Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami berhasil menyelesaikan
makalah ini yang alhamdulillah selesai tepat pada waktunya yang berjudul
“Anestesi dalam pencabutan gigi”

Makalah ini berisikan tentang Anestesi dalam pencabutan gigi, bagaimana


diharapkan makalah ini dapat menambahkan pengetahuan kita semua.

Kritik dan saran dari dosen dan teman-teman yang bersifat membangun,
selalu saya harapkan demi lebih baiknya makalah ini. Akhir kata, semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah SWT senantiasa
meridhoi segala usaha kita.

Makassar, Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar..........................................................................................................i
Daftar isi...................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..............................................................................................2
C. Tujuan................................................................................................................2
D. Manfaat..............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
A. Sejarah Rekam Medis..................................................................................3
B. Pengertian Rekam Medis.............................................................................8
C. Perkembangan Rekam Medis di Indonesia................................................10
D. Tujuan dan Kegunaan Rekam Medis.........................................................10
E. Pengorganisasian dan Kegunaan Rekam Medis Serta Aspek Hukumnya di
Rumah Sakit...............................................................................................13
BAB III PENUTUP................................................................................................16
A. Kesimpulan......................................................................................................16
B. Saran.................................................................................................................16
Daftar Pustaka........................................................................................................17

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anestesi selalu diperlukan dalam setiap pencabutan gigi baik pencabutan
gigi permanen atau gigi tetap maupun pencabutan gigi susu agar pasien tidak
merasakan sakit pada waktu dicabut giginya. Dalam praktik dokter gigi
dikenal dua macam anestesi, yaitu anestesi umum dan anestesi lokal. Untuk
praktik dokter gigi, khususnya di Indonesia, biasanya dipakai anestesi lokal.
Anestesi adalah melakukan tindakan untuk memperoleh anestesia.
Sedangkan anestesia adalah absennya semua sensasi. Anestesi umum adalah
kondisi tidak sadar dengan menambahkan analgesik dan relaksan otot agar
timbul sensasi seimbang. Anestesi lokal yaitu suatu anestesi yang
dimaksudkan untuk melumpuhkan saraf sensibel setempat dimana kesadaran
pasien masih ada. Sebelum memutuskan macam anestesi lokal yang dipilih,
dokter gigi harus mengetahui dan memahami indikasi serta kontra indikasi
anestesi lokal. Indikasi anestesi lokal antara lain : 1) Untuk keperluan
pencabutan gigi, 2) Untuk keperluan penambalan gigi, 3) Untuk keperluan
insisi abses, 4) Untuk keperluan pengambilan impacted, 5) Untuk keperluan
pembetulan rahang baik untuk estetika maupun karena kecelakaan.
Sedangkan kontra indikasi anestesi lokal meliputi : 1) Daerah yang
mengalami infeksi, 2) Pasien yang nervous, 3) Apabila akan dilakukan
multiple extraction, 4) Pada pasien abnormal, 5) Pada anak kecil yang rewel,
6) Pasien tidak kooperatif, 7) Pasien dengan kelainan perdarahan.
Pertimbangan lainnya adalah melihat daerah yang akan dioperasi,
perluasan operasi, waktu yang diperlukan untuk operasi, keadaan umum
pasien, temperamen pasien, serta perluasan infeksi dalam jaringan. Faktor
umum dan faktor lokal juga bisa sebagai penentu pemilihan macam anestesi.
Faktor-faktor umum antara lain : pasien terlalu gemuk, pasien dengan
penyakit sistemik, wanita hamil trimester pertama dan terakhir, penyakit

1
hemoragik yang langka. Faktor-faktor lokal : infeksi akut pada daerah kerja,
obat untuk penyakit sistemik, obat sulfonamid, obat anti depresi trisiklik.
Setelah ditetapkan macam anestesi yang dipilih, dokter gigi sebaiknya
segera mempersiapkan secara seksama peralatan, obat-obatan, pasien, tim
kerja, dan dokter konsultan bila diperlukan. Dokter konsultan diperlukan bila
pasien yang akan dianestesi lokal mempunyai riwayat penyakit sistemik,
wanita hamil dan pasien yang sedang minum obat-obat tertentu. Anamnesis
yang lengkap dan akurat, teknik anestesi yang baik dan benar sesuai prosedur,
ketepatan pemilihan macam obat anestesi beserta dosis atau volumenya,
ketepatan penyuntikan, penggunnaan jarum suntik yang steril dan tajam
merupakan faktor-faktor penentu keberhasilan pelaksanaan anestesi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa defenisi dari Anestesi dan pencabutan Gigi ?
2. Apa itu Anestesi umum?
3. Apa saja macam – macam Anestesi umum?
4. Bagaimana tahapan – tahapan dalam melakukan Anestesi Umum?
5. Bagaimana efek samping anastesi umum?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui defenisi dari anestesi dan pencabutan gigi.


