Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH

MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

Manajemen Breeding dan Hatching pada Ayam Broiler

Oleh :

Kelas : F

Syifa Fauziana P 200110170010

Fuzi Ridwan Firdaus 200110170022

Ayi Liani Putri 200110170084

Feni Farida 200110170093

Taufiq Muttaqin R 200110170094

Ayu Anjani P 200110170260

DEPARTEMEN PRODUKSI TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2019
2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena

dengan karunia dan hidayah-Nya, makalah mengenai Manajemen Breeding dan


Hatching pada Ayam Broiler dapat diselesaikan oleh penyusun dengan baik.

Tugas makalah ini dibuat kemudian diajukan untuk memenuhi salah satu tugas

mata kuliah Manajemen Ternak Unggas.

Ucapan terima kasih penyusun sampaikan kepada Indrawati Yudha


Asmara, S.Pt, Msi, PH D. selaku dosen pengampu mata kuliah Manajemen

Ternak Unggas juga kepada berbagai pihak terkait yang telah membantu untuk
menyelesaikan makalah ini. Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi

pembaca maupun penyusun pada bidang pengetahuan ini.

Penyusun menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam makalah


ini, dari sisi sistematika penulisan maupun dari sisi isi makalah. Berdasarkan hal

tersebut penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi

perbaikan ke arah yang lebih baik pada masa yang akan datang.

Sumedang, September 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Bab Halaman

KATA PENGANTAR...................................................... I

DAFTAR ISI..................................................................... ii

DAFTAR LAMPIRAN.................................................... iii

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................. 1

1.2 Tujuan......................................................................... 2

II PEMBAHASAN
2.1 Persiapan Kandang dan Peralatan................................. 3

2.2 Starting management................................................... 6

2.3 Finishing Management.................................................. 15


2.4 Manajemen Perkawinan................................................ 21
2.5 Manajemen Telur Tetas dan Penetasan......................... 22
2.6 Penanganan Limbah...................................................... 26
2.7 Biosecurity Operasional di Breeder............................... 27

ii
iii
Bab Halaman

III KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan................................................................... 31

DAFTAR PUSTAKA................................................................... 33

LAMPIRAN.................................................................................. 35

iv
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Distribusi Tugas..................................................................... 35

v
1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Broiler parent stockadalah ayam penghasil ayam komersil grand final


stock yang merupakan hasil persilangan dengan sifat atau karakteristik
unggul tertentu sesuai dengan tujuan pemeliharaan. Ayam yang dipilih
sebagai induk penghasil telur tetas adalah ayam dewasa yang berumur
antara 6-8 bulan dan telah siap bertelur sedangkan untuk ayam jantan
berumur satu tahun. Strain ayam sebagai bibit unggul yang dihasilkan oleh
pembibit merupakan final stock yang umumnya diarahkan pada tiga sifat
ekonomi, yaitu pertumbuhan cepat, daya hidup yang baik dan produktivitas
yang tinggi (Malik, 2001).
Berdasarkan data jumlah penduduk yang meningkat dan perbaikan
kehidupan masyarakat menyebabkan konsumsi terhadap berbagai kebutuhan
bahan pangan terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan
masyarakat terhadap protein hewani khususnya ayam pedaging yang
memiliki harga relatif terjangkau akan terus meningkat seiring dengan
pertambahan jumlah penduduk setiap tahunnya dan juga banyaknya
persaingan yang terjadi antar peternak pengusaha ayam pedaging.
Peningkatan populasi ayam pedaging sangat dipengaruhi oleh
manajemen pemeliharaan broiler parent stock yang tepat. Hal ini
dikarenakan broiler parent stock sebagai penghasil final stock atau yang
biasa disebut dengan broiler yang dimanfaatkan sebagai penghasil daging.
Oleh sebab itu, manajemen pemeliharaan broiler parent stock sangat penting
untuk diketahui, sehingga nantinya diharapkan dapat menghasilkan ayam
pedaging dengan populasi yang tinggi dan berkualitas.
2

1.2. Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui Persiapan Kandang dan Peralatan untuk Pemeliharaan


2. Mengetahui Pemeliharaan pada Periode Starter
3. Mengetahui Pemeliharaan pada Periode Finisher
4. Mengetahui Manajemen Perkawinan
5. Mengetahui Manajemen Telur Tetas dan Penetasan
6. Mengetahui Penanganan Limbah
7. Mengetahui Biosecurity Operasional di Broiler
3

II
PEMBAHASAN

2.1 Persiapan Kandang dan Peralatan

2.1.1 Persiapan Kandang Sebelum DOC Datang

Sebelum tiba, kandang harus sudah dibersihkan dengan air bersih yang

telah dicampur dengan pembunuh kuman/desinfektan. Kandang kemudian

dibiarkan selama beberapa saat dan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.

Semua peralatan, termasuk indukan, tempat pakan, dan tempat minum juga harus

disterilkan, sementara alas litter disemprot dengan bahan pembunuh

kuman/fumigan. Penggunaan fumigan harus sesuai dengan etika dan aturan

pakainya dan harus diperhatikan dengan benar karena setiap merek dagang

memiliki aturan pakai yang berbeda-beda (Rasyaf, 2012). Sebelum anak ayam

tiba maka kandang harus sudah siap. Persiapan kandang DOC untuk ayam broiler

tidak berbeda dengan DOC untuk ayam petelur. Begitu pula perlengkapan

kandangnya, sampai mencapai pertumbuhan bulu yang sempurna. Penempatan

tempat makan dan minum juga sama (Suprijatna dan Kartasudjana, 2006). Waktu

istirahat kandang dalam keadaan bersih minimal 2 minggu agar siklus penyakit

diharapkan dapat putus.

Adapun tahapan persiapan kandang, yaitu sebagai berikut : mengarungkan

pupuk; merapikan tempat pakan dan tempat minum; mematikan aliran listrik;

mematikan saluran air minum; merapikan peralatan kandang lainnya seperti sekat

dan brooder guard; mencuci kandang dengan air kemudian desinfektan;

mengapur kandang; mencuci tirai dan alas litter; menaburkan litter dan memasang

peralatan; memasang tirai; menyemprot ulang desinfektan; membiarkan kandang

tertutup tirai; mencuci peralatan kandang (Santoso dan Sudaryani, 2011).


4

2.1.2 Persiapan Kandang untuk Penerimaan DOC

DOC memerlukan kandang yang bersih dan hangat. Karena DOC

ditetaskan dengan mesin tetas dan tidak ada induk ayam yang menghangatkan

tubuhnya, penambah pemanas buatan yang bisa berupa bohlam listrik, pemanas

gasolek (gas)/pemanas semawar/minyak tanah dan kompor batu bara. Selain itu

perlu dibuat guard chick atau brooder guard yang berupa seng supaya anak ayam

mengumpul untuk menghemat pemakaian pemanas (Santoso dan Sudaryani,

2011). Ditambahkan juga oleh Fadilah (2005) bahwa lingkaran pelindung bisa

terbuat dari seng, layar, karung, triplek atau boks bekas DOC. Pemanas

dinyalakan 2 - 3 jam sebelum kedatangan DOC. Kemudian siapkan minuman

(campuran air, vitamin, antibiotic) dan dimasukkan ke dalam guard chick

(Rahayu dkk, 2011). Guard chick dan pemanas harus sudah dipasang 2 - 3 hari

sebelum DOC datang. Sementara itu penyemprotan ulang dengan desinfektan

dilakukan 1 - 2 hari sebelum DOC datang ke seluruh ruangan dan peralatan

(Santoso dan Sudaryani, 2011).

