Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

PRODUKSI DOMBA DAN KAMBING


“Preferensi dan Palatabilitas”

Disusun oleh :
Kelompok 6
Kelas A

IKHWAN MAULANA 200110170006


MUHAMMAD FAJAR LUKMAN 200110170020
YENI ALFIANI 200110170174
CHYNTIA MEILIVIA 200110170177

LABORATORIUM TERNAK POTONG


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga

Laporan Akhir berjudul Preferensi dan Palatabilitas dapat tersusun hingga selesai

dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Produksi Domba

dan Kambing Program Studi Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Tidak

lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat serta

berkontribusi dalam penyusunan makalah ini baik secara moril maupun materil.

Harapan kami semoga makalah akhir ini dapat menambah pengetahuan dan

menjadi bahan acuan bagi kita semua agar bisa menjadi lebih baik di masa yang

akan datang. Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan,

oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak kami harapkan

agar lebih baik lagi dalam pengerjaan laporan berikutnya.

Sumedang, Mei 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Bab Halaman

KATA PENGANTAR ...................................................................... ii

DAFTAR ISI..................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ............................................................................ iv

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 5
1.2 Identifikasi Masalah ................................................................... 5
1.3 Maksud dan Tujuan.................................................................... 6
1.4 Waktu dan Tempat ..................................................................... 6

II. KAJIAN KEPUSTAKAAN


2.1 Preferensi ................................................................................... 7
2.2 Palatabilitas ................................................................................ 7
2.3 Rumput Gajah ............................................................................ 8
2.4 Gamal ......................................................................................... 10
2.5 Konsentrat .................................................................................. 11

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil ........................................................................................... 12
3.2 Pembahasan................................................................................ 13
3.2.1 Rumput Gajah ................................................................. 13
3.2.2 Gamal .............................................................................. 14
3.2.3 Konsentrat ....................................................................... 14
IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan ................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 17

iii
DAFTAR TABEL

No Halaman

1 Bahan Pakan yang terpakai ........................................................... 12

iv
5

I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha ternak domba dan

kambing. Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan ternak dapat

mengakibatkan pemanfaatan zat gizi pakan tidak efisien. Pemberian pakan yang

tidak mencukupi kebutuhan nutrien ternak mengakibatkan depresi pada

pertumbuhan dan penampilan reproduksi. Sebaliknya, pemberian pakan berlebihan

tidak hanya akan menimbulkan pemanfaatan pakan yang tidak efisien, tetapi juga

akan mempercepat pengurasa sumberdaya alam yang tersedia. Selanjutnya

pemberian pakan yang berlebihan ini juga akan menimbulkan pemborosan tenaga

kerja.

Dalam usaha budidaya atau peternakan, pakan merupakan komponen yang

sangat penting dalam menunjang keberhasilan. Agar para peternak mencapai target

produksi ternak yang menguntungkan, salah satu faktor produksi yang dapat

dilakukan dalam ukuran waktu yang relatif cepat adalah pemberian pakan yang

tepat. Maka dari itu mengetahui pakan yang dibutuhkan ternak sangat diperlukan

agar tidak salah dalam pemberian pakan. Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah

untuk mengetahui tingkat prioritas atau preferensi dan tingkat kesukaan ternak

terhadap tiga pakan berbeda yang diberikan.

1.2 Identifikasi Masalah

(1) Bagaimana preferensi dan palatabilitas ternak terhadap rumput gajah.

(2) Bagaimana preferensi dan palatabilitas ternak terhadap gamal.

(3) Bagaimana preferensi dan palatabilitas ternak terhadap konsentrat.


6

1.3 Maksud dan Tujuan

(1) Mengetahui preferensi dan palatabilitas ternak terhadap rumput gajah.

(2) Mengetahui preferensi dan palatabilitas ternak terhadap gamal.

(4) Mengetahui preferensi dan palatabilitas ternak terhadap konsentrat.

1.4 Waktu dan Tempat

Tanggal : Rabu, 08 Mei 2019

Pukul : 12.30 - 14.30 WIB

Tempat : Kandang Domba dan Kambing Fakultas Peternakan

Universitas Padjadjaran
7

II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Preferensi

Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan dicerminkan oleh

kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat

tergantung jenis ternak, umur, fase, (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui),

kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur,

kelembapan, nisbi udara) serta berat badannya. Jadi setiap ekor ternak berbeda

kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Kartadisastra, 1997).

Pakan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan.

