Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH MANAJEMEN FARMASI DAN AKUNTANSI

“MANAJEMEN PENGADAAN FARMASI DAN AKUNTANSI PADA


PUSKESMAS, RUMAH SAKIT, PEDAGANG BESAR FARMASI DAN
INDUSTRI FARMASI SERTA
METODE ANALISIS ABC, VEN, DAN EOQ ”

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 5

 HASNIA
 NURUL HIDAYAH
 RIA CAHYANI
 SITTI HADIJAH
 MUTMAINNAH UTAMIE ALIENA

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI


STIKES SALEWANGANG MAROS
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. dzat yang Maha Sempurna, Maha Pencipta dan Maha
Penguasa segalanya, karena hanya dengan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan tugas
makalah ini sesuai dengan batas tenggang waktu yang telah ditentukan yaitu tentang
“Manajemen Pengadaan Farmasi dan Akuntansi pada Puskesmas, Rumah Sakit, Pedagang
Besar Farmasi dan Industri Farmasi serta Metode Analisis ABC, VEN, dan EOQ ”. Makalah
ini sengaja disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “ Manajemen Farmasi Dan
Akuntansi”.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan keterbatasan yang dimiliki penulis. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini. Tidak lupa kami sampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang turut berpartisipasi dalam proses penyusunan tugas ini, karena penulis sadar sebagai
makhluk sosial penulis tidak bisa berbuat banyak tanpa ada interaksi dengan orang lain dan
tanpa adanya bimbingan, serta rahmat dan karunia dari-Nya.
Penulis berharap agar mahasiswa khususnya dan umumnya dari para pembaca dapat
memberikan kritik yang positif dan saran untuk kesempurnaan makalah ini dan tugas
selanjutnya.

Maros, 10 Juni 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i

DAFTAR ISI .............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................ Error! Bookmark not defined.

1.1 Latar Belakang ............................................................... Error! Bookmark not defined.

1.2 Rumusan masalah ........................................................... Error! Bookmark not defined.

1.3 Tujuan............................................................................. Error! Bookmark not defined.

BAB II PEMBAHASAN ......................................................... Error! Bookmark not defined.

2.1 Manajemen Pengadaan Farmasi dan Akuntasi Pada:

2.1.1 PUSKESMAS........................................................ Error! Bookmark not defined.

2.1.2 RUMAH SAKIT ................................................... Error! Bookmark not defined.

2.1.3 PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF) .............. Error! Bookmark not defined.

2.1.4 INDUSTRI FARMASI ......................................... Error! Bookmark not defined.

2.2 TEKNIK PENGENDALIAN ........................................ Error! Bookmark not defined.

2.2.1 Analisis ABC ........................................................ Error! Bookmark not defined.

2.2.1 Analisis VEN ........................................................ Error! Bookmark not defined.

2.2.1 Analisis EOQ ......................................................... Error! Bookmark not defined.

BAB III PENUTUP ................................................................. Error! Bookmark not defined.

3.1 KESIMPULAN .............................................................. Error! Bookmark not defined.

3.2 SARAN .......................................................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA .............................................................. Error! Bookmark not defined.

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kehamilan dan persalinan adalah suatu proses yang normal, alami dan sehat.
Gangguan kesehatan dalam masa kehamilan dan persalinan mengakibatkan ancaman,
baik bagi jiwa ibu maupun bayi yang dilahirkan (Vivian dan Sunarsih 2011:13).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana manajemen pengadaan farmasi dan akuntansi pada Puskesmas, Rumah
Sakit, PBF dan Indutri Farmasi?
2. Bagaimana cara perhitungan metode analisis ABC, VEN dan EOQ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana manajemen pengadaan farmasi dan akuntasi pada
Puskesmas, Rumah Sakit, PBF dan Industri Farmasi
2. Untuk mengetahui bagaimana cara perhitungan metode analisis ABC, VEN dan EOQ

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 MANAJEMEN PENGADAAN FARMASI DAN AKUNTANSI


2.1.1 PUSKESMAS
A. Pengelolaan Obat di Puskesmas
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas merupakan pelaksanaan upaya
kesehatan dari pemerintah, yang berperan dalam meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
harus mendukung tiga fungsi pokok Puskesmas, yaitu sebagai pusat pelayanan
kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan
pelayanan kesehatan masyarakat, pusat penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan dan pusat pemberdayaan masyarakat. Ruang lingkup kegiatan
pelayanan kefarmasian di puskesmas meliputi Pengelolaan Obat dan Bahan
Medis Habis Pakai dan kegiatan pelayanan farmasi klinik di dukung dengan
adanya sarana prasarana dan sumber daya manusia (Permenkes, 2014)
Manajemen pengelolaan sediaan farmasi di gudang meliputi
perencanaan obat, pengadaan obat, penyimpanan obat dan pendistribusian obat
(Afriadi, 2005). Menurut Palupiningtyas (2014) gudang penyimpanan obat di
puskesmas dan rumah sakit di Indonesia diketahui masih kurang untuk
memenuhi persyaratan penyimpanan seperti tidak menggunakan sistem FIFO
dan FEFO, kartu stok yang belum memadai, dan tidak menggunakan sistem
penataan alfabetis.
Pengelolaan obat pada tahap penyimpanan merupakan bagian penting
dalam menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga mutu
obat-obatan, memudahkan pencarian dan pengawasan, menjaga kelangsungan
persediaan, mengurangi resiko kerusakan dan kehilangan, mengoptimalkan
persediaan, serta memberikan informasi kebutuhan obat yang akan datang
(Aditama, 2007).

2
Kegiatan pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi:
1. Perencanaan
Menurut Permenkes Nomor 30 tahun 2014 Perencanaan yakni kegiatan
seleksi obat dalam menentukan jumlah dan jenis obat dalam memenuhi
kebutuhan sediaan farmasi di puskesmas dengan pemilihan yang tepat agar
tercapainya tepat jumlah, tepat jenis, serta efisien.
Perencanaan obat dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
peningkatan efisisensi penggunaan obat, peningkatan penggunaan obat secara
rasional, dan perkiraan jenis dan jumlah obat yang dibutuhkan.
2. Permintaan
Permintaan merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan obat yang
sudah direncanakan dengan mengajukan permintaan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, sesuai peraturan dan kebijakan pemerintah setempat.
3. Penerimaan
Penerimaan obat adalah kegiatan menerima obat dari Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota sesuai dengan permintaan yang sudah diajukan oleh
puskesmas (Permenkes, 2014). Pada kegiatan penerimaan obat harus
menjamin jumlah, mutu, waktu penyerahan, spesifikasi, kesesuaian jenis dan
harga yang tertera pada pesanan.
4. Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengaturan obat agar terhindar dari
kerusakan fisik maupun kimia, agar aman dan mutunya terjamin. Penyimpanan
obat harus mempertimbangkan berbagai hal yaitu bentuk dan jenis sediaan,
mudah atau tidaknya meledak/terbakar, stabilitas, dan narkotika dan
psikotropika disimpan dalam lemari khusus (Permenkes, 2014). Kegiatan
penyimpanan obat meliputi:
a. Perencanaan/persiapan dan pengembangan ruang-ruang penyimpanan
(storage space)
b. Penyelenggaraan tata laksana penyimpanan (storage procedure)
c. Perencanaan/penyimpanan dan pengoperasian alat-alat pembantu
pengaturan barang (material handling equipment)
d. Tindakan-tindakan keamanaan dan keselamatan

3
Tujuan dari penyimpanan obat menurut Warman (2004) yakni :
a. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
b. Memudahkan pencarian dan pengawasan sediaan
c. Memelihara mutu sediaan farmasi
d. Menjaga ketersediaan
Menurut Depkes RI (2004) tujuan penyimpanan yaitu :
a. Aman, yakni barang/ obat yang di simpan tetap aman dari kehilangan dan
kerusakan.
1) Kehilangan yang berarti dicuri, dimakan hama atau hilang sendiri
(tumpah, menguap)
2) Kerusakan yang diakibatkan barang sediaan rusak sendiri atau sediaan
merusak lingkungan (polusi)
b. Awet, yakni warna, bau, sifat, ukuran, dan fungsinya tidak berubah
c. Tepat, saat permintaan barang, barang yang diserahkan memenuhi lima
tepat, yaitu tepat barang,kondisi, jumlah, waktu dan harganya.
d. Menghindari dari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 30 tahun 2014 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas penyimpanan obat harus
mempertimbangkan hal-hal berikut :
a. Bentuk dan jenis sediaan
b. Stabilitas suhu, cahaya dan kelembaban
c. Mudah atau tidaknya meledak/terbakar
d. Narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus
Prosedur Sistem Penyimpanan obat menurut Palupiningtyas (2014) yakni :
a. Obat disusun berdasarkan abjad ( alfabetis ), persamaan bentuk (obat
kering atau cair) dan cara pemberian obat (luar, oral, dan suntikan)
b. Penyusunan obat berdasarkan frekuensi penggunaan :
1) FIFO (First In First Out) obat yang datang pertama akan kadaluarsa
lebih awal, maka dari itu obat lama harus diletakkan dan disusun
paling depan dan obat baru diletakkan paling belakang.
2) FEFO (First Expired First Out) obat yang lebih awal kadaluarsa harus
dikeluarkan lebih dahulu.

4
c. Obat disusun berdasarkan volume
1) Barang yang jumlah sedikit harus diberi perhatian/tanda khusus agar
mudah ditemukan kembali
2) Barang yang jumlahnya banyak ditempatkan sedemikian rupa agar
tidak terpisah, sehingga mudah pengawasan dan penanganannya.
Penyimpanan obat harus diberikan tempat yang layak agar sediaan tidak
mudah rusak, bila sediaan rusak maka akan menurunkan mutu obat dan
memberikan pengaruh buruk pada pengguna obat. Menurut Dirjen Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan (2010) ketentuan mengenai sarana
penyimpanan obat antara lain :
a. Gudang atau tempat penyimpanan
Luas gudang penyimpanan (minimal 3 x 4 m2), ruangan harus kering tidak
lembab. Terdapat ventilasi agar cahaya dapat masuk dan terjadi perputaran
udara hingga ruangan tidak lembab ataupun panas. Lantai harus di
tegel/semen yang tidak memungkinkan bertumpuknya debu dan kotoran,
jangan ada lantai yang bersudut dan sebisa mungkin dinding gudang dibuat
licin agar debu tidak menempel. Lemari untuk narkotika dan psikotropika
harus selalu terkunci dan memiliki kunci ganda. Sebaiknya gudang
penyimpanan sediaan diberi pengukur suhu ruangan.
b. Kondisi Penyimpanan
Untuk menghindari udara lembab maka perlu dilakukan :
1) Terdapat ventilasi pada ruangan atau jendela dibuka
2) Pasang kipas angin atau AC, dikarenakan semakin panas udara di
dalam ruanagan maka semakin lembab ruangan tersebut
3) Biarkan pengering tetap dalam wadah tablet/kapsul
4) Jangan sampai terdapat kebocoran pada atap
Berdasarkan arah arus penerimaan dan pengeluaran sediaan obat di
gudang, Oktarina (2005) membagi 3 tipe sistem tata ruang penyimpanan obat
sistem arah garis lurus, arus U, dan arus L.
a. Arah garis lurus
Menggunakan sistem ini proses pengambilan dan penyimpanan barang
relatif cepat. Sediaan yang lama keluar akan disimpan berjauhan dengan

