Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA

PENGEMBANGAN TES SIKAP ILMIAH, PEMBELAJARAN YANG BERSIFAT


PENYELIDIKAN (INVESTIGATION), EKSPERIMEN ILMIAH BERBASIS
LABORATORIUM DAN INKUIRI BEBAS

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3

AYU SRI MENDA SITEPU (8186175009)


BESTRICA KURNIA SARI (8186175005)
LAILA AZWANI PANJAITAN (8186175007)

PPS REG A PEND FISIKA 2018

PROGRAM PENDIDIKAN PASCASARJANA


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Pengembangan Tes
Sikap Ilmiah, Pembelajaran Yang Bersifat Penyelidikan (Investigation), Eksperimen Ilmiah
Berbasis Laboratorium Dan Inkuiri Bebas
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada Bapak Dr. Wawan Bunawan, M.Pd.,M.Si. selaku dosen mata kuliah
Evaluasi Pembelajaran Fisika. Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat
penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Medan, 10 September 2019

Kelompok 3

i
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sikap Ilmiah


2.1.1 Pengertian Sikap Ilmiah
Pada dasarnya, Ruch (Patta Bundu, 2006: 137) mengemukakan bahwa sikap
mengandung tiga dimensi yang saling berkaitan, yakni kepercayaan kognitif seseorang,
perasaan afektif atau evaluatif, dan perilaku seseorang terhadap objek sikap. Pendapat ini
didukung oleh Cassio dan Gibson (Siti Fatonah dan Zuhdan K. Prasetyo, 2014: 28-29) yang
menjelaskan bahwa sikap berkembang dari interaksi antara individu dengan lingkungan masa
lalu dan masa kini. Melalui proses kognitif dari integrasi dan konsistensi, sikap dibentuk
menjadi komponen kognisi, emosi, dan kecenderungan bertindak. Setelah sikap terbentuk
maka secara langsung akan mempengaruhi perilaku. Perilaku tersebut akan mempengaruhi
perubahan lingkungan yang ada, dan perubahan itu akan menuntun pada perubahan sikap
yang dimiliki. Jadi, sikap akan terbentuk setelah berkembanganya nilai-nilai yang ada pada
diri seseorang.
Sikap ilmiah dalam pembelajaran sains sering dihubungkan dengan sikap terhadap
sains. Keduanya memang saling berhubungan dan mempengaruhi perbuatan. Tetapi, perlu
ditegaskan bahwa sikap ilmiah berbeda dengan sikap terhadap sains. Sikap terhadap sains
merupakan kecenderungan siswa untuk senang atau tidak senang terhadap sains atau IPA,
seperti menganggap sains sukar dipelajari, kurang menarik, membosankan, atau sebaliknya.
Jadi, sikap terhadap sains hanya terfokus pada apakah siswa suka atau tidak suka terhadap
pembelajaran sains. Berbeda halnya dengan sikap ilmiah, di mana sikap ilmiah merupakan
sikap yang dimiliki oleh para ilmuwan dalam mencari dan mengembangkan pengetahuan
baru, seperti objektif terhadap fakta, berhati-hati, bertanggung jawab, berhati terbuka, selalu
ingin meneliti, dan lain-lain (Patta Bundu, 2006: 13).
Burhanuddin Salam (2005: 38) menjelaskan bahwa sikap ilmiah merupakan suatu
pandangan seseorang terhadap cara berpikir yang sesuai dengan metode keilmuan, sehingga
menimbulkan kecenderungan untuk menerima ataupun menolak cara berpikir yang sesuai
dengan keilmuan tersebut. Seorang ilmuwan haruslah memiliki sikap positif atau
kecenderungan menerima cara berpikir yang sesuai dengan metode keilmuan, kemudian
dimanifestasikan di dalam kognisinya, emosi atau perasaannya, serta di dalam perilakunya.
Maskoeri Jasin (2010: 45-49) mengemukakan pula bahwa sikap ilmiah merupakan
sikap yang perlu dimiliki oleh ilmuwan, yang mencakup: (a) memiliki rasa ingin tahu yang

i
tinggi dan kemampuan belajar yang besar, (b) tidak dapat menerima kebenaran tanpa bukti,
(c) jujur, (d) terbuka, (e) toleran, (f) skeptis, (g) optimis, (h) pemberani, dan (i) kreatif atau
swadaya. Sikap-sikap yang dimiliki oleh ilmuwan tersebut diperoleh dengan usaha yang
sungguh sungguh. Beberapa percobaan yang mereka lakukan membantu menumbuhkan sikap
ilmiah tersebut.
Tini Gantini (Hamdani, 2011: 150) menyebutkan delapan ciri dari sikap ilmiah, yaitu:
(a) mempunyai rasa ingin tahu yang mendorong untuk meneliti fakta-fakta baru, (b) tidak
berat sebelah (adil) dan berpandangan luas terhadap kebenaran, (c) terdapat kesesuaian antara
apa yang diobservasi dengan laporannya, (d) keras hati dan rajin mencari kebenaran, (e)
mempunyai sifat ragu sehingga terus mendorong upaya pencarian kebenaran atau tidak
pesimis, (f) rendah hati dan toleran terhadap hal yang diketahui dan tidak diketahui, (g)
kurang mempunyai ketakutan, dan (h) berpikiran terbuka terhadap kebenaran-kebenaran
baru. Dari kedelapan ciri sikap ilmiah tersebut, dapat diketahui beberapa pokok sikap ilmiah
yaitu objektif, terbuka, rajin, sabar, tidak sombong, dan tidak memutlakkan suatu kebenaran
ilmiah. Hal ini menandakan bahwa ilmuwan perlu memupuk sikap tersebut terus menerus
apabila berhadapan dengan ilmu karena selalu terjadi kemungkinan bahwa apa yang sudah
dianggap benar saat ini (misalnya teori), suatu saat akan digantikan oleh teori lain yang
menunjukkan kebenaran baru.
Berdasarkan berbagai penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sikap ilmiah
yang dimaksudkan dalam penelitian ini berkaitan dengan sikap siswa dalam menanggapi dan
menemukan pengetahuan baru melalui beberapa metode atau proses ilmiah. Sikap tersebut
harus terus dikembangkan agar bisa dimiliki oleh siswa.

2.1.2 Sikap Ilmiah Siswa


Menurut Usman Samatowa (2010: 87), sikap ilmiah yang perlu dilatihkan di negara kita
adalah kemampuan untuk menghargai orang lain dan keberanian siswa untuk menjawab
pertanyaan, mengajukan pertanyaan, serta berdiskusi. Patta Bundu (2006: 139)
mengemukakan bahwa paling tidak ada empat jenis sikap yang perlu dan relevan dengan
siswa yaitu: (a) sikap terhadap pekerjaan di sekolah, (b) sikap terhadap diri mereka sebagai
siswa, (c) sikap terhadap ilmu pengetahuan, khususnya IPA, dan (d) sikap terhadap objek dan
kejadian di lingkungan sekitar. Keempat sikap tersebut akan membentuk sikap ilmiah yang
mempengaruhi keinginan seseorang untuk ikut serta dalam kegiatan tertentu, dan cara
seseorang memberikan respon kepada orang lain, objek, atau peristiwa tertentu.

