Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Uji fungsi paru dapat membantu diagnosis dan penatalaksanaan pasien penyakit paru atau
jantung, penentuan toleransi tindakan pembedahan, evaluasi kesehatan untuk kepentingan
asuransi, penelitian epidemiologi terhadap bahaya suatu substansi serta prevalensi penyakit
dalam komunitas. Analisis gangguan ventilasi paru mencakup derajat hambatan terutama
mekanisme yang bertanggung jawab pada insufi siensi pernapasan. Analisis gangguan mekanik
paru merupakan langkah penting pertama prosedur diagnosis penyakit paru. Hal yang harus
dihindari sebelum pemeriksaan fungsi paru adalah merokok minimal 1 jam sebelum
pemeriksaan, minum alcohol minimal 4 jam sebelum pemeriksaan, aktivitas olahraga berat 4 jam
sebelum pemeriksaan, menggunakan pakaian ketat sehingga membatasi pergerakan rongga dada
dan abdomen serta makan dalam jumlah besar 2 jam sebelum pemeriksaan.
Uji fungsi paru adalah alat untuk mengevaluasi sistem pernapasan, kelainan yang terkait
riwayat penyakit pasien, penelitian berbagai pencitraan paru dan uji invasif seperti bronkoskopi
dan biopsi terbuka paru. Perbandingan antara nilai yang diukur pada pasien dengan nilai normal
yang berasal dari penelitian populasi dapat digunakan untuk mengetahui patofi siologi penyakit
yang mendasari. Persentase nilai prediksi normal dapat digunakan untuk menilai keparahan
penyakit. Dokter harus terbiasa dengan uji fungsi paru karena sering digunakan dalam
pengobatan dan evaluasi gejala pernapasan seperti sesak napas dan batuk, untuk menilai
praoperasi dan diagnosis penyakit seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Uji fungsi paru adalah istilah umum maneuver yang menggunakan peralatan sederhana untuk
mengukur fungsi paru. Uji fungsi paru meliputi spirometri sederhana, pengukuran volume paru
formal, kapasitas difusi karbon monoksida (CO) dan gas darah arteri. Uji fungsi paru digunakan
untuk mengukur dan merekam 4 komponen paru yaitu saluran napas (besar dan kecil), parenkim
paru (alveoli, interstitial), pembuluh darah paru dan mekanisme pemompaan. Berbagai penyakit
dapat berdampak pada komponen tersebut.

1
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu fungsi paru
2. Untuk mengetahui indikasi tes fungsi paru
3. Untuk mengetahui jenis tes fungsi paru
4. Untuk mengeahui siapa yang Harus Menjalani Pemeriksaan Fungsi Paru & Hasil yang
Diharapkan
5. Untuk mengetahui Persiapan Tes Fungsi Paru
6. Untuk Mengetahui Prosedur Tes Fungsi Paru
7. Untuk Mengetahui Tindakan Perawat dalam Pemeriksaan Tes Fungsi Paru

1.3 Manfaat
Agar mahasiswa mengetahui apa itu tes fungsi paru, jenis, indikasi, persiapan serta
Persiapan dalam tes fungsi paru tersebut.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

