Anda di halaman 1dari 6

PERMENKES NO 30 TAHUN 2019 TENTANG KLASIFIKASI DAN PERIJINAN RS

DAN PERMASALAHANNYA
DR. SLAMET BUDIARTO,SH,MH.KES (WAKETUM 2 PB IDI/KETUA ARSAMU)

➢ ATURAN PMK 30 TAHUN 2019 YANG DAPAT MENIMBULKAN MASALAH

I. PELAYANAN MEDIK
A. DEFINISI PELAYANAN MEDIK SPESIALIS LAIN SELAIN SPESIALIS DASAR (DOKTER SPESIALIS DAN DOKTER
GIGI SPESIALIS DIGABUNG HAL INI MENIMBULKAN MASALAH DALAM MENGHITUNG BATAS MAKSIMAL
JUMLAH PELAYANAN MEDIK SPESIALIS LAIN DI RUMAH SAKIT) MELIPUTI :

1 Pelayanan mata, 8 Orthopedi dan 15 Bedah mulut,


traumatologi,
2 Telinga Hidung 9 Urologi, 16 Konservasi/endodonsi,
Tenggorok-bedah kepala
leher,
3 saraf, 10 Bedah saraf 17 Orthodonti,
4 Jantung dan pembuluh 11 Bedah plastik 18 Periodonti,
darah, rekonstruksi dan
estetika,
5 Kulit dan kelamin, 12 Bedah anak, 19 Prosthodonti,
6 Kedokteran jiwa, 13 Bedah thorax kardiak 20 Pedodonti,
dan vaskuler,
7 Paru 14 Kedokteran forensik 21 Penyakit mulut, dan
dan medikolegal, pelayanan medik
spesialis lain.

B. DEFINISI PELAYANAN PENUNJANG MEDIK SPESIALIS :

NO PELAYANAN PENUNJANG MEDIK SPESIALIS


1 Pelayanan Laboratorium
2 Radiologi
3 Anestesi dan terapi intensif
4 Rehabilitasi Medik
5 Kedokteran Nuklir
6 Radioterapi
7 Akupuntur
8 Gizi Klinik
9 Pelayanan Penunjang Medik Spesialis lainnya

C. PERMASALAHAN
1. MUNCULNYA NOMENKLATUR BARU : DOKTER LAYANAN PRIMER DI RS PENDIDIKAN
2. PELAYANAN HEMODIALISA HANYA ADA DI RS KELAS A DAN RS KELAS B (BERPOTENSI
MENJAUHKAN AKSES PELAYANAN BERAKIBAT PULUHAN RIBU PASIEN HD AKAN DIRUGIKAN)
3. DOKTER SUBSPESIALIS TIDAK BOLEH DI RSU KELAS C/D HANYA ADA DI RS KELAS A DAN B
4. PELAYANAN MEDIK DASAR RAWAT JALAN/POLI UMUM TIDAK ADA DI RS KELAS A, B, C
(BERAKIBAT TUTUPNYA POLIKLINIK UMUM)
5. DOKTER SPESIALIS YG TIDAK BOLEH DI RSU TIPE C (LAMPIRAN PMK NO 30 TAHUN 2019) :

a. bedah saraf, h. Radioterapi


b. bedah plastik rekonstruksi dan i. Kedokteran nuklir
estetika, j. Gizi klinik
c. bedah anak, k. penyakit mulut
d. bedah thorax kardiak dan vaskuler, l. prosthodonti,
e. kedokteran forensik dan m. orthodonti,
medikolegal, n. bedah mulut
f. Parasitologi klinik
g. Akupunktur

6. PELAYANAN MEDIK SPESIALIS LAIN TIDAK ADA DI RS KELAS D


7. DOKTER SPESIALIS YANG TIDAK BOLEH DI RSU KELAS B (LAMPIRAN PMK NO 30):
a. ORTHODONTI,
b. KEDOKTERAN NUKLIR
8. RUMAH SAKIT KHUSUS KELAS C HANYA UNTUK RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK. HAL INI
BERAKIBAT RS KHUSUS KELAS C SELAIN IBU DAN ANAK APABILA TIDAK BISA MENAIKKAN
MENJADI KELAS B MAKA BERPOTENSI TERHENTINYA OPERASIONAL RS.
9. ADANYA BATAS MAKSIMAL PELAYANAN MEDIS SPESIALIS DI SETIAP KELAS RS (SELAIN KELAS A).
10. DAMPAK APABILA RS DALAM 1 TAHUN TIDAK MEMENUHI KETENTUAN PMK NO 30 TAHUN 2019,
BERPOTENSI :
1) PEMBERHENTIAN TENAGA MEDIS (DOKTER/DOKTER GIGI)
2) PEMBERHENTIAN PEGAWAI RS
3) RS BERMODAL KECIL KESULITAN MENGEMBANGKAN PELAYANAN
4) TERGANGGUNYA PELAYANAN
5) BERHENTINYA OPERASIONAL RS
11. DAMPAK BAGI BPJS BERPOTENSI MENAMBAH DEFISIT PEMBIAYAAN

II. RS KHUSUS
Klasifikasi Rumah Sakit khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 terdiri atas:
a. Rumah Sakit khusus kelas A;
b. Rumah Sakit khusus kelas B; dan
c. Rumah Sakit khusus kelas C.

