Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH BIOLOGI KONSERVASI

Konservasi Tingkat Spesies dan Populasi : Permasalahan Pola Spesies atau Populasi

Pengampu : Eti Wahyuningsih S.SI., M.Pd.

Oleh:
1. Khoerul Umam (2018 01 05 012)
2. Lu’lu’ul Ma’rifah (2018 01 05 013)
3. Moria Yunantri (2018 02 05 015)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA PURWOKERTO
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat
dan karunia-Nya sehingga penyusun mampu menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudul “Konservasi Tingkat Spesies dan Populasi : Permasalahan Pola
Spesies atau Populasi”.

Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah Biologi Dasar di prodi Biologi, Universitas
Nahdlatul Ulama Purwokerto.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
tak terhingga kepada Eti Wahyuningsih, S.Si., M.Pd selaku dosen pengampu pada
mata kuliah Biologi Konsevasi.

Semoga dengan adanya penyusunan makalah ini, dapat bermanfaat bagi


pembaca dan dapat menambah wawasan mengenai konservasi tingkat spesies dan
populasi khususnya permasalahan pada spesies atau populasi.

Dalam penyusunan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-


kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Purwokerto, 13 Maret 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah . .......................................................................................... 1

1.3 Tujuan ... . ......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

2.1 Biologi Konservasi ............................................................................................ 3

2.2 Spesies dan Populasi .......................................................................................... 4

2.3 Penaksiran Ukuran Populasi yang Efektif ......................................................... 5

2.4 Konsep Dasar pada Populasi yang Kecil ........................................................... 7

2.5 Masalah pada Populasi yang Kecil .................................................................... 7

2.6 Urgensi Pemanenan pada Populasi Tinggi ........................................................ 11

BAB III PENUTUP............................................................................................... 13

3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Segala kehidupan Makhluk hidup baik mikroorganisme maupun
makroorganisme tidak lepas dari sebuah asosiasi atau interaksi baik antar spesies
maupun antar populasi tertentu. Tanpa adanya asosiasi maka dapat dipastikan
keeksistensian suatu makhluk hidup tersebut akan rendah. Di dalam Asosiasi atau
interaksi tersebut akan memunculkan suatu pola baik antar spesies maupun populasi
yang khas dan beragam. Melalui pola tersebut kita dapat mengetahui apakah suatu
spesies atau populasi tersebut mengalami permasalahan atau tidak dan apakah
keeksistensian suatu populasi maupun spesies tersebut mampu mempengaruhi
keeksistensian spesies maupun populasi organisme yang lain.
Saat ini, banyak sekali permasalahan dalam ruang lingkup konservasi biologi
salah satunya adalah permasalahan persebaran pola spesies dan populasi. Lahan
hutan yang semakin sedikit dan aktivitas manusia menjadi salah satu penyebab
terbesar yang mempengaruhi persebaran pola spesies dan populasi suatu makhluk
hidup. Adapun pihak yang harus membantu dalam pelestarian flora dan fauna
bukan hanya pihak lembaga-lembaga konservatif saja namun kita sebagai
Mahasiwa Biologi dan masyarakat umum juga harus turut serta dalam mencapai
tujuan pelestarian flora dan fauna. Oleh sebab itu kami mencoba untuk menyusun
makalah ini sebagai salah satu pengetahuan konservasi mengenai permasalahan
pola spesies dan populasi yang dihadapi saat ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana yang dimaksud dengan spesies dan populasi yang efektif?
2. Permasalahan seperti apa yang muncul pada pola spesies dan populasi yang
kecil?
3. Bagaimana permasalahan yng sering kali terjadi pada populasi yang
tergolong tinggi?

1
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa Biologi diharapkan mampu mengetahui apa itu spesies dan
populasi yang efektif
2. Mahasiswa Biologi diharapkan mampu mengetahui permasalahan dalam
pola spesies dan populasi yang kecil
3. Mahasiswa Biologi diharapkan mampu mengetahui permasalahan dalam
pola spesies dan populasi yang tergolong tinggi

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Biologi Konservasi

Konservasi sumberdaya alam hayati berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990


tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya merupakan
pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara
bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara
dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Biologi konservasi
adalah ilmu yang berorientasi pada tujuan yang mencari penyelesaian untuk
menghadapi krisis keanekaragaman biologis (biodiversity crisis), penurunan yang
sangat cepat dalam keanekaragaman kehidupan bumi pada saat ini (Campbell et al.,
2007).

