Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN SCABIES

NAMA KELOMPOK 3:

YUYUN BELA RIA BR 17031047

SRIMELDA 17031052

LUTFIATURROHMAH 17031056

RIZKA GUSTIN ANANDA 17031060

HERLI YULIANTI 17031064

DWI ASTUTI 17031068

GHEA PEBBY OKTAFIGA 17031072

LILIS ROMAITO HUTAJULU 17031076

APRILIANA AFGANI 17031080

Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes

Hang Tuah Pekanbaru

PEKANBARU

2019
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang maha esa karena dengan
karunia nya kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan pada Skabies dalam mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah III.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah.
Akhir kata kami berharap semoga makalah mata kuliah ini dapat memberikan manfaat
ataupun inspirasi terhadap pembaca.

Pekanbaru, 24 September 2019

KELOMPOK 3
DAFTAR ISI

Halaman Judul ...........................................................................................................i

Kata Pengantar ..........................................................................................................ii

Daftar Isi ...................................................................................................................iii

Bab I. Pendahuluan

Bab II. Pembahasan

Bab III Penutup

Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (kutu kecil) yaitu Sarcoptes
scabiei varietas hominis. Penyakit tersebut merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama
di wilayah beriklim tropis dan subtropis. Jumlah penderita skabies di dunia lebih dari 300 juta
setiap tahun dengan angka yang bervariasi di setiap negara.

Di Indonesia, skabies merupakan salah satu penyakit kulit tersering di puskesmas.


Prevalensi skabies di puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 2008 adalah 5,6-12,9% dan
merupakan penyakit kulit terbanyak ketiga. Pada tahun 2008 survei di berbagai pemukiman
kumuh seperti di tempat pembuangan sampah akhir dan rumah susun di Jakarta menunjukkan
prevalensi skabies sebesar 6,2%, di Boyolali 7,4%, di Pasuruan 8,2%, dan di Semarang 5,8%.

Faktor yang berperan pada tingginya prevalensi skabies adalah kemiskinan, kepadatan
penghuni rumah, tingkat pendidikan rendah, keterbatasan air bersih, dan perilaku kebersihan
yang buruk. Tingginya kepadatan penghuni disertai interaksi dan kontak fisik yang erat
memudahkan penularan skabies. Kepadatan penghuni rumah merupakan faktor risiko paling
dominan dibandingkan faktor risiko skabies lainnya. Berdasarkan faktor risiko tersebut
prevalensi skabies yang tinggi umumnya terdapat di asrama, panti asuhan, pondok pesantren,
penjara, dan pengungsian.

Penderita skabies terganggu kualitas hidupnya karena mengalami gatal hebat dan radang
di kulit akibat infeksi sekunder oleh bakteri sehingga produktivitas dan prestasi akademik
menurun.

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari skabies


2. Untuk mengetahui etiologi dari skabies
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari skabies
4. Untuk mengetahui manifstasi klinis dari skabies
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dari skabies
6. Untuk mengetahui askep dari scabies
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Scabies merupkan infestasi kulit oleh kutu Sarcoptes scabiei yang menimbulkan gatal.
Scabies ditandai dengan lesi. Terdapat dua lesi pada scabies yitu lesi spesifik (liang atau
terowongan) dan nonspesifik (papula, vesikel, dan ekskoriasi). Tempat khas dari tubuh yang
biasanya terkena scabies adalah jari-jari, pergelangan tangan, lipatan aksila, perut, bokong, dan
alat kelamin. Penyakit ini dapat ditemukan pada orang-orang miskin yang hidup dengan kondisi
higiene di bawah standar sekalipun juga sering terdapat di antara orang-orang yang sangat bersih.
Scabies sering dijumpai pada orang-orang yang seksual-aktif. Namun demikian, infestasi parasit
ini tidak bergantung pada aktivitas seksual karena kutu tersebut sering menjangkiti jari-jari
tangan, dan sentuhan tangan dapat menimbulkan infeksi.
2.2 WOC

Ekonomi rendah Mondok, asrama, panti asuhan, Seksual aktif Sanitasi/Kepadatan Penduduk
penjara, petugas kesehatan
Hygiene kurang (buruk) Parasit melekat
Sentuhan langsung dengan orang
yang terinfeksi atau barang