2.1.3 Peralatan Kandang

Perlengkapan dan peralatan untuk kandang dipengaruhi oleh umur dan

fase pertumbuhan dari ayam yang dipelihara. Perlengkapan dan peralatan yang

harus disediakan untuk fase DOC antara lain adalah piring untuk pakan anak

ayam, galon minuman untuk DOC, dan pemanas untuk DOC. Setelah ayam

memasuki umur dewasa peralatan makan dan minum diganti dengan tempat pakan

dan minum yang khusus dewasa (Rahayu dkk, 2011). Kandang juga harus

dilengkapi dengan peralatan, seperti tempat pakan, tempat minum, alat pemanas,

alat penerangan, alat sanitasi atau kebersihan (Suprijatna dkk, 2008). Satu unit
5

nipple sudah mencukupi untuk 10 ekor broiler dan tekanan air selalu diatur di

regulator (Rahayu dkk, 2011)

Jenis peralatan kandang yang digunakan selama proses produksi ayam

pedaging adalah :

a. Tempat pakan

Tempat pakan yang digunakan selama proses pemeliharaan mulai dari 1

hari sampai panen terdiri dari chick feeder tray digunakan umur 1 hari sampai satu

atau dua minggu dengan kapasitas 100 DOC / buah. Setelah ayam berumur dua

minggu maka tempat pakan untuk anak ayam diganti seluruhnya dengan tempat

pakan ayam ayam dewasa. Pada umumnya menggunakan round feeder (tempat

pakan bundar) dengan kapasitas yang berbeda-beda. Tempat pakan kapasitas 3-5

kg dengan diameter 40 cm digunakan untuk 20 ekor ayam pedaging. Sedangkan

tempat pakan kapasitas 7 kg digunakan untuk 15 ekor ayam pedaging. Kapasitas

tempat pakan berhubungan dengan eating space seekor ayam. Bentuk tempat

pakan ada 2 tipe yaitu bundar dan panjang.

b. Tempat Air Minum

Tempat air minum yang digunakan selama proses pemeliharaan mulai

umur 1 hari sampai satu atau 2 minggu adalah chick found dengan kapasitas 75

DOC/ buah. Selanjutnya untuk ayam yang sudah berumur lebih dari 2 minggu

menggunakan tempat air bundar (round drinker) baik yang manual atau secara

otomatis. Untuk tempat air minum manual, dengan kapasitas bervariasi: 600 ml, 1

liter, 1 gallon dan 2 gallon, kapasitas 2 gallon untuk 100 ekor ayam pedaging,

sedangkan tempat air minum otomatis yang circumference 110 cm untuk

kapasitas 50-75 ekor/buah. Kapasitas tempat air minum berhubungan dengan

drinking space. Ada dua bentuk tempat air minum yaitu berbentuk bundar dan
6

panjang, dengan standar drinking space yang sama yaitu tempat minum manual

memanjang standar 1 cm/ekor, sedangkan tempat minum manual bundar standar

1 cm/ekor.

c. Alat pemanas/ heater

Sumber energi panas dapat diperoleh dari listrik, gas, minyak tanah, batu

bara, serbuk / gerjaji kayu yang halus atau menggunakan kayu bakar. Pilihlah

sumber energi yang mudah didapat, dan murah biaya energinya, agar tidak terjadi

biaya tinggi, dan gunakan sesuai kebutuhan suhu kandang.

2.2 Starting Management

Periode starter pada ayam broiler merupakan periode awal pemeliharaan

ayam broiler mulai dari chick in dan berlangsung selama 3 minggu (ada juga yang

menyebutkan sampai 4 minggu). Periode starter merupakan periode yang penting

dan kritis karena beberapa hal berikut:

a. Periode starter menentukan baik atau buruknya performa ayam broiler

selama pemeliharaan sampai panen.

b. Ayam broiler di masa starter masih banyak dipengaruhi oleh lingkungan

sekitar seperti suhu, udara, litter, dan sebagainya. Ayam broiler di masa

starter belum mempunyai kemampuan yang optimal untuk mengendalikan

kondisi tubuhnya.

c. Kondisi psikologis ayam broiler di masa starter juga masih rentan

sehingga ayam mudah stress. Ayam broiler yang stres dapat berakibat

performa yang kurang baik seperti nafsu makan turun, lesu, dll sehingga

target pemeliharaan ayam broiler tidak dapat tercapai dengan maksimal.

Untuk itu, ayam broiler pada periode starter ini membutuhkan manajemen

khusus yang dapat mengakomodasi kebutuhan ayam broiler.


7

2.2.1 Persiapan kandang Periode Starter

Sebelum anak ayam tiba maka kandang harus sudah siap. Persiapan

kandang doc untuk ayam broiler tidak berbeda dengan doc utuk ayam petelur.

Begitu pula perlengkapan kandangnya, sampai mencapai pertumbuhan bulu yang

sempurna.

Mulai umur 3 hari dilakukan pelebaran sekat secara bertahap mengikuti

kondisi ayam. Pelebaran harus diikuti dengan penambahan serta pengaturan

tempat pakan/minum. Posisi pemanas diatur sedemikian rupa agar penyebaran

panas bisa merata. Sebagai acuan, pelebaran chick guard dapat diatur sebagai

berikut:
Umur (hari) Ekor/m2
1 60 – 65
3 40 – 45
6 25 – 30
8 20 – 25
10 15 – 20
14 10 – 15
18 8 – 10
> 18 8 (full house)
Tabel 1. Pelebaran Chick Guard

a. Pemanas dan Litter

Sebaiknya di setiap brooder disediakan termometer untuk memantau suhu

ruang, akan tetapi pengamatan terhadap kondisi kenyamanan ayam yang paling

tepat adalah dengan melihat perilaku ayam itu sendiri. Pemanas dinyalakan

setidaknya sampai umur 14 hari. Jika kondisi dingin, bisa diperpanjang. Apabila

ayam kepanasan, pemanas dapat dimatikan dengan tetap memperhatikan kondisi

dan penyebaran ayam dalam chick guard.


8

Litter yang digunakan harus kering dan sudah didesinfeksi sebelumnya.

Formalin dapat digunakan untuk desinfeksi litter (misal: sekam) (5 liter formalin

40% dalam 95 liter air).

 Untuk kandang panggung

Penggantian litter disarankan dilakukan pada umur 8-10 hari. Pembukaan

cover slat atau tirai alas dapat dimulai pada umur 18 hari untuk daerah panas dan

21 hari untuk daerah dingin. Dengan tetap mempertimbangkan kondisi litter,

pembukaan cover slat dapat ditunda jika cuaca benar-benar sangat

dingin. Pembukaan cover slat dilakukan secara bertahap mulai dari 25%, 50%,

75%, hingga terbuka semua. Saat pembukaan cover slat, tirai samping bawah

(sarung) harus sudah terpasang.

