Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOLISTRIK DAN ELEKTROMAGNETIK

MODUL KE – 01
METODE LOOP-LOOP (SILIGRAM)/ CONDUCTIVITY METER DEPTH (CMD)

Oleh:
Lezy Nur Utari 12116128

Asisten :
Andho Marendra 12115006
Edlyn Yoadan Nathania 12115035
Elysia Levina 12115019
Falah Fadjariansyah K. K 12115032
Hendra Hidayat Akbar 12114005
M. Latif Biantoro 12115048
M. Iqbal Naufaldi 12115007

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2019
Abstrak

Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu metode pasif dan aktif. Metode pasif
dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan
membuat medan gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan oleh bumi. Sedangkan sumber-
sumber yang digunakan dalam pengukuran tersebut diantaranya ada- lah gelombang elektromagnetik,
getaran, sifat kelistrikan, sifat kemagnetan, dan lain-lain. Metode EM adalah salah satu metode geofisika
untuk mengetahui anomali di bawah permukaan yang memanfaatkan sifat medan magnet dan medan
listrik. Survei elektromagnetik (EM) pada dasarnya diterapkan untuk mengetahui respons bawah
permukaan menggunakan perambatan gelombang elektromagnetik yang terbentuk akibat adanya arus
bolak-balik dan medan magnetik. Medan elektromagnetik primer dihasilkan oleh arus bolak-balik yang
melewati sebuah kumparan yang terdiri dari lilitan kawat. Respons bawah permukaan berupa medan
elektromagnetik sekunder dan resultan medan terdeteksi sebagai arus bolak-balik yang menginduksi arus
listrik pada koil penerima (receiver) sebagai akibat adanya induksi elektromagnetik
Kata kunci : Metode EM, induksi elektromagnetik.

Abstract

In general, the geophysical method is divided into two categories, namely passive and active methods. The
passive method is done by measuring the natural fields emitted by the earth. The active method is done by
making a disturbance field then measuring the response made by the earth. While the sources used in these
measurements include electromagnetic waves, vibrations, electrical properties, magnetic properties, and
others. The EM method is one of the geophysical methods for knowing subsurface anomalies that utilize
the nature of the magnetic field and the electric field. Electromagnetic (EM) surveys are basically applied
to determine the subsurface response using propagation of electromagnetic waves formed by alternating
current and magnetic fields. The primary electromagnetic field is produced by alternating current that
passes through a coil consisting of wire windings.
The subsurface response is a secondary electromagnetic field and the resultant field is detected as an
alternating current that induces an electric current in the receiver coil as a result of electromagnetic
induction
Keywords: EM method, electromagnetic induction.
Pendahuluan
Jika di permukaan bumi timbul medan elektromagnetik maka akan timbul arus listrik yang
melewati berbagai lapisan konduktor dibawah permukaan bumi sesuai dengan hukum induksi
elektromagnetik. Arus ini akan mengganggu medan elektromagnetik di permukaan bumi dengan
timbulnya medan elektromagnetik yang baru.

Latar Belakang
Magnetotelurik (MT)

Metode magnetotellurik merupakan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan variasi
medan elektromagnetik yang terdapat pada permukaan bumi. Variasi medan tersebut berasal dari
batuan-batuan di bawah permukaan bumi yang terinduksi oleh medan elektromagnetik yang
terdapat pada atmosfer bumi. Medan elektromagnetik di permukaan bumi diukur menggunakan
alat akuisisi data magnetollurik. Variasi medan elektromagnetik yang terukur nantinya
diterjemahkan menjadi nilai resistivitas yang kemudian dimodelkan baik secara vertikal maupun
lateral. Dari model tersebut dapat diprediksi jenis-jenis dan susunan batuan yang terdapat di bawah
permukaan bumi.