Parasit berpindah

Patogen/parasit melekat

Kutu betina membuat


terowongan dengan
rahang dan kaki

Mengeluarkan telur 2 Tumbuh dewasa


Butir sehari selama 2
Bulan

SKABIES
SKABIES

Hpersensitivitas pada Ekskoriasi yang tetap 4 minggu setelah kontak Parasit membuat Tidak ada terowongan
Organisme/eksresinya dalam terowongan terowongan
Reaksi imunologi tipe Ruam= scabies
Rasa gatal Lesi, vesikel, papula lambat terhadap kutu & Lesi, multiple, lurus/
krusta fesesnya bergelombang (coklat/ Menggaruk
Menggaruk hitam menyerupai benang
Gangguan Kulit tubuh Pasien gatal-
Gangguan Gangguan
rasa nyaman Hangat gatal hebat Terlihat di jari-jari tangan
citra tubuh rasa nyaman
Lesi terbuka/berdarah & pergelangan kaki (umumnya)
Stimulus
Gangguan
Pada parasit Gangguan Gangguan
Resiko rasa nyaman
infeksi citra tubuh rasa nyaman
Gatal-gatal meningkat
Pada malam hari

Gangguan
tidur
2.3 Penatalaksanaan

2.3.1 Penatalaksanaan Medis

Preparat skabisida, seperti lindane (Kwell) atau krotamiton (krim dan losion Eurax),
dioleskan tipis-tipis pada seluruh permukaan kulit mulai dari leher ke bawah dengan hanya
meninggalkan daerah muka dan kulit kepala (yang pada skabies tidak terkena). Obat itu
dibiarkan selam 12 hingga 24 jam dan sesudah itu, pasien diminta untuk membasuh dirinya
sampai bersih. Aplikasi obat satu kali sudah dapat memberikan efek kuratif, tetapi disarankan
agar terapi tersebut diulangi sesudah 1 minggu kemudian. Pasien perlu mengetahui petunjuk
pemakaian ini karena pengolesan skabisida segera sesudah mandi dan sebelum kulit mengering
serta menjadi dingin dapat meningkatkan absorpsi perkutan skabisida sehingga berpotensi untuk
menimbulkan gangguan sistem saraf pusat seperti serangan kejang.

2.3.2 Penatalaksanaan Keperawatan

Kepada pasien diminta agar mandi dengan air yang hangat dan sabun yang berguna untuk
menghilangkan debris yang mengelupas dari krusta dan kemudian kulit dibiarkan benar-benar
kering serta menjadi dingin.

1) Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah


Pasien harus mengenakan pakaian yang bersih dan tidur di atas seprei yang baru
saja dicuci di binatu. Semua perangkat tempat tidur (seprei, sarung bantal, dll), serta
pakaian harus dicuci dengan air yang panas dan dikeringkan dengan alat pengering panas
karena kutu skabies ternyata dapat hidup sampai 36 jam pada linen.
Setelah terapi skabies selesai dilakukan, pasien harus mengoleskan salep seperti
kortikosteroid topikal pada lesi kulit karena skabisida dapt mengiritasi kulit.
Hipersensitivitas pasien tidak berhenti setelah kutu dihancurkan. Rasa gatal dapat
terlangsung berlangsung selama beberapa hari atau minggu sebagai manifetasi
hipersensitivitas, khususnya pada orang yang atopik (alergik). Keadaan ini bukan
merupakan suatu tanda kegagalan terapi. Kepada pasien dianjurkan agar tidak
mengoleskan lebih banyak skabisida (karena tindakan ini akan menambah iritasi serta
meningkatkan rasa gatal) dan tidak semakin sering mandi dengan air panas (karena
tindakan ini membuat kulit menjadi kering serta menimbulkan gatal).
Semua anggota keluarga dan semua orang yang berhubungan erat harus diobati
secara bersamaan untuk menghilangkan kutu skabies. Jika skabies ditularkan dengan
hubungan seksual, pasien mungkin memerlukan pula terapi terhadap penyakit menular
seksual yang turut terdapat. Skabies dapat pula dijumpai bersama dengan pedikulosis.
2) Pertimbangan Gerontologik
Meskipun pasien yang lebih tua merasakan gatal yang lebih hebat, reaksi
inflamasi seperti yang tampak nyata pada orang yang lebih muda jarang terjadi. Skabies
mungkin tidak dikenali pada orang yang usia lanjut dan keluhan gatal bisa saja secara
keliru dikaitkan dengan kulit orang tua yang kering atau dengan ansietas.
Petugas kesehatan dalam fasilitas pelayanan kesehatan yang besar harus
mengenakan sarung tangan ketika melakukan perawatan bagi pasien dengan kecurigaan
skabies sampai diagnosisnya dapat dipastikan dan terapinya daoat dilakukan. Dianjurkan
agar semua residen, staf perawat dan keluarga pasien diobat secara bersamaan untuk
mencegah infeksi ulang.
2.4 Asuhan Keperawatan

