Anda di halaman 1dari 24

Tinjauan Pustaka

Human Papilloma Virus

Oleh

Stevhen Wijaya, S.Ked

NIM 1730912310127

Pembimbing

dr. Hariadi, Sp.OG(K)

DEPARTEMEN OBSTETRI GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN ULM / RSUD ULIN
BANJARMASIN
SEPTEMBER, 2019
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 2

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 21

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Kanker merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi di dunia, ditandai

dengan pertumbuhan sel dan penyebaran jaringan secara abnormal. Berdasarkan

data WHO pada tahun 2012, kanker serviks merupakan kanker keempat yang

paling umum pada wanita, dengan perkiraan 265.563 kematian dan 527.624 kasus

baru pada tahun 2012. Faktor utama yang mengakibatkan infeksi persisten kanker

serviks adalah Human papilloma virus (HPV).1

Penelitian mengenai HPV dipicu tidak hanya karena infeksi yang muncul

semakin luas secara diam-diam tanpa gejala yang jelas, tapi juga disebabkan oleh

sejauh mana tingkat progresifitas keparahan dari penyakit terkait infeksi HPV.

Hasil yang paling signifikan yaitu terjadinya kanker serviks, yang disebabkan oleh

infeksi persisten dari grup high-risk Human Papilloma Virus (hrHPV). Grup low-

risk Human Papilloma Virus (lrHPV) juga dapat menyebabkan penyakit yang

cukup mengganggu bagi beberapa individu.2

Infeksi HPV sendiri tidak cukup untuk menyebabkan kanker serviks tanpa

didukung oleh faktor resiko seperti merokok, konsumsi kontrasepsi oral jangka

panjang, koinfeksi, multiparitas, dan penyakit yang berhubungan dengan kelainan

sistem imun sehingga perlu dipelajari lebih lanjut untuk mengurangi angka

mortalitas.2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Struktur Virus

Human Papiloma Virus (HPV) merupakan famili Papilomaviridae adalah DNA

beruntai ganda yang kecil dan merupakan virus yang menginfeksi epitel. Dari 16

genus yang dimiliki famili papilomaviridae, 5 genus diantaranya menginfeksi

manusia yaitu Alphapapillomavirus, Betapapillomavirus, Gammapapillomavirus,

Mupapillomaviurs dan Nupapillomavirus. Human Papillomavirus yang paling

sering ditemukan pada pasien berada dalam genus Alphapapillomavirus.3

Human papillomavirus (HPV) merupakan virus DNA non-envelop yang

relative kecil dengan ukuran sekitar 8000 bp dan manusia merupakan satu-satunya

inang bagi virus ini. Genom HPV diselubungi oleh kapsid ikosahedral. dengan

diameter 55nm, hanya mengkode 8 gen (8 ORFs), yaitu 6 gen pada Early gen

(ER) dan 2 gen pada Late gen (LR). Early Region (ER), berisi gen yang

mengkode protein non-struktur. Early region (ER) mengkode protein untuk

bentuk virus atau proses replikasi, transkripsi virus dan regulasi gen virus serta

bersifat onkogen. Early gen terbentuk dalam beberapa protein gen seperti: E1, E2,

E4, E5, E6 dan E7. Late Region (LR), berisi gen yang mengkode protein

pembentukan kapsid virus serta mengkode struktur protein. Late Region terbentuk

dalam dua protein gen yaitu L1 dan L2 yang dikenal sebagai kapsid mayor

(protein L1) dan kapsid minor (protein L2).3

2
Protein kapsid mayor L1 merupakan target protein bagi respon imun

humoral dan berguna sebagai penanda untuk infeksi aktif HPV HPV. L1 dapat

berubah sendiri menjadi VLP yang bersifat imunogenik dan merangsang reaksi

antibodi. Partikel HPV mengandung protein L2 dengan jumlah yang bervariasi,

yang tidak sepenuhnya terekspos pada permukaan virus, berbeda dengan asam

amino dan protein N-terminal 120 yang dimiliknya.15,16 Selama proses infeksi,

protein L2 akan tersedia untuk proses pengikatan/peleburan ke dalam matriks

ekstraseluler, lalu kemudian ia akan dibelah oleh purin.3

Genom virus juga mengatur enkoding protein yang menstimulasi cell cycle

entry dan proliferasi sel, sama halnya dengan protein yag memediasi genom virus

untuk bereplikasi, pemasangan virus, dan kemungkinan juga efektif dalam

pelepasan dan transmisi virus. Meskipun mayoritas dari gen tersebut sudah

disimpan dalam early-region virus, produk gen L2 juga mempunyai kunci

immediateearly functions dalam pengiriman genom virus di dalam sel dan juga

berperan dalam mengatur penyusunan genom yang tepat.3

2. Kelompok Genom

Protein E1 berperan dalam mempersiapkan genom virus untuk bereplikasi

mengikuti siklus sel pejamu. Protein E2 menjaga bentuk sepisomal genom virus

dan mengatur proses transkripsi, protein E4 memfasilitasi replikasi virus dan

mengganggu sitoskeleton untuk mekanisme pengeluaran virion dari sel yang telah

berdiferensiasi, protein E5 memodifikasi fungsi dari reseptor growth factor,

protein E6 dan E7 merupakan komponen onkogenik utama dari genom HPV.