Kekurangan pakan akan memperlambat pertumbuhan dan bila kekurangan pakan

sangat parah akan menyebabkan ternak kehilangan bobot badan. Peningkatan

konsumsi pakan akan mampu meningkatkan daya cerna pakan sehingga jumlah zat-

zat gizi yang digunakan untuk produksi akan meningkat (Tillman et al., 1991).

Preferensi makan sebagai interaksi antara rasa dan umpan balik

postingestive, ditentukan oleh kondisi fisiologis hewan dan karakteristik kimia

makanan. Preferensi makan akan meningkat ketika nutrisi makanan memadai dan

akan menurun jika kekurangan gizi. Satwa menyukai makanan tertentu dari

kebiasaan, dan tidak menyukai makanan yang baru. Faktor yang mempengaruhi

tingkat kesukaan makanan yaitu rasa atau bau, kandungan nutrisi seperti

karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, vitamin serta kadar air (Provenza, 1995).

2.2 Palatabilitas

Palatabilitas makanan adalah derajat kesukaan pada makanan tertentu yang

terpilih dan dimakan. Palatabilitas ditentukan dengan banyaknya konsumsi ransum


8

berdasarkan jumlah bahan kering yang dikonsumsi. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi palatabilitas :

 Faktor Ternak

Ada lima faktor yang mempengaruhi palatabilitas pada ternak yaitu :

1. Spesies atau bangsa ternak

2. Variasi antar individu

3. Panca indera

4. Daya adaptasi

5. Kondisi fisiologis ternak

 Faktor Makanan

Beberapa faktor dari makanan yang mempengaruhi palatabilitas :

1. Bau

2. Bentuk fisik

3. Komposisi kimia atau kandungan nutrisi.

 Faktor Lingkungan

Palatabilitas dipengaruhi oleh lingkungan secara langsung melalui suhu

udara. Ada hubungan yang erat antara konsumsi makanan dengan produksi panas

tubuh. Suhu yang tinggi akan menyebabkan menurunnya nafsu makan dan

mengurangi konsumsi ransum sedangkan konsumsi air lebih banyak. Pakan

penguat merupakan pakan yang mempunyai kandungan zat makanan tertentu

dengan kandungan energi relatif tinggi, serat kasar rendah, dan daya cerna yang

relatif baik. Pakan ini cocok untuk menambah zat makanan yang ada.

2.3 Rumput Gajah

Rumput gajah (Pennisetum purpureum)berasal dari Afrika, tanaman

ini diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1962, dan tumbuh alami diseluruh
9

dataran Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, rumput gajah merupakan tanaman

hijauan utama pakan ternak yang memegang peranan yang amat penting,karena

hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan (Mihrani,2008).

Rumput gajah dikenal dengan sebutan rumput Napier atau rumput Uganda

yang memiliki umur panjang, tumbuh tegak membentuk rumpun dan memiliki

rhizoma-rhizoma pendek. Dapat tumbuh pada dataran rendah sampai ke

pegunungan. Toleransi terhadap tanah yang cukup luas asalkan tidak mengalami

genangan air. Responsif terhadap pemupukan nitrogen dan membutuhkan

pemeliharaan yang cermat. Pemberian pupuk kandang dapat memperbaiki

perkembangan akarnya (Permadi, 2007).

Rumput gajah termasuk tanaman tahunan membentuk rumpun yang terdiri

20-50 batang dengan diameter lebih kurang 2,3 cm. Tumbuh tegak dan lebat,batang

diliputi perisai daun yang berbulu dan perakaran dalam. Tinggi batang mencapai

2-3 m, lebar daun 1,25-2,50cm serta panjang 60-90cm (Vanis, 2007).

Rumput gajah disebut juga Elephant grass, Uganda Grass, Napier grass,

dan dalam bahasa latinnya adalah Pennisetum purpereum, termasuk ordo

:Ainthopyta, sub ordo: Angiospermae, family :Graminae, genus : Pennisetum dan

spesies: Purpureum. Rumput gajah termasuk keluarga rumput-rumputan(graminae)

yang telah dikenal manfaatnya sebagai pakan ternak. (Manglayang, 2005).

Kandungan nutrient rumputgajah terdiri atas: bahan kering (BK) 19,9%;

protein kasar (PK) 10,2%; lemak kasar (LK) 1,6%; serat kasar (SK) 34,2%; abu

11,7%; dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 42,3% (Rukmana, 2005).

Rumput gajah tumbuh tegak menyerupai tebu dan dapat tumbuh mencapai

2-5 m, mudah berkembang biak, berdaun lebar, tipis dan mempunyai tulang daun.