Gambar 1. Urutan Pembukaan Tirai Alas


9

 Untuk kandang postal dan double deck

Ketebalan litter minimal 3-5 cm, penggantian litter mengikuti jadwal sbb:
Umur (hari) 8-10 16-17 21-25 28-dst
Penggantian Ganti 100% Ganti yang Ganti 100% Tabur
litter menggumpal

Tabel 2. Jadwal Penggantian Litter

Setelah umur 25 hari litter cukup ditabur dan diambil yang menggumpal

saja. Penggantian litter dilakukan secara perlahan-lahandan hati-hati agar ayam

tidak stres. Litter yang digunakan untuk penggantian sangat disarankan bahkan

harus di desifenktan dulu agar tidak membawa bibit penyakit. Berikut tahapan

penggantian litter

Gambar 2. Urutan Pembukaan Tirai

Setelah pengerukan dan penggantian liter selesai, posisi ayam dapat digeser

ke arah liter baru dan lakukan penggantian pada sisi

berikutnya. Setelah penggantian litter harus diikuti pemberian vitamin untuk

meningkatkan kekebalan tubuh dan menghindari stres saat penggantian litter.

a. Masa Brooding

Urutan pembukaan tirai apabila temperatur brooder terlalu panas adalah

sebagai berikut:

- Buka tirai plafon.

- Buka tirai dalam mulai dari atas ke bawah.


10

- Bila masih terlalu panas bisa ditambah bukaan pada tirai luar pada sisi

yang berlawanan dengan arah angin, juga dari atas ke bawah –> Bila suhu

mulai dingin, urutan penutupan tirai dilakukan sebaliknya.

b. Selepas masa brooding

Pembukaan tirai samping selepas masa brooding harus dimulai dari atas ke

bawah dengan pengaturan sebagai berikut:

Buka terlebih dahulu tirai yang berlawanan dengan arah angin. Pembukaan

dilakukan secara bertahap mengikuti kondisi ayam. Jika pembukaan tirai samping

dirasa belum cukup, bisa dilanjutkan pembukaan tirai samping bawah atau sarung

(buka dulu tirai yang berlawanan dengan arah angin, dibuka dari bawah ke atas).

b. Pencahayaan

Sebagai patokan praktis, untuk setiap chick guard minimal diberi 10 watt

SL/TL atau 60 watt lampu pijar dengan ketinggian 170 cm, selanjutnya ditambah

sesuai kebutuhan.bJika siang hari cuaca gelap, lampu harus dinyalakan agar feed

intake dan water intake tidak terganggu. Mulai umur 4 hari, pada malam hari

perlu dibuat suasana gelap 1-2 jam untuk produksi hormon pertumbuhan

(melatonin) dan sebagai antisipasi jika suatu saat terjadi lampu padam tiba-tiba,

ayam tidak mati menumpuk

2.2.2 Pakan dan Air Minum Periode Starter

Pakan ayam broiler pada periode starter menggunakan pakan dengan

kandungan protein 19 – 21%. Kandungan protein yang tinggi bertujuan untuk

memacu pertumbuhan ayam pada periode awal pemeliharaan ayam broiler.

Pemberian pakan dilakukan secara bertahap (sedikit demi sedikit) pada umur awal

(1 minggu). Selama 3 hari pertama anak ayam harus dipaksa untuk aktif makan

dan minum. Agar anak ayam broiler aktif makan dan minum bisa dibantu dengan
11

cara mengetuk chick guard secara perlahan-lahan atau pakan diberikan sesering

mungkin. Selain itu, kandang harus terang agar anak ayam broiler lebih giat

makan dan minum. Pakan yang tersisa dikumpulkan dan diayak kemudian

dipisahkan dari kotoran untuk diberikan kembali pada anak ayam, tetapi jangan

dicampur dengan pakan baru. Prinsip pemberian pakan adalah full feed (pakan

selalu tersedia setiap saat), tetapi perlu diingat bahwa ayam lebih suka makan

pada suhu optimum sesuai dengan naluri ayam yaitu pagi hari (jam 05.00 – 08.00)

dan sore hari(jam 17.00-20.00). Jadi pada jam-jam tersebut harus lebih

diperhatikan ketersediaan pakannya. Setelah masa brooding, pakan diberikan

minimal 2 kali sehari dengan tempat pakan diatur setinggi tembolok ayam.

Tempat pakan harus selalu bersih dan kering sebelum pakan baru

diberikan. Di bawah pemanas sebaiknya jangan diberi tempat pakan/ feeder tray

karena panas akan merusak nutrisi yang ada dalam pakan. Tinggi tempat pakan

setinggi tembolok yang diukur dari bibir atas tabung. Pada umur 8 hari tempat

pakan gantung mulai diperkenalkan. Diharapkan pada umur 10 hari ayam sudah

mengenal tempat pakan gantung, dan paling lambat umur 12 hari semua tempat

pakan harus sudah digantung.

Air minum harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup, bersih, segar,

layak minum, dan dapat juga diklorinasi (3 ppm). Klorinasi bertujuan untuk

mencegah pencemaran dan penularan bibit penyakit. Pada temperatur normal,

konsumsi air minum ayam adalah 1,6-1,8 kali (dapat juga 2 kali) dari konsumsi

pakan. Faktor ini sebaiknya digunakan sebagai pedoman, sehingga penyimpangan

konsumsi yang berkaitan dengan kualitas pakan, temperature dan kesehatan ayam

dapat segera diketahui. Beberapa suplemen, vitamin, antibiotik, dan vaksin dapat
12

juga diberikan bersama dengan air minum. Mulai umur 2 hari tempat minum

harus digantung, dan setiap hari tingginya disesuaikan setinggi punggung ayam.

Jika menggunakan tempat minum otomatis (bell drinker), perhatikan level air

sebagai berikut:

(1) Umur kurang dari 10 hari, permukaan air 0.6 cm di bawah bibir

drinker (supaya terjangkau dan mudah diminum ayam kecil)

(2) Umur lebih dari 10 hari, permukaan air 0.6 cm dari dasar drinker (supaya

tidak mudah tumpah dan tetap terjangkau ayam besar)

(3) Piringan tempat minum dibersihkan setiap pagi dan sore, sisa air dibuang.

Jika menggunakan nipple drinker perlu diperhatikan beberapa hal berikut:

Ketinggian nipple disesuaikan sehingga ayam dapat minum dengan mendongakan

kepalanya 45º terhadap nipple.


Jenis DOC Feed Intake Minggu I Body Weight Minggu Deplesi
(gram) I (gram)
PlatinumGold 160 > 170 gr 0.5%
Silver 150 > 160 gr 0.7%
140 > 150 gr 1.5%
Tabel 3. Contoh standar DOC
2.2.3 Ransum starter (0-3 minggu)
Ransum yaitu campuran dari berbagai bahan pakanyang diberikan selama

24 jam. Bahan pakan yang biasa digunakan untuk ransum ayam broiler yaitu

jagung kuning, dedak halus, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, minyak

kelapa, kulit kerang, dan tepung tulang.

Penyusunan ansum ayam broiler, didasarkan pada kandungan energi dan

protein. Untuk ayam broiler, pada umur 0-3 minggu, ransum yang digunakan

harus mengandung protein 23% dan energi metabolis 3.200 kkal/kg (NRC/2984).