Tujuan utama kegiatan konservasi adalah kelangsungan hidup umat manusia


karena umat manusia tergantung pada lingkungan alam untuk dapat memproduksi
makanan dan mendapatkan bahan-bahan mentah. Tujuan lain kegiatan konservasi
adalah menjaga lingkungan yang bebas polusi udara dan air serta meningkatkan
lingkungan dengan peraturan secara rasional tempat tinggal, kantor-kantor, pabrik-
pabrik, jalan-jalan dan jalan raya, serta ruangan terbuka dan keadaan alam lainnya.
Tujuan terakhir kegiatan konservasi adalah perlindungan flora, fauna dan alam itu
sendiri. Kelestarian alam sangat diperlukan sebagai sumber kehidupan hidup
manusia. Kegiatan konservasi meliputi konservasi tanah, udara, air, hutan, dan
segala makhluk hidup di darat, air dan udara (Adiwibawa, 2009).

Fokus biologi konservasi pada spesies dan populasi melibatkan pemahaman


dinamika populasi kecil, penentuan penurunan dan penilaian faktor-faktor yang
bertanggung jawab atas penurunan tersebut dan penentuan bagaimana untuk
mempertahankan populasi kecil yang seringkali terbagi-bagi. Upaya konservasi
idealnya dimulai sebelum terjadi penurunan yang serius, yaitu ketika masih tersedia
banyak waktu untuk menyelamatkan daerah habitat yang cukup besar untuk
mendukung populasi alamiah. Ilmu konservasi lebih memfokuskan pada proses

3
yang mendukung ekosistem dan hubungan evolusioner yang diwakili oleh spesies
daripada melestarikan spesies individual atau populasi (Campbell et al., 2007).

2.2 Spesies dan Populasi

2.2.1 Spesies

Keanekaragaman spesies sendiri merupakan semua spesies di bumi,


termasuk bakteri, protista serta spesies dari Kingdom bersel banyak
(multiseluler) seperti tumbuhan, jamur, hewan. Spesies secara morfologis
diartikan sebagai sekelompok individu yang menunjukkan beberapa
karakteristik penting berbeda dengan kelompok-kelompok lain, baik secara
morfologi, fisiologi atau biokimia. Definisi spesies secara biologis dapat
diartikan sebagai sekelompok individu-individu yang berpotensi untuk
berkembang biak dengan sesamanya di alam, dan tidak mampu berkembang
biak dengan individu-individu dari spesies lain. Proses seleksi alam seringkali
memunculkan spesies-spesies baru. Proses dari satu spesies asal berkembang
menjadi satu atau lebih spesies baru yang berbeda dikenal dengan istilah
spesiasi. Individu-individu dalam suatu populasi mempunyai karakteristik
tertentu yang diwariskan dari induk ke anaknya. Variasi genetik muncul
akibat perubahan spontan, baik dalam kromosom maupun melalui
penyusunan kembali kromosom, khususnya selama reproduksi seksual
(Indrawan et al., 2012).

2.2.2 Populasi

Populasi merupakan kumpulan individu sejenis yang berada dalam suatu


tempat tertentu, misalnya sekelompok harimau yang terdapat disuatu hutan
disebut populasi harimau, sementara itu sekelompok pohon bakau (mangrove)
yang berada pinggir suatu pantai disebut dengan populasi pohon bakau
(Siahaan, 2008). Istilah populasi dapat diartikan juga sebagai sekelompok
individu-individu yang dapat kawin satu dengan yang lainnya dan dapat

4
menghasilkan keturunan. Jumlah keberagaman genetik dalam populasi
ditentukan oleh banyaknya gen yang memiliki lebih dari satu alela (gen
polimorfik) dan banyaknya alela pada setiap gen tersebut. Gen polimorfik
pada beberapa individu dalam populasi mempunyai gen heterozygous, artinya
individu akan menerima alela gen yang berbeda dari setiap individunya.
Semua tingkat variasi genetik ini berkontribusi pada kemampuan populasi
untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Spesies yang tergolong
langka memiliki variasi genetik yang lebih sedikit, sehngga menjadi lebih
cepat punah jika kondisi lingkungan berubah (Indrawan et al., 2012).

