Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PEMBUATAN SEDIAAN POTIO DAN EVALUASI POTIO

A. Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat membuat sediaan potio
2. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi potio
B. Dasar Teori
Larutan atau solutio adalah sediaan cair yang mengandung satu zat aktif atau lebih
yang terlarut didalamnya, biasanya menggunakan air sebagai pelarut. Perbedaan potio
dan larutan (solutio) adalah potio merupakan sediaan cair untuk konsumsi obat secara
oral, sedangkan larutan (solutio) merupakan sediaan cair yang bisa digunakan secara
oral, topikan, parenteral dan sebagainya (Margaret , 2009)
Sirup adalah salah satu bentuk sediaan cair yang dalam dunia farmasi yang dikenal
luas oleh masyarakat. Saat ini, banyak sediaan sirup yang beredar di pasaran dari
berbagai macam merk, baik yang generic maupun yang paten.Biasanya, orang-orang
mengunakan sediaan sirup karena disamping mudah penggunaannya, sirup juga
mempunyai rasa yang manis dan aroma yang harum serta warna yang menarik
sehingga disukai oleh berbagai kalangan, terutama anak-anak dan orang yang susah
menelan obat dalam bentuk sediaan oral lainnya. Secara umum sirup merupakan
larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat pewangi dan merupakan larutan
jernih berasa manis. Sirup adalah sediaan cair kental yang minimal mengandung 50%
sakarosa (Ansel et al., 2005).
Menurut Buku Ilmu Meracik Obat
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia yang terlarut, sebagai
pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain. Larutan terjadi apabila suatu zat
padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara
molecular dalam cairan tersebut, (Anief, 1997)
Hal yang diperhatikan dalam pembuatan larutan :
a. Kelarutan zat aktif harus jelas dan bisa larut
b. Kestabilan zat aktif dalam larutan/pelarut maupun kosolven harus baik
c. Dosis takaran tepat
d. Penyimpanan yang sesuai
Keuntungan dan kerugian sediaan cair
Keuntungan Sediaan Cair :
1. Cocok untuk penderita yang sukar menelan tablet.
2. Absorpsi obat lebih cepat di bandingkan dengan sediaan oral lain. Urutan
kecepatan absorpsinya larutan > emulsi > suspensi.
3. Homogenitas lebih terjamin.
4. Dosis/takaran dapat di sesuaikan.
5. Dosis obat lebih seragam dibandingkan semi padat, terutama bentuk
larutan. Untuk emulsi dan suspensi, keseragaman dosis tergantung pada
pengocokan.
6. Beberapa obat atau senyawa obat dapat mengiritasi mukosa lambung atau
di rusak cairan lambung bila diberikan dalam bentuk sediaan padat. Hal
ini dapat di kurangi dengan memberikan obat dalam bentuk sediaan cair
karena faktor pengenceran.
Kerugian Sediaan Cair :
1. Tidak dapat di buat untuk senyawa obat yang tidak stabil dalam air.
2. Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar di tutupi.
3. Tidak praktis.
4. Takaran penggunaan obat tidak dalam dosis terbagi, kecuali sediaan dosis
tunggl, dan harus menggunakan alat khusus.
5. Air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan
merupakan katalis reaksi.
6. Pemberian obat harus menggunakan alat khusus atau oleh orang
khusus (sediaan parenteral).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Larutan


1. Sifat dari solute dan solvent
Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Misalnya garam-
garam anorganik larut dalam air. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang
nonpoar pula. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam
kloroform.
2. Cosolvensi
Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan
pelarut lain atau modifikasi pelarut. Misalnya luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
campuran air dan gliserin atau solutio petit.
3. Kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut
memerlukan banyak pelarut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi
umumnya adalah :
a. Dapat larut dalam air
Semua garam klorida larut, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2. Semua garam nitrat larut kecuali
nitrat base. Semua garam sulfat larut kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4.
b. Tidak larut dalam air
Semua garam karbonat tidak larut kecuali K2CO3, Na2CO3. Semua oksida dan hidroksida
tidak larut kecuali KOH, NaOH, BaO, Ba(OH)2. semua garam phosfat tidak larut kecuali
K3PO4, Na3PO3.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III Kelarutan suatu zat yang tidak diketahui
secara pasti dapat dinyatakan dengan istilah sebagai berikut:

Jumlah bagian pelarut yang diperlukan


Istilah kelarutan
untuk melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut <1
Mudah larut 1- 10
Larut 10-30
Agak sukar larut 30-100
Sukar larut 100-1000
Sangat sukar larut 1000-10000
Praktis tidak larut >10000

