Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

B DENGAN MASALASAH SISTEM


RESPIRASI : BRONKOPNEUMONIA DI BANGSAL ANAK
RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

Disusun oleh :
1. Kuwati A01702343
2. Larasati Fadillah A01702344
3. Lisa Dwi wahyuni A01702345
4. M. Fachri Effendi A01702346
5. M. Tamyiz Muhni A01702347
6. Maya Alfionita A01702348
7. Maya Sinta Sari A01702349
8. Milania Ragil S A01702350
9. Mita Kusuma W A01702351
10. M. Bahrul Huda A01702352

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN SEMESTER IV


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2019
ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. B DENGAN MASALASAH SISTEM
RESPIRASI : BRONKOPNEUMONIA DI BANGSAL ANAK
RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG
(Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Anak)

Disusun oleh :
1. Kuwati A01702343
2. Larasati Fadillah A01702344
3. Lisa Dwi wahyuni A01702345
4. M. Fachri Effendi A01702346
5. M. Tamyiz Muhni A01702347
6. Maya Alfionita A01702348
7. Maya Sinta Sari A01702349
8. Milania Ragil S A01702350
9. Mita Kusuma W A01702351
10. M. Bahrul Huda A01702352

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN SEMESTER IV


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2019

LAPORAN PENDAHULUAN
BRONKOPNEUMONIA PADA ANAK
A. PENGERTIAN PADA ANAK
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan
oleh virus penyebab bronkopneumonia yang masuk ke saluran pernafsan
sehingga terjadi peradangan bronkus dan alveoli.
Bronkopneumonia adalah salah satu pneumonia yang mempunyai pola
penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam
bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan disekitarnya (Smeltzer
et,al,. 2010).
Bronkopneumonia merupakan penyakit saluran pernafasan bagian bawah
yang biasanya di dahului dengan infeksi saluran pernafasan bagian atas dan
sering dijumpai dengan gejala awal batuk, dispnea, demam. Selain disebakan
oleh infeksi dari kuman atau bakteri juga didukung oleh kondisi lingkungan
dan gizi pada anak. (Sujono & Sukarmin, 2009)

B. ETIOLOGI
Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh bakteri (pnemococus,
streptococcus), virus pneumony hypostatik, sindryoma loffller, jamur dan benda
asing. (Ngastiyah, 2010).
Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah
1. Faktor Infeksi : Pada neonatus: Streptokokus group B, Respiratory
Sincytial Virus (RSV). Pada bayi : Virus: Virus parainfluensa, virus
influenza, Adenovirus, RSV, Cytomegalovirus. Organisme atipikal:
Chlamidia trachomatis, Pneumocytis. Pada anak-anak yaitu virus:
Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSV. Organisme atipikal:
Mycoplasma pneumonia. Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium
tuberculosi. Pada anak besar – dewasa muda, Organisme atipikal:
Mycoplasma pneumonia, C. trachomatis. Bakteri: Pneumokokus,
Bordetella pertusis, M. tuberculosis.
2. Faktor Non Infeksi Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks
esophagus meliputi: Bronkopneumonia hidrokarbon yang terjadi oleh
karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde lambung (zat
hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah dan bensin). Bronkopneumonia
lipoid biasa terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak
secara intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap keadaan yang
mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis, pemberian makanan
dengan posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti
minyak ikan pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit
tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang
mengandung asam lemak

C. MANIFESTASI KLINIS
Secara umum gambaran klinis bronkopneumonia diklasifikasikan dibagi
menjadi 2 kelompok yaitu : gejala umum dan gejala respiratorik. Gejala umum
meliputi demam, sakit kepala, malaise, nafsu makan menurun, gejala
gastrointestinal (mual, muntah, dan diare), sedangkan gejala respiratorik
meliputi batuk, takipnea, nafas sesak (retraksi dinding dada), nafas cuping
hidung, dan sianosis (Said, 2010).
Gejala klinis yang muncul biasanya tergantung umur pasien dan pathogen
penyebabnya, sedangkan pada anak biasanya tidak muncul gejala
(styoningrum, 2011). Tanda gejala pada bayi dan anak kecil meliputi demam,
anak rewel, kejang yang disebabkan demam tinggi, sakit kepala, nyeri dan
pegal pada punggung dan leher, anoreksia, muntah, diare, nyeri abdomen,
hidung tersumbat, produksi secret, merintih, dan batuk. (Hockberry & Wilson,
2012)

