Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan akan dapat dilaksanakan secara mantab, jelas arah tujuannya, relevan
isi kurikulumnya, serta efektif dan efisien metode atau cara-cara pelaksanaannya hanya
apabila dilaksanakan dengan mengacu pada suatu landasan yang kokoh. Sebab itu,
sebelum melaksanakan pendidikan, para pendidik perlu terlebih dahulu memperkokoh
landasan pendidikannya. Mengingat hakikat pendidikan adalah humanisasi, yaitu upaya
memanusiakan manusia, maka para pendidik perlu memahami hakikat manusia sebagai
salah satu landasannya. Konsep hakikat manusia yang dianut pendidik akan berimplikasi
terhadap konsep dan praktek pendidikannhya.

Ada dua alasan mengapa para pendidik perlu memiliki landasan filosofis
pendidikan. Pertama, karena pendidikan bersifat normatif maka dalam rangka pendidikan
diperlukan asumsi atau sesuatu titik tolak yang bersifat normatif pula. Asumsi-asumsi
pendidikan yang bersifat normatif tersebut antara lain bersumber dari filsafat. Landasan
filosofis pendidikan akan memberikan petunjuk tentang yang seharusnya didalam
pendidikan atau apa yang dicita-citakan dalam pendidikan. Kedua, bahwa pendidikan
tidak cukup dipahami hanya melalui pendekatan ilmiah yang bersifat deskriptif tetapi
juga memerlukan pemikiran yang mendasar. Adapun kajian pendidik secara menyeluruh
diwujudkan melalui pendekatan filosofis.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi landasan filosofis pendidikan?

2. Apa saja cabang-cabang landasan filosofis pendidikan?

3. Apa landasan-landasan filosofis dasar pendidikan?

1
C. TUJUAN

1. Untuk memahami definisi landasan filosofis pendidikan

2. Untuk mengetahui cabang-cabang landasan filosofis pendidikan

3. Untuk memahami landasan-landasan filosofis dasar pendidikan

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definsi Filosofis

Landasan filosofis (filsafat) merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau
hakekat pendidikan. Terdapat kaitan yang erat antara pendidikan dengan filsafat, karena filsafat
mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha
mewujudkan citra itu sendiri. Filsafat pendidikan berupaya menjawab secara kritis dan mendasar
berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan. Kajian-kajian yang dilakukan oleh berbagai
cabang filsafat akan besar pengaruhnya terhadap pendidikan, karena prinsip-prinsip dan
kebenaran-kebenaran hasil kajian tersebut pada umumnya diterapkan dalam bidang pendidikan.
Peranan filsafat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain
tentang:

1. Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai makhluk didunia ini.

2. Masyarakat dan kebudayaanya.

3. Keterbatasan manusia sebagai makhluk hidup yang banyak menghadapi tantangan.

4. Perlunya landasan pemikiran dalam pekerjaan pendidikan, utamanya filsafat


pendidikan.1

Hasil-hasil kajian filsafat tersebut, utamanya tentang konsepsi manusia dan dunianya,
sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan. Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, atau
dikembangkan melalui pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal atau kelakuan dan
teknologi dapat diwujudkan melalui prosespendidikan.

Filsafat dalam arti sekatang dikenal sejak zaman yunani kuno, para tokoh filsafat pada
waktu ituadalah Scorates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM) 2.
Scrates mengajarkan bahwa manusia harus mencari kebenaran dan kebijakan dengan cara

1 Barnadib, Imam, Dasar-dasar Pendidikan perbandingan, Institut Press IKIP Yogyakarta, Yogyakarta, 1986,
hlm. 45
2 Callahan, Joseph F. & Leonard H. Clark, Faundations of Education, McMillan Publishing Co, New York, 1983,
hlm. 12

3
berfikir secar dialektis. Plato mengatakan kebenaran hanya dalam ide yang bisa diselami dengan
akal, sedan Aristoteles merupakan peletak dasar empirisme, yang menyatakan bahwa kebenaran
harus dicari melalui pengalaman panca indra.

Para tokoh filsafat diatas yang kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh yang lain, walaupun
padangan mereka belum tentu sama, membuahkan suatu pemahaman tentang filsafat. Filsafat
ialah hasil perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya. Sesuatu disini
dapat berarti terbatas dan dapat pula tidak terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri
akan hal tertentu saja, Bila berarti tidak terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada
dialam ini yang sering dikatakan filsafat umum. Sementara itu filsafat yang terbatas ialah filsafat
ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni, dan sebagainya.

Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya dengan ilmu-ilmu
yang lain, pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat. Sejalan dengan proses perkembangan
ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pada awalnya pendidikan
berada bersama filsafat, sebab filsafat tidak pernah membebaskan diri dengan pembentukan
manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan mausia,
pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.

Jhon Dewey dalam bukunya Democracy and Education seperti yang dikuti poleh Make
Pidarta (1989: 88), menyatakan bahwa pengalaman adalah tes terakhir dari segala hal. Mereka
memandang pengalaman sebagai panji-panji semua filsafat pendidikan yang mempunyai
komitmen terhadap inquiry atau penyelidikan. Filosof berfungsi memilih pengalaman-
pengalaman yang cocok untuk memajukan efisiensi sosial. Filsafat pendidikan berusaha
menafsirkan proses belajar-mengajar menurut prosedur pengujian ilmiah dan kemudian memberi
komentar tentang nilai atu kemanfaatanya. Filsafat pendidikan mencari konsekuensi proses
belajar-mengajar, apa yang telah dilakukan, apa kelemahanya, dan bagaimana cara mengatasi
kelemahan itu. Jadi filsafat pendidikan itu igin berusaha mengali ide-ide baru tentang
pendidikan, yang menurut pendapatnya lebih tepat ditinjau dari kewajaran keberadaan peserta
didik dan pendidik maupun ditinjau dari latar geografis, sosiologis, dan budaya suatu bangsa.

Filsafat pendidikan ialah hasil pemikiran dan perenungaan secara mendalam sampai
keakar-akarnya mengenai pendidikan.

4
Sedangkan filsafat pendidikan progresivis lahir di Amerika Serikat. Filsafat ini sejalan
dengan jiwa bangsa Amerika pada waktu itu, sebagai bangsa yang dinamis berjuang mencari
hidup baru dinegeri seberang. Bagi mereka tidak ada hidup yang tetap, apa lagi nilai-nilai abadi.
Dalam pandangan meraka, yang ada adalah perubahan. Mereka sangat menekankan kehidupan
sehari-hari, maka segala tindakan mereka diukur dari kegunaan praktisnya.

Dalam hal ini mereka tidak memiliki tujuan yang pasti, sehingga cara atau alat untuk
mencapai tujuan itu pun tidak pasti pula. Tujuan dan alat bagi mereka adalah satu, artinya bila
tujuan berubah maka alat pun berubah pula. Tokoh filsafat pendidikan progrevisi ini adalah John
Dewey.

Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang dipentingkan dalam pendidikan
adalah mengembangkan peserta didik untuk mencerminkan dunia Indonesia degan iklim,
geografis dan budayanya yang khas. Dengan kata lain, pendidikan di Indonesia perlu
diwujudkan dalam bentuk ilmu pendidikan seperti halnya dengan model pendidikan di Eropa.
Hanya saja di Indonesia harus menunjukan ciri khas negara Indonesia termasuk Pancasilanya.
Hal ini berarti ilmu pendidikan harus digali dari bumi Insonesia sendiri. Kegiatan pendidikan di
Indonesia hanya baru dalam satu segi saja, yaitu segi oprasionalnya. Itupun hanya terjadi pada
jalur pendidikan sekolah. Jalur pendidikan luar sekolah belum banyak digarap 3. Apalagi dalam
kaitanya dengan landasan pendidikan Indonesia, jelas belum terjamah sama sekali.

B. Cabang-Cabang Filosofi Pendidikan

Agar uraian tentang filosofi pendidikan menjadi lebih lengkap berikut akan dipaparkan
tentang beberapa cabang-cabang filosofi pendidikan:

1. Esensialis
Merupakan filsafat yang bertolak dari kebenaran yang terbukti berabad-abad
lamanya. Kebenaran ini merupakan kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran esensial
ini berasal dari kebudayaan klasik yang muncul dari kebudayaan romawi. Pada
zamannya menggunakan buku-buku klasik yang ditulis dengan bahasa latin yang dikenal