3
produk E6 akan berikatan dengan tumor suppressor protein p53 dan membuat sel

berada pada fase S pada siklus sel sehingga menghambat apoptosis dan

meningkatkan kemampuan untuk bertransformasi. Protein E7 berikatan dengan

tumor suppressor pRB yang menyebabkan tumorigenesis.3

Protein E5 dapat berinteraksi dengan jalur yang menginduksi epidermal

growth factor receptor (EGFR). Ekspresi berlebihan dari EGFR akan meregulasi

trankripsi gen dan memodulasi proliferasi sel, apoptosis, angiogenesis, invasi

tumor, dan metastase. Ekpresi dari E5 juga dapat mengurangi ekspresi dari

MHC/HLA kelas 1 yang memfasilitasi mekanisme penghindaran virus terhadap

respon imun pejamu.3

Gambar 1. Struktur Genom HPV

4
Protein E6 memiliki target utama yaitu p53 yang merupakan tumor

supresor. P53 berperan sebagai faktor transkripsi yang dapat menghentikan siklus

sel atau memulai apoptosis akibat dari adanya kerusakan DNA. Normalnya,

kondisi seperti kerusakan DNA akan meningkatkan kadar p53 untuk memulai

apoptosis atau penghentian siklus sel. Protein E6 mengintervensi proses ini

dengan cara berikatan dengan p53 sehingga proses apoptosis sel tidak terjadi.3

Protein E7 merupakan suatu onkoprotein yang multifungsi mulai dari

menghambat diferensisasi dan mengaktivasi siklus sel. Target utama dari protein

E7 adalah protein retinoblastoma (pRb). Protein E7 memiliki fungsi yang analog

dengan fosforilasi pRb sehingga protein virus akan berikatan dengan pRb dan

melepas E2F. Hal ini akan menyebabkan aktivasi dari gen yang esponsiv terhadap

E2F yang mengkode baik siklus sel maupun replikasi virus.3

3. Patogenesis

Human papilloma Virus menginfeksi keratinosit pada stratum basal epitel

serviks. Keratinosit pada traktus genital wanita mengekspresikan beberapa toll-

like receptor (TLR), yang terdapat pada permukaaan selnya (TLR-1, TLR-2, TLR-

4, TLR-5 dan TLR 6) atau pada endosomnya (TLR-3 dan TLR-9). TLR

merupakan sistem imun yang mengenali pathogen-associated molecular patterns

(PAMPs), aktivasi dari TLR akan memberikan sinyal untuk aktivasi jalur respon

imun alami dan adaptif. TLR yang berada di endosom berperan dalam melawan

infeksi virus dan mengenali asam nukleat dari virus; TLR-3 mengenali dsRNA,

TLR-7 dan TLR-8 mengenali ssRNA, dan TLR-9 mengenali ds CpG-rich DNA.

5
Aktivasi dari reseptor ini akan merangsang produksi dari sitokin dan membuat

lingkungan proinflamatory. HPV dapat memodifikasi kadar sitokin untuk

mekanisme penghindaran terhadap system imun ini. Aktivasi dari TLR-9 pada

keratinosit menghasilkan produksi dari TNF-á, IL-8, CCL2, CXCL9, dan

Interferon tipe 1. Tujuan utama dari HPV adalah untuk menurunkan respon imun

proinflamasi pada keratinosit serviks. Keratinosit memiliki kopi episomal dari

HPV yang menggambarkan dalam jumlah yang besar gen yang terlibat dalam

mekanisme pro inflamasi dan kemotaksis, gen yang menurunkan respon sel imun

berperan dalam respon imun alami dan buatan demikian pula diferensiasi dari

keratinosit. Hal ini menggambarkan pentingnya keratinosit sebagai inisiator dalam

