Anda di halaman 1dari 10

A.

Pengertian Hukum dan Hukum Kesehatan

Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh suatu kekuasaan dalam
mengatur pergaulan hidup bermasyarakat. Pergaulan hidup atau hidup dimasyarakat yang
sudah maju seperti sekarang ini tidak cukup hanya dengan adat kebiasaan yang turun-
temurun seperti sebelumnya lahirnya peradaban yang modern. Untuk itu, maka oleh
kelompok masyarakat yang hidup dalam suatu masyarakat atau Negara diperlukan aturan-
aturan yang secara tertulis, yang disebut hukum. Meskipun demikian, tidak semua prilaku
masyarakat atau hubungan antara satu dengan yang lainnya juga masih perlu diatur oleh
hukum yang tidak tertulis yang disebut : etika, adat – istiadat, tradisi, kepercayaan dan
sebagainya (Notoadmodjo, 2010).
Pengertian hukum sebenarnya begitu abstrak, sehingga sulit untuk diartikan. Dan,
pada dasarnya tidak ada satupun definisi tentang hukum yang mempunyai arti sama, karena
hukum adalah merupakan sesuatu yang abstrak. Bahkan dikemukakan oleh Prof. Van
Apeldorn bahwa hukum terdapat diseluruh dunia, dimana terdapat suatu masyarakat manusia
(Apeldorn, 1996). Disamping itu karena hukum tidak dapat ditangkap oleh panca indra, maka
sangat sulit untuk membuat definisi tentang hukum yang dapat memuaskan orang. Pengertian
hukum seperti yang digambarkan oleh Soerjono Soekanto dan Purnadi Purbacaraka, misalnya
lebih mengedepankan pandanganpandangan seperti yang digambarkan oleh masyarakat
(Soerjono, 1993), yaitu :
1. Hukum sebagai ilmu pengetahuan, yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis
atas dasar kekuatan pemikiran.
2. Hukum sebagai disiplin, yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-
gejala yang dihadapi.
3. Hukum sebagai kaidah, yakni pedoman atau patokan sikap tindak atau perikelakuan
yang pantas atau diharapkan.
4. Hukum sebagai Tata Hukum, yakni struktur dan proses perangkat kaidah-kaidah
hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tetentu serta berbentuk tertulis.
5. Hukum sebagai petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan kalangan yang
berhubungan erat dengan penegakan hukum (”law enforcement officer”).
6. Hukum sebagai keputusan penguasa, yakni hasil proses diskresi yang menyangkut
(Wayne La Favre 1964) : ”...Decision making not strictly governed by legal rules, but
rather with a significant element of personal judgement”, oleh karena yang
dimaksudkan diskresi adalah (Roscoe Pounds 1960) : “an authority conferred by law
to act in certain or conditions in accordance with an official’s or an official agency’s
own considered judgement and conscience. It is an idea of morals, belonging to the
twilight zone between law and morals.”
7. Hukum sebagai proses pemerintahan, yaitu proses hubungan timbal balik antara
unsur-unsur pokok dari system kenegaraan. Artinya, hukum dianggap sebagai (Henry
Pratt et.al. 1976): “A Command or prohibition emanating from the authorized agency
of the state…,and back up by the authority and the capacity to exercise force which is
characteristic of the state.” Dengan demikian, maka yang dimaksudkan dengan hukum
adalah (Donald Black 1976): ”...the normative life of a state ands its citizen, such as
legislation, litigation and adjucation.”
8. Hukum sebagai sikap tindak yang ajeg atau perikelakuan yang ”teratur” yaitu
perikelakuan yang diulang-ulang dengan cara yang sama, yang bertujuan untuk
mencapai kedamaian.
9. Hukum sebagai jalinan nilai-nilai, yaitu jalinan dari konsepsi-konsepsi abstrak tentang
apa yang dianggap baik dan buruk (G. Duncan Mitchell :1977).
Selain itu oleh Satjipto Rahadjo dikatakan, bila dilihat dari tujuannya, secara umum dapat
dikatakan bahwa “hukum” bertujuan menjaga ketertiban.
Hukum kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan
pemeliharaan atau pelayanan kesehatan dan penerapannya. Hal ini berarti hukum kesehatan
adalah aturan tertulis mengenai hubungan antara pihak pemberi pelayanan kesehatan dengan
masyarakat atau anggota masyarakat. Dengan sendirinya hukum kesehatan itu mengatur hak
dan kewajiban masing-masing penyelenggara pelayanan dan penerima pelayanan atau
masyarakat. Hukum kesehatan relatif masih muda bila dibandingkan dengan hukum-hukum
yang lain. Perkembangan hukum kesehatan baru dimulai pada tahun 1967, yakni dengan
diselenggarakannya “Word Congress on Medical Law “ di Belgia tahun 1967.
Di Indonesia, perkembangan hukum kesehatan dimulai dengan terbentuknya kelompok
studi untuk Hukum Kedokteran FK-UI dan Rumah Sakit Ciptomangunkusomo di Jakarta
tahun 1982. Hal ini berarti, hampir 15 tahun setelah diselenggarakan Kongres Hukum
Kedokteran Dunia di Belgia. Kelompok studi hukum kedokteran ini akhirnya pada tahun
1983 berkembang menjadi Perhimpunan Hukum Kesehatan Indonesia (PERHUKI). Pada
kongres PERHUKI yang pertama di Jakarta, 14 April 1987. Hukum kesehatan mencakup
komponen-komponen atau kelompok-kelompok profesi kesehatan yang saling berhubungan
dengan yang lainnya, yakni : Hukum Kedokteran, Hukum Kedokteran Gigi, Hukum
Keperawatan, Hukum Farmasi, Hukum Rumah Sakit, Hukum Kesehatan Masyarakat, Hukum
Kesehatan Lingkungan, dan sebagainya.
Seperti telah disebutkan bahwa hukum kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang
berhubungan langsung dengan pemeliharaan atau pelayanan kesehatan dan penerapannya.
Oleh sebab itu, hukum kesehatan mengatur dua kepentingan yang berbeda, yakni :
a. Penerima pelayanan, yang harus diatur hak dan kewajiban, baik perorangan,
kelompok atau masyarakat.
b. Penyelenggara pelayanan : organisasi dan sarana-prasarana pelayanan, yang juga
harus diatur hak dan kewajibannya.