D. KLASIFIKASI BRONKOPNEUMONIA
Beberapa ahli telah membuktikan bahwa pembagian bronkopneumonia
berdasarkan etiologi terbukti secara klinis dan memberikan terapi yang lebih
relevan (Bradley, 2011) :
1. Berdasarkan lesi di paru yaitu pneumonia lobaris, pneumonia interstitialy,
bronkopneumonia.
2. Bronkopneumonia berdasarkan asal infeksi pneumonia yang didapat
masyarakt (community acquired pneumonia = CAP). Pneumonia yang
didapat dari rumah sakit (hospital-bazed pneumonia)
3. Berdasarkan mikroorganisme penyebab bronkopneumonia bakteri
pneumonia, virus pneumonia, mikoplasma pneumonia, jamur.
4. Berdasarkan karakteristik penyakit yaitu bronkopneumonia tipical dan
atipical
5. Berdasarkan lama penyakit yaitu akut dan presispen

E. PATOFISIOLOGI BRONKOPNEUMONIA
Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan
nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan
jaringan sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk
suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu (Bradley et.al.,
2011) :
1. Stadium I/Hiperemia (4-12 jam pertama/kongesti).
Pada stadium I, disebut hyperemia karena mengacu pada respon
peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi.
Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler
di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator
peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera
jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamindan prostaglandin.
2. Stadium II/Hepatisasi Merah (48 jam berikutnya)
Pada stadium II, disebut hepatitis merah karena terjadi sewaktu alveolus
terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu
(host) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi
padat oleh karena 4 adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan
sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada
stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga orang
dewasa akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu
selama 48 jam.
3. Stadium III/ Hepatisasi Kelabu (3-8 hari).
Pada stadium III/hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu selsel darah putih
mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin
terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa
sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai di reabsorbsi, lobus masih
tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat
kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.
4. Stadium IV/Resolosi (7-11 hari).
Pada stadium IV/resolosi yang terjadi sewaktu respon imun dan
peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorpsi oleh
makrofag sehingga jaringan kembali ke struktur nya semula.

F. PATWAY BRONKOPNEUMONIA
G. KOMPLIKASI BRONKOPNEUMONIA
1. Otitis media akut (OMA) terjadi jika tidak diobati maka sputum yang
berlebihan akan masuk kedalam tuba eusthacii sehingga menghalangi
masulnya udara ketelinga tengah dan mengakibatkan hampa udara
kemudian gendang telinga akan tertarik kedalam timfus efusi (Asih, 2010).
2. Atelectasis terjadi akibat penyumbatan saluran udara pada bronkus atau
bronkiolus sehingga menyebabkan alveolus kurang berkembang atau
bahkan tidak berkembang dan akhirnya kolaps (Asih, 2010).
3. Meningitis disebabkan oleh baakteri yang sama dengan pneumonia. Pada
pneumonia bakteri masuk kesaluran nafas bagian bawah dan dapat
menyerang pembuluh darah dan masuk keotak sehingga menyebabkan
radang selaput otak (Prijanto, 2009).
4. Abses paru, pada pneumonia yang memberat akan menjadi abses paru dan
seringnya pada pneumonia aspirasi yang disebabkan oleh mikoroorganisme
anaerob (Prijanto, 2009).
5. Gagal nafas terjadi karena berkurangnya valume paru secara fungsional
karena proses inflamasi akan mengganggu proses difusi dan akan
menyebabkan gangguan pertukaran gas yang akan menyebabkan hipoksia.
Pada keadaan berat bisa terja gagal nafas (Prijanto, 2009). Prognosis
pneumonia Prognosis baik jika cepat diobati atau cepat diberi antibiotic
yang tepat. Namun prognosisinya akan buruk jika terdapar leukopenia
(Kumar, 2011).