1. Fisiologi Pernapasan
Potter dan Perry (2006) menyatakan bahwa pernapasan adalah upaya yang dibutuhkan
untuk mengembangkan dan membuat paru berkontraksi. Kerja pernapasan ditentukan oleh
tingkat kompliansi paru, tahanan jalan napas, keberadaan ekspirasi yang aktif, dan penggunaan
otot-otot bantu pernapasan.
Sebagian besar sel dalam tubuh memperoleh energi dari reaksi kimia yang melibatkan oksigen
dan pembuangan karbondioksida. Pertukaran gas pernapasan terjadi antara udara di lingkungan
dan darah. Terdapat tiga langkah dalam proses oksigenasi, yaitu:
1) Ventilasi
Ventilasi merupakan proses untuk menggerakkan gas ke dalam dan keluar paru-paru. Ventilasi
membutuhkan koordinasi otot paru dan thoraks yang elastis dan persyarafan yang utuh. Otot
pernapasan inspirasi utama adalah diafragma yang dipersyarafi oleh saraf frenik, yang keluar
dari medulla spinalis pada vertebra servikal keempat.
2) Perfusi
Fungsi utama sirkulasi paru adalah mengalirkan darah ke dan dari membran kapiler alveoli
sehingga dapat berlangsung pertukaran gas. Sirkulasi pulmonar merupakan suatu reservoar untuk
darah, sehingga paru dapat meningkatkan volume darahnya tanpa peningkatan tekanan dalam
arteri atau vena pulmonar yang besar. Sirkulasi pulmonar juga berfungsi sebagai suatu filter,
yang menyaring trombus kecil sebelum trombus tersebut mencapai organ-organ vital.
3) Difusi
Difusi merupakan suatu gerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi yang lebih tinggi
ke daerah dengan konsentrasi yang lebih rendah. Difusi gas pernapasan terjadi di membran
kapiler alveolar dan kecepatan difusi dapat dipengaruhi oleh ketebalan membran. Peningkatan
ketebalan membran merintangi proses difusi karena hal tersebut membuat gas memerlukan
waktu lebih lama untuk melewati membran tersebut. Daerah permukaan membran dapat
mengalami perubahan sebagai akibat suatu penyakit kronik, penyakit akut, atau proses

3
pembedahan. Apabila alveoli yang berfungsi lebih sedikit, maka daerah permukaan menjadi
berkurang.

Udara bergerak masuk dan keluar paru karena adanya selisih tekanan yang terdapat antara
atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Diantaranya itu perubahan tekanan
pulmonary, tekanan intrapleural, dan perubahan volume paru (Guyton, 2007). Keluar masuknya
udara pernapasan terjadi melalui 2 proses mekanik yaitu:
1) inspirasi : proses aktif dengan kontraksi otot-otot inspirasi untuk mekanik volume intra
toraks, paru-paru ditarik dengan posisi yang lebih mengembang, tekanan dalam saluran
pernapasan menjadi negative dan udara mengalir kedalam paru-paru.
2) Ekspirasi : proses pasif dimana elastisitas paru menarik dada kembali ke posisi ekspirasi,
tekanan recoil paru-paru dan dinding dada seimbang, tekanan dalam salura pernapasan
menjadi sedikit positif sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru, dalam hal ini otot-
otot pernapasan baperan (Yulaekah,2007).

4
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pemeriksaaan Fungsi Paru


Pemeriksaan fungsi paru dipergunakan secara luas, mulai dalam bidang penelitian
fisiologi sampai dengan aspek klinis mencakup diagnosis, penilaian derajat keparahan penyakit,
monitoring terapi, menentukan prognosis, pemeriksaan penunjang kesehatan kerja, tes medis
olah raga dan lain sebagainya (Gibson, 2003), (Shifren, 2006).
Namun demikian, pemeriksaan fungsi paru tidaklah dapat menentukan suatu diagnosa penyakit
secara spesifik misalnya emfisema pulmonum atau fibrosis paru. Tes ini dapat berguna
memberikan informasi pengukuran fisiologis yang dapat mengidentifikasi kelainan obstruksi
atau restriksi sistem pernafasan dan tentu saja harus disertai evaluasi secara holistik dengan hasil
pemeriksaan klinis, radiologis, dan pemeriksaan laboratorium pendukung lainnya (Shifren,
2006).

3.2 Jenis pemeriksaan fungsi paru


Pemeriksaan fungsi paru mengevaluasi sistem ventilasi dan alveoli secara indirect dan tumpang
tindih. Umur pasien, tinggi, berat badan, etnis dan jenis kelamin harus dicatat sebelum
pemeriksaan dilakukan karena data-data tersebut penting dalam hal penghitungan nilai prediksi.
Secara umum, pemeriksaan fungsi paru dibagi dalam 3 kategori yaitu ( Fischbach, 2003):
1. Pemeriksaan terhadap kecepatan aliran udara di dalam saluran pernafasan, mencakup
pengukuran sesaat atau rata-rata kecepatan aliran udara di saluran nafas sewaktu ekshalasi paksa
maksimal untuk mengetahui resistensi saluran pernafasan. Termasuk juga dalam kategori ini
adalah tes inhalasi bronkodilator dan tes provokasi bronkus.