Rumah Sakit khusus kelas C sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c hanya untuk Rumah Sakit
khusus ibu dan anak. (BERTENTANGAN DENGAN UU NO 44 TAHUN 2009 TENTANG RS.)

III. RS UMUM
• Rumah Sakit umum kelas A dan kelas B memiliki kemapuan pelayanan medik spesialis dan
subspesialis.
• Rumah Sakit umum kelas C dan kelas D memiliki kemampuan pelayanan medik spesialis.

A. RSU KELAS B (ADA BATAS MAKSIMAL)

Rumah Sakit umum kelas B sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b merupakan
Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit :

• 4 (empat) spesialis dasar,


• 4 (empat) penunjang medik spesialis,
• 8 (delapan) spesialis lain selain spesialis dasar, dan
• 2 (dua) subspesialis dasar

Dalam hal Rumah Sakit umum kelas B sebagaimana dimaksud pada ayat (2) akan meningkatkan
fasilitas dan kemampuan pelayanan mediknya, penambahan pelayanan paling banyak

• 2 (dua) spesialis lain selain spesialis dasar,


• 1 (satu) penunjang medik spesialis,
• 2 (dua) pelayanan medik subspesialis dasar, dan
• 1 (satu) subspesialis lain selain subspesialis dasar

KESIMPULAN RS TIPE B MAKSIMAL :

• 4 (empat) spesialis dasar,


• 5 (lima) penunjang medik spesialis,
• 10 (delapan) spesialis lain selain spesialis dasar, dan
• 4 (empat) subspesialis dasar
• 1 (satu) subspesialis lain selain subspesialis dasar

PENAMBAHAN PELAYANAN RS KELAS B JIKA TIDAK ADA RS TIPE A DALAM SATU PROPINSI

Dalam hal di satu wilayah administratif provinsi tidak terdapat Rumah Sakit umum kelas A, Rumah
Sakit umum kelas B sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menambah pelayanan mediknya
paling banyak

• 3 (tiga) spesialis lain selain spesialis dasar,


• 1 (satu) penunjang medik spesialis, dan
• 9 (sembilan) pelayanan medik subspesialis berupa pelayanan medik subspesialis dasar dan/atau
subspesialis lain selain subspesialis dasar

B. RSU KELAS C (ADA BATAS MAKSIMAL)


Rumah Sakit umum kelas C sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf c merupakan
Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit
• 4 (empat) spesialis dasar
• 4 (empat) penunjang medik spesialis

Dalam hal Rumah Sakit umum kelas C sebagaimana dimaksud pada ayat (4) akan meningkatkan
fasilitas dan kemampuan pelayanan mediknya, penambahan pelayanan paling banyak :

• 3 (tiga) pelayanan medik spesialis lain selain spesialis dasar, dan


• 1 (satu) penunjang medik spesialis.

KESIMPULAN RS TIPE C MAKSIMAL :


• 4 (empat) spesialis dasar
• 5 (lima) penunjang medik spesialis
• 3 (tiga) pelayanan medik spesialis lain selain spesialis dasar

PENAMBAHAN PELAYANAN RSU TIPE C JIKA TIDAK ADA RS TIPE B DALAM SATU
KABUPATEN/KOTA

Dalam hal di satu wilayah administratif kabupaten/kota tidak terdapat Rumah Sakit umum kelas B,
Rumah Sakit umum kelas C dapat menambah pelayanan mediknya paling banyak :

• 7 (tujuh) spesialis lain selain spesialis dasar dan


• 1 (satu) penunjang medik spesialis.

C. RSU TIPE D (ADA BATAS MAKSIMAL)


Rumah Sakit umum kelas D sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf d merupakan
Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit :
• 2 (dua) spesialis dasar.

Dalam hal Rumah Sakit umum kelas D sebagaimana dimaksud pada ayat (6) akan meningkatkan
fasilitas dan kemampuan pelayanan mediknya, penambahan pelayanan paling banyak :

• 1 (satu) pelayanan medik spesialis dasar dan


• 1 (satu) penunjang medik spesialis

KESIMPULAN RS TIPE D MAKSIMAL :


• 3 (tiga) spesialis dasar
• 1 (satu ) penunjang medik spesialis

PENAMBAHAN PELAYANAN RS TIPE D JIKA TIDAK ADA RS TIPE C DALAM SATU KABUPATEN/KOTA
Rumah Sakit umum kelas D sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dapat menambah pelayanan
mediknya paling banyak :
• 2 (dua) spesialis dasar dan
• 1 (satu) penunjang medik spesialis.
D. PENAMBAHAN PELAYANAN MEDIK
PENAMBAHAN PELAYANAN MEDIK DENGAN MEMPERTIMBANGKAN AKSES TERHADAP
PELAYANAN KESEHATAN KELAS RUMAH SAKIT DIATASNYA YANG BERADA ANTAR WILAYAH
ADMINISTRATIF SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT (11) DILAKSANAKAN SETELAH
MENDAPATKAN REKOMENDASI DARI DINAS KESEHATAN DAERAH PROVINSI SETEMPAT.