Namun menururt beberapa penelitian bisa juga digunakan ransum dengan protein

22% dan energi metabolis 3000 kkal/kg sampai ayam tersebut dipanen.
13

Kandungan lain yang harus diperhatikan yaitu serat kasar 7%, lemak 8%, kalsium

1%, dan phosphor yang tersedia sekitar 0,45%.

Untuk itu jika akan menyusun ransum perlu diketahui kandungan zat-zat

makanan yang terkandung di dalam bahan pakan yang akan digunakan.

Kandungan zat makanan dapat diketahui melalui analisa laboratorium dapat

dilihat pada tabel 4.


No Bahan pakan Protein Lemak (%) Serat kasar (%) Energi
(%) metabolis
(kkal/kg)
1 Jagung kuning 8,6 3,9 2,0 3.370
2 Dedak halus 12,0 13,0 12,0 1.630
3 Bungkil kedelai 45,0 0,9 6,0 2.240
4 Bungkil kelapa 21,0 1,8 15,0 1.540
5 Bungkil kacang 42,0 1,9 17,0 2.200
tanah
6 Tepung ikan 61,0 4,0 1,0 2.830
Tabel 4. kandungan zat-zat makanan dan energi metabolis pakan

Berdasarkan hasil analisa kandungan zat-zat pada bahan pakan dan

kebutuhan ransum untuk ayam maka dapat disusun ransum yang diperlukan.

Contoh ransum ayam broiler untuk fase starter dapat dilihat pada tabel 5.
No Bahan pakan Jumlah Protein lemak Serat kasar EM
1 Jagung 60,00 5,16 2,34 1,20 2.022,00
2 Dedak halus 3,00 0,36 0,39 0,36 48,90
3 Bungkil kedelai 20,50 9,23 0,18 1,23 459,20
4 Bungkil kelapa 1,50 0,32 0,02 0,23 23,10
5 Tepung ikan 13,00 7,90 0,52 0,13 370,50
6 Minyak kelapa 1,50 - - - 129,00
7 Premix-A 0,50 - - - -
Jumlah 100,00 22,97 3,45 3,15 3.052,70
Tabel 5. susunan ransum ayam broiler fase starter

Untuk memudahkan perhitungan, ransum disusun per seratus kilo gram.

Ransum pada tabel 5 dihitung dengan menggunakan energi metabolis 3000

kkal/kg dengan protein 23%. Kandungan protein ransum ini cukup tinggi, agar
14

bisa mendukung pertumbuhan ayam. Masa pertumbuhan ayam broiler yang paling

cepat yaitu sejak menetas sampai umur 3-4 minggu.

2.2.4 Pencegahan penyakit

Untuk menghasilkan ayam broiler yang sehat, selain memperhatikan

kebersihan lingkungan juga perlu melakukan vaksinasi maupun pemberian obat-

obatan dan vitamin. Vaksinasi dilakukan untuk mencegah penyakit unggas

menular yang tidak bisa diobati misalnya ND/tetelo, dan gumboro. Jenis vaksin

ND ini banyak tersedia di poultry shop dengan merk dagang dan cara penggunaan

yang berbeda. Contoh vaksin gumboro yaitu Medivac Gumboro-A, yang

diberikan sekitar 12 hari. Pemberian jenis vaksin yang berbeda tidak dilakukan

pada waktu yang bersamaan karena dikhawatirkan ayam tidak tahan. Contoh

program pencegahan penyakit dalam pemeliharaan ayam broiler dapat dilihat pada

tabel 6.

Dosis pemakaian dan petunjuk penggunaannya biasanya tercantum dalam

kemasan vaksin yang akan digunakan. Vaksinasi sebaiknya dilakukan pada sore

hari agar ayam lebih mudah ditangkap (bila vaksin melalui suntikan ). Di samping

itu, vaksin tidak akan terkena sinar matahari yang dapat mematikan vaksin. Jika

vaksin diberikan melalui air minum, maka ayam harus dipuasakan dulu sekitar 2-3

jam sebelummya supaya air minum yang telah diberi larutan vaksin cepat habis,

sehingga vaksin tidak mati atau terbuang.

Program pencegahan penyakit atau penggunaan obat-obatan/ vitamin,

untuk tiap peternak berbeda-beda tergantung kepada jenis penyakit yang sering

timbul di peternakan tersebut. Serangan penyakit ini dapat meningkatkan angka

kematian. Angka kematian sekitar 5% dari mulai pemeliharaan DOC sampai

dipasarkan, masih dianggap cukup berhasil.


15

Umur Nama vaksin/obat Teknik pelaksanaan Tujuan


(hari)
1-2 Hidrostress 5 g/10 liter air minum Mengurangi stress
1-6 Vaksin ND Tetes mata Mencegah penyalit ND
3-5 Sindoflox 1 ml/2 liter air minum Mencegah CRD
6-8 Vitastress 1 g/1 liter air minum Mengurangi stress
9-11 Theraphy 1 g/2 liter air minum Mencegah coccidiocis
12 Medivac Gumboro A Melalui air minum Mencegah gumboro
12-15 Hidrostress 5 g/10 liter air minum Mengurangi stress
16-17 Theraphy 1 g/2 liter air minum Mencegah coccidiocis
18-19 Hidrostress 5 g/10 liter air minum Mengurangi stress
22-23 Theraphy 1 g/2 liter air minum Mencegah coccidiocis
24-27 Hidrostress 5 g/2 liter air minum Mengurangi stress
28-23 Dinabro 5 g/10 liter air minum Merangsang
pertumbuhan
Tabel 6. Program pencegahan penyakit dalam pemeliharaan ayam broiler

2.3 Finishing Management

2.3.1 Kandang Finishing Management

Kandang merupakan modal tetap (investasi) yang cukup besar nilainya,

maka sedapat mungkin semenjak awal dihindarkan kesalahan-kesalahan dalam


pembangunannya, apabila keliru akibatnya akan menimbulkan problema-

problema terus menerus sedangkan perbaikan tambal sulam tidak banyak

membantu (Williamsons dan Payne, 1993).


a. Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk,
mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari
timur ke barat.
b. Pergantian udara dalam kandang.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.
Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
16

c. Suhu udara dalam kandang.


Tabel 7. Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Umur Suhu (0C)
(hari)
01 – 07 34 – 32
08 – 14 29 – 27
15 – 21 26 – 25
21 – 28 4 – 23
29 – 35 23 – 21

d. Kemudahan mendapatkan sarana produksi


Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana
peternakan.
e. Kepadatan Kandang
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga
kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk
pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal
untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka
tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa
yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum,
stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.
Pengaturan kepadatan kandang dilakukan sedemikian rupa untuk
mengatasi kanibalisme akibat terlalu padatnya kandang. Hal ini juga bermanfaat
untuk kenyamanan ayam. Kepadatan kandang juga berpengaruh terhadap
produksi, performen dan tingkat kenyamanan ayam broiler (May dan Lott, 1992).
Kartasudjana (2013) menyatakan bahwa jika kandang terlalu padat akan
mempengaruhi performa ayam, misalnya sebagai berikut :

1) Konsumsi ransum menurun akibat beberapa hal, misalnya temperature

kandang meningkat, ransum banyak yang tumpah, dan kesempatan makan

yang berkurang
17

2) Pertumbuhan menurun

3) Efisiensi pakan menurun

4) Kematian bertambah

5) Kanibalisme bertambah

6) Banyak terjadi breast blister (bagian yang mengeras dibagian dada)

7) Petumbuhan bulu berkurang banyak terjadi patah tulang pada saat

processing (Condemnation)

Tabel 8. Kepadatan kandang yang ideal sesuai dengan umur ayam adalah sebagai

berikut (Susilorini, 2013) :


Kepadatan
Umur (hari)
(ekor/m2)
1 60
3 40
6 30
12 15
28 (Periode
5-6
Finisher)
Dalam pemeliharaan ayam ras pedaging, terdapat dua system

perkandangan, yaitu system litter dan system cages. Sistem litter yaitu kandang

yang lantainya ditutup dengan bahan organik yang partikelnya berukuran kecil.

