Anda di halaman 1dari 17

UNIVERSITAS INDONESIA

DESAIN REKAYASA

LAPORAN TUGAS

AKTIVITAS DESAIN SECARA MENYELURUH SEDOTAN PLASTIK

MOHAMMAD ILHAM DARADJAT

1606904964

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK METALURGI DAN MATERIAL

DEPOK

SEPTEMBER 2019
A. Ringkasan Eksekutif
Usaha kecil dan menengah minuman kopi dan minuman-minuman mulai
banyak berkembang di Jakarta. Kopi kini menjadi minuman wajib yang
diminum hampir setiap hari, terutama di pagi hari sebelum hendak memulai
aktivitas. Mulai banyak di setiap sudut pinggir jalan dan di pusat
perbelanjaan yang menawarkan minuman-minuman yang bervariasi dari
harga terjangkau hingga yang dapat merogoh kocek cukup dalam. Hal ini
dikarenakan meningkatkan permintaan minuman kopi dan boba yang
sedang tren di kalangan remaja hingga dewasa muda.
Seiring dengan perkembangan usaha kopi dan minuman dingin di Jakarta
dan sekitarnya, permintaan akan peralatan makan seperti gelas dan sedotan
kian meningkat. Konsumsi sedotan di Indonesia sendiri untuk pada tahun
2018 diperkirakan mencapai 93,2 juta batang perharinya. Konsumsi ini
terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang
mencapai 266 juta jiwa, namun nilai konsumsi sedotan ini akan kian
meningkat, dipengaruhi dengan meningkatnya gerai minuman di Jakarta.
Peningkatan kebutuhan sedotan mempengaruhi kepada spesifikasi
produk yang diinginkan pasar. Tuntutan ditambah dengan munculnya isu
lingkungan terhadap sampah plastik. Sedotan dituntut ramah lingkungan,
sehingga mudah didaur ulang atau dapat dipakai kembali, sehingga
menurunkan jejak karbon.
Proses desain dimulai dengan pemilihan desai sedotan yang akan dipilih.
Penentuan mengunakan matriks evaluasi untuk memutuskan konsep yang
dipilih telah memenuhi spesifikasi produk sedotan yang diinginkan. Setelah
itu pemilihan material yang akan digunakan. Material dipilih dari plastik,
baja tahan karat, dan kertas. Dengan pertimbangan berdasarkan spesifikasi
produk ditentukan material plastik.
Kemudian penentuan proses manufaktur. Proses manufaktur dipilih
menggunakan proses ekstrusi. Proses ekstrusi dipilih karena produksinya
yang cepat dan kekuatan produk hasil yang sesuai dengan spesifikasi.
B. Analisis Kebutuhan
Pertumbuhan usahah gerai minuman yang berkembang pesat di Jakarta
belakangan ini, meningkatkan permintaan sedotan. Sedotan menjadi alat
makan utama yang digunakan untuk keberlangsungan usaha gerai minuman.
Permintaan yang tinggi akan minuman dingin tentu berpengaruh pesat
dengan permintaan penggunaan sedotan.
Isu lingkungan terkait sampah dan pemanasan global kini terus
digembar-gemborkan. Masyarakat mulai skeptis terkait setiap produk yang
mereka gunakan. Dengan menjual iming-iming ramah lingkungan, produk
tersebut akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan produk
reguler biasanya.
Sampah plastik yang dihasilkan oleh sedotan plastik menjadi masalah
yang cukup menggemparkan. Dampak sampah sedotan yang dibuang
sembarangan ke alam banyak mengganggu kehidupan biota-biota yang
hidup disana. Hingga muncul penawaran sedotan stainless yang dapat
digunakan kembali. Penggunaan produk ini tentu menurunkan produksi
sampah plastik, jika digunakan dengan benar. Namun apakah benar sedotan
stainless steel lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu, untuk memenuhi
kebutuhan pasar akan sedotan ramah lingkungan dilakukan proses analisa
desain menyeluruh terkait sedotan ramah lingkungan.

