Anda di halaman 1dari 3

ALLAH BEGITU DEKAT PADA ORANG YANG BERDOA.

November 26, 2011 · by bambino · in Amalan, Doa dan Dzikir.

Sudah begitu lama, ingin agar harapan segera terwujud. Beberapa waktu terus menanti dan
menanti, namun tak juga impian itu datang. Kadang jadi putus asa karena sudah seringkali
memohon pada Allah. Sikap seorang muslim adalah tetap terus berdo’a karena Allah begitu
dekat pada orang yang berdo’a. Boleh jadi terkabulnya do’a tersebut tertunda. Boleh jadi pula
Allah mengganti permintaan tadi dengan yang lainnya dan pasti pilihan Allah adalah yang
terbaik.

Ayat yang patut direnungkan adalah firman Allah Ta’ala,

ُ ‫ان فَ ْليَ ْست َِجيبُوا لِي َو ْليُؤْ مِ نُوا بِي لَعَلَّ ُه ْم يَ ْر‬
َ‫شدُون‬ ِ ‫ع‬َ ‫عنِِّي فَإِنِِّي قَ ِريبٌ أ ُ ِجيبُ َدع َْوة َ الدَّاعِ إِذَا َد‬
َ ‫سأَلَكَ ِعبَادِي‬
َ ‫َوإِذَا‬

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),


bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al
Baqarah: 186)

Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata,

َّ ‫َاجي ِه ؟ أ َ ْو بَعِي ٌد فَنُنَادِي ِه ؟ فَأ َ ْنزَ َل‬


َ‫َّللاُ َه ِذ ِه ْاْليَة‬ ِ ‫َّللاِ َربُّنَا قَ ِريبٌ فَنُن‬
َّ ‫سو َل‬
ُ ‫يَا َر‬

“Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup bersuara lirih
ketika berdo’a ataukah Rabb kami itu jauh sehingga kami menyerunya dengan suara
keras?” Lantas Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas. (Majmu’ Al Fatawa, 35/370)
Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kedekatan yang dimaksud dalam ayat ini
adalah kedekatan Allah pada orang yang berdo’a (kedekatan yang sifatnya khusus).” (Majmu’
Al Fatawa, 5/247)
Perlu diketahui bahwa kedekatan Allah itu ada dua macam:
Kedekatan Allah yang umum dengan ilmu-Nya, ini berlaku pada setiap makhluk.
Kedekatan Allah yang khusus pada hamba-Nya dan seorang muslim yang berdo’a pada-Nya,
yaitu Allah akan mengijabahi (mengabulkan) do’anya, menolongnya dan memberi taufik
padanya. (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87)

Kedekatan Allah pada orang yang berdo’a adalah kedekatan yang khusus –pada macam yang
kedua- (bukan kedekatan yang sifatnya umum pada setiap orang). Allah begitu dekat pada
orang yang berdo’a dan yang beribadah pada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits pula
bahwa tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika ia sujud.
(Majmu’ Al Fatawa, 15/17)
Siapa saja yang berdo’a pada Allah dengan menghadirkan hati ketika berdo’a, menggunakan
do’a yang ma’tsur (dituntunkan), menjauhi hal-hal yang dapat menghalangi terkabulnya do’a
(seperti memakan makanan yang haram), maka niscaya Allah akan mengijabahi do’anya.
Terkhusus lagi jika ia melakukan sebab-sebab terkabulnya do’a dengan tunduk pada perintah
dan larangan Allah dengan perkataan dan perbuatan, juga disertai dengan mengimaninya.
(Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87)

Dengan mengetahui hal ini seharusnya seseorang tidak meninggalkan berdo’a pada Rabbnya
yang tidak mungkin menyia-nyiakan do’a hamba-Nya. Pahamilah bahwa Allah benar-benar
begitu dekat dengan orang yang berdo’a, artinya akan mudah mengabulkan do’a setiap hamba.
Sehingga tidak pantas seorang hamba putus asa dari janji Allah yang Maha Mengabulkan
setiap do’a.