2. Pengukuran volume dan kapasitas paru yaitu pengukuran terhadap berbagai kompartemen
yang mengandung udara di dalam paru dalam rangka mengetahui air trapping (hiperinflasi,
overdistensi) atau pengurangan volume. Pengukuran ini juga dapat membantu membedakan
gangguan restriktif dan obstruktif pada sistem pernafasan.

5
3. Pengukuran kapasitas pertukaran gas melewati membran kapiler alveolar dalam rangka
menganalisa keberlangsungan proses difusi.

3.3 Indikasi pemeriksaan fungsi paru ( Miller, 2005)


1. Diagnostik :
Beberapa manfaat untuk diagnostik adalah sebagai berikut :
-Mengevaluasi individu yang mempunyai gejala, tanda, gejala atau hasil laboratorium yang
abnormal
- Skrining individu yang mempunyai risiko penyakit paru
- Mengukur efek fungsi paru pada individu yang mempunyai penyakit paru
- Merupakan salah satu faktor untuk menilai risiko operasi
- Menentukan prognosis penyakit yang berkaitan dengan respirasi
- Mengetahui status kesehatan sebelum memulai program latihan

2. Monitoring
Beberapa manfaat untuk keperluan monitoring adalah sebagai berikut :
- Menilai intervensi terapeutik
- Memantau perkembangan penyakit yang mempengaruhi fungsi paru
- Memonitoring individu yang terpajan agen berisiko terhadap fungsi paru
- Memonitor efek samping obat yang mempunyai toksisitas pada paru

3. Evaluasi terhadap kecacatan


Beberapa manfaat untuk evaluasi terhadap kecacatan adalah sebagai berikut - Menentukan
pasien yang membutuhkan program rehabilitasi
- Kepentingan asuransi
- Kepentingan hukum

4. Kesehatan masyarakat
Beberapa manfaat untuk kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut :
- Survei epidemiologis
- Menetapkan standar nilai normal

6
- Penelitian klinis

3.4 Siapa yang Harus Menjalani Pemeriksaan Fungsi Paru & Hasil yang Diharapkan

Pemeriksaan fungsi paru bermanfaat bagi pasien yang:

 Didiuga mengalami masalah paru-paru


 Mengalami gejala yang berhubungan dengan pernapasan (atau mengalami kesulitan
bernapas)
 Menderita kondisi paru-paru dan perlu mengetahui seberapa parah kondisinya
 Menjalani pengobatan untuk kondisi paru-paru (menilai keefektivitasannya)
 Akan menjalani bedah dan harus diperiksa fungsi paru-parunya
 Sering terpapar zat yang menimbulkan potensi berbahaya pada paru-paru

Selain itu, tes ini juga tidak disarankan untuk dilakukan pada pasien yang baru saja
melakukan operasi mata dan operasi daerah perut. Perokok berat dan pasien yang berumur lebih
dari 70 tahun harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, karena tes ini berpotensi
menyebabkan komplikasi.

Pada kasus tertentu, pasien akan diberikan obat pelega pernapasan yang dihirup
(bronkodilator) sebagai perbandingan hasil tes sebelum dan sesudah obat diberikan. Pasien yang
memiliki alergi terhadap obat-obatan bronkodilator, harus memberi tahu dokter. Contoh obat-
obatan bronkodilator adalah beta-2 agonists (misalnya salbutamol, formoterol, atau salmeterol),
teofilin, dan antikolinergik (contohnya tiotropium atau ipatropium).

Hasil dari pengujian fungsi paru-paru diharapkan untuk dapat menentukan apakah ada
gangguan paru-paru dan di mana letaknya. Tes ini juga dapat memberikan informasi mengenai
penyebab gangguan tersebut, serta sifatnya yang sangat penting bagi dokter karena pasien akan
melanjutkannya dengan pengobatan.

3.5 Persiapan Tes Fungsi Paru

7
Sebelum spirometri dijadwalkan, dokter akan menanyakan pada pasien apakah sedang
menggunakan obat-obatan bronkodilator. Jika iya, dokter akan meminta pasien menghentikan
penggunaan obat tersebut sebelum pelaksanaan tes, karena dapat memengaruhi hasilnya. Selain
itu, pasien juga harus mempersiapkan beberapa hal berikut:

 Jangan merokok, setidaknya selama 1 hari sebelum pemeriksaan.