5
pintu keluar, sedangkan barang yang cepat keluar/sering dibutuhkan akan
diletakkan di dekat pintu keluar agar mudah dalam pengambilannya.
b. Arus U
Sistem pengambilan dan penyimpanan dengan arus U, apabila posisi
gudang berkelok-kelok maka barang yang lama keluar akan diletakkan di
dekat pintu penerimaan barang, sedangkan untuk barang yang cepat keluar
diletakkan di dekat pintu keluar
c. Arus L
Lokasi gudang dengan tipe arus L tidak berbelok-belok dan pengambilan
mudah terjangkau. Barang yang sering dibutuhkan/cepat keluar harus
diletakkan didekat pintu keluar, sedangkan untuk barang yang lama
pengeluarannya diletakkan dekat pintu masuk
Indikator penyimpanan obat bertujuan untuk meningkatkan efisiensi obat,
mempertahankan kualitas obat, mengoptimalkan manajemen persediaan serta
memberikan informasi kebutuhan obat yang akan datang (Quick et al, 1997).
Indikator penyimpanan obat terbagi sebagai berikut (Pudjaningsih, 1996) :
1) Persentase kecocokan antara barang dan stok komputer atau kartu stok
2) Turn Over Ratio (TOR)
3) Sistem penataan gudang
4) Persentase nilai obat yang kadaluarsa atau rusak
5) Persentase stok mati
6) Persentase nilai stok akhir obat
5. Pendistribusian
Pendistribusian adalah kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat secara
teratur dan merata untuk memenuhi kebutuhan sub unit farmasi puskesmas
dengan jenis, mutu, jumlah dan waktu yang tepat. Sistem distribusi yang baik
harus : menjamin kesinambungan penyaluran/penyerahan, mempertahankan
mutu, meminimalkan kehilangan, kerusakan, dan kadaluarasa, menjaga
tetelitian pencatatan, menggunakan metode distribusi yang efisien, dengan
memperhatikan peraturan perundangan dan ketentuan lain yang berlaku,
menggunakan sistem informasi manajemen.
6. Pengendalian
Menurut Kemenkes (2011) pengendalian merupakan kegiatan untuk
tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan program yang sudah
6
ditetapkan agar tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan obat di
puskesmas. Pengendalian persediaan adalah upaya untuk mempertahankan
persediaan pada waktu tertentu dengan mengendalikan arus barang yang
masuk melalui peraturan sistem pesanan/pengadaan (schedule inventory dan
perpetual inventory), penyimpanan dan pengeluaran untuk memastikan
persediaan efektif dan efisiensi atau tidak terjadi kelebihan dan
kekurangan/kekosongan, kerusakan, kedaluarsa dan kehilangan serta
pengembalian pesanan sediaan farmasi (Wirawan, 2015).
7. Pencatatan, pelaporan dan pengarsipan
Pencatatan, pelaporan, pengarsipan merupakan rangkaian kegiatan
penatalaksanaan obat secara tertib, yang diterima, disimpan, didistribusikan,
dan digunakan di puskesmas. Adapun tujuan dari pencatatan, pelaporan,
pengarsipan yaitu bukti pengelolaan telah dilakukan, sumber data untuk
pembuatan laporan, sumber data unutk melakukan pengaturan dan
pengendalian. Kegiatan pencatatan dan pelaporan meliputi :
a. Pencatatan Penerimaan Obat
1) Formulir Penerimaan Obat
Merupakan dokumen pencatatan mengenai datangnya obat
berdasarkan pemberitahuan dari panitia pembelian.
2) Buku harian penerimaan barang
Dokumen yang memuat catatan mengenai data obat/dokumen obat
harian.
b. Pencatatan Penyimpanan
Kartu persediaan obat/barang
c. Pencatatan Pengeluaran
1) Buku harian pengeluaran barang
Dokumen yang memuat catatan pengeluaran baik tentang data obat,
maupun dokumen catatan obat
d. Pelaporan
1) Laporan mutasi barang
Laporan berkala mengenai mutasi barang dilakukan triwulan,
persemester ataupun pertahun.
8. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat

7
Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dilakukan secara periodik
bertujuan untuk memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan obat,
mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam pengelolaan obat
agar tetap menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan, dan memberikan
penilaian terhadap tercapainya kinerja pengelolaan.
9. Indikator Fungsi – Fungsi Pengelolaan Obat
Indikator digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh tujuan atau
sasaran telah berhasil dicapai. Kegunaan lain indikator adalah sebagai
penetapan prioritas, pengambilan tindakan dan untuk pengujian strategi dari
sasaran yang ditetapkan. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan sebagai
penentu kebijakan untuk meninjau kembali strategi atau sasaran yang lebih
tepat.
Menurut Pudjaningsih (1996), indikator merupakan alat ukur yang dapat
digunakan untuk monitoring, evaluasi, dan mengubah atau meningkatkan mutu
pengelolaan obat. Indikator bukan merupakan alat ukur yang langsung
terhadap kualitas pengelolaan, tetapi cenderung sebagai suatu alat yang hanya
menilai situasi khusus tertentu saja yang memerlukan suatu analisis sendiri.

2.1.2 RUMAH SAKIT


A. Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009, rumah sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna (promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif) yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat.
Rumah sakit harus terdapat bagian kefarmasian dengan persyaratan harus menjamin
ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang bermutu, bermanfaat, aman, dan
terjangkau. Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah
sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu.
Farmasi rumah sakit adalah seluruh aspek kefarmasian yang dilakukan di suatu
rumah sakit. Instalasi farmasi adalah bagian dari rumah sakit yang bertugas
menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan
farmasi serta melaksanakan pembinaan teknis kefarmasian di rumah sakit.
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) merupakan satu-satunya unit yang
mengadakan barang farmasi, mengelola dan mendistribusikannya kepada pasien,
bertanggungjawab atas semua barang farmasi yang beredar di rumah sakit serta

8
bertanggungjawab atas pengadaan dan penyajian informasi obat yang siap pakai bagi
semua pihak di rumah sakit, baik petugas maupun pasien. IFRS harus memiliki
organisasi yang memadai serta dipimpin oleh seorang apoteker dengan personalia lain,
meliputi para apoteker, asisten apoteker, tenaga administrasi serta tenaga penunjang
teknis untuk melaksanakan tugas dan pelayanan farmasi.
Struktur organisasi dasar IFRS adalah bagian pengadaan, pelayanan, dan
pengembangan. Kepala instalasi berperan sebagai manajer yang bertanggung jawab
untuk perencanaan, penyerapan, dan pelaksanaan yang efektif dari sistem yang
menyeluruh. Kepala bagian bertanggung jawab untuk mendesain dan menerapkan
berbagai kegiatan yang berkaitan dengan mutu dalam bidang fungsional masing-masing
untuk mencapai mutu pelayanan yang diinginkan.
Instalasi Farmasi Rumah Sakit mempunyai berbagai fungsi yang dapat
digolongkan menjadi fungsi non klinik dan fungsi klinik. Lingkup fungsi farmasi non
klinik adalah perencanaan, penetapan spesifikasi produk dan pemasok, pengadaan,
pembelian, produksi, penyimpanan pengemasan dan pengemasan kembali, distribusi
dan pengendalian semua perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan di rumah
sakit secara keseluruhan. Lingkup farmasi klinik adalah pemantauan terapi obat,
evaluasi penggunaan obat, pelayanan di unit perawatan kritis, pemeliharaan
formularium, pengendalian infeksi di rumah sakit, dan pelayanan informasi obat.
B. Pengelolaan obat
Pada dasarnya pengelolaan obat di farmasi rumah sakit meliputi perencanaan,
pengadaan, penyimpanan, dan distribusi. Keempat tahap ini saling terkait dan saling
mempengaruhi sehingga harus terkoordinasi dengan optimal. Tujuan pengelolaan obat
yang baik di rumah sakit adalah agar obat yang diperlukan selalu tersedia setiap saat
dalam jumlah yang cukup dan terjamin untuk mendukung pelayanan yang bermutu.
a) Perencanaan Obat
Tahap perencanaan ialah salah satu fungsi yang menentukan dalam proses
pengadaan perbekalan farmasi/obat di rumah sakit. Tujuannya adalah untuk
menetapkan jenis dan jumlah perbekalan farmasi /obat sesuai dengan pola
penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Adapun metode perencanaan adalah sebagai berikut :
1. Metode Konsumsi
Metode konsumsi adalah metode perencanaan yang perhitungan kebutuhan
obat berdasarkan pada data rill konsumsi perbekalan farmasi pada periode lalu.
9
Kemudian dilakukan analisis data yang hasilnya dapat dijadikan sebagai panduan
perencanaan kebutuhan obat-obatan untuk tahun.
2. Metode Epidemiologi
Metode epidemiologi adalah metode perencanaan yang perhitungan
kebutuhan perbekalan farmasi berdasarkan pola penyakit, perkiraan kunjungan,
dan waktu tunggu (lead time).
3. Metode Kombinasi
Metode kombinasi adalah kombinasi dari metode kombinasi dengan metode
epidemiologi yang disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Kemenkes dan JICA (Japan International Cooperation Agency) menyatakan
tahapan perencanaan kebutuhan meliputi:
a) Pemilihan,berfungsi untuk menentukan apakah obat benar-benar dibutuhkan
sesuai dengan jumlah pasien / kunjungan dan pola penyakit di rumah sakit.
Pada tahap ini akan ditentukan jenis kebutuhan.
b) Kompilasi penggunaan, berfungsi untuk mengetahui penggunaan bulanan
masing-masing jenis perbekalan farmasi/obat di unit pelayanan selama
setahun dan sebagai data pembanding bagi stok optimum.
c) Perhitungan kebutuhan, merupakan tantangan berat yang harus dihadapi oleh
tenaga farmasi di rumah sakit karena resiko kekosongan atau kelebihan obat.
Pada tahap ini akan didapat jumlah kebutuhan. Pendekatan perhitungan
kebutuhan dapat dilakukan melalui metode konsumsi dan metode
morbiditas/epidemiologi.
d) Evaluasi perencanaan, merupakan tahap yang ideal harus dilakukan setelah
diperoleh jumlah kebutuhan. Cara evaluasi yang dapat dilakukan adalah
analisa nilai ABC (evaluasi aspek ekonomi), kriteria VEN (evaluasi aspek
medik/terapi), kombinasi ABC dan VEN, serta revisi daftar kebutuhan.
Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan obat di rumah sakit,
menurut Suciati dan Adisasmito adalah formularium rumah sakit, anggaran obat,
pemakaian obat periode sebelumnya, stok akhir dan kapasitas gudang, lead time,
jumlah kunjungan dan pola penyakit, serta standar terapi. Standar terapi
merupakan aspek yang penting dalam perencanaan obat karena dokter di suatu
rumah sakit dalam menentukan diagnosis dan terapi pasien mengacu kepada
standar terapi.