Rumput gajah mempunyai batang bulat berkayu dan berbuku-buku dimana


10

dari buku tersebut nantinya akan keluar tunas baru yang kemudian yang akan

menjadi batang baru. Diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan

terdiri sampai 20 ruas/buku (Manglayang, 2005).

Batang rumput gajah ditutupi perisai daun yang agak berbulu. Rangkum

bunga bertipe tandan dengan warna keemasan, sedangkan dalam berbentuk biji

yang berisi hanya bisa dicapai bila tumbuh pada ketinggian lebih dari 1000

meter di atas permukaan laut, bentuk daun pada umumnya panjang menyerupai

pita dan berbulu, panjang daun bisa mencapai 30-120 cm dengan lebar kurang dari

30 cm (Efendi,dkk ,2001).

2.4 Gamal

Tanaman gamal (Gliricidia maculata) adalah nama jenis perdu dari kerabat

polong - polongan (suku Fabaceae atau Leguminosae). Penyebaran alami tidak

jelas karena telah dibudidayakan sejak lama, tetapi bukti kuat menunjukkan bahwa

penyebarannya terbatas pada hutan musim kering gugur daun di dataran rendah

pesisir Pasifik dan beberapa lembah pedalaman di Amerika Tengah dan Meksiko.

Tanaman ini sekarang sudah menyebar di seluruh daerah tropika termasuk

Indonesia (Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan, 2002).

Gamal mengandung semua metabolit sekunderseperti Flavanoid,Saponin,

Alkaloid, Steroid dan Tannin yang terdapat dalam ekstrak daun Gamal ini

merupakan unsur-unsur yang bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologi

daun Gamal (Odhiambo dkk, 2013)

Gamal terutama ditanam sebagai pagar hidup, peneduh tanaman, atau

sebagai rambatan untuk vanili dan lada. Tanaman ini berfungsi pula sebagai

pengendali erosi dan gulma terutama alang-alang. Bunga-bunga gamal merupakan

pakan lebah yang baik dan dapat pula dimakan setelah dimasak (Joker, 2002).
11

2.5 Konsentrat

Istilah concentrates digunakan untuk menerangkan bahan makanan yang

serat kasarnya rendah dan tinggi daya cernanya. Bahan penyusunnya biji-bijian dan

sebagian besar hasil ikutannya (Anggorodi, 1994).

Konsentrat adalah suatu bahan pakan yang dipergunakan bersama bahan

pakan lain untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan makanan dan

dimaksudkan untuk disatukan dan dicampur sebagai suplemen (pelengkap) atau

pakan pelengkap (Hartadi dkk., 1991).

Konsentrat merupakanpakan penguat yang terdiri dari bahan baku yang

kaya akan karbohidrat dan protein, seperti jagung kuning, bekatul, dedak gandum,

dan bungkil-bungkilan. Konsentrat untuk ternak kambing umumnya disebut pakan

penguat atau bahan baku pakan yang memiliki kandungan serat kasar kurang dari

18 persen dan mudah dicerna (Murtidjo, 1993).

Tujuan pemberian konsentrat dalam pakan ternak kambing adalah untuk

meningkatkan daya guna pakan, menambah unsur pakan yang defisien, serta

meningkatkan konsumsi dan kecernan pakan. Dengan pemberian konsentrat,

mikrobia dalam rumen cenderung akan memanfaatkan pakan konsentrat terlebih

dahulu sebagai sumber energi dan selanjutnya dapat memanfaatkan pakan kasar

yang ada. Dengan demikian mikrobia rumen lebih mudah dan lebih cepat

berkembang populasinya (Murtidjo, 1993).


12

III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 1. Bahan pakan yang terpakai


Bahan Berat Awal Berat Akhir Terpakai
Pakan (g) (g) (g)
Rumput 500 412 88
Gajah
Gamal 500 500 0
Konsentrat 250 250 0

Berdasarkan waktu :

 Pada detik ke-14 bahan pakan yang pertama kali dihampiri oleh kambing

adalah rumput gajah. Hal ini menunjukkan bahwa preferensi paling tinggi

terletak pada rumput gajah

 Mulai detik ke-14 sampai menit ke-4 bahan pakan yang dimakan oleh

kambing hanya rumput gajah. Hal ini menunjukkan palatabilitas kambing

terhadap rumput gajah tinggi

 Setelah masing-masing tempat bahan pakan diubah, pada waktu 4 menit 5

detik, bahan pakan yang pertama kali didekati adalah rumput gajah. Hal ini

menunjukkan bahwa preferensi dan palatabilitas paling tinggi terletak pada

rumput gajah.