memulai respon imun terhadap HPV dan mengaktifvasi jalur respon imun

adaptif.4

Sel pejamu dapat mengeliminasi sel yang terinfeksi melalui mekanisme

apoptosis, akan tetapi 5 protein dari HPV yaitu E2, E5, E6, E6 dan E7 memiliki

mekanisme untuk mengintervensi proses tersebut. Protein E2 merupakan faktor

transkripsi dari virus dan berperan dalam replikasi virus. Protein E2 dapat

menginduksi apoptosis pada sel yang tidak mengandung genom HPV melalui

aktivasi dari caspase-8. E2 berikatan dengan caspase-8 domain DED dan

menginisiasi aktivasi. Terdapat 2 karakteristik dari protein E2 yang berperan

dalam apoptosis. Pertama, N-terminal dari HPV mengandung 27 asam amino

alpha-helix yang dapat menginduksi oligomerisasi dan kematian sel. Kedua,

protein E2 menginduksi apoptosis melalui mekanisme independen p53, E2

berikatan dengan p53 dan menginduksi apoptosis melalui jalur dependen p53.

6
Ekspresi dari E2 pada lesi awal cukup rendah sehingga tidak cukup untuk

menginduksi apoptosis.4

Protein E6 (onco-protein) high-risk HPV (tipe 16 dan 18) mempunyai peran

dalam proliferasi sel yang dihubungkan dengan keberadaan tumor supressor gene-

p53. E6-protein HPV 16 and 18 akan mengakibatkan inaktivasi gen p53 melalui

mekanisme pengikatan yang disebut ubiquitin-dependent proteolytic pathway

(E6AP). Jadi dengan penurunan kadar protein p53 dalam sel akan berakibat pada

kegagalan pengendalian pertumbuhan sel, karena tidak terjadinya hambatan

aktivasi sel.4

Protein E7 (onco-protein) highrisk HPV mempunyai peran dalam proliferasi

sel yang dihubungkan dengan keberadaan tumor supressor gene- Rb. Protein E7

(onco protein) akan mengikat gen Rb. Ikatan tersebut menyebabkan tidak

terikatnya gen E2F (factor transkripsi) oleh protein Rb, sehingga gen E2F menjadi

aktif dan akan membantu c-myc (faktor transkripsi) untuk terjadinya replikasi

DNA dan menstimuli siklus sel. Protein c-myc (proto-oncogene) adalah protein

yang disandi oleh gen c-myc, yang berfungsi sebagai protein inti sel untuk

transkripsi dan replikasi sel dalam siklus sel, sehingga dikelompokkan dalam gen-

gen pemicu terjadinya tumor. Gen ras adalah famili proto-oncogenes juga yang

merupakan second major class dari GTP-binding proteins, dimana dalam banyak

penelitian protein ini dipastikan berperan dalam mitogenic signal transduction

pada siklus sel. Gen p53 adalah gen yang mengkode phosphoprotein inti sel

seberat 53 kDa, dan bertindak sebagai negative regulator dalam siklus sel,

sehingga dikelompokkan dalam gen-gen penekan tumor.4

7
4. Klasifikasi

Lebih dari 207 tipe HPV telah diidentifikasi, 40 tipe diantaranya

menyebabkan infeksi anogenital pada wanita dan pria. Dari 16 genus yang

dimiliki famili papilomaviridae, 5 genus diantaranya menginfeksi manusia yaitu

Alphapapillomavirus, Betapapillomavirus, Gammapapillomavirus,

Mupapillomaviurs dan Nupapillomavirus. Human Papillomavirus yang paling

sering ditemukan pada pasien berada dalam genus Alphapapillomavirus. Dimana

dari 64 tipe menginfeksi bagian epitel dari mukosa, 40 tipe menyebabkan infeksi

pada traktus anogenital serta sebanyak 15 tipe HPV (tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39,

45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 73 dan 82) beresiko sangat tinggi dalam menyebabkan

penyakit kanker serviks, 3 tipe HPV beresiko tinggi (tipe 26, 53, 66); dan 12

diantaranya mempunyai resiko rendah yaitu HPV tipe 6, 11, 40, 42, 43, 44, 54, 61,

70, 72, dan 81. DNA virus HPV terdeteksi pada 90% penderita kanker serviks dan

sekitar 70% penyebabnya adalah HPV tipe 16 dan tipe 18. HPV tipe 16 dan 18

juga penyebab 80% kanker anus dan 30% kanker vulva. HPV ditularkan melalui

hubungan seks dan ketika seseorang terinfeksi HPV maka virus tersebut akan

menjadi persisten dan menetap di dalam sel hospes.4

Sedangkan genus Beta Betapapillomavirus bersama dengan sinar UV dapat

menyebabkan timbulnya tumor pada manusia, khususnya seperti non-melanoma

squamous cell carcinoma, kanker yang banyak diderita oleh orang. Tiga genus

sisanya menyebabkan penyakit tumor yang benign.5

8
Ganbar 2. Klasifikasi Virus

5. Epidemiologi

Angka infeksi HPV tinggi dan mengalami peningkatan, lebih dari 40 juta

orang dewasa yang aktif secara seksual di Amerika Serikat mengidap virus ini.

