Anda di halaman 1dari 93

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur Alhamdulillah, atas berkah Rahmah Hidayah-Nya kami dapat
menyelesaikan laporan modul ini. Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas PBL modul IV
Sistem Reproduksi. Tugas ini ialah hasil diskusi dari semua anggota kelompok 6.
Terimakasih kami ucapkan kepada tutor kami yaitu Dr. dr. H. Busjra M. Noor, MSc

yang telah membimbing kelompok kami sehingga dapat melakukan diskusi dengan
baik. Juga untuk penulis dan penerbit dari buku yang kami jadikan referensi.
Kami menyadari dalam pembuatan laporan ini masih banyak kekurangannya, oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan dan
penyempurnaan tugas ini kedepannya.
Semoga hasil analisis di laporan ini dapat berguna dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Wassalamualaikum wr.wb

Jakarta, 11 Juni 2015

Kelompok 6
SKENARIO III
Wanita usia 32 tahun G3P2002 usia kehamilan 38 minggu dengan taksiran berat janin 2900
gram datang ke Rumah Sakit oleh karena merasa akan melahirkan. Persalinan pada
kehamilan yang kedua (3 tahun yang lalu ) berlangsung dengan seksio sesar atas indikasi
plasenta previa . Pada pemeriksaan kali ini : Keadaan umum baik, Fundus Uteri teraba 3 jari
dibawa processus xyphoideus , di bagian Fundus teraba bokong. Kontraksi uterus
berlangsung 3 kali per 10 menit dengan durasi masing masing selama 45 detik. Pasien berada
pada persalinan kala I fase laten.

KATA SULIT : -

KATA/KALIMAT KUNCI:

 Wanita 32 tahun, G3P2002 Kehamilan 38 Minggu


 Berat Janin 2900 gr
 Persalinan kedua : Seksio Sesar atas Indikasi Plasenta
Previa
 Fundus uteri 3 jari dibawah Processus Xyphoideus
 Fundus teraba bokong
 Kontraksi uterus berlangsung 3x/10 menit,durasi
masing-masing 45 detik
 Pasien persalinan kala I fase Laten
MIND MAP

PERSALINAN

NORMAL ABNORMAL

MACAM- FAKTOR YANG


INDIKASI
MACAM MEMPENGARUHI
PERSALINAN
MEKANISME ABNORMAL
PERSALINAN FAKTOR IBU 3P
NORMAL

TANDA POWER
INPARTUS
PASSAGE

PASSENGER

PENATALAKSANAAN
Pertanyaan:

1. Jelaskan perubahan anatomi yang ada pada kehamilan dan persalinan serta tampilkan
organ yang normal dan organ yang mengalami perubahan!
2. Jelaskan tanda-tanda inpartum!
3. Jelaskan pemeriksaan fisik pada kehamilan!
4. Jelaskan tahap-tahap kehamilan mulai dari fertilisasi sampai kehamilan dan persalinan
tahap kala 1,2,3 dan seterusnya!
5. Jelaskan mekanisme persalinan normal!
6. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan (3P: Power,Passage,Passenger)
dan disertai kelainan apa saja yang berkaitan dengan faktor tersebut!
7. Jelaskan jenis-jenis persalinan abnormal!
a. Seksio sesar
b. Vakum
8. Apakah ada hubungan riwayat dahulu dengan riwayat kehamilan sekarang?
9. Jelaskan hubungan kondisi kehamilan pada skenario!
10. Jelaskan komplikasi – komplikasi yang terjadi pada persalinan !
11. Jelaskan gambaran patograf pada skenario!
Nama : Fina Hidayat

NIM: 2013730144

1. Jelaskan perubahan anatomi yang ada pada kehamilan dan persalinan serta tampilkan
organ yang normal dan organ yang mengalami perubahan!
Jawab:

Selama kehamilan terjadi adaptasi anatomis, fisiologis dan lainnya pada tubuh
seseorang. Perubahan ini dimulai segera setelah pembuahan dan berlanjut selama
kehamilan, dan sebagian besar terjadi sebagai respon terhadap ransangan fisiologis yang
ditimbulkan oleh janin dan plasenta. Namun ketika setelah melahirkan dan menyusui
wanita tubuh perempuan akan kembali ke keadaaan semula.

1) Uterus
Selama kehamilan, uterus berubah menjadi organ muscular dengan dinding
relative tipis yang mampu menampung janin, plasenta, dan cairan amnion.
Pembesaran uterus terjadi akibat peregangan dan hipertrofi mencolok sel-sel otot.
Peningkatan ukuran sel otot ini diiringi oleh akumulasi jaringan fibrosa, terutama di
lapisan otot eksternal, dan peningkatan bermakna jaringan elastic. Anyaman yang
terbentuk ikut memperkuat dinding uterus.
Meskipun mengalami penebalan yang lebih bermakna selama beberapa bulan
pertama kehamilan, dinding korpus sebenarnya menipis seiring dengan kemajuan
gestasi. Pada bulan –bulan terakhir, uterus berubah menjadi suatu kantung berotot
dengan dinding yang tipis, lunak, dan lentur sehingga janin dapat teraba dari luar.
Pembesaran uterus paling mencolok terjadi di fundus. Pada bula-bulan pertama
kehamia, tuba uterine serta ligamentum ovarii proprium dan ligamentum teres uteri
melekat sedikit di bawah apeks fundus. Pada bulan- bulan selanjutnya, struktur-
struktur tersebut terletak sedikit di atas bagian tengah uterus. Posisi plasenta juga
mempengaruhi tingkat hipertrofi uterus, karena bagian uterus yang mengelilingi
tempat plasenta melekat, membesar lebih cepat daripada bagian uterus lainnya.
Uterus pada minggu ke-12 menjadi terlalu besar dimana kemudian akan
berkontak dnegan dinding anterior abdomen, menggeser usus lateral dan superior, dan
terus tumbuh sehingga akhirnya hampir mencapai hati. Seiring naiknya uterus,
tegangan pada ligamentum latum dan rotundum juga meningkat.
2) Serviks
Pada 1 bulan setelah konsepsi, serviks sudah mulai mengalami perlunakan dan
sianosis mencolok. Perubahan-perubahan ini terjadi karena peningkatan vaskularitas
dan edema serviks keseluruhan, disertai oleh hipertrofi dan hyperplasia kelenjar
serviks. Meskipun serviks mengandung sejumlah kecil otot polos namun komponen
utamanya adalah jaringan ikat. Penataan ulang jaringan ikat kaya-kolagen ini
diperlukan agar serviks mampu melaksanakan beragamtugas dari mempertahankan
kehamilan hingga aterm, berdilatasi untuk mempermudah pelahiran, dan memperbaiki
diri setelah persalinan sehingga dapat terjadi kehamilan berikutnya.
Kelenjar-kelenjar serviks mengalami proliferasi mencolok sedemikian rupa
sehingga pada akhir kehamilan kelenjar-kelenjar tersebut menemptai sekitar separuh
dari seluruh massa serviks dan bukan hanya sebagian kecil seperti sebelum
kehamilan. Perubahan- perubahan normal akibat kehamilan ini menyebabkan
perluasan, atau eversi, kelenjar endoserviks kolumnar. Jaringan ini cenderung tampak
merah dan seperti beludru serta mudah berdarah bahkan oleh trauma ringan, misalnya
pengambilan apusan Papsmear.
Sel mukosa endoserviks menghasilkan suatu mucus lengket dalam jumlah
besra yang menyumbat kanalis servisis uteri segera setelah konsepsi. Mucus ini kaya
akan immunoglobulin dan sitokin serta mungkin berfungsi sebagai sawar imunologis
untuk melindungi isi uterus terhadap infeksi dari vagina. Pada permulaan persalinan,
jika bukan sebelumnya, sumbat mucus ini terlepas, sehingga terjadi Bloody show.
Selain itu, konsistensi mucus serviks berubah selama kehamilan. Pada sebagian besar
wanita hamil, jika mucus serviks disebarkan dan dikeringkan pada kaca objek, akan
terjadi kristalisasi, atau beading, akibat adanya progesterone. Pada sebagian wanita
aborsi Kristal, atau ferning, terjadi akibat kebocoran cairan amnion.
Selama kehamilan, sel basal dekat taut skuamokolumnar kemungkinan besar
mengalami peningkatan ukuran, bentuk, dan kualitas pemulasan. Perubahan-
perubahan ini dianggap disebabkan oleh estrogen. Selain itu, kehamilan berkaitan
dengan hyperplasia kelenjar endoserviks dan hipersekresi-reaksi Arias-Stella-yajng
menyebabkan identifikasi sel kelenjar atipikal pada apusan Pap menjadin lebih sulit.
3) Vagina dan perineum
Selama kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hyperemia terlihat jelas pada
kulit dan otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina akan terlihat bewarna
keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwick. Perubahan ini meliputi penipisan
mukosa dan hilangnya sejumlah jaringan ikat dan hipertrofi dari sel-sel otot polos.
Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan persiapan untuk
mengalami perengggangan pada waktu persalinan dengan meningkatnya ketebalan
mukosa, mengendornya jaringan ikat, dan hupertrofi sel otot polos. Perubahan ini
mengakibatkan bertambahnya panjang dinding vagina. Papilla mukosa juga
mengalami hipertrofi dengan gambaran seperti paku sepatu. Peningkatan volume
sekresi vagina juga terjadi, di mana sekresi akan bewarna keputihan, menebal, dan Ph
antara 3,5-6 yang merupakan hasil dari peningkatan produksi asam laktat glikogen
yang dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari Lactobacillus acidophilus.
4) Kulit
Terjadinya peningkatan aliran darah kulit selama kehamilan berfungsi untuk
mengeluarkan kelebihan panas yang terbentuk karena meningkatnya metabolisme.
Sejak setelah pertengahan kehamilan sering terbentuk alur-alur kemerahan yang
sedikit cekung di kulit abdomen dan kadang di kulit payudara dan paha. Ini disebut
stria gravidarumatau stretch marks. Pada multipara, selain stria kemerahan akibat
kehamilan yang sedang dikandung, sering tampak garis- garis putih keperakan
berkilap yang mencerminkan sikatriks dari stria lama. Terkadang otot dinding
abdomen tidak dapat menahan tegangan yang mengenainya. Akibatnya, otot rektus
terpisah di garis tengah, meciptakan suatu diastasis rekti dengan derajat bervariasi.
5) Payudara.
Pada minggu- minggu awal kehamilan, wanita seiring merasakan parastesia
dan nyeri payudara. Bulan kedua, payudara membesar dan memperlihatkan vena-vena
halus di bawah kulit. Putting menjadi jauh lebih besar, bewarna lebih gelap, dan lebih
tegak. Pada aerola perempuan hamil tersebar sejumlah tonjolan kecil, kelenjar
Montgomery, yaitu kelenjar sebasea hipertrofiks jika peningkatan ukuran payudara
berlebihan, dapat terbentuk stria seperti yang terjadi di abdomen.

ANATOMI JALAN LAHIR

Jalan lahir dibagi atas :


a. Bagian keras atau tulang, terdiri atas tulang-tulang panggul dengan persendiannya
(artikulasio), dan
b. Bagian lunak, terdiri atas otot-otot, ligamen, dan jaringan-jaringan lainnya.

Bagian Keras Jalan Lahir


TULANG-TULANG PANGGUL

Tulang-tulang panggul (pelvic girdle) terdiri atas:


a. Os koksa (disebut juga tulang innominata) 2 buah dekstra dan sinistra. Merupakan
fusi dari os ilium, os ischi, dan os pubis.
b. Os sacrum
Ketika mengadakan penilaian ruang panggul hendaknya diperhatikan bentuk os
sacrum, apakah normal melengkung dengan baik dari atas ke bawah dan cekung ke
belakang. Os sacrum yang kurang melengkung dan kurang cekung akan
mempersempit ruang panggul dan mempersulit putar paksi dalam, sehingga dapat
terjadi malposisi janin.
c. Os koksigis

ARTICULATIO PELVIS
Persendian yang terdapat pada pelvis, antara lain:
a. Simfisis pubis : persatuan antara os pubis dekstra dan sinistra di anterior.
- Terdiri dari jaringan fibrokartilago dan ligamentum pubikum superior di bagian atas
dan ligamentum pubikum inferior di bagian bawah. Kedua ligamentum ini sering
disebut sebagai ligamentum arkuatum.
- Simfisis mempunyai tingkat pergerakan tertentu, yang dalam kehamilan tingkat
pergerakannya semakin dipermudah.
b. Articulatio sakro-iliaka : menghubungkan os sakrum dengan os illium.
c. Articulatio sakro-koksigea : menghubungkan os sakrum dengan os koksigis.
- Pada kehamilan sendi mengalami relaksasi karena perubahan hormonal sehingga pada
waktu persalinan dapat digeser lebih jauh dan lebih longgar.
- Ujung os koksigis dapat bergerak ke belakang sampai sejauh ± 2,5 cm. Hal ini dapat
dilakukan bila ujung os koksigis menonjol ke depan.
- Posisi dorsolitotomi saat persalinan memungkinkan penambahan diameter pintu
bawah panggul sebesar 1,5 – 2 cm. Perubahan diameter ini hanya dimungkinkan
apabila os sakrum bergerak ke belakang yaitu dengan mengurangi tekanan alas tempat
tidur terhadap os sakrum.

BIDANG DAN DIAMETER PELVIS


Secara fungsional panggul terdiri atas 2 bagian, yaitu:
a. Pelvis mayor : terletak di atas linea terminalis, batas posterior vertebrae lumbal, serta
batas lateral fossa illiaka. Disebut juga false pelvis.
b. Pelvis minor : terletak dibawah linea terminalis, batas atas promontorium, batas bawah
pelvic oulet, batas belakang os sakrum setinggi 10 cm, serta batas depan simfisis setinggi
5 cm. Disebut juga true pelvis.

 Pelvis minor mempunyai suatu saluran yang mempunyai sumbu melengkung ke


depan (sumbu Carus). Sumbu ini secara klasik adalah garis yang menghubungkan
titik persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera pada PAP dengan
titik-titik sejenis di Hodge II, III, dan IV. Sampai dekat Hodge III sumbu itu lurus,
sejajar dengan sacrum, untuk seterusnya melengkung ke depan, sesuai dengan
lengkungan sacrum.
 Pelvis minor terdiri atas:
a. Pelvic inlet atau pintu atas panggul (PAP)
- Merupakan bidang yang dibentuk oleh promontorium os sacral 1, linea
innominata (terminalis), dan pinggir atas simfisis.
- Terdapat empat diameter pada PAP yaitu diameter anteroposterior, diameter
transversa, dan 2 diameter obliqua.
 Konjugata vera (true conjugate) : jarak dari pinggir atas simfisis dengan
promontorium. Panjangnya ± 11 cm.
 Diameter transversa : jarak terjauh garis melintang pada PAP. Panjangnya ±
12,5 – 13 cm.
 Diameter oblikua : diameter dimana ditarik garis dari artikulasio sakro-iliaka
ke titik persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera dan
diteruskan ke linea innominata. Panjangnya ± 13 cm.

 Konjugata obstetrika : jarak dari tengah simfisis bagian dalam ke


promontorium. Merupakan konjugata yang paling penting, walaupun
perbedaannya dengan konjugata vera sedikit sekali. Normalnya ≥ 10 cm.
Konjugata obstetrik merupakan diameter anteroposterior yang terpendek
dimana kepala janin harus melaluinya.
 Konjugata diagonalis : jarak bagian bawah simfisis pubis sampai ke
promontorium dengan batas bawah simfisis. Apabila promontorium dapat
diraba, maka konjugata diagonalis dapat diukur, yaitu sepanjang jarak antara.
Secara statistik diketahui:
Konjugata obstetrik = konjugata diagonalis dikurangi 1,5/2 cm.

ujung jari kita sampai ke batas pinggir bawah simfisis pubis. Terlihat pada gambar di bawah
ini.

b. Midpelvis dan pelvic cavity


- Penyempitan di ruang panggul setinggi spina ischiadika (distansia interspinosum)
normalnya ± 10,5/11,5 cm. Merupakan diameter pelvis terkecil.
- Karena ukuran melintang PAP lebih lebar dari ukuran melintang midpelvis, maka saat
janin melewati ruang panggul, janin harus menyesuaikan diri dengan melakukan
putaran paksi dalam.
- Yang penting dari spina ischiadika ini bukan tonjolannya, tetapi jarak antar keduanya
(distansia interspinosum). Spina ischiadika yang runcing lebih baik daripada yang
tumpul, karena pada yang tumpul bidang geseran yang harus dilewati janin lebih luas
daripada yang runcing, sehingga perlu tenaga yang lebih besar dan waktu yang lebih
lama.

c. Pelvic outlet atau pintu bawah panggul (PBP)


- PBP tidak berupa bidang datar, tetapi tersusun atas 2 bidang datar yang masing-
masing berbentuk segitiga, yaitu bidang bidang yang dibentuk oleh garis antar kedua
buah tuber os ischii dengan ujung os sacrum dan segitiga lainnya yang alasnya juga
garis antara kedua tuber os ischii dengan bagian bawah simfisis.
- Dimensi dari PBP yang penting untuk klinis adalah diameter antara tuberositas
ischii atau diameter transversa PBP yang normalnya > 8 cm.
- Pinggir bawah simfisis berbentuk lengkung ke bawah (arkus pubis) yang normal
besarnya 90˚-100˚. Bila lebih kecil dari 90˚ kepala janin akan lebih sulit dilahirkan
karena memerlukan tempat lebih banyak ke arah dorsal (anus).

BIDANG HODGE
Bidang Hodge dipelajari untuk menentukan sampai dimanakah bagian terendah janin
turun dalam panggul dalam persalinan
 Bidang Hodge I : ialah bidang datar yang melalui bagian atas simfisis dan
promontorium. Bidang ini dibentuk pada lingkaran PAP.
 Bidang Hodge II : ialah bidang // H-I terletak setinggi bagian bawah simfisis.
 Bidang Hodge III : ialah bidang // H-I terletak setinggi spina ischiadika kanan dan
kiri. Bidang Hodge III ini disebut juga bidang O. Kepala janin yang berada di atas 1
cm disebut ( -1 ) dan sebaliknya.
 Bidang Hodge IV : ialah bidang // H-1 setinggi os koksigis.

BENTUK PELVIS
Menurut Caldwell dan Moloy dikenal 4 jenis panggul:
a. Jenis ginekoid
Panggul paling baik untuk perempuan. Ditemukan pada 45% wanita. Bentuk PAP hampir
bulat, diameter anteroposterior kira-kira sama dengan diameter transversa
b. Jenis android
Umumnya merupakan bentuk panggul pria. Ditemukan pada 15% wanita. Bentuk PAP
hampir segitiga, panjang diameter anteroposterior hampir sama dengan diameter
transversa yang hampir mendekati sacrum. Dengan demikian bagian posterior pendek dan
gepeng sedangkan bagian anterior menyempit ke depan.
c. Jenis antropoid
Ditemukan pada 35% wanita. PAP agak lonjong, seperti telur, panjang diameter
anteroposterior lebih besar dibandingkan diameter transversa.
d. Jenis platipelloid
Ditemukan pada 5% wanita. Merupakan jenis ginekoid yang menyempit pada arah muka
belakang. Diameter transversa lebih besar dibandingkan diameter anteroposterior.

Bagian Lunak Jalan Lahir


 Pada kala pengeluaran (Kala II) segmen bawah uterus, serviks uteri, dan vagina ikut
membentuk jalan lahir.
 Pada akhir kehamilan, pada usia kehamilan ± 38 minggu, serviks lebih pendek
daripada waktu kehamilan 16 minggu. Ismus uteri pada kehamilan 16 minggu
menjadi bagian uterus tempat janin berkembang.
 Umumnya serviks disebut menjadi matang apabila teraba sebagai bibir dan ini terjadi
pada usia kehamilan 34 minggu. Pada primigravida hal ini ditemuka bila hampir
aterm.
 Di samping uterus dan vagina; otot-otot, jaringan-jaringan ikat, dan ligamen-ligamen
yang berfungsi menyokong alat-alat urogenitalis perlu diketahui oleh karena
semuanya mempengaruhi jalan-lahir dan lahirnya kepala atau bokong pada partus.
 Otot-otot yang menahan dasar panggul di bagian luar :
- M. sfingter ani eksternus
- M. bulbokavernosus yang melingkari vagina
- M. perinea transverses superfisialis
 Otot-otot yang menahan dasar panggul di bagian tengah :
- Otot-otot yang melingkari uretra (m. sfingter uretrae)
- Otot-otot yang melingkari vagina bagian tengah dan anus (m. iliokoksigeus, m.
iskiokoksigeus, m. perinea transverses profundus, dan m. koksigeus)
 Otot-otot yang menahan dasar panggul di bagian dalam :
- Otot-otot yang paling kuat : diafragma pelvis, terutama m. levator ani. Letak
muskulus levator ini sedemikian rupa sehingga bagian depan muskulus ini
berbentuk segitiga, disebut trigonum urogenitalis (hiatus genitalis), yang
didalamnya berada uretra, vagina dan rectum.
- M. levator ani mempunyai peranan penting dalam mekanisme putaran paksi
dalam janin. Kemiringan dan kelentingan (elastisitas) otot ini membantu
memudahkan putaran paksi dalam janin.
- Di dalam diafragma pelvis berjalan nervus pudendus yang masuk ke rongga
panggul melalui kanalis Alcock, terletak antara spina iskiadika dan tuber iskii.
Nama : Sally Novrani Puteri

NIM: 2013730174

2. Jelaskan tanda-tanda inpartu!


Jawab:

Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada
serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu
belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks.