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan bronkopneumonia menurut Mansjoer (2009) dan
Ngastiyah (2010) di bagi dua yaitu penatalksanaan , medis & keperawatan.
1. Penatalksanaan medis
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi. Akan
tetapi, karena hal itu perlu waktu dan pasien perlu terapi secepatnya maka
biasanya diberikan :
a. Penisilin ditambah dengan Cloramfenikol atau diberikan antibiotik
yang mempunyai spektrum luas seperti Ampisilin,pengobatan ini
diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari.
b. Pemberian oksigen cairan intervensi
c. Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolic akibat
kurang makan dan hipoksia, maka dapat di berikan koreksi sesuai
dengan hasil analisis gas darah arteri.
d. Pasien pneumonia ringan tidak perlu di rawat di rumah sakit.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan dalam hal ini yang di lkukan adalah:
a. Menjaga kelancaran pernafasan
b. Klien pneumonia beada dalam keaadaan dispnea dan sianosis karena
adanya radang paru dan banyaknya lendir di dalam bronkus atau paru.
Agar klien dapat bernafas secara lancar, lendir teersebut harus di
keluarkan dan untuk memenuhi kebutuhan O2 perlu di bantu dengan
memberikan O2 21/menit secara rumat.
c. Kebutuhan istirahat
Klien pneumonia adalah klien payah, suhu tubuhnya tinggi, sering
hiperpireksia maka klien perlu istirahat yang cukup, semua kebutuhan
klien harus di tolong di tempat tidur. Usahakan pemberian obat secara
tepat, usahakan keadaan tenang dan nyaman agar pasien dapat istirahat
sebaik- baiknya.
d. Kebutuha nutrisi dan cairan
Pasien bronkopneumonia hamper selalu mengalami masukan makanan
yang kurang. Suhu tubuh yang tinggi selama beberapa hari dan masukan
cairan yang kurang dapat menyebabkan dehidarsi. Untuk mencegah
dehidrasi dan kekurangan kalori di pasang infuse dengan cairan glukosa
5% dan Nacl 0,9%.
e. Mengontrol suhu tubuh
Pasien bronkopneumonia sewaku- waktu dapat mengalami hiperpireksia.
Untuk ini maka harus dikontrol suhu tiap jam. Dan dilakukan kompres
serta obat- obatan satu jam setelah di kompres di cek kembali apakah suhu
telah turun.
I. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan Menurut Nanda (2013) antara lain:
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan
nafas: spasme jalan nafas, sekresi tertahan, banyaknya mukus, adanya
jalan nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di alveolus, adanya
benda asing di jalan nafas.
NOC : ventilasi, kepatenan jalan nafas
Kriteria Hasil :klien tidak merasa tercekik, irama, frekwency dalam
batas normal, tidak ada bunyi abnormal.
NIC :
a. Pastikan kebutuhan oral suctioning
b. Auskultasi nafas sebelum dan sesudah suctioning
c. Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning
d. Lakukakn fisioterapi dada jika perlu
e. Monitor status O2 pasien
2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan apnea: ansietas, posisi
tubuh, deformitas dinding dada, gangguan koknitif, keletihan hiperventilasi,
sindrom hipovnetilasi, obesitas, keletihan otot spinal
NOC : ventilasi, kepatenan jalan nafas, status TTVKriteria Hasil :mampu
mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed
lips, klien tidak merasa tercekik, irama, frekuensi dalam batas normal, tidak
ada bunyi abnormal.
NIC :
a. Posisikan semi fowler
b. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
c. Pasang mayo jika perlu
d. Berikan bronkodilator
e. Auskultasi suara nafas
f. Monitor pola nafas
3. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat,
takipneu, demam, kehilangan volume cairan secara aktif, kegagalan
mekanisme pengaturan
NOC : fluid balance, Hidration, Status Nutrisi; intake nutrisi dan cairan
Kriteria Hasil : mempertahankan urine output sesuai dengan usia, dan
BB, BJ urine normal, HT normal, TTV normal, Tidak
ada tanda dehidrasi (turgor kulit baik, membran mukosa
lembab, tidak ada rasa haus berlebihan)
NIC :
a. Pertahankan intake dan output yang akurat
b. Monitor status hidrasi
c. Monitor Vital sign
d. Monitor masukan makanan/ cairan dan hitung intake kalori
e. Berikan cairan IV pada suhu ruangan
f. Kolaborasikan pemberian cairan IV
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan isolasi respiratory: tirah baring
atau imobilisasi, kelemahan menyeluruh, ketidak seimbangan suplai O2
dengan kebutuhan.
NOC : ADL, pemulihan tenaga
Kriteria Hasil :mampu melakukan aktivitas secara mandiri,
berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disretai
peningkatan TTV
NIC :
a. Kolaborasi dengan tenaga rehabilitasi medik dalam menyiapkan program
terapi yang tepat
b. Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
c. Kaji adanya faktor penyebab kelelahan
d. Monitor respons kardiovaskuler terhadap aktivitas
e. Monitor lama istirhatanya pasien
f. Monitor nutrisi dan sumber tenaga adekuat
5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan keadaan penyakit keterbatasan
kognitif, salah interpretasi informasi, kurang paparan
NOC : proses penyakit, proses penyembuhan
Kriteria Hasil :klien dan keluarga mengatakan pemahaman tentang
penyakit, prognosis dan program pengobatan
NIC :
a. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses
penyakit yang spesifik
b. Jelaskan patofisiologi tentang penyakit
c. Gambarkan tanda dan gejala yang muncul pada penyakit
d. Gambarkan proses penyakit
e. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat

J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Ngastiah (2002), yaitu sebagai berikut :
1. Foto thoraxPada foto thorax Bronchopneumonia terdapat bercak-bercak
infiltrat pada satuatau beberapa lobus. Jika pada pneumonia lobaris terlihat
adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus
2. Laboratorium
a. Terjadi leukositosis pada pneumonia bakterial
b. Nilai analisa gas darah : untuk mengetahui status kardiopulmoner yang
berhubungan dengan oksigenasi
c. Hitung darah lengkap dan hitung jenis: digunakan untuk menetapkan
adanyaanemia, infeksi dan proses inflamasi
d. Pewarnaan gram : untuk seleksi awal anti mikroba
e. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agen penyebab seperti
virus
3. Tes kulit untuk tuberkulin : untuk mengesampingkan kemungkinan terjadi
tuberkulosis jika anak tidak berespon terhadap pengobatan.
4. Tes fungsi paru : digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan
luasdan beratnya penyakit dan membantu memperbaiki keadaan.
5. Spirometri statik digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi
DAFTAR PUSTAKA
Asih R, Landia S, Makmuri M.S. 2010. Continuing Education Ilmu Kesehatan
Anak XXXVI.Surabaya: Divisi Respirologi bagian Ilmu Kesehatan Anak FK
UNAIR.

Hidayat Aziz Alimul, 2011. Ilmu Kesehatan Anak. Jakaarta: Salemba Medika.

Nanda. 2013. Buku Saku Diagnosa. Jakarta: EGC

Nanda. (2015- 2017).Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017.


Edisi 10. Jakarta: EGC

Nursalam, 2010. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika.

Prijanto, Multijati, 2009, L Us Inl Han Menigitidis, Litbang Kesehatan Volune XII
Nomor 1

Smeltzer, S.C, Bare, B.G, Hincle, J.l, Cheever, K.H.2008. Textbook of medical
surgical nursing: Brunner & suddarth. Eleventh edition, lipincott Williams &
wilkins,a wolter Kluwer Business.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. A DENGAN MASALAH SISTEM


RESPIRASI : BRONKOPNEUMONIA DI RUANG ANAK
RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG
KASUS
An. B usia 9 bulan masuk RS PKU Muhammadiyah Gombong pada Tanggal 22
April 2019 dengan diagnosa bronkopneumonia . Dengan keluhan sesak nafas dan
batuk sejak 1 minggu yang lalu. Hasil pemeriksaan fisik An. B terdapat tarikan
dinding dada ke dalam dengan TTV : RR : 50x/mnt, Suhu : 38,5 o C Nadi :
100x/menit

ASUHAN KEPERAWATAN

Tanggal Pengkajian : 22 April 2019


Nama Pengkaji : Kelompok 1
Ruang : Ruang Anak
Waktu Pengkajian : 09:00 WIB

A. Identitas
1. Identitas klien
Nama : An. B
Tanggal Lahir : 22 Juli 2018
Umur : 9 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
BB : 7,8 kg
TB : 76,5 Cm
Alamat : Gombong, Kebumen
Agama : Islam
Pendidikan :-
Status Bangsa : Suku jawa
Tanggal Masuk RS : 22 April 2019
No RM : 00-17-xx-xx
Diagnosa Medik : Bronkopneumonia
2. Identitas penanggung jawab
Nama : Ny. A
Umur : 27 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan :SMA
Pekerjaan : Swasta
Hubungan dengan pasien : Ibu