i
Gega (Patta Bundu, 2006: 39-40) menyarankan empat sikap pokok yang harus
dikembangkan dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) pada siswa sekolah dasar
yaitu sikap ingin tahu (curiosity), sikap penemuan (inventiveness), sikap berpikir kritis
(critical thinking), dan sikap teguh pendirian (persistence). Keempat sikap tersebut tidak
dapat dipisahkan satu sama lainnya karena saling melengkapi. Sikap ingin tahu akan
mendorong siswa untuk menemukan sesuatu yang baru dan dengan berpikir kritis maka akan
meneguhkan pendirian serta berani untuk berbeda pendapat.
American Association for Advancement of Science mengemukakan empat aspek sikap
ilmiah yang diperlukan pada tingkat sekolah dasar yaitu kejujuran (honesty), keingintahuan
(curiosity), keterbukaan (open minded), dan ketidakpercayaan (skepticism). Harlen
mengemukakan pula pengelompokkan yang lebih lengkap dan hampir mencakup kedua
pengelompokkan yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, yaitu: (a) sikap ingin tahu, (b)
sikap objektif terhadap data/fakta, (c) sikap berpikir kritis, (d) sikap penemuan dan
kreativitas, (e) sikap berpikiran terbuka dan kerjasama, (f) sikap ketekunan, dan (g) sikap
peka terhadap lingkungan sekitar (Siti Fatonah & Zuhdan K. Prasetyo, 2014: 31-33).

a. Sikap ingin tahu


Sikap ingin tahu ditandai dengan tingginya minat dan keingintahuan anak terhadap
setiap perilaku alam di sekitarnya. Anak sering mengamati benda-benda di sekitarnya
(Usman Samatowa, 2010: 97). Anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sangat
antusias selama proses pembelajaran IPA. Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis (1991:
8) mengemukakan bahwa anak sekolah dasar mengungkapkan rasa ingin tahunya dengan
bertanya, baik kepada temannya maupun gurunya. Oleh karena itu, tugas guru adalah
memberikan kemudahan bagi anak untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Selain
itu, ketika mereka diberikan pertanyaan yang merangsang rasa ingin tahu mereka, maka
mereka akan antusias mencari jawabannya pada sumber belajar yang ada di sekitarnya.

b. Sikap objektif terhadap data/fakta


Proses IPA merupakan upaya pengumpulan dan penggunaan data untuk menguji dan
mengembangkan gagasan. Suatu teori pada mulanya berupa gagasan. Oleh karena itu,
diperlukan fakta untuk memverifikasi gagasan itu (Usman Samatowa, 2010: 97). Pada saat
memperoleh data atau fakta, maka siswa harus selalu menyajikan data yang apa adanya dan
mengambil keputusan berdasarkan fakta yang ada. Dengan kata lain, hasil suatu pengamatan

i
atau percobaan tidak boleh dipengaruhi oleh perasaan pribadi, melainkan berdasarkan fakta
yang diperoleh.

c. Sikap berpikir kritis


Berpikir kritis merupakan sebuah proses terorganisasi yang memungkinkan siswa untuk
mengevaluasi bukti, asumsi, logika, dan bahasa yang mendasari pernyataan orang lain (Elaine
B. Johnson, 2007: 185). Oleh karena itu, anak harus dibiasakan untuk merenung dan
mengkaji kembali kegiatan yang telah dilakukan (Usman Samatowa, 2010: 98). Melalui
proses perenungan tersebut, siswa akan mengetahui apakah perlu mengulangi percobaan (jika
ditemukan perbedaan data antara siswa yang satu dengan yang lain) ataukah terdapat
alternatif lain untuk memecahkan masalah-masalah IPA yang sedang dihadapi siswa. Dengan
begitu, siswa akan mampu untuk mengembangkan sikap berpikir kritis mereka.

d. Sikap penemuan dan kreativitas


Pada saat melakukan suatu percobaan atau pengamatan, siswa mungkin menggunakan
alat tidak seperti biasanya atau melakukan kegiatan yang agak berbeda dari temannya yang
lain. Mereka mengembangkan kreativitasnya dalam rangka mempermudah memecahkan
masalah atau menemukan data baru yang benar dengan cepat. Selain itu, data ataupun laporan
yang ditunjukkan siswa mungkin berbeda-beda tergantung hasil penemuan dan kreativitas
mereka (Patta Bundu, 2006: 141). Guru perlu menghargai setiap hasil penemuan, memupuk
serta merangsang kreativitas siswanya agar sikap penemuan dan kreativitas siswa bisa terus
berkembang.

e. Sikap berpikiran terbuka dan kerjasama


Siswa perlu diberikan pemahaman bahwa konsep ilmiah itu bersifat sementara. Hal ini
berarti bahwa konsep itu bisa berubah apabila ada konsep lain yang lebih tepat. Bahkan,
konsep baru itu terkadang bertentangan dengan konsep yang lama (Usman Samatowa, 2010:
98). Oleh karena itu, sikap berpikiran terbuka perlu ditanamkan pada siswa. Pada saat
pembelajaran, siswa dibiasakan untuk mau menerima pendapat teman yang berbeda dan mau
mengubah pendapatnya apabila pendapat tersebut kurang tepat.
Siswa juga perlu menyadari bahwa pengetahuan yang dimiliki orang lain mungkin lebih
banyak daripada yang ia miliki. Oleh karena itu, ia perlu bekerjasama dengan orang lain
dalam rangka meningkatkan pengetahuannya. Anak sekolah dasar perlu dipupuk sikap
kerjasamanya agar dapat bekerjasama dengan baik. Kerjasama itu dapat dilakukan pada saat

i
kerja kelompok, pengumpulan data, maupun diskusi untuk menarik suatu kesimpulan hasil
observasi (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E.Kaligis, 1991: 9).

f. Sikap ketekunan
Ilmu bersifat relatif sehingga diperlukan ketekunan untuk terus mengadakan suatu
penelitian atau percobaan (Burhanuddin Salam, 2005: 40). Oleh karena itu, pada saat siswa
mengalami kegagalan dalam kegiatan percobaan, maka siswa sebaiknya tidak langsung putus
asa. Mereka seharusnya mencoba mengulangi percobaan tersebut agar didapatkan data yang
akurat (Endah Dewi Utami, 2012: 33). Dalam hal ini, guru perlu memberikan motivasi pada
siswa yang mengalami kegagalan agar mereka menjadi lebih semangat dalam menemukan
faktafakta IPA.

g. Sikap peka terhadap lingkungan sekitar


Selama belajar IPA, siswa mungkin perlu menggunakan tumbuhan atau hewan yang
ada di lingkungan sekitar sekolah. Siswa mungkin perlu mengambil beberapa jenis ikan kecil
dari kolam atau menangkap sejumlah serangga yang ada di halaman sekolah. Setelah
kegiatan pengamatan/penelitian, siswa perlu mengembalikan makhluk hidup yang telah
digunakan ke habitatnya. Cara ini dapat memupuk rasa cinta dan kepekaan siswa terhadap
lingkungannya. Sikap ini pada akhirnya akan bermuara pada sikap mencintai dan menghargai
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa (Usman Samatowa, 2010: 98).
Penguasaan sikap-sikap ilmiah tersebut merujuk pada sejauh mana siswa mengalami
perubahan pada sikap dan sistem nilai dalam proses keilmuan. Oleh karena itu, pengukuran
sikap ilmiah dapat dilakukan melalui beberapa indikator sikap yang dikembangkan
berdasarkan setiap dimensi untuk memudahkan dalam menyusun instrumen. Untuk lebih
jelasnya, Harlen (Siti Fatonah & Zuhdan K. Prasetyo, 2014: 32-33) menjabarkannya dalam
tabel di bawah ini.
Pengelompokkan sikap ilmiah oleh para ahli cukup bervariasi, variasi tersebut muncul
hanya dalam penempatan dan penanaman sikap ilimiah yang ditonjolkan. Pengelompokkan
tersebut disajikan pada tabel berikut:
Gegga (1977) Harlen (1996) AAAS (1993)
Sikap ingin tahu Sikap ingin tahu Sikap jujur (honesty)
(curiosity) (curiosity) Sikap ingin tahu
Sikap penemuan Sikap respek terhadap (curiosity)

i
(inventiveness) data (respect for Sikap berpikiran
Sikap berpikir kritis evidence) terbuka (open
(critical thinking) Sikap refleksi kritis minded)
Sikap teguh pendirian (critical reflection) Sikap keraguan
(persistence) Sikap ketekunan (skepticism)
(perseverance)
Sikap kreatif dan
penemuan (creativity
and inventiveness)
Sikap berpikiran
terbuka (open
mindedness)
Sikap bekerjasama
dengan orang lain (co-
operation with other)
Sikap keinginan
menerima
ketidakpastian
(willingness to
tolerate uncetaintly)
Sikap sensitif terhadap
lingkungan (sensitivity
to envireonment)