 Hindari mengonsumsi alkohol.
 Jangan makan terlalu banyak. Hal itu akan mengganggu pernapasan.
 Sebisa mungkin hindari menggunakan pakaian yang terlalu ketat, agar dapat bernapas
dengan lebih mudah.

3.6 Prosedur Tes Fungsi Paru

Pemeriksaan spirometri umumnya dilakukan pada posisi duduk. Dokter akan meminta
pasien untuk membusungkan dada, dan menempatkan dirinya pada posisi senyaman mungkin.
Pasien akan disediakan sebuah klip (jepitan) yang digunakan untuk menjepit dan menutup
lubang hidung, sehingga tidak ada udara yang keluar dari lubang hidung dan hasil spirometri
dapat lebih maksimal. Selanjutnya, dokter akan meminta pasien untuk menempatkan tabung
spirometer pada mulut. Pasien harus menempatkan tabung serapat mungkin dengan mulut.

Setelah alat terpasang, pasien akan diinstruksikan untuk menarik napas dalam-dalam,
menahannya untuk beberapa detik, kemudian mengembus napas sekuat-kuatnya pada tabung.
Proses ini biasanya diulang hingga 3 kali. Hal itu dilakukan untuk melihat apakah hasil pada
setiap tes yang dilakukan sama. Jika hasil yang didapat terlalu bervariasi, dokter akan meminta
pasien untuk mengulang kembali proses tersebut. Dokter akan mengambil salah satu hasil
dengan nilai tertinggi untuk dijadikan hasil akhir pemeriksaan.

Lama tes spirometri biasanya adalah sekitar 15 menit. Namun pada kasus tertentu, waktu
yang dibutuhkan bisa lebih lama. Misalnya jika dokter meminta pasien untuk melakukan tes sesi
kedua dengan menggunakan obat bronkodilator, untuk membandingkan hasilnya dengan yang
didapat pada tes sesi pertama.

8
3.7 Tindakan Perawat dalam Pemeriksaan Tes Fungsi Paru
a. Harus dilakukan anamnesis dan penilaian kondisi fisik yang berkaitan dengan fungsi paru
pasien. Selain itu, juga harus dilakukan pencatatan data dasar (nama, usia, jenis kelamin, ras)
serta berat badan dan tinggi badan pasien tanpa menggunakan sepatu.

b. Perawat memberikan penjelasan tentang tujuan, cara pemeriksaan, dan contoh manuver yang
harus dilakukan. Pasien harus bebas rokok minimal 2 jam sebelum pemeriksaan, bebas
bronkodilator yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan minimal 8 jam sebelum pemeriksaan,
tidak boleh makan kenyang sebelum pemeriksaan, dan tidak boleh menggunakan pakaian ketat
pada saat pemeriksaan dilakukan.
c. perawat menganjurkan kepada pasien agar berada diposisi yang nyaman.

9
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Tes fungsi paru adalah tes diagnostik yang digunakan untuk memeriksa fungsi paru-paru
dan untuk menentukan apakah paru-paru terserang penyakit tertentu. Istilah ini merupakan istilah
gabungan yang mengacu pada serangkaian tes yang dilakukan untuk mengukur nilai-nilai yang
berbeda, seperti berapa banyak udara yang bisa ditahan paru-paru atau seberapa baik paru-paru
memindahkan oksigen dan menyaring karbon dioksida dari darah.
Uji fungsi paru adalah alat untuk mengevaluasi sistem pernapasan, kelainan yang terkait
riwayat penyakit pasien, penelitian berbagai pencitraan paru dan uji invasif seperti bronkoskopi
dan biopsi terbuka paru. Perbandingan antara nilai yang diukur pada pasien dengan nilai normal
yang berasal dari penelitian populasi dapat digunakan untuk mengetahui patofi siologi penyakit
yang mendasari. Persentase nilai prediksi normal dapat digunakan untuk menilai keparahan
penyakit.

10
DAFTAR PUSTAKA

https://www.alodokter.com/mengenal-tentang-tes-fungsi-paru
Fachrial,Endah.2012.Departemen Pulmonlogi dan Ilmu Kedokteran Respirasi.vol.39 no.4.RS.
Persahabatan.Jakarta.

11