Anda di halaman 1dari 30

TELAAH KURIKULUM

“Menelaah Sejarah Perkembangan Kurikulum Di


Indonesia dan Menelaah Standar Kompetensi Profesional
Guru dalam Pengembangan Kurikulum”

DISUSUN OLEH:

NAMA MAHASISWA : Marlina Ayu Lestari


NIM : 2018143142

DOSEN PENGAMPU : Aldora Pratama, M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

2019
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun
makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang sejarah
perkembangan kurikulum di Indonesia dan kompetensi professional guru dalam
pengembangan kurikulum dan pembelajaran.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan


hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi.
Olehnya, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya
mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.

Indralaya, 29 September 2019

Marlina Ayu Lestari

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 2
C. Tujuan .............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Dan Tujuan Pengembangan Kurikulum......................... 3
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum .... 3
C. Sejarah Pendidikan Dan Kurikulum Di Indonesia ........................... 4
D. Proses Perubahan Kurikulum ........................................................... 8
E. Definisi Guru .................................................................................... 14
F. Kompetensi Guru.............................................................................. 14
G. Kompetensi Guru Yang Harus Dimiliki Oleh Guru ......................... 16
H. Kompetensi Profesional Guru Dalam Proses Pembelajaran ............ 19

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ...................................................................................... 25
B. Saran ................................................................................................. 26

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum.


Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus
merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan
jenjang pendidikan, Kurikulum harus sesuai dengan falsafah dan dasar negara, yaitu
Pancasila dan UUD 1945 yang menggambarkan pandangan hidup suatu bangsa.
Tujuan dan pola kehidupan suatu negara banyak ditentukan oleh sistem kurikulum
yang digunakannya, mulai dari kurikulum Taman kanak-kanak sampai dengan
kurikulum perguruan tinggi. Jika terjadi perubahan sistem ketatanegaraan, maka
dapat berakibat pada perubahan sistem pemerintahan dan sistem pendidikan,
bahkan terhadap sistem kurikulum yang berlaku.
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan pendidikan atau
pengajaran dan hasil pendidikan atau pengajaran yang harus dicapai oleh anak didik,
kegiatan belajar mengajar, pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam
pengembangan kurikulum itu sendiri, Menurut Kurniaman (2017:2) kurikulum
berfungsi sebegai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan disekolah bagi
pihak-pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti
pihak guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, masyarakat dan pihak siswa itu
sendiri.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Eksistensi adalah keberadaan,
kehadiran yang mengandung unsur bertahan. Sedangkan menurut Abidin (Dalam
kompasiana, 2012) “Eksistensi adalah suatu proses yang dinamis, suatu „menjadi‟
atau „mengada‟. Ini sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri, yakni exsistere,
yang artinya keluar dari, „melampaui‟ atau „mengatasi‟. Jadi eksistensi tidak
bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur atau kenyal dan mengalami
perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan dalam
mengaktualisasikan potensi-potensinya”.
Dalam perkembangannya, guru sebagai pengajar merupakan bagian penting
dari instrumen pendidikan di Indonesia. Peningkatan kinerja guru sangat penting
sebagai upaya penunjang profesi untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Selain

1
itu untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan
relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang
mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal,
nasional, dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan
dosen secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Pada masa sekarang ini
guru dituntut untuk memiliki kualifikasi, kompetensi, dan profesionalisme. Namun
ironisnya, guru yang mengemban tugas mulia dan tidak ringan serta secara sosio-
kultural memiliki kedudukan yang terhormat, tidak mendapatkan penghargaan yang
setara dengan kedudukan dan tugas yang diembannya. Untuk merealisasikan hal
itu kemudian disahkan Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

B. Rumusan Masalah
A. Jelaskan Pengertian dan Tujuan Pengembangan Kurikulum
B. Sebutkan dan Jelaskan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan
Kurikulum!
C. Bagaimana Sejarah Pendidikan dan Kurikulum di Indonesia?
D. Bagaimana Proses Perubahan Kurikulum?
E. Jelaskan definisi guru?
F. Jelaskan apa saja kompetensi guru yang harus dimiliki oleh guru?
G. Jelaskan Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Pembelajaran!

C. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata
kuliah Telaah Kurikulum dan untuk pedoman belajar di kelas.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Tujuan Pengembangan Kurikulum


1. Pengertian Pengembangan Kurikulum
Prof. Dr. Engkoswara, guru besar Universitas Pendidikan Indonesia
Bandung telah membuat 4 (empat) rumus pengertian kurikulum, lengkap dengan
visualisasinya. Pertama, kurikulum adalah jarak yang harus ditempuh oleh pelari.
Kedua, kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran. Ketiga, kurikulum adalah
sejumlah mata pelajaran dan kegiata-kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta
didik. Keempat, kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan,
serta segala sesuati yang akan berpengaruh dalam upaya pencapaian tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan. Rumus ini memudahkan kita untuk memahami
pengertian kurikulum. Rumus ini sama sekali tidak melenceng dari definisi yang
telah dikemukakan para ahli, misalnya Hilda Taba menjelaskan dengan amat
singkat bahwa “curriculum is a plan of learning”. Demikian juga bila dibandingkan
dengan pengertian kurikulum dalam Pasal 1 butir 19 UU Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa “Kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Pengembangan kurikulum merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia. Ia sebagai instrument yang membantu praktisi
pendidikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat.
Pengembangan kurikulum merupakan alat untuk membantu guru melakukan
tugasnya mengajar dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Pengembangan
kurikulum tidak pernah berhenti, ia merupakan proses yang berkelanjutan dan terus
menerus sejalan dengan perkembangan dan tuntutan jaman dan perubahan yang
terjadi didalam masyarakat.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum


Ada tiga faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, yaitu:
perguruan tinggi, masyarakat, dan sistem nilai.