Secara sederhana, munculnya variasi medan magnet dan medan listrik di permukaan bumi dapat
dipahami menggunakan dua prinsip berikut :

1. Benda konduktor yang terkena medan magnet dengan flux yang berubah-ubah akan
menghasilkan aliran listrik. Prinsip tersebut dapat dilihat pada dinamo listrik.
2. Benda konduktor yang dialiri listrik akan menghasilkan medan magnet di sekitar benda
tersebut.

Metoda Elektromagnetik VLF

Salah satu metoda elektromagnetik ialah metoda elektromagnetik VLY (Very Low Frequency
Electromagnetic). Dalam metoda ini dimanfaatkan medan elektromagnetik yang dibangkitkan
oleh pemancar-pemancar radio berfrekuensi sangat rendah dengan daya besar yang biasanya
digunakan untuk kepentingan navigasi kapal-kapal selam. Frekuensi yang digunakan ialah antara
15 KHz – 30 KHz.

Metode elektromagnetik VLF memanfaatkan medan elektromagnetik yang dibangkitkan


pemancar-pemancar grlombag radio VLF berdaya besar yang dioperasikan untuk kepentingan
komunikasi militer. Pada terminology komunikasi radio, VLF adalah frekuensi radio pada 15
hingga 25 kHz, frekuensi VLF apabila dibandingkan dengan frekuensi yang digunakan pada
eksplorasi geofisika termasuk dalam kelompok frekuensi tinggi. Gelombang elektromagnetik yang
diradiasikan dari sebuah pemancar VLF yang menjalar pada lapisan bumi berlapis dan diukur pada
permukaan bumi mempunyai komponen medan elektrik dan medan magnet yang saling tegak
lurus. Pemancar VLF mempunyai daya yang sangat besar sehingga mampu menginduksi batuan
yang jaraknya beratus-ratus kilometer jauhnya.

Medan magnetik dan medan listrik yang dibangkitkan pemancar disebut sebagai medan primer.
Medan primer membangkitkan medan sekunder sebagai akibat adanya arus induksi yang mengalir
pada benda-benda konduktor di dalam tanah. Medan sekunder yang timbul bergantung pada sifat-
sifat medan primer, sifat listrik benda-benda di dalam tanah dan medium sekitarnya, serta bentuk
dan posisi benda-benda tersebut. Pada daerah pengamatan VLF dilakukan pengukuran terhadap
resultan medan primer dan medan sekunder, dimana perubahan resultan kedua medan tersebut
tergantung pada perubahan medan sekunder. Sehingga bentuk, posisi, dan sifat listrik benda-benda
di bawah daerah pengamatan dapat diperkirakan.

CM (Conductivity Measurement Depth)


CM adalah salah satu instrument dari metode elektromagnetik yang mengukur sifat konduktivitas
material bawah permukaan bumi yangmeliputi batuan, soil, air tanah dan material lainnya yang
terkubur di bawah permukaan bumi. Metode ini bersifat pasif, yaitu energi yang digunakan telah
adasecara alamiah di alam. CM dari GF instrument merupakan salah perangkat darimetode
Elektromagnetik yang memiliki prinsip kerja membangkitkan gelombangelektromagnetik sebagai
konduktiviti meter dengan menggunakan frekuensi tetapdan jarak koil yang terpisah sejauh 3,66
meter.
Hubungan Metode CM Terhadap Tanah
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan melakukan akuisisi datamenggunakan satu GF
instrument (Conductivity Meter) guna memperoleh nilaikonduktivitas bawah permukaan berkisar
2-5 meter. Konduktivitas tanah jenuhselalu lebih tinggi dari konduktivitas dari tanah tak jenuh.
Hal ini disebabkan olehdua faktor utama, yaitu pada tanah jenuh pengaruh-pengaruh gaya gravitasi
jauhlebih dominan dibandingkan pada tanah tak jenuh dan ukuran pori-pori padatanah jenuh lebih
besar dari pori-pori tanah tak jenuh.

