Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Rumah sakit merupakan instalasi pelayanan kesehatan yang padat profesi dan

padat modal. Di jaman sekarang rumah sakit sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas

karena masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan yang semaksimal mungkin

dan efektif. Salah satu pelayanan penunjang di rumah sakit adalah radiologi.

Radiologi terbagi menjadi 3 cabang yaitu Radiodiagnostik, Radioterapi, dan

Kedokteran Nuklir. Pemeriksaan radiodiagnostik sebagai pemeriksaan penunjang

menduduki peranan penting dalam upaya menegakkan diagnosa terhadap suatu

penyakit atau kelainan pada tubuh manusia. Suatu gambaran radiologi tulang akan

menampakkan bayangan jaringan yang mengandung kalsium, sehingga akan terlihat

kelainan tulang yang ditunjukkan dengan adanya perubahan densitas (radioopacity)

gambaran tulang.

Sendi sambungan pada kerangka atau artikulasio adalah pertemuan antara

dua atau beberapa tulang dari kerangka. Sendi lutut atau genu merupakan sendi

terbesar dalam tubuh manusia. Pada dasarnya terdiri dari dua articulasio kondilaris

yaitu antara kondilus femoralis dan kondilus tibia serta sebuah sendi plana antara

fasies patelaris femoris dan patella. Sendi fibular tibial tidak terlihat langsung.

(Snell, 1998).

Berbagai jenis penyakit menyerang persendian tubuh manusia dan

osteoartritis adalah salah satu dari berbagai penyakit tersebut. Osteoartritis adalah

penyakit akibat degeneratif tulang rawan sendi dengan disertai terbentuknya bibir di

pinggiran tulangnya, sehingga terjadi penyempitan ruang sendi dan mengakibatkan

timbulnya rasa sakit. Osteoartritis bisa dipicu karena cedera masa lalu dan

1
abnormalitas bawaan pada susunan tulang. Pada banyak kasus osteoartritis

menyerang pada sendi lutut. (Hart 1989).

Pemeriksaan secara radiologi sendi lutut yang baik pada kasus osteoarthritis

dilakukan dengan proyeksi AP dan lateral perbandingan dikarenakan pada

pemeriksaan ini dapat membandingkan kedua sendi lutut dan hasilnya lebih

informatif. Penilaian dilakukan dengan membandingkan ruang atau space sendi lutut

yang cidera dengan sendi lutut stabil. termasuk mendeteksi sendi yang tidak sakit

juga terkena osteoartritis karena jika osteoartritis sudah menyerang salah satu sendi

maka kemungkinan besar sendi pasangannya akan terkena juga.

Berdasarkan sumber data yang penulis peroleh di beberapa referensi bahwa

pemeriksaan radiografi genu dengan kasus osteoartritis untuk mendapatkan radiograf

yang lebih informatif dilakukan dengan berbagai proyeksi seperti AP (Antero

Posterior) maupun PA (Posterior Anterior). (Ballinger, 1999).

Berbeda dengan beberapa anjuran yang ada di beberapa referensi, di RSU Budi

Rahayu Pekalongan pada kasus osteoarthritis pemeriksaan radiografi genu dilakukan

dengan proyeksi AP dan lateral perbandingan dengan sinar horizontal tegak lurus

dengan kaset. Hal inilah yang menarik penulis untuk mengangkat kasus pemeriksaan

radiografi genu dengan proyeksi AP dan lateral perbandingan menjadi laporan kasus

dengan judul ” TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI GENU BILATERAL

PADA KASUS OSTEOARTRITIS DI INSTALASI RADIOLOGI RS”

2
B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah laporan kasus ini yaitu :

1. Bagaimana teknik pemeriksaan genu pada kasus osteoartritis dengan proyeksi AP

dan lateral perbandingan di Instalasi Radiologi RS ?

2. Apa kelebihan dan kekurangan yang diperoleh pasien dari pemeriksaan genu

proyeksi AP dan Lateral Perbandingan pada kasus osteoartritis di Instalasi

Radiologi ?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah :

1. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan radiografi genu pada kasus osteoartritis

dengan proyeksi AP dan lateral perbandingan di Instalasi Radiologi RS .

2. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang diperoleh pasien dari

pemeriksaan genu proyeksi AP dan Lateral Perbandingan pada kasus osteoartritis di

Instalasi Radiologi.

D. Manfaat Penulisan

Manfaat yang diperoleh dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk

menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca

pada umumnya mengenai teknik radiografi genu dengan proyeksi lateral

perbandingan pada kasus osteoartritis.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Fisiologi Genu

Sendi atau artikulasio adalah suatu persambungan antara dua atau lebih tulang

pada kerangka. Secara umum sendi dapat digolongkan sebagai sendi yang tidak bergerak

(sendi fibrosa/sinartrodial), bergarak sedikit (sendi kartilaginosa/amfiartrodial), dan

bergerak bebas(sendi sinovial ). (Ballinger, 1999)

Sendi sinovial dibagi lagi dalam sendi sederhana dan sendi majemuk atau

kompleks, tetapi dapat juga dibagi lagi sebagai berikut : sendi datar, sendi putar, sendi

engsel, sendi kondiloid, sendi berporos dan sendi pelana. Tiap-tiap sendi ( sinovial )

berisi paling sedikit satu pasang permukaan sendi, satu diantaranya adalah ”laki-laki”,

yang lainnya adalah ”wanitanya”. Sendi engsel di dalam jenis ini satu permukaan bundar

diterima oleh yang lain sedemikian rupa sehingga hanya mungkin gerakan dalam satu

bidang.

Genu, knee joint atau sendi lutut merupakan sendi terbesar dalam tubuh manusia.

Sendi lutut terdiri dari dua articulatio kondilaris yaitu, antara kondilus femoralis dan

kondilus tibia serta sebuah sendi plana antara fasies patelaris femoris dan patella. Sendi

fibular tibial tidak terlibat langsung. Kondilus femoralis melebar kearah distal dan

posterior. Kondilus ini dibentuk oleh kondilus lateralis femoralis dan kondilus medialis

femoralis. Sedangkan pada kondilus tibial dibentuk oleh kondilus medialis tibial dan

kondilus lateralis tibial yang dipisahkan oleh eminentia interkondiloidea. Pada permukaan

dari sendi terdapat patella. Patella adalah tulang sesamoid yang paling besar pada tubuh

manusia dan terletak pada tendon dari otot quadriceps femoralis. Pada bagian inferior

4
apex patella berikatan dengan ligamen patellae yang terletak di anterior tuberkel tibial

sampai ke kondilus.

Bagian-bagian pada sendi lutut :

1. Tulang rawan

Tulang rawan semilunaris terletak diatas permukaan persendian yang berupa

dataran tinggi dari tibia guna memperdalamnya untuk penerimaan kondiler dari

femur.

2. Meniscus

Meniscus merupakan struktur yang hanya ditemukan didalam sendi lutut,

temporomandibular, sternoklavikular, radioulnar distal dan akromioklavikular.

Meniscus merupakan diskus fibrokartilago yang pipih atau segitiga atau ireguler yang

melekat pada kapsul fibrosa dan selalu pada salah satu tulang yang berdekatan.

Sebagian besar meniscus bersifat avaskuler, tetapi pada bagian yang melekat pada

tulang sangat kaya dengan pembuluh darah, tidak ada jaringan syaraf atau pembuluh

limfe di dalam meniscus.

Meniscus medialis berbentuk semisirkularis dan bersatu dengan ligamentum

kolateral medial. Meniscus lateralis hampir sirkuler, tempat-tempat perlekatannya

dekat satu sama lainnya. Meniskus medialis tidak bersatu dengan kapsula atau

ligamen kolateral lateral dan oleh karena itu lebih mobil. Meniscus lateralis mungkin

dilekatkan pada permukaan dalam kondilus femoralis medialis oleh ligamen.

3. Celah sendi

Sendi lutut terdiri dari 3 celah sendi, yaitu : celah sendi yang dibentuk oleh

dasar patella dengan permukaan anterior dari femur bagian distal, celah sendi yang

disusun oleh kondilus lateral femoris dengan kondilus lateral tibia dan celah sendi

yang disusun oleh kondilus medial femoris dengan kondilus medial tibia. kedua

5
kondilus femur dengan kondilus tibia bersumbu pada pertengahan masing-masing

kondilus yang disebut celah sendi femorotibialis.

