Anda di halaman 1dari 10

PENDIDIKAN DASAR DAN

MENENGAH PADA SEKTOR SWASTA


DOSEN PENGAMPU : CHARLES FRANSISCUS AMBARITA, S.Pd., M.Si.

DISUSUN OLEH KELOMPOK V :

JIHAN SAFIRA NURULITA (7171141010)


FEBRY ELYZABET (7173341019)
YOHANA SIJABAT (7171141026)

PRODI PENDIDIKAN EKONOMI


JURUSAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN, 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan Rahmat,
Karunia, serta Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul
“Gagasan Usaha Kewirausahaan” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Dan juga kami berterima kasih kepada Bapak Charles Fransiscus Ambarita, S.Pd., M.Si. yang
telah memberikan tugas makalah ini kepada kami.

Kami sangat berharap Makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam Makalah ini terdapat
kekurangan. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
Makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga Makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang lain.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan
dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Bapak Charles Fransiscus
Ambarita, S.Pd., M.Si. demi perbaikan Makalah ini di waktu yang akan datang.

Medan, September 2019

Kelompok V
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu masalah pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya
mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan
menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional,
antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku,
perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu menejemen sekolah.
Dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
pada Bab II pasal 2 dan 3 yaitu dasar, fungsi, dan tujuan dijelaskan bahwa: "Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia dengan akhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta
bertanggungjawab".
Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang berkewajiban
mengembangkan potensi siswa semaksimal mungkin dalam berbagai aspek kepribadian,
sehingga menjadi manusia yang mampu berdiri sendiri di dalam dan di tengah-tengah
masyarakat. Oleh karena itu diharapkan pendidikan dapat menunjang pembangunan bangsa
dalam arti luas.
Pendidikan di sekolah diartikan sebagai proses kegiatan terencana dan terorganisir
yang terdiri atas kegiatan belajar, kegiatan ini bertujuan menghasilkan perubahan yang positif
pada diri siswa. Menurut status, lembaga pendidikan/sekolah terbagi menjadi dua yaitu:
sekolah Swasta dan sekolah Negeri. Sekolah Negeri maupun sekolah Swasta memiliki
karakteristik mereka sendiri, sehingga dengan karakteristik masing-masing akan
menampilkan perbedaan antara yang satu dengan yang lain.
Jika kita berpikir secara bijak, baik itu sekolah Negeri maupun sekolah Swasta
memiliki tujuan yang sama seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan cara dan karakteristik masing-masing, sekolah
Negeri dan sekolah Swasta tentu telah berupaya untuk mencapai tujuan tersebut. Terlepas
dari usaha tersebut, keberhasilan yang diperoleh dari proses belajar mengajar tidak lepas dari
beberapa faktor antara lain: faktor guru yang mengajar, siswa yang belajar, metode dan
materi pembelajaran, serta sarana penunjang kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini
keseluruhan faktor itu harus mendapat perhatian yang terpadu dan saling berkaitan dalam satu
aktivitas yaitu proses belajar mengajar. Dedi Kurniawan (2010) mengatakan dikotomi guru
Negeri dan guru Swasta, yang memposisinegatifkan guru-guru Negeri yang pola kerjanya
semakin tidak standar, dari guru yang sering tidak masuk, guru yang pengajarannya tidak
standar, guru yang sering telat, guru yang lebih banyak di kantor daripada di kelas, guru yang
banyak job luar, hingga guru yang sering mengambil keuntungan lain dengan mengadakan
les di rumah. Guru Swasta, dalam konteks ini, mereka lebih serius melakukan pengajaran
kepada siswa-siswanya.
Dedi kurniawan (2010), siswa sekolah Swasta banyak melakukan diskusi dengan
guru, presentasi di depan kelas, berdebat dan beradu argumentasi, sementara murid sekolah
Negeri belajar dengan cara menghafal dan memahami materi dengan mendengarkan guru dan
membaca textbook. Hal ini menyebabkan murid sekolah Swasta pandai dalam
menyampaikan pendapatnya sedangkan murid sekolah Negeri susah menyampaikan
pendapatnya dikarenakan cenderung pasif dalam belajar.
Sekolah Negeri memakai metode pengajaran yang sangat statis, tidak seperti sekolah
Swasta yang biasanya memakai pola pengajaran secara dinamis. Materi yang diberikan oleh
guru dari sekolah Negeri cenderung disampaikan dalam format satu arah, artinya guru
berceramah kepada murid-murid dan tidak ada timbal balik yang terjadi antara murid dan
guru. Hal ini akan sangat berbeda sekali dengan sekolah Swasta yang penyampaian materi
pelajaran biasanya disampaikan dalam bentuk diskusi antara guru dengan murid Masalah-
masalah belajar (Dimyanti dan Mudjiono, 2006) meliputi 2 faktor yaitu faktor intern dan
ekstern. Faktor intern meliputi: sikap belajar, motivasi, konsentrasi, mengolah bahan belajar,
menyiapkan perolehan hasil belajar, dan berprestasi atau unjuk hasil belajar. Faktor ekstern
meliputi: guru sebagai pendidik, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan penilaian,
lingkungan sosial, dan kurikulum sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pendidikan Dasar dan Menengah Pada Sektor Swasta


