Anda di halaman 1dari 8

Hidup Adalah Ujian

Hidup, terkadang manusia sering lupa apa sebenarnya hidup itu. Kita menjalani hidup namun
kita tidak tahu untuk apa kita hidup? Siapa yang menghidupkan kita? Mengapa kita dihidupkan? dan
Bagaimana kita menjalani hidup?

Pertanyaan-pertanyaan diatas akan menggugah pikiran dan hati kita untuk menerjemahkan
pengertian hidup yang sebenarnya. Penjelasan pertama tentang, untuk apa kita hidup?. Allah swt. telah
menjelaskan dengan gamblang dalam beberapa firman-Nya :
ِ ‫ق َو َما أ ُ ِريدُ أَن يُط ِع ُم‬
‫ون‬ ٍ ‫ َما أ ُ ِريدُ مِ ن ُهم مِ ن ِرز‬. ‫ُون‬ َ ‫َو َما َخلَقتُ ال ِج َّن َواإلن‬
ِ ‫س إِال ِليَعبُد‬

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak
menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku
makan.” (QS. Adz-Dzariyat : 56 - 57)

‫َواعبُد َربَّكَ َحتَّى يَأتِيَكَ اليَقِين‬

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu suatu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr :
99)

Kita hidup di dunia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang dimaksud di sini bukan
hanya ibadah yang bersifat ‘ubudiyyah saja, akan tetapi ibadah yang bersifat ‘amaliyyah juga. Ibadah
yang bersifat ‘ubudiyyah seperti menjalankan shalat, puasa, haji, zakat dan lain-lain. Sedangkan ibadah
yang bersifat ‘amaliyyah seperti sedekah, membantu orang lain, bekerja untuk membiayai keluarga,
menuntut ilmu dan lain-lain. Semua itu akan bernilai ibadah manakala diniatkan untuk beribadah atau
mengabdi hanya kepada-Nya.

Pertanyaan yang kedua, siapa yang menghidupkan kita?. Jawabannya pasti Allah swt. Dia-lah
yang menciptakan, memberi rezeki, melindungi dan memelihara kita.
‫علَى ُك ِِّل شَيءٍ َوكِيل‬
َ ‫ال ِإلَهَ ِإال ه َُو خَا ِل ُق ُك ِِّل شَيءٍ فَاعبُدُوهُ َوه َُو‬

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia,
dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (QS. Al-An’am : 102)

َّ ‫قُ ِل‬
ُ ‫َّللا ُ خَال ُِق ُك ِِّل شَيءٍ َوه َُو ال َواحِ د ُ القَ َّه‬
‫ار‬

“Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa." (QS. Ar-Ra’d : 16)
Allah swt. sebagai Pencipta segala sesuatu termasuk manusia telah menegaskan bahwa :
‫َّللاُ الَّذِي َخلَقَ ُكم ث ُ َّم َرزَ قَ ُكم ث ُ َّم يُمِ يت ُ ُكم ث ُ َّم يُح ِيي ُكم‬
َّ

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian
menghidupkanmu (kembali).” (QS. Ar-Rum : 40)

Jadi, jelaslah bahwa Allah swt. telah menciptakan kita dan menanggung semua kebutuhan yang
dibutuhkan kita. Akan tetapi, mengapa banyak manusia yang mengingkarinya? Jawabannya ada pada
diri manusia itu sendiri. Mereka punya akal, mengapa mereka tidak gunakan akalnya untuk berfikir.
Mereka punya hati, mengapa mereka tidak mau menginstropeksi diri. Dan mereka punya kemampuan,
mengapa mereka tidak gunakan untuk mengabdi kepada Tuhan.