Tanda permulaan persalinan

Pada permulaan persalinan / kala pendahuluan ( Preparatory stage of labor ) yang terjadi
beberapa minggu sebelum terjadi persalinan, dapat terjadi tanda-tanda sebagai berikut :

a. Lightening atau setting / deopping

Menjelang minggu ke-36 pada primigravida, terjadinya penurunan fundus uterus karena
kepala bayi sudah masuk kedalam panggul. Penyebab dari proses ini adalah sebagai berikut:

 Kontraksi Braxton Hicks


 Ketegangan dinding perut
 Ketegangan ligamentum rotundum
 Gaya berat janin, kepala kearah bawah uterus

Masuknya kepala janin ke dalam panggul dapat dirasakan oleh wanita hamil dengan tanda-tanda
sebagai berikut:

 Terasa ringan di bagian atas dan rasa sesak berkurang


 Dibagian bawah terasa penuh dan mengganjal
 Kesulitan saat berjalan
 Sering berkemih
b. Terjadinya His permulaan

Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton Hicks yang kadang dirasakan sebagai
keluhan karena rasa sakit yang ditimbulkan. Biasanya pasien mengeluh adanya rasa sakit
dipinggang dan terasa sangat mengganggu, terutama pada pasien dengan ambang rasa sakit
yang rendah. Adanya perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron menyebabkan
oksitosin semakin meningkat dan dapat menjalankan fungsinya dengan efektif untuk
menimbulkan kontraksi atau his permulaan. His permulaan ini sering diistilahkan sebagai his
palsu dengan ciri-ciri sebagai berikut;

 Rasa nyeri ringan di bagian bawah


 Datang tidak teratur
 Tidak ada perubahan pada serviks atau tidak ada tanda-tanda kemajuan persalinan
 Durasi pendek
 Tidak bertambah bila beraktivitas

Tanda Masuk dalam Persalinan

1. Terjadinya his persalinan


a. Pinggang terasa sakit menjalar kedepan (nyeri sampai ke ari-ari atau perut)
b. Sifat his teratur, interval makin pendek dan kekuatan biasanya terjadi pada 2x dalam
10 menit selama 40-50 detik
c. Terjadi perubahan pada servik
d. Jika pasien menambah aktivitasnya, misalnya dengan berjalan maka kekuatannya
bertambah
2. Pengeluaran lendir dan darah (penanda persalinan)
Dengan adanya his persalinan, terjadi perubahan pada servik yang menimbulkan;
a. Pendataran dan pembukaan
b. Pembukaan menyebabkan selaput lendir yang terdapat pada kanalis servikalis terlepas
c. Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah
3. Pengeluaran cairan
Sebagian pasien mengeluarkan air ketuban akibat pecahnya selaput ketuban. Jika ketuban
sudah pecah, maka ditargetkan persalinan dapat berlangsung dalam 24 jam. Namun, jika
ternyata tidak tercapai, maka persalinan akhirnya diakhiri dengan tindakan tertentu
misalnya ekstrasi vakum atau sectio caesaria.
Nama : M. Kamardi

NIM: 2011730152

3. Jelaskan pemeriksaan fisik pada kehamilan!


Jawab:

a. Pemeriksaan Leopold

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan saat Ante Natal Care adalah pemeriksaan Leopold.
Pemeriksaan ini terdiri dari 4 tindakan yang masing-masing dilakukan untuk mengetahui
presentasi bayi dalam rahim. Berikut dijelaskan gerakan-gerakan yang dilakukan saat
pemeriksaan Leopold :

Leopold I

 Mengetahui letak presentasi kepala dan bokong.

 menghadap ke kepala pasien gunakan ujung jari kedua tangan untuk mempalpasi
fundus uteri.

 apabila kepala janin teraba di bagian fundus, yang akan teraba adalah keras, bulat
dan mudah digerakkan dan “ballotable”.

 apabila bokong janin teraba di bagian fundus, yang akan terasa adalah lembut,
tidak beraturan, tidak rata, melingkar dan sulit digerakkan.
Leopold II

 Maneuver ini untuk mengidentifikasi hubungan bagian tubuh janin ke depan,


belakang atau sisi pelvis ibu.

 menghadap ke kepala pasien, letakkan kedua tangan pada kedua sisi abdomen,
pertahankan uterus dengan tangan yang satu dan palpasi sisi lain untuk
menentukan lokasi punggung janin.

 bagian punggung akan teraba jelas, rata, cembung, kaku/tidak dapat digerakkan.
bagian-bagian kecil (tangan dan kaki) akan teraba kecil, bentuk / posisi tidak jelas
dan menonjol, dan mungkin bisa bergerak pasif atau aktif.

Leopold III
Maneuver ini mengidentifikasikan bagian janin yang paling dekat dengan serviks. Bagian janin
inilah yang pertama kali kontak dengan jari pada saat pemeriksaan vagina, umumnya adalah
kepala atau bokong. Langkah pemeriksaan :

 letakkan tiga ujung jari kedua tangan pada kedua sisi abdomen pasien tepat
diantara simphisis dan minta pasien untuk menarik nafas dan
menghembuskannya. Pada saat pasien menghembuskan nafas, tekan jari tangan
ke bawah secara perlahan dan dalam di sekitar bagian presentasi.

Leopold IV
Maneuver ini mengidentifikasi bagian terbesar dari ujung kepala janin yang dipalpasi di bagian
sisi pelvis. Apabila posisi kepala fleksi ujung kepala adalah bagian depan kepala. Apabila posisi
kepala ekstensi, ujung kepala adalah bagian oksiput. Langkah Pemriksaan :

 menghadap ke longlegs pasien. Secara perlahan gerakkan jari tangan ke sisi


bawah abdomen ke arah pelvis hingga ujung jari salah satu tangan menyentuh
tulang terakhir. Inilah ujung kepala. Jika bagian ujung terletak di bagian yang
berlawanan dengan punggung, ini adalah pundak bayi dan kepala pada posisi
fleksi. Jika kepala pada posisi ekstensi, ujung kepala akan terletak pada bagian
yang sama dengan punggung dan bagian oksiput menjadi ujung kepala.
b. Pemeriksaan palpasi perlimaan

Letakkan telapak tangan kanan diatas sympisis pubis sambil meraba bagian terbawah janin (
bokong/kepala). Raba dengan menggunakan jari, berapa jari kepala atau bokong janin yang
teraba diatas syimpisis pubis ( tekhnik perlimaan ).

• 5/5 = kepala/bokong janin bisa teraba dengan 5 jari, menandakan kepala/bokong janin
belum masuk PAP
• 4/5 = kepala/bokong janin teraba dengan 4 jari
• 3/5 = kepala/bokong janin teraba dengan 3 jari
• 2/5 = kepala/bokong janin teraba dengan 2 jari
• 1/5 = kepala/bokong janin teraba dengan 1 jari
• 0/5 = kepala / bokong janin tidak teraba menandakan bagian kepala telah masuk PAP
seluruhnya

Desensus bagian terendah janin yang diketahui dengan melakukan palpasi abdomen (Leopold III
dan IV ) atau dengan palpasi perlimaan.

c. Menentukan berat badan janin

Tinggi Fundus Uteri


Tinggi fundus adalah jarak antara tepi atas simfisis pubis dan puncak fundus uteri. Pemeriksaan
fundus dilaksanakan saat uteri sedang tidak dalam keadaan kontraksi, bisa dengan cara manual
atau menggunakan pita lila.

Pemeriksaan fundus uteri bertujuan untuk menentukan usia kehamilan, menentukan taksiran
berat janin serta menilai adanya hambatan pertumbuhan janin.

1. Rumus Lohnson

- Jika kepala belum masuk PAP maka rumusnya:

Berat Janin = (tinggi fudus uteri – 12 ) x 155 gram

- Jika kepala sudah masuk PAP maka rumusnya:

Berat Janin = (tinggi fudus uteri – 11 ) x 155 gram.

2. HODGE

Rumus : tinggi fundus ( cm ) – N x 155


1. HODGE I: N = 13 bila kepala belum melewati PAP
2. HODGE II: N = 12 bila kepala berada diatas spina isciadika
3. HODGE III: N = 11 bila kepala berada dibawah spina isciadika
Contohnya:
Diketahui TFU 26cm
TBJ = (TFU-13) x 155
= (26-13) x 155
= 2015 gram
Sedangkan TBJ menurut TFU normal UK 7 bulan adaah
TBJ = (TFU-13) x 155
= (30-13) x 155
= 2636 gram

Menghitung taksiran berat janin (TBJ) dengan rumus diatas keakuratannya akan meleset , karena
faktor sebagai berikut :

- Ketebalan dinding abdomen, ini membuat kita kesulitan dalam menentukan lokasi fundus
uteri.

- Rumus ini tidak dikhususkan untuk wanita Indonesia, pola makan yg berbeda akan
menentukan besarnya janin.

3. USG

 Crown-rump Length (CRL). CRL adalah istilah untuk panjang antara bokong dan
ujung kepala janin. Pengukuran CRL dilakukan pada janin berusia 7-12 minggu
dan memberikan perkiraan yang sangat akurat mengenai usia kehamilan. Setelah
usia kehamilan 12 minggu, CRL tidak lagi akurat mengukur usia janin, sehingga
pengukuran lain diperlukan.

 Biparietal Diameter (BPD). Diameter antara 2 sisi kepala, yang diukur setelah
bayi berusia di atas 12 minggu. Diameter kepala bayi meningkat dari sekitar 2,4
cm di usia 13 minggu menjadi sekitar 9,5 cm pada saat kelahiran. Dua bayi
dengan berat yang sama dapat memiliki ukuran kepala berbeda sehingga BPD di
tahap akhir kehamilan umumnya dianggap tidak dapat diandalkan.

 Femur Length (FL). Mengukur panjang tulang paha yang mencerminkan


pertumbuhan memanjang janin. FL meningkat dari sekitar 1,5 cm di 14 minggu
menjadi sekitar 7,8 cm pada akhir kehamilan. Kegunaan FL mirip dengan BPD.
 Abdominal Circumverence (AC). Mengukur lingkar perut ibu. Ini adalah
pengukuran yang paling penting pada akhir kehamilan, namun lebih
mencerminkan ukuran dan berat janin daripada usianya.

AC, BPD dan FL digabungkan dalam rumus untuk memperkirakan berat badan janin. Mesin
USG langsung menghitung secara otomatis perkiraan berat janin, yang formulanya antara lain
adalah : 1,4 BPD X FL X AC (semua dalam cm) – 200 = berat janin.

d. Pemeriksaan denyut jantung janin

Pemeriksaan DJJ dilakukan sebagai acuan untuk mengetahui kesehatan ibu dan perkembangan
janin khususnya denyut jantung janin dalam Rahim. Detak jantung janin normal permenit yaitu :
120-160 x/menit. Pemeriksaan denyut jantung janin harus dilakukan pada ibu hamil. Denyut
jantung janin baru dapat didengar pada usia kehamilan 16 minggu. Gambaran DJJ:
a. Takikardi berat : > 180 x/menit
b. Takikardi ringan : 160-180 x/menit

c. Normal : 120-160 x/menit

d. Bradikardi ringan : 100-119 x/menit

e. Bradikardi sedang : 80-100 x/menit

f. Bardikardi berat : < 80 x/menit

Alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan DJJ :

a. Stetoskop Laennec

Stetoskop yang dirancang untuk dapat mendengarkan DJJ secara manual oleh pemeriksa dapat
digunakan pada usia kehamilan 17-22 minggu
b. USG

Adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang ultrasonic, yaitu
gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250-2000 kHz) yang kemudian hasilnya
ditampilkan dalam layar monitor.
c. NST

Adalah cara pemeriksaan janin dengan menggunakan kardiotokografi, pada umur kehamilan ≥
32 minggu. Pemeriksaan ini dilakukan dengan maksud melihat hubungan perubahan denyut
jantung dengan gerakan janin.

d. Doppler

Fetal Doppler adalah alat dalam biomedik yang sering digunakan untuk mendeteksi DJJ pada ibu
hamil. Fetal Doppler menggunakan sensor Ultrasound dengan frekuensi 2 MHz untuk
mendeteksi DJJ berdasarkan prinsip Doppler, yaitu memanfaatkan prinsip pemantulan
gelombang yang dipancarkan oleh sensor

e. Pemeriksaan kontraksi uterus

Pada kala II kontraksi uterus menjadi lebih kuat dan lebih cepat yaitu setiap 2 menit sekali
dengan durasi > 40 detik, dan intensitas semakin lama semakin kuat. Karena biasanya pada tahap
ini kepala janin sudah masuk dalam ruang panggul, maka pada his dirasakan adanya tekanan
pada otot-otot dasar panggul yang secara reflex menimbulkan rasa ingin meneran, pasien
merasakan adanya tekanan pada rectum dan merasa seperti ingin BAB. Pemantauan kontraksi
yang di lakukan antara lain :
- Palpasi kontraksi uterus ( kontrol tiap 10 menit )
- Frekuensi setiap 30 menit selama fase aktif.
- Lamanya kontraksi yang terjadi dalam 10 menit obsevasi.
- Kekuatan kontraksi dalam detik

Saat ada his, uterus teraba sangat keras karena seluruh ototnya berkontraksi. Proses ini akan
efektif jika his bersifat fundal dominan, yaitu kontraksi didominasi oleh otot fundus yang
menarik otot bawah rahim ke ata sehingga akan menyebabkan pembukaan servik dan dorongan
janin ke bawah secara alami.

Pemantauan kontraksi harus di lakukan karena untuk memantau berapa banyak dan lama
kontraksi yang terjadi dalam 10 menitnya. Ketidak normalan kontraksi salah satunya dapat
mengacu pada inersia uteri.
f. Pemeriksaan kemajuan persalinan

Pemantauan Kemajuan Persalinan

Kemajuan persalinan ditandai dengan meningkatnya effacement dan dilatasi cerviks yang
diketahui melalui pemeriksaan dalam. Pemeriksaan dalam dilakukan setiap 4 jam sekali atau
apabila ada indikasi (meningkatnya frekuensi dan durasi serta intensitas kontraksi, dan ada tanda
gejala kala 2).

Selain effacement dan dilatasi cerviks, kemajuan persalinan dapat dinilai dari penurunan, fleksi,
dan rotasi kepala janin. Penurunan kepala dapat diketahui dengan pemeriksaan abdomen
(palpasi) dan atau pemeriksaan dalam.
Pemantauan Kesejahteraan Ibu

Kesejahteraan ibu selama proses persalinan harus selalu dipantau, karena reaksi ibu terhadap
persalinan dapat bervariasi.

Pemantauan kesejahteraan ibu selama kala 1 disesuaikan dengan tahapan persalinan yang sedang
dilaluinya, apakah ibu sedang dalam fase aktif ataukah masih dalam fase laten persalinan.
Pemantauan meliputi: frekuensi nadi, suhu tubuh, tekanan darah, urinalisis, keseimbangan
cairan, pemeriksaan abdomen, dan pemeriksaan jalan lahir.
1. Frekuensi Nadi

Frekuensi nadi merupakan indikator yang baik dari kondisi fisik umum ibu. Frekuensi nadi
normal berkisar antara 60 – 90 kali per menit. Apabila frekuensi nadi meingkat lebih dari 100
kali denyutan per menit, maka hal tersebut dapat mengindikasikan adanya kecemasan yang
berlebih, nyeri, infeksi, ketosis dan atau perdarahan.

Frekuensi nadi pada kala 1 fase laten dihitung setiap 1 – 2 jam sekali, dan pada kala 1 fase aktif
setiap 30 menit.
2. Suhu Tubuh

Suhu tubuh ibu selama proses persalinan harus dijaga agar tetap dalam kondisi normal (36,50 –
37,50 C). Apabila terjadi pireksia, maka dapat menjadi indicator terjadinya infeksi, ketosis,
dehidrasi, atau dapat juga berkaitan dengan analgesia epidural.

Pada proses persalinan normal, pameriksaan suhu tubuh ibu pada kala 1 (fase laten dan fase
aktif), dilakukan setiap 4 jam sekali.
3. Tekanan Darah

Tekanan darah merupakan pemeriksaan yang sangat penting dilakukan karena berhubungan
dengan fungsi jantung, sehingga tekanan darah harus dipantau dengan sangat cermat, terutama
setelah diberikan anestesi spinal atau epidural.
Tekanan darah normal pada ibu bersalin cenderung mengalami sedikit kenaikan dari tekanan
darah sebelum proses persalinan, berkaitan dengan adanya his.
Keadan hipotensi dapat terjadi akibat posisi ibu telentang, syok, atau anestesi epidural.

Pada ibu yang mengalami pre-eklamsi atau hipertensi esensial selama kehamilan, proses
persalinan akan lebih meningkatkan tekanan darah, sehingga pemantauan tekanan darah ibu
harus lebih sering dan lebih cermat.

Pada kondisi normal, tekanan darah selama kala 1 (fase laten dan fase aktif), diukur setiap 2 – 4
jam sekali.
4. Urinalisis

Urin yang dikeluarkan selama proses persalinan harus dipantau, meliputi: volume, glukosa urin,
keton dan protein.

Volume urin berkaitan dengan fungsi ginjal secara keseluruhan, keton berkaitan dengan adanya
kelaparan atau distres maternal jika semua energi yang ada telah terpakai (kadar keton yang
rendah sering terjadi selama persalinan dan dianggap tidak signifikan), glukosa berkaitan dengan
keadaan diabetes selama kehamilan, dan protein berkaitan dengan pre-eklamsia atau bisa jadi
merupakan kontaminan setelah ketuban pecah dan atau adanya tanda infeksi urinaria.
5. Keseimbangan Cairan

Keseimbangan cairan dipantau untuk memastikan metabolisme dalam tubuh ibu selama proses
persalinan berjalan dengan baik.

Keseimbangan cairan meliputi kesesuaian antara cairan yang masuk (oral dan atau intra vena)
dan cairan yang keluar (keringat dan urin).
Semua urin yang keluar harus dicatat dengan baik, untuk memastikan bahwa kandung kemih
benar-benar dikosongkan.
Apabila diberikan cairan intra vena, harus dicatat dengan akurat. Yang menjadi catatan penting
adalah berapa banyak cairan yang tersisa jika kantong infuse diganti dan hanya sebagian yang
digunakan.
6. Pemeriksaan Abdomen

Pemeriksaan abdomen lengkap dilakukan pertama kali saat ibu datang ke bidan, meliputi:
bagian-bagian janin, penurunan kepala, dan his/kontraksi. Pemeriksaan abdomen dilakukan
berulang kali pada interval tertentu selama kala 1 persalinan untuk mengkaji his dan penurunan
kepala.

Pemeriksaan his/kontraksi meliputi: frekuensi, lama, dan kekuatan kontraksi harus dicatat
dengan baik. Saat kontraksi uterus dimulai, nyeri tidak akan terjadi selama beberapa detik dan
akan hilang kembali di akhir kontraksi. Untuk itu, pada pemeriksaan kontraksi, tangan bidan
tetap berada di perut ibu selama jangka waktu tertentu (10 menit).

Penurunan bagian terendah janin (presentasi) pada kala 1 persalinan, hampir selalu dapat diraba
dengan palpasi abdomen. Hasil pemeriksaan dicatat dengan bagian per lima-an (ke-lima tangan
pemeriksa), yang masih dapat dipalpasi di atas pelvis.

Pada ibu primipara, kepala janin biasanya mengalami engagement sebelum persalinan dimulai.
Jika tidak demikian, tinggi kepala harus diperkirakan dengan sering melalui palpasi abdomen
untuk mengobservasi apakah kepala janin akan dapat melewati pintu atas panggul dengan
bantuan kontraksi yang baik atau tidak.

Setelah kepala mangalami engagement, tonjolan oksipital sekalipun sulit masih bisa diraba dari
atas, tetapi sinsiput masih dapat dipalpasi akibat adanya fleksi kepala sampai oksiput menyentuh
dasar pelvis dan berotasi ke depan.
7. Pemeriksaan Jalan lahir

Pemeriksaan jalan lahir (pemeriksaan dalam) bertujuan untuk mengetahui kemajuan persalinan
yeng meliputi: effacement dan dilatasi cerviks, serta penurunan, fleksi dan rotasi kepala janin.

Sesuai evidence baced practice, tidak ada rekomendasi tentang waktu dan frekuensi
dilakukannya pemeriksaan dalam selama perslinan. Tetapi intervensi ini dapat menimbulkan
distress pada ibu, sehingga pemeriksaan dalam dilakukan berdasarkan indikasi (his, tanda gejala
kala 2, dan pecah ketuban) dan atau dilakukan setiap 4 jam sekali. Semua hasil pemeriksaan
harus dicatat dengan baik.

Pemantauan Kesejahteraan Janin


Kondisi janin selama persalinan dapat dikaji dengan mendapatkan informasi mengenai frekuensi
dan pola denyut jantung janin, pH darah janin dan cairan amniotic. Dalam bahasan ini, hanya
akan dibahas mengenai denyut jantung janin.

Frekuensi denyut jantung janin dapat dikaji secara intermiten dengan stetoskop Pinard atau alat
Dopler atau dengan menggunakan electronic fetal monitoring (EFM) secara kontinu, setiap 30
menit.

Pemantauan intermiten dilakukan pada keadaan jantung janin diauskultasi dengan interval
tertentu menggunakan stetoskop janin monoaural (Pinard) atau alat Dopler.

Frekuensi jantung janin harus dihitung selama satu menit penuh untuk mendengarkan variasi dari
denyut ke denyut. Batasan normal antara 110 – 160 kali denyutan per menit.