4. Rongga sendi

Rongga sendi merupakan celah sempit yang mengandung cairan sinovial.

Cairan ini jernih, kental, cairan yang mengandung musin seperti albumin. Cairan

bekerja sebagai pelumas dan membantu nutrisi rawan sendi. Viskositasnya yang

ditentukan oleh kadar asam hialuronat adalah tergantung pada suhu makin rendah

suhu makin tinggi viskositas cairan sinovial.

5. Cairan sinovial

Pada sendi yang normal, cairan sendi sangat sedikit, sehingga sulit diaspirasi

dan dipelajari. Cairan sendi merupakan ultra filtrasi atau dialisat plasma.

6. Membran sinovial

Membran sinovial merupakan jaringan vaskuler yang melapisi permukaan

dalam kapsul sendi, tetapi tidak melapisi permukaan rawan sendi. Membran ini licin

dan lunak serta berlipat-lipat sehingga dapat menyesuaikan pada setiap gaerakan sendi

atau perubahan tekanan intra-artikuler. Membran sinovial pada sendi lutut adalah

terbesar pada tubuh. Selain melapisi struktur sendi, membran itu membentang ke atas

dan ke bawah sampai di bawah ligamen patela dan membentuk beberapa bursa (

kantong ) sekitar sendi

7. Ligamen

Ligamen bersilang berjalan dari puncak kondil tibial ke arah permukaan kasar

di atas takik interkondiloid dari femur. Ligamen-ligamen ini bertujuan membatasi

gerakan sendi lutut dan mengikat tulang-tulangnya bersama dengan lebih kuat

Ligamen kapsuler sendi lutut sangat tebal dan diperkuat lagi oleh ekspansi (

perlebaran ) otot-otot dan tendon-tendon yang mengelilingi dan berjalan di atas sendi.

6
8. Bursa

Terdapat banyak bursa sekitar sendi lutut, beberapa diantaranya berhubungan

dengan rongga sendi. Bursa yang terbesar adalah supra patelaris yang terletak

disebelah anterior dan menambah rongga sendi ke proksimal. Di posterior terdapat

recessus subpopliteus dan bursa semimembranosa, keduanya jauh lebih kecil. Pada

origo kedua kaput muskulus gastrocnemuis terdapat bursa subtendinosus dari kaput

lateral dan kaput medial muskulus gastrocnemuis. Bursa yang tidak berhubungan

dengan sinovia adalah bursa prepatelaris subkutanea yang ditemukan sub kutan tepat

didepan patella, dan bursa infrapatelaris profunda.

1 Keterangan :
1 2
1. Permukaan patella
1
3 1 2. Ligamen cruciatum posterior
4 3. Ligamen cruciatum anterior
5
4. Meniscus medial

6 7 5. Meniscus lateral
6. Ligamen kollateral fibular
7. Ligamen kollateral tibial

Gambar 1. Anatomi sendi lutut dari posisi anterior (Ballinger, 1999)

Keterangan :
1 1. Ligamen cruciatum anterior
2
2. Ligamen cruciatum posterior
3. Meniscus lateral
4 3 4. Meniscus medial
5 5. Ligamen kollateral fibular
6 7 6. Ligamen kollateral tibial
7. Fibula
Gambar 2. Anatomi sendi lutut dari posisi posterior (Ballinger, 1999)

7
Keterangan :
1. Femur
1
2. Patella
2
3. Meniscus
4
3 4. Cairan sinovial
5
6 5. Meniscus
6. Kartilago articular

Gambar 3. Anatomi sendi lutut dari posisi lateral (Ballinger, 1999)

Sendi lutut dapat melakukan fleksi dan ekstensi, pada posisi fleksi memungkinkan

dilakukan rotasi. Pada lutut yang ekstensi kedua ligamental kollateral tegang. Waktu ekstensi

kondilus femoralis berada dalam posisi yang hampir ekstrem dimana ligamentum kollateral

teregang sepenuhnya. Waktu 100 terakhir sebelum ekstensi sempurna terdapat rotasi terminal

obligatorik sekitar 50 dan kedua ligamentum lateral menjadi tegang pada saat yang sama

terdapat sedikit pemisahan ligamental cruciatum. Rotasi aktif akhir dari tungkai yang tidak

dibebani berat (berdiri) melalui rotasi medial paha. Pada posisi ekstensi yang ekstrem,

ligamental kollateral dan ligamental krusiatum tegang.