Sistem litter banyak dipakai karena relatif mudah dan murah, sementara kandang

system cages pemeliharaannya lebih sulit dan relative mahal (Kartasudjana,

2013). Kandang dengan system cages jarang digunakan peternak ayam broiler

karena biayanya yang cukup mahal.

Tempat pakan untuk ayam fase finisher berbeda dengan ayam fase starter,

untuk ayam fase finisher biasanya menggunakan hanging feeder atau tempat

pakan gantung, hanging feeder mulai digunakan setelah ayam berumur 10 hari.

Tempat pakan ini terdiri atas bagian piringan dan tabung yang dikaitkan oleh
18

kawat. Tingginya bisa diatur sesuai umur ayam. Ada beberapa ukuran tempat

pakan gantung antara lain 3 kg, 4 kg, 5 kg, dan 7 kg (Tamalludin, 2014).

Tamalludin (2014) menyatakan ada dua tipe tempat minum yaitu :

(1) System terbuka

Tempat minum system terbuka adalah tempat minum yang banyak

digunakan oleh peternak karena lebih mudah dalam perawatan serta harganya

relative lebih murah. Kelemahannya adalah bisa terkontaminasi kuman yang

berasal dari debu. Kandang dan kotoran yang masuk ke tempat minum. Tempat

minum terbuka terdiri atas tempat minum manual (gallon) dan tempat minum

otomatis (automatic bell drinker).

(2) System tertutup (nipple)

Nipple biasanya digunakna di kandang tipe tertutup. Nipple berbentuk

memanjang seperti pipa, lalu air minum di pipa, lalu air minum keluar dari pipa

yang menjulur ke bawah dan akan keluar jika disentuh paruh. Kelebihannya

adalah air tidak terkontaminasi kotoran, tidak boros air, tidak perlu dibersihkan

setiap hari, dan pemberiannya mudah. Kelebihannya membutuhkan investasi yang

tinggi dan perawatannya harus baik.

c. Sekat pembahas

Sekat pembatas berfungsi memisahkan ayam sesuai dengan bobot ayam

saat diseleksi, sekat dapat dibuat dari bilahan bambu dengan tinggi 50 cm. sekat

ini juga berfungsi membatasi pergerakan sehingga energy ayam tidak banyak

terbuang (Tamalludin, 2014).

d. Tirai kandang dan pelapis kandang

Tirai dapat menggunakan terpal, plastic, maupun karung bekas pakan.

Tirai bagian luar lebih baik menggunakan terpal karena dapat menahan angina
19

dari luar. Bagian dalam bisa menggunakan plastic atau karung. Tirai ini berfungsi

untu menstabilkan suhu dan kelembaban, terutama pada masa brooding

(Tamalludin, 2014).

2.3.2 Ransum Finisher

Pada masa akhir pemeliharaan (finisher), perlu dilakukan pergantian pakan

karena kebutuhannya berbeda dengan ayam fase starter. Pergantian pakan yang

dilakukan haruslah secara bertahap, pada hari ke 1 pakan yang digunakan adalah

¾ starter + ¼ finisher, pada hari ke 2 pakan yang digunakan ½ starter + ½

finisher, hari ke 3 pakan yang digunakan ¼ starter + ¾ finisher, dan pada hari ke

4 seluruh pakan yang digunakan adalah pakan finisher (Kartasudjana, 2013).

Pada saat pemberian pakan, pastikan jumlah dan rasio tempat pakan dan

tempat minum telah terpenuhi. Untuk kandang berukuran 5 – 7 m, lajur tempat

pakan dan tempat minum masing-masing adalah 4 lajur dan untuk lebar kandang 8

– 10 m, lajur tempat pakan dan tempat minum masing masing adalah 5 jalur. Pada

daerah pemeliharaan yang memiliki iklim panas, pakan sebaiknya diberikan pada

temperatur yang tidak terlalu panas seperti pada pagi dan sore hari. Pakan

diberikan minimal 2 kali sehari dengan perbandingan pagi dan sore 40% : 60%.

Jika pakan dirasa kurang dapat ditambahkan. Pada siang hari tempat pakan dapat

dinaikkan agar ruang gerak ayam lebih banyak dan dapat mengurangi panas,

tetapi tetap pada jangkauan ayam. untuk meningkatkan feed intake ayam di

malam hari, perlu dilakukan upaya membangunkan ayam minimal 5 kali dalam

semalam.
Tabel 9. Susunan ransum broiler finisher
PK LK SK Ca P EM
No Bahan Pakan Jml
% (Kkal/kg)
1 Jagung 60,0 5,16 2,34 1,20 0,01 0,06 2022,00
20

kuning
2 Bk. Kedelai 15,0 6,75 0,13 0,90 0,04 0,04 336,00
3 Dedak halus 5,5 0,66 0,71 0,66 0,01 0,01 89,65
4 Tp. Ikan 11,0 6,71 0,44 0,11 0,60 0,30 311,30
5 Bk. Kelapa 5,0 1,05 0,09 0,75 0,01 0,01 84,70
Minyak
6 2,0 - 2,00 - - - 172,00
kelapa
7 Grit 1,0 - - - 0,38 0,20 -
8 Premix 0,5 - - - - - -
Jumlah 100 20,33 5,71 3,62 1,05 0,62 3015,65
Sumber : Kartasudjana (2013)
2.3.3 Pencegahan Penyakit Periode Finisher

Penyakit yang sering menyerang ayam broiler fase finisher adalah CRD

(ngorok), coccidiosis (berak darah), dan snot (pilek ayam). Faktor penyebab dari

munculnya penyakit tersebut sebagian besar adalah tingkat kebersihan kandang

yang kurang terjaga, bahan litter yang jarang diganti, penggunaan peralatan yang

belu disterilisasi, hingga sirkulasi udara yang kurang baik (Fadillah, 2012).

Pencegahan penyakit pada ayam broiler fase finisher dapat dilakukan

dengan cara menjaga kebersihan kandang, membersihkan peralatan kandang

dengan rutin, serta mengisolasi ayam yang terkena penyakit agar tidak menular

kea yam yang lain (Fadillah, 2012).

2.3.4 Perlakuan Agar Menghasilkan Ayam Pedaging Berkualitas Baik

Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging Agar daging yang

diperoleh berkualitas tinggi, terdapat beberapa perlakuan khusus terhadap ayam


broiler fase finisher, yaitu:

(1) Pemanenan tidak boleh melebihi umur 8 minggu. Ayam broiler harus

dipanen sebelum umur 8 minggu, pasalnya daging ayam yang umurnya

lebih dari 8 minggu tingkat keempukannya menurun, serta mengalami

penumpukan lemak sehingga persentase karkasnya menurun.