Pemeriksaan denyut jantung janin dapat dilakukan saat kontraksi uterus berlangsung, atau saat
kontraksi sudah akan berakhir, untuk mendeteksi adanya pemulihan lambat frekuensi jantung
untuk kembali ke nilai dasar. Normalnya frekuensi dasar dipertahankan selama kontraksi dan
segera sesudahnya. Namun demikian, di akhir persalinan terjadi beberapa deselerasi bersama
kontraksi yang dapat pulih dengan cepat yang terjadi akibat kompresi tali pusat atau kompresi
kepala janin, dan hal ini merupakan suatu keadaan yang normal.

Pada pemantauan menggunakan EFM, transduser ultrasound dapat dilekatkan pada abdomen di
tempat jantung janin terdengar dengan intensitas yang maksimal. Dengan layar modern dan hasil
yang dapat direkam dan dicetak, alat ini cukup adekuat untuk memantau kesejahteraan janin
dengan baik, terutama pada kasus gawat janin.
Nama : Ibnu Fajar Sidik

NIM: 2013730148

4. Jelaskan tahap-tahap kehamilan mulai dari fertilisasi sampai kehamilan dan persalinan
tahap kala 1,2,3 dan seterusnya!
Jawab:

Proses permulaan kehamilan


Setiap bulan wanita melepaskan 1 atau 2 sel telur (ovum) dari indung telur (ovulasi) yang
ditangkap oleh umbai-umbai (fimbrae) dan masuk ke dalam sel telur. Waktu persetubuhan cairan
sperma tumpah ke dalam vagina dan berjuta juta sel mani (sperma) bergerak memasuki rongga
Rahim lalu masuk ke saluran telur. Pembuahan sel telur oleh sperma biasanya terjadi dibagian
yang mengembang dari tuba fallopi. Di sekitar sel telur banyak berkumpul sel ani yang
mengeluarkan ragi untuk mencairkan zat-zat yang melindungi ovum. Kemudian pada tempat
yang paling mudah dimasuki sperma masuklah sel mani dan kemudian bersatu dengan sel telur,
peristiwa ini disebut dengan permbbuahan (fertilisasi).

Ovum yang telah dibuahi ini segera membelah diri sambil bergerak oleh rambut getar
tuba menuju Rahim kemudian melekat pada mukosa Rahim untuk selanjutnya bersarang di ruang
Rahim, peristiwa ini disebut dengan nidasi. Diperlukan waktu kira-kira 6-7 hari menyuplai darah
dan zat-zat makanan bagi janin dipersiapkan uri (plasenta) jadi dapat dikatakan bahwa untuk
setiap kehamilan harus ada ovum (sel telur), spermatozoa, pembuahan (fertilisasi) nidasi, dan
plasentasi.

Tahap-Tahap Kehamilan
Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari). Dihitung dari
hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi atas 3 triwulan / trimester yaitu trimester I (usia
kehamilan < 12 minggu), trimester II (usia kehamilan 12 – 27 minggu), dan trimester III (usia
kehamilan 28 – 40 minggu).

1. Trimester pertama (usia kehamilan < 12 minggu)

Tahap ini adalah tahap penyesuaian ibu terhadap kehamilannya. Pertumbuhan janin
masih berlangsung lambat, sehingga kebutuhan gizi untuk pertumbuhan janin juga belum terlalu
besar. Akan tetapi kekurangan zat gizi pada tahap ini juga berbahaya karena dapat
mengakibatkan cacat bawaan.

Dalam masa kehamilan trimester pertama terjadi pertumbuhan dan perkembangan pada
sel telur yang telah dibuahi dan terbagi dalam 3 fase yaitu fase ovum, fase embrio dan fase janin.
Fase ovum sejak proses pembuahan sampai proses implamasi pada dinding uterus, fase ini di
tandai dengan proses pembelahan sel yang kemudian disebut dengan zigot. Fase ovum
memerlukan waktu 10 – 14 hari setelah proses pembuahan. Fase embrio ditandai dengan
pembentukan organ organ utama,Fase ini berlangsung 2 sampai 8 minggu. Fase janin
berlangsung dari 8 minggu sampai tibanya waktu kelahiran, pada fase ini tidak ada lagi
pembentukan melainkan proses pertumbuhan dan perkembangan.

Pada awal kehamilan dapat timbul reaksi emosional ambivalen, yaitu ketidakpastian atau
keragu-raguan akan kehamilan, ini terjadi karena kurangnya persiapan baik secara materi
maupun psikologi. Selain itu reaksi emosional yang dapat muncul adalah ketakutan dan
khayalan. Ibu merasa cemas dengan keadaan dirinya serta janin pada waktu persalinan dan mulai
membayangkan perannya setelah bayi lahir.

2. Trimester kedua (usia kehamilan 12 sampai 27 minggu)

Pada masa ini pertumbuhan janin berlangsung cepat seluruh penambahan berat badan Ibu
selama kehamilan terjadi pada masa ini. Akibat yang mungkin timbul karena kekurangan zat gizi
adalah berat bayi lahir rendah (BBLR).

Masa kehamilan trimester II merupakan suatu periode pertumbuhan yang cepat. Pada
periode ini bunyi jantung janin sudah dapat didengar, gerakan janin jelas, panjang janin kurang
lebih 30 cm dan beratnya kurang lebih 600 gr. Pada periode ini , bisa melakukan pemeriksaan
terhadap berat dan tekanan darah, pemeriksaan urin, detak jantung baik ibu maupun janin serta
kaki dan tangan untuk melihat adanya pembekakan (odema) dan gejaja gejala yang umum
terjadi. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mengetahui kemungkinan timbulnya suatu
penyakit yang membahayakan proses pertumbuhan dan perkembangan janin pada akhir masa
kehamilan.
Trimester kedua biasanya lebih menyenangkan. Ibu telah menerima kehamilannya dan
mulai memperhatikan kebutuhan dirinya dan janin serta mempersiapkan dirinya dalam
menghadapi persalinan. Di samping itu, dapat juga terjadi mood swing dimana ibu cepat marah
dan membutuhkan pengertian dan perhatian yang lebih besar.

3. Trimester ketiga (usia kehamilan 28-40 minggu)

Tahap ini pertumbuhan bayi yang dikandung tidak secepat pada tahap sebelumnya.
Kekurangan gizi pada tahap ini menyebabkan bayi lahir dengan bobot ringan, kurang sehat dan
ibu lemah sehingga tidak mampu melaksanakan persalinan dengan sempurna.

Trimester III kehamilan adalah periode penyempurnaan bentuk dan organ organ tumbuh
janin untuk siap dilahirkan. Berat janin pada usia kehamilan trimester ini mencapai 2,5 Kg.
Semua fungsi organ organ tubuh yang mengatur kehidupan sudah berjalan dengan sempurna.
Oleh karena adanya perubahan tersebut, pemeriksaan rutin lebih sering dilakukan biasanya 2 kali
seminggu. Hal ini dimaksudkan untuk memantau lebih teliti setiap perkembangan dan
pertumbuhan janin, kondisi fisik maupun psikis calon ibu, kemungkinan yang akan terjadi pada
calon ibu maupun janin selama sisa proses kehamilan serta dalam menghadapi proses persalinan.

Kehamilan pada trimester ketiga (III) yaitu pada akhir bulan ketujuh janin mulai
menghisap jempol, kegukan, dan merasakan manis atau asam, memberi respon terhadap
rangsangan, termasuk rasa sakit, cahaya dan suara. Pada bulan kedelapan pertumbuhan pada otak
paling pesat pada masa ini. Kalsium, protein, dan zat besi semakin penting. Sebagian besar
sistem telah berkembang dengan baik.

Periode trimester III sebaiknya dilakukan pemeriksaan setiap dua minggu atau setiap
minggu. Rancangan pemeriksaan meliputi anamnesis terhadap keadaan normal dan keluhan
hamil trimester III, pemeriksaan fisik (umum, khusus, dan pemeriksaan laboratorium). Pada
bulan kesembilan dilakukan pemeriksaan setiap minggu dengan rancangan yang sama.

Trimester ketiga ditandai dengan adanya rasa tidak nyaman, perubahan bentuk tubuh dan
kecemasan akan proses persalinan dan peran ibu yang akan dijalani. Sekitar dua minggu sebelum
melahirkan, sebagian besar ibu mulai mengalami perasaan senang.

Kala Pada Persalinan


1. Kala I

Dimulai dari saat persalinan sampai pembukaan lengkap (10 cm). proses ini berlangsung
antara 18-24 jam, terbagi dalam 2 fase yaitu :

a. Fase laten : berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai
mencapai ukuran diameter 3cm.
b. Fase aktif dibagi menjadi 3 fase yaitu:
1) Fase akselerasi: dalam waktu 3 jam pembukaan 3cm tersebut menjadi 4cm.
2) Fase dilatasi maksimal: dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat
dari 4cm menjadi 9cm.
3) Fase deselerasi: pembukaan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2 jam
pembukaan dari 9cm menjadi lengkap.

Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravidapun terjadi demikian,


akan tetapi fase laten, fase aktif, dan fase deselerasi terjadi lebih pendek.

Mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada primigravida dan multigravida,


pada yang pertama ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu, sehingga serviks akan
mendatar dan menipis, baru kemudian osteum uteri eksternum membuka. Pada multigravida
osteum uteri internum sudah sedikit terbuka. Osteum uteri internum dan eksternum serta
penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama.
Ketuban akan pecah dengan sendiri ketika pembukaan hampir atau sudah lengkap. Tidak
jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hampir lengkap atau telah lengkap. Bila
ketuban telah pecah sebelum pembukaan mencapai 5 cm, disebut ketuban pecah dini.

Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri sudah lengkap. Pada primigravida kala I
berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multigravida kira-kira 7 jam.

2. Kala II

Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2 sampai 3 menit sekali.
Karena biasanya dalam hal ini janin sudah masuk ruang panggul, maka pada his dirasakan
tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang secara reflektoris dapat menimbulkan rasa mengadan.
Wanita merasa pula tekanan pada rectum dan hendak buang air besar. Kemudian perineum mulai
menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka, labia mulai mebuka dan tidak lama
kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his.

Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi, kepala tidak masuk lagi di laur his, dengan
his dan kekuatan mengedan maksimal kepala janin dilahirkan dengan suboksiput dibawah
simfisis dan dahi, muka, dan dagu melewati perineum. setelah istirahat sebentar, his mulai lagi
untuk mengeluarkan badan dan anggota bayi. Pada primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5
jam dan pada multigravida rata-rata 0,5 jam.

3. Kala III

Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak diatas pusat. Beberapa
menit kemudian uterus kontraksi lagi untuk melepas plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta
dilepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spntan atau dengan tekanan pada
fundus uteri. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah.

4. Kala IV

Dimulai saat plasenta lahir sampai 2 jam pertama post partum. Keduanya baru saja
mengalami perubahan fisik yang luar biasa. Rata-rata perdarahan noemal adalah 250 cc.
perdarahan persalinan yang lebih dari 500 cc adalah perdarahan abnormal.
Nama : Afifah Qonita

NIM: 2013730123

5. Jelaskan mekanisme persalinan normal!


Jawab:

Mekanisme Persalinan Normal


Perubahan posisi bagian terendah janin yang diperlukan untuk melalui kanal pelvis disebut
mekanisme persalinan. Gerakan utama persalinan adalah
Engagement, Desensus. Fleksi, Rotasi Internal, Ekstensi, Rotasi Eksternal, dan
Ekspulsi. Selama persalinan, gerakan-gerakan tersebut tidak hanya
terjadi secara sekuensial tetapi juga menunjukkan tumpang-tindih waktu. Sebagai
contoh, sebagai bagian dari engegement, terjadi fleksi selakigus desensus kepala.
Gerakan tersbeut tidak dapat selesai kecuali bagian terendah janin berjalan turun
secara simultan. Secara bersamaan, kontraksi uterus memengaruhi modifikasi
penting pada sikap atau habitus janin, terutama setelah kepala turun ke dalam
pelvis. Perubahan ini terutama terdiri dari pelurusan janin, dengan menghilannya
konveksitas bagian dorsal dan pendekatan ekstremitas kea rah tubuh. Akibatnya bentuk ovoid
janin berubah menjadi bentuk silider, dengan garis tengah terkecil yang mungkin untuk melewati
jalan lahir.

Engagement
Mekanisme ketika diameter biparietal-diameter transversal terbesar pada presentasi oksiput-
melewati aperture pelvis superior disebut engagement. Kepala janin dapat mengalami engage
selama beberapa minggu terakhir kehamilan atau tidak mengalami engage hingga setelah
permulaan persalinan. Pada banyak perempuan multipara dan beberapa perempuan nulipara
kepala janin, kepala janin
bergerak bebas diatas aperture pelvis superior saat awitan persalinan. Pada keadaan ini, kepala
kadang-kadang disebut “mengambang” (floating). Kepala berukuran normal biasanya tidak
mengalami engage dengan sutura sagitalis yang mengarahkan ke anteroposterior. Namun, kepala
janin biasanya memasuki aperatura pelvis superior baik secara transversal atau oblik.

Asinklitismus. Meskipun kepala janin cenderung berakomodasi dengan aksis transversal


aperatur pelvis superior, sutura sagitalis, yang tetap paralel terhadap aksis tersebut, tidak terletak
tepat di garis tengah antara simfisis dan promontorium ossis sakri. Sutura sagitalis umumnya
mengalami difleksi baik ke
arah posterior menuju promotorium atau ke arah anterior menuju simfisis. Defleksi lateral ke
arah posisi anterior atau posterior pelvis disebut asinklitisme. Jika sutura sagitalis mendekati
promontorium ossis sacri, sebagian besar os parietalis anterior dapat teraba saat pemeriksaan
dengan jari, dan kondisi ini disebut asinklitismus anterior. Namun, jika sutura sagitalis terletak di
dekat simfisis, sebagian besar os parietalis posterior yang akan terpresentasi, dan kondisi ini
disebut asinklitismus posterior. Pada asinklitismus posterior yang ekstrim, telinga bagian
posterior mudah terpalpasi.
Asinklitismus derajat sedang merupakan persyaratan persalinan normal. Namun, jika berat,
kondisi ini merupakan penyebab disproporsi sefalopelvik bahkan pada pelvis berukuran normal.
Perubahan secara bertahap dari asinklitismus posterior ke anterior membantu proses desensus.

Desensus
Gerakan ini merupakan persyaratan pertama pelahiran noennatus. Pada nulipara, engagement
dapat berlangsung sebelum awitan persalinan, dan proses desensus selanjutnya dapat tidak terjadi
hingga awitan kala dua. Pada perempuan multipara, desensus biasanya dimulai dengan proses
engagement. Desensus ditimbulkan oleh satu atau beberapa dari empat kekuatan :
(1) Tekanan cairan amnion
(2) Tekanan langsung fundus pada bokong saat kontraksi
(3) Tekanan ke bawah otot-otot abdomen maternal
(4) Ekstensi dan pelurusan tubuh janin.

Fleksi
Segera setelah kepala yang sedang desensus mengalami hambatan, bak dari serviks, dinding
pelvis, atau dasar pelvis normalnya kemudian terjadi fleksi kepala. Pada gerakan ini, dagu
mengalami kontak lebih dekat dengan dada janin, dan diameter suboksipitobregmatikum yang
lebih pendek menggantikan diameter oksipitofronatalis yang lebih panjang.

Rotasi Internal
Gerakan ini terdiri dari perputaran kepala sedemikian rupa sehingga oksiput secara bertahap
bergerak ke arah simfisis publis di bagian anterior dari posisi awal atau yang lebih jarang, kea
arah posterior menuju lengkung sakrum. Rotasi internal penting untuk penuntasan persalinan,
kecuali bila ukuran janin abnormal kecil. Calknins (1939) mempelajari lebih dari 5.000
perempuan yang sedang
bersalin pada saat rotasi internal. Ia menyimpulkan bahwa sekitar dua pertiganya, rotasi internal
selesai saat kepala mencapai dasar pelvis , sekitar seperempat lainnya, rotasi internal selesai
segera setelah kepala mencapai dasar pelvis dan sekitar 5 persen sisanya, tidak terjadi rotasi
anterior. Ketika tidak dapat berputar hingga mencapai dasar pelvis, biasanya kepala berotasi pada
satu atau dua
kontraksi berikutnya pada multipara. Pada nulipara, rotasi biasanya terjadi pada
tiga sampai lima kontraksi berikutnya.

Ekstensi
Satelah rotasi internal kepala yang berada pada posisi fleksi maksimal mencapai vulva dan
mengalami ektensi. Jika kepala yang mengalami fleksi maksimal, saat mencapai dasar pelvis,
tidak mengalami ekstensi tetapi melanjutkan berjalan turun, dapat merusak bagian posterior
perineum dan akhirnya tertahan oleh jaringan perieum. Namun, ketika kepala menekan dasar
pelvis, terdapat dua kekuatan. Kekuatan pertama, ditimbulkan oleh uterus, bekerja lebih ke arah
posterior, dan kekuatan kedua, ditimbulkan oleh daya resistensi dasar pelvis dan simfisis, bekerja
lebih kearah anterior. Vektor resultan terarah pada pembukaan vulva, sehingga menimbulkan
ekstensi kepala. Keadaan ini batas inferior simfisis pubis.
Dengan distensi progresif perineum dan pembukaan vagina, bagian oksiput perlahan-lahan akan
semakin terlihat. Kepala lahir dengan urutan oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dan akhirnya
dagu melewati tepi anterior perineum. Segera setelah lahir, kepala menghadap ke bawah
sehingga dagu terletak di atas anus maternal.

Rotasi Eksternal
Setelah kepala lahir, dilakukan restitusi. Jika pada awalnya terarah ke kiri, oksiput berotasi
menuju tuber iskiadikum kiri. Jika awalnya terarah ke kanan, oksiput berotasi ke kanan. Restitusi
kepala ke posisi oblik diikuti dengan penyelesaian rotasi eksternal ke posisi transversal. Gerakan
ini sesuai engan rotasi tubuh janin dan membuat diameter antroposterior apertura pelvis
inferior.Sehingga,salah satu bahu terletak anterior di belakang simfisis pubis,sedangkan bahu
lainnya terletak di porterior.Gerakan ini tampaknya ditimbulkan oleh faktor pelvis yang sama
dengan terjainya rotasi internal kepala.

Ekspulsi
Hampir segera setelah rotasi eksternal, bahu anterior terlihat di bawah simfisis, dan perioneum
segera terdistensi oleh bahu posterior. Setelah pelahiran bahu, bagian tubuh lainnya lahir dengan
cepat.
Nama : Ghaisani Zatadini

NIM: 2013730146

6. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan (3P: Power,Passage,Passenger) dan


disertai kelainan apa saja yang berkaitan dengan faktor tersebut!
Jawab:

I. POWER
Insersia uteri
Disini his biasanya bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih
dahulu dari pada bagian-bagian lain,peranan fundus tetap menojol. Insersia ini dibagi menjadi 2:
insersia primer persalinan berlansung lama morbiditas ibu dan janin baik dan insersia
sekunder: timbul his terlalu kuat untuk waktu yang lama. Diagnosis insersia uteri paling sulit di
tegakkan pada masa laten.

His terlampau kuat,


His yang terlampau kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang
sangat singkat.Partus yang sudah selesai kerang dari 3jam dinamakan partus presipitatus yang
ditandai oleh his yang normal,tonus otot diluar his juga biasa,kelainannya terletak pada kekuatan
his,kontraksi segmen tengah uterus dengan tekanan yang lebih kuat daripada fundus. Bahaya
partus presipitatus pada ibu adalah perlukaan luas pada jalan lahir khususnya vagina dan
perineum. Bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami
tekanan kuat dalam waktu singkat.

Incoordinate uterine action.


Di sini sifat his berubah. Tonus otot terus meningkat, juga di luar his, dan kontraksinya tidak
berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya. Tidak
adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien
dalam mengadakan pembukaan.
Di samping itu tonus otot uterus yang menarik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan
lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. His jenis ini juga disebut
sebagai uncoordinated hypertonic uterine contraction. Kadang-kadang pada persalinan
lamadengan ketuban yang sudah lama pecah, kelainan his ini menyebabkan spasmus sirkuler
setempat, sehingga terjadi penyempitan kavumuteri pada tempat itu. Ini dinamakan lingkaran
kontraksi atau lingkaran konstriksi. Secara teoritis lingkaran ini dapat terjadi di mana-mana, akan
tetapi biasanya ditemukan pada batas antara bagian atas dan segmen bawah uterus. Lingkaran
konstriksi tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam, kecuali kalau pembukaan sudah
lengkap, sehingga tangan dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri. Oleh sebab itu jika
pembukaan belum lengkap, biasanya tidak mungkin mengenal kelainan ini dengan pasti.
Adakalanya persalinan tidak maju karena kelainan pada serviks yang dinamakan distosia
servikalis. Kelainan ini bisa primer atau sekunder. Distosia servikalis dinamakan primer kalau
serviks tidak membuka karena tidak mengadakan relaksasi berhubung dengan incoordinate
uterine action. Penderita biasanya seorang primigravida. Kala I menjadi lama, dan dapat diraba
jelas pinggir serviks yang kaku. Kalau keadaaan ini dibiarkan, maka tekanan kepala terus
menerus dapat menyebabkan nekrosis jaringan serviks dan dapat mengakibatkan lepasnya bagian
tengah serviks secara sirkuler. Distosia servikalis sekunder disebabkan oleh kelainan organik
pada serviks, misalnya karena jaringan parut atau karena karsinoma. Dengan his kuat serviks
bisa robek, dan robekan ini dapat menjalar ke bagian bawah uterus.