Didapatkan sekitar 500.000 kasus pertahunnya. Sekitar 30–60% orang akan

mengalami infeksi HPV di kehidupannya, tetapi prevalensi klinis kurang daripada

1%. DNA HPV ditemukan pada sekitar 6% pria dan 10% wanita tanpa tanda

klinis infeksi. Kebanyakan kasus terdiagnosis pada dewasa muda usia 16–25

tahun.6

4. Jenis Penyakit Akibat HPV

Beberapa penyakit yang sering muul akibat infeksi HPV:

9
a. Kanker serviks

HPV berperan dalam menyebabkan terjadinya kanker serviks tetapi bukan

satusatunya penyebab terjadinya kanker serviks. HPV tipe 16 dan 18

menyebabkan 68% keganasan tipe skuamosa dan 83% tipe adenokarsinoma.

Meskipun infeksi HPV biasanya tanpa gejala infeksi pada serviks bisa

menghasilkan perubahan secara histologi yang digolongkan dalam Cervical

intraepithelial Neoplasm (CIN) derajat 1, 2, 3 didasarkan pada derajat kerusakan

dari sel epitel pada serviks atau adenokarsinomainsitu. CIN 1 biasanya sembuh

spontan (60% dari seluruh kasus) dan beberapa berkembang ke arah keganasan

(1%). CIN 2 dan 3 memiliki persentase sedikit untuk sembuh spontan dan

memiliki persentase yang tinggi untuk berkembang ke arah keganasan.7

b. Kanker Vulva dan Vagina

Tidak semua keganasan pada vulva dan vagina disebabkan infeksi HPV.

HPV tipe 16 adalah yang terbanyak ditemukan pada keganasan vulva dan vagina.

HPV dihubungkan dengan sekitar setengah dari penyebab keganasan dari vulva

dan vagina. Beberapa penelitian , HPV tipe 16 dan 18 terdeteksi pada 76% dari

keganasan intraepithelial vagina dan 42% dari kanker vulva.7

c. Kondiloma Akuminata

Semua kondiloma akuminata disebabkan oleh infeksi HPV, dan 90%

dihubungkan dengan infeksi HPV tipe 6 dan tipe 11. Kondiloma biasanya terjadi

setelah 2 – 3 bulan terjadinya infeksi HPV pada daerah anogenital, tetapi tidak

semua wanita yang terinfeksi HPV menimbulkan kondiloma pada daerah

10
anogenital. Kondiloma bisa diobati meskipun pada beberapa kasus bisa hilang

dengan sendirinya. Angka kekambuhan pada kondiloma cukup tinggi yaitu 30%.7

d. Respiratori Papillomatosis Berulang

Infeksi HPV yang resiko rendah, yaitu tipe 6 dan 11 bisa menyebabkan

papillomatosis respiratori yang berulang. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya

papiloma pada daerah laring. Biasanya timbul pada usia muda. Papillomatosis ini

dipercaya sebagai akibat transmisi vertikal dari ibu yang terinfeksi ke bayinya saat

melahirkan.7

5. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis bervariasi tergantung tipe virus dan lokasi tubuh yang

terinfeksi. Beberapa gejala yang jelas diantaranya kutil (warts) pada wajah,

lengan, kaki, dada, alat kelamin. Gejala klinis yang timbul akibat kanker serviks

antara lain perdarahan vagina yang tidak normal, yaitu perdarahan ketika

berhubungan seksual, pasca-menopause, dan di luar siklus haid, vaginal discharge

yang berwarna keputihan, seperti nanah dan berbau, serta nyeri pada pinggul.8

Kutil kelamin biasanya berwarna merah muda, lunak, permukaannya

bervariasi ada yang datar atau meninggi, berjumlah satu atau lebih, dan kadang

berbentuk seperti kembang kol (cauliflower-shaped). Lesi pada daerah genitalia

perempuan umumnya terdapat pada bagian belakang mulut vagina, kemudian

menyebar ke vulva dan akhirnya vagina dan serviks. Lesi ini menimbulkan rasa

tidak nyaman akibat gatal. Papilloma pada saluran pernapasan (HPV tipe 6 dan

11), terutama pada anakanak, dapat menjadi sangat berbahaya dan menimbulkan

gejala seperti stridor, serak, dan kesulitan bernapas.8

11
6. Diagnosis

Lesi kulit yang disebabkan oleh infeksi HPV, terutama yang berbentuk

seperti kutil dapat didiagnosis secara kasat mata, didukung oleh anamnesis dan

pemeriksaan fisik yang menunjang. Metode skrining Pap Smear dapat dilakukan

untuk mendeteksi kelainan sitologi pada sel epitel skuamosa.9

Pap smear pemeriksaan yang sering dilakukan untuk deteksi dini.