B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Sesak nafas
2. Keluhan Tambahan
Batuk berdahak, demam
3. Riwayat penyakit sekarang
An. B usia 9 bulan masuk RS PKU Muhammadiyah Gombong pada Tanggal
22 April 2019 dengan diagnosa bronkopneumonia . Ibu pasien mengatakan
An. B sesak nafas dan mengatalami batuk berdahak. Hasil pemeriksaan fisik
An. B terdapat tarikan dinding dada ke dalam dengan TTV : RR : 50x/mnt,
Suhu : 38,5o C
3. Riwayat penyakit dahulu
Ibu pasien mengatakan An. B sebelumnya pernah mengalami sakit hati
4. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu pasien mengatakan ia dan suaminya tidak pernah mengalami
penyakit bronkopneumonia seperti yang di dedita oleh An. B
5. Riwayat kehamilan
a. Gravida : Gravida ke-1
b. Paritas : Merupakan anak ke-1
c. Kesehatan selama hamil : ?
d. Obat-Obatan : Ibu mengatakan mengkonsumsi suplemen besi
6. Riwayat Persalinan
a. Durasi persalinan : Lama melahirkan ± 3 jam dengan lama persalinan
normal di Puskesmas dan langsung menangis.
b. Tipe melahirkan : Spontan pervagina
c. Tempat melahirkan : RS PKU Muhammadiyah Gombong
d. Obat-obatan : Post partus ibu masih mengkonsumsi suplemen besi
7. Riwayat kelahiran
a. BB : 2700 gr
b. PB : 50 cm
c. Kondisi Kesehatan : baik
d. Score APGAR :9
e. Anomali Kongenital :-
f. Tanggal keluar dari perawatan : 24 Juli 2018
8. Riwayat imunisasi
a. Hepatitis : 0 bulan (0,5 cc)
b. BCG : 2 bulan (0,5 cc)
c. Polio : 2, 4, 6, 18 bulan (@2 tetes)
d. DPT : 2, 4, 6, 18 bulan (@0,5cc)
e. Campak : 9 bulan (0,5 cc)
f. Alergi : tidak ada riwayat alergi imunisasi
9. Riwayat tukem (Tumbuh Kembang)
a. BB : 7,2 kg (normalnya 8,3-11,6kg)
b. PB : 76,5 cm (normalnya 67,5-76,49 cm)
c. KPSP (9 bulan) : Score :
No Pemeriksaan Ya Tidak
Bayi terlentangkan
1 Pada posisi bayi terlentang, pegang
kedua tangannya lalu Tarik
perlahan lahan ke posisi duduk.
Dapatkah bayi mempertahankan
lehernya secara kaku seperti
gambar disebelah kiri?
Jawab tidak bila kepala bayi jatuh
kembali seperti gambar di sebelah
kanan.
Bayi dipangku ibunya atau pengasuh ditepi meja periksa
2 Tarik perhatian bayi dengan
memperlihatkan woll merah,
kemudian jatuhkan kelantai. Apakah
bayi mencoba mencarinya ? misalnya
mencari dibawah meja atau di
belakang kursi?
3 Taruh dua kubus di atas meja, buat
agar bayi dapat memungut masing-
masing kubus dengan masing-masing
tangan ddan memegang satu kubus
pada masing-masing tangannya.
4 Taruh kismis diatas meja. Dapatkah V
bayi memungut dengan tangannya
benda-benda kecil seperti kismis,
kacang-kacangaan , potongan biscuit,
dengan gerakan miring atau
menggerapai seperti gambar?
5 Letakan suatu mainan yang V
diinginkannya diluar jangkauan bayi,
apakah ia mencoba mendapatkannya
dengan mengulurkan lengan dan
badannya?
Tanya ibu atau pengasuh
6 Apakah pernah melihat bayi V
memindahkan mainan atau kue
kerring dari satu tangan ke tangan
yang lain? Benda-benda panjang
seperti sendok atau kerincingan
bertangkai tidak ikut dinilai.
7 Apakah bayi dapat makan kue kering
sendiri?
8 Pada waktu bayi bermain sendiri dan
ibu diam-diam datang berdiri
dibelakangnya, apakah ia menengok
kebelakang seperti mendengar
kedatangan anda?
Suara keras tidak ikut dihitung,
jawab YA hanya jika anda melihat
reaksinya terhadap suara yang
perlahan atau bisikan
Bayi dipangku pemeriksa
9 Jika anda mengangkat bayi melalui
ketiaknya keposisi berdiri, dapatkah
ia menyanggah sebagian berat badan
dengan kedua kakinya? Jawab YA
bila ia mencoba mencoba berdiri dan
sebagian berat badan bertumpu
dengan kedua kakinya .
10 Tanpa di sanggah oleh bantal, kursi
atau dinding, dapatkah bayi duduk
sendiri selama 60 detik?