2. Untuk mengetahui apa itu anastesi umum.
3. Untuk mengetahui macam - macam anestesi umum.
4. Untuk mengetahui tahapan – tahapan dalam melakukan anestesi umum.
5. Untuk mengetahui efek samping anatesi umum.

D. Manfaat
1. Agar kita dapat mengetahui defenisi dari anestesi dan pencabutan gigi.
2. Agar kita dapat mengetahui apa itu anestesi umum.
3. Agar kita dapat mengetahui tmacam- macam anestesi umum.
4. Agar kita dapat mengetahui tahapan – tahapan dalam melakukan anestesi
umum.

2
5. Agar kita dapat mengetahui efek samping dari anestesi umum.

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH REKAM MEDIS
Lahirnya rekam medis sama dengan lahirnya ilmu kedokteran. Dimulai
dari sebuah penemuan arkeolog di dinding gua batu di spanyol, didapat
peninggalan purba berupa lukisan mengenai tata cara praktik pengobatan,
antara lain tentang amputasi jari tangan, yang diduga telah berumur 25.000
tahun (pada zaman paleoliticum/ zaman batu). Bukti bahwa rekam medis
mempunyai sejarah yang panjang terlihat dari adanya jenis peninggalan
catatan berupa pahatan, lukisan pada dinding-dinding pyramid, tulang
belulang, pohon, daun kering atau papyrus dari zaman Mesir Kuno (3000-
2000) tahun sebelum masehi dengan menunjukan bahwa meningkatnya
peradaban manusia, meningkat pula teknik-teknik perekaman informasi di
bidang kesehatan dan pengobatan. Rekam Medis sudah ada sejak zaman :

a. Zaman Mesir Kuno (Egyptian Period)


 Dewa Thoth
Adalah seorang tabib Mesir (ahli pengobatan) yang dianggap
sebagai dewa kebijaksanaan. Thoth dikenal sebagai dewa
berkepala iblis. Ia mengarang 36 buah – 42 buku. Diantaranya 6
buku mengenai masalah kedokteran (tubuh manusia, penyakit, alat
– alat yang dipakai obat-obatan penyakit mata dan kebidanan ).
 Imhotep
Adalah dokter yang pertama menjalankan rekam medis. Hidup di
zaman Piramid 3000-2500 SM : ia adalah pegawai negeri tinggi,
kepala arsitek negri serta penasehat medis Fira’un, kemudian ia
dihormati sebagai medical demigod seperti Aesculapius: ia
membuat papyrus (document Ilmu Kedokteran Kuno yang berisi
43 kasus pembedahan).
 Papyrus ebers

4
Diketemukakan dikaki mummy di Necropolis dekat Thebes pada
tahun 1972 papyurs Ebers di tulis sejak 1550 SM. Kemudian di
jual pada Archeolog Jerman bernama Georg Ebers. Isi papyrus
ebers adalah observasi yang cermat mengenai penyakit dan
pengobatan yang dikerjakan secara teliti dan mendalam.
b. Zaman Yuniani
 Aesculapius
Dianggap sebagai dewa kedokteran dan mempunyai tongkat dililit
ular sebagai simbolilmu kedokteran. Hingga kini masih dipakai
seluruh dunia. Aesculapius melakukan praktek ilmu kedokteran di
delphi, bekas reruntuhan kuilnya berada di dekat gunung parna
Zsus.
 Hippocrates
Di kenal 469 SM sebagai bapak ilmu Kedokteran. Ia yang mulai
mengenyampingkan ramalan dan pengobatan secara mistik dengan
praktek kedokteran secara ilmu pengetahuan modern.
c. Zaman Yunani Romawi
 Galen
Galen pada 600 tahun sesudah Hippocrates (130-121 SM) di kota
roma. Orang pertama yang memperkenalkan fungsi sesungguhnya
dari arteri (pembuluh Darah) dan dalam salah satu buku
karangannya ia menggambarkan rasa sakit yang diakibatkan
serangan batu ginjal. Dizaman ini telah mempunyai majalah
kedokteran bernama romana acta diurnal.
 Santo jarome
Orang yang pertama menyebutkan perkataan rumah sakit
(Hospital) atau Bahasa latinyya (Hospitalia), Hosper = Host =
Tamu. Santo Jerome menggunakan istilah tersebut sewaktu
menulis mengenai rumah sakit yang didirikan oleh Pahiola di
Roma tahun 390.
d. Zaman Byzantium