IV. PELAYANAN KESEHATAN TERTENTU DAN PELAYANAN KESEHATAN LAIN


(HEMODIALISA TIDAK MASUK??)
Pasal 30
1. Dalam hal Rumah Sakit memberikan pelayanan kesehatan tertentu, Rumah Sakit harus
mendapatkan izin pelayanan kesehatan tertentu dari Menteri.
2. Pelayanan kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan,
radioterapi, kedokteran nuklir, kehamilan dengan bantuan atau kehamilan di luar cara alamiah,
transplantasi organ, sel punca untuk penelitian berbasis pelayanan terapi, dan pelayanan
kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.
3. Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
merupakan pelayanan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi baru, teknologi tinggi,
berisiko keselamatan pasien dan/atau berbiaya tinggi.
4. Rumah Sakit yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berupa Rumah Sakit kelas A, Rumah Sakit kelas B, dan Rumah Sakit lain yang ditetapkan
oleh Menteri.
5. Penetapan Rumah Sakit lain oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan yang tinggi dan pendekatan akses pelayanan kesehatan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

V. PENINGKATAN KELAS RS (HANYA 1 TINGKAT DAN SUDAH TERAKREDITASI)

Pasal 52
1. Peningkatan kelas Rumah Sakit dapat dilakukan sesuai dengan kriteria klasifikasi Rumah Sakit.
2. Peningkatan kelas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bertahap dan hanya
diperbolehkan naik satu tingkat di atasnya.
3. Peningkatan kelas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan
terhadap Rumah Sakit yang telah terakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan

VI. TENAGA SDM (TIDAK ADA DEFINISI PURNA WAKTU)

Pasal 26

1. Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) MERUPAKAN TENAGA
TETAP YANG BEKERJA SECARA PURNA WAKTU.
2. Selain tenaga tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Rumah Sakit dapat mempekerjakan
tenaga tidak tetap dan/atau konsultan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

VII. PENENTUAN TENAGA KEFARMASIAN TIDAK DIHITUNG SECARA BENAR (TIDAK BERDASARKAN
RASIO KEBUTUHAN PELAYANAN )

NO SDM RS A RS B RS C RS D
1 Apoteker 11 8 6 2
2 Tenaga teknis kefarmasian 15 12 8 4
3 Tenaga keperawatan 1:1 1:1 2:3 2:3
(Perawat: TT)

VIII. ATURAN PERALIHAN


1. RUMAH SAKIT KELAS C DAN KELAS D YANG TELAH MEMILIKI IZIN PENYELENGGARAAN UNTUK
MEMBERIKAN PELAYANAN KESEHATAN TERTENTU SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 30,
MASIH DAPAT MEMBERIKAN PELAYANAN PALING LAMBAT 10 (SEPULUH) TAHUN SEJAK
PERATURAN MENTERI INI DIUNDANGKAN

2. RUMAH SAKIT YANG TELAH MEMILIKI IZIN MENDIRIKAN DAN IZIN OPERASIONAL BERDASARKAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 56 TAHUN 2014 TENTANG KLASIFIKASI DAN
PERIZINAN RUMAH SAKIT DAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 26 TAHUN 2018
TENTANG PELAYANAN PERIZINAN BERUSAHA TERINTEGRASI SECARA ELEKTRONIK SEKTOR
KESEHATAN HARUS MENYESUAIKAN DENGAN KETENTUAN PERATURAN MENTERI INI PALING
LAMBAT 1 (SATU) TAHUN SEJAK PERATURAN MENTERI INI DIUNDANGKAN; DAN

3. RUMAH SAKIT YANG TELAH MEMILIKI IZIN OPERASIONAL DAN/ATAU PERPANJANGAN IZIN
OPERASIONAL DAN TELAH MEMENUHI PERSYARATAN BERDASARKAN PERATURAN MENTERI
KESEHATAN NOMOR 56 TAHUN 2014 TENTANG KLASIFIKASI DAN PERIZINAN RUMAH SAKIT
DAN/ATAU PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 26 TAHUN 2018 TENTANG PELAYANAN
PERIZINAN BERUSAHA TERINTEGRASI SECARA ELEKTRONIK SEKTOR KESEHATAN, HARUS
MEMILIKI TENAGA TETAP SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 12, PASAL 16, DAN PASAL
26 PALING LAMBAT 4 (EMPAT) TAHUN SEJAK PERATURAN MENTERI INI DIUNDANGKAN.