Anda di halaman 1dari 7

TUGAS M3 : APLIKASI TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

PENGORGANISASIAN INFORMASI/ PENGETAHUAN

DALAM INGATAN MANUSIA

Oleh : Fenny Khadriana

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dalam Kehidupan manusia, pengetahuan memiliki peran sangat penting. Pengetahuan
didapatkan dengan cara mengolah informasi yang didapatkan. Menurut Sumandi (1996)
pengetahuan adalah kemampuan seseorang mengingat fakta, symbol, proses, dan teori (Ruang
guru,2018). Kemampuan manusia dalam mengingat berkaitan erat dengan struktur ingatan
manusia.

Struktur ingatan dapat dibedakan menjadi tiga sistem, yaitu: (a) sistem ingatan sensorik
(sensory memory), (b) sistem ingatan jangka pendek atau short term memory (STM), dan (c)
sistem ingatan jangka panjang atau long term memory (LTM). Sistem ingatan tersebut dikenal
sebagai model paradigma Atkinson dan Shiffrin yang telah disempurnakan oleh Tulving dan
Madigan (Solso, 1995 dalam Bhinnety).
Manusia memiliki lima alat indra yang digunakan untuk menangkap informasi atau stimuli
secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga, bau melalui hidung, rasa melalui lidah,
dan rabaan melalui kulit. Bila informasi atau stimuli tersebut tidak diperhatikan akan langsung
terlupakan, namun bila diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer ke sistem ingatan jangka
pendek. Sistem ingatan jangka pendek menyimpan informasi atau stimuli selama sekitar 30 detik,
dan hanya sekitar tujuh bongkahan informasi (chunks) dapat disimpan dan dipelihara di system
memori jangka pendek dalam suatu saat.
Dalam teori belajar behavioristic, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara
yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon (modul 3 kegiatan belajar 1).
Teori belajar lainnya ada yang sependapat dengan teori belajar behavioristic dan juga ada
yang berbeda pendapat. Teori-teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar
tertentu. Akibatnya, psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat. Dengan
bermunculnya teori – teori yang baru akan menyempurnakan teori – teori yang sebelumnya.
Berbagai teori belajar dapat dikaji dan diambil manfaat dengan adanya teori tersebut.
Pemahaman guru akan pengertian dan makna belajar akan mempengaruhi tindakannya dalam
membimbing siswa untuk belajar. Guru yang hanya memahami belajar agar murid bisa menghafal
tentu berbeda cara mengajarnya dengan guru yang memahami teori belajar dan tahu bahwa
belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku. Dalam hal ini, penulis akan mengkaji teori
belajar pengoganisasian informasi/ pengetahuan dalam ingatan manusia.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas dapat kita rumuskan masalah yang ada sebagai berikut :
1) Apa definisi dari pengorganisasian informasi?
2) Apa definisi dari memori/ingatan manusia?
3) Bagai mana teori-teori pengolahan informasi dalam memori manusia?
4) Bagai mana hubungannya pengolahan informasi dengan memori manusia?

C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian mengorganisasi informasi
2. Mengetahui memori / ingatan manusia
3. Mengetahui teori-teori pengolahan informasi dalam memori manusia
4. Mengetahui hubungannya pengolah informasi dengan memori manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi pengorganisasian informasi
Kata informasi berasal dari kata Perancis kuno informacion (tahun 1387) yang diambil dari
bahasa Latin informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”. Informasi merupakan kata
benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan”. Definisi
informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order
sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan.
Informasi juga dapat didefinisikan sebagai data yang sudah diolah menjadi suatu bentuk lain yang
lebih berguna yaitu pengetahuan atau keterangan yang ditujukan bagi penerima dalam
pengambilan keputusan, baik masa sekarang atau yang akan datang (Mahamaul, 2015)
Urutan dari penerimaan informasi dalam diri manusia dijelaskan sebagai berikut: pertama,
manusia menangkap informasi dari lingkungan melalui organ-organ sensorisnya yaitu: mata,
telinga, hidung, lidah, dan kulit. Beberapa informasi disaring pada tingkat sensoris, kemudian
sisanya dimasukkan dalam ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek mempunyai kapasitas
pemeliharaan informasi yang terbatas sehingga kandungannya harus diproses secara
sedemikian rupa (misalnya dengan pengulangan atau pelatihan), jika tidak maka akan lenyap
dengan cepat.
Bila diproses, informasi dari ingatan jangka pendek dapat ditransfer dalam ingatan jangka
panjang. Maka ingatan jangka panjang merupakan hal penting dalam proses belajar. Karena
ingatan jangka panjang merupakan tempat penyimpanan informasi yang faktual (disebut sebagai
pengetahuan deklaratif) dan informasi bagaimana cara mengerjakan sesuatu.
Tingkat pemrosesan stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman
secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka
informasi tersebut akan semakin lama diingat. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan
lebih dalam diproses dari pada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain,
manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yamg
menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam dari pada stimuli
yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya.