Kelainan pada kala I fase-aktif


Abnormalitas persalinan secara klinis dibagi menjadi kemajuan lebih lambat dari normal-
kelainan karena pertambahan-atau berhentinya kemajuan komplit-kelainan henti.Perempuan
hamil harus dilatasi serviks setidaknya 3 sampai 4cm untuk didiagnosis salah satu dari kedua
keadaan ini,Penghentian fase-aktif yang diartikan sebagai tidak adanya dilatasi selama 2 jam atau
lebih pada 5% nulipara aterm.dalam patograf pertambahan diartikan dilatasi serviks kurang dari
1cm/jam selama paling sedikit 4 jam. Hal yang harus diperhatikan sebelum diagnosis henti
selama persalian kala1,ada 2 kriteria:

1. fase laten telah komplit,dan dilatasi serviks sebesar 4cm atau lebih
2. Pola kontraksi uterus adalah 200unit Montevideo,periode 10menit telah ada selama 2 jam
tanpa perubahan serviks.

Kelainan pada kala II


Penurunan janin sebagian besar disertai oleh dilatasi lengkap.Kala dua menggabungkan berbagai
gerakan utama yang diperlukan janin untuk melewati jalan lahir ,oleh karena itu disporposi janin
dan pelvis menjadi nyata. Kala dua pada nulipara dibatasi sampai 2 jam dan diperpanjang
menjadi 3jam dengan analgesia regional.untuk multipara 1 jam merupakan batasnya,di
perpanjang menjadi 2jam denga analgesia regional. Kkenapa pada kala 2 ini diperpanjang karena
adanya trauma neonates yang serius akibat forceps.

II. PASSAGE (JALAN LAHIR)

Pintu atas panggul


biasanya dianggap sempit jika anteroposterior yang terpendek kurang dari 10cm atau jika
diameter transversal yang paling besar kurang dari 12cm. Diameter pintu atas panggul
anteroposterior biasanya diperkirakan dengan mengukur konjugata diagonalis secara manual
yaitu sekitar 1,5cm lebih besar. Dengan demikian, pintu atas yang sempit biasanya diartikan
dengan konjugata diagonalis yang kurang dari 11,5cm. Pintu atas panggul yang sempit
memainkan peran penting dalam menghasilkan presentasi abnormal. Pada nulipara normal,
bagian terendah pada kehamilan aterm biasanya turun kedalam rongga panggul sebelum awitan
persalinan. Namun jika pintu panggul sangat sempit, penurunan biasanya tidak terjadi sampai
setelah awitan persalinan,atau tidak sama sekali. Presentasi kepala masih dominan, tetapi kepala
terapung bebas diatas pintu atas panggul atau lebih kearah lateral pada salah satu fosa iliaca.
Karena itu sedikit saja pengaruh dapat menyebabkan perubahan presentasi janin.Pada perempuan
yang panggulnya sempit, presentasi wajah dan bahu terhitung 3kali lebih sering dan prolapsus
tali pusat terjadi empat sampai enam kali lebih sering.

Pintu tengah panggul yang sempit


Ukuran panggul tengah rata-rata adalah transversal atau spinosus interichial:10,5cm;
anteroposterior :dari bawah simpisis pubis ke taut S4-S5:11,5cm dan sagitalis posterior ,dari titik
tengah garis garis interspinosus ke titik yang sama di os.sacrum 5cm.Definisi panggul tengah
yang sempit belum akurat seperti definisi pintu atas panggul yang sempit.panggul tengah yang
biasanya sempit jika jumlah diameter interspinsus dan sagitalis posterior-normal 10,5cm
ditambah 5cm atau 15,5cm-menjadi 13,5cm atau kurang,sempitnya panggul tengah
apabiladiameter inrspinosus kurang dari 10cm.ketika ukurannya 8cm pintu panggul tengah
sempit.

Pintu bawah panggul yang sempit


Di definisikan sebagai diameter tuberositas interiskial sebesar 8cm atau kurang. Pintu bawah
panggul secara kasar dianalogikan dengan 2 segitiga dengan tuberositas interischial yang
dianggap sebagai dasar keduanya.Sisi segitiga anterior adalah ramus pubis dan apeksnya adalah
permukaan inferoposterior simpisis pubis . Segitiga posterior tidak memiliki sisi tuang tapi
apeksnya dibatasi oleh ujung vertebra sakral terakhir dan bukan ujung os.coccygis.Pengurangan
diameter intertuberositas yang diikuti oleh penyempitan segitiga anterior pasti menyebabkan
terdorongnya janin kea rah posterior,panggul bawah sempit ditemukan hapir setiap 1 %pada
>1400 nulipara dengan kehamilan aterm yang dipilih secara acak.

-Distosia Karena Kelainan Serviks

Distosia serviks adalah terhalangnya kemajuan persalinan karena kelainan pada serviks uteri.
Walaupun his normal dan baik, kadang-kadang pembukaan serviks macet karena ada kelainan
yang menyebabkan serviks tidak mau membuka.Ada 4 jenis kelainan pada serviks uteri, yaitu:
1.Serviks kaku (rigid cervix = cervical rigidity) Adalah suatu keadaan dimana seluruh serviks
kaku. Keadaan ini sering dijumpai pada primigravida tua, atau karena adanya parut-parut bekas
luka atau bekas luka infeksi atau pada karsinoma serviksis kejang atau kaku serviks dibagi 2 :
a.Primer karena takut atau pada primi gravida tua
b.Sekunder karena bekas luka-luka tau infeksi yang sembuh dan meninggalkan luka parut
Diagnosis

Diagnosis distosia persalinan karena serviks kaku dibuat bila terdapat his yang baik dan normal
pada kala I disetai pembukaan, dan setelah dilakukan beberapa kali pemeriksaan dalam waktu
tertentu. Juga pada pemeriksaan terasa serviks tegang dan kaku.
Penanganan:

Bila setelah pemberian obat-obatan seperti valium dan petidin tidak merubah kekauan, tindakan
kita melakukan seksio sesaria
Serviks gantung (hanging cervix)

Adalah suatu keadaan dimana ostium uteri eksternum dapat terbuka lebar, sedangkan ostium
uteri internum tidak mau membuka. Serviks akan tergantung seperti corong. Bila dalam
observasi keadaan tetap dan tidak ada kemajuan berkembang pembukaan ostium eksternum,
maka pertolongan yang tepat adalah dengan seksio sesaria.

3.Serviks konglumer (conglumeratio cervix)Adalah suatu keadaan dimana ostium uteri internum
dapat terbuka sampai lengkap, sedangkan ostium uteri eksternum tidak mau terbuka.Keadaan ini
sering dijumpai pada ibu hamil dengan prolaps uteri disertai servik dan porposi yang panjang
(elongation services at portionis). Dalam hal ini servik menjadi tipis, namun ostium uteri
eksternum tidak membuka atau hanya terbuka 5 cm

Penanganan
Penanganan tergantung pada keadaan turunnya kepala janin:
a. Coba lebarkan pembukaan ostium uteri eksternum secara digital atau
memakaidilatatorb.Bila hal-hal diatas tidak berhasil atau tidak mungkin sebaiknya dilakukan
seksio sesarea.
4.Edema serviks

Bila dijumpai edema yang hebat pada serviks dan disertai hematoma serta nekrosis, maka ini
merupakan tanda adanya obstruksi. Bila syarat-syarat untuk ekstraksi vakum atau forsep tidak
dipenuhi, lakukan seksio sesaria.
Diagnosa distosia serviks
•Dapat ditemukan melalui inspeksi atau sewaktu pemeriksaan bimanual
•His baik tetapi pembukaan serviks tidak bertambah.
•Pemeriksaan dilakukan 2-3 kali antara1-2 jam.
Peran bidan secara umum dalam menangani distosia karena kelainan serviks adalah :
a.Melakukan anamnesa yang lengkapb.
b. Melakukan pemeriksaan fisik secara cermat dan menyeluruh

c.Pada saat kehamilan bidan melakukan ANC yang berkualitas. Pada kasus ini, memang belum
dapat dideteksi secara dini.

d.Pada saat persalinan,bidan memberikan asuhan persalinan kala I sesuai dengan standar asuhan
kebidanan:

•Melakukan pengkajian keadaan umum ibu dan janin ( TTV, His, DJJ, PD), bila saat
melakukan pengkajian terdapat kelainan pada ibu dan janin, maka bidan harus segera
merujuk ke tempat pelayanan kesehatan yang lebih lengkap
•Memenuhi kebutuhan hidrasi, nutrisi, dan eliminasi
•Mengajarkan ibu teknik relaksasi
e.Melakukan pengawasan persalinan dengan menggunakan partograf
f.Melakukan kolaborasi dan rujukan bila terdapat kelainan.

Tumor vagina

Tumor vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. Berupa kista gardner
yang kalau besar dapat menghalangi jalannya persalinan. Adanya tumor vagina bisa pula
menyebabkan persalinan pervaginam dianggap mengandung terlalu banyak resiko. Tergantung
dari jenis dan besarnya tumor, perlu dipertimbangkan apakah persalinan dapat berlangsung
pervaginam atau harus diselesaikan dengan seksio cesarea.

III.Letak janin (PASSANGER)


Kelainan Presentasi dan Posisi
a. Presentasi Puncak Kepala
Pada persalinan normal, kepala janin pada waktu melewati jalan lahir berada dalam
keadaan fleksi. Dalam keadaan tertentu fleksi kepala tersebut tidak terjadi, sehingga kepala
dalam keadaan defleksi. Bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi
puncak kepala, presentasi dahi a tau presentasi muka. Presentasi puncak kepala atau disebut juga
presentasi sinsiput, terjadi apabila derajat defleksinya ringan, sehingga ubun-ubun besar
merupakan bagian terendah. Presentasi dahi, bila derajat defleksinya lebih berat sehingga dahi
merupakan bagian yang paling rendah. Presentasi muka bila derajat defleksinya maksimal,
sehingga muka janin merupakan bagian yang terendah.
Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara, yang
kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala. Mekanisme persalinanya hampir
sama dengan posisi oksipitalis posterior persisten, sehingga keduanya seringkali dikacaukan satu
dengan yang lainnya. Perbedaanya adalah: pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi
kepala yang maksimal, sehingga lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia
frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah simpisis adalahglabela.
b. Presentasi Dahi
Presentasi dahi jarang terjadi dari pada presentasi muka, terjadi hanya 1 dari 2000
persalinan. Kepala pada pertengahan antara versi dan ekstensi, dengan diameter mento vertikal
13 cm.
Diagnosis
Pemeriksaan abdomen kepala sangat tinggi dan diameter sangat besar, teraba lekukan antara
oksiput dengan bagian belakang. Pada pemeriksaan vagina, presentasi tinggi dan tidak bisa
diraba. Jika dahi dapat teraba, orbital berada pada satu sisi dan fontanel anterior berada pada sisi
yang lain. Diagnosis dapat ditegakkan dengan radiografik atau dengan USG.
Manajemen
Bidan harus dengan cepat menghubungi dokter jika ada suspek atau diagnosa presentasi dahi
dalam persalinan, dan seharusnya ibu dirujuk ke RS. Pada semua malpresentasi seringnya terjadi
KPD dan resiko prolapsus tali pusat lebuh besar. Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam
dilakukan sesegera mungkin untuk mendeteksi prolapsus tali pusat. Jika presentasi dahi
didiagnosis segera dalam persalinan dapat mengubah presentasi muka menjadi ekstensi penuh
atau fleksi pada presentasi verteks. Jika presentasi dahi menetap dan fetus dalam ukuran normal
tidak mungkin terjadi kelahiran pervaginam dan SC harus segera dilakukan. Manuver jarang
dilakukan pada presentasi muka, tindakan yang paling aman untuk ibu dan bayi adalah dengan
menggunakan SC.
c. Presentasi Muka
Presentasi Muka jarang terjadi kira-kira 1 dalam 500 kelahiran. Kepala dan tulang
belakang ekstensi tetapi lutut fleksi sehingga letak fetus dalam uterus dalam bentuk huruf S.
Oksiput berlawanan dari bahu dan muka secara langsung yang berada dibagian os. Internum.
Penyebab
Pada presentasi muka primer sebelum persalinan berlangsung fetus seringnya abnormal. Pada
anensephalus yang biasa terjadi, vertek tidak ada. Fetus goitre, kepala tidak dapat versi biasanya
tonus otot ekstensor tonus berlebuhan dan bertahan dalam sikap ekstensi pada beberapa setelah
lahir.
Presentasi muka sekunder yang berkembang dalam persalinan sering tidak diketahui
sebabnya. Pada posisi oksipito pesterior defleksi diameter biparietal mungkin mempunyai
kesulitan dalam menjauhi diameter sacro cotyloid dari pelvis maternal. Diameter bitemporal
lebih cepat turun, kepala ekstensi dan muka terlihat. Uterus yang berada disisi samping (uterus
obliq). Kekuatan kontraksi uterus berjalan kearah kepala bagian frontal supaya kepala ekstensi
dan masuk kerongga pelvis. Presentasi muka juga lebih sering terjadi pada flat pelvis, dalam
rongga pelvis dan pada prematuritas dan dimana terjadi polihidramnion atau kehamilan ganda.
Diagnosis
Presentasi muka tidak mudah didiagnosis dalam kehamilan. Hal ini seharusnya diperhatikan
jika ada lekukan yang dalam antara kepala dengan bagian belakang. Bunyi jantung terdengar
melalui dinding dada anterior pada sisi dimana lutut teraba. Suaranya terdengar jelas pada posisi
mento anterior. Pada posisi mento posterior bunyi jantung janin lebih sulit terdengar karena dada
pada posterior. Ultrasound dalam kehamilan dapat digunakan untuk memastikan diagnosis
presentasi muka.
Diagnosis dapat ditegakan dengan pemeriksaan vagina, dengan palpasi yang lembut akan
teraba orbital dan mulut dengan gusi. Adanya gusi dan mulut dalam presentasi muka harus
dibedakan dari anus pada presentasi bokong. Biasanya fetus akan membantu diagnosis dengan
menghisap jari tangan pemeriksa saat dilakukan pemeriksaan. Presentasi muka didiagnosa
dengan menentukan posisi dagu apakah anterior atau posterior. Presentasi muka posterior, yang
tidak bisa berputar ke posisi anterior, akan menyebabkan obstruksi persalinan. Kemajuan
persalinan menjadi sangat sulit pada pemeriksaan pervaginam untuk membedakan muka karena
muka menjadi oedemmeriks. Pemeriksaan harus hati-hatiuntuk menghindari trauma pada mata.
Manajemen
Pada posisi mento anteerior seringnya proses persalinan berjalan normal. Pada kala II
kelahiran normal diantisipasi dengan menggunakan episiotomi meskipun diameter sub mento
bregmatika 9,5 cm. Sub mento vertikal 11,5 cm yang dapat merobek perineum saat kelahiran.
Jika kelahiran normal terjadi ekstensi dipertahankan dengan menekan sinsiput hingga dagu
berada di bawah simpisis pubis, kepala difleksikan sehingga memungkinkan verteks dan oksiput
melewati perineum. Posisi mento lateral dan mento posterior lebih berbahaya. Kelahiran spontan
tidak akan terjadi, kemungkinan persalinan obstruksi dan dibutuhkan penatalaksanaan dengan
segera.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada presentasi muka, meliputi;
1. Prolapsus tali pusat.
2. Obstruksi persalinan, karena;
· Muka tidak berbentuk dan oleh karena CPD yang tidak dapat ditangani.
· Presentasi muka posterior presisten mengakibatkan obstruksi persalinan
3. Kelahiran operasi mungkin dibutuhkan.
4. Trauma perineum berat dapat terjadi karena, meskipun diameter sub mento bregmatik hanya
9,5 cm, sub mento vertikal 11,5 cm akan memperlebar vagina dan perineum. Bentuk tengkorak
fetus abnormal disebabkan perdarahan intrakranial.
5. Muka memar dan oedem.

d. Posisi Oksipitalis Posterior Persisten


Keadaan dimana ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan, sehingga tetap dibelakang.
Keadaan ini dinamakan posisi oksiput posterior persisten.
Etiologi
Salah satu sebab terjadinya posisi oksipitalis oksiput posterior persisten ialah usaha
penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul. Misalnya: apabila diameter anterior
posterior lebih panjang dai diameter transfersa seperti pada panggul antropoid atau segmen
depan menyempit seperti pada panggul android, maka ubun-ubun kecil akan mengalami
kesulitan memutar ke depan. Sebab-sebab lain adalah otot-otot dasar panggul yang sudah lembek
pada multipara atau kepala janin yang kecil dan bulat, sehingga tidak ada paksaan pada belakang
kepala janin, untuk memutar ke depan.
Mekanisme Persalinan
Bila hubungan antara panggul dengan kepala janin cukup longgar persalianan pada posisi
oksipitalis posterior persisten dapat berlangsung secara spontan tetapi pada umumnya lebih lama.
Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simpisis dengan mekanisme sebagai
berikut.
Setelah kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar berada di bawah shimpisis
dengan ubun-ubun besar tersebut sebagai hipomoklion, oksiput akan lahir melalui perineum
diikuti bagian kepala yang lain. Kelahiran janin dengan ubun-ubun kecil di belakang
menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum, hal ini disebabkan karena kepala
yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak dapat menambah fleksinya lagi. Selain itu
seringkali fleksi kepala tidak dapat maksimal, sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul
dengan sirkumferensia frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia
sub oksipitooksipitalis, kedua keadaan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada vagina dan
erineum yang luas.
Prognosis
Jalannya pada proses persalinan posisi oksiput posterior sulit diramalkan hal ini disebabkan
karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada. Persalinan pada pada umumnya
berlangsung lebih lama, kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih besar. Sedangkan kematian
peeinatal perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil
berada di depan.
Penanganan
Menghadapi persalinan dengan UUK di belakang sebaiknya dilakuka pengawasan persalinan
yang seksama dengan harapan terjadinya persalinan spontan. Tindakan untuk mempercepat
jalanya persalinan dilakukan apabila kala II terlalu lama atau ada tanda-tanda bahaya terhadap
janin.
Pada presentasi belakang kepala kadang-kadang kala II mengalami kemacetan dengan kepala
janin sudah berada di dasar panggul dan posisi UUK melintang. Keadaan ini dinamakan posisi
lintang tetap rendah (deep tranverse arrest).
PLASENTA
1. Plasenta Previa
Artinya, plasenta menutupi jalan lahir. Seharusnya posisi plasenta ada di atas atau
tepatnya di sisi atas lapisan Nitabuch/Desidua (selaput lendir rahim). Plasenta previa terjadi
karena plasenta tidak mau menempel di Nitabuch, lokasi bekas plasenta sebelumnya (kakaknya),
bekas operasi, bekas terkena infeksi, atau pernah hamil kembar. "Dengan bahasa lain, plasenta
menyukai dinding rahim yang masih mulus."
Gangguan ini bisa diketahui lewat USG sejak usia kandungan 17 minggu, walaupun
sebenarnya ada kemungkinan letaknya berubah. Seiring bertambahnya usia kehamilan, plasenta
bisa saja kembali ke posisi yang seharusnya. Bukan karena plasentanya berpindah, tapi
pembesaran rahimlah yang membuat plasenta semakin tertarik ke atas. Sebaliknya, jika sampai
usia kehamilan 36 minggu posisi plasenta masih tetap menutup jalan lahir, maka saat hari
persalinan tiba, dokter akan melakukan tindakan sesar. Ini dilakukan demi keselamatan ibu
maupun bayi.
Hanya saja, bagi ibu hamil yang telah terdeteksi mengalami plasenta previa disarankan
tidak melakukan hubungan intim selama kehamilan, selain juga jangan terlalu capek, dan jika
terjadi perdarahan harus segera ke dokter.

2. Plasenta Lengket
Ini adalah kasus yang cukup gawat karena bisa menyebabkan perdarahan yang berakhir
dengan pengangkatan rahim. Pada keadaan ini, trofoblas atau jaringan-jaringan plasenta yang
berfungsi mengangkut makanan dan oksigen untuk bayi tidak pada posisi seharusnya atau
menempel dan berada di lapisan Nitabuch, tapi malah menembus lapisanNitabuch hingga ke otot
rahim.
Kasus plasenta lengket dibedakan menjadi tiga, yaitu plasenta pakreta, plasenta inkreta,
dan plasenta perkreta. Untuk kasus plasenta perkreta jaringan atau pipa pembuluh darah plasenta
sampai menembus ke usus. Tembusnya jaringan atau pipa-pipa pembuluh darah tersebut keluar
Nitabuch bisa disebabkan banyak hal, yaitu ibu punya anak lebih dari lima (plasenta tidak mau
berada di lapisan dinding rahim yang sudah rusak), sering dikuret, sering infeksi, sering
keguguran, bekas sesar, pernah plasenta previa, atau pernah melakukan operasi miom.
Namun jangan panik, kasus ini bisa dideteksi sejak dini dengan USG berwarna, baik yang
2 dimensi maupun 4 dimensi. Namun demikian, dokter tetap tidak bisa mengubahnya. Jadi, USG
hanya berguna sebagai alat pemantau. Jika semakin parah, ibu terpaksa dioperasi dan diangkat
rahimnya. "Jika tidak, ibu akan mengalami perdarahan yang sangat hebat yang bisa
menyebabkan kematian ibu dan jabang bayi." Sekalipun demikian, akan diusahakan untuk
melakukan operasi setelah janin berusia 38 minggu.