a. Pendidikan Dasar Pada Sektor Swasta

Sekolah Dasar merupakan pendidikan formal yang boleh dikatakan pondasi atau

gerbang pendidikan formal yang lebih tinggi. Di sekolah dasar inilah dibentuknya

pengetahuan siswa mengenai suatu ilmu. Untuk menanamkan hal mendasar pada anak didik

usia dini ini, dituntut SDM yang handal. Wajib belajar 9 tahun di indonesia merupakan

langkah untuk memberikan pendidikan dasar, melalui jenjang sekolah dasar dan sekolah

lanjutan. Pada kedua jenjang inilah, anak didik mendapatkan tiga menfaat dasar pendidikan

yaitu pengetahuan, sikap serta keterampilan.

Di sekolah dasar akan diberikan pembekalan selama 6 tahun berturut-turut untuk

membentuk pondasi pengetahuan, sikap serta keterampilan dasar dari berbagai jenis ilmu

pengetahuan yang akan dilanjutkan melalui sekolah menengah pertama.

Sekolah negeri maupun swasta sama-sama ada yang berkualitas bagus, sedang, dan

rendah. Belajar di sekolah negeri atau swasta memang mempunyai sensasi yang berbeda bagi

para peserta didiknya. Di pedesaan, biasanya sekolah negeri begitu banyak diminati karena

biaya pendidikan yang relatif terjangkau. Sedangkan di kota-kota besar, sekolah swasta justru

diminati karena fasilitas dan ketercapaian kompetensi peserta didik yang telah terbukti bagus.

b. Pendidikan Menengah Pada Sektor Swasta

Pendidikan Menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang
merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk sekolah menengah atas, madrasah aliyah
(MA), sekolah menengah kejuruan, dan madrasah aliyah kejuruan (MAK) atau bentuk lain
yang sederajat. Pengajaran yang dilakukan oleh Pendidikan formal diselenggaran disekolah
dimana pendidikan formal berlangsung dalam waktu terbatas, yaitu masa anak dan remaja.
Pendidikan formal berlangsung dalam lingkungan pendidikan yang diciptakannya
khusus untuk menyelenggarakan proses pendidikan secara teknis yang berlangsung dikelas,
yang kegiatan pendidikannya terjadwal, tertentu waktu dan tempatnya. Pendidikan formal
juga tersusun secara terprogram dalam bentuk kurikulum yang kegiatan pendidikannya lebih
berorientasi pada kegiatan guru, sehingga guru mempunya peranan yang sentral dalam bentuk
pengajaran yang diberikan melalui pendidikan.

Dimana pendidikan formal ditentukan oleh pihak luas untuk mengatur pendidikan dan
tujuan pendidikan formal juga terbatas pada pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu
untuk mempersiapkan tujuan hidup yang diperoleh melalui pendidikan. Adapun tujuan dari
diselenggarakannya pendidikan formal adalah sebagai berikut:

a) Membantu lingkungan keluarga untuk mendidik dan mengajar, memperbaiki,


memperluas pengetahuan, dan tingkah laku peserta didik yang dibawa dari keluarga
serta membantu pengembangan bakat.

b) Mengembangkan keperibadian peserta didik lewat kurikulum agar;

1) Peserta didik dapat bergaul dengan lingkungan sekolahnya.