21

(2) Membatasi gerak ayam. Hal tersebut dimaksudkan agar otot-otot

dagingnya tidak mengeras karena terlalu sering bergerak. Kandang yang

digunakan harus sesuai

(3) Menggunakan litter yang baik. Lantai litter yang baik, empuk, kering dan

halus akan membantu menjaga bagian tubuh ayam terutama bagian dada

agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai. Dengan cara ini akan

dihasilkan karkas daging yang empuk dan berkualitas.

2.4 Manajemen Perkawinan

2.4.1 Kawin Alami

Perkawinan secara alami adalah perkawinan ayam pejantan dengan induk

betina dimana keduanya telah matang organ reproduksinya. Perkawinan dilakukan

dengan cara ayam akan menaiki tubuh induk betina dan memasukkan spermanya

ke dalam vagina induk betina. Perkawinan ini dilakukan tanpa ada campur tangan

manusia, karena biasanya saat induk betina sudah mulai siap kawin akan

menunjukkan tingkah laku yang dapat mengundang ayam jantan untuk segera

mengawininya.

2.4.2 Kawin Semi Alami

Tidak semua indukan betina mau dikawini oleh ayam pejantan, sehingga

ayam pejantan yang telah siap kawin akan mengejar indukan betina yang lari

ketakutan. Kalaupun ayam pejantan dapat mengejar dan mengawini indukan

betina, maka sperma jantan tidak akan dapat masuk sempurna karena indukan

betina akan terus meronta dan ayam pejantan akan terburu buru mengeluarkan

spermanya walaupun posisinya belum tepat benar. Caranya adalah perkawinan

ayam yang dilakukan sama seperti cara konvensional, tetapi dibantu tangan

manusia. Caranya dengan memegangi induk betina yang siap kawin dengan posisi
22

didudukkan ke lantai agar tidak meronta-ronta, sehingga ayam pejantan dapat

mengawininya secara alami. perkawinan ini hanya dapat dilakukan pada ayam

yang sudah jinak dan terbiasa.

2.4.3 Kawin suntik

Untuk memperoleh DOC yang berkualitas dalam jumlah banyak dan

seragam dan dalam waktu yang singkat tentu sulit tercapai, mekipun

menggunakan ayam pejantan yang unggul dan betina yang baik. meskipun secara

kualitas telur akan baik, tetapi jumlah telur yang dihasilkan akan terbatas dan

tingkat kegagalan tetas telur juga cukup tinggi. untuk mengatasi hal tersebut maka

perlu dilakukan inseminasi buatan (IB), atau secara awam disebut dengan kawin

suntik. Kawin suntik adalah perkawinan yang dilakukan tidak secara alami, tetapi

menggunakan bantuan manusia dengan cara mengambil sperma dari pejantan

kemudian dimasukkan ke dalam organ reproduksi induk betina untuk dibuahi.

Tujuannya agar dapat memperbaiki kemampuan ayam betina dalam menghasilkan

telur dengan jumlah banyak, serta memperoleh DOC yang baik dan seragam

dalam waktu yang singkat.

2.5 Manajemen Telur Tetas dan Penetasan

2.5.1 Syarat-Syarat Telur Tetas

a) Fertil

Pastikan bahwa telur yang akan kita tetaskan memang telur yang dibuahi.

Telur berasal dari induk betina yang dipelihara bersama pejantan. Bila tidak

dipelihara bersama pejantan, bisa juga dapat telur diperoleh dari breeding farm

yang menerapkan sistem inseminasi buatan dalam pemeliharaan induk ayamnya.

b) Umur Telur
23

Telur tetas harus baru, maksimal umur 7 hari, dan seragam. agar waktu

menetasnya dapat lebih serentak. Hal ini biasannya ditandai dengan besar-

kecilnya kantong udara dalam telur. Semakin lama umur telur, maka kantong

udaranya semakin besar.

c) Cangkang

Cangkang harus bersih, utuh tidak boleh retak, halus normal, tebalnya

sedang. Jangan sekali-kali memasukkan telur dengan cangkang yang retak untuk

ditetaskan, karena akan mempengaruhi perkembangan embrio bahkan dapat

busuk dan pecah dalam mesin tetas sehingga bau yang dikeluarkan akan meracuni

yang lain.

d) Ukuran dan Bentuk

Besar telur tetas diusahakan seragam, karena akan mempengaruhi

keseragaman besar DOC yang dihasilkan. Caranya dengan melakukan

penimbanga telur, lalu hitung rata-rata bobot telur. Telur yang ditetaskan adalah

telur yang bobotnya rata-rata ( + - ) 10 % dari dari rata-rata berat telur. Dipilih

yang normal, yaitu berbentuk oval. Tidak lonjong dan juga tidak bulat.

2.5.2 Syarat-Syarat Penetasan Telur

Agar mencapai hasil yang diinginkan, maka telur yang ditetaskan harus

memenuhi syarat – syarat sebagai berikut :

a) Suhu dan Perkembangan Embrio

Embrio akan berkembang cepat selama suhu telur tetap di atas 900F (32,

220C) dan akan berhenti berkembang jika suhu dibawah 800F (26,660C), sesudah

telur diletakan dalam alat penetasan atau mesin tetas, pembelahan sel segera
24

berlangsung dan embrio akan terus berkembang sempurna dan menetas. Perlu

diperhatikan bahwa suhu ruang penetasan harus sedikit diatas suhu telur yang

dibutuhkan. Sehingga suhu yang diperlakukan untuk penetasan telur ayam

menurut kondisi buatan dapat sedikit berbeda dengan suhu optimum telur untuk

mendapatkan hasil yang terbaik. Mulai hari pertama hingga hari kedelapan belas

diperlukan suhu ruang penetasan antara99 – 1000F (35 – 41,110C), sedangkan

pada hari kesembilan belas hingga menetas, sebaiknya suhu diturunkan sekitar 2

– 30F (0,55 – 1,110C). Adapun suhu yang umum untuk penetasan telur ayam

adalah sekitar 101 – 1050F (38,33 – 40,550C) atau rata – rata sekitar 100,40F.

Cara ini bertujuan untuk mendapatkan suhu telur tetas yang diinginkan.

b) Kelembaban dalam Mesin Tetas

Selama penetasan berlangsung diperlukan kelembapan yang sesuai dengan

perkembangan dan pertumbuhan embrio. Kelembaban yang umum untuk

penetasan telur ayam sekitar 60 – 70 %. Kelembaban juga mempengaruhi proses

metabolisme kalsium (Ca) pada embrio. Saat kelembaban nisbi terlalutinggi,

perpindahan Ca dari kerabang ketulang – tulang dalamperkembangan embrio

lebih banyak. Pertumbuhan embrio dapat diperlambat oleh keadaan kelembaban

udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sedangkan pertumbuhan embrio

optimum akan diperoleh pada kelembaban 60%- 70%

c) Ventilasi

Perkembangan normal embrio membutuhkan oksigen (O2) dan

mengeluarkan karbondioksida (CO2) melalui pori – pori kerabang telur. Untuk

itulah didalam mesin tetas harus cukup tersedia oksigen. Jika kerabang tertutup
25

oleh kotoran, pertukaran gas oksigen dan karbondioksida akan mengalami

gangguan.