B. Pengertian Hak dan Hak Pasien Sebagai Konsumen Kesehatan

Hak secara definisi merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman
berprilaku, melindungi, kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia
dalam menjaga harkat dan martabatnya. Hak mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
pemilik hak, ruang lingkup penerapan hak dan pihak yang bersedia dalam penerapan hak.
Ketiga unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar hak. Dengan demikian hak merupakan
unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada
dalam ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya
antara individu atau dengan instansi (Tim ICCE, 2003).
Hak telah terpatri sejak manusia lahir dan melekat pada siapa saja. Diantaranya adalah
hak kemerdekaan, hak mahluk dan harkat kemanusian, hak cinta kasih sesama, hak indahnya
keterbukaan dan kelapangan, hak bebas dari rasa takut, hak nyawa, hak rohani, hak
kesadaran, hak untuk tentram, hak untuk memberi, hak untuk menerima, hak untuk dilindungi
dan melindungai dan sebagainya (Fagih, 1999). Kamus Umum Bahasa Indonesia
menyebutkan bahwa hak adalah (1) yang benar, (2) milik kepunyaan, (3) kewenangan (4)
kekuasaan untuk berbuat sesuatu, (5) kekuasaan untuk berbuat sesuatu atau untuk menuntut
sesuatu, dan (6) derajat atau martabat. Pengertian yang luas tersebut mengandung prinsip
bahwa hak adalah sesuatu yang oleh sebab itu seseorang (pemegang) pemilik keabsahan
untuk menuntut sesuatu yang dianggap tidak dipenuhi atau diingkari. Seseorang yang
memegang hak atas sesuatu, maka orang tersebut dapat melakukan sesuatu tersebut
sebagaimana dikehendaki, atau sebagaimana keabsahan yang dimilikinya. Kewajiban dasar
manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan tidak memungkinkan
terlaksananya dan tegaknya hak asasi manusia (Poerwadarmita, 2001).
Dibawah ini merupakan hak-hak yang dimiliki pasien sebagai konsumen dibidang
kesehatan, antara lain :
1. Hak atas informasi medik