 Sampai menit ke-7 bahan pakan yang dimakan oleh kambing hanya rumput

gajah.
13

3.2 Pembahasan

3.2.1 Rumput Gajah

Rumput gajah (Pennisetum purpureum Schaum) menurut Mihrani

(2008), berasal dari Afrika, tanaman ini diperkenalkandi Indonesia pada tahun

1962, dan tumbuh alami diseluruh dataran Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri,

rumput gajah merupakan tanaman hijauan utama pakan ternak yang memegang

peranan yang amat penting, karena hijauan mengandung hampir semua zat yang

diperlukan hewan.

Dalam praktikum yang telah dilakukan diambilah sampel rumput gajah

untuk diberikan kepada kambing sebanyak 500 gram lalu setelah dibandingkan

dengan sampel yang lain yaitu gamal dan konsetrat ternyata rumput gajah lah yang

pertama kali dihampiri tepatnya pada detik ke-14 dan setelah 7 menit hanya rumput

gajah lah yang dimakan oleh kambing tersebut dan berat akhir dari bahan pakan

rumput gajah adalah sebesar 412 gram yang artinya telah terpakai sebanyak 88 gram

hal tersebut dikarenakan tingginya palatabilitas pada bahan pakan rumput gajah dan

pendapat tersebut sesuai dengan penelitian Syarifuddin (2006) yang menyebutkan

rumput gajah merupakan jenis rumput unggul yang mempunyai produktivitas dan

kandungan zat gizi yang cukup tinggi serta memiliki palatabilitas yang tinggi bagi

ternak ruminansia.

Dan kandungan nutrien rumput gajah menurut Rukmana (2005) terdiri atas:

bahan kering (BK) 19,9%;protein kasar (PK) 10,2%; lemak kasar (LK) 1,6%;

serat kasar (SK) 34,2%; abu 11,7%; dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN)

42,3%.
14

3.2.2 Gamal

Gamal (Gliricidia maculata) menurut Direktorat Perbenihan Tanaman

Hutan (2002), adalah nama jenis perdu dari kerabat polong - polongan (suku

Fabaceae atau Leguminosae). Penyebaran alami tidak jelas karena telah

dibudidayakan sejak lama, tetapi bukti kuat menunjukkan bahwa penyebarannya

terbatas pada hutan musim kering gugur daun di dataran rendah pesisir Pasifik dan

beberapa lembah pedalaman di Amerika Tengah dan Meksiko. Tanaman ini

sekarang sudah menyebar di seluruh daerah tropika termasuk Indonesia.

Pada praktikum yang telah dilaksanakan bahan pakan gamal diambil sampel

awal sebesar 500 gram namun saat diberikan pada kambing yang di uji bersamaan

dengan rumput gajah dan konsentrat, kambing tersebut tidak memakan sama sekali

bahan pakan gamal yang telah diberikan hal tersebut mungkin bisa terjadi karena

gamal yang diberikan telah lama didiamkan sehingga aroma dari gamal tersebut

berkurang. Menurut penelitian Odhiambo dkk, (2013) Gamal mengandung semua

metabolit sekunder seperti Flavanoid, Saponin, Alkaloid, Steroid dan Tannin yang

terdapat dalam ekstrak daun Gamal ini merupakan unsur-unsur yang bertanggung

jawab terhadap aktivitas farmakologi daun Gamal.

3.2.3 Konsentrat

Menurut Hartadi dkk., (1991), Konsentrat adalah suatu bahan pakan

yang dipergunakan bersama bahan pakan lain untuk meningkatkan keserasian

gizi dari keseluruhan makanan dan dimaksudkan untuk disatukan dan dicampur

sebagai suplemen (pelengkap) atau pakan pelengkap.

Dalam praktikum yang dilakukan konsentrat diambil sebagai sampel

sebanyak 250 gram dan diberikan kepada kambing bersamaan dengan rumput gajah
15

dan gamal, sampai menit ke 7 kambing tersebut tidak memakan sama sekali bahan

pakan konsentrat yang artinya konsetrat tersebut kurang akan palatabilitasnya.