2) Mempersiapkan peserta didik terjun di masyarakat berdasarkan norma


yang berlaku.

c) Membentuk dasar atau pondasi cara- cara/pola berpikir yang sistematis dan
konseptual secara konsisten dan terarah.

d) Melatih dan menanamkan sikap mental dan emosional yang matang, dewasa
dan mandiri. Sehingga biasanya seorang yang berpendidikan tinggi lebih dapat
mengendalikan sikap dan emosinya secara baik.

e) Mengajarkan banyak disiplin ilmu dengan berbagai teori-teori dan ilmu


pengetahuan yang ada sehingga wawasan dan pengetahuan menjadi banyak dan
luas.

f) Menanamkan disiplin belajar yang sangat tinggi, sehingga seseorang yang


berpendidikan akan lebih terbiasa untuk belajar dan belajar lagi.
Pada umumnya lembaga formal adalah tempat dimana orang tua menitipkan anak-
anaknya untuk belajar sehingga memperluas pengetahuan dan keterampilan yang
dimilikinya agar mampu menghadapi dunia kerja.

Salah satu masalah pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya
mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan
menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional,
antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku,
perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu menejemen sekolah.

Dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


pada Bab II pasal 2 dan 3 yaitu dasar, fungsi, dan tujuan dijelaskan bahwa: "Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia dengan akhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta
bertanggungjawab".

Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang berkewajiban


mengembangkan potensi siswa semaksimal mungkin dalam berbagai aspek kepribadian,
sehingga menjadi manusia yang mampu berdiri sendiri di dalam dan di tengah-tengah
masyarakat. Oleh karena itu diharapkan pendidikan dapat menunjang pembangunan bangsa
dalam arti luas. Pendidikan di sekolah diartikan sebagai proses kegiatan terencana dan
terorganisir yang terdiri atas kegiatan belajar, kegiatan ini bertujuan menghasilkan perubahan
yang positif pada diri siswa.

c. Karekteristik Pendidikan Dasar dan Menengah pada Sektor Swasta

Menurut status, lembaga pendidikan/sekolah terbagi menjadi dua yaitu: sekolah


Swasta dan sekolah Negeri. Sekolah Negeri maupun sekolah Swasta memiliki karakteristik
mereka sendiri, sehingga dengan karakteristik masing-masing akan menampilkan perbedaan
antara yang satu dengan yang lain. Jika kita berpikir secara bijak, baik itu sekolah Negeri
maupun sekolah Swasta memiliki tujuan yang sama seperti yang tertuang dalam Pembukaan
UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan cara dan karakteristik masing-
masing, sekolah Negeri dan sekolah Swasta tentu telah berupaya untuk mencapai tujuan
tersebut. Terlepas dari usaha tersebut, keberhasilan yang diperoleh dari proses belajar
mengajar tidak lepas dari beberapa faktor antara lain: faktor guru yang mengajar, siswa yang
belajar, metode dan materi pembelajaran, serta sarana penunjang kegiatan belajar mengajar.
Dalam hal ini keseluruhan faktor itu harus mendapat perhatian yang terpadu dan saling
berkaitan dalam satu aktivitas yaitu proses belajar mengajar.

Dedi Kurniawan (2010) mengatakan dikotomi guru Negeri dan guru Swasta, yang
memposisinegatifkan guru-guru Negeri yang pola kerjanya semakin tidak standar, dari guru
yang sering tidak masuk, guru yang pengajarannya tidak standar, guru yang sering telat, guru
yang lebih banyak di kantor daripada di kelas, guru yang banyak job luar, hingga guru yang
sering mengambil keuntungan lain dengan mengadakan les di rumah. Guru Swasta, dalam
konteks ini, mereka lebih serius melakukan pengajaran kepada siswa-siswanya. Imron Gozali
(2011), sesuatu yang berkualitas memang tidaklah murah. Fasilitas kelas VIP adalah
konsekuensi logis dari biaya pendidikan yang mahal di sekolah Swasta. Fasilitas di sekolah
Swasta bisa jadi sangat lengkap. Mulai dari ruangan kelas ber-AC, laboratorium, fasilitas
olahraga, hingga halaman parker yang luas. Branding sekolah Swasta juga dapat melalui hal
ini, karena prinsip sektor Swasta yang mengutamakan pelayanan prima dan kepuasan untuk
customer-nya. Sedangkan sekolah Negeri memiliki fasilitas yang standar untuk
keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.

d. Perbedaan Pendidikan Dasar dan Menengah Pada Sektor Swasta dan Negeri

Dedi kurniawan (2010), siswa sekolah Swasta banyak melakukan diskusi dengan
guru, presentasi di depan kelas, berdebat dan beradu argumentasi, sementara murid sekolah
Negeri belajar dengan cara menghafal dan memahami materi dengan mendengarkan guru dan
membaca textbook. Hal ini menyebabkan murid sekolah Swasta pandai dalam
menyampaikan pendapatnya sedangkan murid sekolah Negeri susah menyampaikan
pendapatnya dikarenakan cenderung pasif dalam belajar.