Dalam hal ini pasien berhak mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan keadaan
penyakit, yakni tentang diagnosis, tindak medik yang akan dilakukan, risiko dari dilakukan
atau tidak dilakukannya tindak medik tersebut. Informasi medik yang berhak diketahui
pasien, termasuk pula identitas dokter yang merawat serta aturan- aturan yang berlaku di
rumah sakit tempat ia dirawat (misalnya tentang tarif dan cara pembayaran pada rumah sakit
tersebut) Dokter dapat menahan informasi medik, apabila hal tersebut akan melemahkan daya
tahan pasien (Chrisdiono, 1996).

2. Hak memberikan persetujuan tindakan medik

Persetujuan tindak medik merupakan hal yang sangat prinsip dalam hukum kedokteran.
Dari sudut perdata, hubungan professional dokter pasien merupakan suatu kontrak terapeutik
dan dengan demikian hukum perikatan berlaku sepenuhnya, hanya saja perlu diingat bahwa
kontrak terapeutik itu bukanlah perikatan berdasarkan hasil (resultaatsverbintennis),
melainkan termasuk dalam kategori perikatan berdasarkan upaya / usaha yang maksimal
(inspanningverbintennis). Dapat disebut wanprestasi (ingkar janji) apabila salah satu pihak
tidak melaksanakan,terlambat melaksanakan atau salah melaksanakan hal yang diperjanjikan.
Hak atas informasi medik dan Hak memberikan persetujuan tindakan medik umumnya
disebut sebagai “informed consent” (Siringoringo, Hendrawati, & Suharto, 2017).

3. Hak atas rahasia medis

Rahasia medis adalah salah satu hak dari hak pasien sekaligus merupakan kewajiban
sebagai tenaga kesehatan. Menurut CST. Kansil, rahasia medis adalah segala sesuatu yang
diketahui oleh orang- orang seperti :

1) Tenaga kesehatan yang menurut undang – undang kesehatan.

2) Mahasiswa kedokteran, mahasiswa lain yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,


pengobatan dan/ atau perawatan serta orang lain yang di tetapkan oleh menteri
kesehatan, dan pengetahuan tersebut harus dirahasiakan oleh orang –orang di atas,
kecuali apabila sesuatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada
peraturan pemerintah yang menentukan (Siringoringo et al., 2017).

Menurut Fred Ameln, rahasia medis adalah:


1) Segala Sesuatu yang disampaikan oleh pasien (secara sadar atau tidak sadar) kepada
dokter.

2) Segala sesuatu yang diketahui oleh dokter sewaktu mengobati dan merawat pasien
(11).

Dalam literature negara continental dan negara Anglo-Saxon , Rahasia medis adalah milik
pasien, dokter hanya ditutupi rahasia tersebut oleh pasiennya untuk tujuan pengobatan. Hanya
berkasnya adalah milik rumah sakit dan yang tidak boleh dibawa keluar dari rumah sakit,
oleh siapapun. Juga tidak boleh dibawa pulang oleh dokternya ataupun oleh pasien itu
sendiri. Berkas rekam medis harus tetap berada dan disimpan di rumah sakit (Siringoringo et
al., 2017).