Susunan keseluruhan dari gen dan alela dalam populasi disebut gene pol
(lungkang gen atau kumpulan gen) pada populasi. Kombinasi tertentu dari
alela yang dimiliki setiap individu disebut genotipnya. Fenotip suatu individu
menggambarkan karakter morfologi, fisiologi, anatomi dan biokimia individu
tersebut. Fenotip muncul sebagai hasil perwujudan atau ekspresi genotip pada
lingkungan terkait. “Gene Pool” (kumpulan gen) dari populasi sering
mengalami perubahan sejalan dengan waktu ketika lingkungan dari spesies
tersebut berubah. Perubahan dapat bersifat biologis (akibat perubahan
ketersediaan pakan, pesaing, pemangsa) maupun fisik (akibat perubahan
iklim, ketersebiaan air, karakeristik tanah). Ketika suatu populasi mengalami
banyak sekali perubahan genetik sehingga tidak dapat lagi disilangkan dengan
spesies asal yang menurunkan genetik tersebut, dapat dikatakan bahwa
spesies baru telah muncul, peristiwa tersebut dikenal sebagai istitah evolusi
filetik (phyletic evolution) (Indrawan et al., 2012).

2.3 Penaksiran Ukuran Populasi yang Efektif

Penentuan ukuran populasi yang efektif (effective population size, Ne)


diperlukan dalam taksiran ukuran minimum populasi yang dapat bertahan hidup.
Ukuran populasi yang efektif didasarkan pada jumlah organisme dewasayang
berhasil kawin dan berkembang biak (menyumbangkan gamet pada generasi
berikutnya). Taksiran ukuran minimum populasi yang dapat bertahan hidup

5
mendasari prediksi daerah dinamis minimum (minimum dynamic area), jumlah
habitat sesuai yang diperlukan untuk menopang suatu populasi yang dapat bertahan
hidup. Daerah dinamis minimum dapat ditaksir dengan cara menggabungkan
taksiran ukuran minimum populasi yang dapat bertahan hidup dengan data pada
kisaran tempat tinggal (daerah dimana suatu individu atau kelompok individu hidup
selama satu tahun). Ukuran populasi dan daerah dinamis minimum harus cukup
besar untuk mengakomodasi gangguan yang merupakan cirri khas habitat alamiah
spesies tersebut (Campbell et al., 2007).

Berikut rumus penaksiran ukuran populasi yang efektif (Ne) berdasarkan


Campbell et al. (2007) dengan menggunakan rasio jenis kelamin pada individu-
individu yang sedang berkembang biak sebagai berikut:

4𝑁𝑚𝑁𝑓
𝑁𝑒 ∶
𝑁𝑚 + 𝑁𝑓

Keterangan :

Ne : Taksiran ukuran populasi

Nf : Jumlah betina yang telah berhasil berkembang biak

Nm: Jumlah jantan yang telah berhasil berkembang biak

Ukuran suatu populasi dapat dinyatakan efektif apabila mampu


mempertahankan cukup keanekaragaman genetiknya sehingga dapat beradaptasi
secara evolusioner. Populasi dengan Nerendah sangat rentan terhadap perkawinan
kerabat dekat, hal tersebut mampu mengurangi heterozigositas, pengaruh acak
hanyutan genetik serta pengaruh bottleneck. Namun terdapat beberapa kasus yang
ditemukan pada beberapa populasi hewan, dimana spesies tersebut memiliki laju
reproduksi yang lambat dengan populasi yang kecil dengan keragaman genetik
yang rendah merupakan hal yang normal, seperti populasi cheetah, beruang cokelat
Eropa, dan beruang Grizzly. Kasus lain dapat ditemukan pada spesies tanaman
seperti Lousewort pedicularisdan beberapa rumpit-rumputan. Dengan demikian,

6
pada beberapa kasus, keanekaragaman genetic yang rendah dikaitkan dengan
pelebaran populasi, bukan dengan penurunan populasi (Campbell et al., 2007).