Dianjurkan sekali setiap tahun oleh wanita yang sudah melakukan hubungan

seksual. Dinegara maju pap smear terbukti menurunkan kejadian kanker srviks

infasif sebesar 46-76% dan mortalitas kanker servixs infasif sebesar 50-60%,

namun di Indonesia teratat hanya 5% penduduk di Indonesia saja yang datang

untuk melakukan pemeriksaan seara rutin. Tindakan kolposkopi dan biopsi

dilakukan jika hasil skrining menunjukkan kecurigaan ke arah keganasan. 9

Di Amerika, terdapat pemeriksaan penunjang berupa 4 jenis tes HPV (FDA

US). HPV tes ini ditujukan untuk perempuan berusia di atas 30 tahun yang sedang

menjalani skrining kanker serviks. Tes HPV ini mendeteksi asam nukleat dari

virus (DNA atau RNA) atau protein capsida. Dengan metode tersebut, dapat

diidentifikasi kelompok HPV risiko tinggi dan risiko rendah. 9

Beberapa teknik molecular yang digunkan untuk deteksi HPV DNA yaitu:

1. Metode hibridisasi asam nukleat secara langsung (contoh: Southern Blot

hybridization)

Southern Blot merupakan metode untuk menguji keberadaan dari suatu

sekuens DNA dalam suatu sampel DNA. 7Metode ini mengkombinasikan proses

elektroforesis jel agarosa untuk memisahkan DNA berdasarkan ukuran dengan

12
fragmen DNA hasil elektroforesis yang ditransfer ke membran filter. Proses

selanjutnya membran dihibridisasi dengan probe spesifik. Pada awal penelitian

HPV,Southern Blot merupakan metode baku emas untuk analisis genom HPV.

Proses perpindahan fragmen DNA yang terpisah dengan teknik elektroforesis jel

ke membran seperti membran nitroselulosa dilakukan berdasarkan prinsip

kapilaritas, dimana bufer yang merupakan fase gerak diasumsikan akan membawa

fragmen DNA dari jel ke membran. DNA yang bermuatan negatif sedangkan

membran bermuatan positif sehingga fragmen DNA akan menempel pada

membran nitroselulosa.9

Southern Blot mempunyai sensitivitas yang rendah untuk mendeteksi HPV

pada spesimen klinik maupun mengidentifikasi tipe HPV.Metode Southern Blot

membutuhkan waktu yang lama, memerlukan DNA dalam jumlah banyak, dan

membutuhkan tenaga teknisi yang terlatih. Metode southern blot tidak dapat

dilakukan pada jaringan yang difiksasi dengan formalin dikarenakan DNA akan

terdegradasi. 9

2. Hybrid capture II assay (HC II) 9

Hybrid Capture System (HC-II) adalah metode pemeriksaan hibridisasi dengan

teknologi terbaru di bidang biologi molekuler.10Teknik HC-II digunakan pada

kondisi lebih awal yaitu kemungkinan seseorang terinfeksi HPV sebelum virus

tersebut membuat perubahan pada serviks yang akhirnya dapat mengakibatkan

terjadinya kanker serviks. HC-II telah diakui dunia serta disahkan oleh FDA

(Food and Drug Administration) Amerika Serikat.11HC-II memiliki keakuratan

yang tinggi dalam mendeteksi infeksi HPV karena mampu mendeteksi

13
keberadaan DNA HPV dalam jumlah sangat kecil.10Teknik HC-II adalah

antibody capture/solution hybridization/signal amplication assay yang memakai

deteksi kualitatif chemiluminescence terhadap DNA HPV. Secara umum HC-II

adalah teknik berbasis DNA-RNA yang dapat mendeteksi secara akurat dan cepat

dengan sensitivitas 98% dan spesifisitas 98%.

Metode HC II ini mempunyai akurasi sebesar 92 – 94% terhadap teknik

pemeriksaan sitologi/histologi, memerlukan waktu pemeriksaan yang lebih

singkat, tidak terdapat atau hanya sedikit kontaminasi dan dapat memperkirakan

kuantitatif jumlah virus tanpa mengetahui genotipe HPV.12,13Metode HC II

menggunakan 2 jenis probe untuk mendeteksi HPV, yaitu probe HPV resiko

tinggi (HPV tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68) dan probe HPV

resiko rendah (HPV tipe 6, 11, 42, 43, 44).