3. Tumor Plasenta
Yang dimaksud adalah jika pada plasenta terdapat benjolan. Menurut Judi, tumor yang
ganas bisa merusak dan menembus Nitabuch, lalu berkembang hingga ke bagian luarnya. Untuk
menghilangkannya, kandungan ibu bisa-bisa harus diangkat. Sayangnya, hingga saat ini belum
diketahui penyebab munculnya tumor pada plasenta. Begitu pula, belum ditemukan obat yang
bisa menghalaunya, kecuali dilakukan operasi berbarengan saat melahirkan. Sekalipun begitu,
tumor plasenta bisa dideteksi sejak usia kandungan 18 minggu dengan USG dua dimensi.
Bila tumornya besar/ganas tentu saja berdampak bukan cuma pada ibu, tapi juga pada si
bayi. Misalnya, terjadi perdarahan, gangguan aliran darah ke bayi, atau penyebaran keganasan.
Persalinannya bisa ditunggu sampai cukup bulan, juga bisa lewat jalan lahir normal. Bila
tumor tersebut menghalangi jalan lahir atau terjadi gawat janin akibat gangguan aliran darah,
persalinan dilakukan lewat operasi sesar.

4. Plasenta Kembar atau Bilobata


Kasus plasenta kembar bisa menyebabkan perdarahan kala ibu memenjalani persalinan.
Pasalnya, dokter/bidan yang menangani biasanya tidak mengira ibu memiliki dua plasenta,
sehingga setelah plasenta pertama keluar menyusul kelahiran bayi, plasenta satunya dibiarkan
tertinggal di dalam. Inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan, infeksi, dan ukuran rahim
tetap besar sekalipun telah lewat 40 hari.
Fungsi si kembar ini sama dengan plasenta umumnya, yaitu menyuplai makanan ke bayi.
Penyebabnya sendiri hingga saat ini tidak ada yang tahu. Namun, ibu tetap bisa melahirkan
secara normal jika letak kedua plasentanya di atas.
Sekalipun bisa dideteksi dengan USG, baik dokter atau bidan yang menolong persalinan
harus meneliti bentuk plasenta ibu. Jika di situ ditemukan selaput ketuban, baik ada atau tidak
ada pembuluh darah yang putus, berarti semuanya oke. Namun jika sebaliknya, kemungkinan
ada kembaran plasenta yang masih tertinggal di dalam.

B. TALI PUSAT
Terlilit Tali Pusat
Lilitan tali pusat umumnya terjadi sebelum kehamilan cukup besar. Paling sering pada
trimester kedua dimana bayi masih bisa bergerak dengan aktif dan leluasa. Bahkan terkadang
melakukan gerakan ekstrem seperti bersalto. Bila tali pusatnya panjang, kemungkinan dapat
terjadi lilitan tali pusat. Lilitan tali pusat ini bisa terjadi di leher, di bahu atau di lengan dan tidak
selalu berakibat buruk.
Adanya lilitan tali pusat di leher dalam kehamilan pada umumnya tidak menimbulkan
masalah. Namun dalam proses persalinan dimana mulai timbul kontraksi rahim dan kepala janin
mulai turun dan memasuki rongga panggul, maka lilitan tali pusat menjadi semakin erat dan
menyebabkan penekanan atau kompresi pada pembuluh-pembuluh darah tali pusat. Akibatnya,
suplai darah yang mengandung oksigen dan zat makanan ke janin akan berkurang, yang
mengakibatkan janin menjadi sesak atau hipoksia.
Namun jika lilitan tali pusat terjadi berkali-kali, sementara tali pusatnya tidak panjang, ini
yang bisa berdampak buruk pada bayi. Sebab saat bayi turun ke bawah, tali pusat bisa
menahannya untuk turun. "Umumnya dokter langsung memutuskan untuk sesar."
Lilitan tali pusat pada leher sangat riskan, apalagi bila terjadi lilitan beberapa kali. "Dapat
diperkirakan bahwa makin masuk kepala janin ke dasar panggul, makin erat lilitan tali pusat dan
makin terganggu aliran darah menuju dan dari janin."
Meski lilitan tali pusat dapat diketahui lewat pemeriksaan USG, dokter dapat saja
membiarkan sampai proses persalinan tiba. "Karena lilitan tali pusat tidak bisa dilepas. Yang
dilakukan dokter adalah memantau dan memberitahu si ibu."
Lilitan tali pusat di leher sekalipun tak harus berujung pada sesar. "Tapi proses persalinan
dipantau ketat. Dalam persalinan kala satu, observasi denyut jantung dengan alat kardiotokografi
sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi gangguan pola denyut jantung janin."
Bila pola denyut jantung terganggu, persalinan diakhiri dengan bedah sesar. Karena jika dipaksa
lahir dengan normal, bisa berdampak buruk pada janin.
Kemungkinan sebab lilitan tali pusat pada janin :
Usia kehamilan
Kematian bayi pada trimester pertama atau kedua sering disebabkan karena puntiran tali pusat
secara berulang-ulang ke satu arah. Ini mengakibatkan arus darah dari ibu ke janin melalui tali
pusat tersumbat total. Karena dalam usia kehamilan tersebut umumnya bayi masih bergerak
dengan bebas. Hal tersebut menyebabkan kompresi tali pusat sehingga janin mengalami
kekurangan oksigen.
Polihidramnion kemungkinan bayi terlilit tali pusat semakin meningkat.
Panjangnya tali pusat
Dapat menyebabkan bayi terlilit. Panjang tali pusat bayi rata-rata 50 sampai 60 cm. Namun, tiap
bayi mempunyai panjang tali pusat berbeda-beda. Panjang pendeknya tali pusat tidak
berpengaruh terhadap kesehatan bayi, selama sirkulasi darah dari ibu ke janin melalui tali pusat
tidak terhambat.

Tanda-Tanda Bayi Terlilit Tali Pusat :


Beberapa hal yang menandai bayi terlilit tali pusat, yaitu:
Pada bayi dengan usia kehamilan lebih dari 34 minggu, namun bagian terendah janin (kepala
atau bokong) belum memasuki pintu atas panggul perlu dicurigai adanya lilitan tali pusat.
Pada janin letak sungsang atau lintang yang menetap meskipun telah dilakukan usaha untuk
memutar janin (Versi luar/knee chest position) perlu dicurigai pula adanya lilitan tali pusat.
Dalam kehamilan dengan pemeriksaan USG khususnya color doppler dan USG 3 dimensi
dapat dipastikan adanya lilitan tali pusat.
Dalam proses persalinan pada bayi dengan lilitan tali pusat yang erat, umumnya dapat
dijumpai dengan tanda penurunan detak jantung janin di bawah normal, terutama pada saat
kontraksi rahim.

DISTOSIA BAHU
A. PENGERTIAN DISTOSIA BAHU
Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala
janin dilahirkan. Selain itu distosia bahu juga dapat di defenisikan sebagai ketidakmampuan
melahirkan bahu dengan mekanisme atau cara biasa.

B. FAKTOR RESIKO TERJADINYA DISTOSIA BAHU

Kelainan bentuk panggul, diabetes gestasional, kehamilan postmature, riwayat persalinan dengan
distosia bahu dan ibu yang pendek.
1. Maternal
• Kelainan anatomi panggul
• Diabetes Gestational
• Kehamilan postmatur
• Riwayat distosia bahu
• Tubuh ibu pendek
2. Fetal
• Dugaan macrosomia
3. Masalah persalinan
• Assisted vaginal delivery (forceps atau vacum)
• “Protracted active phase” pada kala I persalinan
• “Protracted” pada kala II persalinan
Distosia bahu sering terjadi pada persalinan dengan tindakan cunam tengah atau pada
gangguan persalinan kala I dan atau kala II yang memanjang.

C. TANDA DAN GEJALA TERJADINYA DISTOSIA BAHU


1. Pada proses persalinan normal kepala lahir melalui gerakan ekstensi. Pada distosia bahu
kepala akan tertarik kedalam dan tidak dapat mengalami putar paksi luar yang normal.
2. Ukuran kepala dan bentuk pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk dan besar. Begitu pula
dengan postur tubuh parturien yang biasanya juga obese.
3. Usaha untuk melakukan putar paksi luar, fleksi lateral dan traksi tidak berhasil melahirkan
bahu.

D. DIAGNOSA DISTOSIA BAHU


• Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tettap berada dekat vulva.
• Dagu tertarik dan menekan perineum.
• Tarikan pada kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap di belakang simfisis pubis
Nama : Dikara Novirman P

NIM: 2013730136

7. Jelaskan jenis-jenis persalinan abnormal

c. Seksio sesar
d. Vakum

Jawab:

A. Seksio Sesarea
1. Defenisi Seksio Sesaria
Seksio sesaria adalah persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen dan uterus yang masih
utuh dengan berat janin >1000 gr atau kehamilan >28 minggu. Seksio sesaria adalah suatu cara
melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau
vagina atau seksio sesaria adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

2. Istilah Persalinan Seksio Sesaria


Menurut Mochtar (1998) persalinan seksio sesarea memiliki beberapa istilah yaitu:
a. Seksio Sesaria primer (Efektif)

Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio sesaria, tidak
diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya : pada panggul sempit ( CV kecil dari 8 cm).
b. Seksio Sesaria Sekunder

Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan), bila tidak
ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru dilakukan seksio sesaria.
c. Seksio Sesaria ulang (repeat caesarean section)

Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami seksio sesaria (previous caesarea section) dan pada
kehamilan selanjutnya dilakukan seksio sesaria ulang.
d. Seksio Sesaria Histerektomi (Caesarean section hysterectomy)

Adalah suatu operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan seksio sesaria, langsung dilakukan
histerektomi oleh karena sesuatu indikasi.
e. Operasi Porro (Porro operation)
Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin sudah mati), dan
langsung dilakukan histerektomi, misalnya : pada keadaan infeksi rahim yang berat.

3. Jenis – Jenis Operasi Seksio Sesaria Abdominalis


Menurut Harry dan William persalinan seksio sesaria abdominal memiliki beberapa jenis yaitu :

Insisi Melintang
Insisi melintang segmen bawah uterus memungkinkan kelahiran perabdominam yang aman
sekalipun dikerjakan pada saat persalinan dan rongga rahim terinfeksi. Insisi melintang segmen
bawah rahim bawah rahim merupakan prosuder pilihan, dengan cara sebagai berikut :
a. Abdomen dibuka dan uterus disingkapkan.

b. Lipatan versicouterina periteoneum (bladder flap) yang terletak dekat sambungan segmen atas
dan bawah uterus ditentukan dan disayat melintang, lipatan ini dilepaskan dari segmen bawah
dan bersama-sama kandung kemih didorong ke bawah serta ditarik agar tidak menutupi lapangan
pandangan.

c. Pada segmen bawah uterus dibuat insisi melintang kecil, luka insisi dilebarkan kesamping
dengan jari-jari tangan dan berhenti didekat daerah pembuluh darah uterus.

d. Kepala janin yang pada sebagian besar kasus terletak dibalik insisi diekstraksi atau didorong,
diikuti oleh bagian tubuh yang lainnya dan kemudian plasenta serta selaput ketuban.

e. Insisi melintang tersebut ditutup dengan jahitan catgut bersambung satu lapis atau dua lapis.
Lipatan vesicouterina kemudian dijahit kembali pada dinding uterus sehingga seluruh luka insisi
terbungkus dan tertutup dari rongga peritoneum generalisata. Dinding abdomen ditutup lapis
demi lapis.

1) Keuntungan dilakukannya Insisi Melintang yaitu :


a. Insisinya ada pada segmen bawah uterus. Namun demikian, kita harus yakin bahwa tempat
insisi ini berada pada segmen bawah yang tipis dan bukannya pada bagian inferior dari segmen
atas yang muskuler.
b. Otot tidak dipotong tetapi dipisah ke samping, cara ini mengurangi perdarahan.
c. Insisi jarang terjadi sampai placenta.

d. Lapisan otot yang tipis dari segmen bawah rahim lebih mudah dirapatkan kembali dibanding
segmen atas yang tebal.

e. Keselurahan luka insisi terbungkus oleh lipatan vesicouterina sehingga mengurangi


perembasan ke dalam cavum peritonei generalisata.
f. Ruptura jaringan cicatrix yang melintang kurang membahayakan jiwa ibu dan janin karena :
1. Insidensi rupture tersebut lebih rendah.

2. Kejadian ini jarang terjadi sebelum aterm. Dengan demikian pasien sudah dalam pengamatan
ketat di rumah sakit.

3. Perdarahan dari segmen bawah yang kurang mengandung pembuluh darah itu lebih sedikit
dibandingkan perdarahahan dari corpus.

4. Ruptura bekas insisi melintang yang rendah letaknya kadang – kadang saja diikuti dengan
ekspulsi janin atau dengan terpisahnya placenta, sehingga masih ada kesempatan untuk
menyelamatkan bayi.

2). Kerugian dilakukannya Insisi Melintang yaitu :


a. Jika insisi terlampau jauh ke lateral, seperti terjadi pada kasus yang bayinya terlalu besar,
maka pembuluh darah uterus dapat terobek sehingga menimbulkan perdarahan hebat.

b. Prosedur ini tidak dianjurkan kalau terdapat abnormalitas pada segmen bawah, seperti fibroid
atau varices yang luas.

c. Pembedahan sebelumnya atau pelekatan yang padat menghalangi pencapaian segmen bawah
akan mempersulit operasi.
d. Kalau segmen bawah belum terbentuk dengan baik, pembedahan melintang sukar dikerjakan.

e. Kadang – kadang vesica urinaria melekat pada jaringan cicatrix yang terjadi sebelumnya
sehingga vesica urinaria dapat terluka.

Insisi Membujur
Insisi Membujur dilakukan dengan cara membuka abdomen dan menyingkirkan uterus sama
seperti pada insisi melintang. Insisi membujur dibuat dengan scalpel dan dilebarkan dengan
gunting tumpul untuk menghindari cedera pada bayi. Adapun keuntungan dari inisisi membujur
yaitu :

a. Luka insisi bisa diperlebar ke atas. Pelebaran ini diperlukan kalau bayinya besar, pembentukan
segmen bawah jelek, ada malposisi janin seperti letak lintang atau kalau ada anomaly janin
seperti kehamilan kembar yang menyatu (conjoined twins).

b. Sebagian ahli kebidanan menyukai jenis insisi ini untuk placenta previa. Dan terdapat juga
kerugian utama pada insisi membujur yang dapat terjadi pendarahan dari tepi sayatan yang lebih
banyak karena terpotongnya otot, juga sering luka insisi tanpa di kehendaki meluas kesegmen
atas sehingga nilai penutupan retroperitoneal yang lengkap akan hilang. Pada jenis operasi seksio
sesarea insisi membujur terdapat 3 teknik yaitu :
a) Seksio sesarea klasik
Seksio sesarea klasik memiliki indikasi bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung
kemih untuk mencapai segmen bawah rahim, misalnya karena adanya perlekatan – perlekatan
akibat pembedahan seksio sesarea yang lalu, atau adanya tumor – tumor di daerah segmen bawah
rahim, keadaan janin yang besar dalam letak lintang dan plasenta previa dengan insersi plasenta
di dinding depan segmen bawah rahim.
b) Seksio Sesarea Extraperitoneal

Seksio sesarea extraperitonel dikerjakan untuk mengindari perlunya histerektomi pada kasus –
kasus yang mengalami infeksi luas dengan mencegah peritonitis generalisata yang sering bersifat
fatal.Ada beberapa metode seksio sesarea extraperitoneal, seperti metode Waters, Latzko, dan
Norton. Teknik pada prosuder ini relative sulit, sering tanpa sengaja masuk ke dalam cavum
peritonei, dan insidensi cedera vesira urinaria meningkat.Perawatan prenatal yang lebih baik,
penurunan insidensi kasus yang terlantar, dan tersedianya darah serta antibiotic telah mengurangi

Perlunya teknik extraperitoneal. Metode ini tidak boleh dibuang tetapi tetap di simpan sebagai
cadangan bagi kasus – kasus tertentu.
c) Seksio sesarea Histerektomi

Seksio sesarea histerektomi merupakan seksio sesarea yang dilanjutkan dengan pengeluaran
uterus.Kalau mungkin histerektomi harus dikerjakan lengkap disebut histerektomi total. Akan
tetapi, karena pembedahan subtotal. Lebih mudah dan dapat dikerjakan lebih cepat, maka
pembedahan subtotal menjadi prosuder pilihan kalau terdapat pendarahan hebat dan pasiennya
shock, atau kalau pasien dalam keadaan jelek akibat sebab-sebab lain. Pada kasus-kasus seperti
ini, tujuan pembedahan adalah menyelesaikannya secepat mungkin.

B. Faktor – Faktor Yang menyebabkan Ibu Memilih Persalinan dengan Tindakan Seksio
Sesarea
Persalinan merupakan upaya melahirkan janin yang ada di dalam rahim ibunya. Jadi, apabila
persalinan harus dilakukan dengan operasi menurut buku Obstetrics and Gynecology, ada empat
alasan, yaitu untuk keselamatan ibu dan janin ketika persalinan harus berlangsung, tidak terjadi
kotraksi, distosia (persalinan macet) sehingga menghalang persalinan alami, dan bayi dalam
keadaan darurat sehingga harus segera dilahirkan tetapi jalan lahir tidak mungkin dilalui
janin.Jadi penyebab dilakukannya operasi pada persalinan memiliki beberapa faktor yaitu:

a. Riwayat dengan persalinan seksio sesarea

Riwayat dengan persalinan seksio sesarea adalah wanita yang pernah memiliki riwayat
persalinan seksio sesarea. Pada sebagian besar Negara ada kebiasaan yang diperaktikkan akhir-
akhir ini yaitu setelah prosedur pembedahan seksio sesarea dikerjakan, maka semua kehamilan
yang mendatang harus diakhiri dengan cara yang sama. Bahaya rupture lewat tempat insisi
sebelumnya dirasakan terlalu besar. Akan tetapi, pada kondisi tertentu ternyata bisa dilakukan
trial of labor dengan kemungkinan persalinan lewat vagina. Kalau upaya ini berhasil, baik
morbiditas maternal maupun lamanya rawat tinggal akan berkurang.

Adapun menurut buku Harry dan Williams syarat-syarat trial of laborsebelumnya pernah
dilakukan seksio sesarea :
1. Bekas insisi tunggal yang melintang dan pada bagian cervical bawah uterus (low cervical
transverse uterine incision).
2. Indikasi untuk prosedur pertama bukan disporporsi.
3. Indikasi akan kelahiran dan persalinan yang mudah.

Kontraindikasi untuk trial of labor sebelumnya pernah melakukan persalinan seksio


sesarea :
1. Bekas insisi vertical tipe apapun.
2. Insisi yang tipenya tidak diketahui
3. Pernah seksio sesarea lebih dari satu kali
4. Saran untuk tidak melakukan trial of labor dari dokter bedah yang melaksanakan pembedahan
pertama.
5. Panggul sempit
6. Presentasi abnormal, seperti presentasi dahi, bokong atau letak lintang
7. Indikasi medis untuk segera mengakhirin kehamilan, termasuk diabetes, toxemia gravidarum
dan plasenta previa.

b. Faktor ibu
Kondisi kehamilan bisa pula sebagai penyebab dilakukannya operasi.Misalnya : tidak ada tanda
persalinan, pada hal kehamilan harus diakhiri karena alasan janin atau ibunya, ibu menderita
eklampsia atau ketuban pecah dini dan ingin dilakukan tindakan sterilisasi. Sebalikya, usia
kehamilan belum cukup bulan (25 minggu), tetapi kehamilan harus diakhiri. Namun, dari kondisi
janin dan ibu tersebut tidak semuanya harus dilakukan persalinan dengan operasi. Tindakan
operasi dilakukan dengan beberapa pertimbangan, yaitu : apabila persalinan pervaginam
membahayakan keselamatan ibu dan bayinya.
Menurut buku Dini Kasdu ada beberapa faktor ibu yang menyebabkan harus dilakukan operasi
seksio sesarea yaitu :
1) Usia

Ibu yang melahirkan untuk pertama kali pada usia sekitar 35 tahun, memiliki risiko melahirkan
dengan operasi. Apalagi pada wanita dengan usia 40 tahun ke atas. Pada usia ini, biasanya
seseorang memiliki penyakit yang berisiko, misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung,
kencing manis, dan preeklampsia. Eklampsia (keracunan kehamilan) dapat menyebabkan ibu
kejang sehingga seringkali menyebabkan dokter memutuskan persalinan dengan operasi sesarea.
2) Tulang Panggul
Cephalopelvic disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan
ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami.
Tulang panggul sangat menentukan mulus tidaknya proses persalinan. Tulang – Tulang panggul
merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan “jalan”
yang harus dilalui ole janin ketika akan lahir seara alami. Bentuk tulang panggul ada empat jenis,
yaitu : panggul ginekoid, android, platipeloid dan anthropoid. Jenis panggul yang dapat
membantu memudahkan kelahiran bayi adalah jenis panggul ginekoid.Persalinan Sebelumnya
dengan operasi sesarea.
3) Hambatan Jalan Lahir

Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya : jalan lahir yang kaku sehingga tidak
memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor atau kelainan bawaan pada jalan lahir, tali
pusat pendek, dan ibu sulit bernapas. Gangguan jalan lahir bisa juga terjadi karena ada mioma
atau tumor.Keadaan ini menyebabkan persalinan terhambat atau macet, yang bisa disebut
distosia.
4) Kelainan Kontraksi Rahim

Jika kontraksi rahim lemah dan tidak terkoordinasi (inkordinate uterine action) atau tidak
elastisnya leher rahim sehingga tidak dapat melebar pada proses persalinan menyebabkan kepala
bayi tidak terdorong dan tidak dapat melewati jalan lair dengan lancer. Untuk lemahnya
kontraksi rahim, biasanya dapat ditolong dengan memberikan infus oksitoksin, tetapi untuk
membuat elastisnya leher rahim sulit dilakukan intervensi. Apabila keadaan tidak
memungkinkan maka dokter biasanya akan melakukan operasi sesarea.
5) Ketuban Pecah Dini

Air ketuban (amnion) adalah cairan yang mengelilingi janin dalam rahim.Robeknya kantung
ketuban sebelum waktunya dapat meyebabkan bayi harus segera dilahirkan.Kondisi ini membuat
air ketuban merembes keluar sehingga tinggal sedikit atau habis. Apabila air ketuban habissama
sekali, pada hal bayi masi belum waktunya lahir, biasanya dokter akan berusaha mengeluarkan
bayi dari dalam kandungan,baik melalui kelahiran biasa maupun operasi sesarea. Air
ketubanyang peca sebelum waktunya akan membuka rahim sehingga memudakan masuknya
bakteri dari vagina. Dengan masuknya bakteri lewat vagina, infeksi akan terjadi pada ibu hamil
dan janin di dalam kandungan.
6) Rasa Takut Kesakitan

Seorang wanita yang melahirkan secara alami akan mengalami proses rasa sakit, yaitu berupa
rasa mulas disertai rasa sakit di pinggang dan pangkal paha yang semakin kuat dan “menggigit”.
Hal ini terjadi karena ketika berkontraksi, otot – otot rahim berkerut sebagai upaya membuka
mulut rahim dan menolong kepala bayi kea rah panggul. Kondisi tersebut karena keadaan yang
pernah atau baru akan terjadi dan sering menyebabkan seorang wanita yang akan melahirkan
merasa ketakutan, khawatir, dan cemas menjalaninya. Akibatnya, untuk menghilangkan itu
semua mereka berpikir melahirkan dengan cara operasi.