3 Soedeomo, Aktualisasi Pengembangan Ilmu Pendidikan dalam Pengembangan Nasional, IKIP Malang, Malang,
1990, hlm. 70

5
dengan Great Book yang isinya dapat membentuk manusia-manusia berkaliber
Internasional. Tokoh dalam filsafat esensiel adalah Brameld. Tekanan pendidikan dalam
filsafat ini dapat membentuk intelektual dan logika karena bahasa latin adalah bahasa
yang sulit dan dapat diyakini otak peserta didik dapat terasah dengan baik dan juga
logikanya pun bisa berkembang. Dalam proses pembelajaran yang menggunakan filsafat
ini sangat memperhatikan kedisiplinan, pembelajaran dibuat sangat berstruktur dengan
materi berupa warisan kebudayaan sehingga membentuk pola pikir efektif. Pengaruh
filsafat ini sangat kuat sampai sekarang karena pengajaan terpusat pada guru. Sekolah-
sekolah dengan kurikulum dan metode tradisional merupakan perwujudan dari filsafat
ini. Sementara kebudayaan klasik yang esensial di dunia timur adalah mahabarata dan
Ramayana.
2. Perenialis
Tidak jauh berbeda dengan filsafat pendidikan esensialis. Kebenaran yang
esensial pada esensialis ada pada kebudayaan klasik dengan Great Book, maka kebenaran
perenialis ada pada wahyu Tuhan. Pada pola pembelajarannya tidak jauh dari esensialis
karena bersifat tradisional. Filsafat ini muncul pada zaman keemasan (abad pertengahan
agama Katolik Kristen). Pada zaman ini banyak tokoh-tokoh yang menguasai hamper
seluruh bidang kemasyarakatan sehingga ajaran agama itulah merupakan suatu kebenaran
yang patut dipelajari dan diterapkan. Tokoh filsafat ini ialah Agustinus dan Thomas
Aquino. Pengaruh filsafat ini menyebar ke seluruh dunia bukan saja kalangan Katolik
dan Protestan tetapi agama-agama lain dengan diwujudkan seperti kalangan
Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama disamping sekolah-sekolah Katolik dan Kristen.
3. Progresivisme
Filsafat pendidikan progresivis merupakan filsafat yang menekankan perubahan
yaitu dalam kehidupan sehari-hari setiap tindakan diukur dari kegunaan praktisnya.
Progresivisme mempunyai jiwa perubahan relativitas kebebasan dinamika ilmiah dan
perbuatan nyata. Filsafat ini tidak memiliki tujuan yang pasti bahkan kebenaran yang
pasti sehingga tujuan dan kebenaran yang relatif. Maka dapat disimpulkan ukuran
kebenaran hanya dapat digunakan bagi manusia hanya sesekali. Tujuan dari progesivisme
maka cara atau alat untuk mencapai tujuan itupun tidak pasti pula tujuan dan alat bagi
mereka adalah satu artinya bila tujuanberubah maka alat pun berubah pula. Tokoh filsafat
progresivisme John Dewey.Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka dipentingkan

6
dalam pendidikan adalah mengembangkan peserta didik ntuk bisa berfikir yaitu
bagaimana berfikir yang baik.
4. Rekonstruksionis
Merupakan variasai dari progeresivisme yang menginginkan kondisi manusia
pada umumnya harus diperbaiki. Filsafat pendidikan ini berupaya untuk merombak
tatanan susunan masyarakat lama menuju tatanan masyarakat baru melalui lembaga dan
proses pendidikan .

5. Eksistensialis
Berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya
manusia itu sendiri. Manusia bersifat bebas. Oleh sebab itu, setiap kejadian yang akan
datang ditentukan oleh keputusan dan komitmen yang dibuat manusia itu sendiri.
Pengalaman adalah untuk mengetahui sesuatu yang dianggap benar. Dapat disimpulkan
bahwa kebenaran itu relatif karena setiap individu akan menentukan nilai-nilai sesuai
pengalaman.4

C. Landasan Filosofis Pendidikan di Indonesia


Secara filosofis, bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara adalah sebagai bangsa
yang berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdasarkan kenyataan objektif bahwa manusia
adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Syarat mutlak suatu negara adalah persatuan yang
diwujudkan oleh rakyat (merupakan unsur pokok negara), sehingga secara filosofis negara
berpersatuan dan berkerakyatan. Konsekuensinya rakyat merupakan dasar ontologis demokrasi,
karena rakyat merupakan asal mula kekuasaan negara. Atas dasar pengertian itulah maka nilai
pancasila merupakan dasar filosofis negara.
Pancasila yang dimaksud adalah Pancasila yang rumusannya terdapat dalam “Pembukaan”
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