10
Perencanaan yang telah dibuat dikoreksi dengan menggunakan metode
analisis ABC. Analisis ABC digunakan untuk koreksi terhadap aspek ekonomis,
yaitu mengidentifikasi jenis obat yang dimulai dengan golongan obat yang
menyerap dana terbanyak. Dalam analisis ABC, obat dibagi dalam 3 golongan
yaitu golongan A jika obat menyerap dana sampai 70%, golongan B jika obat
menyerap dana sebesar 20%, dan golongan C jika obat menyerap dana sebesar
10% dengan jumlah dana keseluruhan.
Untuk lebih akuratnya, perencanaan obat harus diadakan koreksi dengan
analisis VEN. Analisis VEN adalah suatu analisis yang menggolongkan obat
dalam 3 golongan yaitu Vital (V), Esensial (E), dan Non esensial (N). Kelompok
V adalah kelompok obat-obatan yang sangat esensial, yang termasuk dalam
kelompok ini adalah obat-obat penyelamat, obat-obatan untuk pelayanan
kesehatan kesehatan pokok dan obat-obatan untuk mengatasi penyakit-penyakit
penyebab kematian terbesar.Kelompok E adalah obat-obatan yang bekerja kausal
yaitu obat yang bekerja pada sumber penyakit. Kelompok N merupakan obat-
obatan penunjang yaitu obat-obat yang kerjanya ringan dan bisa dipergunakan
untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan.

C. Pengadaan obat
Menurut Quick et al.,pengadaan merupakan sesuatu proses dari penentuan item
dan jumlah per item obat berdasarkan perencanaan yang telah dibuat, pemilihan
pemasok, penulisan surat pesanan, hingga surat pesanan diterima oleh pemasok. Ada
beberapa kunci pengadaan obat yang baik, yaitu menggunakan nama generik, dibatasi
dengan formularium, dalam jumlah besar, ada kualifikasi dan monitoring pemasok,
harga yang bersaing, oleh pemasok terpercaya, jumlah yang dipesan berdasarkan
kebutuhan nyata, ada pembayaran yang baikdan terpercaya, ada prosedur tertulis yang
transparan, ada pemisahan pelaksana kunci pengadaan, ada jaminan kualitas, ada
laporan rutin pengadaan.
Menurut Quick et al.,ada empat metode proses pengadaan yaitu:
1. Tender terbuka untuk semua rekanan yang terdaftar dan sesuai kriteria yang
telah ditentukan. Pada penentuan harga metode ini lebih menguntungkan,
tetapi memerlukan waktu yang lama, perhatian yang penuh dan staf yang
kuat.

11
2. Tender terbatas atau lelang tertutup, dengan rekanan tertentu yang sudah
terdaftar dan punya riwayat baik, harga masih dapat dikendalikan, tenaga dan
beban lebih ringan bila dibandingkan dengan lelang terbuka.
3. Pembelian melalui kontrak kerja dengan negosiasi, biasanya dilakukan
pendekatan langsung dengan rekanan terpilih (tidak lebih dari 3 rekanan)
untuk penentuan harga, juga negosiasi pencapaian harga atau penetapan
servis.
4. Pengadaan langsung, biasanya untuk pembelian jumlah kecil, perlu segera
tersedia, harga relatif lebih mahal.
Menurut penelitian Sarmini, pengadaan obat dengan pembelian langsung sangat
menguntungkan karena disamping waktunya cepat, juga volume obat tidak begitu
besar, sehingga tidak menumpuk di gudang. Kelebihan lainnya dari segi harga lebih
murah karena langsung dari distributornya, mendapatkan kualitas seperti yang
diinginkan, bila ada kesalahan mudah mengurusnya, dapat kredit, dapat memperpendek
lead time, sewaktu- waktu kehabisan / kekurangan obat dapat langsung menghubungi
distributor.
D. Evaluasi
Evaluasi adalah serangkaian prosedur untuk menilai suatu program dan
memperoleh informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, kegiatan, hasil dan
dampak serta biayanya. Fokus utama dari evaluasi adalah mencapai perkiraan yang
sistematis dari dampak program.
Evaluasi bermanfaat untuk:
1. Menetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang sedang
berjalan
2. Meramalkan kegunaan dari pengembangan usaha-usaha dan memperbaikinya
3. Mengukur kegunaan program-program yang inovatif
4. Meningkatkan efektivitas program, manajemen dan administrasi
5. Kesesuaian tuntutan tanggung jawab.
Tujuan diadakan evaluasi adalah untuk memperbaiki pelaksanaan dan
perencanaan program sehubungan dengan perlu adanya kegiatan-kegiatan yang
dilakukan antara lain untuk mengecek relevansi dari program dalam hal perubahan-
perubahan kecil yang terus menerus, mengukur kemajuan terhadap target yang
direncanakan, menentukan sebab dan faktor di dalam maupun di luar yang
mempengaruhi pelaksanaan program.
12
E. Efisiensi
Efisiensi adalah berhubungan dengan rasio output dengan input atau keuntungan
biaya. Tingkat perbandingan antara masukan (input) dengan hasil (output) yang
dicerminkan dalam rasio atau perbandingan diantara keduanya. Jika output lebih besar
dari input maka dapat dikatakan efisien dan sebaliknya jika input lebih besar dari output
maka dikatakan tidak efisien. Jadi tinggi rendahnya efisien ditentukan oleh besar
kecilnya rasio yang dihasilkan.
F. Indikator Efisiensi Perencanaan dan Pengadaan
1. Indikator perencanaan
a. Indikator persentase dana yang tersedia.
Data diperoleh dengan cara penelusuran data, yaitu data perencanaan
tahunan rumah sakit dan dana yang disediakan oleh rumah sakit untuk
memenuhi belanja obat. Nilai standar presentase dana yang tersedia adalah ≥
100%.
Rumus presentase dana
X = B / A x 100%
A : Dana yang direncanakan
B : Dana yang disediakan
b. Indikator persentase jumlah item obat yang diadakan dengan yang
direncanakan
Data yang digunakan adalah jumlah item obat dalam perencanaan dan
jumlah item obat dalam pengadaan. Nilai standar 100-120% .
Rumus perbandingan jumlah item obat yang ada dalam perencanaan
dengan jumlah item obat dalam pengadaan.
X = C / D x 100%
C : jumlah item obat dalam pengadaan
D : jumlah item obat dalam perencanaan
2. Indikator pengadaan
a. Frekuensi pengadaan tiap item obat
Frekuensi pengadaan tiap item obat setiap tahunnya dapat digolongkan
menjadi 3 kategori, yaitu frekuensi rendah (< 12 kali ), sedang (12-24 kali ),
dan tinggi ( >24 kali ). Banyaknya obat dengan frekuensi sedang dan tinggi
13
menunjukkan kemampuan IFRS dalam merespon perubahan kebutuhan obat
dan melakukan pembelian obat dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan
pada saat itu. Cara analisanya yaitu dengan mengambil secara acak sejumlah
kartu stok dalam setahun, dicatat nama masing-masing obat, kemudian
dilihat pada catatan pengadaan selama tahun tersebut.
b. Frekuensi kesalahan faktur
Kriteria kesalahan faktur yang digunakan adalah adanya ketidakcocokan
jenis obat, jumlah obat dalam satu item, atau jenis obat dalam faktur terhadap
surat pesanan yang bersesuaian. Cara analisanya yaitu dengan mengambil
secara acak sejumlah faktur dalam setahun, kemudian masing-masing faktur
tersebut dicocokkan dengan surat pesanan.
c. Frekuensi tertundanya pembayaran oleh rumah sakit terhadap waktu
yang disepakati
Tingkat frekuensi tertundanya pembayaran menunjukkan kurang baiknya
manajemen keuangan pihak rumah sakit.Hal ini dapat menunjukkan
kepercayaan pihak pemasok kepada rumah sakit sehingga potensial
menyebabkan tidak lancarnya suplai obat dikemudian hari.Cara menganalisa
frekuensi tertundanya pembayaran oleh rumah sakit adalah dengan cara
mengambil daftar hutang, kemudian dicocokkan dengan daftar
pembayarannya. Besarnya frekuensi tertundanya pembayaran IFRS terhadap
waktu yang telah disepakati dapat mengakibatkan :
1) Hubungan antara IFRS dengan pemasok terganggu
Hubungan antara IFRS dengan pemasok perlu dijaga agar tetap baik,
sehingga bila ada pengembalian obat yang kadaluarsa atau keluhan lain
dapat segera ditanggapi, segera mendapat daftar baru bila ada kenaikan
harga dan lancarnya kunjungan sales ke IFRS.
2) Penundaan pemesanan order oleh pemasok.
Penundaan pemesanan ini dapat mengganggu kelancaran dalam
pelayanan pasien, karena dengan tertundanya pemesanan akan
menyebabkan stok menjadi kosong sehingga kebutuhan pasien tidak
dapat dipenuhi.

14
G. E-Catalogue
Pengadaan secara elektronik atau E-Procurement adalah pengadaan barang/jasa
yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penerapan E-Procurement bertujuan untuk :
1. Meningkatkan transparansi/keterbukaan dalam proses pengadaan barang/jasa.
2. Meningkatkan persaingan yang sehat dalam rangka penyediaan pelayanan
public dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
3. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan proses pengadaan
barang/jasa.
Sesuai ketentuan yang berlaku, pengadaan barang/jasa secara elektronik atau E-
Procurementdapat dilakukan dengan E-Tendering atau E-Purchasing.
a. E-Tendering
E-tendering merupakan tata cara pemilihan penyedia barang/jasa yang
dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua penyedia barang/jasa
yang terdaftar pada sistem elektronik. Prinsip pemilihan penyedia barang/jasa
secara elektronik.
b. E-Purchasing
E-Purchasing merupakan tata cara pembelian barang/jasa melalui sistem E-
Catalogue obat.
2.1.2 PBF
Pedagang Besar Farmasi, yang selanjutnya disingkat PBF adalah perusahaan
berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat
dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.
A. PERIZINAN
1) Setiap pendirian PBF wajib memiliki izin dari Direktur Jenderal.
2) Setiap PBF dapat mendirikan PBF Cabang.
3) Setiap pendirian PBF Cabang wajib memperoleh pengakuan dari Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi di wilayah PBF Cabang berada.
4) Izin PBF berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi
persyaratan.
5) Pengakuan PBF Cabang berlaku mengikuti jangka waktu izin PBF.
Untuk memperoleh izin PBF, pemohon harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
15
a. Berbadan hukum berupa perseroan terbatas atau koperasi;
b. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
c. Memiliki secara tetap apoteker Warga Negara Indonesia sebagai penanggung jawab;
d. Komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak pernah terlibat baik langsung
atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang farmasi
dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir;
e. Menguasai bangunan dan sarana yang memadai untuk dapat melaksanakan
pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat serta dapat menjamin kelancaran pelaksanaan
tugas dan fungsi PBF;
f. Menguasai gudang sebagai tempat penyimpanan dengan perlengkapan yang dapat
menjamin mutu serta keamanan obat yang disimpan; dan
g. Memiliki ruang penyimpanan obat yang terpisah dari ruangan lain sesuai CDOB.
Dalam hal permohonan dilakukan dalam rangka penanaman modal, pemohon harus
memperoleh persetujuan penanaman modal dari instansi yang menyelenggarakan urusan
penanaman modal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selain memenuhi persyaratan diatas, PBF yang akan menyalurkan bahan obat juga
harus memenuhi persyaratan:
a. Memiliki laboratorium yang mempunyai kemampuan untuk pengujian bahan obat
yang disalurkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Direktur Jenderal; dan
b. Memiliki gudang khusus tempat penyimpanan bahan obat yang terpisah dari ruangan
lain.
Terhadap permohonan izin PBF dikenai biaya sebagai penerimaan negara bukan pajak
sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan. Dalam hal permohonan izin PBF
sebagaimana dimaksud diatas ditolak, maka biaya yang telah dibayarkan tidak dapat ditarik
kembali oleh pemohon.