Pengukuran sikap ilmiah siswa sekolah dasar didasarkan pada pengelompokkan sikap
sebagai dimensi sikap. Selanjutnya, dikembangkan indikator-indikator sikap untuk setiap
dimensi sehingga memudahkan menyusun butir instrumen sikap ilmiah. Adapun
penelompokkan dimensi sikap yang dikembangkan Harlen (Siti Fatonah & Zuhdan K.
Prasetyo, 2014: 32-33) disajikan pada tabel berikut:
Dimensi Indikator
Sikap ingin tahu Antusias mencari jawaban.
Perhatian pada obyek yang diamati.
Antusias pada proses sains.

i
Menanyakan setiap langkah kegiatan.
Sikap respek terhadap Obyektif/jujur.
data Tidak memanipulasi data.
Tidak purbasangka.
Mengambil keputusan sesuai fakta.
Tidak mencampur fakta dengan pendapat.
Sikap refleksi kritis Meragukan temuan teman.
Menanyakan setiap perubahan/hal baru.
Mengulangi kegiatan yang dilakukan.
Tidak mengabaikan data meskipun kecil.
Sikap ketekunan Melanjutkan meneliti setelah kebaharuannya hilang.
Mengulangi percobaan meskipun berakibat kegagalan.
Melengkapi satu kegiatan meskipun teman sekelasnya
selesai lebih awal.
Sikap kreatif dan Menggunakan fakta-fakta untuk dasar konklusi.
penemuan Menunjukkan laporan berbeda dengan teman kelas.
Merubah pendapat dalam merespon terhadap fakta.
Menggunakan alat tidak seperti biasanya.
Menyarankan percobaan-percobaan baru.
Menguraikan konklusi baru dari hasil pengamatan.
Sikap berpikiran terbuka Menghargai pendapat/temuan orang lain.
dan bekerja sama dengan Mau merubah pendapat jika data kurang.
orang lain Menerima saran dari teman.
Tidak merasa selalu benar.
Menganggap setiap kesimpulan adalah tentatif.
Berpartisipasi aktif dalam kelompok.
Sikap sensitif terhadap Perhatian terhadap peristiwa sekitar.
lingkungan sekitar Partisipasi pada kegiatan sosial.
Menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

2.2. Pembelajaran yang Bersifat Penyelidikan (Investigation)


Investigasi atau penyelidikan merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan
kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan

i
hasil benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa (Soppeng, 2009) . Kegiatan belajarnya
diawali dengan pemecahan soal-soal atau masalah-masalah yang diberikan oleh guru,
sedangkan kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara
ketat oleh guru, yang dalam pelaksananya mengacu pada berbagai teori investigasi.
Menurut Height (dalam Krismanto, 2004), investigasi berkaitan dengan kegiatan
mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses
penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan
hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam
suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.
Talmagae dan Hart (dalam Soppeng, 1977) menyatakan bahwa investigasi diawali oleh
soal-soal atau masalah-yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajarnya cenderung
terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru. Siswa dapat memilih jalan yang
cocok bagi mereka. Seperi halnya Height, mereka menyatakan pula bahwa karena mereka
bekerja dan mendiskusikan hasil dengan rekan-rekannya, maka suasana investigasi ini akan
menjadi satu hal yang sangat potensial dalam menunjang pengertian siswa.
Menurut Soedjadi (dalam Sutrisno, 1999 : 162), model belajar “investigasi” sebenarnya
dapat dipandang sebagai model belajar “pemecahan masalah” atau model “penemuan”.
Tetapi model belajar “investigasi” memiliki kemungkinan besar berhadapan dengan masalah
yang divergen serta alternatif perluasan masalahnya. Sudah barang tentu dalam
pelaksanaannya selalu perlu diperhatikan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai, mungkin
tentang suatu konsep atau mungkin tentang suatu prinsip
Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya
bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat
mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan
pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam
mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja
kelompoknya. Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat
menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-
pertanyaan yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu menjaga
suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa Investigasi adalah proses
penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan
hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam
suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.

i
2.2.1 Model Pembelajaran Investigasi kelompok
Menurut Aunurrahman (2009:152) Seorang guru dapat menggunakan strategi
investigation kelompok di dalam proses pembelajaran dengan beberapa keadaan, antara lain
sebagai berikut:
 Bilamana guru bermaksud agar siswa-siswa mencapai studi yang mendalam tentang isi
atau materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yang
terpusat pada guru.
 Bilamana guru bermaksud mendorong siswa untuk lebih skeptis tentang ide-ide
yang disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan.
 Bilamana guru bermaksud meningkatkan minat siswa terhadap suatu topik yang
memotivasi mereka membicarakan berbagai persoalan di luar kelas.
 Bilamana guru bermaksud membantu siswa memahami tindakan-tindakan pencegahan
yang diperlukan atas interpretasi informasi yang berasal dari penelitian-penelitian
orang lain yang mungkin dapat mengarah pada pemahaman yang kurang positif.
 Bilamana guru bermaksud mengembangkan keterampilan-keterampilan penelitian,yang
selanjutnya dapat mereka pergunakan di dalam situasi belajar yang lain, seperti halnya
cooperative learning.
 Bilamana guru menginginkan peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.
 Menurut Killen ( dalam Aunurrahman, 1998 : 146) memaparkan beberapa ciri essensial
investigasi kelompok sebagai pendekatan pembelajaran adalah :
a. Para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dan memilki independensi
terhadap guru.
b. Kegiatan-kegiatan siswa terfgokus pada upaya menjawab pertanyaan yang telah
dirumuskan.
c. Kegiatan belajar siswa akan selalu mempersaratkan mereka untuk
mengumpulkan sejumlah data, menganalisisnya dan mencapai beberapa kesimpulan.
d. Siswa akan menggunakan pendekatan yang beragam di dalam belajar.
e. Hasil-hasil dari penelitian siswa dipertukarkan di antara seluruh siswa.

Ibrahim (dalam Yasa, 2000:23) menyatakan dalam kooperatif tipe investigasi


kelompok guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa
heterogen dengan mempertimbangkan keakraban dan minat yang sama dalam topik tertentu.
Siswa memilih sendiri topik yang akan dipelajari, dan kelompok merumuskan penyelidikan

i
dan menyepakati pembagian kerja untuk menangani konsep-konsep penyelidikan yang telah
dirumuskan. Dalam diskusi kelas ini diutamakan keterlibatan pertukaran pemikiran para
siswa.
Berdasarkan uraian di atas bahwa model pembelajaran investigasi kelompok adalah
pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang bersifat heterogen dimana setiap
anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mencapai tujuan
pembelajaran.