4. Hak untuk menolak pengobatan atau perawatan serta tindak medik

Beberapa penulis menyebut hak ini sebagai hak untuk memutusakan hubungan
dokter/tenaga kesehatan-pasien dan hal ini memberikan keleluasan kepada pasien untuk
memperoleh alternatif tindak medik yang lain hak ini merupakan perwujudan pasien untuk
menentukan nasibnya sendiri (The Right of Self-determination). Dengan demikian dokter
atau rumah sakit tidak boleh memaksa pasien untuk menerima suatu tindak medik tertentu,
melainkan dokter harus menjelaskan risiko atau kemungkinan yang terjadi bila tindak medik
itu dilakukan. Bila setelah menerima penjelasan pasien tetap menolak, maka pasien harus
menandatangani penolakannya itu (Chrisdiono, 1996).

5. Hak atas second opinion

Dalam usaha mendapatkan “second opinion” dari dokter lain, maka dokter pertama tidak
perlu tersinggung, demikian pula dengan keputusan pasien setelah mendapatkan “second
opinion”. Tentu saja akibat yang timbul dari perbuatan pasien itu merupakan konsekuensi
pasien itu sendiri.

6. Hak untuk mengetahui isi rekam medik (Inzagerecht)

Secara umum telah diketahui bahwa pasien adalah pemilik isi rekam medik, tetapi dokter
atau rumah sakit adalah pemilik berkas rekam medik serta bertanggung jawab sepenuhnya
atas rekam medik tersebut. Apabila pasien menghendaki keluarga atau pengacaranya untuk
mengetahui isi rekam tersebut, maka pasien harus membuat surat ijin tertulis atas surat kuasa
untuk itu. Berdasarkan ijin itu, dokter atau rumah sakit dapat memberikan ringkasan atau
fotokopi rekam medik tersebut, meskipun dokter atau rumah sakit harus tetap menjaga rekam
medik tersebut dari orang yang tidak berhak. Di beberapa negara yang menganut kebebasan
individu secara mutlak, hak ini dilaksanakan dengan ketat, sehingga seorang suami
(misalnya) tidak bisa demikian saja memperoleh rahasia medik istrinya.

Berdasarkan pembahasan diatas maka hak pasien yang paling menonjol dan juga
merupakan hak asasi dari pasien adalah hak atas informasi medik dan hak atas persetujuan
tindakan medik yang kemudian bentuk perlindungan hukumnya dalam pelayanan medik
adalah Informed Consent, hak atas pendapat kedua yang bentuk perlindungan hukumnya
dalam pelayanan medik adalah pasien diberi kebebasan untuk membandingkan hasil diagnosa
, hak atas rahasia medik yang bentuk perlindungan hukumnya dalam pelayanan medik adalah
diaturnya siapa saja yang dapat mengakses informasi terhadap dirinya baik itu informasi
pribadi ataupun informasi medik yang ada di dalam rekam medik, hak akses atas rekam
medis yang bentuk perlindungan hukumnya dalam pelayanan medik adalah diatur mengenai
hak untuk melihat rekam medik baik dalam bentuk fotokopi ataupun softcopy yang bisa
diminta dan digunakan untuk kepentingan finansial yaitu sebagai bukti untuk klaim asuransi,
atau untuk kepentingan perdata bila dirasa dirinya dirugikan atas diagnose yang diberikan
tenaga kesehatan atau kerugian yang disebabkan oleh kelalaian rumah sakit (Siringoringo et
al., 2017).