3. Metode amplifikasi target (Polimerase Chain Reaction/PCR) 9

Amplifikasi target merupakan teknik analisis DNA yang paling fleksibel

dan sensitif dibandingkan dengan teknik southern blot dan HC II. Teknik ini dapat

digunakan untuk mendeteksi, menghitung viral load, DNA sekuensing, dan

analisis mutasi.14,15PCR atau reaksi berantai polimerase adalah suatu metode

enzimatis untuk memperbanyak secara eksponesial suatu sekuens nukleotida

tertentu secara invitro.34 PCR pertama kali dikembangkan oleh Kary Mullis pada

tahun 1985.10Metode PCR ini dapat dilakukan secara multipleks dimana target

DNA multiple dan dapat dianalisis secara simultan. Sensitivitas metode target

amplifikasi dapat ditingkatkan dengan sintesis sekuens DNA target yang

spesifik.16

14
Cara kerja PCR adalah mengamplifikasi DNA hasil isolasi dengan 3

tahapan, yaitu denaturasi (linearisasi DNA terjadi pada suhu 95.C), annealing

(penempelan primer pada DNA target yang akan diperbanyak), dan elongasi

(polimerisasi). Hasil amplifikasi selanjutnya dapat dideteksi dengan teknik

elektroforesis menggunakan alat elektroforesis jel agarosa. Teknik elektroforesis

adalah teknik yang memisahkan molekul-molekul berdasarkan berat molekulnya

dalam sebuah medan listrik pada medium padat atau semi padat.17

Metode PCR dapat diterapkan dengan sampel dan komponen dalam jumlah

sedikit, PCR merupakan metode yang sensitif dan dapat mendeteksi tipe HPV

khususnya HPV resiko tinggi. Metode genotyping PCR memerlukan waktu yang

lama, mahal, dan memerlukan teknik laboratorium yang tinggi.

4. PCR - Reverse Line Hybridization (contoh: Linear Array HPV

Genotyping test) 9

PCR – Reverse Line Blot (RLB) merupakan metode modifikasi PCR, yaitu

hasil amplifikasi PCR dideteksi menggunakan cara hibridisasi dengan

oligonukleotida spesifik yang diimobilisasi pada membran nitroselulosa. Teknik

ini sangat sensitif dan dapat mendeteksi DNA sekitar 100 ag. Teknik ini dapat

digunakanuntuk mendeteksi genotipe HPV pada infeksi campuran.18,19

Cara kerja PCR - RLB adalah sebagai berikut: Probe oligonukleotida

dengan tipe HPV spesifik diimmobilisasi pada membran kemudian dihibridisasi

dengan produk PCR berlabel biotin yang sebelumnya telah didenaturasi dalam

kondisi basa. Setelah proses hibridisasi, membran kemudian dicuci. Hasil hibrid

15
dapat dideteksi dengan penambahan streptavidin – peroksidase dan substrat yang

akan menghasilkan warna pada garis-garis probe dan diinterpretasi secara visual

7. Tatalaksana10

Dengan menjaga kebersihan individu dan pembatasan aktivitas seksual

sampai pasangannya diperiksa dan diobati. Terapi yang ada secara fisik merusak,

secara kimia sitotoksik dan tidak ada terapi yang sepenuhnya dapat memberantas

HPV. Oleh karena itu, tujuan terapi adalah menyingkirkan kutil untuk alasan

kosmetik dan perbaikan dari tanda dan gejala, bukan untuk membasmi HPV, juga

berdasarkan pilihan dan kenyamanan pasien. Terapi mahal, beracun dan

prosedurnya mengakibatkan jaringan parut hendaknya dihindarkan. Pasangan

seksual seharusnya diperiksakan juga untuk eviden kutil dan penyakit menular

seksual lainnya. Pasien dengan kutil anal atau genital harus mengetahui, mereka

dapat menularkan pada pasangan seksualnya.

a. Podofilin 10–25% dalam campuran larutan benzoin

Biasanya membutuhkan pemakaian multipel lebih dari berminggu-minggu

sampai bulanan dan seringkali mengalami kegagalan. Setelah melindungi kulit di

sekitar lesi dengan vaselin agar tidak terjadi iritasi, oleskan tingtur podofilin pada

lesi, biarkan selama 4–6 jam, kemudian cuci. Pemberian obat dilakukan seminggu

dua kali sampai lesi hilang. Pada lesi hiperkeratotik, pemberian podofilin tidak

memberi hasil memuaskan. Untuk menghindari keracunan sistemik, volume total

dari larutan podofilin pemakaiannya dibatasi kurang dari 0,5 ml setiap pemberian

16
karena akan diabsorpsi, bersifat toksik dan kurang dari 10 cm2 setiap pemberian.

Jika kutil tetap ada setelah tiga kali pengobatan, pengobatan hendaknya diganti ke

krioterapi dan dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi. Podofilotoksin 0,5%

(podofiloks), merupakan zat aktif yang terdapat di dalam podofilin. Setelah

pemakaian podofiloks, dalam beberapa hari akan terjadi destruksi jaringan

kondilomata akuminata. Reaksi iritasi pada pemakaian podofiloks, jarang terjadi

disbanding podofilin dan reaksi sistemik belum pernah dilaporkan. Obat ini

dioleskan sendiri oleh penderita sebanyak dua kali sehari selama tiga hari

berturut-turut.

b. Asam Trikloroasetat (80–90%)

Diberikan seperti pada kutil genital eksternal/perianal. Pemberiannya,

seminggu sekali dan hati-hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam. Dapat

diberikan kepada wanita hamil.

c. Tindakan bedah

Terdiri dari bedah skalpel, bedah listrik (elektrokauterisasi), bedah beku (N2

cair, N2O cair) dan bedah laser (CO2 laser). Elektrokauterisasi adalah terapi

alternatif paling efektif untuk menghilangkan kutil tetapi sering mengakibatkan

jaringan parut. Dengan laser karbondioksida ini, luka lebih cepat sembuh dan

meninggalkan sedikit jaringan parut, bila dibandingkan elektrokauterisasi, biasa

hanya berguna untuk menangani kutil ekstensif dan pasien yang tidak respon

krioterapi. Krioterapi, tidak beracun, tidak membutuhkan anestesi dan jika

digunakan secara tepat tidak mengakibatkan jaringan parut.

17
d. Krim 5–Fuorourasil 1–5%

Obat ini terutama untuk kondilomata akuminata yang terletak di atas meatus

urethra. Pemberiannya setiap hari sampai lesi hilang. Sebaiknya penderita tidak

miksi selama dua jam setelah pengobatan.

e. Interferon

Bekerja dengan cara mencegah perkembangan viral dan selular, pemberian

dengan suntikan (intramuscular atau intralesi) atau bentuk krim, dapat diberikan

bersama pengobatan lain. Secara klinis terbukti bahwa interferon alfa, beta, dan

gama bermanfaat dalam pengobatan infeksi HPV. Dosis interferon alfa yang

diberikan adalah 4–6 kali 10 mega IU intramuskular, 3 kali seminggu selama 6

minggu. Interferon beta diberikan dengan dosis 2 kali 10 mega IU intramuscular

selama 10 hari berturut-turut. Efek sampingnya adalah demam, mialgia, dan sakit

kepala. Bentuk krim lebih baik daripada suntikan karena suntikan menyebabkan

nyeri.

f. Immunoterapi

Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap pengobatan dapat

diberikan pengobatan bersama imunomodulator.

g. Vaksin Human Papiloma Virus (HPV)11

Vaksin dibuat dengan teknologi rekombinan, vaksin berisi VLP (virus like

protein) yang merupakan hasil cloning dari L1 (viral capsid gene) yang

mempunyai sifat imunogenik kuat.

Terdapat dua jenis vaksin HPV L1 yang sudah dipasarkan melalui uji klinis,

yakni Cervarik dan Gardasil :

18
a. Cervarix

Adalah jenis vaksin bivalen HPV 16/18 L1 VLP vaksin yang diproduksi

oleh Glaxo Smith Kline Biological, Rixensart, Belgium. Pada preparat ini, Protein

L1 dari HPV diekspresikan oleh recombinant baculovirus vector dan VLP dari

kedua tipe ini diproduksi dan kemudian dikombinasikan sehingga menghasilkan

suatu vaksin yang sangat merangsang sistem imun . Preparat ini diberikan secara

intramuskuler dalam tiga kali pemberian yaitu pada bulan ke 0, kemudian

diteruskan bulan ke 1 dan ke 6 masing- masing 0,5 ml

b. Gardasil

Adalah vaksin quadrivalent 40 μg protein HPV 11 L1 HPV ( GARDASIL

yang diproduksi oleh Merck) Protein L1 dari VLP HPV tipe 6/11/16/18

diekspresikan lewat suatu rekombinant vector Saccharomyces cerevisiae (yeast).

Tiap 0,5 cc mengandung 20μg protein HPV 6 L1, 40 μgprotein HPV 11 L1, 20 μg

protein HPV18 L1. Tiap 0,5 ml mengandung 225 amorph aluminium

hidroksiphosphatase sulfat. Formula tersebut juga mengandung sodium borat.

Vaksin ini tidak mengandung timerasol dan antibiotika. Vaksin ini seharusnya

disimpan pada suhu 20 – 80 C.