B. Patologi Osteoartritis

Osteoartritis adalah penyakit akibat degeneratif tulang rawan sendi dengan

disertai terbentuknya bibir di pinggiran tulangnya, sehingga terjadi penyempitan ruang

sendi, dan mengakibatkan timbulnya rasa sakit. Sering terjadi pada sendi coxae dan sendi

lutut karena sendi-sendi tersebut sendi yang bertugas menopang badan. Osteoartritis bisa

dipicu karena cedera masa lalu dan abnormalitas bawaan pada susunan tulang, juga dapat

dikarenakan kegemukan atau obesitas.

Penyakit ini bukan merupakan suatu gejala gangguan peradangan, namun

seringkali perubahan-perubahan di dalamnya disertai sinovitis yang menyebabkan nyeri

dan rasa tidak nyaman. Osteoartritis dibagi dalam dua kategori yaitu primer, yang

8
dihasilkan dengan umur dan sekunder yang terjadi pada orang muda dimana diawali

dengan kerusakan tulang rawan sendi akibat trauma, infeksi, atau kelainan congenital.

Tedapat dua perubahan anatomis pada osteoartritis yaitu kerusakan fokal tulang

rawan sendi yang progresif dan pembentukan tulang baru pada dasar lesi tulang rawan

sendi dan tipe sendi ( osteofit ). Pada osteoartritis perubahan anatomis yang paling utama

adalah terbentuknya tulang rawan baru karena proses degeneratif, sedangkan artritis

ditandai peradangan pada membran sinovial.

Proses degeneratif tampak pada terbentuknya fisura-fisura dengan permukaan

tulang rawan yang tidak rata, diikuti kemudian dengan pembentukan celah dengan arah

vertikal di dalam tulang rawan, dimana akan mencapai daerah subkondral (cartilage

fibrillation). Terdapat penurunan metakromasi pada pewarnaan tulang rawan diakibatkan

dari berkurangnya proteoglikan.

Membran sinovia menunjukkan sedikit tanda-tanda radang pada saat penyakit itu

secara klinis ada. Dengan rusaknya tulang rawan, maka akan tampak jaringan tulang yang

mendasarinya. Daerah tulang itu akan menjadi tebal karena kompresi atau karena proses

pembentukan tulang baru yang reaktif. Yang khas pada osteoartritis adalah terbentuknya

”Taji” tulang ( bony spur ) yang menonjol dari tulang yang reaktif pada tepi ruang sendi.

Gambar 4. Osteoartritis pada sendi lutut

9
Walaupun sudah jelas bahwa degenerasi matriks tulang rawan merupakan

patogenesis utama dari osteoartritis, akan tetapi penyebab dari proses ini masih tetap

belum jelas. Selain perubahan degeneratif yang berhubungan dengan proses menua,

kerusakan jaringan karena proses imunologis dan penyakit yang berkaitan dengan faktor

genetik juga berperan dalam degradasi tulang rawan. (Price,1995)

Kekakuan sub kondral bersamaan dengan perubahan pada tulang rawan

menyebabkan berkurangnya kapasitas meredam goncangan ( Shock absorbsing capacity )

dan mempengaruhi terjadinya stress yang berlebihan pada lapisan tulang rawan.

Perubahan sklerotik didaerah sub kondral dianggap sebagai akibat dari mikrofaktur, yang

disebabkan oleh trauma berulang pada tulang penyangga tubuh selama bertahun-tahun.

Klinis dari osteoartritis adalah berupa nyeri sendi, terutama apabila sendi bergerak

atau menanggung beban. Nyeri akan berkurang jika sendi beristirahat. Dapat juga terjadi

kekakuan sendi apabila sendi tidak bergerak pada waktu yang lama atau biasanya terjadi

pada pagi hari dan terjadi hanya beberapa menit. Keterbatasan sendi dalam bergerak

terutama tidak dapat berekstensi penuh. nyeri tekan loncat, pembesaran tulang di sekitar

sendi, sedikit efusi sendi dan krepitasi.