3
1. Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi setidaknya memberikan dua pengaruh terhadap kurikulum
sekolah. Pertama, dari segi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dikembangkan di perguruan tinggi umum. Pengetahuan dan teknologi banyak
memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran. Jenis
pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi akan mempengaruhi isi
pelajaran yang akan dikembangkan dalam kurikulum. Perkembangan teknologi
selain menjadi isi kurikulum juga mendukung pengembangan alat bantu dan media
pendidikan. Kedua, dari segi pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta
penyiapan guru-guru Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK, seperti
IKIP, FKIP, STKIP).
Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan juga mempengaruhi
pengembangan kurikulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan kemampuan
keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya. Penguasaan keilmuan, baik ilmu
pendidikan maupun ilmu bidang studi serta kemampuan mengajar dari guru-guru
akan sangat mempengaruhi pengembangan dan implementasi kurikulum di sekolah.
Guru-guru yang mengajar pada berbagai jenjang dan jenis sekolah yang ada dewasa
ini, umumnya disiapkan oleh LPTK melalui beberapa program, yaitu program
diploma dan sarjana. Pada Sekolah Dasar masih banyak guru memiliki latar
belakang pendidikan SPG dan SGO, akan tetapi hal tersebut secara berangsur-
angsur mereka mengikuti peningkatan kompetensi dan kualifikasi pendidikan guru
melalui program diploma dan sarjana.

2. Mayarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat, yang diantaranya bertugas
mempersiapkan anak didik untuk dapat hidup secara bermatabat di masyarakat.
Sebagai bagian dan agen masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan
masyarakat di tempat sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya
mencerminkan kondisi masyarakat penggunanya serta upaya memenuhi kebutuhan
dan tuntutan mereka. Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan
masyarakat yang homogen atau heterogen. Sekolah berkewajiban menyerap dan
melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada
dalam masyarakat adalah dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di

4
masyarkat akan mempengaruhi pengembangan kurikulum. Hal ini karena sekolah
tidak hanya sekedar mempersiapkan anak untuk selesai sekolah, tetapi juga untuk
dapat hidup, bekerja, dan berusaha. Jenis pekerjaan yang ada di masyarakat
berimplikasi pada kurikulum yang dikembangkan dan digunakan sekolah.

3. Sistem Nilai
Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral,
keagamaan, sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga
masyarakat juga bertangung jawab dalam pemeliharaan dan pewarisan nilai-nilai
positif yang tumbuh di masyarakat. Sistem nilai yang akan dipelihara dan
diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum. Persoalannya bagi
pengembang kurikulum ialah nilai yang ada di masyarakat itu tidak hanya satu.
Masyarakat umumnya heterogen, terdiri dari berbagai kelompok etnis, kelompok
vokasional, kelompok intelek, kelompok sosial, dan kelompok spritual keagamaan,
yang masing-masing kelompok itu memiliki nilai khas dan tidak sama. Dalam
masyarakat juga terdapat aspek-aspek sosial, ekonomi, politk, fisik, estetika, etika,
religius, dan sebagainya. Aspek-aspek tersebut sering juga mengandung nilai-nilai
yang berbeda.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasi berbagai
nilai yang tumbuh di masyarakat dalam kurikulum sekolah, diantaranya:
1. Mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam
masyarakat.
2. Berpegang pada prinsip demokratis, etis, dan moral
3. Berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru
4. Menghargai nilai-nilai kelompok lain
5. Memahami dan menerima keragaman budaya yang ada
(Sukmadinata, 2006: 158)

C. Sejarah Pendidikan dan Kurikulum di Indonesia


Berbicara tentang kurikulum tak terlepas dengan lembaga pendidikan yang
mengimplementasikan kurikulum itu sendiri. Sejarah pendidikan di Indonesia
sendiri sedah dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka, yang mana dilakukan oleh
lembaga pendidikan pesantren. Kemudian setelah bangsa ini merdeka barulah

5
Indonesia memiliki sekolah yang dikelola sendiri karena sebelum kemerdekaan
sistem persekolahan dikuasai oleh para penjajah. Sebelum masuk pada pembahasan
kurikulum, mari menilik sejarah pendidikan di Indonesia yang diawali dengan
munculnya Pesantren, sekolah dan madrasah. Pesantren atau pusat pendidikan
islam kuat diduga berkaitan dengan kedatangan para musafir dan pedagang muslim
yang masuk lewat jalur perdagangan pada abad 7 M dan 8 M. Kemudian sejak abad
11 M Islam sudah masuk ke pulaupulau di nusantara dan mulai Intensif menyebar
pada abad ke 13 sampai akhir abad 17 dan pada masa itu mulai berdiri pusat-pusat
kekuasaan Islam sepertidi Aceh, Demak, Giri, Ternate danGoa. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa pesantren telah mulai dikenal di Indonesia.
Awalnya kurikulum pesantren dilandaskan pada tingkat kemudahan dan
kompleksitas kitab-kitab yang dipelajari, mulai dari tingkat awal, menengah dan
lanjut. Kemudian dalam perkembangannya pesantren telah melakukan perubahan
kurikulum dengan memasukkan pendidikan umum dalam kurikulum pesantren.
Sekolah yang pertama didirikan di Jakarta pada tahun 1617 pada masa VOC yang
bertujuan untuk mencetak tenaga kerja yang kompeten pada VOC. Sistem
pendidikan sekolah ini di kuasai oleh penjajah, dan setelah merdeka barulah
Indonesia dapat mengelola sekolah sendiri. Sedangkan madrasah berkembang di
jawa mulai 1912. ada model madrasah pesantren NU dalam bentuk Madrasah
muhammadiyah (1912) yang mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah,
Muallimin, Mubalighin, dan Madrasah Diniyah. Ada juga model AL-Irsyad ( 1913)
yang mendirikan Madrasah Tajhiziyah, Muallimin dan Tahassus, atau model
Madrasah PUI di Jabar yang mengembangkan madrasah pertanian, itulah singkat
tentang sejarah madrasah di Indonesia.
Istilah kurikulum menjadi popular sejak tahun 1950 di Indonesia, yang
mana dikenalkan oleh sejumlah kalangan pendidik lulusan Amerika Serikat.
Sebelum mengenal istilah kurikulum, pendidikan Insonesia lebih akrab dengan
istilah rencana pembelajaran. Kurikulum sendiri mempunyai definisi yang berbeda-
beda hal ini disebabkan oleh perbedaan sudut pandangdan latar belakang keilmuan
para ahli tersebut, sehingga definisi yang dirumuskan akan berbeda meskipun pada
intinya terkandung maksud yang sama. Kurikulum sendiri berasal dari bahasa
Yunani yaitu currere, yang mula-mula digunakan dalam bidang olahraga yang