2.2.2 Tahapan Melaksanakan Metode Investigasi Kelompok


Slavin (2009: 218), mengemukakan tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran
investigasi kelompok adalah sebagai berikut:
Tahap 1 : Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Murid ke dalam Kelompok (Grouping)
1. Para siswa meneliti beberapa sumber, memilih topik, dan mengkategorikan saran-saran.
2. Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang telah
mereka pilih.
3. Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen.
4. Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.
Tahap 2 : Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari (Planning)
1. Para siswa merencanakan bersama mengenai:
 Apa yang kita pelajari ?
 Bagaimana kita mempelajarinya?
 Siapa melakukan apa? (pembagian tugas).
 Untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini?
Tahap 3 : Melaksanakan Investigasi ( Investigation)
1. Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
2. Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.
3. Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis
semua gagasan.
Tahap 4 : Menyiapkan Laporan Akhir (Organizing)
1. Anggota kelompok menentukan pesan-pesan essensial dari proyek mereka.
2. Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan,
dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka.
3. Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan
rencana-rencana presentasi.

i
Tahap 5 : Mempresentasikan Laporan Akhir (Presenting)
1. Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk.
2. Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif.
3. Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan
presentasi berdasarkan kreteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh
anggota kelas.
Tahap 6 : Evaluasi (Evaluating)
1. Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas
yang telah mereka kerjakan, mengenai keefktifan pengalaman-pengalaman mereka.
2. Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
3. Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.

2.2.3 Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran secara Investigasi


a. Pengertian Masalah
Suatu pertanyaan akan menjadi masalah jika pertanyaan itu menunjukan adanya suatu
tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh si
pelaku ( Fadjar Shadiq, 2004: 10). Definisi di atas mengandung implikasi bahwa suatu
masalah harus mengandung adanya “tantangan” dan “belum diketahuinya prosedur rutin”.
Prosedur rutin di sini adalah soal yang penyelesainnya sudah bisa ditebak, diketahui
rumusnya, dan hanya dengan satu atau dua langkah soal sudah terselesaikan. Tidak semua
pertanyaan merupakan suatu masalah. Bagi seseorang suatu pertanyaan bisa menjadi suatu
masalah sedang bagi orang lain tidak.
Masalah berbeda dengan soal latihan. Pada soal latihan, siswa telah mengetahui cara
menyelesaikannya, karena telah jelas hubungan antara yang diketahui dengan yang
ditanyakan, dan biasanya ada contoh soal. Pada masalah siswa tidak tahu bagaimana cara
menyelesaikannya, tetapi siswa tertarik dan tertantang untuk menyelesaikannya.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat diartikan bahwa suatu pertanyaan akan menjadi
masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat
dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh penjawab pertanyaan, sebab
suatu masalah bagi seseorang dapat menjadi bukan masalah bagi orang lain karena ia sudah
mengetahui prosedur untuk menyelesaikannya.

b. Pemecahan masalah

i
Dalam pembelajaran matematika, masalah-masalah yang sering dihadapi siswa berupa
soal-soal atau tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa. Pemecahan masalah dalam hal ini
adalah aturan atau urutan yang dilakukan siswa untuk memecahkan soal-soal atau tugas-tugas
yang diberikan kepadanya. Menurut Wardhani (2006:16), pemecahan masalah adalah proses
menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi baru yang belum
dikenal. Dengan demikian ciri dari penugasan berbentuk pemecahan masalah adalah:
 Ada tantangan dalam materi, tugas, atau soal.
 Masalah tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan prosedur rutin yang sudah
diketahui penjawab.
Dari uraian diatas dapat diartikan bahwa dalam pemecahan masalah siswa didorong dan
diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif dan berfikir sistematis dalam menghadapi
suatu masalah dengan menerapkan pengetahuan yang didapat sebelumnya.

c. Langkah-langkah menyelesaikan masalah


Menurut Polya (1973:5-22), ada empat langkah dalam menyelesaikan masalah yaitu:
 Memahami masalah
Pada kegiatan ini yang dilakukan adalah merumuskan: apa yang diketahui, apa
yang ditanyakan, apakah informasi cukup, kondisi (syarat) apa yang harus dipenuhi,
menyatakan kembali masalah asli dalam bentuk yang lebih operasional (dapat
dipecahkan).
 Merencanakan pemecahannya
Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah mencoba mencari atau mengingat
masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan dengan sifat yang akan
dipecahkan, mencari pola atau aturan , menyusun prosedur penyelesaian.
 Melaksanakan rencana
Kegiatan pada langkah ini adalah menjalankan prosedur yang telah dibuat pada langkah
sebelumnya untuk mendapatkan penyelesaian .
 Memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian
Kegiatan pada langkah ini adalah menganalis dan mengevaluasi apakah prosedur yang
diterapkan dan hasil yang diperoleh benar, apakah ada prosedur lain yang lebih efektif ,
apakah prosedur yang dibuat dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sejenis, atau
apakah prosedur dapat dibuat generalisasinya.

d. Stategi Pemecahan Masalah

i
Menurut Polya dan Pasmep (Fajar Shadiq, 2004:13) beberapa strategi pemecahan
masalah antara lain:
 Mencoba-coba
Strategi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan gambaran umum pemecahan masalah
(trial and error). Proses mencoba-coba ini tidak akan selalu berhasil, adakalanya gagal.
Proses mencoba-coba dengan menggunakan suatu analisis yang tajam sangat dibutuhkan
pada penggunaan strategi ini.
 Membuat diagram
Strategi ini berkait dengan pembuatan sket atau gambar untuk mempermudah memahami
masalah dan mempermudah mendapatkan gambaran umum penyelesaiannya. Dengan
strategi ini, hal-hal yang diketahui tidak sekedar dibayangkan namun dapat dituangkan ke
atas kertas.
 Mencobakan pada soal yang lebih sederhana
Strategi ini berkait dengan penggunaan contoh-contoh khusus yang lebih mudah dan lebih
sederhana, sehingga gambaran umum penyelesaian masalah akan lebih mudah
dianalisis dan akan lebih mudah ditemukan.
 Membuat table
Strategi ini digunakan untuk membantu menganalisis permasalahan atau jalan pikiran,
sehingga segala sesuatunya tidak hanya dibayangkan saja.
 Menemukan pola
Strategi ini berkait dengan pencarian keteraturan-keteraturan. Keteraturan yang sudah
diperoleh akan lebih memudahkan untuk menemukan penyelesaian masalahnya.
 Memecah tujuan
Strategi ini berkait dengan pemecahan tujuan umum yang hendak dicapai. Tujuan pada
bagian ini dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang sebenarnya.
 Memperhitungkan setiap kemungkinan
Strategi ini berkait dengan penggunaan aturan- aturan yang dibuat sendiri oleh para pelaku
selama proses pemecahan masalah berlangsung sehingga dapat dipastikan tidak akan ada
satu alternatif yang terabaikan.
 Berpikir logis
Strategi ini berkaitan dengan penggunaan penalaran ataupun penarikan kesimpulan yang
sah atau valid dari berbagai informasi atau data yang ada.
 Bergerak dari belakang

i
Dalam strategi ini proses penyelesaian masalah dimulai dari apa yang ditanyakan,
bergerak menuju apa yang diketahui. Melalui proses tersebut dianalisis untuk dicapai
pemecahan masalahnya.
 Mengabaikan hal yang tidak mungkin
Dalam strategi ini setelah memahami masalah dengan merumuskan apa yang diketahui
dan apa yang ditanyakan. Bila ditemukan hal yang tidak berhubungan dengan apa yang
diketahui dan apa ditanyakan sebaiknya diabaikan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa dikatakan mampu memecahkan masalah
apabila telah memenuhi tahap-tahap pemecahan masalah dan menggunakan strategi yang ada,
selain itu pengerjaannya harus sistematis dan jelas.

e. Kaitan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok dan Kemampuan Pemecahan


Masalah
Dari uraian yang telah dijelaskan sebelumnya tampak adanya keterkaitan antara model
pembelajaran investigasi kelompok dan kemampuan pemecahan masalah. Pada tahap-tahap
Investigasi kelompok yaitu : Pengelompokkan, perencanaan, penyelidikan, pengorganisasian,
persentase dan evaluasi. Dari tahap-tahap investigasi kelompok ini berkembang langkah-
langkah pemecahan masalah, yaitu: memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah,
melaksanakan rencana pemecahan masalah dan memeriksa kembali prosedur dan hasil
penyelesaian.