4 Pidata, Made, Landasan Kependidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2009, hlm. 80-94

7
Pancasila menjadi acuan untuk berkarya pada segala bidang. Sejalan dengan ini, pasal 2
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang “Sistem Pendidikan Nasional” menyatakan
bahwa “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
Rincian selanjutnya tentang hal itu tercantum dalam penjelasan UU- RI No. 20 Tahun 2003
yang menegaskan bahwa pembangunan nasional termasuk di bidang pendidikan adalah
pengalaman pancasila dan untuk itu pendidikan nasional mengusahakan antara lain:
“Pembentukan manusia Pancasila sebagai manusia pembangunan yang berkualitas tinggi dan
mampu mandiri”. Sedangkan ketetapan MPR-RI No. II/MPR/1978 tentang Pedoman
Penghayatan Pengalaman Pancasila mengaskan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat
Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia dan Dasar Negara
Republik Indonesia. Sehubungan dengan hal ini, bangsa Indonesia memiliki landasan filosofis
pendidikan tersendiri dalam sistem pendidikan nasionalnya, yaitu Pancasila. Konsep Pancasila
Sebagai Landasan Filosofis Pendidikan Terhadap Filsafat Pendidikan Secara Umum
 Metafisika (Hakikat Realitas). Bangsa Indonesia meyakini bahwa realitas atau alam
semesta tidaklah ada dengan sendirinya, melainkan sebagai ciptaan (makhluk) Tuhan
Yang Maha Esa. Tuhan adalah sumber pertama dari segala yang ada, Ia adalah sebab
pertama dari segala sebab, tetapi Ia tidak disebabkan oleh sebab-sebab yang lainnya, dan
Ia juga adalah tujuan akhir segala yang ada. Di alam semesta bukan hanya realitas fisik
atau hanya realitas non fisik yang ada, realitas yang bersifat fisik atau non fisik tampak
dalam pluralitas fenomena alam semesta sebagai hal yang menyeluruh. Terdapat alam
fana dengan segala isi, nilai, norma atau hukum di dalamnya. Alam tersebut adalah
tempat/ prasarana dan sarana bagi manusia dalam rangka hidup dan kehidupannya, dalam
rangka melaksanakan tugas hidup untuk mencapai tujuan hidupnya. Di balik itu,
terdapat alam akhir yang abadi dimana setelah mati manusia akan dimintai
pertanggungjawaban dan menerima imbalan atas pelaksanaan tugas hidup dari Tuhan
YME. Dalam uraian di atas tersurat dan tersirat makna adanya realitas yang bersifat
absolut dan relatif, terdapat realitas yang bersifat abadi dan realitas yang bersifat fana.
Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah
tercantum, bahwa hakikat hidup bangsa Indonesia adalah berkat rahmat Allah Yang

8
Maha Kuasa dan perjuangan yang didorong oleh keinginan luhur untuk mencapai dan
mengisi kemerdekaan. Adapun yang menjadi keinginan luhur tersebut yaitu:
a) Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur
b) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;
c) Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
d) Ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial.
Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa realitas juga tidak bersifat given (terberi)
dan final, melainkan juga “mewujud” sebagaimana kita manusia dan semua anggota
alam semesta berpartisipasi “mewujudkannya”.
 Aksiologi: Hakikat Nilai. Sumber Pertama segala nilai hakikatnya adalah Tuhan YME.
Karena manusia adalah makhluk Tuhan, pribadi/ individual dan sekaligus insan sosial,
maka hakikat nilai diturunkan dari Tuhan YME, masyarakat dan individu.
Secara metafisis dan aksologis tujuan pendidikan nasional harus menghasilkan manusia
Indonesia yang :

a) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


b) Manusia yang berkeprimanusiaan yang adil dan beradab, yang ditunjukkan dalam
perilaku manusia yang tidak hanya mengutamakan dan mementingkan kehidupan
jasmanaih dan lahiriah saja, tetapi juga kehidupan rohaniah batiniah. Begitu juga
yang diutamakan bukan hanya kepentingan diri sendiri secara pribadi, tetapi juga
kepentingan masyarakat, kepentingan hidup bersama.
c) Berkemampuan untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia.
d) Demokratis, hidup bermasyarakat dengan pengakuan terhadap eksistensi
manusia, berarti harus menyadari bahwa ia tidak bisa berbuat semaunya. Manusia
hidup dibatasi oleh berbagai faktor yaitu dirinya sendiri, orang lain, alam sekitar,
dan Tuhan.
e) Berkeadilan sosial yang adil, seimbang antara hak dan kewajiban, suatu keadilan
yang menyangkut hubungannya dengan dirinya sendiri, dengan orang lain atau
masyarakat, dan dengan alam sekitar, serta dengan Tuhan.