6
berarti jarak tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus
ditempuh mulai dari start sampai dengan finish, sama halnya dengan pendidikan
ada awal dan akhir proses pembelajaran. Atas dasar tersebut pengertian kurikulum
diterapkan dalam bidang pendidikan.
Secara terminologis kurikulum dalam pendidikan adalah sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh dan diselesaikan peserta didik di sekolah untuk
memperoleh ijazah. Pengertian tersebut tergolong pengertian tradisional, dan dari
pengertian tersebut dapat kita amati bahwa ada implikasi dari pengertian tradisional
tersebut.
a. Kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran
b. Peserta didik harus mempelajari danmenguasai seluruh mata pelajaran
c. Mata pelajaran tersebut hanya dipelajari di sekolah
d. Tujuan akhir kurikulum adalah untuk memperoleh ijazah
Para ahli menyatakan kurikulum sebagai a plan for learning (Hilda Taba).
Senada dengan ungkapan Edward A. Krug menyatakan bahwa kurikulum
dipandang sebagai cara dan upaya guna mencapai tujuan pendidikan. Secara
umum ”curriculums is a sequence of potential experiences set up in the school for
the purpose of disciplining children and youth in group ways of thinking and
acting”. Yang artinya “kurikulum adalah sebuah urutan pengalaman potensial yang
ditetapkan di sekolah untuk tujuan mendisiplinkan anak didalam kelompok
bagaimana cara berpikir dan bertindak. (B. Othanel Smith, et.al).
Berdasarkan definisi diatas, dapat kita cermati bahwa pengertian tersebut
berbeda dengan pengertian kurikulum yang sebelumnya. Kurikulum tidak lagi
diangap sebatas sekumpulan mata pelajaran saja, sehingga pengertian ini sering kali
disebut dengan pengertian kurikulum secara modern. Agar lebih jelas perbedaan
antara kurikulum tradisional dan kurikulum modern perhatikan tabel dibawah ini.

7
Tabel 1.1
Perbedaan Kurikulum Tradisional dengan Kurikulum Modern.
Aspek-aspek Kurikulum Tradisional Kurikulum Modern
Masa lampau, sekarang dan
Orientasi Masa lampau
masa yang akan datang
Berdasarkan filsafat
Tidak berdasarkan filsafat pendidikan yang jelas dan
Dasar Filsafah
pendidikan yang jelas dapat diwujudkan dalam
kegiatan konkret
Mengembangkan keseluruhan
Tujuan Mengutamakan
pribadi peserta didik secara
Pendidikan pengetahuan
langsung
Berpusat pada masalah atau
Organisasi Berpusat pada mata topik dimana peserta didik
Kurikulum pelajaran belajar mengalami sendiri
secara langsung
Di samping guru, ada juga
sumber belajar yang lain,
Guru sebagai satu-satunya
Sumber Belajar seperti pakar, kegiatan bahan
sumber belajar
alat dan perlengkapan, gedung
dll.
Cenderung hanya Menggunakan multi strategi
Strategi dan
menggunakan strategi dan berbagai pendekatan
Pendekatan
ekspositori dengan (individual, kelompok, dan
Pembelajaran
pendekatan klasikal klasikal)
Teks sebagai satu-satunya Tidak hanya tes tetapi juga
Teknik Evaluasi
teknik penilaian non tes
Peran guru sangat luas dan
bersifat kolektif regional
Peran guru sangat terbatas dengan tidak mengurangi
Peran Guru dan bersifat perorangan. kebebasan guru. Guru harus
Guru adalah cardinal faktor aktif, kreatif, inovatif,
konstruktif, adaptif, dan
kondusif

D. Proses Perubahan Kurikulum


Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional
telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984,
1994, 2004, 2006, dan 2013. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari

8
terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam
masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat
rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan
perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang
berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada
penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Perubahan kurikulum tersebut tentu disertai dengan tujuan pendidikan yang
berbeda-beda, karena dalam setiap perubahan tersebut ada suatu tujuan tertentu
yang ingin dicapai untuk memajukan pendidikan nasional kita. Perubahan
kurikulum di dunia pendidikan Indonesia beserta tujuan yang ingin dicapai dapat
diuraikan sebagai berikut:

1. Kurikulum 1947
Kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu,
kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan colonial
Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan
sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem
pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih
dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai
development conformism, bertujuan untuk membentukan karakter manusia
Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi
ini.

2. Kurikulum 1952
Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia
mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran
Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan
nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa
setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan
dengan kehidupan sehari-hari.

3. Kurikulum 1964
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali
menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana

9
Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari
kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat
mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga
pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yang meliputi
pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Hamalik, 2004). Mata
pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani. Pendidikan dasar lebih
menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

4. Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu
dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana
menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan
UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum
1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk
manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan
keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dankeyakinan beragama. Isi pendidikan
diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta
mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

5. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menekankan pada
tujuan,Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan
efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen,
yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito,
Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas.
Lahirnya kurikulum 1975 bertujuan untuk mencapai tujuan instruksional
umum, tujuan instruksional khusus, dan berbagai rincian lainnya. Adapun ciri-ciri
lebih lengkap kurikulum ini adalah sebagai berikut: 1). Berorientasi pada tujuan. 2).
Menganut pendekatan integratif dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan
peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. 3).
Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. 4).
Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur

10
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah
kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam
bentuk tingkah laku siswa. 5). Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan
menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

6. Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan
pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering
disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai
subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga
melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student
Active Leaming (SAL).
Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny
R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga
Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992.
Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang
diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara
nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang
terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini
ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model
berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.
Sebelum pemberlakuan kurikulum 1984, yaitu pada tahun 1983 mata
pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) ditetapkan sebagai mata
pelajaran wajib. Dengan demikian maka pendidikan idiologi dilakukan melalui
Pendidikan Pancasila yang memiliki komponen Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila (P-4), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), dan Pendidikan
Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB).
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan
pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering
disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Ciri-Ciri umum dari Kurikulum
CBSA adalah: 1). Berorientasi pada tujuan instruksional. 2). Pendekatan
pembelajaran adalah berpusat pada anak didik; Pendekatan Cara Belajar Siswa
Aktif (CBSA). 3). Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). 4).

11
Materi pelajaran menggunakan pendekatan spiral, semakin tinggi tingkat kelas
semakin banyak materi pelajaran yang di bebankan pada peserta didik. 5).
Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. 6). Konsep-
konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian
diberikan latihan setelah mengerti.

7. Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan
dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran,
yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem
caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan
dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran
cukup banyak. Tujuan pengajaran menekankan pada pemahaman konsep dan
keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.

8. Kurikulum 2004 (KBK)


Kurikukum 2004 ini lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK). Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan
kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan
standar performance yang telah ditetapkan. Competency Based Education is
education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies
(Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan
mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat
kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu
kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran.
Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) hasil dan dampak
yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman
belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai
dengan kebutuhannya (Puskur, 2002a). Tujuan yang ingin dicapai menekankan
pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

9. Kurikulum 2006 (KTSP)

12
Kurikulum 2006 ini dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan, muncullah KTSP.
Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa
hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004.
Perbedaan yangpaling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk
merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta
kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar
kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD)
setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran,
seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan
(sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota. (TIAR)
Tujuan KTSP ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian
dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik.
Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan
penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Tujuan Panduan Penyusunan KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan
SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dalam
penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat
satuan pendidikan yang bersangkutan.

10. Kurikulum 2013


Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menegaskan bahwa
kurikukulum terbaru 2013 ini lebih ditekankan pada kompetensi dengan pemikiran
kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Adapun ciri kurikulum
2013 yang paling mendasar ialah menuntut kemampuan guru dalam
berpengetahuan dan mencari tahu pengetahuan sebanyak-banyaknya karena siswa
zaman sekarang telah mudah mencari informasi dengan bebas melalui
perkembangan teknologi dan informasi. Kesiapan guru berdampak pada kegiatan
guru dalam mendorong siswa melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan
mengkomunikasikan apa yang telah mereka peroleh setelah menerima materi
pembelajaran. Sedangkan untuk siswa lebih didorong untuk memiliki tanggung
jawab kepada lingkungan, kemampuan interpersonal, antarpersonal, maupun

13
memiliki kemampuan berpikir kritis. Tujuannya adalah terbentuk generasi
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Khusus untuk tingkat SD, pendekatan
tematik integrative memberi kesempatan siswa untuk mengenal dan memahami
suatu tema dalam berbagai mata pelajaran. Pelajaran IPA dan IPS diajarkan dalam
mata pelajaran Bahasa Indonesia.

E. Definisi Guru
Pendidik atau lebih populer dikatakan sebagai Guru adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah. Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan
identifikasi bagi peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus
memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, wibawa,
mandiri, dan disiplin. Untuk dapat benar-benar menjadi pendidik, seorang guru
tidak cukup hanya dengan menguasai bahan pelajaran, tetapi juga harus tahu nilai-
nilai apa yang dapat disentuh oleh materi pelajaran yang akan diberikan kepada para
siswa.
Terdapat dua syarat penting untuk seorang guru supaya berhasil
melaksanakan tugasnya, syarat yang pertama adalah menguasai dengan sempurna
bidang pengetahuan yang dimilikinya. Karena kualitas sebuah pengajaran sangat
ditentukan oleh tingkat penguasaan bahan pengajaran. Sedangkan syarat yang
lainnya adalah kemampuan guru dalam menerapkan metodologi mengajar dalam
proses pengajaran.

F. Kompetensi Guru
Dewasa ini perhatian bertambah besar sehubungan dengan kemajuan
pendidikan dan kebutuhan guru yang semakin meningkat, baik dalam mutu maupun
jumlahnya, secara gamblang dapat kita lihat, bahwa program pendidikan guru
mendapat prioritas pertama dalam program pembangunan pendidikan di negara kita.

14
Ada beberapa kompetensi penting yang dimiliki oleh guru diantaranya sebagai
berikut.

a. Pentingnya Kompetensi Guru


Oemar Hamalik (2002: 34-35) berpendapat bahwa masalah kompetensi
profesional guru merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh
setiap guru dalam jenjang pendidikan apa pun. Kompetensi-kompetensi lainnya
adalah kompetensi kepribadian dan kompetensi kemasyarakatan. Secara teoritis
ketiga jenis kompetensi tersebut dapat dipisah-pisahkan satu sama lain, akan tetapi
secara praktis sesungguhnya ketiga jenis kompetensi tersebut tidak mungkin dapat
dipisah-pisahkan. Diantara ketiga jenis kompetensi itu saling menjalin secara
terpadu dalam diri guru. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki
pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjusment dalam masyarakat.
Ketiga kompetensi tersebut terpadu dalam karakteristik tingkah laku guru.
Dalam tulisan ini hanya akan disoroti salah satu jenis kompetensi saja, yakni
kompetensi profesional, dan sama sekali tidak bermaksud untuk mengesampingkan
pentingnya kedua kompetensi lainnya. Tulisan ini bermaksud mengungkapkan dan
menonjolkan satu jenis kompetensi saja secara khusus, dan berusaha meninjaunya
lebih dalam secara komprehensif.
b. Kompetensi Guru sebagai Alat Seleksi Penerimaan Guru
Menurut Oemar Hamalik (2002: 34) perlu ditentukan secara secara umum
jenis kompetensi apakah yang perlu dipenuhi sebagai syarat agar seseorang dapat
diterima sebagai guru. Dengan adanya syarat sebagai penerimaan calon guru, maka
akan terdapat pedoman bagi para administrator dalam memilih mana guru yang
diperlukan untuk satu sekolah.
Asumsi yang mendasari kriteria ini adalah bahwa setiap calon guru yang
memenuhi srayat tersebut, diharapkan atau diperkirakan bahwa guru tersebut akan
berhasil mengemban tugasnya selaku pengajar di sekolah. Dengan demikian,
pemilihan guru tidak didasarkan atas suka atau tidak suka, atau karena alasan yang
bersifat subjektif, melainkan atas dasar yang objektif, yang berlaku secara umum
untuk semua calon guru.
c. Kompetensi Guru Penting dalam Rangka Pembinaan Guru

15
Menurut Oemar Hamalik (2002: 35), para guru yang telah memiliki
kompetensi penuh sudah tentu perlu dibina terus agar kompetensinya tetap mantap.
Kalau terjadi perkembangan baru yang memberikan tututn baru terhadap sekolah,
maka sebelumnya sudah dapat direncanakan jenis kompetensi apa yang kelak akan
diberikan agar guru tersebut memiliki kompetensi yag serasi.
Bagi guru yang ternyata sejak semula memiliki kompetensi dibawah standar,
administrator menyusun perencanaan yang relevan agar guru tersebut memiliki
kompetensi yang lainnya, misalnya rencana penataran.
d. Kompetensi Guru Penting dalam Rangka Penyusuran Kurikulum
Oemar Hamalik (2002: 36) menjaskan bahwa secara lebih spesifik, apakah
suatu LPTK berhasil mendidik para calon guru akan ditentukan oleh berbagai
komponen dalam institusi tersebut. Salah satunya komponen kurikulum. Kurikulum
pendidikan guru harus disusun atas dasar kompetensi yang diperlukan oleh setiap
guru. Tujuan, program pendidikan, sistem penyampaian, evaluasi, dan sebagainya
hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi
guru secara umum. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebaik mungkin.

e. Kompetensi Guru Penting dalam Hubungan dengan Kegiatan dan Hasil


Belajar Siswa
Menurut Oemar Hamalik (2002: 36), proses belajar dan hasil belajar para
siswa bukan saja ditemukan oleh sekolah, pola, struktur, dan isi kurikulumnya, akan
tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan
membimbing mereka. Guru yang kompeten akan lebih menciptakan lingkungan
belajar yang efektif, menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya,
sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal. Berdasarkan pertimbangan
dan analisis di atas, dapat diperoleh gambaran secara fundamental tentang
pentingnya kompetensi guru. Dengan demikian, terdapat cukup alasan mengenai
pentingnya kompetensi profesional guru.

G. Kompetensi Guru yang Harus Dimiliki Oleh Guru


Berikut dijelaskan kompetensi guru yang harus dimiliki oleh guru menurut
UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen serta Permenag No. 16 Tahun
2019:

16
1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik berkaitan langsung dengan penguasaan disiplin ilmu
pendidikan dan ilmu lain yang berkaitan dengan tugasnya sebagai guru. Oleh
karena itu, seorang guru harus memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai
dengan profesinya. Kompetensi pedagogik guru meliputi:
a. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan
b. Pemahaman terhadap peserta didik
c. Pengembangan kurikulum atau silabus
d. Perancangan pembelajaran
e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
f. Pemanfaatan teknologi pembelajaran
g. Evaluasi belajar
h. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya.
Dari ruang lingkup kompetensi pedagogik guru di atas, diharapkan guru
dapat mengimplementasikannya di dalam proses pendidikan.

2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personalitas, jati diri sebagai
seorang tenaga pendidik yang menjadi panutan bagi peserta didik. Kompetensi
inilah yang menggambarkan bahwasanya guru adalah sosok yang patut digugu dan
ditiru. Dengan kata lain, guru hendaknya menjadi suri teladan bagi peserta didiknya.
Kompetensi ini sekurang-kurangnya mencakup:
a. Mantap
b. Stabil
c. Dewasa
d. Arif dan bijaksana
e. Berwibawa
f. Berakhlak mulia
g. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat

17
h. Secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan
i. Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan
Kemampuan-kemampuan di atas hendaknya senantiasa diuprage oleh guru dalam
menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik.

3. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari
masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik,
sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan
masyarakat. Kompetensi sosial guru meliputi:
a. Berkomunikasi lisan, tulisan dan isyarat
b. Mengusahakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungisional
c. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/wali, peserta didik, dan
d. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Jadi, hendaknya guru memiliki hubungan timbal balik secara efektif dan efisien
antara guru, siswa dan, masyarakat.

4. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional ialah kemampuan seorang guru dalam penguasaan
materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing
peserta didik sesuai dengan standar nasional pendidikan. Jadi, kompetensi
profesional menyangkut kemampuan, keahlian, kecakapan dasar tenaga pendidik
yang harus dikuasai dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Kompetensi ini
meliputi:
a. Kemampuan menyusun materi pokok/pembelajaran secara luas dan
mendalam sebagai inti pengembangan silabus, serta
b. Kemampuan pengusaan materi pokok/pembelajaran secara luas dan
mendalam.
Kompetensi profesional perlu dimiliki oleh guru, sehingga selayaknya mampu
mengembangkan dirinya selaku guru dalam mengembangkan materi ajarnya.

5. Kompetensi Kepemimpinan

18
Kompetensi kepemimpinan adalah kemampuan seorang guru dalam
melaksanakan amanah dan tanggung jawab. Kompetensi kepemimpinan
sebagaimana dimaksud adalah meliputi:
a. Kemampuan membuat perencanaan, pembudayaan, pengamalan ajaran
agama dan perilaku akhlak mulia pada komunitas sekolah sebagai bagian dari
proses pembelajaran agama,
b. Kemampuan mengorganisir potensi unsur sekolah secara sistematis untuk
mendukung pembudayaan pengamalan agama pada komunitas sekolah,
c. Kemampuan menjadi inovator, motivator, fasilitator, pembimbing dan
konselor dalam pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas
sekolah, serta
d. Kemampuan menjaga, mengendalikan dan mengarahkan pembudayaan
pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah dan menjaga
keharmonisan hubungan antar pemeluk agama dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Guru profesional tercermin dalam tanggung jawabnya sebagai guru kepada


peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya. Guru agama
berbeda dengan guru-guru bidang studi lainnya. Guru agama di samping
melaksanakan tugas pengajaran, yaitu memberitahukan pengetahuan keagamaan, ia
juga melaksanakan tugas pembinaan bagi peserta didik, ia membantu pembentukan
kepribadian, pembinaan akhlak serta menumbuhkembangkan keimanan dan
ketakwaan para peserta didik. Olehnya itu guru pendidikan agama perlu memiliki
kompetensi kepemimpinan sebagai pelaksana agama dari Allah selaku orang
beriman dan amanah dari orang tua serta masyarakat.
Kelima kompetensi guru yang ditetapkan oleh undang-undang dan
permenag tersebut secara teoritis dapat dipisah-pisahkan satu sama lain, akan tetapi
dalam praktis sesungguhnya kelima jenis kompetensi tersebut tidak dapat
dipisahkan. Di antara kompetensi-kompetensi tersebut itu saling menjalin secara
terpadu dalam diri guru.

H. Kompetensi Profesional Guru dalam Proses Pembelajaran


Beberapa kompetensi yang dikembangkan guru profesional dalam proses
pembelajaran, diantaranya yaitu:

19
1. Mencerminkan nilai kepribadian
Nilai kepribadian harus dimiliki oleh guru, dimana harus mencerminkan
peran sebagai teladan bagi peserta didik. Nilai kepribadian merupakan penanaman
dari nilai karakter seorang guru. Selama proses pembelajaran guru harus memiliki
menanamkan nilai karakter pada peserta didik, dimana sejauh ini pendidikan moral
semakin berkurang dan menjadi tugas dari guru dalam ruang lingkup pendidikan di
sekolah.
Dengan adanya guru yang peduli terhadap sikap peserta didik maka peserta
didik akan lebih terkontrol dan berpikir bila akan bertindak begitu juga sebaliknya
guru kurang dihargai bila tidak memiliki kepedulian. Sesuai ungkapan Hasibuan
(2014) bahwa, kompetensi kepribadian guru adalah sebuah kompetensi yang sangat
mempengaruhi ketercapaian tujuan pembelajaran sebab melalui kompetensi
kepribadianlah sebenarnya, peserta didik mau mendengarkan dan mematuhi aturan-
aturan yang disampaikan oleh guru dengan rasa senang hati.

2. Menguasai landasan pendidikan dan mengembangkan kompetensi keahlian


Kemampuan menguasai landasan-landasan kependidikan berkaitan dengan
kegiatan sebagai berikut: (a) mempelajari konsep dan masalah pendidikan dan
pengajaran dengan sudut tinjauan sosiologis, filosofis, historis dan psikologis. (b)
mengenal fungsi sekolah sebagai lembaga sosial yang secara potensial dapat
memajukan masyarakat dalam arti luas serta pengaruh timbal balik antar sekolah
dan masyarakat. (c) mengenal karakteristik peserta didik baik secara fisik maupun
psikologis.
Kompetensi keahlian sesuai bidang yang ditekuni perlu dikembangkan atau
diupdate, melalui berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga
atau instansi tertentu. Guru yang tidak mengembangkan kompetensi keahlian akan
memiliki kecendrungan cara menyampaikan pembelajaran yang sama. Akibatnya
tidak akan mengalami peningkatan kualitas pembelajaran. Padahal pembelajaran
yang baik dilakukan dengan berbagai variasi untuk diperoleh pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristik peserta didik. Melalui pelatihan yang diselenggarakan
sekolah atau pelatihan kompetensi menjadikan guru lebih menguasai atau mahir
pada bidang yang diajarkan.

3. Menyusun dan mengembangkan perangkat pembelajaran

20
Seorang guru harus mampu menguasai materi pembelajaran yang
dibuktikan dengan menyusun perangkat pembelajaran. Sholeh (2007)
mengungkapkan bahwa perencanaan pembelajaran sangat penting karena seorang
guru sejenis apapun punya keterbatasan. Keterbatasan tersebut harus disadari
sepenuhnya untuk diantisipasi agar ketika di tengah siswa-siswanya mampu
menjadi motivator dalam proses pembelajaran yang mencerdaskan. Adapun
perangkat pembelajaran yang harus disusun sebelum melaksanakan proses
pembelajaran diantaranya rencana pelaksanaan pembelajaran, program semester
dan program tahunan, silabus.

4. Menguasai dan melaksanakan program pembelajaran


Perangkat yang telah dibuat selanjutnya diterapkan dalam proses
pembelajaran, hal ini bertujuan agar pembelajaran yang dilaksanakan lebih terarah.
Pembelajaran yang terencana akan lebih jelas batasan yang akan disampaikan guru.
Sehingga guru jauh lebih siap pada materi yang akan disampaikan. Namun, guru
yang tidak memiliki rencana dalam pelaksanaan pembelajaran akan menghasilkan
pembelajaran sebatas terlaksana tanpa tujuan yang jelas. Meskipun menjadi
kebiasaan guru dalam bidang tertentu, diharapkan guru memiliki perkembangan
dalam program pembelajaran.

5. Menilai proses dan hasil pembelajaran


Seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran harus ada hasil
yang menunjukkan perkembangan dari peserta didik yang diajar. Apabila hasil
pembelajaran tidak mengalami perubahan maka tidak terjadi proses belajar. Proses
belajar ditunjukkan dengan adanya perubahan tingkah laku dari sebelumnya.
Kemampuan guru ditangguhkan dalam menilai kemampuan peserta didik baik
secara pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan pada pembelajaran
tertentu. Penilaian dibedakan menjadi dua jenis yaitu penilaian proses dan penilaian
hasil pembelajaran. Penilaian proses dilakukan seorang guru selama pembelajaran
berlangsung dengan mengamati perkembangan peserta didik sedangkan penilaian
hasil yaitu menguji kompetensi yang diajarkan untuk melihat hasil yang diperoleh.
Sesuai ungkapan Marsh (1996:10) menyatakan bahwa salah satu kompetensi yang
harus dimiliki guru adalah kemampuannya dalam melakukan penilaian, baik
terhadap proses maupun produk pembelajaran.

21
6. Menyusun administrasi
Kompetensi yang harus dimiliki guru merencana pembelajaran salah
satunya adalah menyusun administrasi pembelajaran. Tujuan dari adanya
administrasi ini ialah, untuk meningkatkan kemampuan para guru ketika dituntut
untuk membuat RPP yang sesuai dengan ketentuan dan benar dalam pembuatannya
(http://www. informasi-pendidikan. com/). Lamanya administrasi yang harus
dibuat dan dikembangkan selama satu semester menjadikan hal yang sering
diabaikan oleh guru, sehingga pada akhir pembelajaran dokumen-dokumen tersebut
tercecer. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam menyusun
administrasi perlu dimiliki.

7. Menggunakan berbagai metode sesuai karakteristik peserta didik


Pembelajaran yang baik disesuaikan dengan karakteristik peserta didik yang
dihadapi. Sanaky (2005) menyatakan guru harus memiliki pemahaman akan sifat,
ciri anak didik dan perkembangannya, mengerti beberapa konsep pendidikan yang
berguna untuk membantu siswa, menguasai beberapa metode mengajar yang sesuai
dengan materi pelajaran dan perkembangan siswa, menguasai sistem evaluasi yang
tepat dan baik.

8. Mengkaitkan pembelajaran terhadap masyarakat, industri, dan perguruan


tinggi serta penyesuaian terhadap perkembangan teknologi
Pembelajaran yang disampaikan dihubungkan dengan kondisi masyarakat,
kebutuhan industri dan perguruan tinggi serta melihat perkembangan teknologi
yang ada. Sehingga pembelajaran tidak hanya sebatas di kelas, melainkan dapat
menelaah wawasan secara langsung. Hal ini membatasi ruang gerak dalam berpikir
aktif dan mampu menyiapkan kebutuhan setelah lulus.

9. Melaksanakan penelitian
Kompetensi guru selain melaksanakan pembelajaran adalah meningkatkan
kualitas pembelajaran dengan cara mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan.
Proses pembelajaran bermutu dan berkualitas apabila peserta didik mengalami
peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Selain itu meningkatkan

22
motivasi, bakat serta minat peserta didik untuk melakukan perkembangan diri
dengan cara belajar mandiri. Kompetensi tersebut dilakukan melalui penelitian
tindakan kelas (class room action research). Dimana penelitian yang dilakukan guru
untuk melihat perkembangan peserta didik selama proses pembelajaran.
Hasil pembelajaran tersebut disusun dalam karya ilmiah untuk menjadi
rujukan bagi guru yang lain bila mana memiliki karakteristik peserta didik yang
sama. Sukanti (2008) menjelaskan bahwa salah stu faktor yang mempengaruhi
kompetensi guru adalah penelitian tindakan kelas. Selanjutnya Sukanti (2008) juga
menyatakan bahwa, jika penelitian tindakan kelas dilaksanakan secara sadar dan
sistematis diharapkan kompetensi guru akan meningkat karena guru akan selalu
berusaha memperbaiki kegiatan pembelajaran yang berarti guru akan meningkat
kompetensinya antara lain subkompetensi: (1) mengevaluasi proses dan hasil
pembelajaran, (2) mengevaluasi kinerja sendiri, dan (3) mengembangkan diri secara
berkelajutan, (4) meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan
kelas. Sehingga penelitian tindakan kelas berdampingan dengan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru.