5
Perkembangan ilmu kedikteran hanya mencapai 3 abad pertama walaupun
zaman ini lebih 1000 tahun. Pengarang buku ilmu kedokteran adalah :
Aetius, Alexander, Orbasius dan Paul satu satunya perkerjaan rekam
medis yang dilakukan yaitu catatan para rahib (Dokter Kuno).
e. Zaman Jahudi
 Injil & Talmud
Talmud banyak memuat masalah kepenyakitan disbanding injil.
Bangsa Hibrani termasuk pencipta dan dari Prophylaxis. Buku
Leviticus berisi sanitasi dan higene seperti : efek menyentuh benda
kotor, jenis makanan yang harus dimakan dan mengandung gizi
tinggi caranya membersihkan ibu yang baru melahirkan.
f. Zaman Muhammad
 Rhazes (865-925)
Dokter yang beragama Islam dan praktek di rumah sakit Persia
(Iran). Kemudian mendirikan rumah sakit di Baghdad pada abad ke
8. Buku – buku yang di tulisnya antara lain buku kedokteran
“Treatlse on smallpox and Measles”, merupakan buku pertama
yang membahas penyakit menular. Dokter pertama yang
menggunakan alcohol dan usus kambing untuk menjahit luka.
 Avicena/Ibnu Sina (980-1037 M)
Bekerja berdasarkan tulisan Hippocrates dan menggabungkan
dengan sumber-sumber kedokteran lainnya yang di dapat, ia telah
menggunakan system pencatatan klinis yang baik.
g. Zaman Abad Pertengahan
Pada zaman ini dikenal adanya rumah sakit St. Bartholomous di
London (Inggris) rumah sakit ini masih berdiri dan beberapa rekam
medis pasiennya yang pernah di rawat dari tahun 1137 masih ada.
Pendiri rumah sakit ini bernama Rahera. Rumah sakit ini
mengeluarkan buku bernama Book of Foundation yang berisi riwayat
dari 28 kasus penyakit.
h. Zaman Renaissance (1500)

6
 Rumah sakit St. Bartholomew
Rumah sakit St. Barhelew merintis hal-hal yang harus di kerjakan
oleh Medical Record Management. Pada tahun 1667 rumah sakit
ini mempelopori pendirian perpustakaan kedokteran.
 Andreas Vasalius (1514-1564)
Bangsa Belgia dan dokter yang mempelajari ilmu Anatomi melalui
pembedahan mayat orang kriminil dengan cara mencuri mayat
(dilarang keras oleh gereja katholik). Hasil pembedahan mayat
menjadi pengetahuan anatomi yang sangat bermanfaat. Dan
Vesalius juga selalu membuat rekam medis atas segala hal yang
dijumpainya.
i. Abad Ke XVII
 Dokter William Harbey
Dari rumah sakit St. Bartelemew menekankan arti pentingnya
rekam medis, dimana dokter harus bertanggung jawab atas segala
catatan rekam medisnya. Setiap dokter harus mencatat laporan
instruksi medis dari pasien.
 Kapten Jhon Grant
Orang yang pertama kali mempelajari vital statistic tahun 1661
melakukan penelitian atas Bilis of Mortality (Angka Kematian).
j. Abad ke XVIII
 Benyamin Franklin dari USA
Pelopor berdirinya rumah sakit penansylavania di Philadephia
(1752). Rekam medis sudah ada pada tahun 1873 dan indeks
pasien baru disimpan.
 Rumah Sakit New York
Dibuka pada tahun 1771 dimana prosedur register pasien baru
dikerjakan pada tahun 1793. Tahun 1862 indeks penyakit dan
kondisinya mulai di coba. Pada tahun 1914 istilah-istilah
kepenyakitan baru dapat diterangkan.
k. Abad ke XIX

7
Tahun 1801 rumah sakit umum Massachusetts di Boston di buka
memiliki rekam medis dan katalog lengkap. Tahun 1871 mulai di
instruksikan bahwa pasien harus dibuat KIUP (Kartu Indeks Utama
Pasien).
Tahun 1870-1893 Library Bureu mulai mengerjakan penelitian
katalog pasien. Tahun 1895-1867 Ny. Grece Whiting Myers terpilih
sebagai President pertama dari Association of Record Librarian or
North America. Ia adalah ahli medical record pertama di rumah sakit.
l. Abad XX
Rekam medis baru menjadi pusat secara khusus pada beberapa rumah
sakit, perkumpulan ikatan dokter/Rumah sakit di negara – negara
barat. Tahun 1902 American Hospital Associattion untuk pertama
kalinya melakukan diskusi rekam medis. Tahun 1905 beberapa buah
pikiran dokter di berikan untuk perbaikan rekam medis. Tahun 1905
dokter George Wilson, seorang dekter kebangsaan Amerika dalam
rapat tahunannya American Medical Association ke 56 membacakan
naskahnya “A clinical chart for record of patient in small hospital”
yang kemudian di terbitkan dalam journal of American Association
terbit 23 September 1905. Isi naskah itu adalah tentang pentingnya
nilai medical record yang lengkap isinya demi kepentingan pasien
maupun bagi pihak rumah sakit.
Berikut adalah Perkembangannya :
 Tahun 1935 di USA muncul 4 buah Sekolah Rekam medis
 Tahun 1955 sekolah berkembang menjadi 26 sekolah terdapat
1000 lulusan.
 Tahun 1948 inggris membuat 4 sekolah rekam medis
 Tahun 1944 Australia membuat sekolah rekam medis oleh
seorang ahli RM America yang bernama Ny. Huffman
 Di Australia ada 2 sekolah, yakni di Sydney dan Melbourne.

8
Pada tahun 1913, Dokter Franklin H.Martin ahli bedah, selain
menggunakan rekam medis dalam pelayanan kedokteran/kesehatan kepada
pasien, juga menggunakan rekam medis sebagai alat untuk pendidikan calon
ahli bedah. Kini kemajuan perekaman kegiatan di bidang
kedokteran/kesehatan ini, tidak saja tertulis di atas kertas, tetapi telah masuk
ke era elektronik

B. PENGERTIAN REKAM MEDIS

Di dalam membahas pengertian rekam medis terlebih dahulu akan


dikemukakan arti dari rekam medis itu sendiri. Rekam medis diartikan
sebagai “keterangan baik yang tertulis maupun yang terekam tentang
identitas, anamneses, pemeriksaan fisik, laboratorium, diagnose serta segala
pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien, dan
pengobatan baik yang dirawat inap, rawat jalan maupun yang mendapatkan
pelayanan gawat darurat”.
Dalam penjelasan Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran, yang
dimaksud dengan rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis dijelaskan bahwa rekam
medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas
pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien
pada sarana pelayanan kesehatan.
Kedua pengertian rekam medis diatas menunjukkan perbedaan yaitu
Permenkes hanya menekankan pada sarana pelayanan kesehatan, sedangkan
dalam UU Praktik Kedokteran tidak. Ini menunjukan pengaturan rekam
medis pada UU Praktik Kedokteran lebih luas, berlaku baik untuk sarana
kesehatan maupun di luar sarana kesehatan.
Berbicara tentang rekam medis mau tidak mau kita akan melihat 2
(dua) bagian penting yang perlu diperhatikan yaitu: Patient Record dan

9
Manajemen. Patient record adalah suatu informasi yang terekam baik dalam
bentuk tulisan maupun elektronik tentang kondisi kesehatan dan penyakit
pasien yang bersangkutan. Patient record umumnya bersifat individu, tidak
pernah ada catatan kesehatan dari beberapa orang secara kolektif didalam
sebuah rekam medis. Bagian kedua adalah berkaitan dengan Manajemen.
Manajemen adalah suatu proses pengolahan atau kompilasi kondisi kesehatan
dan penyakit pasien agar dapat menjadi suatu informasi yang bermanfaat
untuk melakukan pertanggungjawaban baik dari segi manajemen, keuangan
maupun kondisi perkembangan kesehatan pasien. Sebagai bahan untuk
kompilasi fakta tentang kondisi kesehatan dan penyakit, maka rekam medis
seorang pasien akan berisi 2 hal penting yaitu:

1. Dokumentasi data pasien tentang keadaan penyakit sekarang maupun


waktu yang lampau.
2. Dokumentasi tertulis tentang tindakan pengobatan yang sudah, sedang
dan akan dilakukan oleh dokter sebagai tenaga kesehatan profesional.

Berdasarkan kedua kondisi penting diatas, maka secara umum informasi yang
tercantum dalam rekam medis seorang pasien harus mengandung 3 unsur,
masing-masing adalah:

a. Siapa (Who) pasien tersebut dan Siapa (Who) yang


merawat/memberikan tindakan medis.
b. Apa (What) keluhan pasien, Kapan (When) itu mulai dirasakan,
Kenapa (Why) atau sebab terjadinya dan Bagaimana (How) tindakan
medis yang diterima pasien.
c. Hasil atau dampak (Outcome) dari tindakan medis dan pengobatan
yang sudah diterima pasien. Data yang mengandung ketiga unsur
diatas harus tidak boleh salah, akurat dan tidak boleh tertinggal,
karena data tersebut berdampak fatal bagi keselamatan jiwa pasien
jika terjadi kesalahan.

10
C. PERKEMBANGAN REKAM MEDIS DI INDONESIA
Rekam medis di Indonesia telah ada sejak zaman penjajahan, namun
perhatian untuk pembenahan yang lebih baik dapat dikatakan mulai sejak di
terbitkannya Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.31/Birhup/1972 yang menyatakan bahwa semua rumah sakit diharuskan
mengerjakan medical recording dan reporting, dan hospital statistic.
Keputusan tersebut kemudian dilanjutkan dengan adanya Keputusan Menkes
Republik Indonesia No.034/Birhup/1972 tentang Perencanaan dan
Pemeliharaan Rumah Sakit.
Dari keputusan-keputusan menteri di atas, terlihat adanya usaha serius
untuk mulai membenahi masalah rekam medis dalam usaha memperbaiki
recording, reporting, hospital statistic dan lain-lain, yang kini kita kenal
sebagai informasi kesehatan.
Serangkain peraturan yang diterbitkan pemerintah mengenai rekam
medis, dipertegas secara rinci dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No.749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis (Medical
Record3) sehingga rekam medis mempunyai landasan hukum yang kuat.
Guna melengkapi ketentuan dalam Pasal 22 Permenkes tentang rekam medis
yang menyebutkan “hal-hal teknis yang belum diatur diatur dan petunjuk
pelaksanaan peraturan ini akan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Medik pada
tahun 1991 telah pula menerbitkan Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan
Rekam Medis / Medical Record di rumah sakit (SK Direktur Jenderal
Pelayanan Medis No.78 Tahun 1991).
Dalam Undang-Undang Kesehatan, secara implisit Undang-Undang
ini jelas membutuhkan adanya rekam medis yang bermutu sebagai bukti
pelaksanaan pelayanan kedokteran/kesehatan yang berkualitas.

D. TUJUAN DAN KEGUNAAN REKAM MEDIS


1. Tujuan Rekam Medis
Tujuan rekam medis adalah menunjang tercapainya tertib administrasi
dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit.

11
Tanpa didukung suatu system pengelolaan rekam medis yang baik dan
benar, tidak akan tercipta tertib administrasi rumah sakit sebagaimana
yang diharapkan, sedangkan tertib administrasi merupakan salah satu
factor yang menentukan di dalam upaya pelayanan kesehatan di rumah
sakit.
2. Kegunaan Rekam Medis
Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain:
a. Aspek Administrasi
Di dalam berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi, karena
isinya menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung
jawab sebagai tenaga medis dan paramedic dalam mencapai tujuan
pelayanan kesehatan.
b. Aspek Medis
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai medis, karena catatan
tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan
pengobatan/perawataan yang diberikan kepada seorang pasien dan
dalam rangka mempertahan kan serta meningkatkan mutu pelayanan
melalui kegiatan audit medis, manajemen risiko klinis serta
keamanan/keselamatan pasien dan kendali biaya.
c. Aspek hukum
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai hukum, karena isinya
menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar
keadilan, dalam rangka usaha menegakkan keadilan, rekam medis
adalah milik dokter dan rumah sakit sedangkan isinya yang terdiri
dari identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien adalah sebagai
informasi yang dapat dimiliki oleh pasien sesuai dengan peraturan
dan perundang-undangan yang berlaku (UU Praktik Kedokteran RI
No. 29 tahun 2004 pasal 46 ayat (1), penjelasan).