Sekolah Negeri memakai metode pengajaran yang sangat statis, tidak seperti sekolah
Swasta yang biasanya memakai pola pengajaran secara dinamis. Materi yang diberikan oleh
guru dari sekolah Negeri cenderung disampaikan dalam format satu arah, artinya guru
berceramah kepada murid-murid dan tidak ada timbal balik yang terjadi antara murid dan
guru. Hal ini akan sangat berbeda sekali dengan sekolah Swasta yang penyampaian materi
pelajaran biasanya disampaikan dalam bentuk diskusi antara guru dengan murid.
Rumor tak sedap pun bermuculan tentang perbedaan sekolah negeri dan sekolah
swasta. Tidak jarang pula masyarakat yang tidak tahu menahu akhirnya mengambil
kesimpulan sepihak yang mengatakan bahwa sekolah negeri lebih baik dari sekolah swasta
demikian pula sebaiknya. Minimnya informasi yang diperoleh merupakan salah satu faktor
pengambilan kesimpulan sepihak.
Sekolah negeri maupun sekolah swasta memiliki karakteristik mereka sendiri,
sehingga dengan karakteristik masing-masing akan menampilkan perbedaan antara yang satu
dengan yang lain. Jika kita berpikir secara bijak, baik itu sekolah negeri maupun sekolah
swasta memiliki tujuan yang sama seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan cara dan karakteristik masing-masing, sekolah
negeri dan sekolah swasta tentu telah berupaya untuk mencapai tujuan tersebut.
Imron Gozali (2011), sesuatu yang berkualitas memang tidaklah murah. Fasilitas
kelas VIP adalah konsekuensi logis dari biaya pendidikan yang mahal di sekolah Swasta.
Fasilitas di sekolah Swasta bisa jadi sangat lengkap. Mulai dari ruangan kelas ber-AC,
laboratorium, fasilitas olahraga, hingga halaman parkir yang luas. Branding sekolah Swasta
juga dapat melalui hal ini, karena prinsip sektor Swasta yang mengutamakan pelayanan prima
dan kepuasan untuk customer-nya. Sedangkan sekolah Negeri memiliki fasilitas yang standar
untuk keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Dalam hal pembiayaan di sekolah swasta justru lebih bersifat transparan. Sejak awal
masuk sekolah, wali murid sudah disodori lembaran-lembaran yang berupa rincian biaya
yang harus dikeluarkan oleh wali murid kepada pihak sekolah. Di mana biaya tersebut jelas-
jelas untuk kepentingan sekolah dan peningkatan mutu sekolah tersebut, dan juga untuk
kelancaran proses pembelajaran. Biaya pendidikan di sekolah swasta terlihat mahal dan
kurang terjangkau untuk kalangan biasa agar sekolah swasta tersebut dapat bertahan baik
dalam bentuknya maupun dari segi kualitasnya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan di sekolah diartikan sebagai proses kegiatan terencana dan terorganisir


yang terdiri atas kegiatan belajar, kegiatan ini bertujuan menghasilkan perubahan yang positif
pada diri siswa. Menurut status, lembaga pendidikan/sekolah terbagi menjadi dua yaitu:
sekolah Swasta dan sekolah Negeri. Sekolah Negeri maupun sekolah Swasta memiliki
karakteristik mereka sendiri, sehingga dengan karakteristik masing-masing akan
menampilkan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Sekolah negeri maupun sekolah
swasta memiliki karakteristik mereka sendiri, sehingga dengan karakteristik masing-masing
akan menampilkan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Jika kita berpikir secara
bijak, baik itu sekolah negeri maupun sekolah swasta memiliki tujuan yang sama seperti yang
tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan cara
dan karakteristik masing-masing, sekolah negeri dan sekolah swasta tentu telah berupaya
untuk mencapai tujuan tersebut.