2.3. Pembelajaran Eksperimen Ilmiah berbasis Laboratorium


a. Pengertian
Menurut Polacek & Keeling (2005: 52), laboratory is an ideal environment for students
to develop skill in asking scientific question. Menurut pendapat Polacek & Keeling,
pembelajaran sains yang dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen
laboratorium dapat mengembangkan keterampilan bertanya secara ilmiah. Menurut Saiful
Sagala (2003: 220), eksperimen adalah percobaan untuk membuktikan suatu pertanyaan atau
hipotesis tertentu. Eksperimen bisa dilakukan pada suatu laboratorium atau bisa di luar
laboratorium. Pekerjaan eksperimen mengandung makna belajar untuk berbuat karena itu
dapat dimasukkan ke dalam metode pembelajaran.
Metode eksperimen adalah cara penyajian bahan pelajaran di mana peserta didik
melakukan percobaan dengan mengalami untuk membuktikan sendiri sesuatu pertanyaan atau

i
hipotesis yang dipelajari. Dalam proses pembelajaran dengan metode eksperimen ini peserta
didik diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti proses,
mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang
suatu objek, keadaan atau proses sesuatu. Peran pendidik dalam metode eksperimen ini
sangat penting, khususnya berkaitan dengan ketelitian dan kecermatan sehingga tidak terjadi
kekeliruan dan kesalahan dalam memaknai kegiatan eksperimen dalam proses pembelajaran.
Eksperimen laboratorium mengikutsertakan peserta didik dalam menemukan dan
belajar bagaimana mengalami secara langsung. Tipe aktivitas ini merupakan suatu bagian
yang integral dari belajar sains yang baik. Eksperimen laboratorium melibatkan peserta didik
dalam inkuiri ilmiah yang menempatkan mereka pada posisi mengajukan pertanyaan,
mengajukan pemecahaannya, membuat prediksi, mengobservasi, mengorganisasi data,
menjelaskan pola, dan lain-lain. Eksperimen laboratorium ini mengijinkan peserta didik
untuk merencanakan dan untuk berpartisipasi dalam menginvestigasi atau ambil bagian
dalam kegiatan yang membantu mereka meningkatkan keterampilan laboratorium secara
teknis.
Laboratorium sains merupakan pusat pembelajaran sains karena laboratorium sains
dapat memberikan banyak tujuan. Eksperimen laboratorium mengikutsertakan peserta didik
dalam investigasi di mana mereka dapat mengidentifikasi masalah, merancang prosedur, dan
memberikan gambaran tentang kesimpulan. Aktivitas-aktivitas seperti ini memberikan
kepada peserta didik sikap seperti yang dilakukan oleh ilmuwan dalam bekerja. Eksperimen
laboratorium dapat membantu peserta didik memahami lebih baik konsep-konsep dan
prinsip-prinsip. Secara umum, eksperimen laboratorium dapat mengembangkan hasil-hasil
seperti sikap terhadap sains, sikap ilmiah, inkuiri ilmiah, pengembangan konsep, dan
keterampilan teknis (Collette & Chiappetta, 1993: 198).
Eksperimen laboratorium pada mata pelajaran sains dapat digunakan untuk mencapai
banyak hasil belajar yang berbeda-beda. Eksperimen laboratorium akan memberi peluang
kepada para peserta didik untuk bekerja dengan alat dan bahan-bahan tertentu, bekerja sama
dengan teman, memiliki semangat yang kuat untuk mengungkapkan atau menemukan sesuatu
yang tak diketahui, dan menikmati kepuasan atas hasil-hasil yang dapat dicapai (Subiyanto,
1988: 80).
Menurut Collette & Chiappetta (1994: 199), metode pembelajaran eksperimen
laboratorium memiliki lima kategori yaitu: (1) keterampilan proses sains; (2) deduktif atau
verifikatif; (3) induktif; (4) keterampilan teknis; dan (5) pemecahan masalah. Dalam kegiatan
pembelajaran ini, peserta didik dipersiapkan sehingga eksperimen laboratorium dapat

i
memberi keuntungan kepada mereka. Peserta didik mengetahui mengapa mereka diharapkan
untuk berpartisipasi di dalam aktivitas dan apa yang akan diperoleh dari aktivitas tersebut.
Peserta didik diharapkan mendiskusikan topik yang akan diklarifikasi sebelum melakukan
eksperimen. Pada fase ini, pendidik menginformasikan kepada peserta didik tentang
mengapa, bagaimana, dan apa yang mereka lakukan.
Menurut Trowbridge dan Bybee (2000: 299-300), tujuan eksperimen laboratorium
dalam pembelajaran sains adalah (1) mengembangkan keterampilan dalam memecahkan
masalah dengan cara mengidentifikasi masalah, mengumpulkan dan menginterpretasi data,
dan membuat kesimpulan, (2) mengembangkan keterampilan dalam memanipulasi alat-alat,
(3) membangun kebiasaan mencatat data yang sistematis, (4) mengembangkan sikap ilmiah,
(5) mempelajari metode ilmiah dalam memecahkan masalah, (6) mengembangkan sikap
percaya diri dan tanggungjawab, (7) menyelidiki fakta-fakta alam yang belum terungkap, dan
(8) membangkitkan minat terhadap materi-materi yang berkaitan dengan sains.
Mohan (2007: 170) mengemukakan bahwa eksperimen laboratorium merupakan salah
satu pembelajaran yang unik dan merupakan bagian integral dari pembelajaran sains.
Pembelajaran dengan metode eksperimen membantu peserta didik memahami gagasan yang
kompleks dan abstrak dan memberi peluang kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam
kegiatan di laboratorium. Eksperimen laboratorium melibatkan peserta didik untuk
melakukan aktivitas secara langsung yang membantu mereka dalam investigasi ilmiah serta
untuk melakukan verifikasi terhadap konsep, prinsip, dan hukum dalam bidang sains.
Dari kategori di atas maka pembelajaran sains menggunakan metode eksperimen
laboratorium berpotensi: (1) mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala
alam, konsep, dan prinsip sains yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari; (2) mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya
hubungan yang saling mempengaruhi antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat;
dan (3) meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan sains.
Pendekatan pembelajaran sains adalah konsep dasar yang mewadahi, menginsipirasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Beberapa
pendekatan yang mewadahi pembelajaran sains dengan metode eksperimen laboratorium
adalah:
1) Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses dalam IPA mencakup keterampilan dasar dan keterampilan
terintegrasi. Keterampilan dasar meliputi keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi,
berkomunikasi, melakukan pengukuran metrik, memprediksi/meramal,