12
d. Aspek keuangan
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai uang, karena isinya
mengandung data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek
keuangan. Kaitannya rekam medis dengan aspek keuangan sangat
erat sekali dalam hal pengobatan, terapi serta tindakan-tindakan apa
saja yang diberikan kepada seorang pasien selama menjalani
perawatan di Rumah sakit, oleh karena itu penggunaan system
teknologi computer didalam proses penyelenggaraan rekam medis
sangat di harapkan sekali untuk diterapkan pada setiap instansi
pelayanan kesehatan.
e. Aspek Penelitian
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai penelitian karena isinya
menyangkut data dan informasi yang dapat dipergunakan sebagai
aspek pendukung penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan
dibidang kesehatan.
f. Aspek Pendidikan
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai Pendidikan, karena
isinya menyangkut data/informasi tentang perkembangan kronologis
dan kegiatan pelayanan medis yang diberikan kepada pasien,
informasi tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan/referensi
pengajaran dibidang Pendidikan profesi kesehatan.
g. Aspek dokumentasi
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai dokumentasi, karena
isinuya menyangkut sumber ingatan yang harus di dokumentasikan
dan dipakai sebagai bahan pertanggung jawaban dan laporan rumah
sakit. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dapat
diaplikasikan penerapannya didalam penyelenggaraan dan
pengelolaan rekam medis yang cukup efektif dan efisien.
Pendokumentasian data medis seorang pasien dapat dilaksanakan
dengan mudah dan efektif sesuai aturan serta prosedur yang telah
ditetapkan.

13
Dengan melihat dari beberapa aspek tersebut di atas, rekam medis
mempunyai kegunaan yang sangat luas, karena tidak hanya menyangkut
antara pasien dengan pemberi pelayanan kesehatan saja. Kegunaan rekam
medis secara umum adalah :
a) Sebagai alat komunikasi antara dokter antara tenaga ahli lainnya yang
ikut ambil bagian didalam proses pemberian peklayanan, pengobatan,
dan perawatan kepada pasien.
b) Sebagai dasar untuk merencankan pengobatan/perawatan yang harus
diberikan kepada seorang pasien.
c) Sebagai bukti tertulis maupun terekam atas segala tindakan
pelayanan, pengobatan, dan perkembangan penyakit selama pasien
berkunjung/dirawat di rumah sakit.
d) Sebagai bahan yang berguna untuk Analisa, penelitian, dan evaluasi
terhadap kualitas pelayanan yang telah diberikan kepada pasien.
e) Melindungi kepentingan hokum bagi pasien, rumah sakit maupun
dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
f) Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan
penelitian dan Pendidikan.
g) Sebagai dasar didalam perghitungan biaya pembayaran pelayanan
medis yang diterima pasien.
h) Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai
bahan pertanggung jawaban dan laporan.

E. PENGORGANISASIAN DAN KEGUNAAN REKAM MEDIS SERTA


ASPEK HUKUMNYA DI RUMAH SAKIT

1. Dasar Hukum Pengorganisasian Rekam Medis


Dasar hukum tentang pengorganisasian rekam medis antara lain :
1) Kepmenkes No.983/MENKES/SK/XI/1992 tentang pedoman
organisasi Rumah Sakit Umum.