Gambar 5. Skema perbandingan sendi normal dengan sendi yang mengalami

osteoartritis

10
C. Peralatan yang Digunakan

1. Unit pesawat sinar-x.

2. Kaset dan film ukuran 24 X 30 cm.

3. Prosesing film unit.

4. Alat bantu fiksasi.

D. Proyeksi yang Digunakan

1. Proyeksi Antero Posterior ( AP )

a. Posisi Pasien :

1. Radiograf dibuat dengan posisi supine.

2. Tungkai harus ekstensi penuh

3. Berikan bantalan pada kepala pasien

b. Posisi Obyek :

1. Luruskan tungkai pada arah sinar dan pusatkan genu pada pertengahan kaset.

2. Rotasikan tungkai ke dalam 30-50 untuk true AP genu.

3. Tempatkan sandbag di kaki dan ankle untuk kestabilan jika diperlukan.

c. Central Ray : Arah sinar vertikal tegak lurus terhadap kaset atau

menyudut 50-70 cephalad

d. Central Point (CP) : Titik bidik pada titik kurang lebih 0,5 inchi dibawah apek

patella.

e. Fokus Film Distrance : 100 cm

f. Ukuran Film : 18 x 24 cm

11
Gambar 6. Proyeksi Anterior Posterior Genu

g. Kriteria Gambar :

1. Distal femur, proximal tibia dan fibula tampak dalam radiograf.

2. Celah femorotibial joint terlihat membuka.

Gambar 7. Radiograf Genu Proyeksi AP

2. Proyeksi Lateral

a. Posisi Pasien :

1 Radiograf dibuat dengan posisi pasien tiduran recumbent.

2 Berikan bantalan pada kepala.

3 Sediakan pengganjal genu untuk mencegah over rotasi.

b. Posisi Obyek :

1 Tubuh dan tungkai diatur rotasi, sehingga genu pada posisi true lateral.

2 Flexikan genu 200-300.

3 Posisi tungkai lurus dan pusatkan knee pada pertengahan meja.

c. Central Ray (CR) : Arah sinar tegak lurus terhadap kaset

12
d. Central Point (CP) : 2,5 cm ke arah distal dari epicondilus medial

e. Fokus Film Distrance : 100 cm

f. Ukuran Film : 24 x 30 cm

Gambar 8. Proyeksi lateral genu.

g. Kriteria Gambar :

1 Distal femur, proksimal tibia dan fibula serta patella tampak dalam radiograf.

2 Femoropatellar dan femorotibialis membuka.

Gambar 9. Radiograf genu proyeksi lateral.

3. Proyeksi AP Weight Bearing

a. Posisi Pasien :

1. Radiograf dibuat dengan posisi pasien erect.

2. Pasien berdiri di atas stool agar tinggi pasien cukup untuk sinar horisontal.

b. Posisi Obyek :

1. Posisikan kaki lurus ke depan dengan tekanan pada kedua kaki.

13
2. Sediakan pengganjal sebagai keseimbangan kaki.

3. Luruskan kedua tungkai pada arah sinar dan pusatkan genu pada pertengahan

kaset.

c. Central Ray (CR) : Arah sinar lurus tegak lurus kaset/film, 50-100 pada

pasien kurus

d. Central Point (CP) : pertengahan kedua sendi lutut, setinggi 0,5 inchi di

bawah apek patella

e. Fokus Film Distrance : 100 cm

f. Ukuran Film : 24 x 30 cm

Gambar 10. Proyeksi AP weght bearing

g. Kriteria Gambar :

1. Celah sendi femorotibial terbuka dan berada di pertengahan film. Jika lutut

normal celah sendi akan sama pada kedua sisi kanan dan kiri.

2. Patella akan superposisi dengan femur dan sebagian caput fibula akan super

posisi dengan tibia.

3. Terlihat jaringan lunak di sekitar sendi.

Gambar 10. Radiograf Genu Proyeksi AP weght bearing

14
E. Proteksi Radiasi

Proteksi radiasi bertujuan untuk melindungi pekerja radiasi, pasien, dan masyarakat

umum agar paparan radiasi yang diterima tidak melebihi ketentuan yang berlaku.