4. Temperatur
Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat padat tersebut
dikatakan bersifat endoterm, karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas.
Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan, misalnya :
a) Zat-zat yang atsiri, Contohnya : Etanol dan minyak atsiri.
b) Zat yang terurai, misalnya : natrium karbonas.
c) Saturation
d) Senyawa-senyawa kalsium, misalnya : Aqua calsis.
5. Salting Out
Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan
lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau
terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Contohnya : kelarutan minyak atsiri dalam air
akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.
6. Salting In
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama
dalam solvent menjadi lebih besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut dalam air tetapi larut
dalam larutan yang mengandung Nicotinamida.
7. Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut
dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Contohnya : Iodium larut dalam
larutan KI atau NaI jenuh.
Kecepatan kelarutan dipengauhi oleh :
a. Ukuran partikel : Makin halus solute, makin kecil ukuran partikel ; makin luas
permukaan solute yang kontak dengan solvent, solute makin cepat larut.
b. Suhu : Umumnya kenaikan suhu menambah kenaikan kelaruta solute.
c. Pengadukan.

Komponen Sirup
1. Pemanis

Pemanis berungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Dilihat dari kalori yang
dihasilkan dibagi menjadi pemanis berkalori tinggi dan pemanis berkalori rendah. Adapun
pemanis berkalori tinggi misalnya sorbitol, sakarin dan sukrosa sdangkan yang berkalori
rendah seperti laktosa.

2. Pengawet antimikroba

Digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan agar dapat bertahan
lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau jamur.
3. Perasa dan Pengaroma
Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau bahan-bahan yang berasal
dari alam untuk membuat sirup mempunyai rasa yang enak. Karena sirup adalah sediaan cair,
pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Pengaroma ditambahkan
ke dalam sirup untuk memberikan aroma yang enak dan wangi. Pemberian pengaroma ini
harus sesuai dengan rasa sediaan sirup, misalkan sirup dengan rasa jeruk diberi aroma citrus.
4. Pewarna
Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak bereaksi dengan komponen lain
dalam sirup dan warnanya stabil dalam kisaran pH selama penyimpanan. Penampilan
keseluruhan dari sediaan cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan. Pemilihan
warna biasanya dibuat konsisen dengan rasa.
Juga banyak sediaan sirup, terutama yang dibuat dalam perdagangan mengandung pelarut-
pelarut khusus, pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator.

Stabilitas Sediaan Sirup


1. Stabilitas Kimia
Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang
ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat kimia dan karakteristiknya
sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Stabilitas kimia pada sediaan sirup dilakukan
untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas
yang dinyatakan dalam spesifikasi.
Uji stabilitas kimia sediaan sirup :
a. Identifikasi
b. Penetapan Kadar
2. Stabilitas Fisika
Stabilitas fisika adalah tidak terjadinya perubahan sifat fisik dari suatu produk selama
waktu penyimpanan. Stabilitas fisika pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan
keutuhan fisik meliputi perubahan warna, perubahan rasa, perubahan bau, perubahan tekstur
atau penampilan.
Uji stabilitas fisika sediaan sirup :
a. Organoleptik seperti bau, rasa, warna
b. pH
c. Berat jenis
d. Viskositas
e. Kejernihan larutan
f. Volume terpindahkan
g. Kemasan, meliputi etiket, brosur, wadah, peralatan pelengkap seperti sendok, no.
batch dan leaflet.
3. Stabilitas Farmakologi
Stabilitas farmakologi pada sediaan sirup dilakukan untuk menjamin identitas, kekuatan,
kemurnian,dan parameter kualitas lainnya dalam kurun waktu tertentu sehingga efek
terapi tidak berubah selarna usia guna sediaan sirup.
Uji stabilitas farmakologi sediaan sirup :
a. Pemerian : warna, bau, rasa
b. Identifikasi
c. Penetapan Kadar
4. Stabilitas Toksikologi
Stabilitas toksikologi sediaan sirup dilakukan untuk menguji kemampuan suatu produk
untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan
penggunaan, sifat dan karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat
sehigga tidak terjadi peningkatan bermakna dalam toksisitas selama usia guna.
Uji stabilitas farmakologi sediaan sirup :
a. Pemerian : warna, bau, rasa
b. Identifikasi
c. Penetapan Kadar
C. MATERI PRAKTIKUM
1. Resep
Dr. Hadi. S
Jl. Burangrang No. 41A
SIP. 123/DU-DI/VII/2010
No: 01 Tgl: 15 September 2018
R/ OBH 150
Adde
Codein HCL 0,05
m.f. Potio
S.3 dd C1. Pc

Pro:

Keterangan:

http://headwiqlissundy.blogspot.com/2016/05/laporan-praktikum-form-tek-
liquid.html