14
2) Permenkes RI No.269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 15 :
pengelolaan rekam medis dilaksanakan sesuai dengan organisasi
dan tata kerja sarana pelayanan kesehatan.
3) Peraturan Menteri Kesehatan No.134/1978 tentang Struktur
Organisasi dan tata kerja rumah sakit umum dimana antara lain
disebutkan bahwa salah satu sub bab bagian adalah pencatatan
medis.
Suatu dokumen rekam medis mempunyai nilai medik karena catatan
tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan
pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada seorang pasien.
Dengan melihat beberapa aspek tersebut, rekam medis mempunyai
kegunaan yang sangat luas, karena tidak hanya menyangkut antara pasien
dengan pemberi pelayanan saja. Kegunaan rekam medis secara umum
adalah :
1) Sebagai media komunikasi antara dokter dan tenaga ahli lainnya yang
ikut ambil bagian di dalam memberikan pelayanan, pengobatan,
perawatan kepada pasien.
2) Menyediakan data yang berguna bagi keperluan penelitian dan
pendidikan.
3) Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus
diberikan kepada pasien.
4) Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan, perkembangan
penyakit dan pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat di RS.
5) Sebagai dasar yang bergunana untuk analisis, penelitian, evaluasi
terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.
6) Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun
dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
7) Sebagai dasar dalam perhitungan pembayaran pelayanan medik
pasien.
8) Menjadi sumber ingatan yang harus di dokumentasikan, serta bahan
pertanggungjawaban dan laporan.

15
2. Aspek Hukum Rekam Medis Di Rumah Sakit
Dasar hukum tentang penyelenggaraan rekam medis antara lain sebagai
berikut :
1) PP No,10 Tahun 1960 Tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran.
2) Undang-Undang Republik Indonesia No.44 Tahun 2009 Tentang
Rumah Sakit, dimana antara lain disebutkan Kewajiban dan Hak
yang tercantum dalam Pasal 29, setiap Rumah Sakit mempunyai
kewajiban :
a) Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah
Sakit kepadan masyarakat.
b) Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti
diskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan
pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit.
c) Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan
fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan
gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan
korban bencana dari kejadian luar biasa atau bakti sosial bagi
misi kemanusiaan.
d) Membuat, melaksanakan dan menjaga standar mutu
pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam
melayani pasien.
e) Menyelenggarakan rekam medis.
3) Peraturan Menteri Kesehatan No.134/1978 tentang struktur organisasi
dan tata kerja rumah sakit umum dimana antara lain disebutkan
bahwa salah satu sub bab bagian adalah pencatatan medis.

16
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Dalam arti sempit rekam medis adalah berupa dokumen tentang identitas
pasien, pemeriksaan, pengobatan,dan pelayanan lain kepada pasien dalam
sarana pelayanan kesehatan.
Sedangkan dalam arti luas rekam medis merupakan suaru system
penyelenggaraan rekam medis yang berguna untuk menunjang peningkatan
pelayanan kesehatan pada suat u pelayanan kesehatan yang jelas dasar
hukumya, tidak hanya berupa dokumen saja.
Keberadaan rekam medis pada pusat-pesat pelayanan kesehatan pada era
sekarang sengatlah penting guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
dan drajat kesehatan masyarakat.

B. SARAN

Sebaiknya dalam pengarsipan rekam medis harus sesuai dengan ketentuan


yang ditetapkan dan diharapkan dapat menggunakan tracer dalam
mempermudah penyimpanan dan pengecekan rekam medis, Sebaiknya antara
petugas rekam medis dan petugas rawat inap terjalin komunikasi yang
baik, sehingga outputyang diharapkan dalam penyelenggaraan rekam
medis rawat inap dapat tercapai. Dan sebaiknya ada sosialisasi dari
rekam medis ke bagian rawat inap terhadap semua kebijakan terkait.

17
DAFTAR PUSTAKA

Drg Wiyatmi, Hardani. 2014. Anestesi lokal dalam pencabutan gigi. [Online]
https://studylibid.com/doc/1347138/anestesi-lokal-dalam
pencabutan-gigi-di (Diakses 12 Oktober 2019)

Handiwidjojo, Wimmie 2009. Rekam Medis Elektronik. [Online]


https://ti.ukdw.ac.id/ojs/index.php/eksis/article/view/383 (Diakses
5 Oktober 2019)

A.Hasimy, Mulya. 2006. Rekam Medis Rumah Sakit. Direktorat Jenderal Bina
Pelayanan Medik.

Fhadilah 2018. BAB II. [Online] http://repository.unpas.ac.id/36114/4/


BAB%20II.pdf (Diakses 5 Oktober 2019)

18