10. Riwayat alergi : Tidak ada


11.Kebutuhan cairan
Sesuai BB anak, maka kebutuhan cairan pada an.B yaitu :
100cc X 7,8 kg = 780cc/24 jam
12. Kebutuhan kalori
1.000 + ( 100 x 0,75)
1.000 + 75 = 1.075 kal/hari, atau
13. Genogram

carier
--------------------------------------------------------------------------------------------------
norma
l
carier carier

pasien
normal
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Keterangan : meninggal

perempuan

laki-laki

pasien pasien

thalasemia

tinggal satu rumah -------------

C. Pola Fungsional Menurut Gordon


1. Pola persepsi kesehatan
a. Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan belum pernah mendengar
bronkopneumonia dan belum tahu secara pasti seperti pengertian,
penyebab, proses penyakit, dan penanganannya.
b. Saat sakit : ibu pasien mengatakan belum tahu cara merawat anaknya
yang menderita bronkopneumonia , takut salah dalam merawat anaknya.
2. Pola nutrisi/metabolik
a. Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan anak makan 3x sehari, tekstur
sama dengan makanan keluarga kadang juga diselingi biscuit dan buah.
Pasien minum air putih 5 gelas sehari (gelas kecil). Pasien menelan
dengan baik. Pasien sangat suka biscuit. BB terakhir 7,8 kg .
b. Saat sakit : Ibu pasien mengatakan pasien sulit makan hanya masuk
sekitar 3x suap dalam sehari namun porsi berkurang.
3. Pola eliminasi
a. Sebelum sakit : Ibu pasien mengatakan pasien BAB 1x sehari dengan
konsistensi padat, warna kekuningan. BAK 5-6 x sehari urin agak keruh
b. Saat sakit : Ibu pasien mengatakan pasien BAB 2-3 kali sehari dengan
konsistensi feses sangat lembek, sedikit, warna kecoklatan. BAK tidak
tahu karena memakai pempers, warna gelap.
4. Pola aktivitas/latihan
a. Sebelum sakit ; Ibu pasien mengatakan pasien dapat beraktivitas,
selincah anak seumurannya, bermain dengan saudara.
b. Saat sakit : Ibu pasien mengatakan pasien jarang beraktifitas, tidak
lincah, seringnya berbaring ditempat tidur, dan tampak lemah.
5. Pola kognitif perseptual
a. Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan pasien sering bertanya sesuatu
yang ia belum ketahui
b. Saat sakit : pasien banyak diam, tidak terlalu suka bertanya seperti
biasanya
6. Pola istirahat dan tidur
a. Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan pasien tidur 8-10 jam sehari
dengan nyenyak
b. Saat sakit : ibu pasien mengatakan pasien tidur selama 5-6 jam sering
terbangun, sulit memulai tidur, rewel, dan sering menangis.
7. Pola konsep diri- persepsi diri
a. Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan pasien biasa berinteraksi dengan
orang lain,pasien aktif beraktifitas seperti biasa. Ibu pasien mengatakan
pasien saat sehat sangat ceria, dan fisiknya sekuat anak seumurannya dan
anak memang tampak kurus dibanding anak yang lain. Ibu pasien
mengatakan tidak masalah kurus asal sehat.
b. Saat sakit : ibu pasien mengatakan pasien jadi murung, tidak aktif,
tubuhnya lemas, sesak nafas. Ibu pasien merasa khawatir dengan keadaan
anaknya .
8. Pola peran dan hubungan
a. Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan pasien mudah kenal dengan