Pengolahan data
Langkah kerja
Langkah kerja pada saat akuisisi dilapangan :
1. Menyiapkan instrument dan GPS
2. Menghubungkan resistor dan transmitor menggunakan kabel dengan T dan R yang
saling saling berhadapan
3. Melakukan pengukuran dengan posisi high (horizontal) dan low (vertical).
4. Melakukan perpindahan pengukuran sesuai dengan desain akuisisi dan catat hasil
pengukuran alat dan GPS (GPS berada ditengah ketika pengambilan data).

Desain Akuisisi
Pengukuran dilakukan pada hari Kamis, 28 Maret 2019 pada pukul 07.00-09.00 dilapangan
MKG Institut eknologi Sumatera. Dengan menggunaka metode loop-loop.
Hasil
Line 1
Coordinate Reading for each coil spacing (ohm.m) Remark
Distance Station E N 10 20 40
VD HD VD HD VD HD
0 1 1.1E+07 521770 43.9 70.2
5 2 1.1E+07 521766 40.4 41.5
10 3 1.1E+07 521764 49.7 44.3
15 4 1.1E+07 521762 57.7 53.1
20 5 1.1E+07 521759 63.2 53.4
25 6 1.1E+07 521756 60.2 50.4
30 7 1.1E+07 521754 49.4 44.2
35 8 1.1E+07 521752 58.3 52.4
40 9 1.1E+07 521750 43.2 41.4
45 10 1.1E+07 521747 42.3 33.8
50 11 1.1E+07 521745 40.1 32.6
55 12 1.1E+07 521743 43.8 34.2
60 13 1.1E+07 521740 41.6 30.7
65 14 1.1E+07 521738 37 39.2
70 15 1.1E+07 521735 39.8 32.2

Grafik Hubungan X-VD dan X-HD

Grafik X-VD
70

60

50

40

30

20

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80
Grafik X-HD
80

70

60

50

40

30

20

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80

Line 2
Coordinate Reading for each coil spacing (ohm.m) Remark
Distance Station E N 10 20 40
VD HD VD HD VD HD
0 1 1.1E+07 521769 46.3 52.7
5 2 1.1E+07 521767 30.3 33.8
10 3 1.1E+07 521765 46.2 34.9
15 4 1.1E+07 521762 44.8 31
20 5 1.1E+07 521759 48.6 33
25 6 1051826 521756 41.1 34
30 7 1.1E+07 521754 40 35.2
35 8 1.1E+07 521751 40.7 34.9
40 9 1.1E+07 521749 40.6 32.1
45 10 1.1E+07 521746 40.7 35
50 11 1.1E+07 521744 41.1 31.9
55 12 1.1E+07 521741 41.8 32.6
60 13 1.1E+07 521739 46.8 28.8
65 14 1.1E+07 521736 44.9 31.8
70 15 1.1E+07 521734 43.1 23.9
Grafik Hubungan X-VD dan X-HD

Grafik X-VD
60

50

40

30

20

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80

Grafik X-HD
60

50

40

30

20

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80

Hasil grafik pada MmBlok


Line 1
Line 2
Analisis Data
Bumi ini terdiri dari berbagai macam lapisan. Lapisan itu juga terdiri dari berbagai macam
kandungan seperti batuan, mineral dan tanah. Batuan dan mineral yang ada di bumi memiliki
sifatsifat listrik seperti; potensial listrik alami, konduktivitas listrik, dan konstanta dielektrik. Ada
berbagai metode yang dilakukan untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan tanah. Salah
satunya adalah metode elektromagnetik. Metode EM adalah salah satu metode geofisika untuk
mengetahui anomali di bawah permukaan yang memanfaatkan sifat medan magnet dan medan
listrik. Survei elektromagnetik (EM) pada dasarnya diterapkan untuk mengetahui respons bawah
permukaan menggunakan perambatan gelombang elektromagnetik yang terbentuk akibat adanya
arus bolak-balik dan medan magnetik. Medan elektromagnetik primer dihasilkan oleh arus bolak-
balik yang melewati sebuah kumparan yang terdiri dari lilitan kawat. Respons bawah permukaan
berupa medan elektromagnetik sekunder dan resultan medan terdeteksi sebagai arus bolak-balik
yang menginduksi arus listrik pada koil penerima (receiver) sebagai akibat adanya induksi
elektromagnetik. Pada praktikum kali ini telah dilakukan pengambilan data dengan menggunakan
metode loop-loop (siligram) dengan menggunakan dua buah coil yang terdapat coil receiver dank
coil transmitter, dimana coil receiver berfungsi untuk menerima respons tanah terhadap medan
magnet bolak-balik dari loop transmitter.