Pertanyaan yang ketiga, mengapa kita dihidupkan?.Kita diciptakan oleh Allah swt. atas
kehendak-Nya. Allah swt. menciptakan kita di dunia untuk menguji dan memberi penghormatan sebagai
khalifah di muka bumi ini. Sebagaimana difirmankan dalam ayat-Nya.
‫ِّس لَكَ قَا َل إِنِِّي‬ َ ُ‫ض َخلِيفَةً قَالُوا أَت َجعَ ُل فِي َها َمن يُف ِسدُ فِي َها َويَس ِفكُ ال ِدِّ َما َء َونَحنُ ن‬
ُ ‫س ِبِّ ُح بِ َحمدِكَ َونُقَ ِد‬ ِ ‫َوإِذ قَا َل َربُّكَ لِل َمالئِ َك ِة إِنِِّي َجاعِل فِي األر‬
َ‫أَعلَ ُم َما ال ت َعلَ ُمون‬

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di
bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah : 30)

Jadi, kita dihidupkan oleh Allah swt. di muka bumi untuk menjadi khalifah. Banyak penafsiran
yang mengartikan arti khalifah. Ada yang menafsirkan, manusia diciptakan sebagai pelestari bumi, agar
bumi tetap lestari dan terpelihara dengan baik. Namun, seiring perjalanan bumi, ternyata manusia lebih
banyak yang menjadi perusak dibanding pelestari. Karena Allah swt. telah menjelaskan :
َ‫َّللاِ ث ُ َّم يُنك ُِرونَ َها َوأَكث َ ُر ُه ُم الكَاف ُِرون‬
َّ َ‫يَع ِرفُونَ نِع َمة‬

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang kafir.” (QS. An-Nahl : 83)

َ‫اس َولَك َِّن أَكث َ َرهُم ال يَش ُك ُرون‬ َ ‫َوإِ َّن َربَّكَ لَذُو فَض ٍل‬
ِ َّ‫علَى الن‬

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai karunia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada
manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri (nya).” (QS. An-Naml : 73)
Kita diciptakan oleh Allah swt. atas kehendak-Nya. Namun, di balik penciptaan itu, Allah akan menguji
dan memberikan penghormatan besar kepada manusia. Jika manusia dapat bersabar dalam menghadapi
ujian itu, maka Allah akan memuliakannya. Akan tetapi jika manusia tidak mau bersabar dan cenderung
ingkar terhadap ujian Allah, maka Allah akan menghinakannya. Sebagaimana janji Allah dalam firman-
Nya :

‫ب‬
ٍ ‫سا‬ َّ ‫ُز ِيِّنَ ِللَّذِينَ َكف َُروا ال َح َياة ُ الدُّن َيا َو َيسخ َُرونَ مِ نَ الَّذِينَ آ َمنُوا َوا َّلذِينَ اتَّقَوا فَوقَ ُهم َيو َم ال ِق َيا َم ِة َو‬
َ ِ‫َّللاُ َير ُز ُق َمن َيشَا ُء ِبغَي ِر ح‬

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina
orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari
kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al-
Baqrah : 212)

Pertanyaan yang terakhir, bagaimana kita menjalani hidup?. Menjalani hidup harus didasari
dengan kesabaran dan ketaatan kepada Allah swt. Sebab, pada hakikatnya hidup adalah cobaan.
Kebaikan yang kita terima dan keburukan yang kita alami semata-mata hanyalah cobaan dari Allah swt.
َ‫ش ِ ِّر َوالخَي ِر فِتنَةً َوإِلَينَا تُر َجعُون‬ ِ ‫ُك ُّل نَف ٍس ذَائِقَةُ ال َمو‬
َّ ‫ت َونَبلُو ُكم بِال‬

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu akan
dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’ : 35)

Hidup yang kita jalani ini hanyalah sebuah ujian dari Allah swt. Barangsiapa yang sabar dalam
menghadapi ujian ini, maka ia akan memperoleh kehidupan yang hakiki dan mulia di sisi-Nya. Namun,
jika ia tidak mau bersabar, maka Allah swt. akan menghinakannya. Sebab, Allah swt. hanya akan
memandang amal dan keikhlasan kita dalam menjalani hidup, bukan kemewahan dan kesombongan
kita.
َ ‫ِإنَّ َما ال َح َياة ُ الدُّن َيا لَعِب َولَهو َو ِإن تُؤمِ نُوا َوتَتَّقُوا يُؤ ِت ُكم أ ُ ُج‬
‫ور ُكم َوال َيسأَل ُكم أَم َوالَ ُكم‬