1. Proteksi Radiasi untuk pasien

Usaha yang dilakukan untuk mengurangi paparan radiasi yang diterima oleh

pasien, adalah:

a. Pemeriksaan dengan sinar-x hanya dilakukan atas permintaan dokter.

b. Mengatur luas lapangan pemeriksaan sesuai dengan kebutuhan.

c. Pengaturan faktor eksposi secara tepat untuk menghindari pengulangan foto.

d. Melindungi organ-organ Vital dengan apron.

2. Proteksi Radiasi untuk petugas radiasi

Usaha yang dilakukan untuk mengurangi paparan radiasi yang diterima oleh

pasien, adalah:

a. Menggunakan alat monitoring radiasi secara kontinyu selama bertugas.

b. Berada di balik tabir pada saat melakukan eksposure.

3. Proteksi Radiasi untuk Masyarakat umum

Usaha yang dilakukan untuk mengurangi paparan radiasi yang diterima oleh

masyarakat umum, adalah:

a. Konstruksi kamar harus sesuai dengan syarat proteksi radiasi.

b. Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke kamar pemeriksaan.

c. Apabila diperlukan orang lain untuk membantu jalannya pemeriksaan, harus

memakai apron..

15
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1 Identitas Pasien

Sebagai bahan laporan studi kasus ini adalah pemeriksaan genu bilateral pada kasus

osteoarthritis, dengan identitas pasien sebagai berikut :

 Nama : Ny. N

 Umur : 55 Thn

 Jenis Kelamin : perempuan

 No. Rontgen : 3222

 Pemeriksaan : Genu AP, LAT

 Tanggal Pemeriksaan : 05 Oktober 2018

 Dokter pengirim : Dr HS, Sp.OT

 Diagnosa sementara : Osteoatritis

2 Riwayat Penyakit

Pada tanggal 05 Oktober 2018, pasien datang ke poli Orthopedi RS dengan keluhan

nyeri pada kedua sendi lututnya. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan

radiografi genu. Kemudian, pasien datang ke Instalasi Radiologi untuk dilakukan

pemeriksaan radiografi genu dengan klinis osteoartritis.

3 Prosedur Pemeriksaan

Pada pemeriksaan sendi lutut tidak dibutuhkan persiapan khusus hanya pasien tidak

menggunakan benda yang dapat menimbulkan artefak pada daerah sendi lututnya.

Jika pasien menggunakan celana panjang sebaiknya dilipat sampai ke atas lutut

namun jika celana tidak dapat dilipat sampai ke atas sebaiknya pasien dianjurkan

untuk mengganti baju dengan baju pemeriksaan.

16
4 Persiapan alat dan bahan

Pada pemeriksaan ini alat dan bahan yang digunakan adalah :

a. Unit pesawat rontgen

i. Merk : TOSHIBA, DR GEM

ii. Manufacted : Maret 2013

iii. Unit Model : E7239X

iv. Seri No. : 3C0542

v. Kv Max : 125 Kv

vi. mAs Max : 500 mAs

b. Kaset dan film ukuran 24 x 30 cm, sebanyak 2 buah

c. Computed Radiography (CR)

d. Marker R/L dan plester

e. Baju Pasien

f. Grid Bucky

5 Teknik Pemeriksaan

Pada pemeriksaan genu dengan kasus osteoartritis di RS dilakukan dengan proyeksi

perbandingan, yaitu proyeksi Antero Posterior (AP) dengan pasien berdiri (weight

Bearing) dan proyeksi lateral perbandingan, dengan keterangan sbb :

a. Proyeksi AP (weight Bearing)

1.1 Posisi pasien : 1. Berdiri tegak lurus menghadap arah sinar.

2. Berat tubuh diatur menumpu pada kedua tungkai.

1.2 Posisi obyek : 1. Atur kedua lutut dengan posisi true AP.

2. Posisikan kaset dengan diatur melintang pada standart

kaset.

17
1.3 Pengaturan sinar : sinar horisontal tegak lurus (┴) dengan kaset dan

titik bidik pertengahan melintang kaset.