i
menginferensi/menyimpulkan, dan menafsirkan. Keterampilan terintegrasi mencakup
mengidentifikasi variabel, menentukan variabel operasional, menjelaskan hubungan
antarvariabel, menyusun hipotesis, merancang prosedur dan melaksanakan
penyelidikan/eksperimen untuk pengumpulan data, memproses/menganalisis data,
menyajikan hasil penyelidikan/eksperimen dalam bentuk tabel/grafik, serta membahas,
menyimpulkan, dan mengomunikasikan secara tertulis maupun lisan.
2) Deduktif atau Verifikatif
Cara berpikir deduktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari pernyataan yang
bersifat umum ke pernyataan yang bersifat khusus dengan memakai kaidah logika tertentu.
Pernyataan dalam cara berpikir deduktif memiliki dasar pikiran utama, dasar pikiran
kedua, dan kesimpulan. Jika dasar pikirannya benar maka kesimpulannya benar.
Pembelajaran dengan cara deduktif ini bertujuan untuk melakukan konfirmasi terhadap
konsep, prinsip, dan hukum-hukum. Banyak konsep, prinsip, dan hukum dapat
dikembangkan melalui pendekatan deduktif di mana pendidik menyampaikannya kepada
peserta didik kemudian diikuti dengan aktivitas laboratorium untuk melakukan verifikasi.
Kegiatan laboratorium dengan pendekatan deduktif ini diawali dengan diskusi terhadap
konsep, prinsip, atau hukum, dilanjutkan dengan menunjukkan contoh-contoh konkret
kemudian melakukan eksperimen secara langsung.
3) Induktif
Dalam cara berpikir induktif kesimpulan dicapai dengan cara mengamati contoh-contoh,
barulah dibuat generalisasi terhadap keseluruhan. Pendekatan induktif memberi peluang
kepada peserta didik mengembangkan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan hukum-hukum
melalui eksperimen secara langsung sebelum gagasan-gagasan tersebut didiskusikan di
dalam kelas. Pendekatan ini menempatkan peserta didik pada posisi mencari pola
hubungan dan mengidentifikasi hubungan antardata yang diperoleh.
4) Keterampilan Teknis
Keterampilan teknis berkaitan dengan kegiatan melakukan pengamatan dengan peralatan
yang sesuai, mengkalibrasi peralatan, melaksanakan percobaan sesuai prosedur, mencatat
hasil pengamatan dan pengukuran dalam tabel dan grafik yang sesuai.
5) Pemecahan Masalah
Kegiatan eksperimen laboratorium memberi kesempatan kepada peserta didik dalam
mengidentifikasi masalah, merancang prosedur, mengumpulkan informasi, dan
melaporkan hasil temuan. Peserta didik akan merasa terlibat dalam mengatur belajarnya
dan mempunyai kecenderungan untuk berpikir dan memahami apa yang mereka lakukan.

i
Peserta didik akan menjadi tertarik dalam belajar ketika mereka mengambil bagian dalam
mengorganisasi cara belajarnya. Dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah
pendidik dapat memotivasi dan memenuhi keinginan untuk mengetahui peserta didik.
b. Laboratorium Sains
Laboratorium adalah tempat berlangsungnya pembelajaran sains secara praktik yang
menggunakan peralatan khusus. Tempat tersebut dapat berupa ruang laboratorium, kelas,
maupun alam terbuka. Suatu laboratorium dilengkapi dengan tenaga laboratorium dan sarana
dan prasarana. Pengelolaan laboratorium dikembangkan sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta dilengkapi dengan manual yang jelas sehingga tidak terjadi
kekeliruan yang dapat menimbulkan kerusakan. Tenaga laboratorium melaksanakan tugas
dan tanggung jawabnya membantu guru mengelola kegiatan praktikum di laboratorium.
Standar Laboratorium IPA (Depdiknas, 2007c: 22-23) adalah:
 Ruang laboratorium IPA berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran
IPA secara praktek yang memerlukan peralatan khusus.
 Ruang laboratorium IPA dapat menampung minimum satu rombongan belajar.
 Rasio minimum luas ruang laboratorium IPA 2,4 m2/peserta didik. Untuk rombongan
belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48
m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2. Lebar minimum ruang
laboratorium IPA 5 m.
 Ruang laboratorium IPA dilengkapi dengan fasilitas untuk memberi pencahayaan yang
memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan.
 Tersedia air bersih.
 Ruang laboratorium IPA dilengkapi sarana seperti perabot, peralatan pendidikan, media
pendidikan, perlengkapan lain

c. Langkah-langkah Pelaksanaan Eksperimen Laboratorium


1. Tahap Persiapan
 Menyampaikan jenis eksperimen
 Merumuskan tujuan eksperimen yang harus dicapai
 Mempersiapkan langkah-langkah eksperimen
 Melakukan uji coba peralatan eksperimen
2. Tahap Pelaksanaan
a. Langkah pembukaan
 Mengatur tempat duduk berdasarkan kelompok eksperimen

i
 Mengemukakan tujuan eksperimen
 Mengemukakan tugas-tugas yang dilakukan peserta didik
b. Langkah pelaksanaan eksperimen
 Membagi peserta didik ke dalam kelompok
 Membagikan petunjuk pelaksanaan eksperimen
 Menjelaskan fungsi alat dan bahan
 Membagi tugas dalam melaksanakan eksperimen
 Melaksanakan eksperimen berdasarkan petunjuk
 Membantu peserta didik dalam melaksanakan eksperimen
 Mencatat data hasil pengamatan
c. Langkah mengakhiri eksperimen
 Meminta peserta didik untuk melukiskan skema susunan peralatan
 Meminta peserta didik untuk mengatur kembali alat dan bahan
 Mengarahkan peserta didik untuk mendiskusikan hasil pengamatan.
 Membagi lembar kerja

d. Kelebihan
Menurut Syaiful Sagala (2003: 220), metode eksperimen laboratorium mempunyai
kelebihan yaitu: (1) metode ini dapat membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran
atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada menerima kata pendidik atau
buku saja; (2) dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksploratoris tentang
sains dan teknologi, suatu sikap dari seorang ilmuwan; (3) metode ini didukung oleh asas-
asas didaktik modern, antara lain: (a) peserta didik belajar dengan mengalami atau
mengamati sendiri suatu proses atau kejadian; (b) peserta didik terhindar dari verbalisme; (c)
memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat objektif dan realistis; (d)
mengembangkan sikap berpikir ilmiah; dan (e) hasil belajar akan tahan lama dan
internalisasi.

e. Kekurangan
Beberapa kelemahan dari metode eksperimen ini yaitu: (1) metode ini menuntut
pendidik berpengetahuan luas karena berbagai ragamnya pertanyaan yang diajukan oleh
peserta didik; (2) metode ini sering menghambat peserta didik, oleh karena menghambat
kegiatan yang seringkali harus dilakukan secara simultan; (3) melalui pengalaman langsung
dalam suasana laboratorium informasi tidak dapat diperoleh dengan cepat, berbeda dengan

i
memperoleh abstraksi melalui penyajian secara lisan atau bacaan; (4) metode ini menuntut
perencanaan yang teliti agar efektif; (5) metode ini cukup mahal karena membutuhkan bahan
yang berharga mahal; (6) metode ini seringkali menyita waktu bila pengelolaan kelas tidak
efisien.