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta
bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS.
Muhammad : 36)

Maka, jelaslah bahwa kita hidup di dunia ada yang menghendaki. Dan Dzat yang menghendaki
akan memberi ujian dan penghormatan besar bagi siapa saja yang mau bersabar dalam menjalankan
amal dan ibadah kepada-Nya. Allah swt. telah menciptakan kita sekaligus mencukupi kebutuhan kita.
Namun, kebanyakan di antara kita mengingkari dan melupakan nikmat yang diberikan Allah kepada
mereka.

Hanya orang-orang yang mau bersabar dalam beramal ibadah-lah yang akan mendapat
keuntungan yang besar. Mereka sabar menjalani kehidupan, mereka sabar menghadapi cobaan, dan
mereka sabar menunaikan amalan-amalan.
َ ‫ص َب ُروا أَج َرهُم ِبأَح‬
َ‫س ِن َما كَانُوا َيع َملُون‬ َ َ‫ق َولَنَج ِز َي َّن الَّذِين‬ َّ َ‫َما ِعندَ ُكم َينفَدُ َو َما عِند‬
ٍ ‫َّللاِ َبا‬

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya
Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 96)

SABAR MENGHADAPI UJIAN HIDUP

Ketahuilah, ujian dan cobaan di dunia merupakan sebuah keharusan, siapa pun tidak bisa terlepas
darinya. Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan
merupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman seseorang kepada Allah SWT

Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan satu
ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu
menghalau ketentuan tersebut.

Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah sangat kita butuhkan dalam
menghadapi badai cobaan yang menerpa. Sehingga tidak menjadikan diri kita berburuk sangka kepada
Allah SWT terhadap segala Ketentuan-Nya.

Oleh karena itu, dalam keadaan apapun, kita sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT harus
senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan
berbagai musibah melainkan sebagai ujian atas keimanan yang kita miliki. Allah sebagaimana tertulisa
dalam firman-Nya : “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum
datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan)
sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah?
Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)

Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim
dalam menghadapi ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebagaimana dalam firman-Nya : “…Allah
mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)

Macam-Macam Kesabaran

Ibnul Qoyyim mengatakan dalam Madarijus Salikin : “Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah dan
marah, menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (tidak lurus).
Sabar ada tiga macam, yaitu sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari maksiat, dan sabar
dari cobaan Allah.”

Tingkatan sabar :

1. Sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena takut ancaman Allah, Kita harus selalu berada dalam
keimanan dan meninggalkan perkara yang diharamkan. Yang lebih baik lagi adalah, sabar dari
meninggalkan kemaksiatan karena malu kepada Allah. Apabila kita mampu muraqabah (meyakini dan
merasakan Allah sedang melihat dan mengawasi kita) maka sudah seharusnya kita malu melakukan
maksiat, karena kita menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita kerjakan. Sebagaimana
tertulis dalam firman-Nya, di surah Al Hadid ayat 4 ” …….. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu
berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

2. Tingkatan sabar yang kedua adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dengan terus-
menerus melaksanakannya, memelihara keikhlasan dalam mengerjakannya dan memperbaikinya.
Dalam menjalankan ketaatan, tujuannya hanya agar amal ibadah yang dilakukan diterima Allah,
tujuannya semata-mata ikhlas karena Allah SWT.

Ada Beberapa Hal Yang Akan Menuntun Seorang Hamba Untuk Bisa Sabar Dalam Menghadapi Ujian
Dan Cobaan, Sebagai Berikut :

1. Sebaiknya kita merenungkan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Dan Allah menimpakan ujian atau
musibah-musibah tersebut mungkin disebabkan dosa-dosa kita . Sebagaimana firman Allah SWT
: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuro : 30).

Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah-musibah yang menimpa disebabkan oleh dosa-
dosanya. Maka dia akan segera bertaubat dan meminta ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang telah
dilakukannya

Dan Nabi Muhammad saw bersabda: “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan
duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan
buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-
daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Jadi ujian dan cobaan, bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita dan
juga untuk mengangkat kita ke derajat keimanan yang lebih tinggi.