2.4 Konsep Dasar pada Populasi yang Kecil

Shaffer (1981) mendefinisikan istilah Minimum Viable Population (MVP)


sebagai jumlah individu minimal yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan
hidup suatu spesies. MVP merupakan ukuran terkecil dari suatu populasi yang
terisolir dalam suatu habitat tertentu, yang berpeluang 99% untuk bertahan hidup
selama 1000 tahun. MVP dapat didefinisikan pula sebagai ukuran populasi terkecil
yang diperkirakan memiliki peluang yang sangat tinggi untuk bertahan hidup
dimasa mendatang. Shaffer menekankan bahwa definisi MVP dalam konteks ini
tidak mutlak, karena ditentukan berdasarkan tingkat peluang bertahan hidup serta
kerangka waktu yang akan diperkirakan oleh peneliti. Langkah selanjutnya dalam
penelitian konservasi spesies adalah memperkirakan Minimum Dynamic Area
(MDA). MDA merupakan luasan atau jumlah habitat yang cocok dihuni agar MVP
dapat dicapai atau dipertahankan. MDA dapat dihitung dengan mempelajari luasan
daerah jelajah individu maupun kelompok atau koloni spesies terancam punah
tersebut. Umumnya, luas kawasan antara 100-1.000 km² dibutuhkan untuk
melindungi berbagai populasi mamalia bertubuh kecil di Afrika, sedangkan untuk
mempertahankan populasi karnivora besar seperti singa dibutuhkan kawasan seluas
10.000 km² (Indrawan et al., 2012).

2.5 Masalah pada Populasi yang Berukuran Kecil

Umumnya, untuk melindungi sebagian besar spesies diperlukan populasi yang


besar. Spesies dengan ukuran populasi yang kecil akan menghadapi resiko besar
berupa kepunahan. Menurut Indrawan et al (2012), terdapat tiga sebab mengapa
populasi kecil terancam oleh berkurangnya jumlah individu dan kepunahan
lokalantara lain:
1. Hilangnya keragaman genetik dan timbulnya masalah dalam tekanan
silang-dalam atau perkawinan sedarah (inbreeding depression) serta
hanyutan genetik (genetic drift).

7
2. Perubahan demografik, ketika laju kelahiran dan laju kematian akan
mengalami variasi acak dan mengakibatkan perubahan pada struktur dan
komposisi populasi.
3. Perubahan lingkungan, yang dapat disebabkan oleh bermacam ragam
peristiwa termasuk pemangsaan, kompetisi, penyakit, persediaan pangan,
maupun bencana alam yang terjadi sewaktu-waktu.

2.5.1 Menyusutnya Keragaman Genetika

Keragaman genetik turut menentukan keberhasilan suatu populasi untuk dapat


beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Individu dengan alela atau kombinasi
alela tertentu mungkin memiliki sifat-sifat yang sesuai dan dibutuhkan untuk
bertahan serta berkembang biak didalam kondisi yang baru. Frekuensi alela pada
populasi yang kecil dapat berubah-ubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Frekuensi alela dan perubahan frekuensi ini terjadi secaraacak, tergantung pada
individu mana yang berkembang biak dan menghasilkan keturunan. Hanyutan
genetik (genetic drift) merupakan proses kehilangan keragaman genetik secara
acak, yang sering terjadi pada populasi-populasi yang berukuran kecil. Populasi
kecil yang mengalami hanyutan genetic lebih rentan terhadap berbagai efek
genetika yang merugikan, misalnya tekanan silang-dalam atau perkawinan sedarah
(inbreeding depression), tekanan silang-luar (outbreeding depression) serta
berkurangnya kemampuan berevolusi. Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan
berkurangnya populasi yang mendorong lebih lanjut pengikisan variasi genetik bagi
generasi mendatang, serta peluang kepunahan menjadi lebih besar (Indrawan et al.,
2012).