Dosis dan Cara Pemberian

Vaksin ini diberikan intramuskuler 0,5 cc diulang tiga kali, produk Cervarix

diberikan bulan ke 0,1 dan 6 sedangkan Gardasil bulan ke 0, 2 dan 6 (Dianjurkan

pemberian tidak melebihi waktu 1 tahun). Pemberian booster (vaksin ulangan),

respon antibodi pada pemberian vaksin sampai 42 bulan, untuk menilai efektifitas

19
vaksin diperlukan deteksi respon antibodi. Bila respon antibodi rendah dan tidak

mempunyai efek penangkalan maka diperlukan pemberian Booster.

Vaksin profilaksis akan bekerja efisien bila vaksin tersebut diberikan

sebelum individu terpapar infeksi HPV. Infeksi HPV yang menyerang organ

genitalis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan, dan imunisasi

siberikan untuk melakukan perlindungan terhadap sejumlah besar penyakit yang

dihasilkan oleh infeksi virus tersebut. Sebagai target populasi dari imunisasi ini

adalah wanita sebelum puber dan usia remaja. Hal ini disebabkan pada usia – usia

tersebut dimulainya aktivitas seksual seseorang.

Sebaiknya vaksiniasi secara rutin diberikan untuk wanita umur 11 – 12

dengan dosis pemberian. Serial vaksin bisa dimulai saat wanita tersebut berumur 9

tahun. Selain itu vaksin juga direkomendasikan untuk diberikan pada umur 13 –

26 tahun yang tidak mendapat pengulangan vaksin atau tidak mendapatkan vaksin

secara lengkap. Idealnya vaksin diberikan sebelum usia yang rentan kontak

dengan HPV yaitu wanita yang akan memasuki usia seksual aktif sehingga wanita

yang mendapat vaksinasi tersebut bisa merasakan keuntungan dari pemberian

vaksin. Selain itu apabila vaksin siberikan pada usia tersebut, respons kekebalan

tubuh yang dihasilkan akan lebih besar dibandingkan bila diberikan setelah

pubertas. Vaksin dikocok lebih dahulu sebelum dipakai dan diberikan secara

muskuler sebanyak 0,5 dan sebaiknya disuntikkan pada lengan (otot deltoid)

20
BAB III

PENUTUP

HPV, Human Papiloma Virus, bisa menginfeksi laki-laki dan wanita. Masuk

ke dalam tubuh manusia melalui hubungan seksual. Beberapa strain HPV

menyebabkan penyakit kelamin yang dikenal dengan nama condyloma

accuminata atau kutil kelamin. Beberapa strain yang lain, terutama tipe 16 dan 18,

bersifat onkogenik atau dapat menyebabkan kanker terutama kanker serviks.

Menghindari faktor risiko dan melakukan skrining dan menghindari

terinfeksinya HPV. Penatalaksanaan akibat infeksi virus HPV adalah dengan

farmakologi dan juga tindakan bedah untuk mengatasinya serta pemberian vaksin.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Human papilloma virus surveillane vaccine preventable. World Health


Organisation. 2018

2. Daisuke S, Nobuhiko O. The molecular mechanism of human


papillomavirus.induced carcinogenesis in head and neck squamous cell
carcinoma. Int J Clin Oncol. 2016: 21(1); 819-826.

3. Sheila VG. The human papillomavirus replication cycle, and its links to
cancer progression: a comprehensive review. Clinical Science. 2017: 131(1);
2201-2221.

4. John TS, Patriia MD, Rhonda K. Current understanding of the mechanism of


HPV infection. National Cancer Institute. 2010: 118(1); 12-17.

5. Maya S. Biologi molekuler human papilloma virus. Universitas kedokteran


Riau. 2017: 11(1); 1-6.

6. Workowski KA, Bolan GA. Human papilloma virus invection. National STD
curriculum. 2019: 1(1): 1-64.

7. Hossein GA, Salman NA. Pathogenesis of human papillomavirus-


imunological responses to HPV infection. 2016: 1(1): 243-253.

8. Qing T, Lingqi Z, Ruiying Z. Human papillomavirus infection mechanism


and vaccine of vulva carcinoma. 2016:11(1); 185-190.

9. Lipinwati. Diagnosis molekuler human papilloma virus (HPV) penyebab


kanker serviks. 2014: 2(1); 78-86.

10. Fransisca T. Risiko infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada penyakit
menular seksual. Damianus Journal of Medicine. 2011:10(1); 24-30.

11. Ari NP, Hera H, Hersandy D. Vaksin human papilloma virus (HPV) untuk
penegahan kanker serviks uteri. Universitas Kedokteran Wijaya Kusuma
Surabaya. 2013.

22