2.. Kita harus menyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah selalu ada bersama kita. Dan Allah telah
memberikan jaminan untuk kita dalam surah Al Baqarah ayat 286, bahwa ” Allah tidak akan membebani
seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Dan Allah cinta dan ridha kepada orang yang
sabar. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya sbb: dan sabarlah sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar. (QS Al Anfal : 46) Dan Firman-Nya : “…Dan Allah mencintai orang-orang yang
sabar.” (QS.Al Imran : 146)

Bersabarlah maka kita akan melihat betapa dekatnya kelapangan


Barangsiapa yang muraqabah (merasa diawasi) Allah dalam seluruh urusan, ia akan menjadi hamba
Allah yang sabar dan berhasil melalui ujian apapun dalam hidupnya. Kesabaran yang didapatkan ini,
berdasarkan pada petunjuk Allah dalam Al Quran, surah At Thur ayat 48 : Dan bersabarlah dalam
menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri” Dan ketahuilah, bahwa
barangsiapa yang mengharapkan Allah, maka Allah akan ada dimana dia mengharap.

3. Kita harus mengetahui bahwa jika kita bersabar, maka akan mendatangkan ridha Allah, karena ridha
Allah SWT, terdapat dalam kesabaran kita, terhadap segala ujian dan ketentuan takdir-Nya, yang kurang
kita sukai.

Keutamaan Sabar

Sabar memiliki kedudukan tinggi yang mulia dalam agama Islam. Oleh karena itu, Al Imam Ibnul Qayyim
mengatakan bahwa sabar setengah dari keimanan dan setengahnya lagi adalah syukur. Lebih jelasnya,
akan diuraikan beberapa penyebutan ash-shabr dalam Al Qur’an dengan uraian yang ringkas sebagai
berikut:

1. Sabar Merupakan Perintah Mulia Dari Rabb Yang Maha Mulia


Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,..” (QS. Al-Baqarah: 153)
dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan
kuatkanlah kesabaranmu,..…” (QS.Ali Imran: 200)

Konteks (kandungan) dari kedua ayat diatas menerangkan bahwa sabar merupakan perintah dari Allah
SWT. Sabar termasuk ibadah dari ibadah-ibadah yang Allah wajibkan kepada hamba-Nya. Terlebih lagi,
Allah SWT kuatkan perintah sabar tersebut dalam ayat yang kedua. Barangsiapa yang memenuhi
kewajiban itu, berarti ia telah menduduki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT

2. Pujian Allah SWT Terhadap Orang-Orang Yang sabar


Allah SWT memuji mereka sebagai orang-orang yang benar dalam keimanannya. Sebagaimana firman-
Nya: “….. dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka
itulah orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:
177)

Dalam kitab Madarijus Salikin 2/152 Al Imam Ibnul Qayyim, mengutarakan bahwa ayat yang seperti ini
banyak terdapat dalam Al Qur’an. Sehingga keberadaan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari
Allah adalah benar-benar menjadi barometer keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

3. Mendapat Kecintaan Dari Allah SWT

Semua orang yang beriman berharap menjadi golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT. Dan
Allah mengabarkan kepada hamba-Nya bahwa golongan yang mendapatkan kecintaan-Nya adalah
orang-orang yang sabar terhadap ujian dan cobaan dari-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya
“…….., dan Allah itu menyukai/mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)

.Dan Allah selalu bersama orang-orang yang sabar, seperti tertulis dalam firman-Nya: “…..…dan
bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Yang dimaksud dengan Allah bersama orang-orang yang sabar adalah penjagaan dan pertolongan Allah
SWT selalu menyertai orang-orang yang sabar. Sebagaimana pula diterangkan dalam hadits berikut ini:

“Ketahuilah olehmu! Bahwasannya datangnya pertolongan itu bersama dengan kesabaran.” (HR. At
Tirmidzi, dari shahabat Ibnu ‘Abbas ra)
4.. Shalawat, Rahmat dan Hidayah Bersama Orang Yang Sabar
Allah SWT senantiasa mencurahkan shalawat, rahmat dan hidayah-Nya kepada orang-orang yang sabar.
Karena jika mereka ditimpa ujian dan cobaan dari Allah mereka kembalikan urusannya kepada Sang
Pencipta, yang memilikinya.