Namun, bisa pula hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan dokter. Hal ini bisa karena alasan
secara psikologi tidak tahan melahirkan dengan sakit. Kecemasan yang berlebihan juga akan
menghambat proses persalinan alami berlangsung.

c. Gawat Janin
Gawat janin ditunjukkan dengan adanya bradycardia berat, irregularitas denyut jantung janin
atau adanya pola deselerasi yang terlambat, kadang-kadang menyebabkan perlunya seksio
sesarea darurat.Angka seksio sesarea tinggi pada pasien-pasien yang dimonitor.Hal ini tidak
mengherankan karena indikasi utama untuk tindakan monitoring adalah kasus-kasus dengan
predisposisi hipoksia janin.Namun demikian, gawat janin bukanlah alasan utama bagi
meningkatkan angka seksio sesarea.Permasalahan yang disertai dystocia merupakan indikasi
utama bagi persalinan per abdominam.Suatu indikasi seksio sesarea tersebut sebagai intoleransi
janin pada persalinan (fetal intolerance of labor).Keadaan ini terlihat pada pasien-pasien yang
persalinannya tidak menentu.Stimulasi dengan oxytocin menghasilkan abnormalitas pada
frekuensi denyut jantung janin. Dikerjakan seksio sesarea dan dilahirkan bayi normal tanpa
gejala kegawatan.

Adapun menurut Dini Kasdu beberapa Faktor gawat janin yang menyebabkan persalinan dengan
tindakan seksio sesarea, yaitu :
1) Bayi terlalu besar

Besar bayi lahir sekitar 4.000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayi sulit keluar dari
jalan lahir. Pertumbuhan janin yang berlebihan (makrosomial) karena ibu menderita kencing
manis (diabetes mellitus). Keadaan ini dalam ilmu kedokteraan disebut bayi besar
objektif.Apabila dibiarkan terlalu lama dijalan lahir dapat membahayakan keselamatan janinnya.
2) Kelainan Letak Bayi
a) Letak sungsang

Keadaan janin sungsang apabila letak janin di dalam rahim memanjang dengan kepala berada di
bagian atas rahim, dan pantat berada dibagian bawah rongga rahim, sedangkan yang dimaksud
dengan “posisi” adalah keadaan bagian terenda bayi. Risiko bayi lahir sungsang pada persalinan
alami perkirakan 4 kali lebih besar dibandingkan lahir dengan letak kepala yang normal.Oleh
karena itu, biasanya langkah terakhir untuk mengantisipasi hal terburuk karena persalinan yang
tertahan akibat janin sungsang adalah operasi.
b) Letak Lintang

Kelainan lain yang paling sering terjadi adala letak lintang atau miring (oblique). Letak yang
demikian menyebabkan poros janin tidak sesuai dengan arah jalan lahir. Pada keadaan ini, letak
kepala pada posisi yang satu dan bokong pada sisi yang lain. Pada umumnya, bokong akan
berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sementara bahu berada pada bagian atas
panggul. Punggung, dapat berada di depan, belakang atas, maupun bawah. Kelainan letak lintang
ini hanya terjadi sebanyak 1%.Letak lintang ini biasanya ditemukan pada perut ibu yang
menggantung atau karena adanya kelainan bentuk rahimnya.

Penanganan untuk kelahiran letak lintang ini juga sifatnya sangat individual. Apabila dokter
memutuskan untuk melakukan tindakan operasi, sebelumnya ia sudah memperhitungan sejumlah
factor demi keselamatan ibu dan bayinya.
3) Ancaman gawat janin (fetal distress)

Keadaan gawat janin pada tahap persalinan, memungkinkan dokter memutuskan untuk segera
melakukan operasi.Apalagi jika ditunjang oleh kondisi ibu yang kurang, menguntungkan.Seperti
diketahui, sebelum lahir, janin mendapat oksigen dari ibunya melalui plasenta dan tali pusat.
Apabila terjadi gangguan pada plasenta ( akibat ibu menderita tekanan darah tinggi atau kejang

rahim), serta gangguan pada tali pusat (akibat tali pusat terjepit antara tubuh bayi) maka jata
oksigen yang disalurkan kebayi pun jadi berkurang. Akibatnya, janin akan tercekik karena
kehabisan napas. Kondisi ini bisa menyebabkan janin mengalami kerusakn otak, bakan tidak
jarang meninggal dalam rahim. Apabila proses persalinan sulit dilakukan melalui vagina maka
bedah sesarea merupakan jalan keluar satu – satunya.
4) Bayi Kembar (Multiple Prenancy)

Kelahiran bayi kembar memiliki risiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi dari pada kelahiran
satu bayi. Faktor yang dapat terjadi misalnya : Lahir premature atau lebih cepat dari waktunya,
bayi kembar bisa dapat mengalami sungsang atau letak lintang. Oleh karena itu, pada kelahiran
kembar dianjurkan dilakukan di rumah sakit karena kemungkinan sewaktu –waktu dapat
dilakukan tindakan operasi tanpa direncanakan. Meskipun dalam keadaan tertentu, bisa saja bayi
kembar lahir secara alami.
5) Janin Abnormal

Janin sakit atau abnormal.Misalnya gangguan Rh, kerusakan genetic, dan hidrosephalus (kepala
besar karena otak berisi cairan), dapat menyebabkan dokter memutuskan dilakukan operasi.

d. Kelainan plasenta
Ada beberapa menurut Dini Kasdu kelainan plasenta yang menyebabkan keadaan pada ibu atau
janin sehingga harus dilakukan persalinan dengan operasi seksio sesarea, yaitu :
1) Plasenta previa

Posisi plasenta di bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Tentu saja,
keadaan ini akan mengakibatkan kepala janin tidak bisa turun dan masuk ke jalan lahir. Janin
dengan plasenta previa, umumnya juga akan memilih letak sungsang tau letak lintang. Keadaan
ini menyulitkan janin lahir secara alami. Kelainan plasenta ada beberapa macam : Plasenta letak
rendah, yaitu : Plasenta tidak sampai menutupi (1 -2 dari mulu rahim), plasenta previa marginalis
(ujung plasenta terletak sangat dekat dengan mulut rahim), plasenta previa parsial (sebagian
plasenta menutupi jalan lahir), plasenta previa totalis (seluruh jalan lahir atau mulut rahim benar
– benar tertutup oleh plasenta). Tindakan persalinan pada dua jenis kelainan plasenta previa
totalis, biasanya dilakukan dengan operasi.
2) Plasenta lepas ( Solution Placenta)

Plasenta lepas (Solution Placenta) merupakan keadaan plasenta yang lepas lebih cepat dari
dinding rahim sebelum waktunya.Apabila plasenta sudah lepas, sementara janin masih lama lahir
atau dalam keadaan tertentu maka operasi harus segera dilakukan.Persalinan dengan operasi
dilakukan untuk menolong janin segera lahir sebelum janin mengalami kekurangan oksigen atau
keracunan air ketuban.
3) Plasenta Accreta

Plasenta accrete merupakan keadaan menempelnya plasenta diotot rahim. Faktor resiko
terjadinya plsenta accrete pada ibu yang mengalami persalinan yang berulang, ibu berusia > 35
tahun dan ibu yang pernah operasi (operasinya meninggalkan bekas yang menyebabkan
menempelnya plasenta).
4) Vasa Previa

Vasa Previa adala keadaan pembuluh darah di selaput ketuban berada di mulut rahim (osteum
uteri) jika pecah dapat menimbulkan perdarahan banyak yang membahayakan janin dan
ibunya.Untuk menguraangi risiko pada ibu dan janin maka persalinan dilakukan dengan operasi.
e. Permintaan pasien
Persalinan seksio sesarea atas permintaan ibu memiliki sejumlah konsep etika yang telah
diperdebatkan.Menurut Bewley dan Cockburn, mereka membantah bahwa konsep persalinan
sesarea dengan permintaan kurang memilki kepentingan etika dan medik. Ahli lain
menyimpulkan bahwa bukti yang ada tidak mendukung permintaan persalinan seksio sesarea
yang rutin. Namun, hal tersebut secara etis tidak mendukung keputusan obstetric untuk
menyetujui permohonan pasien untuk permintaan pelahiran sesarea.Adapun alasan ibu meminta
persalinan dengan seksio sesarea adalah untuk mengindari cedera dasar panggul saat persalinan
pervaginam, menurunkan risiko cedera janin, menghindari ketidakpastian dan nyeri persalinan,
serta rasa tidak nyaman.

Vakum

Ekstraksi Vakum adalah tindakan obstetrik operatif untuk melahirkan kepala janin dengan
menggunakan “mangkuk hampa udara” yang ditempelkan pada kulit kepala janin dari seorang
parturien yang masih memiliki tenaga meneran.

Indikasi Konvensional:

Mempersingkat kala II pada keadaan :

1. Ibu tidak boleh meneran terlalu lama pada kala II akibat kondisi obstetri tertentu (pre
eklampsia berat, anemia, diabetes mellitus, eklampsia)
2. Kondisi obstetri tertentu :
1. Riwayat SC
2. Kala II memanjang
3. Maternal distress pada kala II
4. Gawat janin pada kala II dengan syarat :
1. Perjalanan persalinan normal
2. Fasilitas sectio caesar sudah siap

Kontraindikasi Absolute :

 Disproporsi sepalo-pelvik .
 Operator tidak dapat mengenali denominator dengan baik
 Operator tidak kompeten untuk melakukan ekstraksi vakum.
 Kelainan letak :
o Presentasi Muka
o Letak Dahi
o Presentasi Lintang
o “After coming head” pada presentasi sungsang

Kontraindikasi Relatif:
1. Pasca pengambilan sediaan darah dari kulit kepala janin.

2. Prematuritas

 Kecuali pada persalinan gemelli anak ke II dimana persalinan hanya memerlukan traksi
ringan akibat sudah adanya dilatasi servix dan vagina.
 Dikhawatirkan terjadi trauma intrakranial, perdarahan intrakranial , ikterus neonatorum
berat.

3. IUFD

 Oleh karena : tidak dapat terbentuk kaput.


 Pada janin maserasi, kranium sangat lunak sehingga pemasangan mangkuk menjadi sulit.

4. Kelainan kongenital janin yang menyangkut kranium : anensephalus

Syarat ekstraksi vakum

1. Janin diperkirakan dapat lahir pervaginam.


2. Pembukaan sekurang - kurangnya 7 cm ( idealnya adalah dilatasi lengkap ).
3. Penurunan kepala > station 0 ( idealnya adalah setinggi Hodge III + )
4. Selaput ketuban negatif.
5. Harus ada kekuatan meneran ibu dan kontraksi uterus (HIS )

Kriteria Kegagalan Ekstraksi Vakum:

1. Cawan penghisap terlepas lebih dari 3 kali saat melakukan traksi dan hal ini biasanya
terjadi oleh karena :
1. Tenaga vakum terlampau rendah (seharusnya -0.8 kg/cm2) oleh karena kerusakan
pada alat atau pembentukan caput succedaneum yang terlampau cepat ( < 0.2
kg/cm2 per 2 menit)
2. Terdapat selaput ketuban atau bagian jalan lahir yang terjepit diantara cawan
penghisap dengan kepala anak.
3. Saat melakukan traksi : kedua tangan penolong tidak bekerja secara harmonis,
traksi dengan arah yang tidak tegak lurus dengan bidang cawan penghisap atau
traksi dilakukan dengan tenaga yang berlebihan.
4. Terdapat gangguan pada imbang sepalopelvik (CPD)
2. Setelah dilakukan traksi selama 30 menit, janin belum dapat dilahirkan.

KOMPLIKASI

Pada Ibu :

 Perdarahan
 Infeksi jalan lahir
 Trauma jalan lahir
Pada anak :

 Ekskoriasi dan nekrosis kulit kepala


 Cephal hematoma
 Subgaleal hematoma
 Perdarahan intrakranial
 Perdarahan subconjuntiva, perdarahan retina
 Fraktura klavikula
 Distosia bahu
 Cedera pada syaraf cranial ke VI dan VII
 Erb paralysa
 Kematian janin

Keunggulan ekstraktor vakum dibandingkan ekstraksi cunam:

1. Tehnik pelaksanaan relatif lebih mudah


2. Tidak memerlukan anaesthesia general
3. Ukuran yang akan melewati jalan lahir tidak bertambah (cawan penghisap tidak
menambah ukuran besar bagian anak yang akan melwati jalan lahir)
4. Trauma pada kepala janin relatif rendah

Kerugian ekstraktor vakum dibandingkan ekstraksi cunam:

1. Proses persalinan membutuhkan waktu yang lebih lama.


2. Tenaga traksi pada ekstraktor vakum tidak sekuat ekstraksi cunam.
3. Pemeliharaan instrumen ekstraktor vakum lebih rumit.
4. Ekstraktor vakum lebih sering menyebabkan icterus neonatorum.

Berbagai rekomendasi berkaitan dengan tindakan ekstraksi vakum :

1. Klasifikasi persalinan dengan ekstraksi vakum hendaknya menggunakan klasifikasi yang


sama dengan ekstraksi cunam.
2. Indikasi dan kontraindikasi yang dipakai dalam ekstraksi cunam hendaknya juga
digunakan pada ekstraksi vakum.
3. Ekstraksi vakum tidak boleh dilakukan pada kepala yang masih belum engage atau diatas
station 0.
4. Operator hendaknya memiliki pengalaman yang cukup dalam menggunakan peralatan
ekstraksi vakum.
5. Operator harus segera menghentikan usaha persalinan pervaginam dengan ekstraksi
vakum bila cawan penghisap terlepas sampai 3 kali saat melakukan traksi.
Nama : Putri Desti Juita S

NIM: 2013730174

8. Apakah ada hubungan riwayat dahulu dengan riwayat kehamilan sekarang?

Jawab:

Pada skenario pasien pernah melakukan persalinan seksio sesar atas indikasi plasenta previa.

Plasenta Previa
Plasenta merupakan bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai bentuk bundar dengan
ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500 gram. Plasenta merupakan
organ yang sangat aktif dan memiliki mekanisme khusus untuk menunjang pertumbuhan dan
ketahanan hidup janin. Hal ini termasuk pertukaran gas yang efisien, transport aktif zat-zat
energi, toleransi imunologis terhadap imunitas ibu pada alograft dan akuisisi janin. Melihat
pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan
kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Salah satu kelainan pada plasenta
adalah kelainan implantasi atau disebut dengan plasenta previa Plasenta previa adalah keadaan
dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga
menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya
bagian terendah sering kali terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) atau menimbulkan
kelainan janin dalam rahim. Pada keadaan normal plasenta umumnya terletak di korpus uteri
bagian depan atau belakang agak ke arah fundus uteri.

Klasifikasi Plasenta Previa


Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui
pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, karena klasifikasi tidak didasarkan pada
keadaan anatomi melainkan pada keadaan fisiologis yang dapat berubah-ubah, maka
klasifikasi ini dapat berubah setiap waktu misalnya pada pembukaan yang masih
kecil, seluruh pembukaan yang lebih besar, keadaan ini akan menjadi plasenta previa
lateralis. Ada juga penulis yang menganjurkan bahwa menegakkan diagnosa sewaktu
“moment opname” yaitu saat penderita diperiksa (Mochtar, 2002).

 Menurut De Snoo

Klasifikasi plasenta previa menurut De Snoo dalam Mochtar (2002),


berdasarkan pembukaan 4-5 cm dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Plasenta previa sentralis (totalis), bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta
menutupi seluruh ostium.
2. Plasenta previa lateralis, bila pada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan
ditutupi oleh plasenta, dapat dibagi menjadi:
a. Plasenta previa lateralis posterior, bila sebagian menutupi ostium bagian
belakang.
b. Plasenta previa lateralis anterior, bila sebagian menutupi ostium bagian depan
c. Plasenta previa lateralis marginalis, bila sebagian kecil atau hanya pinggir
ostium yang ditutupi plasenta.

 Menurut Browne

Klasifikasi plasenta previa menurut Browne dalam Mochtar (2002) yaitu :


1. Tingkat 1 = Lateral plasenta previa
Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim, namun tidak
sampai ke pinggir pembukaan.
2. Tingkat 2 = Marginal plasenta previa.
Plasenta mencapai pinggir pembukaan
3. Tingkat 3 = Complete plasenta previa

Plasenta menutupi ostium waktu tertutup, dan tidak menutupi bila


pembukaan hampir lengkap.
4. Tingkat 4 = Central plasenta previa
Plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap.
Secara umum plasenta previa dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
1. Plasenta previa totalis
Apabila jaringan plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum.
2. Plasenta previa parsialis
Yaitu apabila jaringan plasenta menutupi sebagian ostium uteri internum.
3. Plasenta previa marginalis
Yaitu plasenta yang tepinya terletak pada pinggir ostium uteri internum.
4. Plasenta previa letak rendah
Apabila jaringan plasenta berada kira-kira 3-4 cm di atas ostium uteri internum,
pada pemeriksaan dalam tidak teraba (Prawirohardjo, 2008).

Gambar 2.1 Implantasi plasenta normal Gambar 2.2 Plasenta previa letak rendah
Gambar 2.3 Plasenta previa parsialis Gambar 2.4 Plasenta previa totalis

Dari semua klasifikasi plasenta previa, frekuensi plasenta previa totalis


sebesar 20-45%, plasenta previa parsialis sekitar 30% dan plasenta previa marginalis
sebesar 25-50% (Anurogo, 2008).

 Faktor-faktor Risiko Terjadinya Plasenta Previa

Penyebab plasenta previa belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa
faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa, antara lain :
1. Umur
2. Banyaknya jumlah kehamilan dan persalinan (paritas)
3. Hipoplasia endometrium
4. Korpus luteum bereaksi lambat
5. Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium
6. Endometrium cacat, seksio cesarea, kuretase, dan manual plasenta
7. Kehamilan kembar
8. Riwayat plasenta previa sebelumnya (Mochtar, 2002).

 Umur ibu

Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa umur aman untuk
kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Wanita pada umur kurang dari 20
tahun mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa karena
endometrium masih belum matang, dan kejadian plasenta previa juga sering terjadi
pada ibu yang berumur di atas 35 tahun karena tumbuh endometrium yang kurang
subur (Prawirohardjo, 2008).
Menurut Santoso (2008) berdasarkan penelitiannya di RS dr. Hasan Sadikin
Bandung dalam kurun waktu Januari 1998 - Desember 2002, mengatakan bahwa
semakin tua umur ibu maka kemungkinan untuk mendapatkan plasenta previa
semakin besar, pada ibu yang melahirkan dengan usia di atas 40 tahun berisiko 2,6
kali untuk terjadinya plasenta previa.

 Paritas

Para merupakan seorang wanita yang pernah melahirkan bayi aterm. Beberapa
istilah yang berkaitan dengan paritas yaitu (1) primipara adalah seorang wanita yang
pernah melahirkan bayi aterm sebanyak satu kali, (2) multipara adalah wanita yang
pernah melahirkan bayi hidup beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak lebih
dari lima kali, dan (3) grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi
aterm lebih dari lima kali (Manuaba, 2005).
Plasenta previa lebih sering pada paritas tinggi dari paritas rendah (Manuaba,
2004). Paritas 1-3 merupakan paritas paling aman bila ditinjau dari sudut kematian
ibu. Paritas lebih dari 3 dapat menyebabkan angka kematian ibu tinggi (Mochtar,
2002).
Menurut Wardana (2007) plasenta previa terjadi 1,3 kali lebih sering pada ibu
yang sudah beberapa kali melahirkan dari pada ibu yang baru sekali melahirkan
(Primipara), sedangkan hasil penelitian Santoso (2008) di rumah sakit dr. Hasan
Sadikin Bandung dalam kurun waktu Januari 1998 – Desember 2002, kehamilan
multipara mempunyai risiko 1,28 kali untuk terjadinya plasenta previa, demikian juga
dengan grandemultipara.

 Riwayat kehamilan/persalinan

Persalinan yang dialami oleh ibu dengan persalinan prematur, keguguran,


bekas persalinan berulang dengan jarak pendek, persalinan dengan berat badan lahir
rendah (BBLR), bayi lahir mati, cedera dalam uterus atau jalan lahir yang
ditimbulkan oleh proses kehamilan dan persalinan terdahulu dapat berakibat buruk
pada kehamilan yang sedang dialami (Mochtar, 2002).

Di Amerika Serikat tahun 1997 telah menunjukkan bahwa ibu dengan riwayat

Seksio Caesar minimal satu kali mempunyai risiko 2,6 kali untuk menjadi plasenta previa
pada kehamilan berikutnya (Santoso, 2008).

 Gambaran Klinik

Gambaran klinik plasenta previa adalah sebagai berikut :


1. Perdarahan pervaginam
Darah berwarna merah terang pada umur kehamilan trimester kedua atau awal
trimester ketiga merupakan tanda utama plasenta previa. Perdarahan pertama
biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat fatal, tetapi perdarahan
berikutnya hampir selalu lebih banyak dari perdarahan sebelumnya.
2. Tanpa alasan dan tanpa nyeri
Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan tanpa nyeri
yang biasanya baru terlihat setelah kehamilan mendekati akhir trimester kedua
atau sesudahnya.
3. Pada ibu, tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang, perdarahan
yang sedikit demi sedikit atau dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat,
dapat menimbulkan anemia sampai syok.
4. Pada janin, turunnya bagian terbawah janin ke dalam Pintu Atas panggul (PAP)
akan terhalang, tidak jarang terjadi kelainan letak janin dalam rahim, dan dapat
menimbulkan aspiksia sampai kematian janin dalam rahim (Manuaba, 2005).

Cara Persalinan
Pada umumnya yang menentukan tindakan dalam memilih cara persalinan
yang terbaik tergantung dari (Mochtar, 2002) :
1. Jenis plasenta previa
2. Paritas
3. Jumlah perdarahan : banyak atau sedikit,
4. Keadaan umum ibu
5. Keadaan janin: hidup, gawat, atau meninggal
6. Pembukaan jalan lahir
7. Fasilitas penolong dan rumah sakit
Setelah memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas, ada dua pilihan
persalinan, yaitu :

 Persalinan pervaginam

Persalinan pervaginam bertujuan agar bagian terbawah janin menekan


plasenta sehingga perdarahan berkurang atau berhenti.
Persalinan pervaginam dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :
a. Amniotomi (pemecahan selaput ketuban)
Pemecahan selaput ketuban adalah cara yang terpilih untuk melancarkan
persalinan pervaginam, karena bagian terbawah janin akan menekan plasenta
yang berdarah, persalinan berlangsung lebih cepat, dan bagian plasenta yang
berdarah dapat bebas mengikuti cincin gerakan dan regangan segmen bawah
rahim.
Amniotomi dilakukan dengan indikasi :
1. Plasenta previa lateralis atau marginalis atau letak rendah, bila telah ada
pembukaan.
2. Pada primigravida dengan plasenta previa lateralis atau marginalis dengan
pembukaan 4 cm atau lebih.
3. Plasenta previa lateralis/marginalis dengan janin yang sudah meninggal
(Mochtar, 2002).
Tindakan yang dapat dilakukan bidan pada kasus plasenta previa adalah
dengan cara :
1. Pasang infus dengan cairan pengganti (chloret, laktat ringer, glukosa ringer)
2. Jangan melakukan pemeriksaan dalam karena akan berakibat perdarahan
bertambah banyak.
3. Segera melakukan tindakan rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas yang
cukup untuk tindakan operasi dan sebagainya.
Pada kasus prematurus, setelah pemeriksaan dilakukan pemecahan ketuban
untuk menghentikan perdarahan. Tekanan bagian terendah janin akan menekan
plasenta previa sehingga perdarahan berhenti (Manuaba, 2008).

 Persalinan perabdominam, dengan seksio cesarea

Persalinan dengan seksio cesarea bertujuan untuk secepatnya mengangkat


sumber perdarahan dengan demikian memberikan kesempatan kepada uterus untuk
berkontraksi menghentikan perdarahannya dan untuk menghindari perlukaan serviks
dan segmen-segmen uterus apabila dilakukan persalinan pervaginam (Prawirohardjo,
2008).
Seksio cesarea dilakukan dengan indikasi :
a. Semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau meninggal
b. Semua plasenta previa lateralis posterior, karena perdarahan yang sulit
dikontrol dengan cara-cara yang ada.
c. Semua plasenta previa dengan perdarahan yang banyak dan tidak berhenti
dengan tindakan-tindakan yang ada.
d. Plasenta previa dengan panggul sempit, letak lintang (Mochtar, 1998).

 Komplikasi Plasenta Previa

Ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada ibu hamil yang menderita
plasenta previa, yaitu :
1. Komplikasi pada ibu
a. Dapat terjadi anemia bahkan syok
b. Dapat terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh
c. Infeksi karena perdarahan yang banyak (Manuaba, 2008).
2. Komplikasi pada janin
a. Kelainan letak janin.
b. Prematuritas dengan morbiditas dan mortalitas tinggi
c. Asfiksia intra uterin sampai dengan kematian (Manuaba, 2008).

 Prognosis

Prognosis ibu pada plasenta previa dewasa ini lebih baik jika dibandingkan
dengan masa lalu. Hal ini dikarenakan diagnosa yang lebih dini, ketersediaan
transfusi darah, dan infus cairan yang telah ada hampir semua rumah sakit kabupaten.
Demikian juga dengan kesakitan dan kematian anak mengalami penurunan, namun
masih belum terlepas dari komplikasi kelahiran prematur baik yang lahir spontan
maupun karena intervensi seksio cesarea. Karenanya kelahiran prematur belum
sepenuhnya bisa dihindari sekalipun tindakan konservatif diberlakukan
(Prawirohardjo, 2008).
Pada skenario pasien pernah melakukan persalinan seksio sesar dengan indikasi plasenta
previa pada 3 tahun yang lalu, namun tidak dijelaskan anak ke berapa yang mengalami
persalinan seksio sesar tersebut. Pada keterangan diatas bahwa kehamilan multipara
mempunyai risiko 1,28 kali untuk terjadinya plasenta previa. Dan menurut penelitian di
Amerika serikat jika pasien mempunyai riwayat Seksio Caesar minimal satu kali,maka
mempunyai risiko 2,6 kali untuk menjadi plasenta previa berikutnya. Hubungannya dengan
kehamilan yang sekarang, belum tentu ada hubungannya pasien masih dapat melakukan
persalinan normal,namun kemungkinan akan ada komplikasi jika dilakukan persalinan
normal dikarenakan melihat faktor risiko dari riwayat yang pernah dialami pasien.
Nama : Citra Anestya

NIM: 2013730132

9. Jelaskan hubungan kondisi kehamilan pada skenario!


Jawab:
Menentukan usia kehamilan :

Gambaran Tinggi Fundus Uteri (TFU) Dikonversikan dengan Usia Kehamilan (UK)
Keterangan:

 Pada usia kehamilan 12 minggu, fundus dapat teraba 1-2 jari di atas simpisis
 Pada usia kehamilan 16 minggu, fundus dapat teraba di antara simpisis dan pusat
 Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah pusat
 Pada usia kehamilan 24 minggu, fundus dapat teraba tepat di pusat
 Pada usia kehamilan 28 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di atas pusat
 Pada usia kehamilan 32 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara Prosesus
Xyphoideus dan pusat
 Pada usia kehamilan 36 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah Prosesus Xyphoideus
 Pada usia kehamilan 40 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara Prosesus
Xyphoideus dan pusat.

Berdasarkan keterangan tinggi fundus uteri berdasarkan usia kehamilan, pada pasien dalam
keadaan usia kehamilan 38 minggu dan fundus uteri teraba 3 jari dibawah processus xyphoideus
masih dapat dikategorikan sebagai normal. Tetapi dalam keadaan ini, pasien sudah dalam
keadaan fundus uteri teraba 3 jari dibawah processus xyphoideus . Pada kehamilan, jika fundus
uteri sudah teraba 3 jari dibawah processus xyphoideus menandakan bahwa kepala janin sudah
masuk kedalam rongga panggul.

Pada pasien, usia kehamilan berada pada 38 minggu dengan taksiran berat janin 2900 gram.
Berdasarkan berat janin pada table usia kehamilan, usia kehamilan 38 minggu dengan berat 2900
gram masih dapat dikategorikan sebagai berat janin yang normal. Dari segi tinggi fundus uteri
yang berada 3 jari dibawah processus xyphoideus dikatakan normal karena usia kehamilan 38
minggu sudah termasuk kedalam kehamilan aterm/ cukup bulan.
Nama : Fania Liahsani

NIM: 2013730142

10. Jelaskan komplikasi – komplikasi yang terjadi pada persalinan !


Jawab:
Atonia Uteri

Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana myometrium tidak dapat berkontraksi dan bila
ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya plasenta menjadi tidak
terkendali. Pada kehamilan cukup bulan aliran darah ke uterus sebanyak 500-800 cc/menit. Jika
uterus tidak berkontraksi dengan segera setelah kelahiran plasenta, maka ibu dapat mengalami
perdarahan sekitar 350-500 cc/menit dari bekas tempat melekatnya plasenta. Bila uterus
berkontraksi maka miometrium akan menjepit anyaman pembuluh darah yang berjalan diantara
serabut otot tadi (JNPK/ Jaringan Nasional Pelatihan Klinik, 2007).
Beberapa faktor predisposisi yang terkait dengan perdarahan pasca persalinan yang disebabkan
oleh atonia uteri adalah;
a) uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan.
b) Kala I atau II yang memanjang.
c) Persalinan cepat (partus presipitatus).
d) Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin (augmentasi).
e) Infeksi intrapartum.
f) Multiparitas tinggi.
g) Magnesium sulfat digunakan untuk mengendalikan kejang pada preeklampsia/eklampsia
(JNPK, 2007).

Atonia uteri menjadi penyebab lebih dari 90% perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24
jam setelah kelahiran bayi (JNPK, 2007).
Atonia uteri dapat terjadi sebagai akibat dari terjadinya ;
a) Partus lama.
b) Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil; seperti pada
kehamilan kembar, hidramnion atau janin besar.
c) Multiparitas.
d) Anestesi yang dalam.
e) Anestesi lumbal.

Atonia uteri juga dapat terjadi karena salah dalam penanganan kala III persalinan, dengan cara
memijat uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang
sebenarnya belum terlepas dari uterus (Wiknjosastro,2002).
a. Diagnosis

Perdarahan pasca presalinan ditandai juga dengan timbulnya perdarahan banyak dalam waktu
pendek. Tetapi bila perdarahan sedikit dalam waktu lama, tanpa disadari penderita telah
kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat. Nadi serta pernapasan menjadi lebih cepat
dan tekanan darah menurun. Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak
10% dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik, gejala tersebut baru tampak pada
kehilangan darah 20%. Jika perdarahan berlangsung terus, dapat timbul syok.

Diagnosis perdarahan pasca persalinan dipermudah apabila pada tiap-tiap persalinan - setelah
anak lahir, secara rutin diukur pengeluaran darah dalam kala III dan 1 jam sesudahnya.

Apabila terjadi perdarahan pasca persalinan dan plasenta belum lahir, perlu diusahakan untuk
melahirkan plasenta dengan segera. Jikalau plasenta sudah lahir, perlu dibedakan antara
perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan akibat perlukaan jalan lahir. Pada perdarahan
karena atonia, uterus membesar dan lembek pada palpasi, sedangkan pada perdarahan akibat
perlukaan, uterus berkontraksi dengan baik. Dalam hal uterus berkontraksi dengan baik perlu
diperiksa lebih lanjut tentang adanya dan dimana letaknya perlukaan dalam jalan lahir. Pada
persalinan di rumah sakit, dengan fasilitas yang baik untuk melakukan transfusi darah,
seharusnya kematian karena perdarahan pasca persalinan dapat dicegah. Tetapi kematian tidak
selalu dapat dihindarkan, terutama apabila penderita masuk rumah sakit dalam keadaan syok
karena sudah kehilangan darah banyak. Perdarahan pasca persalinan merupakan sebab utama
kematian dalam persalinan (Wiknjosastro, 2002).
b. Penanganan Atonia Uteri

Anemia dalam kehamilan harus diobati karena perdarahan dalam batas-batas normal dapat
membahayakan penderita yang sudah menderita anemia. Apabila sebelumnya penderita sudah
pernah mengalami perdarahan pasca persalinan, persalinan harus berlangsung di rumah sakit.
Kadar fibrinogen perlu diperiksa pada perdarahan banyak, kematian janin dalam uterus dan
solusio plasenta (Wiknjosastro, 2002).

Langkah berikutnya dalam upaya mencegah atonia uteri ialah melakukan penanganan kala tiga
secara aktif, yaitu;

1) Menyuntikan Oksitosin; sebelum menyuntikkan oksitosin lakukakan terlebih dahulu


pemeriksaan fundus uteri untuk memastikan kehamilan tunggal. Selanjutnya suntikkan oksitosin
10 IU secara intramuskuler pada bagian luar paha kanan 1/3 atas setelah melakukan aspirasi
terlebih dahulu.

2) Peregangan Tali Pusat Terkendali; peregangan tali pusat ini dilakukan dengan memindahkan
klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva atau menggulung tali pusat. Meletakan
tangan kiri di atas simpisis menahan bagian bawah uterus, sementara tangan kanan memegang
tali pusat menggunakan klem atau kain kasa dengan jarak 5-10 cm dari vulva. Saat uterus
kontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan sementara tangan kiri menekan uterus
dengan hati-hati ke arah dorso-kranial. Tindakan selanjutnya yang dapat dilakukan adalah
dengan mengeluarkan plasenta; jika dengan penegangan tali pusat terkendali, tali pusat terlihat
bertambah panjang dan terasa adanya pelepasan plasenta, minta ibu untuk meneran sedikit
sementara tangan kanan menarik tali pusat ke arah bawah kemudian ke atas sesuai dengan kurve
jalan lahir hingga plasenta tampak pada vulva.

Bila tali pusat bertambah panjang tetapi plasenta belum lahir, pindahkan kembali klem hingga
berjarak ± 5-10 cm dari vulva. Bila plasenta belum lepas setelah mencoba langkah tersebut
selama 15 menit, suntikkan ulang 10 IU Oksitosin intramuskuler . kemudian periksa kandung
kemih dan lakukan kateterisasi bila penuh, tunggu 15 menit, bila belum lahir lakukan tindakan
plasenta manual.

Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hatihati. Bila terasa
ada tahanan, penegangan plasenta dan selaput secara perlahan dan sabar untuk mencegah
robeknya selaput ketuban.

3) Masase Uterus; segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan
menggosok fundus secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga
kontraksi uterus baik (fundus teraba keras).

Kemudian dilakukan pemeriksaan kemungkinan adanya perdarahan pasca persalinan;


kelengkapan plasenta dan ketuban; kontraksi uterus dan perlukaan jalan lahir (Hadijono, 2006).

Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelahdilakukan taktil (masase)
fundus uteri, maka sebaiknya segera lakukan langkahlangkah berikut :

a. Bersihkan bekuan darah dan/atau selaput ketuban dari vagina dan lubang serviks yang dapat
menghalangi uterus berkontraksi dengan baik.
b. Pastikan bahwa kandung kemih kosong. Jika penuh dan dapat dipalpasi,
lakukan katerisasi dengan menggunakan teknik aseptik sehingga uterus berkontraksi secara baik.

c. Lakukan kompresi bimanual internal selama 5 menit untuk memberikan tekanan langsung
pada pembuluh darah dinding uterus dan juga merangsang miometrium untuk berkontraksi, jika
kompresi bimanual tidak berhasil setelah 5 menit, maka diperlukan tindakan lain. Anjurkan
keluarga untuk mulai membantu melakukan kompresi bimanual eksternal.
e. Keluarkan tangan perlahan-lahan.
f. Berikan ergometrin 0,2 mg secara intramuskular (kontraindikasi hipertensi) atau misoprostol
600-1000 mcg, sehingga dalam 5-7 menit kemudian uterus akan berkontraksi.
g. Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 cc Ringer Laktat + 20
unit oksitosin. Habiskan 500 cc pertama secepat mungkin, sehingga dapat membantu
memulihkan volume cairan yang hilang selama perdarahan dan merangsang kontraksi uterus.
h. Ulang kompresi bimanual internal agar uterus berkontraksi dengan baik.

i. Rujuk segera. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 1 sampai 2 menit, hal ini
menunjukkan bukan atonia sederhana, sehingga ibu membutuhkan perawatan gawat darurat di
fasilitas yang mampu melaksanakan tindakan bedah dan transfusi darah.
j. Dampingi ibu ke tempat rujukan dan teruskan melakukan kompresi bimanual internal.

k. Lanjutkan pemberian Ringer Laktat + 20 unit oksitosin dalam 500 cc larutan dengan laju
500/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga menghabiskan 1,5 L infus. Kemudian berikan
125 cc/ jam (JNPK, 2007).

2. Robekan Jalan Lahir


Laserasi spontan pada vagina atau perineum dapat terjadi saat kepala dan bahu dilahirkan.
Kejadian laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan terlalu cepat dan tidak terkendali (JNPK,
2007). Perdarahan dalam keadaan di mana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik,
dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir (Hadijono, 2006).
Cedera selama kelahiran merupakan penyebab perdarahan postpartum kedua terbanyak
ditemukan. Selama kelahiran pervaginam, laserasi pada serviks dan vagina dapat terjadi secara
spontan tetapi lebih sering ditemukan setelah penggunaan forsep atau ekstraktor vakum. Dinding
pembuluh darah dalam jalan lahir mengembang selama kehamilan dan dapat terjadi perdarahan
yang banyak. Laserasi terutama cenderung terjadi pada perineum, di daerah periuretral, dan pada
iskiadikus spinalis disepanjang aspek-aspek posterolateral vagina. Serviks dapat menyebabkan
laserasi pada dua sudut lateral sementara terjadi dilatasi yang cepat dalam tahap pertama
persalinan (Hacker, 2001).
a. Klasifikasi Klinis
1. Robekan perineum

Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada
persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga jangan
sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat. Sebaliknya kepala janin yang akan
lahir jangan ditahan terlalu kuat dan lama, karena akan menyebabkan asfiksia dan perdarahan
dalam tengkorak janin serta melemahkan otot-otot maupun fasia pada dasar panggul karena
diregangkan terlalu lama. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi
luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa sehingga
kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah
panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipitobregmatika, atau
anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal. Apabila mukosa vagina, komisura posterior, kulit
perineum yang robek dinamakan robekan perineum tingkat satu. Pada robekan tingkat dua,
mukosa vagina, komisura posterior. Kulit perineum dan otot perineum. dan pada robekan tingkat
tiga sampai pada otot spinter Sedangkan robekan tingkat empat, bisa sampai mukosa rektum
(JNPK,200
2. Robekan dinding vagina

Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak seberapa sering terdapat.
Mungkin ditemukan sesudah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi
dengan cunam, lebih-lebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan terdapat pada dinding
lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan dengan spekulum. Perdarahan biasanya banyak, tetapi
mudah diatasi dengan jahitan. (Wiknjosastro, 2002).
3. Robekan serviks

Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks, sehingga serviks seorang multipara berbeda
daripada yang belum pernah melahirkan pervaginam. Robekan serviks biasanya terdapat di
pinggir samping serviks bahkan kadang-kadang sampai ke segmen bawah rahim dan membuka
parametrium. Robekan yang sedemikian dapat membuka pembuluh-pembuluh darah yang besar
dan menimbulkan perdarahan yang hebat. Robekan semacam ini biasanya terjadi pada persalinan
buatan; ekstraksi dengan forsep; ekstraksi pada letak sungsang, versi dan ekstraksi, dekapitasi,
perforasi, dan kranioklasi terutama jika dilakukan pada pembukaan yang belum lengkap
(Sastrawinata, 2004).
4. Ruptura uteri

Ruptura uteri atau robekan uterus merupakan peristiwa yang sangat berbahaya, yang umumnya
terjadi pada persalinan, kadang-kadang juga pada kehamilan tua. Robekan pada uterus dapat
ditemukan untuk sebagian besar pada bagian bawah uterus. Pada robekan ini kadang-kadang
vagina atas ikut serta pula. Apabila robekan tidak terjadi pada uterus melainkan pada vagina
bagian atas, hal ini dinamakan kolpaporeksis. Kadang-kadang sukar membedakan antara ruptura
uteri dan kolpaporeksis. Apabila pada ruptura uteri peritoneum pada permukaan uterus ikut
robek, hal ini dinamakan ruptura uteri komplet, jika tidak disebut ruptura uteri inkomplet.
Pinggir ruptura biasanya tidak rata, letaknya pada uterus melintang, atau membujur, miring, dan
bisa agak ke kiri atau ke kanan.

Menurut cara terjadinya ruptura uteri terbagi atas; 1) Ruptur uteri spontan, 2) Ruptur uteri
traumatik, 3) Ruptur uteri pada parut uterus (Wiknjosastro, 2002).
b. Penanganan Robekan Jalan Lahir
Berikan anastesi lokal pada setiap ibu yang memerlukan penjahitan robekan jalan lahir atau
episiotomi. Jelaskan pada ibu apa yang akan dilakukan dan bantu ibu merasa santai.
1. Ruptura perineum dan robekan dinding vagina
Lakukan penjahitan laserasi pada perineum:

1) Cuci tangan secara seksama dan gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
Ganti sarung tangan jika sudah terkontaminasi, atau jika tertusuk jarum maupun peralatan tajam
lainnya.

2) Pastikan bahwa peralatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk melakukan penjahitan
sudah didisinfeksikan tingkat tinggi atau steril.

3) Setelah memberikan anastesi lokal dan memastikan bahwa daerah tersebut sudah di anastes,
telusuri dengan hati-hati menggunakan satu jari untuk secara jelas menentukan batas-batas luka.
Dekatkan tepi laserasi untuk menentukan bagaimana cara menjahitnya menjadi satu dengan
mudah.

4) Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm diatas ujung laserasi di bagian dalam vagina. Setelah
membuat tusukan pertama, buat ikatan dan potong pendek benang yang lebih pendek dari ikatan.
5) Tutup Mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah kearah cincin himen.

6) Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina lalu ke bawah cincin
himen sampai jarum ada di bawah laserasi. Periksa bagian antara jarum di perineum dan bagian
atas laserasi. Perhatikan sebarapa dekat jarum ke puncak luka.

7) Teruskan kearah bawah tapi tepat pada luka, menggunakan jahit jelujur, hingga mencapai
bagian bawah laserasi. Pastikan bahwa jarak setiap jahitan sama dan otot yang terluka telah di
jahit. Jika laserasi meluas ke dalam otot, mungkin perlu untuk melakukan satu atau dua lapis
jahitan terputus-putus untuk menghentikan perdarahan dan/atau mendekatkan jaringan tubuh
secara efektif.

8) Setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas dan teruskan penjahitan, menggunakan
jahitan jelujur untuk menutup lapisan subkuticuler. Jahitan ini akan menjadi jahitan lapisan
kedua. Periksa lubang bekas jarum tetap terbuka berukuran 0,5 cm dan kurang. Luka ini akan
menutup dengan sendirinya pada saat penyembuhan luka.

9) Tusukkan jarum dari robekan perineum ke dalam vagina. Jarum harus keluar dari belakang
cincin himen.

10) Ikat benag dengan membuat simpul di dalam vagina. Potong ujung benang dan sisakan
sekitar 1,5 cm.

11) Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut untuk memastikan bahwa tidak ada kasa atau
peralatan yang tertinggal di dalam.
12) Dengan lembut masukkan jari paling kecil kedalam anus. Raba apakah ada jahitan pada
rektum. Jika ada jahitan teraba, ulangi periksa rektum enam minggu pasca persalinan. Jika
penyembuhan belum sempurna (misalkan jika ada fistula rektovagina atau ibu melaporkan
inkotensia alvi atau feses), ibu segera rujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.

13) Cuci daerah genital dengan lembut dengan sabun dan air disinfeksi tingkat tinggi, kemudian
keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang lebih nyaman.
14) Nasehati ibu untuk :
- Menjaga perineumnya selalu bersih dan kering.
- Hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineum.
- Cuci perineum dengan sabun dan air bersih yang mengalir tiga sampai empat kali perhari.

- Kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan lukanya. Ibu harus kembali lebih
awal jika ia mengalami demam atau mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanya
atau jika
daerah tersebut menjadi lebih nyeri (JNPK, 2007).

3. Retensio Plasenta
Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu
30 menit setelah bayi lahir (Saifuddin, 2001).
Menurut tingkat perlekatannya retensio plasenta terbagi atas beberapa bagian, antara lain adalah;

a. Plasenta adhesiva, yaitu implantasi yang kuat dari jojot korion plasenta sehingga menyebabkan
kegagalan mekanisme separasi fisiologis.

b. Plasenta akreta, yaitu implantasi jojot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan
miometrium.
c. Plasenta inkreta, yaitu implantasi jojot korion plasenta hingga mencapai atau memasuki
miometrium.

d. Plasenta perkreta, yaitu implantasi jojot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga
mencapai lapisan serosa dinding uterus.

e. Plasenta inkarserata, yaitu tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh
kontriksi ostium uteri (Saifuddin, 2001).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta, antara lain adalah;

a. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan tidak
efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta pembentukan constriction
ring.
b. Kelainan dari plasenta dan sifat pelekatan plasenta pada uterus.

c. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu
sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan

kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktu dapat menyebabkan
serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi (Faisal, 2008).
Kondisi umum yang menjadi penyebab retensio plasenta adalah :
1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh melekat lebih dalam.

2. Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan menyebabkan
perdarahan yang banyak. Atau karena adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim
akibat kesalahan penanganan kala III, yang akan menghalangi plasenta keluar (Plasenta
inkarserata).

Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum penuh, karena itu
keduanya harus dikosongkan (Mochtar, 1998).

a. Penanganan Retensio Plasenta

Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah anak lahir, maka harus diusahakan untuk
mengeluarkannya (Wiknjosastro, 2002). Setelah bayi lahir dilakukan dengan segera manajemen
aktif kala III yaitu:
1. Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir.
2.Melakukan penegangan tali pusat terkendali.
3. Massase fundus uteri.

Bila plasenta tidak lahir dalam 15 menit sesudah bayi lahir, ulangi penatalaksanan aktif
persalinan kala tiga dengan memberikan oksitosin 10 IU intramuskuler dan teruskan
penenganagn tali pusat terkendali dengan hati-hati. Teruskan melakukan penegangan tali pusat
terkendali untuk terakhir kalinya. Jika plasenta masih tetap belum lahir, rujuk segera kerumah
sakit.
Bila terjadi perdarahan, maka plasenta harus segera dilahirkan secara manual.
b. Prosedur Plasenta Manual

1) Berikan cairan IV : Nacl 0,9% atau RL dengan tetesan cepat jarum berlubang besar (16 atau
18G) untuk mengganti cairan yang hilang sampai nadi dan tekanan darah membaik atau kembali
norma.
2) Siapkan peralatan untuk melakukan tehnik manual, yang HARUS dilakukan secara aseptik.
3) Baringkan ibu telentang dengan lutut ditekuk dan kedua kaki ditempat tidur.
4) Jelaskan kepada ibu apa yang akan dilakukan dan jika ada berikan diazepam 10 mg IM.

5) Cuci tangan sampai kebagian siku dengan sabun, air bersih mengalir dan handuk bersih,
gunakan sarung tangan panjang steril/DTT.
6) Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong.
7) Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva, tegangkan dengan
satu tangan sejajar lantai.

8) Secara obstetrik, masukkan tangan lainnya (punggung tangan menghadap kebawah) kedalam
vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat.

9) Setelah mencapai bukaan serviks, mintak seorang asisten/penolong lain untuk memegang
klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus uteri.

10) Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam hingga kekavum uteri sehingga
mencapai tempat implantasi plasenta.

11) Bentangkan tanga obstetrik menjadi datar seperti memberi salam (ibu jari merapat kejari
telunjuk dan jari-jari lain saling merapat).
12) Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plsenta paling bawah.

Bila plsenta berimplantasi di korpus belakang, tali pusat tetap disebalah atas dan disisipkan
ujung jari-jari tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap
ke bawah (posterior ibu)

Bila di korpus depan maka pindahkan tangan kesebalah atas tali pusat dan sisipkan ujung jari-
jari tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap keatas
(anterior ibu)

Setelah ujung-ujung jari masuk diantara plasenta dan dinding uterus makaperluasan pelepasan
plasenta dengan jalan menggeser tangan ke kanan dan kiri sambil digeser keatas (kranial ibu)
hingga semua perleketan plasenta terlepas dari dinding uterus.

14) Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi untuk menilai tidak
ada plasenta yang tertinggal.
15) Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simfisis (tahan segmen bawah uterus) kemudian
instruksikan asisten/penolong untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawa plasenta
keluar.

16) Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan suprasimfisis) uterus kearah dorsokranial
setelah plasenta dilahirkan dan tempatkan plasenta di dalam wadah yang telah disediakan.
17) Dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilepaskan) dan peralatan lainyang digunakan.

18) Lepaskan dan rendam sarung tangan dan peralatan lainnya di dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit.
19) Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir.
20) Keringkan tangan dengan handuk bersih dan kering.
21) Periksa kembali tanda vital ibu.
22) Catat kondisi ibu dan buat laporan tindakan.
23) Tuliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih di perlukan dan asuhan lanjutan.

24) Beritahukan pada ibu dan keluarga bahwa tindakan telah selesai tetapi ibu masih
memerlukan pemantauan dan asuhan lanjutan.
25) Lanjutkan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca tindakan (JNPK, 2007).
c. Rangsang Taktil (masase) Fundus Uteri
Segera setelah plasenta lahir,Lakukan massae fundus uteri:
1) Letakkan telapak tangan pad fundus uteri.

2) Jelaskan tindakan kepada ibu, katakan bahwa ibu mungkin merasa agak tidak nyaman karena
tindakan yang di berikan. Anjurkan ibu untuk menarik nafas dalam, perlahan rileks.
3) Dengan lembut tapi mantap gerakkan tangan dengan arah memutar pada fundus uteri supaya
uterus berkontraksi. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 15 detik, lakukan
penatalaksanaan atonia uteri.
4) Periksa plasenta dan selaputnya untuk memastiakan keduanya lengkap dan utuh:

a. Periksa plasenta sisi maternal untuk memastikan bahwa semuanya lengkap dan utuh (tidak ada
bagian yang hilang).

b. Pasangkan bagian-bagian plasenta yang robek atau terpisah untuk memastikan tidak ada
bagian yang hilang.

c. Periksa plasenta sisi foetal untuk memastiakan tidak adanya kemungkinan lobus tambahan
(suksenturiata).
d. Evaluasi selaput untuk memastikan kelengkapannya.

5) Periksa uterus setelah satu hingga dua menit untuk memastikan uterus berkontraksi . Jika
uterus masih belum berkontraksi baik, ulangi masase fundus uteri. Ajarkan ibu dan keluarganya
cara melakukan masase uterus sehingga mampu untuk segera mengetahui jika uterus tidak
berkontraksi dengan baik.
6) Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap
30 menit selama satu jam kedua pasca persalinan (JNPK, 2007).
Nama : Lisa Nopiyanti

NIM: 2013730149

11. Jelaskan gambaran patograf pada skenario!


Jawab:

Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama persalinan . Tujuan utama pengunaan
partograf adalah untuk 1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dan 2. Mendeteksi
apakah proses persalinan berjalan secara normal . Dengan demikian , dapat dilakuakan deteksi
dini , setiap kemungkinan terjadinya partus lama . Jika digunakan secara tepat dan konsisten ,
partograf akan membantu [enolong persalinan untuk mencatat kemajuan peralsalinan , kondisi
ibu dan janin , asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran , serta mengunakan
informasi yag tercatat sehingga secara dini mengindentifikasi adanya penyulit persalinan dan
membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu . Partograf harus digunakan untuk 1 .
semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sampai kelahiran bayi , sebagai elemen penting
dalam persalinan . 2. Semua tempat pelayanan persalinan 3. Semua penolong persalinan yang
memberikan asuha kepada ibu selama persalinan dan kehamilan .
Halaman depan partograf

Halaman depan partograf mencantukan bahwa observasi yang dimualai dari fase aktif persalinan
,dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil hasil pemeriksaan selama fase aktif
persalian , termasuk :

 Informasi tentang Ibu

Lengkapi bagian awal atas partograf secara teliti pada saat memulai asuhan persalian dengan ;
- Nama , Umur
- Gravida , Para , Abortus
- Nomor catatan medic /nomor puskesmas
- Tanggal dan waktu mulai dirawat

 Waktu pecahnya aselaput ketuban


Perhatikan kemungkiinan ibu datang dalam fase laten persalian .Catat waktu terjadinya
pecah ketuban

 Kondisi janin
- Denyut Jantug Janin (DJJ)
Nilai dan catat denyut jantung janin setiap 30 menit . catat DJJ dengan memberikan
tanda titik pada garis yang sesuai dengan angka yang menunjukan DJJ . Kemudian
hubungkan titik yang satu dengan titik lainnya dengan garis yang tidak terputus .
Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal angka 180 dan 100 .
Akan tetapi , penolong harus sudah waspada bila DJJ dibawah 120 atau diatas 160 .
Catat tindakan tindakan yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu dari kedua
sisi partograf .

- Warna dan Adanya Air Ketuban


Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam dan nilai warna air ketuban
jika selaput ketuban pecah . Catat temuan temuan dalam kotak yang sesuai dari kedua
siis partograf .

U : Ketuban Utuh
J : Ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
M : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium
D :Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
K : Ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban

Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menujukan gawat janin . Jika terdapat
mekonium , pantau DJJ secara seksama untuk mengenali tanda tanda gawat janin
(denyut jantung janin < 100 atau > 180 kali per menit ) , Ibu segera dirujuk ke fasiliasis
kesehatan yang sesuai . Akan tetapi , jika terdapat mekonium kental , segera rujuk ibu ke
tempat yang memiliki asuhan kegawatdaruratan obstetric dan bayi baru lahir .

- Molase (Penyusupan Tulang Kepala Janin )

Penyusupan adalah indicator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat
menyesuaiakan diri dengan bagian keras panggul ibu . Tulang kepala yang saling menyusup
atau tumpang tindih , menunjukan kemungkinan adanya disproposi tulang panggul (Cephalo
Pelvic Disproportion –CPD ) . Ketidakmampuan akomodasi akan benar benar terjadi jika
tulang kepala yag saling menyusup tidak dapat dipisahkan . Apabila ada dugaan disporporsi
tulang panggul , penting sekali untuk tetap memantau kondisi janin dan kemajuan persalinan
. Lakukan tindakan pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu dengan tanda tanda
disproporsi tulang panggul ke fasilitas kesehatan yang memadai . Gunakan lambing lambing
berikut :

0 : tulang tulang kepala janin terpisah , sutura dengan mudah dapat dipalpasi
1 : tulang tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
2 : tulang tulang kepala janin saling tumpang tindih , tapi pmasih dapat dipisahkan
3 :tulang tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan
 Kemajuan Persalinan
Kolom dan lajur kedua partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan . Angka
0-10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi serviks . Tiap angka
mempunyai lajur dan kotak yang lain pada lajur di atasnya , menunjukan pertambahan
dilatasi sebesar 1 cm skala angka 1-5 juga menunjukan seberap ajuah penurunan janin .
Tiap kotak dibagian ini menyatakan waktu 30 menit .

- Pembukaan Serviks
Nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam(lebih sering jika terdapat penyulit ) , saat
ibu dalam fase aktif persalinan , catat catat pada partograf hasil temuan setiap
pemeriksaan . Tanda “X” harus ditulis digaris waktu yang sesuai hasil temua setiap
pemeriksaan dalam yang dilakukan pertama kali selama masa fase aktif persaliann di
garis waspada . Hubungkan tan da “X” dari setiap pemeriksaan dengan garis tubuh .

- Penurunan Bagian Terbawah atau Presentasi Janin


Dengan menggunakan metode yang dijelaskan di bagian Penieriksaan fisik di bab ini.
Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada tanda
tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian tcrbawah atau presentasi janin.Pada
persalinan normal, kemajuan pernbukaan serviks umumnya diikuti dengan turunnya
bagian terbawah atau presentasi janin. Tapi kadangkala, turunnya bagian
terbawah/presentasi janin baru terjadi setelah pembukaan serviks sebesar 7 cm.Kata-kata
“Turunnya kepala” dan garis tidak terputus dan 0-5, tertera di sisi yang sama dengan
angka pembukaan serviks. Berikan tanda “pada garis waktu yang sesuai. Sebagai contoh,
jika kepala bisa dipalpasi 4/5, tuliskan tanda “S’ di nomor 4. Hubungkan tanda “0” dan
setiap pemeriksaan dengan garis tidak terputus.
Contoh:
Partograf untuk Ibu Rohati (Gambar 2-6) :
Pada pukul 17.00 penurunan kepala 3/5
Pada pukul 21.00 penurunan kepala 1/5
- Garis waspada dan garis bertindak
Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir pada titik di mana
pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan
Selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada. Jika pembukaan serviks
mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dan 1 cm per jam), maka
harus dipertimbangkan adanya penyulit (misalnya fase aktif yang memanjang, macet,
dll). Pertirnbangkan pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan, misalnya persiapan
rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan (rumah sakit atau puskesmas) yang mampu
menangani penyulit dan kegawatdaruratan obstetri. Garis bertindak tertera sejajar dengan
garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau 4 jalur ke sisi kanan. Jika pembukaan serviks
berada di sebelah kanan garis bertindak, maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan
harus dilakukan. Ibu harus tiba di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.

 Jam dan waktu

-Waktu mulainya fase aktif persalinan


Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak-kotak yang
diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif
persalinan.

- Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan


Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat
waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan
berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada lajur kotak diatasnya atau lajur
kontraksi di bawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catatkan pembukaan
serviks di garis waspada. Kernudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu
yang sesuai. Sebagai contoh, jika pemeriksaan dalam menunjukkan ibu mengalami
pembukaan 6 cm pada pukul 15.00, tuliskan tanda di garis waspada yang sesuai dengan
angka 6 yang tertera di sisi luar kolom paling kiri dan catat waktu yang sesuai pada kotak
waktu di bawahnya (kotak ketiga dan kiri).

 Kontraksi uterus

Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan kontraksi per 10
menit” di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30
menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan
detik.
Nyatakan jumlah kontraksi yang terjadi dalam waktu 10 menit dengan mengisi angka pada
kotak yang sesuai (Gambar 2-4). Sebagai contoh jika ibu mengalami 3 kontraksi dalam
waktu satu kali 10 menit, isi 3 kotak.
Nyatakan Iamanya kontraksi dengan:
 Obat-obatan dan cairan yang diberikan
Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat oksitosin,
obat-obat lainnya dan cairan IV.

- Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokurnentasikan setiap 30 menit jumlah unit
oksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit.
- Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang sesuai
dengan kolom waktunya.

 Kesehatan dan kenyamanan ibu

Bagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan ibu.
- Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh
Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu.
1. Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktifpersalinan. (lebih seringjika
dicurigai adanya penyulit). Ben tanda titik pada kolom waktu yang sesuai (•).
2. Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih sering
jika dianggap akan adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf pada kolom waktu
yang sesuai:
3. Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih lebih jika meningkat, atau dianggap adanya
infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh dalam kotak yang sesuai.

 Volume urin, protein atau aseton


Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali ibu berkemih).
Jika memungkinkan setiap kali ibu berkemih, lakukan pemeriksaan adanya ase ton atau
protein dalam urin.

 H. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya


Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom partograf.
atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal dan waktu
saat membuat catatan persalinan.
Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinik mencakup :
 Jumlah cairan per oral yang diberikan
 Keluhan sakit kepala atau pengelihatan (pandangan) kabur
 Konsu dengan penolong persalinan lainnya (Obgin, bidan, dokter umum)
 Persiapan sebelum melakukan rujukan

INGAT :
1. Fase laten persalinan didefinisikan sebagai pembukaan serviks kurang dan 4 cm.
Biasanya fase laten berlangsung tidak lebih dan 8 jam.
2. Dokumentasikan asuhan, pengamatan dan pernenksaan selama fase laten
persalinan pada catatan kemajuan persalinan yang dibuat secara terpisah atau pada kartu
KMS.
3. Fase aktif persalinan didefinisikan sebagai pembukaan serviks dart 4 sampai 10
cm. Biasanya, selania fase aktif, terjadi pembukaan serviks sedikitnya 1 cm/jam..
4. Jika ibu datang pada saat fase akiif persalinan pencatatan kemajuan pembukaan
serviks dilakukan pada ganis waspada.
5. Pada persalinan tanpa penyulit , catatan pembukuan serviks umumnya tidak akan
melewati garis bertindak
Pencatatan pada lembar belakang Partograf

Halaman belakang partograf (Gambar 2-5) merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang
terjadi selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak
persalinan kala I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian ini disebut
sebagai Catatan Persalinan. Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas
terutama selama persalinan kala empat untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah
terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai. Dokumentasi ini sangat penting
untuk membuat keputusan klinik, terutama pada pemantauan kala IV (mencegah terjadinya
perdarahan pascapersalinan). Selain itu, catatan persalinan (yang sudah diisi dengan lengkap dan
tepat) dapat pula digunakan untuk menilai/memantau sejauh mana telah dilakukan pelaksanaan
asuhan persalinan yang dan bersih aman

Catatan persalinan adalah terdiri atas unsur unsur berikut .

 Data dasar
 Kala I
 Kala II
 Kala III
 Bayi baru lahir
 Kala IV
DAFTAR PUSTAKA

Prawihadjo,sarwono.2005.Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka


Cunningham. Leveno. Etc. 2013. Obstetri Williams. Jakarta : EGC

Cunningham FG. 2005. et al : Dystocia-Abnormal Labor, Williams Obstetrics 22nd ed McGraw


Hill,
Rachmawati, I.N., Budiati, T., & Rahmawati, C.(2008). Panduan Praktikum Prosedur
Pemeriksaan Fisik Antenatal. Depok.
Penuntun CSL Sistem Reproduksi Fakultas Kedokteran UNHAS 2015

Damayanti, Ika Putri dkk. 2014. Asuhan Komprehensif pada Ibu Bersalin dan Bayi Baru Lahir.
Yogyakarta: CV Budi Utama

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-caturindri-5155-2-bab2.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16502/4/Chapter%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30489/4/Chapter%20II.pdf