hipo berarti kurang dari, Sedangkan Tesis berarti pendapat. Jadi

Hipotesis adalah suatu pendapat atau kesimpulan yang sifatnya masih sementara.

Hipotesis meurpakan suatu kemungkinan jawaban dari masalah yang di ajukan.

Hipotesis timbul sebagai dugaan yang bijaksana dari peneliti atau diturunkan
28

(deduced) dari teori yang telah ada. Maka jaawaban sementara peneliti “Terdapat

Hubungan Yang Positif Dan Signifikan Antara Tingkat Fantisme Supporter

Cub Sepak Bola Dengan Rasisme Kepada Pemain Lawan Dan Supporter

Lawan”