9
 Epistemologi: Hakikat Pengetahuan. Segala pengetahuan hakikatnya bersumber dari
sumber pertama yaitu Tuhan YME. Tuhan telah menurunkan pengetahuan baik melalui
utusan-Nya (berupa wahyu) maupun melalui berbagai hal yang digelarkan-Nya di alam
semesta termasuk hukum-hukum yang terdapat didalamnya. Manusia dapat
memperoleh pengetahuan melalui keimanan/ kepercayaan, berpikir, pengalaman empiris,
penghayatan, dan intuisi. Kebenaran pengetahuan ada yang bersifat mutlak, tetapi ada
pula yang bersifat relatif (seperti dalam pengetahuan ilmiah sebagai hasil upaya manusia
melalui riset, filsafat, dsb). Pengetahuan yang bersifat mutlak (ajaran agama/wahyu
Tuhan) diyakini mutlak kebenarannya atas dasar keimanan kepada Tuhan YME.
Pengetahuan yang bersifat relatif (filsafat, sains, dll) diuji kebenarannya melalui uji
konsistensi logis ide-idenya, kesesuainya dengan data atau fakta empiris, dan nilai
kegunaannya bagi kesejahteraan manusia dengan mengacu kepada kebenaran dan nilai-
nilai yang bersifat mutlak.

Secara epistemologis pendidikan nasional bertujuan :


a) menghasilkan manusia yang berpengetahuan, mampu mengolahnya dan
mengembangkannya.
b) Menghasilkan manusia yang mampu mencari pengetahuan dan kebenaran melalui
berbagai sumber, yaitu : Pengetahuan wahyu, pengetahuan intuitif, pengetahuan
rasional, dan pengetahuan empiris.
c) Menghasilkan manusia berpengalaman dan berpengetahuan secara hierarkis
mencangkup dunia realitas, dunia ilmiah, dunia nilai filosofis, dan dunia nilai
religius.
d) Menghasilkan manusia yang terampil dalam menghadapi dunia realitas, sehingga
mencapai kehidupan yang seimbang antara kehidupan jasmani dan rohani, antara
kehidupan dunia nyata dan dunia rohaniah, kehidupan dunia dan akhirat.

BAB IV

PENUTUP

10
A. KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa Landasan Filosofi Pendidikan merupakan landasan yang


menjadi titik awal dalam melaksanakan proses pendidikan. Landasan filosofi pendidikan
merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakekat pendidikan. Sehingga landasan
filosofi pendidikan sangat penting.

Dalam menguraikan cabang-cabang bentuk filosofi pendidikan dapat dibagi menjadi lima
cabang yaitu esensialis,perenialis,progesivis,rekontruksionis dan eksistensialis. Setiap cabang
sangat mempengaruhi dalam pola dan metode pendidikan.Bangsa Indonesia memiliki
landasan filosofis pendidikan tersendiri dalam sistem pendidikan nasional, yaitu Pancasila.
Konsep Pancasila Sebagai Landasan Filosofis Pendidikan terhadap Filsafat Pendidikan secara
umum dalam bentuk metafisika (Hakikat Realitas), aksiologi (Hakikat Nilai) dan epistemologi
(Hakikat Pengetahuan).
Setiap hal dalam landasan filosofi pendidikan sangat mempengaruhi satu sama lain.
Sehingga dalam proses pendidikan, yaitu dalam mengajar . Seorang guru harus memahami
filosofi pendidikan ini.

B. Saran

Dengan dibuatnya makalah ini, kami berharap akan menambah wawasan terhadap dasar-
dasar pendidikan dalam bentuk landasan filosofi pendidikan.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu
kami sangat membutuhkan masukan dari pihak pembaca untuk mengkritik dan memberi
masukan demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini.

11
DAFTAR PUSTAKA

 Pidarta Made. 2009. LANDASAN KEPENDIDIKAN. Jakarta: Rineka Cipta.

 Sutisna, Oteng. 1990. FILSAFAT DAN ILMU PENDIDIKAN, Jurnal Pendidikan.


Nomor 4, Tahun IX, Desember.

 Suyitno, Y. 2009. LANDASAN FILOSOFO PENDIDIKAN. Bandung: Universitas


Pendidikan Indonesia.

 Callahan, Joseph F. & Leonard H. Clark. 1983. FAUNDATIONS OF


EDUCATIONS. New York: McMillan Publishing Co., Inc
 http://eduarduslebe.blogspot.com/2015/11/landasan-filosofis-pendidikan.html

12