Menurut Murtidjo (1993), tujuan pemberian konsentrat dalam pakan ternak

kambing adalah untuk meningkatkan daya guna pakan, menambah unsur pakan

yang defisien, serta meningkatkan konsumsi dan kecernan pakan. Dengan

pemberian konsentrat, mikrobia dalam rumen cenderung akan memanfaatkan pakan

konsentrat terlebih dahulu sebagai sumber energi dan selanjutnya dapat

memanfaatkan pakan kasar yang ada. Dengan demikian mikrobia rumen lebih

mudah dan lebih cepat berkembang populasinya.

3.2.4 Preferensi dan Palatabilitas Domba

Menurut hasil yang diperoleh rumput gajag menjadi preferensi serta

memiliki palatabilitas yang tinggi. Hal tersebut terjadi karena kambing memang

lebih menyukai sumber hijauan dari rumput-rumputan dibandingkan sumber

hijauan dari daun-daunan. Sama seperti pendapat Cahyono (1998) yang

menyatakan bahwa domba memiliki tingkat palatabilitas yang tinggi pada rumput-

rumputan dibandingkan dengan daun-daunan. Rumput gajah yang menjadi

palatabilitas yang utama dengan pengambilan pakan sebesar 500 gram dengan berat

akhir 412 gram yang artinya terpakai 88 gram. Pakan lain seperti konsentrat dan

gamal, domba tidak memakannya melainkan hanya mengendus bau saja, sedangkan

gamal pun tidak dikonsumsi yang artinya palatabilitasnya lebih rendah dari rumput

gajah.
16

V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

(1) Dapat diketahui preferensi ternak domba terhadap rumput gajah tinggi dan

palatabilitas tinggi.

(2) Dapat diketahui preferensi ternak domba terhadap gamal rendah dan

palatabilitasnya rendah.

(3) Dapat diketahui preferensi ternak domba terhadap konsentrat rendah dan

palatabilitasnya rendah.

\
17

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit Gramedia. Jakarta.

Cahyono, B. 1998. Beternak Domba dan Kambing. Kanisius. Yogyakarta.

Departemen Kehutanan dan Perkebunan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan


dan Perhutanan Sosial Direktorat Perbenihan Semai Hutan. 2002.
Risalah Sifat Benih Pohon Hutan di Indonesia. Jakarta (ID):
Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

Efendi, A.R. Eko, D. W. Umiyasih, Udan Mulyadi, A. 2001. Peningkatan


Produktifitas Hijauan Dengan Pupuk Organik.Jurnal Teknologi Hasil
Pengkajian BPTP. Jawa Timur.

Hartadi, H., S. Reksodiprodjo dan A.D. Tillman. 1991. Tabel Komposisi Bahan
Makanan Ternak Untuk Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

Joker.D. 2002. Informasi Singkat Benih Pterocarpus Indicus. Departemen


Kehutanan. Jakarta.

Kartadisastra, 1997. Ternak kelinci teknologi pascapanen. Kanisiun. Yogyakarta.

Manglayang Agribusiness Cooverative, 2005. Hijauan pakan ternak :


Rumputgajah. http://www.manglayang.blogsome.com.

Mihrani. 2008. Evaluasi penyuluhan penggunaan bokashi kotoran Sapi


terhadap pertumbuhan dan produksi Rumput gajah. Jurnal Agrisistem,
Juni 2008,Vol. 4 No. 1.

Murtidjo, B.A. 1993. Beternak Sapi Potong. Kanisius.Yogyakarta

Permadi, U. 2007. Pengaruh pemberian pupuk majemuk phonska terhadap


pertumbuhan vertikal dan produksi rumput gajah(Pennisetum
purpureum) sebagai pakan ternak. Skripsi Fakutas peternakan, IPB. Bogor.

Provenza, Frederick. 1995. Origins of Food Preference in Herbivores. National


Wildlife Research Center Repellents Conference 1995.

Odhiambo, O. S., dkk. (2013). The Relationship between Fiscal Deficits and
Economic Growth in Kenya: An Empirical Investigation. Greener Journal
of Social Sciences,
18

Rukmana, R. 2005. Rumput Unggul Hijauan Makanan Ternak. Kanisius.


Yogyakarta

Syarifuddin, N.A., 2006. Nilai Gizi Rumput Gajah Sebelum dan Setelah Enzilase
Pada Berbagai Umur Pemotongan. Produksi Ternak, Fakultas Pertanian
UNLAM, Lampung.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.


Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta

Vanis, D, R. 2007. Pengaruh Pemupukan Dan Interval Defoliasi Terhadap


Pertumbuhan Dan Produktivitas Rumput Gajah (Pennisetum
purpureum) di bawah tegakan pohon segon (Paraserianthes
falcataria). Skripsi Fakultas Perternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor