Anda di halaman 1dari 7

Sejarah dan asal mula ilmu botani – Botani adalah salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari

tumbuh – tumbuhan, termasuk alga, jamur serta semua disiplin ilmu biologi seperti pertumbuhan,
genetika, metabolisme, reproduksi, perkembangan, semua interaksi dengan menggunakan komponen
biotik maupun biotik serta evolusi yang berkaitan dengan tumbuhan.

Botani memiliki asal kata dari botane (??????)yang merupakan bahasa Yunani kuno dengan arti padang
penggembalaan atau rerumputan.

Sekarang ini botani telah mempelajari sekitar 400.000 spesies organisme hidup yang berasal dari
tumbuhan berpembuluh berjumlah sekitar 260 ribu dan sekitar 248 ribu angiosperma.

Orang akan disebut dengan Botanis atau Ahli Botani jika mempelajari bidang Botanyi ini.

Botani berasal dari ilmu Herbalisme yang mempelajari tumbuhan dan dimanfaatkan untuk pengobatan
secara medis.

Terdapat juga catatan kuno yang mengklasifikasi tumbuhan menurut jenis dan juga manfaatnya di China
(221 SM), India (1100SM) dan Avestan Kuno.

Sekarang ini botani merujuk pada kebudayaan Yunani kuno terutama Theoprastus (Sekitar 371 – 287 SM)
dan prinsip ilmu Botani ini telah ditemukan oleh murid Aristoteles.
Murid tersebut dikenal dengan “Father of Botany” yang karyanya berjudul EnquiryintoPlants dan On The
Casusesyang menjadi dua sumber kontribusi utama ilmu botani sampai abad pertengahan atau hampir
17 abad yang mana selesainya buku tersebut di tulis.

Yunani kuno juga memiliki karya lain yaitu De Materia Medica yang berisi tentang ilmu Herbalisme karya
PedaniusDioscorides dan menjadi referensi lebih dari 1500 tahun.

Selama zaman keemasan Islam juga terdapat kontribusi dari Ibn Wahshiyya berjudul Nabatean
Agriculture dan dari Ibn Bassal berjudul The Classification of Soils serta dari Ab? ?an?fa Anwar berjudul
Book of Plants.

Pada awal abad ke – 13 terdapat tulisan tentang Botani secara ilmiah dan sistematis karya Abu al-
Abbasal-Nabati dan Ibn al – Baitar.

Pada pertengahan abad 16, di bangun kebun raya pada sejumlah perguruan tinggi yang ada di Italia dan
dipercaya bahwa kebun raya modern yang paling awal di bangun di dunia adalah di Ortobotanico –
padova, kebun yang mempraktekkan nilai dari sebuah kebun biasanya di kait – kaitkan dengan adanya
biara yang mana memanfaatkan tumbuhan sebagai keperluan medis.

Cara mereka memelihara kebun tersebut adalah dengan menganggapnya sebagai subjek akademik yaitu
dengan menumbuhkan tumbuhan dan memanfaatkan secara langsung.

Kebun raya tersebut tersebar ke wilayah utara yang di awali dengan kebun raya Universitas Oxford pada
tahun 1621 dan pada hari itu bani masih dijadikan sebagai ilmu kedokteran.

LeonhartFuchs (1501 – 1566), HieronymusBock (1498 – 1544) dan Otto Brunfels (1489 – 1534) yang
merupakan ilmuwan Jerman mempelajari botani tanpa meniru pendahulunya alias masih original,
bahkan Bock sendiri yang membuat sistem klasifikasi tumbuhan. Ilustrasi sel gabus dari buku yang di
karang oleh Robert Hooke – Micrographia – 1665 , ilmuwan valeria cordus (1515 – 1544) telah
mengarang buku berjudul HistoriaPlantarum pada tahun 1544 tentang tumbuhan pentang secara botani
dan farmakologi, serta buku berjudul Dispensatorium pada tahun 1665, menggunakan mikroskop
pertama, akhirnya Robert Hooke menemukan sel yang merupakan istilah da merujuk pada struktur
gabus yang dilihatnya di Mikroskop dan tak lama setelah itu dia juga melihat jaringan pada tumbuhan
yang hidup.

Seorang ahli botani mungkin saja mempelajari tentang taksonomi atau klasifikasi, anatomi dan morfologi
atau struktur, dan bisa jadi fisiologi atau fungsi dari kehidupan tumbuhan.

Botani adalah ilmu tumbuh-tumbuhan, termasuk juga jamur dan alga dengan mikologi dan fikologi
berada di dalam cabang ilmu botani. Dengan demikian, dalam botani dipelajari semua disiplin ilmu
biologi, seperti genetika, pertumbuhan, reproduksi, metabolisme, perkembangan, interaksi dengan
komponen biotik dan komponen abiotik, serta evolusi yang berhubungan dengan tumbuhan. Istilah
botani berasal dari Bahasa Yunani Kuno, βοτάνη (botane), yang berarti rerumputan atau padang
penggembalaan. Saat ini botani mempelajari sekitar 400000 spesies organisme hidup di mana 260 ribu
di antaranya adalah tumbuhan berpembuluh dan 248 ribu di antaranya adalah angiosperma. Orang yang
menekuni bidang botani disebut sebagai botanis atau ahli botani.

Hasil gambar untuk ilmu botani

Sejarah

Botani berakar dari ilmu herbalisme, ilmu yang mempelajari pemanfaatan tumbuhan untuk khasiatnya
secara medis. Terdapat berbagai catatan kuno yang mengklasifikasikan tumbuhan berdasarkan jenis dan
manfaatnya di India (1100 SM), Avestan kuno, dan China (221 SM).

Botani modern merujuk kepada kebudayaan di Yunani Kuno, terutama Theoprastus (sekirat 371–287
SM), seorang murid Aristoteles yang menemukan prinsip ilmu botani. Ia juga dikenal sebagai “Father of
Botany”. Karyanya, Enquiry into Plants dan On the Causes of Plants merupakan dua kontribusi utama
bagi ilmu botani hingga Abad Pertengahan, hampir 17 abad setelah buku tersebut ditulis.

Karya lainnya dari Yunani Kuno adalah De Materia Medica yang memuat ilmu herbalisme, ditulis oleh
Pedanius Dioscorides. Buku ini menjadi referensi selama lebih dari 1500 tahun. Kontribusi lainnya pada
Jaman Keemasan Islam yaitu Nabatean Agriculture karya Ibn Wahshiyya, Book of Plants karya Abū Ḥanīfa
Dīnawarī, dan The Classification of Soils karya Ibn Bassal. Di awal abad ke 13, Abu al-Abbas al-Nabati dan
ibn al-Baitar menulis botani secara sistematis dan ilmiah.

Di pertengahan abad ke 16, kebun raya dibangun di sejumlah perguruan tinggi di Italia. Orto botanico di
Padova dipercaya merupakan kebun raya modern paling awal di dunia, yang mempraktikan nilai dari
sebuah kebun, biasanya dikaitkan dengan keberadaan biara di mana tumbuhan dimanfaatkan untuk
keperluan medis. Mereka memelihara kebun raya sebagai sebuah subjek akademik. Cara menumbuhkan
tumbuhan dan manfaatnya dipraktikkan. Kebun raya lalu tersebar ke utara, diawali oleh Kebun Raya
Universitas Oxford yang dibangun tahun 1621. Hingga periode ini, botani masih menjadi bagian dari ilmu
kedokteran.

Ilmuwan Jerman Leonhart Fuchs (1501–1566) bersama dengan Otto Brunfels (1489–1534) dan
Hieronymus Bock (1498–1554) mempelajari botani secara original tanpa meniru pendahulunya. Bahkan
Bock membuat sistem klasifikasi tumbuhan sendiri.

Ilustrasi sel gabus dari buku karangan Robert Hooke, Micrographia, 1665

Ilmuwan Valerius Cordus (1515–1544) mengarang buku Historia Plantarum di 1544 mengenai tumbuhan
yang penting secara botani dan farmakologi, juga buku Dispensatorium di 1546.[20] Pada tahun 1665,
dengan menggunakan mikroskop pertama, Robert Hooke menemukan sel, sebuah istilah yang merujuk
kepada struktur gabus yang ia lihat di bawah mikroskop. Tak lama setelah itu, ia melihat jaringan
tumbuhan yang hidup.[21]

Ruang lingkup dan peran botani

Seperti bentuk-bentuk kehidupan lain dalam biologi, tumbuhan hidup dapat dipelajari dari perspektif
yang berbeda, dari tingkat molekul, genetika dan biokimia melalui organel, sel, jaringan, organ, individu,
populasi tumbuhan, dan komunitas tumbuhan. Pada setiap tingkat ini seorang ahli botani mungkin
bergerak di bidang yang terkait dengan klasifikasi (taksonomi), struktur (anatomi dan morfologi), atau
fungsi (fisiologi) dari kehidupan tumbuh-tumbuhan.[22]

Botani juga tidak hanya mempelajari kelompok dari Kerajaan Tumbuhan saja tetapi juga mempelajari
jamur (mikologi), bakteri (bakteriologi), lumut kerak (likenologi), alga (fikologi).[23]
Penelitian tumbuhan sangat penting karena tumbuhan adalah bagian mendasar dari kehidupan di Bumi,
yang menghasilkan oksigen, makanan, serat, bahan bakar, dan obat-obatan yang memungkinkan
manusia dan bentuk kehidupan lainnya ada. Melalui fotosintesis, tumbuhan menyerap karbon dioksida,
[24]:186–187 sebuah gas rumah kaca yang dalam jumlah besar dapat mempengaruhi iklim global. Selain
itu, tumbuhan dapat mencegah erosi tanah dan berpengaruh dalam siklus air.[25] Sebuah pemahaman
yang baik tentang tumbuhan sangat penting bagi masa depan masyarakat manusia karena
memungkinkan kita untuk:

Memproduksi makanan untuk memberi makan populasi yang berkembang

Memahami proses-proses kehidupan yang mendasar

Memproduksi obat-obatan dan bahan untuk mengobati penyakit-penyakit

Memahami perubahan lingkungan dengan lebih jelas

Nutrisi manusia

Hampir semua makanan yang dimakan berasal dari tanaman, baik secara langsung dari makanan pokok
dan buah lainnya dan sayuran, atau tidak langsung melalui ternak atau hewan lain, yang mengandalkan
tanaman untuk gizi mereka. Tanaman adalah basis fundamental hampir semua rantai makanan karena
mereka menggunakan energi dari matahari dan nutrisi dari tanah dan atmosfer dan mengubahnya
menjadi bentuk yang dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan oleh hewan. Ini adalah ilmu ekologi disebut
tingkat trofik pertama. Semua tumbuhan yang dibudidayakan merupakan hasil pemuliaan yang
berlangsung sejak Jaman Neolitikum.

Ahli botani, khususnya agronomi. juga mempelajari bagaimana tanaman menghasilkan makanan untuk
populasi manusia dan bagaimana untuk meningkatkan hasil. Pekerjaan mereka adalah penting dalam
kemampuan manusia untuk memberi makan dunia dan memberikan ketahanan pangan untuk generasi
mendatang, misalnya melalui pemuliaan tanaman.

Ahli botani juga mempelajari gulma, tanaman yang dianggap sebagai gangguan di lokasi tertentu. Gulma
merupakan masalah yang cukup besar di bidang pertanian, dan botani memberikan beberapa ilmu dasar
yang digunakan untuk memahami bagaimana untuk meminimalkan ‘gulma’ dampak di bidang pertanian
dan ekosistem asli.

Etnobotani adalah cabang studi botani yang mempelajari tentang hubungan antara tanaman dan
manusia.

Biokimia tumbuhan
Biokimia tumbuhan adalah sebuah studi mengenai proses kimia yang digunakan pada tumbuhan.
Beberapa proses ini terjadi melalui metabolisme primer seperti siklus Calvin dan crassulacean acid
metabolism.[31]:7-25 Lainnya membuat material khusus seperti selulosa dan lignin yang membangun
struktur. Metabolisme sekunder menghasilkan produk seperti resin dan minyak atsiri.

Tumbuhan dan kelompok lainnya yang juga merupakan eukaryot fotosintetik (yaitu alga) memiliki
organel yang unik yang disebut dengan kloroplas. Organel ini diperkirakan berasal dari cyanobacteria
yang membentuk hubungan endosimbiotik dengan leluhur tumbuhan dan alga. Kloropas dan
cyanobacteria sama-sama mengandung pigmen biru-hijau klorofil a.[24]:190-193 Klorofil jenis lain
(klorofil b) juga terdapat pada alga hijau dan alga biru-hijau[32]:1-39[33]:2675-2685[34]:1101-1118 yang
juga menyerap cahaya pada spektrum tertentu (biasanya spektrum biru-ungu dan jingga-merah) dan
memantulkan cahaya hijau yang menjadi warna daun di mata manusia. Energi cahaya yang diserap
digunakan untuk membuat senyawa karbon dari karbon dioksida dan air. Gliseraldehida 3-fosfat
merupakan senyawa yang dihasilkan oleh fotosintesis yang kemudian disintesis menjadi glukosa dan
senyawa organik lainnya. Sebagian glukosa diubah menjadi pati yang disimpan di kloroplas.[35]:1535–
1556 Pati adalah bentuk yang umum dijadikan sebagai cadangan makanan pada sebagian besar
tumbuhan dan alga. Tumbuhan dari famili Asteraceae menggunakan bentuk fruktosa inulin, sebagian
mengubahnya menjadi sukrosa.

Sebagian besar asam lemak yang terkandung di dalam tubuh hewan juga berasal dari tumbuhan.
Metabolisme tumbuhan juga mampu memproduksi asam lemak dan sebagian besar asam amino.
[36]:1368–1380[37]:1700–1709[38]:11487–11492 Asam lemak bagi tumbuhan digunakan untuk
membangun membran sel dan kutin yang menjadi penyusun utama kutikel tumbuhan yang melindungi
tumbuhan dari kekeringan.[39]:83–108

Tumbuhan mensintesis sejumlah besar polimer yang unik seperti selulosa, pektin, dan xiloglukan untuk
membentuk dinding sel.[40]:1–11[41]:23–34 Tumbuhan berpembuluh membuat lignin, sebuah polimer
yang digunakan untuk memperkuat trakeid xylem sehingga tidak runtuh ketika dilalui oleh air dan
mineral yang dihisapnya. Lignin juga membentuk dinding terluar dari tumbuhan berkayu. Sporopolenin
adalah senyawa polimer yang melindungi spora dan polen tumbuhan.[42]:33-39 Dengan konsentrasi
karbon dioksida di atmosfer yang saat ini lebih rendah dibandingkan awal keberadaan tanaman darat di
zaman Ordovician dan Silurian, banyak tumbuhan berevolusi secara independen dengan
mengembangkan jalur fotosintesis khusus fiksasi karbon C4 dan crassulacean acid metabolism untuk
mengurangi loss akibat fotorespirasi yang umum terdapat pada tumbuhan dengan tipe fotosintesis
fiksasi karbon C3.

Obat dan bahan

Penyadapan karet
Fitokimia merupakan cabang yang penting dalam ilmu botani yang mempelajari senyawa biokimia pada
tumbuhan dan pemanfaatannya.[43] Beberapa dari senyawa ini memiliki manfaat bagi manusia, dan
beberapa bersifat racun bagi hewan dan manusia. Banyak obat-obatan medis dan rekreasi, seperti
tetrahydrocannabinol, kafeina, dan nikotin datang langsung dari kerajaan tumbuhan. Lainnya adalah
senyawa kimia turunan sederhana dari produk alami botani, seperti aspirin yang berasal dari senyawa
penghilang rasa sakit asam salisilat yang awalnya berasal dari kulit pohon dedalu.[44]:38-40 Mungkin
ada banyak obat baru untuk penyakit yang disediakan oleh tumbuhan, menunggu untuk ditemukan.
Stimulan populer seperti kopi, cokelat, tembakau, dan teh juga berasal dari tumbuhan. Minuman
beralkohol sebagian besar berasal dari fermentasi hasil tumbuhan seperti barley (bir), beras (sake), dan
anggur.[45] Dari ilmu fitokimia dapat diketahui berbagai macam hal seperti senyawa kimia antosianin
yang berperan sebagai pigmen pada anggur merah dan senyawa capsaicin yang berperan dalam
memberikan rasa pedas pada cabai.

Tanaman tertentu juga menyediakan banyak bahan-bahan alami, seperti katun, kayu, kertas, minyak
sayur, beberapa jenis tali, dan karet. Selulosa merupakan sumber serat terbesar dari tumbuhan yang
digunakan pada berbagai bidang seperti bahan bangunan hingga produksi bahan bakar bioetanol.[46]
Produksi sutra tidak akan mungkin tanpa budi daya murbei. Tebu, gula bit dan tanaman lainnya yang
mengandung gula dapat difermentasi atau tanaman dengan kandungan minyak seperti kelapa sawit dan
jarak dapat diolah menjadi biodiesel dan digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak.[47]:52-53

Perubahan lingkungan

Tumbuhan juga dapat membantu manusia memahami perubahan pada lingkungan. Tumbuhan
merespon perubahan iklim dan lingkungan dan mampu mempengaruhi fungsi dan produktivitas
ekosistem. Ilmu dendrokronologi mempelajari cincin pertumbuhan pada penampang melintang kayu dan
digunakan untuk memantau kondisi iklim sepanjang pertumbuhan pohon tersebut. Fosil tumbuhan yang
terperangkap di lapisan sedimen dapat digunakan untuk memantau kondisi iklim hingga jutaan tahun
yang lalu.[48] Kerapatan stomata yang ditemukan pada fosil daun tumbuhan darat purba dapat
digunakan untuk memperkirakan konsentrasi karbon dioksida.[49] Perubahan iklim lainnya seperti
penipisan ozon mampu menyebabkan paparan sinar ultra violet yang dapat mengurangi laju
pertumbuhan.[50] Studi tumbuhan secara ekologi dan komunitas dapat digunakan untuk menentukan
perubahan vegetasi, kerusakan habitat, hingga ancaman kepunahan.[22]