2.5.2 Tekanan Silang-Dalam (inbreeding depression)

Tekanan silang-dalam dapat muncul akibat pertukaran gen antara induk dengan
keturunannya, persilangan antarkerabat dekat maupun penyerbukan sendiri oleh
tumbuhan hermaprodit. Tekanan silang-dalam ditandai oleh tingginya angka
kematian, sedikitnya jumlah keturunan, dan munculnya keturunan yang lemah,
steril serta keberhasilan reproduksi yang rendah. Tekanan silang-dalam muncul

8
ketika kedua induk memiliki alela resesif, dan kedua alela resesif yang pada
umumnya bersifat merugikan tersebut melalui proses perkawinan kemudian
bertemu atau bersilang sehingga memunculkan sifat resesif terkait (Indrawan et al.,
2012).

2.5.3 Tekanan Silang-Luar (outbreeding depression)

Tekanan silang-luar sering juga disebut sebagai perkawinan antar jenis


dan sub-jenis, dimana resiko tersebut dapat terjadi pada spesies yang
tergolong langka dan habitatnya menjadi rusak. Individu-individu yang tidak
berhasil menemukan pasangan pada spesies yang sama akan kawin dengan
anggota dari spesies kerabatnya, sehingga didapati keturunan yang lemah,
steril dan berdaya adaptasi rendah terhadap lingkungannya. Kromosom dan
enzim yang diwarisi dari kedua induk yang berbeda, menimbulkan
ketidakcocokan atai inkompatibilitas. Tekanan silang-luar dapat terjadi antara
subspecies yang berbeda, atau bahkan pada genotip yang terpisah (divergent
genotypes) dalam satu spesies (Indrawan et al., 2012).

2.5.4 Hilangnya Kelenturan dalam Proses Evolusi

Hilangnya variasi genetika pada populasi yang berukuran kecil dapat


membatasi kemampuannya untuk menghadapi keadaan yang baru dan perubahan
lingkungan jangka panjang seperti polusi, penyakit baru dan perubahan iklim
global. Alela langka maupun kombinasi alela yang tidak umum dapat saja
merupakan modal untuk menghadapi kondisi lingkungan dan perubahannya dimasa
depan. Populasi kecil yang tidak memiliki keragaman genetik besar untuk
menghadapi perubahan lingkungan jangka panjang akan lebih mudah terancam
kepunahan (Indrawan et al., 2012).

. 2.5.5 Dampak Perubahan Iklim Global

Perubahan iklim global terhadap ekosistem alami akibat dari pemanasan


global dapat terlihat melalui beberapa bukti salah satunya yaitu Pegunungan

9
Kaukasusantara Laut Hitam dan Laut Kaspia selama 100 tahun terakhir setengah
dari seluruh es glasiernya. Berdasarkan IPCC (2001), es yang mencair dalam
100tahun ke depan akan menambah jumlah air laut sehingga terjadi kenaikan
permukaan air laut setinggi 9-88 cm sehingga dapat membanjiri komunitas pesisir
yang rendah posisinya. Ekosistem alami seperti bakau akan rusak dan terdegradasi.
Selain itu persawahan di pesisir akan menjadi rusak karena banjir disebabkan oleh
kenaikan permukaan air laut, hal tersebut dapat berdampak langsung terhadap
persediaan pangan. Ekosistem terumbu karang juga terancam oleh kenaikan suhu
air laut. Peningkatan kadar karbon dioksida diatmosfer juga berpengaruh pada
kemampuan spesies laut untuk menghasilkan kalsium karbonat, missal terumbu
karang sehingga berpotensi memberikan dampak besar bagi ekologi dan kimia
lingkungan laut. Beberapa jenis ikan memiliki sifat sensitif terhadap
meningkatknya suhu air laut dan kondisi ini mendorong terjadinya migrasi ikan ke
daerah yang lebih dingin. Prioritas konservasi dalam hal ini melindungi komunitas
yang masih utuh dan memulihkan yang telah terdegradasi, dalam jangka panjang
untuk menurunkan kadar gas-gas rumah kaca dengan mengurangi penggunaan
bahan bakar fosil serta melindungi dan menanam kembali hutan (Indrawan et al.,
2012).