C. Identifikasi Masalah
C.1. Pernyataan Masalah
 Sedotan mengalirkan minuman dari wadahnya menerima tekanan
dari aliran fluida (minuman).
 Sedotan memiliki kekuatan yang sedang (tidak terlalu lemah) dan
fleksibel, sehingga memudahkan penghisapan minuman.
 Sedotan harus memiliki ketahan kimia yang baik sehingga tidak
mengkontaminasi minuman.
 Sedotan harus tidak terkorosi atau terdegradasi selama pamakaian.
 Sedotan terpapar rentang temperatur yang luas (±0°-100°C) yang
berasal dari minuman panas dan dingin.
 Sedotan harus bersifat ringan sehingga dalam pemakaian lebih
mudah dan ergonomis.
 Sedotan harus ramah lingkungan sehingga mudah didaur ulang atau
dapat dipakai berulang kali, dan memiliki nilai emisi karbon yang
rendah.

C.2. Product Design Spesification


a. Tahan Air
Tahan air berarti mampu mempertahankan sifat dan kekuatan material
ketika dibasahi oleh fluida. Sedotan harus mampu dibasahi dan tidak rembes
ketika dialiri fluida. Nilai ketahanan air dapat diukur dengan melihat
kemampuan material terpenetrasi oleh fluida.

b. Ringan
Massa jenis material haruslah rendah, sehingga densitas material tidak
terlalu tinggi. Densitas material yang tidak terlalu tinggi akan menghasikan
material yang ringan. Desain yang ringan dibutuhkan sehingga produk
sedotan dapat dengan mudah dibawa dan dapat digunakan dengan mudah
oleh siapa saja. Ringan dapat diukur dari besar densitas material dasar
sedotan.

c. Ketahanan Lingkungan (Korosi)


Material harus tahan terhadap lingkungan, tidak bereaksi dengan
lingkungan dan tidak terdegradasi ketika terpapar lingkungan. Material
harus memiliki ketahanan kimia yang baik, sehingga material stabil tidak
bereaksi ketika terpapar minuman. Ketahanan kimia dan lingkungan ini
dibutuhkan agar produk sedotan tidak mengkontaminasi minuman ketika
pemakaian.
d. Ergonomis
Ergonomis berarti desain produk sedotan haruslah dapat dengan nyaman
digunakan. Desain produk sedotan harus memperhatikan aspek
kenyamanan pengguna dikarenakan penggunaan sedotan yang rutin,
sehingga harus dengan mudah dan nyaman digunakan oleh setiap orang.
Dikarenakan fungsi utamanya sendiri untuk memudahkan meminum
minuman.

e. Ramah lingkungan
Ramah lingkungan berarti sedotan harus dapat dengan mudah didaur
ulang, atau dapat digunakan kembali. Jejak karbon yang dihasilkan juga
harus minimal. Berarti produksi emisi gas CO2 harus dapat minimal pada
proses fabrikasinya. Energi yang dibutuhkan untuk memproduksi setiap unit
sedotannya juga dapat digunakan sebagai parameter ramah lingkungan.

f. Kekuatan
Kekuatan sedotan dibutuhkan untuk menahan tekanan air selama
mengaliri fluida. Beban yang tidak terlalu besar menyebabkan kekuatan
yang dibutuhkan oleh sedotan juga tidak terlalu besar. Kekuatan dapat
dilihat dari nilai kekakuan, kekerasan, kekuatan material, dan lain
sebagainya.

D. Pembuatan dan Evaluasi Konsep Desain


D.1. Gambar Seluruh Konsep
Berikut dibawah ini adalah ketiga konsep desain produk sedotan:
Gambar Desain Keterangan
Konsep Desain 1.
Sedotan dibuat
memanjang lurus tanpa
lekukan.

Konsep Desain 2.
Sedotan dibuat
memanjang dengan
lekukan di ¾ panjang
sedotan untuk
memudahkan minum.

Konsep Desain 3.
Sedotan dibuat lurus
memanjang dengan
lekukan dan ulir di ¾
panjang untuk
menghasilkan bentuk
yang menarik dan
memudahkan minum.
D.2. Matriks Evaluasi Keseluruhan
Dari ketiga desain dibuat matriks penilaian desain berdasarkan parameter
spesifikasi yang telah ditentukan. Setiap desain diberi nilai dari 1-3 untuk
kelayakan tiap parameter spesifikasi, sehingga dapat diperoleh desain
terbaik:
Parameter Desain 1 Desain 2 Desain 3
Tahan Air 3 3 3
Ringan 3 3 2
Tahan Korosi 3 3 3
Ergonomis 1 3 2
Ramah 3 3 2
Lingkungan
Kekuatan 3 3 2

Berdasarkan penilaian yang dilakukan dapat ditentukan bahwa konsep


terbaik yang terpilih adalah konsep nomor 2 karena dinilai paling sesuai
dengan kriteria yang dibuktikan dengan mendapatkan nilai yang paling
tinggi diantara konsep yang lain.