2.4.1 Pengkajian

Pengkajian keperawatan yang dilakukan ini mengacu kepada teori Nola J Pender.
Pengkajian perilaku sebelumnya meliputi pengalaman mengenai terjadinnya penyakit skabies.
Pengkajian faktor personal meliputi faktor biologis (usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh,
status pubertas, kapasitas aerobik, kekuatan, kecerdasan, keseimbangan), faktor psikologis (harga
diri, motivasi diri, kompetensi personal, status kesehatan sebelumnya, definisi tentang kesehatan)
dan faktor sosial budaya (ras, etnik, penyesuaian diri, status sosial ekonomi). Pengkajian perilaku
spesifik, pengetahuan dan sikap individu yang meliputi persepsi tentang manfaat tindakan,
hambatan tindakan, kemampuan diri, aktivitas yang berhubungan dengan sikap, pengaruh
interpersonal dan pengaruh situasional.

a. Pemeriksaan Penunjang
1) Biopsy dengan mengambil sampel untuk dilihat di bawah mikroskop untuk menemukan
Saecoptes scabei pada kulit. Sampel jaringan superfisial epidermis dikerok pada daerah
di atas terowongan atau dengan papula dengan menggunakan mata pisau scalpel yang
kecil. Hasil kerokan diletakkan pada slide mikroskop dan diperiksa lewat mikroskop
dengan pembesaran rendah untuk melihat kutu pada setiap stadium (dewasa, telur,
cangkang telur, larva, nimfa), dan butiran fesesnya.
2) Preparasi KOH
3) Dermoskopi dan pembesaran fotografi digital
4) Burrow ink test (BIT)

2.4.2 Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit


2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai
pencegahan scabies.
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan pada kulit yang gatal.
5. Resiko penularan penyakit berhubungan dengan perilaku penggunaan barang secara
bersama-sama.
2.4.3 Rencana Intervensi

1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit


1) kaji rasa cemas pasien
2) berikan penjelasan pada pasien mengenai penyakitnya, kondisi penyakit, program
perawatan dan pengobatan, hubungan istirahat dengan penyakitnya.
2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit
1) bina hubungan saling percaya
2) jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit
3) dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai
pencegahan scabies
1) Diskusikan tentang pencegahan penyakit scabies yaitu dengan cara hidup bersih dan
sehat: mandi teratur dan menggunakan sabun, mencuci pakaian dan seprai tempat tidur
minimal 2x dalam seminggu, Kasur dan bantal dijemur minimal 2x seminggu, tidak
saling bertukar pakaian atau alat mandi dengan orang lain.
2) Hindari kontak dengan orang yang dicurigai scabies
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan pada kulit yang gatal.
1) Berikan salep betametason pada pasien. Oleskan sebelum tidur.
2) Konsumsi obat pereda gatal, agar rasa gatal yang dirasakan berkurang sehingga pola
istirahat dan tidur pasien tidak terganggu.
5. Resiko penularan penyakit berhubungan dengan perilaku penggunaan barang secara
bersama-sama.
1) Anjurkan tidak menggunakan barang secara bersama-sama atau bergantian.
2) Anjurkan klien untuk selalu melakukan pola hidup bersih dan sehat.
BAB III
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner/Sudarth. Jakarta: EGC

Mutiara, Anita. 2017. Aplikasi Teori Keperawatan Nola J Pender pada An. R dalam Asuhan
Keperawatan dengan Masalah Skabies di Puskesmas Jembatan Kecil. Bengkulu: JNPH.

Dewi, Mayang Kusuma & Nasrul Wathoni. Jurnal Artikel Review: Diagnosis dan Regimen
Pengobatan Skabies. Farmaka Suplemen Vol. 15 No. 1

Parman dkk. 2017. Jurnal Faktor Risiko Hygiene Perorangan Santri Terhadap Kejadian
Penyakit Kulit Skabies di Pesantren Al-Baqiyatushshalihat Tanjung Jabung Barat Tahun
2017. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol. 17 No. 3

M. Sari Yunita, Rina Gustia & Eliza Anas. 2018. Jurnal Faktor-faktor yang Berhubungan
dengan Kejadian Skabies di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang Tahun
2015. Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 7 No. 1