1.4 FFD : 100 cm

1.5 Faktor Eksposi 57 kV, 6,4 mAs

1.6 Kriteria radiograf :

1. Femorotibial joint membuka

2. Tidak ada rotasi femur jika tibia normal

3. Bagian proximal tibia dan fibula terlihat sedikit superposisi

4. Terlihat soft tissue didaerah knee

5. Patella superposisi dengan medial dan lateral condylus

b. Proyeksi Lateral Perbandingan

1.1 Posisi pasien :

1. radiograf dibuat dengan posisi pasien erect atau berdiri.

2. Posisi pasien miring kesisi yang akan diperiksa.

1.2 Posisi obyek :

1. tubuh dan tungkai diatur rotasi, sehingga genu pada posisi true lateral.

2. fleksikan knee joint yang di foto sehinga tidak superposisi dengan knee

joint yang tidak difoto dan berat badan bertumpu pada sisi yang di foto.

3. luruskan tungkai yang difoto dan pusatkan genu yang difoto pada

pertengahan salah satu bagian kaset.

1.3 Pengaturan sinar : Arah sinar tegak lurus (horizontal) terhadap kaset

dengan titik bidik 2,5 cm ke arah medial dari epikondilus medial.

1.4 FFD : 100 cm

1.5 Kaset dan film : 24 x 30 cm

18
1.6 Faktor eksposi : KV : 57; mAs : 6,4

1.7 Kriteria radiograf :

a. Condylus femoralis super medial dan lateral super posisi

b. Patella terlihat disebelah knee

c. Terlihat space antara femoral condylus dengan tibia

d. Terlihat soft tissue didaerah sekitar knee

e. Densitas yang cukup dari femoral condylus

1.8 Hasil radiograf :

Gambar : Hasil radiograf proyeksi AP dan LAT R (right / kanan)

Gambar : hasil radiograf proyeksi AP dan LAT L (left / kiri)

1.9 Pengolahan Film

Pengolahan film di RSU di Budi Rahayu Pekalongan menggunakan CR.

19
6. Hasil diagnosa / ekspertise dokter radiologi

a. Strukstur tulang osteopenia.

b. Eminentia intercondylaris runcing sinistra, dextra normal.

c. Penyempitan sela sela sendi asimetris dextra / sinistra

d. Spur pada Os pattela.

e. Sklerotik subchondral tak terlihat.

f. Pseudo cyst tak telihat

Kesan : OA GENU D/S GRADE III.

B. Pembahasan

Prosedur Pemeriksaan Radiografi Genu Bilateral Dengan Kasus Osteoarthritis di

RSU Budi Rahayu Pekalongan

1. Persiapan Pasien

Persiapan pasien untuk pemeriksaan radiografi genu pada kasus Ostheoathritis

di RS tidak memperlukan persiapan khusus, pasien hanya diminta untuk melepas

benda benda yang dapat mengganggu gambaran radiograf, memberikan instruksi

yang jelas kepada pasien untuk meminimalisir gerakan yang berakibat

pengulangan foto.

2. Persiapan Alat dan Bahan

Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam pemeriksaan radiografi genu pada

kasus osteoarthritis adalah unit pesawat sinar- x, kaset dan film ukuran 24 x 30

cm empat buah, marker R dan L, plester dan selotip, dan unit Computer

Radiography (CR).

Penulis berpendapat, persiapan alat dan bahan tersebut sudah cukup karena

alat-alat tersebut sudah membantu jalannya pemeriksaan. Perisapan alat dan

bahan memang cukup sederhana berbeda dengan pemeriksaan kontras.

20
3. Teknik Pemeriksaan

Pemeriksaan radiografi genu pada kasus Osteoarthritis di Instalasi Radiologi

dilakukan menggunakan proyeksi AP (Antero-Posterior) dan lateral

perbandingan, karena proyeksi ini dapat membandingkan kedua genu kanan dan

kiri. Posisi pasien berdiri menghadap arah sinar kolimator bertujuan agar dapat

memperlihatkan celah kedua sendi genu.