Ingatlah pula bahwa do’a adalah sebab utama agar seseorang bisa meraih impian dan
harapannya. Sehingga janganlah merasa putus asa dalam berdo’a. Ibnul Qoyyim rahimahullah
berkata, “Do’a adalah sebab terkuat bagi seseorang agar bisa selamat dari hal yang tidak ia
sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan. Akan tetapi pengaruh do’a pada setiap
orang berbeda-beda. Ada yang do’anya berpengaruh begitu lemah karena sebab dirinya
sendiri. Boleh jadi do’a itu adalah do’a yang tidak Allah sukai karena melampaui batas. Boleh
jadi do’a tersebut berpengaruh lemah karena hati hamba tersebut yang lemah dan tidak
menghadirkan hatinya kala berdo’a. … Boleh jadi pula karena adanya penghalang terkabulnya
do’a dalam dirinya seperti makan makanan haram, noda dosa dalam hatinya, hati yang selalu
lalai, nafsu syahwat yang menggejolak dan hati yang penuh kesia-siaan.” (Al Jawaabul Kaafi,
hal. 21). Ingatlah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ ‫َّللاِ ت َ َعالَى مِ نَ ال ُّد‬


ِ‫عاء‬ َ ‫ش ْي ٌء أ َ ْك َر َم‬
َّ ‫علَى‬ َ ‫لَي‬
َ ‫ْس‬

“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.” (HR.
Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, Ahmad 2/362. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa
hadits ini hasan). Jika memahami hal ini, maka gunakanlah do’a pada Allah sebagai senjata
untuk meraih harapan.
Penuh yakinlah bahwa Allah akan kabulkan setiap do’a. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

ٍ ‫عا ًء مِ ْن قَ ْل‬
‫ب غَافِ ٍل الَ ٍه‬ َّ ‫اإل َجابَ ِة َوا ْعلَ ُموا أ َ َّن‬
َ ‫َّللاَ الَ يَ ْست َِجيبُ ُد‬ ِ ِ‫َّللاَ َوأ َ ْنت ُ ْم ُموقِنُونَ ب‬
َّ ‫ا ْدعُوا‬

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa
Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Lalu pahamilah bahwa ada beberapa jalan Allah kabulkan do’a. Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ث ِإ َّما أ َ ْن ت ُ َع َّج َل لَه ُ َدع َْوتُه ُ َو ِإ َّما أ َ ْن َي َّدخِ َرهَا لَهُ فِى‬
ٍ َ‫َّللاُ ِب َها ِإحْ َدى ثَال‬ َ ‫ْس فِي َها ِإثْ ٌم َوالَ قَطِ ي َعةُ َرحِ ٍم ِإالَّ أ َ ْع‬
َّ ُ‫طاه‬ َ ‫« ما مِ ْن ُم ْسل ٍِم َي ْدعُو ِب َدع َْوةٍ لَي‬
َ ْ َ
» ‫َّللاُ أكث ُر‬ َ ْ ُ ً ُ َ َ ْ
َّ « ‫ قا َل‬.‫ قالوا إِذا نكث ُِر‬.» ‫ع ْنهُ مِ نَ السُّوءِ مِ ثل َها‬ َ ‫ف‬ َ ‫ص ِر‬ْ َ‫اْلخِ َرةِ َوإِ َّما أ َ ُن ْْ ي‬
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa
dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga
hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya
di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para
sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak
mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan
bahwa sanadnya jayyid). Boleh jadi Allah menunda mengabulkan do’a. Boleh jadi pula Allah
mengganti keinginan kita dalam do’a dengan sesuatu yang Allah anggap lebih baik. Atau boleh
jadi pula Allah akan mengganti dengan pahala di akhirat. Jadi do’a tidaklah sia-sia.
Ingatlah wejangan yang amat menyejukkan hati dari cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al
Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata,
‫ وهذا حد الوقوف على الرضى بما تصرف به القضاء‬.‫ لم يتمن شيئا‬،‫من اتكل على حسن اختيار هللا له‬

“Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak
akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya).
Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua
keadaan (yang Allah) berlakukan (bagi hamba-Nya)” (Lihat Siyaru A’laamin Nubalaa’ 3/262
dan Al Bidaayah wan Nihaayah 8/39). Pilihan Allah itulah yang terbaik.
Wallahu waliyyut taufiq.
(Rumaysho site)