C. Pengertian Perlindungan Hukum


Perlindungan hukum adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk
memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban, perlindungan hukum korban kejahatan
sebagai bagian dari perlindungan masyarakat, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk,
seperti melalui pemberian restitusi, kompensasi, pelayanan medis, dan bantuan hukum
(Soerjono, 1984). Perlindungan hukum yang diberikan kepada subyek hukum ke dalam
bentuk perangkat baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif, baik yang lisan
maupun yang tertulis. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa perlindungan hukum sebagai
suatu gambaran tersendiri dari fungsi hukum itu sendiri, yang memiliki konsep bahwa hukum
memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan dan kedamaian. Pengertian di
atas mengundang beberapa ahli untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai pengertian
dari perlindungan hukum diantaranya :
1. Menurut Satjipto Raharjo mendefinisikan perlindungan hukum adalah memberikan
pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan
tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak
yang diberikan oleh hukum (Satjipto, 2000).
2. Menurut Philipus M. Hadjon berpendapat bahwa Perlindungan Hukum adalah
perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi
manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari
kesewenangan (Philipus, 1987).
3. Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi
masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan
aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga
memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia (Setiono,
2004).
4. Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi
individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah-kaidah yang
menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam
pergaulan hidup antar sesama manusia (Muchsin, 2003).

D. Bentuk-bentuk perlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen dibidang


kesehatan
Perlindungan hukum merupakan gambaran dari bekerjanya fungsi hukum untuk
mewujudkan tujuan-tujuan hukum, yakni keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum.
Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada subyek hukum sesuai
dengan aturan hukum, baik itu yang bersifat preventif (pencegahan) maupun dalam bentuk
yang bersifat represif (pemaksaan), baik yang secara tertulis maupun tidak tertulis dalam
rangka menegakkan peraturan hukum.
Menurut Hadjon, perlindungan hukum bagi rakyat meliputi dua hal, yakni:
a. Perlindungan Hukum Preventif, yakni bentuk perlindungan hukum dimana kepada
rakyat diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum
suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif.
b. Perlindungan Hukum Represif, yakni bentuk perlindungan hukum dimana lebih
ditujukan dalam penyelesaian sengketa.
Secara konseptual, perlindungan hukum yang diberikan bagi rakyat Indonesia merupakan
implementasi atas prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia
yang bersumber pada pancasila dan prinsip negara hukum yang berdasarkan pancasila.
Perlindungan hukum hakekatnya setiap orang berhak mendapatkan perlindungan dari hukum.
Hampir seluruh hubungan hukum harus mendapat perlindungan dari hukum. Oleh karena itu
terdapat banyak macam perlindungan hukum. Dari sekian banyak jenis dan macam
perlindungan hukum, terdapat beberapa diantaranya yang cukup populer dan telah akrab di
telinga kita, seperti perlindungan hukum terhadap konsumen. Perlindungan hukum terhadap
konsumen ini telah diatur dalam Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen yang
pengaturannya mencakup segala hal yang menjadi hak dan kewajiban antara produsen dan
konsumen.