Dalam keadaan yang demikian kadar karbondioksida akan meningkat

sekitar 0,5%, sedangkan kadar oksigen menurun sekitar 0,5%. Peningkatan kadar

karbondioksida yang terlalu tinggi dapat menyebabkan berkurangnya daya teteas

telur. Jika kadar karbondioksida meningkat 1%, maka kematian embrio dapat

meningkat. Sedangkan jika peningkatan sebesar 5%, embrio akan mati sebelum

menetas. Penigkatan kadar karbondioksida yang masih diperbolehkan adalah

sebesar 0,5 – 0,8%, dengan kadar optimum 0.5%. Menurut Djanah Djamalin

(1981), perimbangan udara dalam mesin tetas selama periode penetasan adalah

0,5% gas CO2 dan 21% O2 (Paimin,2000).

2.5.3 Proses Penetasan

Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai

telur pecah menghasilkan anak ayam. Penetasan dapat dilakukan secara alami oleh

induk ayam atau secara buatan (artifisial) menggunakan mesin tetas. Telur yang

digunakan adalah telur tetas, yang merupakan telur fertil atau telur yang telah

dibuahi oleh sperma, dihasilkan dari peternakan ayam pembibit, bukan dari

peternakan ayam petelur komersil (Suprijatna et al., 2005). Pada prinsipnya

penetasan telur dengan mesin tetas adalah mengkondisikan telur sama seperti telur

yang dierami oleh induknya. Baik itu suhu, kelembaban dan juga posisi telur.

Dalam proses penetasan dengan menggunakan mesin tetas memiliki kelebihan di

banding dengan penetasan secara alami, yaitu : dapat dilakukan sewaktu-waktu,

dapat dilakukan dengan jumlah telur yang banyak, menghasilkan anak dalam
26

jumlah banyak dalam waktu bersamaan, dapat dilakukan pengawasan dan seleksi

pada telur (Yuwanta, 1983).

2.5.4 Tahap Akhir Penetasan

Tahap akhir dari penetasan adalah evaluasi penetasan. Hal-hal yang

dievaluasi meliputi fertilitas, mortalitas dan daya tetas. Menurut Tri-Yuwanta

(1983), fertilitas adalah perbandingan antara telur fertil dengan telur yang

ditetaskan dan dinyatakan dalam persen. Mortalitas adalah jumlah embrio yang

mati selama proses penetasan dan dinyatakan dalam persen. Daya tetas adalah

jumlah telur yang menetas dari sekelompok telur fertil yang dinyatakan dalam

persen.

2.6 Penanganan Limbah

Ada beberapa bentuk limbah dalam peternakan ayam, yaitu limbah padat

dan limbah cair. Bentuk limbah padat dari peternakan ayam adalah kotoran ayam,

limbah krsital (kotoran ayam di kandang postal yang tercampur dengan litter),

kerabang telur, bangkai ayam, dan DOC afkir di unit penetasan. Sementara itu,

limbah cair dari peternakan ayam adalah air bekas pencucian kandang dan

peralatan, air bekas sanitasi, dan air minum ayam.

Cara penanganan limbah kerabang telur ini dilakukan dengan cara dibuang

atau dijadikan campuran pakan itik. Cara penanganan limbah peternakan ayam

dengan cara diolah sangat bermanfaat untuk menekan pencemaran lingkungan.

Cara penanganan limbah peternakan ayam berupa pengolahan yang dilakukan

dengan benar juga akan meningkatkan kualitas dari limbah itu sendiri. Seperti

yang telah disebutkan sebelumnya, cara penanganan limbah peternakan ayam bisa

dengan cara pembuatan kompos.


27

Adapun cara untuk mengurangi bau dengan penggunaan Zeolit karena

diketahui mampu menyerap molekul-molekul lain dan mampu menyerap gas-gas

CO2, H2S dan lain-lain yang terdapat dalam feses ayam (Sutarti dan Rachmawati,

1994).

2.7 Biosecurity Operasional di Breeder

Menurut Jeffrey (1997), penerapan biosekuriti pada peternakan petelur

dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu (1) isolasi, (2) pengendalian lalu lintas,

dan (3) sanitasi.

1) Isolasi

Isolasi mengandung pengertian penempatan atau pemeliharaan hewan di

dalam lingkungan yang terkendali. Pengandangan atau pemagaran kandang akan

menjaga dan melindungi unggas serta menjaga masuknya hewan lain ke dalam

kandang. Isolasi ini diterapkan juga dengan memisahkan ayam berdasarkan

kelompok umur. Selanjutnya, penerapan manajemen all-in/all-out pada

peternakan besar mempraktekan depopulasi secara berkesinambungan, serta

memberi kesempatan pelaksanaan pembersihan dan disinfeksi seluruh kandang

dan peralatan untuk memutus siklus penyakit (Jeffrey 1997).

a) Pengendalian lalu lintas

Pengendalian lalu lintas ini diterapkan terhadap lalu lintas ke peternakan

dan lalu lintas di dalam peternakan. Pengendalian lalu lintas ini diterapkan pada

manusia, peralatan, barang, dan bahan. Pengendalian ini data berupa penyediaan

fasilitas kolam dipping dan spraying pada pintu masuk untuk kendaraan ,

penyemprotan desinfektan terhadap peralatan dan kandang, sopir, penjual, dan

petugas lainnya dengan mengganti pakaian ganti dengan yang pakaian khusus.
28

Pemerikasaan kesehatan hewan yang datang serta adanya Surat Keterangan

Kesehatan Hewan (SKKH). (Jeffrey 1997).

b) Sanitasi

Sanitasi ini meliputi praktek disinfeksi bahan, manusia, dan peralatan yang

masuk ke dalam peternakan, serta kebersihan pegawai di peternakan (Jeffrey

1997). Sanitasi meliputi pembersihan dan disinfeksi secara teratur terhadap bahan

– bahan dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan. Pengertian disinfeksi

adalah upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari

mikroorganisme secara fisik atau kimia, antara lain seperti pembersihan

disinfektan, alkohol, NaOH, dan lain-lain.

Sanitasi peternakan meliputi kebersihan sampah, feses dan air yang

digunakan. Air yang digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus

memenuhi persyaratan air bersih (Depkes, 2001). Jika digunakan air tanah atau

dari sumber lain, maka air harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga

memenuhi persyaratan air bersih.

Salah satu perlakuan air yang umum dilakukan adalah dengan menambahkan

klorin 2 ppm. Untuk menjamin bahwa air tersebut memenuhi syarat air bersih,

maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, minimum 1 tahun

sekali. Klorin berguna untuk mematikan mikroorganisme yang terkandung dalam

sumber air. Air merupakan media pembersih selama proses sanitasi serta

merupakan bahanbakupada proses pengolahan pangan (Depkes, 2001). Air juga

dapat sebagai sumber pencemar. Jika air tercemar, perlu dicari alternatif sumber

air lain atau air tersebut harus diolah dengan metode kimia atau metode lainnya.

Sumber pencemar lain adalah udara di sekitarnya (Marriott, 1999).