2.5.6 Kegiatan Eksploitasi

Peningkatan populasi manusia menyebabkan pemanfaatan sumberdaya alam


dan lingkungan meningkat pesat, teknologi modern digunakan demi menunjang
pemenuhan kebutuhan. Peralatan tradisional penunjang berburu di hutan tropika
humida dan savanna seperti sumpit, tombak, dan panah, kini digantikan dengan
senjata api. Masyarakat tradisional umumnya memiliki aturan-aturan tertentu, yang
tujuan utamanya untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam hayati dan mencegah
eksploitasi atau pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. Kegiatan
pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di lingkungan sekitar masyarakat tersebut
dikontrol dan perizinan yang ketat seperti pemanenan suatu spesies tertentu
dikontrol dengan ketat dan larangan berburu didaerah terlarang serta larangan
mengambil hewan betina dan anak-anak hewan. Aturan-aturan tersebut

10
memungkinkan masyarakat tradisional untuk memanfaatkan sumberdaya alam
dengan prinsip kebersamaan dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Umumnya,
kegiatan eksploitasi sumber daya saat ini dilakukan secara oportunistik (Indrawan
et al., 2012).

2.6 Urgensi Pemanenan pada Populasi Tinggi

Populasi satwa yang tergolong tinggi mampu menyebabkan permasalahan baik


dalam habitat, pakan, kemampuan reproduksi, penyakit dan lainnya. Populasi tinggi
yang tidak sebanding dengan daya dukung lingkungan mampu menyebabkan
predasi maupun kompetisi memperebutkan kebutuhan sumberdaya alam yang ada
disekitarnya. Ledakan populasi tersebut selain menyebabkan kompetisi terhadap
sesama juga mampu menimbulkan kompetisi dengan manusia. Pemanenan populasi
satwa ditujukan untuk menyeimbangkan sex-ratio yang diperlukan dalam wildlife
management. Umumnya, kondisi sex-ratio jantan-betina dialam selalu mendekati
1:1 dimana peluang kelahiran jantan dan betina sama dengan 0,5. Namun, terdapat
beberapa populasi satwa liar yang memiliki sex-ratio 1:4 seperti rusa, gajah, dan
beberapa satwa lainnya (Santosa, 2014). Bahkan penelitian yang telah dilakukan
oleh Santosa (1996) menyatakan bahwa sex-ratio untuk kelompok monyet ekor
panjang yaitu 1:15. Istilah optimal diberikan karena pada angka sex-ratio tersebut
terjadi angka kelahiran tertinggi (Santosa, 2014). Pemanenan dilakukan pada saat
terjadi laju pertumbuhan populasi tertinggi (r maks). Populasi yang dipanen secara
terus menerus, grafik pertumbuhan populasinya akan berbentuk seperti mata gergaji
dan ukuran populasi total tidak akan pernah mencapai daya dukung habitatnya.
Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Kusmardiastuti (2010) dan
Surya (2010) mengenai monyet ekor panjang, Masudah (2012) untuk populasi
banteng dan Yuliawati (2011) tentang populasi rusa menunjukkan bahwa ukuran
populasi hewan penelitian sudah mendekati atau melebihi minimum viable
population (MVP).

Santosa (2013) menyatakan bahwa pemanenan yang dilakukan pada saat


ukuran populasi satwa mencapai daya dukung habitatnya akan menjadikan

11
individu-individu satwa memiliki bobot dan kesehatan yang lebih baik
dibandingkan bilamana tidak dilakukan pemanenan. Samuel dan White (2009)
memberikan empat alasan utama mengapa pemanenan satwa perlu dilakukan yaitu
(1) Sebagai alat penting dalam manajemen populasi; (2) Pemanenan kebutuhan
protein hewani bagi masyarakat lokal atau sekitar; (3) Sebagai sumber pendapatan
bagi masyarakat setempat; dan (4) Sebagai wahana rekreasi berburu. Pemanenan
satwa liar menurut Santosa (2014) umumnya menggunakan pendekatan minimum
viable population (MVP). Kelebihan metode tersebut yaitu tidak mengharuskan
mengetahui nilai daya dukung habitat yang sangat sulit diperoleh serta kuota panen
lestari tidak hanya berupa jumlah individu total tetapi dapat dirinci per kelas umur
untuk setiap jenis kelamin. Selain itu, nilai MVP relatif konstan bila dibandingkan
dengan nilai daya dukung (K) yang diperkirakan sangat peka terhadap perubahan
baik faktor internal satwa maupun faktor eksternal dari lingkungannya.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Biologi konservasi merupakan ilmu terapan yang berorientasi pada kajian
mengenai penyelesaian krisis keanekaragaman hayati. Biologi konservasi sendiri
bertujuan untuk menjaga kelangsungan makhluk hidup yang ada dibumi.
Konservasi pada tingkat awal adalah konservasi pada spesies dan populasi.
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, kajian biologi konservasi pada
spesies dan populasi tidak lepas dari permasalahan yang terjadi pada spesies dan
populasi tersebut. Permasalahan tersebut dapat disebabkan tekanan dari luar
maupun berasal dari diri makhluk hidup tersebut. Bilamana membahas tentang
populasi, dapat dibayangkan seperti apa permasalahan apa saja yang dapat terjadi
pada populasi yang kecil maupun tinggi. Populasi kecil dihadapkan pada
kemampuan populasi tersebut dalam menghadapi tekanan dari luar dan dalam.
Sedangkan populasi yang tinggi dihadapkan pada bagaimana populasi tersebut
dapat terkontrol sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem.

13
DAFTAR PUSTAKA

Adiwibawa, Eka. 2009. Pengelolaan Rumah Walet. Kanisius, Yogyakarta.


Campbell, Neil A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 2007. Biologi edisi
5. Erlangga, Jakarta.
Indrawan, Mochammad, Richard B. Primack, dan Jatna Supriatna. 2012. Biologi
Konservasi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Kusmardiastuti. 2010. Penentuan Kuota Panen Monyet Ekor Panjang (Macaca
fascicularis) Berdasarkan Parameter Demografi. Thesis. Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Masudah. 2012. Penentuan Ukuran Populasi Minimum dan Optimum Lestari
Banteng Berdasarkan Parameter Demografi. Thesis. Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Samuel, R.K. dan D. White. 2009. Management of Wildlife Harvested Populations.
Santosa, Y. 1996. Beberapa Parameter Bio-ekologi Penting dalam Pengusahaan
Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Media Konservasi Vol.V No(1)
April 1996; 25-29. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Santosa, Y. 2013. Comparative Analysis Of Several Quota Calculation Methods
For Wildlife Sustainable Harvesting In Natural Habitats. International
Seminaire on Forest and Biodiversity. Manado, July 2013.
Santosa, Yanto. 2014. Pentingnya Kebijakan Pemanenan dalam Pengelolaan
Populasi Satwa Liar Di Kawasan Konservasi. Risalah Kebijakan Pertanian
dan Lingkungan Vol. 1, No. 1, April 2014: 53-58.
Shaffer, M.L. 1981. Minimum Population Sizes for Spesies Conservation.
University of California Press and Amarican Institute of Biological Science
31: 131-134.
Siahaan, N.H.T. 2008. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Erlangga,
Jakarta.
Surya, R.A. 2010. Penentuan Ukuran Populasi Minimum Lestari Monyet Ekor
Panjang (Macaca fascicularis) Berdasarkan Parameter Demografi. Thesis.
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Yuliawati, A. 2011. Penentuan Ukuran Populasi Minimum dan Optimum Lestari
Rusa Timor Berdasarkan Parameter Demografi. Studi Kasus di TWA CA
Pananjung Pangandaran dan TN Alas Purwo. Thesis magister tahun 2011.

14