E. Hubungan Hak dan Perlindungan Hukum Pasien


Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk
memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak
langsung kepada dokter atau dokter gigi (Pasal 1 Undang-undang No. 29 Tahun 2004 Tentang
Praktik Kedokteran), berdasarkan definisi ini maka pasien memiliki hubungan yang berkaitan
erat dengan dokter. Hubungan antara dokter/petugas kesehatan-pasien, bila kita melihat
hubungan ini dari perspektif kedokteran maka hubungan dokter/petugas kesehatan-pasien
adalah hubungan medik, namun selain hubungan medik dalam hubungan dokter/petugas
kesehatan-pasien juga dikenal hubungan hukum bila dilihat dari sudut pandang hukum.
Hubungan -hubungan ini tidak jarang berbenturan, karena bila kita melihat dari hubungan
hukum maka hak dan kewajiban yang akan mendominasi sedangkan bila dilihat dari
hubungan medik maka peran petugas kesehatan yang lebih dominan. Bila terjadi benturan
antara dua macam hubungan ini maka akan terjadi masalah, maka dari itu penting untuk
adanya pengaturan yang baik dalam hubungan dokter/petugas kesehatan-pasien, baik dari
segi hukum maupun segi medik (Siringoringo et al., 2017).
Dalam hubungan ini baik petugas kesehatan maupun pasien memiliki hak dan kewajiban
masing-masing untuk mencapai hubungan yang harmonis maka perlu menyadari hak dan
kewajiban masing-masing, sehingga dapat menghormati hak orang lain .Namun dalam
hubungan ini seringkali pasien berada di posisi yang lemah karena ketidaktahuannnya
terhadap haknya, sehingga mengakibatkan kerugian yang besar pada pasien. Berdasarkan
deklarasi hak-hak manusia (declaration of humans rights) dari PBB, tahun 1948 setiap orang
berhak mendapat pelayanan dan perawatan kesehatan bagi dirinya dan keluarganya , juga
jaminan ketika menganggur, sakit, cacat, menjadi janda, usia lanjut atau kekurangan nafkah
yang disebabkan oleh hal-hal di luar kekuasaannya. Pasien seharusnya dihargai hak dasar dan
hak asasi pasien, namun terkadang karena beberapa hal hak pasien ini diabaikan, sehingga
perlindungan hukum terhadap pasien semakin memudar (Siringoringo et al., 2017).
Menurut Satijipto Raharjo, Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman
terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan
kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum
(Rahardjo, 2000). Berkaitan dengan hak pasien, berarti hukum memberikan perlindungan
terhadap hak-hak pasien dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak
tersebut. Maka dari itu penting untuk mengkaji apa saja hak pasien dan bentuk perlindungan
hukumnya hal ini dimaksudkan sebagai upaya menanggulangi masalah dan mencegah
terjadinya Malpraktek medik di bidang kesehatan. Menurut Ari Yunanto,Cs, menyebutkan
istilah malpraktik medik dengan malapraktik yang diartikan dengan : “praktik kedokteran
yang salah, tidak tepat,menyalahi undang-undang atau kode etik” (Yunanto dkk, 2009).
Daftar Pustaka
1) Siringoringo, V. M. P., Hendrawati, D., & Suharto, R. (2017). INDONESIA medik di
bidang kesehatan ., 6, 1–13.
2) Philipus M. Hadjon, Perlindungan Bagi Rakyat diIndonesia, PT.Bina Ilmu,
Surabaya,1987,h.1-2.
3) Fadjar A Mukhtie 2004, Tipe Negara Hukum, Malang : Banyumedia Intrans
4) Satjipto Rahardjo, Ilmu hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, Cetakan ke-V 2000).
hal. 53.
5) Setiono, Rule of Law(Supremasi Hukum), (Surakarta; Magister Ilmu Hukum Program
Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2004) hal. 3.
6) Muchsin, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, (Surakarta;
magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 2003), hal.
14.
7) Demokrasi, HAM, Masyarakat Madani, Tim ICCE Jakarta 2003, hlm. 199.
8) Mansur Fagih, Panduan Pendidikan Polik Rakyat, Yoqyakarta:Insist, 1999, hlm. 17
9) Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 2001, hlm.
174
10) Soekidjo Notoatmodjo, Etika dan Hukum Kesehatan, Rineka Cipta, 2010, hal. 43.
11) Apeldorn, dalam buku Achmad Ali tentang Menguak Tabir Hukum, Chadas Pratama,
Jakarta 1996, hal. 21. Lihat juga : AdeMaman Suherman, Aspek Hukum Dalam
Ekonomi Global, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002, hal. 8.
12) Soerjono Soekanto dan Purnadi Purbacaraka, Sendi-sendi Ilmu Hukum dan Tata
Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hal 2-4.
13) Ari Yunanto,Cs. “Hukum Pidana Malpraktik Medik” (Yogyakarta: Andi ,2009) hlm.
27
14) Satijipto Rahardjo, Ilmu Hukum (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000) hlm 54
15) Chrisdiono M. , “Pernak – Pernik Hukum Kedokteran:Melindungi Pasien dan Dokter”
(Jakarta: Widya Medika,1996), hlm 5