D.3. Gambar Sketsa Definitif Konsep Terbaik


Berikut adalah gambar sketsa definitif
desain terbaik yang didapat dari penilaian
matriks evaluasi.
Konsep ini mengembangkan sedotan
dengan lekukan pada ¾ panjang total yang
berguna untuk lekukan kearah mulut.
Lekukak ini memudahkan proses minum
karena mulut dapat meminum minuman
dari gelas tanpa harus merubah posisi gelas
dari meja. Desain ini dinilai lebih ergonomis Gambar Desain definitif
dari desain-desain lainnya. Jumlah lekukan sedotan.
(disebut juga lekukan akordion) berjumlah 8 sehingga dapat menghasilkan
sudut belok yang sesuai ketika ditekuk.

E. Desain Rinci
E.1. Gambar Teknik Konsep Terbaik
Berikut detail gambar teknik dari konsep desain sedotan terpilih.

Gambar Gambar teknik desain sedotan.

E.2. Analisis Garis Gaya


Sedotan pada pengaplikasiannya menerima tekanan dari fluida yang
dialirinya. Berikut terlampirkan garis gaya pada sedotan selama mengalami
pembebanan. Analisa garis gaya dilakukan pada dua titik, bagian lurus dan
bagian lekuk.
Gambar Analisa Garis Gaya pada Kondisi Lurus.

Gambar Analisa Garis Gaya pada Kondisi Lekukan.

E.3. Pemilihan Material


Terdapat beberapa kandidat material yang cocok digunakan sebagai
material pembuat sedotan. Plastik, stainless steel, kertas, dan kaca dipilih
sebagai kandidat karena telah memnuhi kriteria minimal yang diharapkan.
Berikut adalah matriks penilaian keempat kandidat material. Matriks
berisikan penilaian material pada parameter spesifikasi yang telah diajukan.
Parameter Plastik Stainless Kertas Kaca
Polypropylene Steel
Tahan Air Good Good Medium Good
Ringan 0,92 g/cm3 7,7 g/cm3 1,2 g/cm3 8,0 g/cm3
Tahan Yes Yes Yes Yes
Korosi
Ergonomis Yes Yes Yes Yes
Ramah Recyclable, Recyclable, Unrecyclable, Unrecyclable,
Lingkungan Single Used, Reuseable, Single Used, Reuseable,
3,968 MJ (per 8,466 2,197 MJ (per 3,869 MJ(per
146,000), MJ(per 146,000), 3,500),
211,700 gCO2 3,500), 201,480 g 228,130 g CO2
760,095 CO2
gCO2
Kekuatan Low but Very high low high
flexible
Dari matriks penilaian diatas dapat disimpulkan bahwa plastik
polypropylene sangat cocok digunakan sebagai material sedotan yang
ramah lingkungan. Meskipun sifat pemakaiannya yang sekali pakai, emisi
karbon dan jumlah energi produksinya kecil sehingga jauh lebih efisien.
Plastik juga fleksible sehingga mendukung desain yang membutuhkan
material fleksible agar sedotan dapat ditekuk.