2.1. TATA CARA PEMBERIAN IZIN PBF


Untuk memperoleh izin PBF, pemohon harus mengajukan
permohonan kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala
Badan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Balai POM.

Permohonan harus ditandatangani oleh direktur/ketua dan apoteker


calon penanggung jawab disertai dengan kelengkapan administratif
sebagai berikut:
a. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/identitas direktur/ketua;

16
b. Susunan direksi/pengurus;
c. Pernyataan komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak
pernah terlibat pelanggaran peraturan perundang- undangan di bidang
farmasi dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir;
d. Akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
e. Surat Tanda Daftar Perusahaan;
f. Fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan;
g. Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak;
h. Surat bukti penguasaan bangunan dan gudang;
i. Peta lokasi dan denah bangunan
j. Surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker penanggung jawab;
dan
k. Fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker penanggung jawab.

Untuk permohonan izin PBF yang akan menyalurkan bahan obat


selain harus memenuhi persyaratan harus melengkapi surat bukti
penguasaan laboratorium dan daftar peralatan.
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak diterimanya
tembusan permohonan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi melakukan
verifikasi kelengkapan administratif.

Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak diterimanya


tembusan permohonan , Kepala Balai POM melakukan audit pemenuhan
persyaratan CDOB.

Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak dinyatakan


memenuhi kelengkapan administratif, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
mengeluarkan rekomendasi pemenuhan kelengkapan administratif kepada
Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Balai POM dan
pemohon

Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak melakukan audit
pemenuhan persyaratan CDOB, Kepala Balai POM melaporkan pemohon
yang telah memenuhi persyaratan CDOB kepada Kepala Badan.

17
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima laporan,
Kepala Badan POM memberikan rekomendasi pemenuhan persyaratan
CDOB kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi dan pemohon.

Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima


rekomendasi serta persyaratan lainnya yang ditetapkan, Direktur Jenderal
menerbitkan izin PBF. Dalam hal ketentuan tidak dilaksanakan pada
waktunya, pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan
kegiatan kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala
Badan, Kepala Balai POM dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi .

Paling lama 12 (dua belas) hari kerja sejak diterimanya surat


pernyataan , Direktur Jenderal menerbitkan izin PBF dengan tembusan
kepada Kepala Badan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dan Kepala Balai POM.
Untuk memperoleh pengakuan sebagai PBF Cabang, pemohon
harus mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
dengan tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Balai POM, dan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Permohonan harus ditandatangani oleh kepala PBF Cabang dan
apoteker calon penanggung jawab PBF Cabang disertai dengan
kelengkapan administratif sebagai berikut:
a. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/ identitas kepala PBF Cabang;
b. Fotokopi izin PBF yang dilegalisasi oleh Direktur Jenderal;
c. Surat penunjukan sebagai kepala PBF Cabang;
d. Pernyataan kepala PBF Cabang tidak pernah terlibat pelanggaran
peraturan perundang-undangan di bidang farmasi dalam kurun waktu 2
(dua) tahun terakhir;
e. Surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker calon penanggung
jawab;
f. Surat bukti penguasaan bangunan dan gudang;
g. Peta lokasi dan denah bangunan; dan
h. Fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker calon penanggung jawab.

Untuk permohonan pengakuan sebagai PBF Cabang yang akan


18
menyalurkan bahan obat selain harus memenuhi persyaratan harus
melengkapi surat bukti penguasaan laboratorium dan daftar peralatan.
2.2. TATA CARA PEMBERIAN PENGAKUAN PBF CABANG
Untuk memperoleh pengakuan sebagai PBF Cabang, pemohon harus
mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan
tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Balai POM, dan Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Permohonan harus ditandatangani oleh kepala PBF Cabang dan
apoteker calon penanggung jawab PBF Cabang disertai dengan
kelengkapan administratif sebagai berikut:
a. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/identitas kepala PBF Cabang;
b. Fotokopi izin PBF yang dilegalisasi oleh Direktur Jenderal;
c. Surat penunjukan sebagai kepala PBF Cabang;
d. Pernyataan kepala PBF Cabang tidak pernah terlibat pelanggaran
peraturan perundang-undangan di bidang farmasi;
e. Surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker calon
penanggung jawab;
f. Surat bukti penguasaan bangunan dan gudang;
g. Peta lokasi dan denah bangunan; dan
h. Fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker calon penanggung jawab.
Untuk permohonan pengakuan sebagai PBF Cabang yang akan
menyalurkan bahan obat selain harus memenuhi persyaratan, harus
melengkapi surat bukti penguasaan laboratorium dan daftar peralatan.
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak diterimanya
tembusan permohonan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
melakukan verifikasi kelengkapan administratif.
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak diterimanya
tembusan permohonan sebagaimana, Kepala Balai POM melakukan audit
pemenuhan persyaratan CDOB.
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak dinyatakan
memenuhi kelengkapan administratif, Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota mengeluarkan rekomendasi pemenuhan kelengkapan
administratif kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan tembusan
kepada Kepala Balai POM dan pemohon.
19
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak dinyatakan
memenuhi persyaratan CDOB, Kepala Balai POM mengeluarkan
rekomendasi hasil analisis pemenuhan persyaratan CDOB kepada Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi dengan tembusan kepada pemohon.
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima
rekomendasi dan telah memenuhi kelengkapan administratif, Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi menerbitkan pengakuan PBF Cabang.
Dalam hal ketentuan tidak dilaksanakan pada waktunya, pemohon
dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi dengan tembusan kepada Direktur Jenderal,
Kepala Badan, Kepala Balai POM dan Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
Paling lama 12 (dua belas) hari kerja sejak menerima surat
pernyataan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi menerbitkan pengakuan PBF
Cabang dengan tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Badan, Kepala
Balai POM dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
2.3. MASA BERLAKU
Izin PBF dinyatakan tidak berlaku, apabila:
a. Masa berlakunya habis dan tidak diperpanjang;
b. Dikenai sanksi berupa penghentian sementara kegiatan; atau
c. Izin PBF dicabut.
Pengakuan Cabang PBF dinyatakan tidak berlaku, apabila:
a. Masa berlaku Izin PBF habis dan tidak diperpanjang;
b. Dikenai sanksi berupa penghentian sementara kegiatan; atau
c. Pengakuan dicabut.
2.4. PEMBAHARUAN IZIN PBF DAN PENGAKUAN PF CABANG
Dalam hal terjadi perubahan nama dan/atau alamat PBF serta
perubahan lingkup kegiatan penyaluran obat atau bahan obat, wajib
dilakukan pembaharuan izin PBF. Dalam hal terjadi perubahan izin PBF
dan/atau alamat PBF Cabang wajib dilakukan pembaharuan pengakuan PBF
Cabang. Tata cara memperbaharui izin PBF atau pengakuan PBF Cabang
berlaku ketentuan.
2.5. PENYELENGGARAAN PBF
20
PBF dan PBF Cabang hanya dapat mengadakan, menyimpan
dan menyalurkan obat dan/atau bahan obat yang memenuhi persyaratan
mutu yang ditetapkan oleh Menteri. PBF hanya dapat melaksanakan
pengadaan obat dari industri farmasi dan/atau sesama PBF. PBF hanya
dapat melaksanakan pengadaan bahan obat dari industri farmasi, sesama
PBF dan/atau melalui importasi. Pengadaan bahan obat melalui importasi
dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.

PBF Cabang hanya dapat melaksanakan pengadaan obat


dan/atau bahan obat dari PBF pusat. PBF dan PBF Cabang dalam
melaksanakan pengadaan obat atau bahan obat harus berdasarkan surat
pesanan yang ditandatangani apoteker penanggung jawab dengan
mencantumkan nomor SIKA.
Setiap PBF dan PBF Cabang harus memiliki apoteker penanggung
jawab yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan ketentuan pengadaan,
penyimpanan dan penyaluran obat dan/atau bahan obat. Apoteker
penanggung jawab harus memiliki izin sesuai ketentuan peraturan
perundang- undangan. Apoteker penanggung jawab dilarang merangkap
jabatan sebagai direksi/pengurus PBF atau PBF Cabang.
Dalam hal apoteker penanggung jawab tidak dapat melaksanakan
tugas, apoteker yang bersangkutan harus menunjuk apoteker lain sebagai
pengganti sementara yang bertugas paling lama untuk waktu 3 (tiga)
bulan. Penggantian harus mendapat persetujuan dari Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi.
Setiap pergantian apoteker penanggung jawab, pergantian
direktur/ketua PBF, wajib memperoleh persetujuan dari Direktur
Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Badan dan Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi. Setiap pergantian apoteker penanggung jawab,
pergantian direktur/ketua PBF Cabang, wajib memperoleh persetujuan dari
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan tembusan kepada Direktur
Jenderal, Kepala Badan, dan Kepala Balai POM.

Untuk memperoleh persetujuan , direksi/pengurus PBF atau PBF


Cabang melaporkan kepada Direktur Jenderal atau Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi paling lambat dalam jangka waktu 6 (enam) hari kerja sejak terjadi

21
perubahan. Paling lama dalam jangka waktu 6 (enam) hari kerja sejak
diterimanya laporan, Direktur Jenderal atau Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi menerbitkan surat persetujuan dengan tembusan kepada Kepala
Badan dan Kepala Balai POM.