29

Pangan dapat tercemar oleh mikroorganisme pada udara selama proses,

pengemasan, penyimpanan dan penyiapan. Cara yang efektif untuk mengurangi

pencemaran mikroorganisme dari udara antara lain praktek higiene, penyaringan

udara yang masuk ke ruang proses, dan penerapan metode pengemasan yang baik

(Marriott, 1999).

c) Higiene Penanganan Telur

Menurut PCFS (1999), sebaiknya saat pengumpulan telur di kandang, telur

yang utuh dan baik dikumpulkan dengan menggunakan baki telur plastik (egg

tray) yang dipisahkan dengan telur yang retak/kotor. Hal ini dilakukan untuk

mencegah telur yang baik terkontaminasi agen patogen yang mungkin terdapat

pada telur kotor/retak. Perlakuan yang dapat diterapkan terhadap telur yang kotor

adalah dengan cara dilap, tanpa dicuci terlebih dahulu. Pada gudang penyimpanan

telur, telur disimpan pada egg tray terbuat dari plastik yang telah dibersihkan dan

didisinfeksi, atau jika tidak ada, telur dapat diletakkan di dalam peti kayu baru

dengan sekam yang telah didisinfeksi, terpisah dengan telur yang retak/rusak.

Telur yang retak harus segera digunakan. Baki telur diletakkan di atas palet

plastik setinggi minimum 15 cm dari permukaan lantai dan berjarak minimum 15

cm dari dinding. Menurut McSwane et al.(2003) penyimpanan pangan pada area

gudang kering pada permukaan datar yang berjarak minimum 6 inch (15.24 cm)

dari permukaan lantai dan dinding. Hal ini bertujuan untuk memudahkan

pembersihan lantai dan dinding, mencegah seranganhama, serta memberikan

sirkulasi udara yang baik terhadap produk.

Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran ayam)

dilakukan pada periode tertentu secara teratur, karena dapat mengundang lalat
30

atau insekta lain serta tumpukan sampah dapat menjadi sumber pencemaran di

peternakan (Jeffrey, 1997).


31

III
KESIMPULAN

1. Persiapan kandang dibagi menjadi 2, sebelum DOC datang dan saat

penerimaan DOC, sebelum DOC datang kandang harus sudah dibersihkan

yang sudah dicampur dengan densipektan, selain itu perlu juga

membersihkan dan merapihkan peratalan kandang diantaranya : tempat

minum, tempat pakan dan pemanas, serta melakukan pengapuran pada

kandang. Dan ketika penerimaan DOC hal yang harus disiapkan adalah

pemanas, minuman serta vitamin dan pakan untuk DOC.

2. -Periode starter dimulai dari Chick In sampai 3/4 minggu. Pada periode

starter yaitu pemanas & liter harus sesuai dengan keperluan, pencahayaan

60 watt lampu pijar dengan ketinggian 170cm, pakan yang diberikan harus

mengandung protein 19-21%, pencegahan penyakit dilakukan dengan

pemberian vaksin.

3. Pada periode finisher untuk kandang harus diperhatikan lokasi kandang,

pergantian udara dalam kandang, suhu udara dalam kandang, kepadatan

kandang dan kemudahan sarana produksi. Pencegahan penyakit pada

periode finisher bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang &

peralatan kandang secara rutin, serta mengisolasi ayam yang terkena

penyakit.

4. Manajemen perkawinan dibagi menjadi 3, yaitu : 1. kawin alami, yang

terjadi tanpa campur tangan manusia, 2. Kawin semi alami dilakukan

dengan bantuan manusia, 3. Kawin suntik, dilakukan pengambilan sperma

dari penjantan dan kemudian dimasukkan ke alat reproduksi betina.


32

5. Syarat telur tetas diantara lain : Fertil, umur telur, cangkang, ukuran dan

bentuk telur. Sedangkan syarat penetasan tepur adalah suhu harus diatas

90-102°F, kelembaban dalam mesin tetas umumnya 60-70%, ventilasi

selama penetasan 21% O2 dan 0,5% CO2.

6. Cara penanganan limbah kerabang telur ini dilakukan dengan cara dibuang

atau dijadikan campuran pakan itik.

7. Biosecurity Operasional dibreeder dibagi menjadi 3 bagian utama, yaitu :

Isolasi, pengendalian lalu lintas, sanitasu dan higiene penanganan telur.


33

DAFTAR PUSTAKA

Fadillah, R. 2004. Kunci Sukses Beternak Ayam Broiler di Daerah Tropis. PT


Agro Media Pustaka. Jakarta.

_________. 2005. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial Edisi


Revisi. Jakarta : PT Agro Media Pustaka.

_________. 2005. Kunci Sukses Beternak Ayam Broiler di Daerah Tropis.


Cetakan ke-2. Agromedia Media Pustaka. Jakarta

Fadillah, R. 2012. Kunci Sukses Beternak Ayam Broiler di Daerah Tropis.


Agromedia Pustaka. Jakarta

Jeffrey JS. 1997. Biosecurity for poultry flocks. Poultry Fact Sheet No 26.

Kartasudjana, R dan Edjeng S. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar


Swadaya. Jakarta

Kartasudjana, R. dan E. Suprijatna.2013. Manajemen Ternak Unggas. Penebar


Swadaya.Jakarta.

May, J. and B. D. Lott. 1992.Feed and Water Consumption Patterns of Broiler at


High Environmental Temperatures. Poultry Science. 71 : 331-336

Marriott, N. G. 1999. Principles of Food Sanitation 4th ed. Gaithersburg,


Maryland: AN Aspen Publication.

McSwane, D., N. Rue dan R. Linton. 2003. Essential of Food Safety and
Sanitation 3rd ed. New Jersey: Pearson Education, Inc

Paimin, Farry. 2000. Membuat Dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya.
Jakarta

Rasyaf, M. 1995. Pengelolaan Usaha Peternakan Ayam Pedaging. Jakarta (ID) :


PT Gramedia Pustaka Utama

________. 2012. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta

Santoso,U. 2011. Pengaruh tipekandang dan pembatasan pakan diawal


pertumbuhan terhadap performans dan penimbunan lemak pada ayam
pedaging unsexed. JITV7(2): 84-8

Suprijatna, E. U, Atmomarsono. R, Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak


Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
34

Suprijatna, E. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.


Swadaya Jakarta. Halaman 22-40.

Sutarti dan Rachmawati. 1994. Zeolit. Tinjauan literatur. Pusat Dokumentasi dan
Informasi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Tamalludin, F. 2014. Ayam Broiler. Penebar Swadaya. Jakarata Timur

Williamson, G. and W. J. A. Payne, 1993. Pengantar Peternakan di Daerah


Tropis. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Yuwanta, T. 1983. Beberapa Metoda Praktis Penetasan Telur. Fakultas
Peternakan, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
35

LAMPIRAN

Lampiran 1. Distribusi Pengerjaan


No Nama NPM Keterangan
1. Syifa Fauziana P 200110170010 BAB III, Power Point
2. Fuzi Ridwan Firdaus 200110170022 BAB II (2.4, 2.7)
3. Ayi Liani Putri 200110170084 Cover, BAB I
Kata Pengantar, Daftar isi,
4. Feni Farida 200110170093
Daftar Lampiran, Editing
5. Taufiq Muttaqin R 200110170094 BAB II (2.1, 2.2, 2.3)
BAB II ( 2.5, 2.6), Daftar
6. Ayu Anjani P 200110170260
Pustaka