E.4. Pemilihan Proses


Terdapat beberapa pilihan proses manufaktur untuk memproduksi sebuah
sedotan. Setiap proses akan menghasilkan produk dengan karakteristik yang
berbeda. Berikut adalah beberapa pilihan proses yang dapat dilakukan untuk
memproduksi sedotan plastik:
a. Extrusion
Proses ini melibatkan polimer semisolid yang didorong keluar
melalui die sehingga menghasilkan produk kontinu yang
memanjang. Proses ini sangat cocok sebagai proses manufaktur
sedotan dikarenakan bentuk sedotan yang memanjang, sehingga
sedotan dapat diproduksi secara kontinu dan lebih cepat. Hasil
produk ekstrusi memiliki densitas yang lebih rendah sehingga
produk lebih ringan. Hal ini dikarenakan tekanan yang diberikan
pada kondisi semi solid tidak memadatkan produk. Proses ekstrusi
dapat memproduksi sedotan lebih ekonomis.
b. Injection Moulding
Proses ini melibatkan injeksi polimer kedalam cetakan. Tekanan
yang diberikan memberikan efek pemadatan, sehingga produk lebih
padat dengan densitas maksimum. Proses ini memakan waktu
karena satu kali injeksi hanya dapat menghasilkan satu produk.
Injeksi juga menurunkan fleksibilitas produk dan meningkatkan
kekakuan produk.
Berdasarkan pertimbangan spesifikasi produk dan nilai ekonomis, proses
ekstrusi dipilih sebagai proses pembuatan sedotan plastik. Hal ini
dikarenakan ekstrusi dapat memproduksi sedotan dengan cepat sehingga
lebih ekonomis. Produk hasil ekstrusi juga memiliki densitas lebih rendah
dengan kekakuan yang tidak terlalu tinggi, sehingga ekstrusi dirasa cocok
sebagai proses pembuatan sedotan plastik.

E.5. Analisis Biaya


Berikut biaya produksi per 50.000 buah sedotan.
Tabel. Biaya produksi per 50.000 buah sedotan
Material Jumlah Harga Satuan Harga
Polypropylene 2 kg 11.900.000 23.800.000
Pigmen 1 kg 1.200.000 1.200.000
Extruder 1 700.000.000 700.000.000
Machine
Flexible 1 250.000.000 250.000.000
Machine
F. Manufaktur
F.1. Desain Manufaktur
Berikut adalah gambar desain produk sedotan yang akan diproduksi

Gambar Desain produk sedotan fleksibel.


Proses manufaktur menggunakan mesin ekstrusi. Satu mesin ekstrusi
dapat mengeluarkan sedotan dengan cepat. Bahan baku polypropylene (PP)
dipanaskan disuhu 160°C dan diputar di screw untuk mencampur bahan
baku dan additive seperti pigmen, dll.
Gambar Skema proses ekstrusi sedotan.
Sedotan yang keluar dari ekstruder kemudian diproses lebih lanjut yang
meliputi 6 tipe proses yang menghasilkan 7 tipe sedotan dengan alur
dibawah ini:

Gambar Skema produksi sedotan fleksible.


Variasi Alur Proses berdasarkan Type Flexible Straw, terbagi kedalam
beberapa jenis bentuk straw dan wrapping/pembungkus, penjelasannya
sebagai berikut ;
Notasi 1 : U-Shape Straw.
Notasi 2 : Flexible Straw yang di wrappe / dibungkus oleh papper.
Notasi 3 : Flexible Straw yang langsung dipacking tanpa diproses di mesin
lain.
Notasi 4 : Flexible Straw Straw yang di wrappe / dibungkus oleh Film/
Plastik.
Notasi 5 : Flexible -Sharp Straw di wrappe / dibungkus oleh Film/ Plastik.
Notasi 6 : Flexible -Sharp Straw langsung dipacking tanpa diproses di mesin
lain.
Notasi 7 : Flexible Straw yang diproses secara manual.

F.2. Material
Material yang digunakan adalah polypropylene dengan sifat sebagai berikut:
Tabel Spesifikasi sifat polypropylene.

F.3. Proses Manufaktur


Proses manufaktur meliputi tahapan berikut ini:
1. Compounding. Bahan baku PP dan additive diukur komposisinya dan
dituangkan kedalam hooper memasuki mesin ekstrusi.
2. Mixing. Bahan baku dicampurkan sambil dipanaskan pada suhu 160°C.
Putaran screw membantu proses pelelehan dan pencampuran material.
3. Extrusion. Bahan baku yang tercampur terdorong keluar dari die di
ujung mesin. Produk kemudian dipotong sesuai panjang sedotan yang
diinginkan.
4. Flexible Machine. Sedotan kemudian memasuki flexible machine untuk
dibuat lekukan akordion. Proses ini dapat dilakukan secara otomatis
ataupun manual.
5. Proses lanjutan lainnya. Sedotan kemudian dapat dikemas dengan
wrapping film ataupun wrapping paper. Sedotan juga dapat dipotong
atau dibentuk U sesuai dengan tipe desain yang diinginkan.

F.4. Produk
Produk yang akan dihasilkan adalah sedotan
polypropylene flexible dengan lekukan di ¾ bagian
panjangnya. Sedotan dihasilkan dapat berwarna-
warni tergantung pigmen yang ditambahkan sebagai
additive pada bahan baku

Gambar Produk sedotan.


G. Penjualan
G.1. Spesifikasi Produk
Spesifikasi produk yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
Panjang: 150 mm
Diameter: 8 mm
Tebal: 1 mm
Kekuatan tarik: 31.03 MPa
Modulus elastisitas: 113.7 MPa

G.2. Informasi Penjualan


Informasi penjualan dapat dimuat di website agar dapat diakses semua
orang melalui internet. Konten yang harus dimuat pada halaman tersebut
harus mencakup spesifikasi setiap produk dan disertai foto produk tersebut,
distributor mitra perusahaan dan lokasinya serta kontak yang dapat
dihubungi dengan jelas agar konsumen dapat berkomunikasi dengan mudah.
Website yang dibuat harus dikelola dengan baik dan diperbarui seiring
waktu agar informasi yang tertera dalam halaman tersebut merupakan
informasi terbaru. Selain itu, kontak perusahaan yang disediakan juga harus
dapat melayani dan merespon konsumen dengan cepat. Layanan kontak ini
juga dapat memungkinkan terjadinya pertukaran infornasi dari pelanggan
serta dapat meminta saran atau umpan balik dari pelanggan.
Sistem informasi yang baik dapat membantu sistem penjualan agar
menjadi lebih baik. Salah satu sistem penjualan yang memungkinkan
memberikan keuntungan yang besar dapat dilakukan dengan menjalin
kerjasama dengan perusahaan otomotif agar perusahaan tersebut
menggunakan pelek mobil buatan perusahaan ini pada setiap mobil yang
dihasilkan perusahaan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem
informasi yang baik untuk memberikan citra yang baik bagi perusahaan

G.3. Pertanyaan Umpan Balik Pemakai


Pertanyaan umpan balik dapat dilampirkan dalam website penjualan dan
lembar kotak saran produk. Pertanyaan dapat diisi dengan nilai 1-5 dimana
1 bernilai sangat buruk dan 5 bernilai sangat baik.
Bagaimana kondisi sedotan ketika sampai ke tangan pelanggan?
Sangat Buruk Sangat Baik
Bbaik Bbaikmenggunakan produk kami?
Bagaimana kepuasan pelanggan selama

Sangat Buruk Sangat Baik


Bagaimana kualitas produk kami? Bbaik
Bbaik

Sangat Buruk Sangat Baik


Bbaik Bbaik
DAFTAR PUSTAKA
Detik Finance, https://finance.detik.com/solusiukm/d-4647278/bingung-mau-
usaha-apa-jajal-nih-waralaba-haus-modal-rp-120-juta diakses pada Sabtu, 15
September 2019 pukul 18.00.
Consult Defra, https://consult.defra.gov.uk/waste-and-recycling/plastic-
straws-stirrers-and-
buds/supporting_documents/Plastic%20Straws%20Impact%20Assessment.pdf
diakses pada Sabtu, 15 September 2019 18.30.

Yin, W., Fan, Z., Hu, F., Yu, A., Zhao, C., Chai, Q., & Coulter, J. A. (2019).
Innovation in alternate mulch with straw and plastic management bolsters
yield and water use efficiency in wheat-maize intercropping in arid
conditions. Scientific Reports, (October 2018), 1–15.
https://doi.org/10.1038/s41598-019-42790-x

Boonniteewanich, J., Pitivut, S., Tongjoy, S., & Lapnonkawow, S. (2014).


Evaluation of Carbon Footprint of Bioplastic Straw compared to Petroleum
based Straw Products. Energy Procedia, 56, 518–524.
https://doi.org/10.1016/j.egypro.2014.07.187

Online, C. W., York, N., & Feb, I. (2019). Study Links Consumer Choice
Modification to Plastic Straw Reduction, 360(September 2018), 2018–2020.