10. Mempublikasikan hasil penelitian


Larasati (2014) dalam penelitiannya menunjukkn bahwa faktor-faktor
penghambat penulisan karya tulis ilmiah dalam kegiatan PKB adalah pertama
terbatasnya waktu yang disebabkan oleh tuntutan administratif guru, beban tugas
mengajar, dan kesibukan pribadi. Kedua, ide/gagasan penulisan karya tulis ilmiah
tidak berkembang karena tidak adanya pembimbing dan terbatasnya referensi.
Ketiga, faktor terbatasnya wawasan tentang PKB karena sosialisasi oleh pihak
terkait belum optimal. Keempat yakni faktor rendahnya motivasi guru karena usia
dan belum adanya pihak yang menginisisasi para guru untuk menulis karyatulis
ilmiah terutama dari sekolah. Maka dari itu guru yang telah melaksanakan
penelitian dalam pembelajarannya ditulis dalam artikel ilmiah untuk dipublikasikan,
sehingga menjadi referensi bagi guru yang lain.
Menulis merupakan salah satu kelemahan guru, namun harus dibiasakan.
Seorang guru harus mampu mempublikasikan hasil karya tulis ilmiahnya baik
dalam bentuk naskah publikasi, laporan penelitian, laporan akhir, makalah, artikel

23
ilmiah yang termuat dalam prosiding ataupun jurnal. Artinya seorang guru telah
mempunyai kompetensi keahlian publikasi hasil penelitian.

24
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Istilah kurikulum menjadi popular sejak tahun 1950 di Indonesia, yang
mana dikenalkan oleh sejumlah kalangan pendidik lulusan Amerika Serikat.
Sebelum mengenal istilah kurikulum, pendidikan Indonesia lebih akrab dengan
istilah rencana pembelajaran. Ada tiga faktor yang mempengaruhi pengembangan
kurikulum, yaitu perguruan tinggi, masyarakat, dan sistem nilai.
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional
telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984,
1994, 2004, 2006, dan 2013. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari
terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam
masyarakat berbangsa dan bernegara.
Kompetensi guru yang harus dimiliki oleh guru menurut UU No. 14 Tahun
2005 Tentang Guru dan Dosen serta Permenag No. 16 Tahun 2019: Kompetensi
pedagogik; kompetensi kepribadian; kompetensi sosial; kompetensi professional;
dan kompetensi kepemimpinan. Lalu, ada beberapa kompetensi yang
dikembangkan guru professional dalam proses pembelajaran yakni: 1.
Mencerminkan nilai kepribadian; 2. Menguasai landasan pendidikan dan
mengembangkan kompetensi keahlian; 3. Menyusun dan mengembangkan
perangkat pembelajaran; 4. Menguasai dan melaksanakan program pembelajaran;
5. Menilai proses dan hasil pembelajaran; 6. Menyusun administrasi; 7.
Menggunakan berbagai metode sesuai karakteristik peserta didik; 8. Mengkaitkan
pembelajaran terhadap masyarakat, industri, dan perguruan tinggi serta
penyesuaian terhadap perkembangan teknologi; 9. Melaksanakan penelitian; 10.
Mempublikasikan hasil penelitian

25
B. Saran
Makalah ini tentu masih mempunyai banyak kekurangan dan kesalahan,
karena itu kepada para pembaca untuk berkenan menyumbangkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi bertambahnya wawasan kami di bidang ini.
Akhirnya kepada Allah jualah penulis memohon taufik dan hidayah. Semoga usaha
penulis ini mendapat manfaat yang baik, serta mendapat ridho dari Allah SWT.
Amin ya rabbal ‘alamin.

26
DAFTAR PUSTAKA

Asri, M. 2017. Dinamika Kurikulum di Indonesia. Jurnal Pendidikan Guru


Madrasah Alliyah. Volume 4 Nomor 2. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Hanafi, Hilman. 2015. Sejarah dan Dinamika Perkembangan Kurikulum di
Indonesia. Skripsi. Dipublikasikan. Medan: Unibersitas Negeri Medan.
Fitri Mustika, Yolanda & Suryana, Dadan. 2019. Eksistensi Guru Dalam
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Jurnal PAUD.
Padang: Universitas Negeri Padang.
Nurasmah, dkk. 2015. Profesionalisme Guru Dalam Implementasi Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan Di Smkn 1 Lhokseumawe. Jurnal Administrasi
Pendidikan Pascasarjana. Volume 3 Nomor 4. Banda Aceh: Universitas
Syiah Kuala.
Nurtanto, Muhammad. ___. Mengembangkan Kompetensi Profesionalisme Guru
Dalam Menyiapkan Pembelajaran yang Bermutu. Jurnal Seminar Nasional
Inovasi Pendidikan. Banten: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Prayoga, Indra. 2015. Peran Guru Dalam Pengembangan Kurikulum. Jurnal
Pendidikan Agama Islam. Bogor: STAI Al-Hidayah.
Sutisna, Ade. _____. Sejarah Perkembangan Kurikulum. Skripsi Jurusan
Pendidikan Bahasa Daerah. Dipublikasikan. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia.
Sulthon. 2014. Dinamika Pengembangan Kurikulum Ditinjau dari Dimensi Politasi
Pendidikan dan Ekonomi. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam. Jawa Tengah:
STAIN Kudus.
_____. 2015. Kompetensi Profesional Guru dalam UU No. 14 Tahun 2005. Skripsi.
Dipublikasikan. ____:____.

27