4. Kelebihan dan kekurangan yang diperoleh pasien pada pemeriksaan

radiografi Genu dengan Proyeksi AP dan Lateral kasus Osteoarthritis

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, penulis berpendapat bahwa dengan

digunakan nya proyeksi AP dan Lateral yakni :

Kelebihan :

a. Hasil radiograf proyeksi lateral perbandingan sendi lutut dengan posisi berdiri

adalah hasil radiograf yang cukup informatif dalam pendiagnosaan kasus

oteoartritis karena dapat menampakan celah sendi dan tulang penyusun sendi

lutut.

b. Radiasi dapat di tekan karena sekali expose untuk 2 sendi pada posisi AP.

c. Proyeksi ini dapat memperlihatkan celah sendi lutut yang sesuai dengan

keadaan normal secara anatomis dari sendi lutut

Adapun kekurangan yang diterima pasien dengan dilakukannya proyeksi ini adalah :

a. Pengeluaran biaya pasien bertambah dikarenakan objek yang diperiksa ada

dua yaitu genu kanan dan genu kiri

b. Dikarenakan posisi pasien diharuskan untuk berdiri, maka kemungkinan

lutut akan terasa nyeri.

c. Pasien terpapar radiasi yang besar.

21
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Prosedur pemeriksaan AP dan lateral perbandingan yang digunakan pada

pemeriksaan genu dengan kasus osteoarthritis di RSU Budi Rahayu Pekalongan

yaitu posisi pasien AP dan lateral erect untuk posisi objek proyeksi AP lutut di

ekstensikan mengahadap kolimator, sedangkan proyeksi lateral posisi objek fleksi

pada bucky stand dengan arah sinar tegak lurus (horizontal) dan titik bidik pada

pertengahan patella dengan FFD 100 cm serta faktor eksposi 57 kV, 6,4 mAs.

2. Kelebihan dan kekurangan yang diperoleh pasien dari pemeriksaan genu proyeksi

AP dan Lateral Perbandingan di RSU Budi Rahayu Pekalongan yaitu :

a. Kelebihan yang diperoleh pasien adalah radiograf proyeksi lateral perbandingan

sendi lutut yangcukup informatif dalam pendiagnosaan kasus osteoarthritis

karena dapat menampakan celah sendi dan tulang penyusun sendi lutut, radiasi

dapat ditekan karena sekali expose untuk 2 sendi pada posisi AP, dan proyeksi

ini dapat memperlihatkan celah sendi lutut yang sesuai dengan keadaan normal

secara anatomis dari sendi lutut.

b. Adapun kekurangan yang diterima oleh pasien dengan dilakukannya proyeksi

ini adalah pengeluaran biaya pasien bertambah yaitu genu kanan dan genu kiri,

dikarenakan posisi pasien berdiri maka lutut akan terasa nyeri, dan pasien

terpapar radiasi yang besar.

B. Saran

Pemintaan foto rontgen sendi lutut pada kasus osteoartitis sebaiknya radiografer

meminimalisir radiasi yang diberikan pada pasien dengan menggunakan apron dan

mengecilkan kolimasi sesuai objek yang difoto.

22
DAFTAR PUSTAKA

Ballinger, P.W. 1999. Radiographic Position and Radiological Procedures. Edisi IX.

Volume III. Mosby Inc : Missiouri

Bontrager, K.L. 2001. Textbook of Radiographic Position and Related Anatomi. Edisi V.

Mosby Inc : Missiouri

Bryan, J. Glenda. 1979. Diagnostic Radiography. Third edition. Butler and Tanner Ltd :

London

Clark, K.C. 1974. Positioning in Radiography. Seventh edition. ILFORD Limited. London

Kahle W, H. Leonhardt, W. Pletzer. 1995. Atlas dan Buku Teks Anatomi Manusia. Alih

bahasa : Adji Dharma. Buku Kedokteran. EGC : Jakarta

Pearce, C. Evelyn. 2005. Anatomi dan fisiologi Untuk Paramedis. Penerbit PT Gramedia :

Jakarta

Price, A. Sylvia dan Wilson M. Lorraine. 1995. Patofisiologi Proses-proses Penyakit. Edisi 4.

Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta

Snell, S. Richard. 1998. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 2. Erlangga :

Jakarta

23

Anda mungkin juga menyukai