orang baru ,suka meniru kegiatan dirumah.
b. Saat sakit : ibu pasien mengatakan pasien tidak mau dengan orang lain
selain ibunya.
9. Pola reprokdusi atau seksual
a. Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan alat reprokdusi luar tampak
normal dan dapat ereksi seperti anak umumnya.
b. Saat sakit : ibu pasien mengatakan alat reprokdusi luar tampak normal
dan dapat ereksi seperti anak umumnya.
10. Pola pertahanan diri ( koping)
a. Sebelum sakit : ibu pasien mengatakan anak jarang menangis, jika tidak
dituruti biasanya akan ngambek dengan menghentak-hentakan kaki,
kadang sambil menangis jika menangis mudah didiamkan atau
ditenangkan.
b. Saat sakit : Ibu pasien mengatakan pasien menangis pelan, meminta
pulang (rewel)
11.Pola keyakinan dan nilai
a. Sebelum sakit : Ibu pasien mengatakan pasien suka diajari doa, suka
mengajak ke pengajian.
b. Saat sakit : Ibu pasien mengatakan pasien sedang berikhtiar dan yakin
bahwa kesembuhan dari Allah SWT.
D. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Buruk (Lemas, Kurus)
2. Kesadaran : Composmentis
3. TTV :
TD : - Mmhg
N : 100x/menit
S : 38,50C
RR : 50x/menit
4. Antopometri
a. TB : 76,5 Cm
b. BB : 7,8 Kg
c. Lingkar kepala : 42 Cm
d. Lingkar dada : 35 Cm
e. Lingkar lengan : 14,5 Cm
5. Kepala
a. Inspeksi :fontanel anterior-posterior sudah menutup sempurna, kulit
kepala bersih, rambut bersih tampak jarang dan mudah rontok
b. Palpasi : Tulang wajah terasa tebal, rambut kering.
6. Mata
a. Inspeksi : Kedua mata sejajar, konjungtiva anaemis, sclera ikterik,
kelopak mata cekung kehitaman.
b. Palpasi : Kelopak mata teraba lunak.
7. Hidung
a. Inspeksi : Septum normal, tidak ada secret
8. Mulut
a. Inspeksi : Bibir sianosis, pucat, mukosa agak kering, gusi pucat, gigi
putih bersih, lidak agak putih dan kotor
9. Telinga
a. Inspeksi : telinga sejajar, bersih, tidak tampak serumen
b. Palpasi : tidak ada nyeri tekan sekitar telinga dan mastoid
10. Leher
a. Inspeksi : Leher normal, ukuran normal.
b. Palpasi : Tidak ada deviasi trakhea, tidak ada bendungan vena juguralis,
tidak ada pembesaran arteri carotis, tidak ada nyeri tekan
11.Thorax
a. Inspeksi : Bentuk dada agak menonjol sebelah kiri
b. Palpasi : Puting di IC 4
1) Paru-paru
a) Inspeksi : RR : 50x/menit, terdapat tarikan dinding obat kedalam
b) Palpasi : tidak teraba massa
c) Perkusi : Bunyi paru sonor
d) Auskultasi : Ada suara tambahan ronchi bawah
2) Jantung
a) Inspeksi : tidak tampak pembesaran
b) Palpasi : tidak teraba massa
c) Pekusi : Bunyi jantung pekak
d) Auskultasi : lub dup lub dup
12. Abdomen
a. Inspeksi : Kulit perut pucat, perut cembung, tidak ada hernia umbilikus
b. Auskultasi : Bising usus 24x/menit
c. Palpasi : Turgor kulit <3 detik, tidak ada distensi, tidak ada pembesaran
limpa
d. Perkusi : Timpani diseluruh region abdomen
13. Genetalia
Inspeksi : Tidak tampak ada kelainan, berjenis kelamin laki-laki tampak
penis dan skrotum
14. Ekstremitas dan kulit
a. Inspeksi : Kedua tangan tampak dapat digerakkan
b. Palpasi : Akral hangat, CRT lambat, nadi sulit diraba, sangat lemah
Kekuatan otot
3 3