PBF dan PBF Cabang harus melaksanakan pengadaan, penyimpanan


dan penyaluran obat dan/atau bahan obat sesuai dengan CDOB yang
ditetapkan oleh Menteri. Penerapan CDOB dilakukan sesuai pedoman
teknis CDOB yang ditetapkan oleh Kepala Badan. PBF dan PBF Cabang
yang telah menerapkan CDOB diberikan sertifikat CDOB oleh Kepala
Badan.
Setiap PBF atau PBF Cabang wajib melaksanakan dokumentasi
pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran di tempat usahanya dengan
mengikuti pedoman CDOB. Dokumen dapat dilakukan secara elektronik.
Dokumentasi setiap saat harus dapat diperiksa oleh petugas yang
berwenang.
Setiap PBF dan PBF Cabang dilarang menjual obat atau bahan obat
secara eceran. Setiap PBF dan PBF Cabang dilarang menerima dan/atau
melayani resep dokter.
PBF dan PBF Cabang hanya dapat menyalurkan obat kepada PBF
atau PBF Cabang lain, dan fasilitas pelayanan kefarmasian sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Fasilitas pelayanan kefarmasian meliputi:


a. Apotek;
b. Instalasi farmasi rumah sakit;
c. Puskesmas;
d. Klinik; atau
e. Toko obat.
Dikecualikan dari ketentuan PBF dan PBF Cabang tidak dapat
menyalurkan obat keras kepada toko obat. Untuk memenuhi kebutuhan
pemerintah, PBF dan PBF Cabang dapat menyalurkan obat dan bahan obat
kepada instansi pemerintah yang dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. PBF Cabang hanya dapat menyalurkan

22
obat dan/atau bahan obat di wilayah provinsi sesuai surat pengakuannya.

Dikecualikan dari ketentuan, PBF Cabang dapat menyalurkan obat


dan/atau bahan obat di wilayah provinsi terdekat untuk dan atas nama PBF
Pusat yang dibuktikan dengan Surat Penugasan/ Penunjukan. Surat
Penugasan/ Penunjukan disahkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi dimaksud.
PBF dan PBF Cabang hanya melaksanakan penyaluran obat
berdasarkan surat pesanan yang ditandatangani apoteker pengelola apotek,
apoteker penanggung jawab, atau tenaga teknis kefarmasian penanggung
jawab untuk toko obat dengan mencantumkan nomor SIPA, SIKA, atau
SIKTTK.
PBF dan PBF Cabang hanya dapat menyalurkan bahan obat kepada
industri farmasi, PBF dan PBF Cabang lain, apotek, instalasi farmasi rumah
sakit dan lembaga ilmu pengetahuan.

Penyaluran berdasarkan surat pesanan yang ditandatangani apoteker


pengelola apotek atau apoteker penanggung jawab. Dikecualikan dari
ketentuan surat pesanan untuk lembaga ilmu pengetahuan ditandatangani
oleh pimpinan lembaga.
Setiap PBF dan PBF Cabang yang melakukan pengadaan,
penyimpanan, dan penyaluran narkotika wajib memiliki izin khusus sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap PBF atau PBF Cabang
yang melakukan pengubahan kemasan bahan obat dari kemasan atau
pengemasan kembali bahan obat dari kemasan aslinya wajib melakukan
pengujian laboratorium. Dalam hal dilakukan pengubahan kemasan atau
pengemasan kembali bahan obat, PBF atau PBF Cabang wajib memiliki
ruang pengemasan ulang sesuai persyaratan CDOB.
Selain menyelenggarakan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran
obat dan/atau bahan obat, PBF mempunyai fungsi sebagai tempat
pendidikan dan pelatihan.
2.8. GUDANG PBF
Gudang dan kantor PBF atau PBF Cabang dapat berada pada lokasi
yang terpisah dengan syarat tidak mengurangi efektivitas pengawasan intern
oleh direksi/pengurus dan penanggung jawab. Dalam hal gudang dan kantor
PBF atau PBF Cabang berada dalam lokasi yang terpisah maka pada gudang

23
tersebut harus memiliki apoteker.
PBF dan PBF Cabang dapat melakukan penambahan gudang atau
perubahan gudang. Setiap penambahan atau perubahan gudang PBF harus
memperoleh persetujuan dari Direktur Jenderal dan Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi.
Permohonan penambahan gudang PBF diajukan secara tertulis kepada
Direktur Jenderal dengan tembusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi,
Kepala Badan, dan Kepala Balai POM dengan mencantumkan:
a. Alamat kantor PBF pusat;
b. Alamat gudang pusat dan gudang tambahan;
c. Nama apoteker penanggung jawab pusat; dan
d. Nama apoteker penanggung jawab gudang tambahan.

Permohonan ditandatangani oleh direktur/ketua dan dilengkapi


dengan persyaratan sebagai berikut:
a. Fotokopi izin PBF;
b. Fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker calon
penanggung jawab gudang tambahan;
c. Surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker penanggung jawab;
d. Surat bukti penguasaan bangunan dan gudang; dan
e. Peta lokasi dan denah bangunan gudang tambahan.

Permohonan penambahan gudang PBF Cabang diajukan secara


tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan mengikuti
ketentuan.
Permohonan perubahan gudang PBF diajukan secara tertulis
kepada Direktur Jenderal dengan tembusan Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi, Kepala Badan, dan Kepala Balai POM dengan mencantumkan:
a. Alamat kantor PBF pusat;
b. Alamat gudang; dan
c. Nama apoteker penanggung jawab.

Permohonan ditandatangani oleh direktur/ketua dan dilengkapi dengan


persyaratan sebagai berikut:
a. Fotokopi izin PBF; dan

24
b. Peta lokasi dan denah bangunan gudang.

Permohonan perubahan gudang PBF Cabang diajukan secara tertulis


kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan mengikuti ketentuan.
Gudang tambahan hanya melakukan kegiatan penyimpanan dan penyaluran
sebagai bagian dari PBF atau PBF Cabang.
2.9. PELAPORAN

Setiap PBF dan cabangnya wajib menyampaikan laporan kegiatan


setiap 3 (tiga) bulan sekali meliputi kegiatan penerimaan dan penyaluran
obat dan/atau bahan obat kepada Direktur Jenderal dengan tembusan
kepada Kepala Badan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Balai
POM.

Selain laporan kegiatan, Direktur Jenderal setiap saat dapat meminta


laporan kegiatan penerimaan dan penyaluran obat dan/atau bahan obat.
Setiap PBF dan PBF Cabang yang menyalurkan narkotika dan psikotropika
wajib menyampaikan laporan bulanan penyaluran narkotika dan
psikotropika sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.

Laporan dapat dilakukan secara elektronik dengan menggunakan


teknologi informasi dan komunikasi. Laporan setiap saat harus dapat
diperiksa oleh petugas yang berwenang.

2.10. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah
kabupaten/kota melakukan pembinaan secara berjenjang terhadap segala
kegiatan yang berhubungan dengan peredaran obat atau bahan obat.
Pembinaan diarahkan untuk :
a. Menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat dan bahan
obat untuk pelayanan kesehatan; dan
b. Melindungi masyarakat dari bahaya penggunaan obat atau bahan obat
yang tidak tepat dan/atau tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan,
dan kemanfaatan.

25
Pedoman mengenai pembinaan ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Pengawasan terhadap PBF dan PBF Cabang sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri ini dilaksanakan oleh Kepala Badan.

Pengawasan diarahkan untuk :


a. Menjamin obat dan bahan obat yang beredar memenuhi persyaratan
mutu, keamanan dan kemanfaatan; dan
b. Menjamin terselenggaranya penyaluran obat dan bahan obat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Pedoman mengenai pengawasan ditetapkan oleh Kepala Badan.


Pelanggaran terhadap semua ketentuan dalam Peraturan Menteri ini dapat
dikenai sanksi administratif.

Sanksi administratif dapat berupa:


a. Peringatan;
b. Penghentian sementara kegiatan;
c. Pencabutan pengakuan; atau
d. Pencabutan izin.
Penghentian sementara kegiatan berlaku paling lama 21 hari
kerja dan harus dilaporkan kepada Direktur Jenderal. Dalam hal PBF atau
PBF Cabang diberikan sanksi administratif berupa penghentian sementara
kegiatan , pengaktifan kembali izin atau pengakuan dapat dilakukan jika
PBF atau PBF Cabang telah membuktikan pemenuhan seluruh persyaratan
administratif dan teknis sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri
ini.

Direktur Jenderal berwenang mencabut Izin PBF berdasarkan


rekomendasi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan/atau hasil analisis
pengawasan dari Kepala Badan. Kepala Badan berwenang memberi sanksi
administratif dalam rangka pengawasan berupa Peringatan dan Penghentian
Sementara Kegiatan PBF dan/atau PBF Cabang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi berwenang memberi sanksi


administratif berupa peringatan, penghentian sementara kegiatan PBF
dan/atau PBF Cabang, dan pencabutan pengakuan PBF Cabang. Kepala
Badan wajib melaporkan pemberian sanksi administratif kepada Direktur

26
Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi wajib melaporkan pemberian sanksi
administratif kepada Direktur Jenderal dengan tembusan Kepala Badan dan
Kepala Balai POM.

2.11. KETENTUAN PERALIHAN


Permohonan penyesuaian izin PBF harus diajukan oleh pemohon
dengan kelengkapan sebagai berikut:
a. Surat permohonan kepada Direktur Jenderal yang ditandatangani oleh
direktur utama dan apoteker penanggung jawab;
b. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/identitas direktur/ketua;
c. Susunan direksi/pengurus;
d. Surat pernyataan komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak
pernah terlibat pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang
farmasi dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir;
e. Akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
f. Surat Tanda Daftar Perusahaan;
g. Fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan;
h. Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak;
i. Surat bukti penguasaan bangunan dan gudang;
j. Peta lokasi dan denah bangunan;
k. Surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker penanggung jawab;
l. Fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker penanggung jawab;
m. Rekomendasi pemenuhan persyaratan CDOB dari Kepala Badan; dan
n. Rekomendasi pemenuhan persyaratan administratif dari Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi.
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak diterimanya
permohonan penyesuaian izin PBF dan dinyatakan lengkap, Direktur
Jenderal menerbitkan izin PBF dengan tembusan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi, Kepala Badan, dan Kepala Balai POM.
Permohonan penyesuaian pengakuan PBF Cabang harus diajukan oleh
pemohon dengan kelengkapan sebagai berikut:
a. Surat permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi yang

27
ditandatangani oleh direktur utama dan apoteker penanggung jawab;
b. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/identitas direktur/ketua;
c. Susunan direksi/pengurus;
d. Pernyataan komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak
pernah terlibat pelanggaran peraturan perundang- undangan di bidang
farmasi dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir;
e. Akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan;
f. Surat Tanda Daftar Perusahaan;
g. Fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan;
h. Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak;
i. Surat bukti penguasaan bangunan dan gudang;
j. Peta lokasi dan denah bangunan;
k. Surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker penanggung jawab;
l. Fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker penanggung jawab;
m. Rekomendasi pemenuhan persyaratan CDOB dari Kepala Badan; dan
n. Rekomendasi pemenuhan persyaratan administratif dari Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak diterimanya
permohonan penyesuaian pengakuan PBF Cabang dan dinyatakan lengkap,
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi menerbitkan pengakuan PBF Cabang
dengan tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Badan, Kepala Balai
POM, dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
2.1.4
Pengertian Industri Farmasi
Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1799/Menkes/Per/XII/2010
tentang Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan
untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Industri farmasi harus membuat
obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang
tercantum dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang
membahayakan penggunaanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif.