B. Definisi Memori/Ingatan Manusia


Memori atau sering kita kenal sebagai ingatan menurut Santrock (2008) adalah
penahanan/penyimpanan informasi yang berlangsung dari waktu ke waktu. informasi dalam
memory melibatkan kegiatan penyandian atau pengkodean (encoding), penyimpanan (storage)
dan pengambilan kembali (retrieval). Dalam bahasa sehari-hari kegiatan encoding umum dikenal
dengan istilah atensi/perhatian atau belajar. Menurut Santrock atensi adalah konsentrasi atau
pemfokusan sumber daya mental. Seiring dengan pertumbuhannya kemampuan atensi anak
dapat bertahan lebih lama.
Kita mengenal tiga macam memori yaitu memori indra (sensory memory), memori jangka
pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory). Memori indra
menahan informasi asli yang di dapat dari dunia sekitar yang diperoleh dari pancaindera. Memori
ini berlangsung hanya sekejap. Memori jangka pendek menurut Santrock adalah memori dengan
kapasitas terbatas dan hanya bertahan 30 detik, kecuali jika informasi itu kita ulang atau latih atau
diproses lebih lanjut. Berkaitan dengan memori jangka pendek ini, Alan Baddeley seperti yang
dikutip Santrock mengenalkan apa yang disebut working memory yaitu tempat di mana informasi
diolah dan dibentuk untuk membantu kita menyelesaikan masalah, mengambil keputusan atau
memahami bahasa lisan atau tertulis.
Sedangkan memori jangka panjang (long term memory) adalah jenis memori yang
menyimpan informasi dalam jumlah yang sangat besar dalam jangka waktu yang panjang dan
relatif menetap. Manusia mempunyai memori jangka panjang yang tersusun apik. Kita bisa
mengambil kembali informasi yang ada pada memori jangka panjang kita untuk peristiwa lampau
dalam waktu yang relatif cepat. Dalam hal ini ada tiga model dalam kaitan memori seperti yang
dijelaskan oleh Atkinson-Shiffrin seperti yang dikutip oleh Santrock (2008) membuat model yang
berkaitan dengan 3 macam memori yang melibatkan urutan dari memori indra, memori jangka
pendek dan memori jangka panjang. Dari model tersebut tergambarkan bahwa memori indra
menahan informasi hanya sekejap. Dan informasi itu akan masuk ke memori jangka pendek jika
ada pemfokusan perhatian. Lalu menurut Atkinson dan Shiffrin, semakin lama informasi berada
dalam memori jangka pendek melalui kegiatan latihan atau pengulangan, semakin besar besar
kemungkinannya informasi itu tersimpan di memori jangka panjang.

C. Teori-teori Pengolahan Informasi dalam Memori Manusia


a.Teori kognitif dan kognisi
Kognisi bisa diartikan pikiran. Menurut Gagne seperti yang dikutip Jamaris (2010) bahwa
kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada saat
manusia sedang berpikir. Teori kognitif menekankan peranan struktur ingatan dan pengetahuan
terhadap proses penerimaan, pemrosesan, penyimpanan dan pemanggilan kembali informasi.
Teori kognitif mengambil perspektif bahwa siswa secara aktif memproses informasi dan
pembelajaran berlangsung melalui usaha-usaha siswa ketika siswa mengaturnya,
menyimpannya dan kemudian menemukan hubungan-hubungan antara informasi, hubungan
baru dengan pengetahuan lama, skema, dan teks, pendekatan kognitif menekankan bagaimana
informasi di proses.
b. Teori Perkembangan Piaget
Psikolog Swis, Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana
manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi.
Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi
oleh maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan
dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik. Aktivitas berkaitan kemampuan
untuk menangani lingkungan dan belajar darinya. Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi
dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya.
Piaget mengadakan penelitian pada anak mengenai perkembangan kognitif anak. Dari
penelitiannya Piaget mengusulkan 4 tahapan perkembangan kognitif yang tiap tahapannya
berhubungan dengan usia dan cara berpikir. Tahap-tahap itu adalah:
1) Tahap Sensorimotor (dari usia lahir sampai 2 tahun)
Pada tahap ini seorang bayi membangun pemahamannya tentang dunia sekitarnya
melalui koordinasi pengalaman indrawinya dengan gerakan motorik.
2) Tahap Preoperasional (kira-kira usia 2 sampai 7 tahun)
Ciri utama fase ini adalah berpikir simbolik dan berpikir intuitif, egosentris dan animisme
serta suka mendengarkan dongeng. Berpikir simbolik pada fase ini adalah anak sudah dapat
mengungkapkan konsep yang tersusun dalam skemata di dalam imajinasinya, dan diungkapkan
dalan bentuk kalimat dan gambar.
3) Tahap Operasional Konkret (kira-kira usia 7 sampai 11 tahun)
Menurut Santrok juga Jamaris, pada usia ini anak sudah mempu melakukan seriasi dan
klasifikasi terhadap satu set objek dan juga menemukan hubungan logis antara elemen-elemen
yang tersusun secara teratur (transitivity). Pada tahap ini anak juga mampu memecahkan
masalah secara konkrit atau dalam bentuk kegiatan nyata. Selain itu anak juga sudah mulai
mengurangi sifat egosentrisnya. Anak pada tahap ini sudah mengerti konsep irreversibel dan
konservasi. Misalnya. Anak sudah mulai mengerti bahwa jika air dituangkan ke wadah lain maka
volume/banyaknya tetap sama.
4) Tahap Operasional Formal (kira-kira usia 11- 15 tahun sampai dewasa).
Tahap operasional formal adalah tahap terakhir perkembangan kognitif menurut teori
Piaget. Siswa pada usia ini telah mampu berpikir abstrak, idealistis dengan cara yang logis.
c.Teori Belajar Gagne
Gagne dikenal dengan teori pembelajarannya mengenai Condition Learning. Walaupun
awalnya ide-idenya banyak dipengaruh aliran behavourisme, dia banyak memunculkan ide
mengenai teori kognitif. Menurut Gagne ranah-ranah pembelajaran mencakup lima komponen
utama yaitu: informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan
motorik.
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam
pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi
eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk
mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Kondisi internal mencakup
atensi, motivasi, dan mengingat kembali (recall). Sedangkan kondisi eksternal adalah
rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

D. Hubungan Pengolahan Informasi dengan Memori Manusia


Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengingat seseorang. Ingatan
adalah kemampuan yang dimiliki manusia yang digunakan untuk menyimpan sesuatu yang akan
dikeluarkan pada waktu yang akan datang. Ingatan ini sangat diperlukan oleh individu, misalnya
suatu kejadian yang tidak menyenangkan terjadi karena suatu kesalahan yang kita buat sendiri
sehingga pada saat kita menghadapi masalah yang hampir sama maka kita dapat mengingat dan
kesalahan tidak terulang lagi. Ingatan juga sangat dibutuhkan sekali dalam proses pengolahan
informasi.
Selain itu, Atkinson & Shriffin (1968, dalam Reed 2007) menjelaskan bagaimana informasi
dari luar masuk ke ingatan manusia : dimana informasi dari luar pertama kali masuk keingatan
sensori, ingatan sensori ini sangat mudah hilang karena kapasitasnya yang sedikit. Indera-indera
yang bekerja untuk menangkap informasi yang banyak akan mengakibatkan terjadinya kelupaan.
Informasi yang dianggap relevan dan penting bagi individu akan diteruskan dan masuk ke ingatan
jangka pendek. Ingatan jangka pendek juga memiliki kapasitasnya sendiri, yaitu sekitar 30 detik
(Santrock, 2008) dan apabila informasi yang dianggap relevan dan penting bagi individu ini tidak
diulang maka informasi tersebut dapat hilang, atau informasi tersebut dilupakan. Informasi yang
berhasil masuk ke ingatan jangka pendek akan diteruskan ke ingatan jangka panjang, ingatan
jangka panjang merupakan tempat penyimpanan informasi yang relatif permanen (Lahey, 2007).
BAB III
KESIMPULAN
Teori pemprosesan informasi menyatakan bahwa hanya sedikit informasi yang dapat diolah
dalam memori kerja setiap saat. Terlalu banyak elemen bisa sangat membebani memori kerja
sehingga menurunkan keefektifan pengolahan informasi. Jika penerima diharuskan membagi
perhatian mereka dan mengintegrasikan secara mental dua atau lebih sumber-sumber informasi
yang berkaitan misalnya, teks dan diagram, proses ini mungkin menempatkan suatu ketegangan
yang tidak perlu pada memori kerja yang terbatas dan menghambat pemerolehan informasi.
Pengetahuan tentang pengorganisasian informasi dapat sangat berguna bagi para pendidik
untuk dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang menjadikan siswa dapat dengan
mudah menerima pengetahuan.

Daftar Pustaka
Bhinnety, Magda. Struktur dan Proses Memori. Buletin Psikologi volume 16 no. 2 hal 76-
88. Falkultas Psikologi Universitas Gajah Mada. ISSN: 0854-7108
Lahey, B.B. 2007.Psychology: An Intoduction, ninth Edition. New York : The McGraw-Hill
Companies
Mahamaul. 2015. PENGERTIAN INFORMASI DAN SISTEM INFORMASI
PSIKOLOGI #SIP. https://mahamaul.wordpress.com/2015/10/12/pengertian-informasi-dan-
sistem-informasi-psikologi-sip/ diakses tanggal 21 Juni 2019
Modul 3 Teori Belajar dan Pembelajaran.
https://ppgspada.brightspace.com/d2l/le/content/17233/viewContent/2309011/View diakses
tanggal 21 Juni 2019
Reed, S.K. (2007). Cognition: Theory and Application (7th ed.). United States of America:
Wadsworth, Thomson Learning, Inc.
Ruang guru. 2018. Pengetahuan: Pengertian, Definisi, Jenis dan Faktornya Lengkap.
https://www.ruangguru.co.id/6-pengertian-pengetahuan-definisi-jenis-dan-faktor-beserta-
tingkatannya-menurut-para-ahli/ diakses tanggal 21 Juni 2019
Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Kencana
Jamaris, Martini. 2010. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta : Yayasan
Panamas Murni
Woolfolk, Anita. 2009. Educational psychology Active Learning Edition. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.