Sifat mulia yang dimiliki orang yang sabar ini dikisahkan oleh Allah dalam firman-Nya disurah Al
Baqarah, ayat 156-157 : “orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (esungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami
kembal). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Atas dasar ini, bila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, dianjurkan mengucapkan kalimat ini,
dan ini yang dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’
akan lebih sempurna lagi jika ditambah setelahnya dengan do’a yang diajarkan oleh baginda Nabi
Muhammad saw sebagai berikut :“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan
gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”

Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan do’a di atas niscaya Allah SWTakan
menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam
Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)

Suatu ketika Ummu Salamah ditinggal suaminya Abu Salamah yang mati syahid di medan perang (jihad).
Kemudian beliau mengucapkan do’a ini, sehingga Allah SWT memenuhi janji-Nya dengan memberikan
pendamping (jodoh) baginya dengan sebaik-baik pendamping yaitu Rasulullah saw. Sesungguhnya Allah
SWT tidak akan mengingkari janji-Nya.

5.. Mendapatkan Ganjaran Yang Lebih Baik Dari Amalannya


Allah SWT memberikan ganjaran bagi orang yang sabar melebihi usaha atau amalan yang ia lakukan.
Sebagaimana firman-Nya :

“……Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. “
(An Nahl: 126)
Dalam ayat lainnya, Allah SWT menjanjikan akan memberikan jaminan kepada orang yang sabar dengan
ganjaran tanpa hisab (tanpa batas). Sebagaimana firman-Nya : “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku
yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh
kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang
dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az Zumar: 10)

6.. Mendapat Ampunan Dari Allah SWT

Selain Allah memberikan ganjaran yang lebih baik dari amalannya kepada orang yang sabar, Allah juga
memberikan ampunan kepada mereka. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : ”kecuali orang-orang
yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan
pahala yang besar”. (Hud: 11)

Dari ‘Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa
seorang muslim, melainkan Allah SWT telah menghapus dengan musibah itu dosanya. Meskipun
musibah itu adalah duri yang menusuk dirinya.” (HR. Al-Bukhari no. 3405 dan Muslim 140-141/1062)
7.. Mendapat Martabat Tinggi Di Dalam Surga
Anugerah yang lebih besar bagi orang-orang yang sabar adalah berhak mendapatkan martabat yang
tinggi dalam Surga. Allah SWT berfirman : “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang
tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan
ucapan selamat di dalamnya. (Al Furqaan: 75)

8.. Sabar Adalah Jalan Terbaik


Semua uraian di atas menunjukkan bahwa sabar ialah jalan yang terbaik bagi siapa saja yang
menginginkan kebaikan dunia dan akhiratnya.
Dari shahabat Shuhaib bin Sinan, Rasulullah saw bersabda :
“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin, sungguh semua urusannya baik baginya, yang demikian
itu tidaklah dimiliki seorang pun kecuali hanya orang yang beriman. Jika mendapat kebaikan (kemudian)
ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika keburukan menimpanya (kemudian) ia
bersabar, maka itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas.
Sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan
ganjaran/pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)

Coba kita renungkan, bukankah kita selalu mampu untuk bisa sabar dalam menerima ujian-Nya yang
berupa nikmat hidup? Maka sudah seharusnya kita juga harus bisa sabar dalam menerima unjian-Nya
yang berupa kehilangan nikmat hidup, istilahnya, jangan mau terima yang enak-enak saja.

Jadi kita sebaiknya harus bisa bersabar dalam menghadapi segala macam ujian dalam hidup kita,
terutama setelah kita mengetahui keutamaan besar yang Allah SWT janjikan bagi hamba-Nya yang
bersabar.