Data-data yang didapat dilapangan secara umum tidak bagus atau tidak baik karena ketika
dilakukan pengolahan data terdata banyak noise seperti aktifitas dideket kois atau pun masih
banyak yang menggunakan jam atau kacamata yang menggandung magnet. Bila dibandingkan
antara grafik lintasan 1 dan lintasan 2 dapat kita lihat data pada lintasan 1 lebih baik dari data
lintasan 2, dimana pada lintasan 1 nilai cenderung naik dengan konstan disbanding lintasan 2. Ini
dikarnakan ketika proses pengambilan data pada lintasan 2 cenderung terburu-buru dan banyaknya
noise ketika alat di hidupkan untuk pengambilan data. Dan beberapa kali ketika pengambilan data
titik transmiter tidak bertemu dengan titik resistornya, ini akan berpengaruh terhadap nilai yang
keluar ketika pengambilan data. Untuk lintasan 1 merupakan daerah low resistivity karna grafik
lintasan 1 cenderung naik untuk yang low dibandingkan dengan yang high cenderung turun. Untuk
lintasan 2 merupakan daerah low resistivity karna meski data naik turun pada data low namun pada
data high juga terjadi penurunan nilai data. Maka dapat diinterpretasikan bahwa pada daerah
pengukuran UPT MKG ITERA merupakan daerah batuan sedimen yang memiliki nilai resistivity
rendah. Dan dapat kita lihat dari nilai pengambilan data dimana nilai resistivity memiliki range
dari 1-100 yang merupakan batuan clay.

Kesimpulan
Praktikum modul 6 ini dituntut untuk dapat melakukan pengambilan data dengan menggunakan
alat CMD dan mengetahui parameter-parameter apa saja yang dapat menggangu ketika proses
pengambilan data di lapangan. Pengukuran dilakukan dengan dua cara yaitu : low resistivity dan
high resistivity. Dimana pada data dapat kita ketahui bahwa batuan didaerah sekitar UPT MKG
ITERA merupakan batuan sedimen dengan nilai resistivity rendah.
Kemudian dapat disimpulkan bahwa :
1. Praktikan dapat melakukan pengambilan data dengan menggunakan alat CMD
2. Praktikan mengetahui parameter apa saja yang mengganggu proses pengambilan data
dilapangan
3. Pengukuran nilai conductivity dapat menggunakan dua cara yakni, low resistivity &
highresistivity
4. Hasil interpretasi dari daerah lapangan MKG merupakan batuan sedimen clays.

Daftar Pustaka
1. Viridi S Hilfan K, dkk.1995. Fisika Bumi Jurusan Fisika.Bandung : ITB Bandung
2. Telford, W,M, Geldart, L,P, Sheriff, R,E, & Keys, D,A. 1990. Applied Geophysics.
3. https://fauzulchaidir.wordpress.com/2016/10/29/metode-elektromagnetik/ (Diakses pada
tanggal 3 April 2019, pukul 9:48 WIB)
4. Agus Budhi Prasetyo. 2004. Kajian Karakteristik Mataair Pada Kawasan Karst di
Kabupaten Wonogiri, Jawa TengahI. Skripsi. Fakultas Geografi. UGM. Yogyakarta.