2.1.2 Persyaratan Industri Farmasi

28
Setiap pendirian industri farmasi wajib memperoleh izin industri farmasi dari Direktur
Jenderal. Direktur Jenderal yang dimaksud adalah Direktur Jenderal pada Kementerian
Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pembinaan kefarmasian dan alat
kesehatan. Persyaratan untuk memperoleh izin industri farmasi sebagaimana yang tercantum
dalam Permenkes RI No. 1799/Menkes/Per/IX/2010 adalah sebagai berikut:
1. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas
2. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat
3. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak
4. Memiliki paling sedikit 3 (tiga) orang apoteker Warga Negara Indonesia masing-
masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi, dan pengawasan mutu
5. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung ataupun tidak langsung
dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian.
Dikecualikan dari persyaratan di atas poin 1 dan 2, bagi pemohon izin industri farmasi
milik Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

2.1.3 Pembinaan dan Pengawasan Industri Farmasi


Pembinaan terhadap pengembangan Industri Farmasi dilakukan oleh Direktur
Jenderal, sedangkan pengawasan dilakukan oleh Kepala Badan. Pelanggaran terhadap
ketentuan dalam Permenkes RI No. 1799/Menkes/Per/IX/2010 dapat dikenakan sanksi
administratif berupa :
a. Peringatan secara tertulis
b. Larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan/atau perintah untuk penarikan
kembali obat atau bahan obat dari peredaran bagi obat atau bahan obat yang tidak
memenuhi standar dan persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan, atau mutu
c. Perintah pemusnahan obat atau bahan obat, jika terbukti tidak memenuhi
persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatn, atau mutu
d. Penghentian sementara kegiatan
e. Pembekuan izin industri farmasi
f. Pencabutan izin industri farmasi

2.2 Cara Pembuatan Obat Yang Baik


CPOB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai prosedur atau
langkah-langkah yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat
jadi, yang diproduksi dengan menerapkan “Good Manufacturing Practices” dalam seluruh
29
aspek dan rangkaian kegiatan produksi sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi
persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
CPOB bertujuan untuk menjamin obat yang dibuat secara dinamis sesuai dengan
perkembangan zaman, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan
penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu.
Perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi farmasi menyebabkan perubahan-
perubahan yang sangat cepat pula dalam konsep serta persyaratan CPOB. Konsep CPOB
bersifat dinamis yang memerlukan penyesuaian dari waktu ke waktu mengikuti
perkembangan teknologi di bidang farmasi.
Ruang lingkup CPOB meliputi manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas,
peralatan, sanitasi dan higienis, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri dan audit mutu,
penanganan keluhan terhadap produk, penarikan kembali produk dan produk kembalian,
dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, serta kualifikasi dan validasi.

2.2.1 Manajemen Mutu


Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan
penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam izin edar (registrasi) dan tidak
menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya.

30
karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen mutu bertanggung jawab
untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu” yang memerlukan partisipasi
dan komitmen dari semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok,
dan para distributor. Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan,
diperlukan manajemen mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar.
Unsur dasar manajemen mutu adalah:
1. Suatu infrastruktur atau sistem mutu yang tepat mencakup struktur organisasi,
prosedur, proses dan sumber daya.
2. Tindakan sistematis diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat
kepercayaan tinggi sehingga produk atau jasa pelayanan yang dihasilkan akan selalu
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Keseluruhan tindakan tersebut disebut pemastian mutu. CPOB adalah bagian dari
pemastian mutu yang memastikan bahwa obat dibuat dan dikendalikan secara konsisten
untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya dan persyaratan
dalam izin edar serta spesifikasi produk.

2.2.2 Personalia
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 51 tahun 2009, industri farmasi harus memiliki 3
(tiga) orang apoteker sebagai penanggung jawab masing-masing pada bidang pemastian
mutu, produksi, dan pengawasan mutu setiap produksi Sediaan Farmasi. Suatu industri
farmasi bertanggung jawab menyediakan personil yang terkualifikasi dan dalam jumlah yang
memadai agar proses produksi dapat berjalan dengan baik. Semua personil harus memahami
prinsip CPOB dan memiliki sikap dan kesadaran tinggi untuk mewujudkan CPOB agar
produk yang dihasilkan bermutu. Selain itu, personil hendaklah memiliki kesehatan mental
dan fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara profesional sebagaimana
mestinya. Tugas dan kewenangan dari tiap personil tersebut hendaknya tercantum dalam
uraian tertulis. Tugas masing-masing personil tersebut boleh diwakilkan kepada seseorang
yang memiliki tingkat kulifikasi yang memadai.

2.2.3 Bangunan dan Fasilitas


Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain, konstruksi,
letak yang memadai dan kondisi yang sesuai serta perawatan yang dilakukan dengan baik
untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus
dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil terjadinya resiko kekeliruan, pencemaran silang
31
dan kesalahan lain serta memudahkan pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif
untuk menghindari pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran dan dampak lain yang
dapat menurunkan mutu obat.
Untuk mencegah terjadinya pencemaran yang berasal dari lingkungan dan sarana, maka
perlu:
1. Ruang terpisah yang dirancang khusus disiapkan untuk menghindari kontaminasi.
2. Kelas A atau kelas 100, berada di bawah aliran udara laminer dan memiliki efisiensi
saringan udara akhir sebesar 99.995%.
3. Kelas B atau kelas 100, merupakan ruangan steril, kelas ini adalah lingkungan latar
belakang untuk zona kelas A dan memiliki efisiensi saringan udara akhir sebesar
99.995%.
4. Kelas C atau kelas 10.000, merupakan ruangan steril dan memiliki efisiensi saringan
udara sebesar 99.95%.
5. Kelas D atau kelas 100.000, adalah ruangan bersih dan memiliki efisiensi saringan
udara sebesar 99.95% bila menggunakan sistem resirkulasi ditambah make-up air
(10-20% fresh air) atau efisiensi saringan udara 90% bila menggunakan sistem
single pass (100% fresh air).
6. Kelas E adalah ruangan umum dan memiliki efisiensi saringan udara sebesar 99.95%
bila menggunakan sistem resirkulasi ditambah make-up air (10-20% fresh air) atau
90% bila menggunakan sistem single pass (100% fresh air).

Dalam bangunan suatu industri farmasi permukaan bagian dalam ruangan seperti
dinding, lantai dan langit-langit hendaklah licin, bebas dari keretakan dan sambungan terbuka
serta mudah dibersihkan dan bila perlu mudah didesinfeksi. Lantai di daerah pengolahan
hendaklah dibuat dari bahan kedap air, permukaan yang rata dan memungkinkan
pembersihan secara cepat dan efisien. Dinding juga hendaklah kedap air dan memiliki
permukaan yang mudah dicuci. Sudut-sudut antara dinding, lantai dan langit-langit dalam
daerah-daerah kritis hendaklah berbentuk lengkungan.

2.2.4 Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah memiliki rancang bangun
dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai, dan ditempatkan dengan tepat sehingga
mutu dari setiap produk obat terjamin secara seragam dari bets ke bets, serta untuk
memudahkan pembersihan dan perawatannya. CPOB mempersyaratkan bahwa peralatan
32
sebaiknya dirawat secara teratur melalui program perawatan untuk mencegah cacat fungsi
atau kontaminasi yang dapat mengubah identitas, kualitas atau kemurnian suatu produk
teratur melalui program perawatan untuk mencegah cacat fungsi atau kontaminasi yang dapat
mengubah identitas, kualitas atau kemurnian suatu produk.

2.2.5 Sanitasi dan Higienis


Tingkat sanitasi dan higienis yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek
pembuatan obat. Ruang lingkup meliputi personalia, bangunan, peralatan, dan perlengkapan,
bahan produksi serta wadahnya, dan setiap hal yang dapat merupakan sumber pencemaran
produk. Sumber pencemaran hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan
higienis yang menyeluruh serta terpadu.
Sanitasi dan higienis yang diatur dalam pedoman CPOB terbaru adalah terhadap personalia,
bangunan, dan peralatan. Prosedur sanitasi dan higienis hendaklah divalidasi serta dievaluasi
secara berkala untuk memastikan efektivitas prosedur agar selalu memenuhi persyaratan.

2.2.6 Produksi
Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan
dan memenuhi ketentuan CPOB yang senantiasa dapat menjamin produk obat jadi dan
memenuhi ketentuan izin pembuatan serta izin edar (registrasi) sesuai dengan spesifikasinya.
Mutu suatu obat tidak hanya ditentukan oleh hasil analisis terhadap produk akhir, melainkan
juga oleh mutu yang dibangun selama tahapan proses produksi sejak pemilihan bahan awal,
penimbangan, proses produksi, personalia, bangunan, peralatan, kebersihan dan higienis
sampai dengan pengemasan.
Prinsip utama produksi adalah :
1. Adanya keseragaman atau homogenitas dari bets ke bets
2. Proses produksi dan pengemasan senantiasa menghasilkan produk yang seidentik
mungkin (dalam batas syarat mutu) baik bagi bets yang sudah diproduksi maupun
yang akan diproduksi.

Hakekat produksi adalah sebagai berikut :


1. Mutu produk obat tidak ditentukan oleh hasil akhir analisis saja, tetapi ditentukan oleh
keseluruhan proses produksi (built in process).
33
2. Adanya prosedur baku (standar) untuk setiap langkah (tahapan) proses produksi
dengan persyaratan yang harus diikuti dengan konsisten.
Ruangan steril, ruangan penyangga, ruangan ganti pakaian steril dan ruangan ganti
pakaian biasa atau ruangan produksi lain hendaklah memiliki perbedaaan tekanan udara 10-
15 Pa. Tekanan udara dalam ruangan yang memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap suatu
produk hendaklah selalu lebih tinggi dari pada ruangan lain.
Prosedur produksi dibuat oleh penanggung jawab produksi bersama dengan
penanggung jawab pengawasan mutu yang dapat menjamin obat yang dihasilkan memenuhi
spesifikasi yang ditentukan. Prosedur kerja standar hendaklah tertulis, mudah dipahami dan
dipatuhi oleh karyawan produksi. Dokumentasi setiap langkah dilakukan dengan cermat,
tepat dan ditangani oleh karyawan yang melaksanakan tugas.

2.2.7 Pengawasan Mutu


Pengawasan mutu adalah bagian dari CPOB yang berhubungan dengan pengambilan
sampel, spesifikasi dan pengujian, serta dokumentasi dan prosedur pelulusan yang
memastikan bahwa bahan yang belum diluluskan tidak digunakan serta produk yang belum
diluluskan tidak dijual atau dipasok sebelum mutunya dinyatakan memenuhi syarat.
Dokumentasi dan prosedur pelulusan yang diterapkan bagian pengawasan mutu
hendaklah menjamin bahwa pengujian yang diperlukan telah dilalukan sebalum bahan
digunakan dalam produksi dan produk disetujui sebelum didistribusikan. Personil
pengawasan mutu hendaklah memiliki akses ke area produksi untuk pengambilan sampel dan
penyelidikan yang diperlukan.
Bagian pengawasan mutu dalam suatu pabrik obat bertanggung jawab untuk
memastikan bahwa:
1. Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan untuk
identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas, dan keamanannya.
2. Tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai prosedur yang ditetapkan dan telah
divalidasi sebelumnya antara lain melalui evaluasi, dokumentasi, dan produksi.
3. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap suatu bets
obat telah dilaksanakan dan bets tersebut memenuhi spesifikasi yang ditetapkan
sebelum didistribusikan.
4. Suatu bets obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang
ditetapkan.

34
Area laboratorium pengujian mutu hendaklah terpisah secara fisik dari ruang produksi
agar terbebas dari sumber cemaran maupun getaran yang dapat berpengaruh terhadap hasil
pengujian. Laboratorium fisiko-kimia, mikrobiologi, dan kimia hendaklah terpisah satu sama
lain karena perbedaan jenis pengujian, peralatan dan bahan-bahan penguji yang terdapat di
setiap laboratorium.
Kegiatan bagian pengawasan mutu yang disyaratkan dalam CPOB adalah sebagai berikut:
1. Penanganan baku pembanding
2. Penyusunan spesifikasi dan prosedur pengujian
3. Penanganan contoh pertinggal
4. Validasi
5. Pengawasan terhadap bahan awal, produk antara, produk ruahan, dan obat jadi
meliputi spesifikasi, pengambilan contoh, pengujian untuk bahan-bahan tersebut,
serta in process control
6. Pengujian ulang bahan yang diluluskan
7. Pengujian stabilitas
8. Penilaian terhadap supplier
9. Penanganan terhadap keluhan produk dan produk kembalian

2.2.8 Inspeksi Diri dan Audit Mutu


Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan
pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB. Program inspeksi diri
hendaklah dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk
menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara
independen dan rinci oleh petugas yang kompeten dari perusahaan. Ada manfaatnya juga bila
menggunakan auditor luar yang independen. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara rutin
dan pada situasi khusus, misalnya bila terjadinya penarikan kembali obat jadi atau terjadi
penolakan yang berulang. Semua saran untuk tindakan perbaikan supaya dilaksanakan.
Prosedur dan catatan inspeksi diri hendaklah didokumentasikan dan dibuat program tindak
lanjut yang efektif.
Inspeksi diri dapat dilakukan oleh tiap bagian sesuai dengan kebutuhan pabrik, namun
inspeksi diri yang dilakukan secara menyeluruh hendaklah dilaksanakan minimal satu kali
dalam setahun. Frekuensi inspeksi diri hendaklah tertulis dalam prosedur tetap inspeksi diri.
Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri. Audit mutu
meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu
35
dengan tujuan spesifik untuk meningkatkan mutu. Audit mutu umumnya dilaksanakan oleh
spesialis dari luar atau independen atau tim yang dibentuk khusus untuk hal ini oleh
manajemen perusahaan.

2.2.9 Penanganan Keluhan Terhadap Produk, Penarikan Kembali Produk dan Produk
Kembalian
Keluhan terhadap obat dan laporan keluhan dapat menyangkut mutu, efek samping
yang merugikan, atau masalah terapetik. Semua keluhan dan laporan keluhan hendaklah
diteliti dan dievaluasi dengan cermat, kemudian diambil tindak lanjut yang sesuai dan
dibuatkan laporan.
Penarikan kembali obat jadi dapat berupa penarikan kembali satu atau beberapa bets
atau seluruh obat jadi tertentu dari semua mata rantai distribusi. Penarikan kembali dilakukan
apabila ditemukan produk yang tidak memenuhi persyaratan mutu atau atas dasar
pertimbangan adanya efek samping yang tidak diperhitungkan yang merugikan kesehatan.
Obat kembalian adalah obat jadi yang telah beredar yang kemudian dikembalikan ke
pabrik karena adanya keluhan, mengenai kerusakan, kadaluwarsa, masalah keabsahan atau
sebab lain mengenai kondisi obat, wadah atau kemasan sehingga menimbulkan keraguan
akan keamanan, identitas, mutu dan jumlah obat yang bersangkutan.

2.2.10 Dokumentasi
Dokumentasi pembuatan obat merupakan bagian dari sistem informasi manajemen
yang meliputi spesifikasi, prosedur, metode dan instruksi, perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian, serta evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan obat. Dokumentasi sangat
penting untuk memastikan bahwa setiap petugas mendapat instruksi secara rinci dan jelas
mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakannya sehingga memperkecil resiko terjadinya
kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan.
2.2.11 Pembuatan dan Analisis berdasarkan Kontrak
Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui dan
dikendalikan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau
pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak tertulis antara pemberi dengan
penerima kontrak harus dibuat secara jelas untuk menentukan tanggung jawab dan kewajiban
masing-masing pihak. Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets
produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian manajemen mutu
(pemastian mutu).
36
2.2.12 Kualifikasi dan Validasi
CPOB mengisyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang
diperlukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan.
Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat mempengaruhi mutu
produk hendaklah divalidasi. Pendekatan dengan kajian resiko hendaklah digunakan untuk
menentukan ruang lingkup dan cakupan validasi.
Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi
hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan dalam Rencana Induk Validasi (RIV)
atau dokumen setara. RIV merupakan dokumen yang singkat, tepat dan jelas serta mencakup
sekurang-kurangnya kebijakan validasi, struktur organisasi kegiatan validasi, ringkasan
fasilitas, sistem, peralatan, proses yang akan divalidasi, format dokumen, format protokol,
laporan validasi, perencanaan dan jadwal pelaksanaan, pengendalian perubahan, serta acuan
dokumen yang digunakan. RIV dapat dibuat tersendiri untuk suatu proyek besar dan/atau
kompleks, misalnya bangunan dan fasilitas baru, sistem HVAC, sistem pengolahan air dan
sistem komputerisasi, fasilitas betalaktam, fasilitas steril, validasi metode analisis, validasi
pembersihan atau digabungkan ke dalam satu dokumen RIV.
Kualifikasi dibedakan atas :
1. Kualifikasi Desain
Adalah unsur pertama dalam melakukan validasi terhadap fasilitas, sistem atau
peralatan baru.
2. Kualifikasi Instalasi
Kualifikasi Instalasi hendaklah dilakukan terhadap fasilitas, sistem dan peralatan baru
atau yang dimodifikasi.

3. Kualifikasi Operasional
Kualifikasi Operasional hendaklah dilakukan setelah kualifikasi instalasi selesai
dilaksanakan, dikaji dan disetujui.
4. Kualifikasi Kinerja
Kualifikasi kinerja hendaklah dilakukan setelah kualifikasi instalasi dan rasional
dilaksanakan, dikaji dan disetujui.
5. Kualifikasi Fasilitas, Peralatan, dan Sistem Terpasang yang telah Operasional.
Hendaklah tersedia bukti untuk mendukung dan memverifikasi parameter operasional
dan batas variabel kritis pengoperasian alat. Selain itu, kalibrasi, prosedur
37
pengoperasian, pembersihan, perawatan preventif serta prosedur dan catatan pelatihan
operator hendaklah didokumentasikan.

2.2 METODE ANALISIS


2.2.1 Analisis ABC (Always, Better, Control)
Analisis ABC atau Pareto analysis dikembangkan pertama kali pada tahun 1907
oleh seseorang sosiologis-ekonom Itali yang bernama Vilfredo pareto (1848-1923).
Pareto meyakini bahwa 80-85% dari jumlah uang yang beredar di itali adalah hanya
dimiliki oleh sebagian kecil populasi yaitu sekitar 15-20% orang. Ultimatum 20-80 ini
lah yang kemudian di kenal dengan hukum pareto. Dalam manajemen Intentory, hukum
pareto ini kemudian diaplikasikan menjadi metode analisa ABC. Inti dari analisa ABC
mengelompokkan item barang atau obat ke dalam 3 jenis klafikasi berdasarkan volume
tahunan dalam jumlah uang.
Analisis ABC dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu analisis ABC pemakaian
yang dilakukan dengan mengumpulkan daftar jenis obat dalam satu periode, membuat
daftar pemakaian dari masing−masing jenis obat, jumlah pemakaian masing−masing
jenis obat diurutkan berdasarkan jumlah pemakaian terbanyak ke jumlah pemakaian yang
terkecil, menghitung persentase untuk masing−masing dan persentase kumulatifnya,
serta mengelompokkan obat menjadi 3 kelompok berdasarkan persentase 70−20−10
(sampai dengan 70% masuk kelompok A, 71–90% masuk kelompok B, lebih dari 90%
masuk kelompok C). Analisis ABC investasi yang dilakukan dengan mengumpulkan
seluruh daftar jenis obat selama satu periode, mencatat harga pembelian masing-masing
jenis untuk periode tersebut, menghitung biaya pemakaian setiap jenis dengan cara
mengkalikan antara jumlah pemakaian dengan harga satuan, menyusun nilai investasi
dari yang terbesar hingga yang terkecil, menghitung persentase dan kumulatifnya,
mengelompokkan obat menjadi 3 kelompok dengan persentase 70−20−10.
Teknik pengendalian dengan menggunakan metode ABC adalah pengendalian dari
aspek ekonomis, karena suatu jenis obat dapat memakan anggaran biaya yang besar
disebabkan pemakaiannya banyak atau harganya mahal. Dengan analisis nilai ABC ini
dapat diidentifikasikan jenis-jenis obat yang dimulai dari golongan obat yang
membutuhkan biaya terbanyak. Pada dasarnya obat dibagi dalam tiga golongan yaitu
golongan A jika obat tersebut mempunyai nilai kurang lebih 80% dengan pemakaian 10-
38
80 % dari keseluruhan obat, golongan B jika obat tersebut mempunyai nilai sekitar 15%
dengan pemakaian tidak lebih dari 20% dari keseluruhan obat dan golongan C
mempunyai nilai 5% dengan pemakaian 10% dari seluruh jumlah obat.

Prosedur Analisis ABC


Prinsip utama analisis abc adalah dengan menempatkan jenis-jenis perbekalan
farmasi ke dalam suatu urutan dimulai dengan jenis yang memakan anggaran terbanyak,
urutan langkah sebagai berikut :
1. Kumpulkan kebutuhan perbekalan farmasi yang diperoleh dari salah satu
metode perencanaan, daftar harga perbekalan farmasi, dan biaya yang
diperlukan untuk tiap nama dagang. Kelompokkan ke dalam jenis-jenis/
katagori, dan jumlahnya biaya perjenis/kategori perbekalan farmasi.
2. Jumlahkan anggaran total, hitung masing-masing prosentase jenis perbekalan
farmasi terhadap anggaran total.
3. Urutkan kembali perbekalan farmasi di atas mulai dari yang memakan
prosentase biaya paling banyak.
4. Hitung prosentase kumulatif, dimulai dengan urutan 1 dan seterusnya.
5. Identifikasi perbekalan farmasi yang menyerap ± 70% anggaran perbekalan
total.
6. Perbekalan farmasi katagori A menyerap anggaran 70%
7. Perbekalan farmasi katagori B menyerap anggaran 20%
8. Perbekalan farmasi katagori C menyerap anggaran 10% (Depkes RI 2008).

Contoh cara membuat Analisa ABC


Untuk lebih memahami uraian di atas, berikut diberikan contoh klasifikasi dengan
analisa ABC.
1. Berikan harga dasar perolehan saat ini dari masing-masing item obat :
Nama obat Satuan Banyak Harga
Asam mefenamat tab Box/100 720 32.000
Erythromisin tab Box/60 450 49.000
Ethambutol Box/100 400 52.000
Pyrazinamid Box/100 400 45.000
Dextrometophan tab Klg/1000 725 9.000

39
Paracetamol tab Klg/1000 1300 7.000
Amoksillin tab Box/100 1500 35.000
Kotrimokasazol tab Box/100 150 45.000
Glibenklamide Box/100 50 60.000
Klonidin Box/100 125 75.000
2. Menghitung persentase nilai item obat
Untuk mendapatkan persentase nilai masing-masing obat adalah dengan cara
sebagai berikut :
Asam Mafenamat (D) = 720 box
Price (harga) = Rp.32.000/box
N = DxP = 720 X 32000 = 23.040.000
Dengan cara yang sama dengan asam mefenamat diatas, lakukan juga
perhitungan terhadap jenis obat yang lainnya, sehingga akan diperoleh nilai sebagai
berikut :
Nama obat Banyak Harga Nilai (N) Persen nilai Klasifikasi
(D) (Rp) (P) (N%) ABC
Asam mefenamat 720 32.000 23.040.000 13,4 B
Erytromisin tab 450 49.000 22.050.000 12,8 B
Ethambutol 400 52.000 20.800.000 12,1 C
Pyrazinamid 400 45.000 18.000.000 10,51 C
Dextrometorphan tab 725 9.000 6.525.000 3,81 C
Paracetamol tab 1300 7.000 9.100.000 5,31 C
Amoksillin tab 1500 35.000 52.500.000 30,6 A
Kotrimoksazol tab 150 45.000 6.750.000 3,94 C
Glibenklamide 50 60.000 3.000.000 1,75 C
Klonidin 125 75.000 9.375.000 5,48 C
Total 171.140.000 100

Nilai total (Nt) = 171.140.000


Persen nilai (N%) diperoleh dari : (N/Nt)x 100
Asam Mefenamat N = 23.040.000
Nt = 171.140.000
N% = (23.040.000/171.140.000)x100
3. Membuat klasifikasi

40
Untuk mengklasifikasikan item dalam ABC kita memerlukan skala yang dibuat
dengan cara mengambil nilai persentase (N%) terkecil ditambah nilai persentase
terbesar.
N%1 tekecil = 1,75% yaitu Glibenklamide.
N%2 terbesar = 30,6% Amoksilin tab
Range = (N%1 + N%)/3 = (1,75 + 30,6)/3 = 10,8
Klasifikasi C = 1,75 % s/d (1,75 + 10,8) atau 1,75 s/d 12,5
Klasifikasi B = 12,5 % s/d (12,5 + 10,8) atau 12,5 s/d 23,3
Klasifikasi A = 23,3 % s/d (23,3 + 10,8) atau 23,3 s/d 34,1
Nama obat Persen nilai Klasifikasi ABC
(N%)
Asam mefenamat 13,4 B
Erytromisin tab 12,8 B
Ethambutol 12,1 C
Pyrazinamid 10,51 C
Dextrometorphan tab 3,81 C
Paracetamol tab 5,31 C
Amoksillin tab 30,6 A
Kotrimoksazol tab 3,94 C
Glibenklamide 1,75 C
Klonidin 5,48 C

1. Butir persediaan kelompok A adalah persediaan yang jumlah nilai uang per
tahunnya tinggi (60-90%), tetapi biasanya volumenya kecil.
2. Butir persediaan kelompok B adalah persediaan yang jumlah nilai uang per
tahunnya sedang (20-30%).
3. Butir persediaan kelompok C adalah persediaan yang jumlah nilai uang per
tahunnya rendah (10-20%), tetapi biasanya volumenya besar (60-75%)
Dengan pengelompokan tersebut maka cara pengelolahan masing-masing akan
lebih mudah sehingga peramalan, pengendalian fisik, kehandalan pemasok dan
pengurangan besar stock pengaman dapat menjadi lebih baik.

2.2.2 Analisis VEN

41
Metode analisis VEN merupakan pengelompokan obat berdasarkan kepada
dampak tiap jenis obat terhadap kesehatan. Semua jenis obat yang direncanakan
dikelompokan ke dalam tiga kategori yakni (Maimun,2008) :
1. Vital (V)
Obat-obat yang harus tersedia untuk melayani permintaan guna penyelamatan
hidup manusia, atau untuk pengobatan karena penyakitnya tersebut dapat
menyebabkan kematian (live saving).
2. Esensial (E)
Obat-obat yang banyak diminta untuk digunakan dalam tindakan atau
pengobatan penyakit terbanyak yang ada disuatu daerah atau rumah sakit.
3. Non – esensial (N)
Obat-obat pelengkap agar tindakan atau pengobatan menjadi lebih baik.
Instalasi farmasi rumah sakit harus menetapkan kriteria pemilihan pemasok sediaan
farmasi untuk rumah sakit. Kriteria pemilihan pemasok sediaan farmasi untuk
rumah sakit adalah sebagai berikut: telah memenuhi persyaratan hukum yang
berlaku untuk melakukan produksi dan penjualan (telah terdaftar), telah
terakreditasi sesuai dengan persyaratan CPOB(Cara Pembuatan Obat yang Baik
dan Benar) dan ISO 9000, mempunyai reputasi yang baik artinya tidak pernah
melakukan hal-hal yang melanggar hukum, selalu mampu dan dapat memenuhi
kewajibannya sebagai pemasok produk oabt yang selalu tersedia dengan mutu yang
tertinggi dan dengan harga yang terendah.
a. Penggolongan Obat Sistem VEN dapat digunakan untuk :
1. Penyesuaian rencana kebutuhan obat dengan alokasi dana yang tersedia.
2. Dalam penyusunan rencana kebutuhan obat yang masuk kelompok vital
agar diusahakan tidak terjadi kekosongan obat.
3. Untuk menyusun daftar VEN perlu ditentukan terlebih dahulu kriteria
penentuan VEN. Dalam penentuan kriteria perlu mempertimbangkan
kebutuhan masing-masing spesialisasi.
b. Kriteria penentuan VEN dapat mencakup berbagai aspek:
1. Klinis
2. Konsumsi
3. Target kondisi
4. Biaya
c. Beberapa informasi yang diperlukan dalam analisa VEN :
42
1. Daftar penyakit penyebab kematian terbanyak termasuk 10 penyakit-
penyakit penyebab kematian
2. Pedoman pengobatan setempat
3. Daftar Obat
4. Program Depkes/Dinkes
d. Langkah-langkah menentukan VEN.
1. Menyusun kriteria menentukan VEN
2. Menyediakan data pola penyakit
3. Standar pengobatan
2.2.3 Analisis Economic Order Quantity (EOQ)
Dalam pengaturan persediaan stok usaha atau yang dikenal dengan
manejemen persediaan, kita mengenal istilah model economic order quantity (EOQ). EOQ
dalam pengaturan persediaan bertujuan untuk meminimalkan total biaya, serta menyimpan
persediaan dan biaya pemesanan. Kerangka kerja yang digunakan untuk menentukan
kuantitas pesanan ini juga dikenal sebagai Wilson EOQ Model atau Wilson Formula.
Kategori Biaya dalam Model Economic Order Quantity (EOQ)
Dalam manajemen persediaan model EOQ, terdapat beberapa kategori biaya yang ikut
memengaruhi perhitungannya antara lain:
a. Biaya pemesanan
Dikenal juga sebagai biaya pembelian atau biaya set up. Merupakan jumlah biaya tetap
yang terjadi setiap kali item dipesan. Biaya tersebut berhubungan dengan aktivitas fisik yang
dibutuhkan untuk memproses pesanan. Sifat biaya pemesanan ini konstan, tidak tergantung
pada jumlah barang yang dipesan. Adapun yang termasuk dalam biaya pemesanan ini adalah:
–Biaya persiapan pemesanan
– Biaya mengirim atau menugaskan karyawan untuk melakukan pemesanan.
– Biaya saat penerimaan bahan yang dipesan
– Biaya penyelesaian pembayaran pemesanan.
b. Biaya tercatat
Disebut juga biaya penyimpanan, biaya tercatat adalah biaya yang terkait dengan
persediaan yang dimiliki di gudang. Hal ini terdiri dari biaya yang berkaitan dengan investasi
persediaan dan biaya penyimpanan. Adapun beberapa item yang berpengaruh dan masuk
dalam biaya tercatat ini adalah bunga, asuransi, pajak, dan biaya penyimpanan seperti biaya
sewa gudang, biaya listrik, biaya kerusakan, dan sebagainya.

43
Rumus Menghitung EOQ

Contoh Soal Economical Order Quantity (EOQ)


PT Maju Jaya pada tahun yang akan datang membutuhkan bahan baku sebanyak 240.000
unit. Harga bahan baku per unit Rp2.000. Biaya pesan untuk setiap kali melakukan
pemesanan sebesar Rp150.000, sedangkan biaya penyimpanan sebesar 25% dari nilai rata-
rata persediaan.
Diminta:
a. berapa jumlah pemesanan yang paling ekonomis (EOQ)?
b. berapa kali pemesanan yang harus dilakukan dalam setahun?
c. berapa hari sekali perusahaan melakukan pemesanan (1 tahun =360 hari)?
Jawab :
a.

b. Pemesanan yang dilakukan dalam setahun :


240.000 : 12.000 = 20 x pemesanan.
c. Jika 1 tahun = 360 hari, maka pemesanan dilakukan = 360 : 20 = 18 hari sekali.

44
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Teknik pengendalian dengan menggunakan metoda ABC adalah pengendalian dari aspek
ekonomis, karena suatu jenis obat dapat memakan anggaran biaya yang besar disebabkan
pemakaiannya banyak atau harganya mahal. Dengan analisis nilai ABC ini dapat
diidentifikasikan jenis-jenis obat yang dimulai dari golongan obat yang membutuhkan biaya
terbanyak.
Metode analisis VEN merupakan pengelompokan obat berdasarkan kepada dampak
tiap jenis obat terhadap kesehatan.

45
3.2 SARAN

Diharapkan agar makalah ini nantinya dapat menjadi referensi atau bahan
bacaan yang berguna bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.jurnal.id/id/blog/2018-cara-menghitung-persediaan-melalui-economic-
quantity/
https://ilmumanajemenindustri.com
https://journal.fkm.iu.ac.id
Widya, Novia Utami. 2018. Cara menghitung persediaan melalui economic order quantity.
Di https://jurnal.id. Diakses 10 Juni 2019.
Ernawidiasmini. 2017. Manajemen farmasi metode evaluasi perencanaan analisis ABC,
VEN, dan Kombinasi. Di https://www.farmasiexperience.com. Diakses 10 Juni 2019.
Nisa, Khairun. 2017. Tugas manajemen farmasi analisis pareto dan VEN. Di
https://akademifarmasijambi.wordpress.com. Diakses 10 Juni 2019.

46