2.4. Pembelajaran Inkuiri Bebas


Pembelajaran inkuiri bebas merupakan pembelajaran dimana guru hanya memeberikan
problem atau masalah, kemudian siswa disuruh untuk memecahkan melalui pengamatan,
eksplorasi dan atau melalui prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Pemecahan
dilakukan siswa atas inisiatif dan caranya sendiri baik secara perorangan atau kelompok.
Suchman dalam Trianto (2001:139) menjelaskan bahwa metode pembelajaran inkuiri bebas
termodifikasi adalah suatu metode pembelajaran yang menuntun siswa mengumpulkan data
melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai alternatife untuk prosedur pengumpulan datanya.
Dengan pembelajaran ini, siswa akan lebih menyadari tentang proses penyelidikannya dan
mereka dapat diajarkan tentang prosedur ilmiah secara langsung. Kegiatan-kegiatan siswa
pada metode pembelajaran inkuiri bebas termodifikasi ini ditekankan pada eksplorasi,
merancang dan melaksanakan eksperimen. Oleh karena itu, guru hanya sedikit membimbing
siswa dan berperan sebagai pendorong, nara sumber dan bertugas memberikan bantuan yang
diperlukan untuk menjamin kelancaran proses kegiatan belajar siswa. Adapun bantuan yang
diberikan guru adalah dengan teknik pertanyaan-pertanyaan, bukan penjelasan. Jadi guru
hanya memeberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mengarahkan siswa kepada
pemecahan masalah yang perlu dilakukan oleh siswa untuk menjamin bahwa siswa tidak
menjadi frustasi atau gagal.
Tahap-tahapan pembelajaran inkuiri bebas termodifikasi berdasarkan Joyce dan Weil
(2009:207) yang meliputi lima tahapan pembelajaran. Adapun tahapan metode pembelajaran
inkuiri bebas termodifikasi dan penerapannya pada pembelajaran dapat ditampilkan pada
gambar dibawah :

i
Lima langkah pada inkuiri bebas ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam
kegiatan pembelajaran di kelas. Siswa akan berperan aktif melatih keberanian, berkomunikasi
dan berusaha mendapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan masalah yang
diberikan oleh guru. Tugas guru adalah memberikan bantuan berupa pertanyaan-pertanyaan
yang sifatnya mengarahkan siswa kepada pemecahan masalah yang perlu dilakukan oleh
siswa, sehingga pembelajarannya dapat berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan

2.5 Menyusun Instrumen Penilaian Sikap Ilmiah


Sikap ilmiah diukur dengan bentuk penilaian non tes. Teknik penilaian non-tes yang
sering digunakan adalah pengamatan ( observasi), melakukan wawancara (interview),
menyebarkan angket (kuesioner), dan dokumen (dokumentasi).
2.5.1 Pengamatan (Observasi)
Pengarnatan adalah cara mengumpulkan data dengan mengadakan pencatatan
terhadap apa yang menjadi sasaran pengamatan. Pada waktu siswa mencatat ciri-ciri tanaman
jagung (rnisalnya keadaan akar, batang, dan daun), sebenamya siswa tersebut sedang
mengadakan pengarnatan. Guru dapat melakukan penilaian sikap ihniah siswa pada waktu
siswa melakukan pengamatan.

i
Pengamatan sebagai alat evaluasi digunakan untuk menilai sikap dan tingkah laku
siswa juga digunakan dalam menilai keterampilan siswa melakukan praktikum/percobaan
sederhana. Pengamatan dapat dilakukan secara partispatif dan non-partisipatif. Pengamatan
partisipatif artinya dalam melakukan pengamatan atau penilaian, guru (pengarnat) ikut
melibatkan diri di tengah-tengah siswa/peserta didik yang sedang diamati. Pengamatan non-
partisipatif yakni pengamat berada di luar kelompok yang diamati. Instrumen pengarnatan
paling banyak digunakan dalam bentuk "skala rating"' dan "daftar cek". Lnstrumen ini sangat
memudahkan peengamat dengan hanya memberi tanda cek (√) pada sikap/prilaku yang
diamati.
Berikut ini contoh instrumen dengan teknik observasi/ pengamatan.
No. Aspek yang Diamati Indikator
1. Sikap Ilmiah yang Ditunjukkan Siswa
a. Sikap ingin tahu  Mengamati objek atau peristiwa yang aneh, baru, dan menarik baginya.
 Mengajukan pertanyaan pada guru apabila belum memahami materi
yang sedang dibahas atau hal lain yang ingin diketahuinya.
 Aktif mencari informasi yang dibutuhkan dari buku pegangan atau
sumber lainnya.
 Memperhatikan dengan sungguh-sungguh penjelasan dari guru.
 Antusias dalam mengikuti pembelajaran IPA.
b. Sikap objektif terhadap  Melakukan kegiatan belajar di sekolah sesuai dengan petunjuk guru.
data/fakta  Menuliskan hasil diskusi kelompok atau diskusi kelas sesuai dengan
sumber yang diperoleh.
 Membuat kesimpulan sesuai dengan fakta yang ada.
 Menghindari tindakan mencontoh hasil diskusi atau hasil pekerjaan
orang lain.
 Menegur teman yang mencontek hasil diskusi atau pekerjaan orang lain.
 Menghindari tindakan menebak-nebak jawaban saat ada kegiatan diskusi
kelompok atau diskusi kelas.
 Meragukan pendapat atau jawaban dari teman yang dirasa kurang tepat.
c. Sikap berpikir kritis  Menanyakan setiap perubahan atau hal yang baru baginya.
 Menanyakan kepada guru apabila terdapat perbedaan antara apa yang
disampaikan oleh guru atau teman dengan yang ada di buku pegangan
atau sumber lainnya.
 Berusaha melengkapi jawaban temannya yang kurang tepat berdasarkan
pengetahuan yang dimiliki.
d. Sikap berpikiran terbuka dan  Bersedia menerima ide-ide atau pendapat yang disampaikan oleh guru
kerjasama atau teman.
 Bersedia memperbaiki hasil diskusi kelompok atau hasil pekerjaannya
berdasarkan saran dari guru atau teman.
 Mengganti kesimpulan apabila kesimpulan sebelumnya ternyata kurang
tepat (terdapat kesimpulan yang lebih tepat).
 Berpartisipasi aktif dalam kegiatan diskusi di kelas.
 Bekerjasama dengan teman sekelompok saat melakukan kegiatan diskusi
atau kegiatan IPA (percobaan).
e. Sikap peka terhadap  Tidak menyakiti hewan atau merusak tumbuhan baik yang pernah
lingkungan sekitar digunakan sebagai sumber belajar IPA ataupun tidak.
 Membuang sampah di tempat sampah.
 Mengambil sampah yang ada di dalam kelas atau di halaman sekolah.
 Menegur teman yang membuang sampah sembarangan atau merusak
lingkungan.
 Mengajak teman-teman untuk menjaga kebersihan kelas dan sekolah.

i
Skala Rating Sikap Berpikir Kritis Siswa
Dimensi Indikator Nomor Butir
Sikap berpikir Meragukan temuan ternan. 5,7
kritis Menanyakan setiap perubahan/hal baru. 1,2
Mengulangi kegiatan yang dilakukan. 4
Tidak mengabaikan data meskipun kecil. 3,6

