Anda di halaman 1dari 5

Pos Obat Desa Pos Obat Desa adalah Unit pelayanan di tingkat desa yang menyediakan

obat-obat dasar dan diselenggarakan oleh masyarakat melalui kader kesehatannya di bawah
bimbingan Puskesmas; dalam pelaksanaan kader akan menanyakan keluhan penderita,
kemudian memberikan obat sederhana yang sesuai

Pos Obat Desa ( POD )


Pos obat desa merupakan wujud peran serta masyarakat dalam hal pengobatan
sederhana. Kegiatan ini dapat dipandang sebagai perluasan kuratif sederhana, melengkapi
kegiatan preventif dan promotif yang telah di laksanakan di posyandu.
Dalam implementasinya POD dikembangkan melalui beberapa pola di sesuaikan dengan
stuasi dan kondisi setempat .
Beberapa pengembangan POD itu antara lain :
POD murni, tidak terkait dengan UKBM (upaya kesehatan bersumberdaya manusia) lainnya.
a. POD yang di integrasikan dengan Dana Sehat ;
b. POD yang merupakan bentuk peningkatan posyandu:
c. POD yang dikaitkan dengan pokdes/ polindes ;
d. Pos Obat Pondok Pesantren ( POP ) yang dikembangkan di beberapa pondok pesantren ;
POD jumlahnya belum memadai sehingga bila ingin digunakan di unit –unit desa , maka
seluruh ,diluar kota yang jauh dari sarana kesehatan sebaiknya mengembangkan Pos Obat
Desa masing – masing

tujuan

Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mendeteksi
dan mengatasi masalah kesehatan desa secara mandiri.
Program desa ini membawa pesan implisit bahwa pemerintah akan melepaskan tanggung
jawab finansial pemerintah dalam mewujudkan kesehatan kepada masyarakat.
Memang tidak dipungkiri bahwa sehat tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi
masyarakat sendiri juga berperan. Sehingga, pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu
kunci. Pemberdayaan masyarakat ini bukanlah sulapan. Memberdayakan masyarakat berarti
memberikan informasi kesehatan yang tepat dan lengkap kepada masyarakat, agar mereka
mengerti tentang baik-buruknya alternatif yang tersedia serta bertanggung jawab terhadap
pilihannya.
Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat juga terkait dengan kompleksitas pengambilan
keputusan. Pilihan bersalin kepada dukun atau bidan diserahkan kepada masyarakat. Menjadi
tugas pemerintah untuk mengikis asimetri tersebut termasuk dengan menyediakan
infrastruktur. Melalui program desa siaga, pemerintah menargetkan membangun pos
kesehatan desa yang diharapkan dapat dikawal oleh seorang bidan dan 2 kader desa. Pos
kesehatan desa juga harus memiliki dukungan fasilitas informasi dan komunikasi yang
memadai untuk menjalankan fungsi deteksi masalah kesehatan secara dini serta merujuk
masalah kesehatan secara cepat ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Berbagai metode
komunikasi (dari manual dan elektronik), informasi yang terinci mengenai berbagai risiko di
wilayah desa serta potensi (ambulans desa, petugas yang kompeten) harus dimiliki oleh pos
kesehatan desa. Tidak berarti bahwa pos kesehatan ada harus ada di setiap desa jika
masyarakat dalam wilayah tersebut sudah mampu mengatasi masalah kesehatan secara
mandiri. Klinik atau tenaga kesehatan yang melayani pasien dari daerah kumuh di perkotaan
dapat difungsikan sebagai pos kesehatan desa juga. Kata kuncinya adalah pelembagaan pos
kesehatan desa. Semenjak diundangkannya UU no 32 tahun, desa berhak mendapatkan dan
mengelola Alokasi Dana Desa (ADD). Agar pos kesehatan desa benar-benar dimiliki oleh
masyarakat desa tersebut, mengapa tidak mengadvokasi agar pemerintah kabupaten
melakukan inovasi pemanfaatan ADD untuk mendukung program desa siaga. Di tingkat
kabupaten, jargon yang muncul adalah kerjasama lintas sektoral, tetapi implementasi di
lapangan bersifat spasial (dibatasi wilayah administratif desa).

Program Pos Obat Desa dan Pelatihan Kader Lokal

Persoalan utama yang dihadapi oleh desa dan masyarakat l di Indonesia adalah sangat
minimnya keberadaan fasilitas dan kualitas kesehatan seperti Puskesmas, polindes, dan
Posyandu. Sementara itu masyarakat, terutama yang jauh dari akses kesehatan, sangat
membutuhakn fasilitas tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup mereka beserta keluarga.
Namun sayangnya, banyak sekali Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya tidak
optimal sebagai lembaga yang berada di depan untuk promosi dan pencegahan penyakit.
Kurangnya komitmen pelayanan, dukungan operasional, dan tingkat korupsi tinggi terhadap
dana kesehatan menjadi penyebab ketidakoptimalan ini. Sayangnya, meningkatkan dan
memperbaiki fasilitas kesehatan masyarakat pun kurang menjadi perhatian pemerintah saat
ini

Oleh karena itu, jelaslah bahwa masyarakat membutuhkan pos obat desa yang dikelola oleh
mereka sendiri. CD Bethesda memfasilitasi berjalannya post obat desa yang dikelola oleh
kader kesehatan lokal yang sebelumnya dilatih oleh pemerintah dan CD Bethesda mengenai
pelayanan kesehatan tingkat dasar. Kader lokal yang ada juga diharapkan mampu kampanye
dan promosi kesehatan disamping menyediakan pelayanan kesehatan. CD Bethesda
mensubsidi suplai obat kepada post kesehatan desa, dan CD menyediakan petunjuk
penggunaan obat. Kami mengharapkan bahwa dengan subsidi dari CD Bethesda, post
kesehatan desa bisa secara mandiri melaksanakan pelayanan kesehatan dengan melibatkan
partisipasi dari pasien dalam bentuk kontribusi, agar pengadaan obat bisa berkelanjutan.
Tujuan kami untuk mengadakan pelayanan kesehatan dan penyediaan pengobatan alami dan
alternative agar dapat diakses oleh masyarakat yang selama ini jauh dari akses pelayanan
kesehatan. Kami mengharapkan post kesehatan desa juga menjadi tempat pusat informasi
tentang kesehatan dan pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan, mampu
memberdayakan masyarakat desa untuk mengelola dan merawat kesehatannya sendiri,
mengurangi angka penyakit, dan memastikan bahwa mereka mampu berjuang untuk
mengusahakan pemenuhan hak dasar kesehatan secara mandiri.

Pembentukan Posyandu yang bersifat promotif dan preventif dimulai pada tahun 1986.

Kemudian timbul kebutuhan masyarakat untuk mengenal dan menanggulangi penyakit ringan

yang mereka derita. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka presiden RI pada tahun 1992

mencanangkan pembentukan Pos obat desa (POD) yang merupakan wahana edukasi dalam

alih pengetahuan dan ketrampilan tentang obat dan pengobatan sederhana dari petugas

kepada kader dan dari kader kepada masyarakat, guna memberikan kemudahan dalam

memperoleh obat yang bermutu dan terjangkau. Kegiatannya adalah penjualan dan

penyuluhan obat kepada masyarakat yang membutuhkan. Dengan berjalannya waktu, maka

POD yang dibentuk banyak yang tidak berfungsi. Kemudian untuk mendekatkan pelayanan

obat kepada masyarakat dan meningkatkan pendapatan masyarakat, maka POD

dikembangkan menjadi WOD yang dicanangkan kembali oleh presiden RI pada tahun 2004

Warung obat desa (WOD) adalah tempat dimana masyarakat pedesaan dapat dengan mudah

memperoleh obat bermutu dan terjangkau untuk pengobatan sendiri. Tujuan umum kegiatan

WOD adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam memperluas akses pelayanan

kesehatan serta memajukan ekonomi rakyat pedesaan.

Sedangkan tujuan khusus WOD adalah:

(a) memperluas keterjangkauan obat bagi masyarakat pedesaan,

(b) menyediakan obat untuk pengobatan sendiri yang akan memudahkan anggota masyarakat

yang sakit untuk mendapat pertolongan pertama secepatnya,

(c) meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengobatan sendiri yang benar, dan
(d) meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan di

puskesmas.

Sasarannya adalah kelompok masyarakat yang masih rendah keterjangkauannya dalam hal

obat dan pengobatan

4).WOD diselenggarakan oleh kader kesehatan yang telah dilatih atau tenaga kesehatan.

Kader WOD minimal berpendidikan tamat SD/ sederajat yang ditentukan oleh kepala desa.

Penyelenggaraan WOD mencakup pelayanan penggunaan obat dan pengelolaan obat.

Pembinaan Pelayanan penggunaan obat mengacu pada pedoman pengobatan WOD, di bawah

pengawasan dokter puskesmas. Pembinaan pengelolaan obat mengacu pada pedoman

pengelolaan obat WOD di bawah pengawasan apoteker/ asisten apoteker puskesmas.

Pembinaan penyelenggaraan WOD dilakukan oleh kepala desa dan pembinaan teknis

dilakukan oleh puskesmas melalui bidan di poskesdes. WOD dapat menarik keuntungan dari

pelayanan obat sesuai dengan kemampuan masyarakat setempat

Gambaran kegiatan pelayanan kesehatan pada masyarakat berdasarkan SK Menkes no.

983/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan WOD sebagai berikut :

Pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan oleh puskesmas. Pelayanan kesehatan


yang merupakan swadaya masyarakat adalah poskesdes dan WOD. Bidan di poskesdes
melakukan pelayanan persalinan dan pengobatan penyakit ringan, sedangkan kader WOD
melakukan pelayanan obat dalam upaya pengobatan sendiri oleh masyarakat.
Masalah penelitian adalah program WOD yang dicanangkan pada tahun 2004 belum
secara tegas menyebutkan indikator yang dapat digunakan untuk penilaian kegiatan WOD.
Tujuan Penelitian adalah mengembangkan indikator WOD, menilai kegiatan WOD yang ada
berdasarkan indikator, serta mengetahui faktor pendukung dan penghambat kegiatan WOD.
Manfaat penelitian adalah memberikan informasi tambahan kepada Dinas kesehatan
kabupaten/ kota, Dinas kesehatan provinsi dan Depkes RI untuk perumusan kebijakan WOD
yang terkait dengan poskesdes dan desa siaga.

Daftar Pustaka

1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 574/ Menkes/SK/VI/2000


tentang Indonesia Sehat 2010

2. Departemen Kesehatan.2006. Pedoman Pengembangan Desa Siaga, Jakarta.

3. Departemen Kesehatan. 2006. Pengembangan dan Penyelenggaraan Pos Kesehatan


Desa, Jakarta.

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 983/ Menkes/SK/VIII/2004


tentang Pedoman Penyelenggaraan warung obat desa

5. Nurullita, 2003. Faktor-faktor yang berhubungan dengan praktek penjaja warung


dalam pengobatan malaria di Kota Sabang. http://www.digilib.ui.edu/opac/libri2/
detail/isp?id=77545&lokasi=lokal