3 3
15. Nodus limfe
a. Palpasi : Adanya pembengkakan dan nyeri tekan kelenjar limfe
inguinalis deksttra sinistra

E. Pengkajian Nutrisi
1. Antropometri : TB : 76,5 cm, BB : 7,8 kg, LK : 42 cm, LD: 35 cm, LL :
14,5 cm.
2. Biocemikal : Hb : 11 mg/dL, Eritrosit : 4.0 mill/mm3
3. Clinicl sign : Turgor kulit kurang baik, mukosa bibir keing, konjungtiva
ananemis.
4. Diet : Ibu pasien mengatakan tidak ada riwayat diet, pasien tidak pilih-
pilih makanan.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Riwayat keluarga :
2. Hb : 11 mg/dL
3. Eritrosit : 4.0 mill/mm3.
4. HT : 35%
5. CT- Scan :-

G. Terapi
1. Infus RL 12 tpm set micro
2. O2 binasal kanul 2 lpm ( terapi sesuai intervensi)
3. Inj Ampicilin 3x 200 mg
4. Inj Gentamicin 2x5 mg
5. Inj Dexametason 2x 1/3 amp
6. Sabutamol 3x 1/2

H. Analisa Data
No Data Fokus Problem Etiologi
1 Ds : Ketidak efektifan Obstruksi jalan
- Ibu An B mengatakan
bersihan jalan nafas nafas ( produksi
sesak dan batuk
mukus berlebih)
disertai dahak sulit
keluar ± sejak 1
minggu yang lalu.
Do :
- pasien tampak sesak
- RR : 50 x/ menit.
- Tmpak retraksi
dinding dada kedalam
- Dahak tampak tidak
dapat keluar.
- Auskultasi bunyi paru
terdengar ronchi

2 Ds : Hipertermi Proses penyakit


- Ibu An B mengatakan
tubuh anaknya hangat
seperti demam.
Do:
- Akral hangat
- kulit kemerahan
- Suhu 38,50
3 Ds: Ketidakseimbangan Kurang asupan
- Ibu An B mengatakan
nutrisi : kurang dari nutrisi
makan hanya 3x suap
kebutuhan tubuh
perhari.
Do:
- Antopometri TB:
76,5Cm,BB:7,8 Kg
Lingkar kepala:
42cm,Lingkar dada:
35cm,Lingkar
lengan:14,5 Cm
- Pengkajian Nutrisi
a. Antropometri : TB
: 76,5 cm, BB :
7,8 kg, LK : 42
cm, LD: 35 cm,
LL : 14,5 cm.
b. Biocemikal : Hb :
11 mg/dL,
Eritrosit : 4.0
mill/mm3
c. Clinicl sign :
Turgor kulit
kurang baik,
mukosa bibir
keing, konjungtiva
ananemis.
d. Diet : Ibu pasien
mengatakan tidak
ada riwayat diet,
pasien tidak pilih-
pilih makanan.

Prioritas Diagnosa Keperawatan :


1. Ketidakefektifan bersihn jalan nafas b.d Obstruksi jalan nafas ( produksi
mucus berlebih)
2. Hipertermi b.d Proses penyakit
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurang
asupa nutrisi

I. Intervensi Keperawatan
No Hari/Tgl DX NOC NIC
1. 1 Tujuan : - Fisioerapi
Setelah dilakukan tindakan
Dada ( 3230 )
keperawatan 3x24 jam 1. Lakukan
diharapkan masalah fisioterapi
ketidakefektifan bersihan dada
-
jalan nafas dapat teratasi
dengan kriteria hasil:
-Kepatenan jalan nafas
Indikator A T
Menunjukan jalan
nafas paten
Frekuensi
pernafasan dalam
rentang normal
Sekret dapat
dikeluarkan
2. 2 Tuajuan :
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 3x24 jam
diharapkan masalah
hipertermi dapat teratasi
dengan kriteria hasil :

3. 3 Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan masalah
Ketidakseimbangan nutrisi :
kurang dari kebutuhan tubuh
dapat teratasi

J. Implementasi
Hari/tgl/ No Implementasi Respon Paraf
jam dx
7/4/2019 1 -
13:00
WIB

3.
13.00
WIB

1
13:30 -
WIB
1.2
14:00
WIB 1.2

15:00
WIB
1

15.30
WIB
1.2

2
17:00
WIB
17:30
3
WIB

20.00
WIB
8/4/2019 1 .
07:30
WIB -
2
08:00
WIB

1,2
08:30
WIB

3
09:00
1
WIB
11:00
1
WIB

12:00
WIB

12:00
WIB
1,2

1
12:00
WIB

16:00 1
WIB
1,2`
17:00
WIB

9/4/2019 1 -
07:30
WIB

2
08.00
wib

1,2 -
09:00
WIB
3
09:00
WIB 1

11: 00
1,2
WIB
11:00
WIB
1

13:00
WIB

14: 00
WIB

K. Evaluasi
Hari/ No. Evaluasi Paraf
tgl/jam Dx
7/4/2019 1 S:
21.00 O:
WIB 1. A:
Indikator Awal Target Akhir

P: Lanjutkan intervensi

S:
O:
- A:
Indikator A T A

P:

S:
O:
2 A:
Indikator Awal Target Akhir

P:
3

8/4/2019 1 S:
O:
A:
Indikator Awal Target Akhir

P:
S:
O:
- A:
Indikator A T A
P:

S:
O:
2 A::
Indikator Awal Target Akhir

P:
3
9/4/2019 1 S: .
O:
21.00
A:
WIB

Indikator Awal Target Akhir

P:

S: I
O:
- A:
Indikator A T A
P: Lanjutkan intervensi
S:

P: Hentikan intervensi