Rentang
No Aspek-aspek sikap yang dinilai
1 2 3 4
1 Menanyakan tujuan percobaan yang.dilakukan
2 Menanyakan pengg alat dn bahan yg digunakan
3 Mencatat hasil pengamatan yang dilakukan
4 Mencoba mengulangi percobaan yg dilakukan
5 Mempertanyakan hasil pengamatan orang lain
6 Melaporkan hasil pengamatan yang dilakukan
7 Menguji kembali hasil temuan yang berbeda
8 Dan seterusnya ... ... ... ... ... .. ... .... .. .... ..... ..
Teknik pemberian skor perlu diperjelas untuk menentukan kriterian rentang skor.
Seriap butir perlu ditetapkan indikatomya sehingga dapat dilakukan penilaian dengan baik
dan benar. Misalnya, dalam keadaan bagaimana pengamat memberi skor 4 dan dalam
keadaan bagaimana pengamat memberi skor 1. Pada contoh di atas, teknik pemberian skor
dapat dilakukan sebagai berikut:

No. 1. Menanyakan tujuan percobaan yang dilakukan.


a. jika tidak bertanya
b. jika bertanya satu kali
c. jika bertanya dua atau tiga kali
d. jika bertanya lebih tiga kali

No. 2. Menanyakan penggunaan alat dan bahan yang digunakan


a. jika ridak bertanya
b. jika bertanya satu kali

i
c. jika bertanya dua atau tiga kali
d. jika bertanya lebih tiga kali

No. 3. Mencatat hasil pengamatan yang dilakukan


a. tidak mencatat data hasil pengamatan
b. mencatat hasil pengamatan tetapi tidak lengkap
c. mencatat hasil pengamatan lengkap
d. mencatat hasil pengarnatan lengkap, jelas, bemturan

No. 4. Mencoba mengulangi percobaan yang dilakukan


a. tidak mengulangi percobaan
b. mengulangi karena terpaksa
c. mengulangi secara sukarela, tidak lengkap
d. mengulangi secara sukarela, lengkap

No.5. Mempertanyakan hasil penemuan orang lain.


a. tidak menghiraukan temuan ternan
b. membaca sepintas temuan ternan
c. membaca semua temuan ternan
d. membaca semua, member komentar

No. 6. Melaporkan hasil pengamatan yang dilakukan


a. tidak membuat laporan
b. membuat laporan kurang lengkap
c. membuat laporan lengkap
d. membuat laporan lengkap, jelas, beraturan

No.7. Menguji kembali hasil temuan yang berbeda


a. membiarkan saja hasil temuan yang berbeda
b. menguji kembali tidak lengkap
c. menguji kembali dengan lengkap
d. menguji kembali, lengkap, jelas beraturan

i
Catalan: Skor mentah total diperoleh dengan menjumlahkan skor dari setiap aspek yang
menunjang komponen yang bersangkutan. Skor baku diperoleh (jika diperlukan) untuk setiap
komponen berdasarkan ekuvalensi skor mentah masing-masing komponen.

Dimensi Sikap ingin tahu


 Antusias mencari jawaban.
 Melakukan kegiatan esksperimen untuk mencari jawaban sampai tuntas (4)
 Melakukan kegiatan eksperimen tetapi belum menemukan jawaban dari rasa
ingin tahunya (3)
 Bertanya hanya untuk mencari jawaban tanpa melakukan eksperimen (2)
 Tidak melakukan apa-apa (1)
 Perhatian pada obyek yang diamati.
 Mengetahui karakteristik atau permasalahan dari objek yang diteliti (4)
 Mengetahui permasalahan pada objek yang diteliti (3)
 Tidak mengetahui karakteristik dan permasalahan objek yang diteliti (2)
 Tidak melakukan tindakan apapun (1)
 Antusias pada proses sains.
 Jika bertanya lebih tiga kali (4)
 Jika bertanya dua atau tiga kali (3)
 Jika bertanya satu kali (2)
 Jika tidak bertanya (1)
 Menanyakan setiap langkah kegiatan.
 Jika bertanya lebih tiga kali (4)
 Jika bertanya dua atau tiga kali (3)
 Jika bertanya satu kali (2)
 Jika tidak bertanya (1)

Dimensi Sikap respek terhadap data


 Obyektif/jujur.
 Mencatat data pengamatan yang didapat sesuai dengan eksperimen dengan
lengkap, jelas, dan beraturan (4)
 Mencatat hasil pengamatan lengkap (3)
 Mencatat hasil pengamatan tetapi tidak lengkap (2)

i
 Tidak mencatat data hasil pengamatan (1)
 Tidak memanipulasi data.
 Mencatat data pengamatan yang didapat sesuai dengan eksperimen dengan
lengkap, jelas, dan beraturan (4)
 Mencatat hasil pengamatan lengkap (3)
 Mencatat hasil pengamatan tetapi tidak lengkap (2)
 Tidak mencatat data hasil pengamatan (1)
 Mengambil keputusan sesuai fakta.
 Mengambil data pengamatan yang didapat sesuai dengan eksperimen dengan
lengkap, jelas, dan beraturan (4)
 Mengambil hasil pengamatan lengkap (3)
 Mengambil hasil pengamatan tetapi tidak lengkap (2)
 Tidak mengambil data hasil pengamatan (1)
 Tidak mencampur fakta dengan pendapat.

Dimensi Sikap refleksi kritis


 Meragukan temuan teman.
 Tidak menghiraukan temuan ternan (1)
 Membaca sepintas temuan ternan (2)
 Membaca semua temuan ternan (3)
 Membaca semua, member komentar (4)
 Menanyakan setiap perubahan/hal baru.

 Mengulangi kegiatan yang dilakukan.


 Tidak mengulangi percobaan (1)
 Mengulangi karena terpaksa (2)
 Mengulangi secara sukarela, tidak lengkap (3)
 Mengulangi secara sukarela, lengkap (4)

 Tidak mengabaikan data meskipun kecil.

Dimensi Sikap ketekunan


 Melanjutkan meneliti setelah kebaharuannya hilang.

i
 Mengulangi percobaan meskipun berakibat kegagalan.
 Melengkapi satu kegiatan meskipun teman sekelasnya selesai lebih awal.

Dimensi Sikap kreatif dan penemuan


 Menggunakan fakta-fakta untuk dasar konklusi.
 Menunjukkan laporan berbeda dengan teman kelas.
 Merubah pendapat dalam merespon terhadap fakta.
 Menggunakan alat tidak seperti biasanya.
 Menyarankan percobaan-percobaan baru.
 Menguraikan konklusi baru dari hasil pengamatan.

Dimensi Sikap berpikiran terbuka dan bekerja sama dengan orang lain
 Menghargai pendapat/temuan orang lain.
 Mau merubah pendapat jika data kurang.
 Menerima saran dari teman.
 Tidak merasa selalu benar.
 Menganggap setiap kesimpulan adalah tentatif.
 Berpartisipasi aktif dalam kelompok.

Dimensi Sikap sensitif terhadap lingkungan sekitar


 Perhatian terhadap peristiwa sekitar.
 Partisipasi pada kegiatan sosial.
 Menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

i
DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin Salam. (2005). Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara.

Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis. (1991). Pendidikan IPA II. Jakarta: Depdiknas.

Hurlock, Elizabeth B. (2008). Perkembangan Anak, (Alih bahasa: Med. Meitasari Tjandrasa
dan Muslichah Zarkasih). Jakarta: Erlangga.

Maskoeri Jasin. (2010). Ilmu Alamiah Dasar. rev.ed. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Patta Bundu. (2006). Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dalam Pembelajaran
Sains Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Tinggi Direktorat
Ketenagaan.

Siti Fatonah dan Zuhdan K. Prasetyo. (2014). Pembelajaran Sains. Yogyakarta: Ombak.

Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.

Usman Samatowa. (2010). Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta Barat: PT Indeks
Permata Puri Media.
.(2006). Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar.
Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan.