Anda di halaman 1dari 16

CRITICAL BOOK REPORT

MK.
MK.
PENDIDIKAN
TELAAH
KURIKULUM
KEWARGANEGARAAN
DAN BUKU
CRITICAL BOOK REPORT
TEKS
PRODI PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA

SKOR NILAI :

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK PERGURUAN TINGGI

(Apiek Gandamana, S.Pd., M.Pd., 2017)

NAMA MAHASISWA: REGGIA MARGARETHA SIHOMBING

NIM: 2183111049

DOSEN PENGAMPU: Dra. YUSNA MELIANTI, M.H.

MATA KULIAH: PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

SEPTEMBER 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
berkuasa atas seluruh alam semesta, karena berkat rahmat serta hidayah-Nya jugalah maka
Critical Book Report (CBR) mata kuliah “Pendidikan Kewarganegaraan” ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam kesempatan ini saya sebagai penyusun mengucapkan terimakasih kepada


semua pihak yang telah membantu selesainya pembuatan Critical Book Report ini. Saya
menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini tidak terlepas dari kesalahan dan sangat jauh
dari sempurna. Oleh sebab itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi sempurnanya tugas ini.

Saya berharap semoga tugas ini dapat digunakan sebagaimana mestinya dan bisa
memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mencurahkan rahmat
dan karunia-Nya kepada kita semua.

Medan, September 2019

Reggia Margaretha Sihombing

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………...........………………….……………....….i

DAFTAR ISI ……………………………………………………….............…………………....….…ii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………….............…………….1

A. Rasionalisasi Pentingnya CBR ……………...……………………..….............1


B. Tujuan Penulisan CBR …………………..…………………………….................1
C. Manfaat CBR ……………………………………………………………....................1
D. Identitas Buku yang Direview …………………………….............….............2

BAB II RINGKASAN ISI BUKU …………………………………………...….....………........…4

BAB III PEMBAHASAN / ANALISIS ..........................……………………......….....…..…...7

A. Analisis Isi Buku ………………………………………….................…....................7

B. Kelebihan dan Kekurangan Isi Buku …………………..................................8

BAB IV PENUTUP ………………………………………………………………...................….....9

A. Kesimpulan ………………………………………………….....…...........…….......…..9

B. Saran …………………………………………………………......……......................…...9

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………....…........…….............…10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CBR

Melakukan Critical Book Report pada suatu buku dengan membandingkannya dengan
buku lain sangat penting untuk dilakukan, dari kegiatan inilah kita dapat mengetahui
kelebihan dan kekurangan suatu buku. Dari mengkritik inilah kita jadi mendapatkan
informasi yang kompeten dengan cara merangkum bab yang terdapat pada keseluruhan buku.

B. Tujuan Penulisan CBR

1. Mengulas isi sebuah buku.

2. Mengetahui informasi sebuah buku.

3. Membandingkan isi buku utama dengan buku pembanding.

4. Melatih individu agar berfikir kritis dalam mencari informasi yang ada di setiap buku.

C. Manfaat CBR

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

2. Untuk menambah pengetahuan mengenai pembahasan kontekstual Pendidikan


Kewarganegaraan yang berkaitan dengan semangat kebangsaan dan cinta tanah air,
demokrasi, negaara hukum, wawasan nusantara serta ketahanan nasional.

3. Untuk mengetahui dan membandingkan banyak hal tentang ringkasan isi buku yang
dianalisis serta mengambil kesimpulan atas ringkasan buku tersebut.

1
D. Identitas Buku yang Direview

Buku Utama (buku satu)

Judul buku : Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi

Edisi : Pertama

Penulis : Apiek Gandamana, S.Pd., M.Pd.

Penerbit : Unimed Press

Kota terbit : Medan

Tahun terbit : 2017

Jumlah Halaman : 261 hlm

ISBN : -

2
Buku Pembanding (buku dua)

Judul buku : Konsep Dasar Pendidikan Kewarganegaraan

Edisi : Pertama

Penulis : Prof. Dr. Tukiran Taniredja, M.M., dkk.

Penerbit : Penerbit Ombak

Kota terbit : Yogyakarta

Tahun terbit : 2013

Jumlah Halaman : 244 hlm

ISBN : 978-602-258-094-2

3
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

Bab I Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan dibentuk oleh dua kata, ialah kata "pendidikan" dan
kata "kewarganegaraan". Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal Ayat (I) definisi pendidikan sebagai berikut;
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, keerdacan. akhlak mulia, serta
kelerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU No. 20 Tahun
2003 Pasal 1).

Menurut winataputra (Winarno 2014: 16) Pendidikan Kewarganegaraan sudah


menjadi bagian dari instrumentasi serta praksis pendidikan nasional Indonesia dalam status.
Pertama sebagai mata pelajaran di sekolah, kedua sekolah mata kuliah perguruan tinggi,
ketiga sebagai salah satu cabang pendidikan disiplin ilmu pengetahuan sosial dalam kerangka
program pendidikan guru, keempat sebagai pedoman pendidikan politik yang dikemas dalam
bentuk penataran penuh penghayatan dan pengamatan Pancasila yang pernah dikelola oleh
pemerintah sebagai salah satu program kelima sebagai kerangka konseptual dalam bentuk
pemikiran individual dan kelompok pakar terkait yang dikembangkan sebagai landasan dan
kerangka berpikir mengenai Pendidikan Kewarganegaraan pertama, kedua, dan ketiga, dan
keempat.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan pengertian Pendidikan


Kewarganegaraan adalah mata pelajaran atau mata kuliah yang membentuk peserta didik
menjadi warga negara yang berkarakter, cerdas, terampil, dan bertanggang jawab sehingga
dapat berperan aktif dalam masyarakat, bangsa, dan negara sesuai ketentuan Pancasila dan
UUD NRI 1945. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan proses pembelajaran yang
berusaha untuk membangun civic knowledge, skill, dan disposition peserta didik sehingga
tujuan untuk membangun warga negara yang baik dapat terwujud.

4
Bab II Identitas Nasional

Bangsa Indonesia adalah bangsa agraris sebagai besar penduduk Indonesia bermata
pencaharian sebagai petani hal secara umum di sebagian suku-suku Indonesia adalah sistem
paguyuban.

Identitas nasional berasal dari kata National Identity dapat diartikan sebagai
kepribadian nasional atau jati diri nasional kepribadian nasional atau jati diri nasional yang
dimiliki oleh suatu bangsa. Jika ada yang orang yang mengatakan bahwa negara Indonesia
adalah bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudaya maka itulah yang kita katakan
kepribadian atau jati diri nasional bangsa Indonesia.

Unsur-unsur pembentukan Identitas Nasional :

1. Identitas kesukubangsaan (Identity cultural unity)

Cultural unity merujuk pada bangsa dalam pengertian kebudayaan atau bangsa dalam
arti sosiologis dan antropologis. Cultural unity disatukan oleh adanya kesamaan ras, suku,
agama, adat budaya, keturunan, dan daerah asal. Identitas yang dimiliki oleh sebuah cultural
unity bersifat ascribtife (sudah ada sejak lahir), bersifat alamiah, primer dan etnik. Setiap
anggota cultural unity memiliki kesetiaan atau loyalitas pada identitasnya.

2. Identitas Kebangsaan (Identity political unity)

Political unity merujuk pada bangsa dalam pengertian politik yaitu bangsaa-bangsa.
Kesamaan primordial dapat saja menciptakan bangsa tersebut untuk bernegara namun dewasa
ini negara yang relatif homogen yang hanya terdiri dari satu bangsa tidak banyak terjadi.
Negara baru perlu menciptakan identitas yang baru untuk bangsanya yang disebut juga
sebagai identitas nasional. Kebangsaan merupakan kesepakatan dari banyak bangsa di
dalamnya identitas bangsa yang bersifat buatan sekunder etis dan nasional (Budi Juliardi,
2016: 36).

5
Bab III Integrasi Nasional

Tentang integrasi, (Myron Weiner (1971) dalam Ditjendikti, 2012: 178) memberikan
lima definisi mengenai integrasi, yaitu: 1. Integrasi menunjuk pada proses penyatuan
berbagai kelompok budaya dan sosial dalam satu wilayah dan proses pembentukan identitas
nasional, membangun rasa kebangsaan dengan cara menghapus kesetiaan pada ikatan- ikatan
yang lebih sempit. 2. Integrasi menunjuk pada masalah pembentukan wewenang kekuasaan
nasional pusat di atas unit-unit sosial yang lebih kecil yang beranggotakan kelompok-
kelompok sosial budaya masyarakat tertentu. 3. Integrasi menunjuk pada masalah
menghubungkan antara pemerintah dengan yang diperintah, mendekatkan perbedaan-
perbedaan mengenai aspirasi dan nilai pada kelompok elit dan massa. 4. Integrasi menunjuk
pada adanya konsensus terhadap nilai yang minimum yang diperlukan dalam memelihara
tertib sosial. 5. Integrasi integrasi merujuk pada penciptaan tingkah laku yang terintegrasi dan
yang diterima demi mencapai tujuan bersama.

Sejalan tersebut definisi tersebut, Myron Weirner dalam Ramlan Surbakti 2010
membedakan 5 tipe integrasi, yaitu : 1. Integrasi bangsa. 2. Integrasi wilayah. 3. Integrasi
nilai. 4. Integrasi elit massa. 5. Integrasi tingkah laku atau perilaku integratif.

Bab IV Negara dan Konstitusi

Negara merupakan salah satu bentuk organisasi yang ada dalam kehidupan
masyarakat. Pada prinsipnya setiap warga masyarakat menjadi anggota dari suatu negara
harus tunduk pada kekuasaan negara, karena organisasi negara sifatnya mencakup semua
orang yang ada di wilayahnya dan kekuasaan negara berlaku bagi orang-orang tersebut.
Melalui kehidupan bernegara dengan pemerintahan yang ada di dalamnya, masyarakat ingin
mewujudkan tujuan-tujuan tertentu seperti terwujudnya ketenteraman, ketertiban, dan
kesejahteraan masyarakat.

6
Konstitusi merupakan hukum dasar suatu negara. Setiap negara pasti memiliki
konstitusi. Karena tanpa adanya konstitusi negara tidak mungkin terbentuk. Sebagai hukum
dasar negara, kostitusi berisi aturan dan ketentuan tentang hal-hal yang mendasar dalam
kehidupan suatu negara. Jadi segala praktik-praktik dalam penyelenggaraan negara harus
didasarkan pada konstitusi dan tidak boleh bertentangan dengan konstitusi tersebut.
Konstitusi menempati kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan ketatanegaraan suatu
negara karena konstitusi menjadi barometer kehidupan bernegara dan berbangsa yang sarat
dengan bukti sejarah perjuangan para pendahulu. Meskipun konstitusi yang ada di dunia ini
berbeda-beda baik dalam hal tujuan, bentuk dan isinya, tetapi umumnya mereka mempunyai
kedudukan formal yang sama.

Bab V Hak Asasi Manusia

Dewasa ini isu mengenai HAM telah menjadi perhatian dunia, bahkan tidak jarang
suatu negara dalam memberikan bantuan atau kebijakan lainnya dikaitkan dengan
pelaksanaan HAM. Sejumlah negara maju mencanangkan HAM sebagai bagian dari program
nasionalnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menjadikan HAM sebagai salah satu
agenda yang perlu ditangani secara serius. Penghormatan terhadap HAM telah menjadi
ukuran bagi diakuinya suatu pemerintahan. Pemerintah suatu negara yang tidak menghargai
HAM mendapat kecaman bahkan bisa dikucilkan dari pergaulan internasional (Winataputra,
2010). Menurut Didik B. Arif (2014: 133-134) menjelaskan, ada beberapa prinsip pokok
yang terkait dengan penghormatan, pemenuhan, pemajuan, dan perlindungan HAM.

Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. Prinsip universal, bahwa HAM itu berlaku bagi
semua orang, apapun jenis kelaminnya, statusnya, agamanya, suku bangsa atau
kebangsaannya. 2. Prinsip tidak dapat dilepaskan (inalienable), yaitu siapapun, dengan alasan
apapun, tidak dapat dan tidak boleh mengambil hak asasi seseorang. Seseorang tetap
mempunyai hak asasinya kendati hukum di negaranya tidak mengakui dan menghormati hak
asasi orang itu atau bahkan melanggar hak asasi tersebut. 3. Prinsip keseimbangan, artinya
bahwa perlu ada keseimbangan dan keselarasan di antara HAM perorangan dan kolektif di
satu pihak dengan tanggung jawab perorangan terhadap individu yang lain, masyarakat dan
bangsa di pihak lainnya. Hal ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial.

7
Bab VI Demokrasi
Kata demokrasi sudah terbiasa terdengar di kalangan masyarakat umum dalam
berbagai peristiwa dan konteks, kita sering menyebutkan. Kata demokrasi dan demikian pula
dalam bentuk sifatnya yaitu demokratis kita gunakan untuk berbagai tingkatan mulai individu
masyarakat bangsa maupun negara. Walaupun demikian kata demokrasi, ataupun sifat
demokratis tidak jarang dipakai dalam konteks yang justru bertentangan dengan makna
demokrasi itu sendiri. Secara etimologi kata demokrasi berasal dari istilah “Demokrasi” yang
berarti Rule of Survival merupakan paduan dari 2 kata “Demos” berarti “Rakyat” dan
“Kratos” berarti “Kekuasaan (power) atau pemerintahan”. Menurut Ranney ada empat prinsip
yang terkait dengan pemerintahan demokrasi, yaitu :
1. Kedaulatan rakyat
2. Persamaan politik
3. Konsultasi kepada rakyat
4. Mayoritas

Bab VII Negara Hukum

Negara hukum adalah negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan
bagi seluruh warga negara, dengan adanya keadilan dalam masyarakat maka, akan tercapai
kebahagiaan dalam masyarakat itu untuk mendasari keadilan tersebut pada setiap warga
negara perlu diajarkan norma Susila agar mereka menjadi warga negara yang baik, demikian
pula peraturan hukum yang sesungguhnya itu hanya ada apabila peraturan dimaksudkan
mencerminkan keadilan dalam pergaulan hidup antar warga negara (Arumandi dan Sunarto,
1990).
Ketentuan pasal 1 ayat 3 berasal dari penjelasan UUD NRI 1945 yang diangkat ke
dalam UUD NRI 1945 negara hukum adalah negara yang menegakkan supremasi hukum
untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dan tidak ada kekuasaan tidak bertanggung
jawabankan. Indonesia adalah salah satu negara yang merupakan negara hukum, kedudukan
Indonesia sebagai bidang lain, realitas kehidupan masyarakat Indonesia yang tidak bisa
dilepaskan dari keberadaan hukum yang melekat pada masyarakat yang multi etnis dan
multikultur istilah negara hukum tidak asing lagi dalam pengetahuan ketatanegaraan sejak
zaman dulu hingga sekarang ini.
8
Bab VIII Wawasan Nusantara Sebagai Geopolitik Indonesia

Istilah geopolitik semula diartikan oleh Frederich Ratzel 1844 sebagai ilmu bumi
politik atau political geografi, istilah ini kemudian dikembangkan dan diperluas oleh sarjana
ilmu politik Swedia Rudolf Kjellen 1864 dan Karl Haushofer dari Jerman menjadi geografi
politik dan disingkat geopolitik. Berdasarkan pengertian tersebut, geopolitik dapat diartikan
sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan dalam wujud kebijaksanaan dan strategi
nasional yang didorong oleh aspirasi National Geographic atau kepentingan yang titik
beratnya terletak pada pertimbangan geografi wilayah atau teritorial dalam arti luas lautan
negara yang apabila dilaksanakan dan berhasil akan berdampak langsung atau tidak langsung
kepada sistem politik suatu negara. Pandangan geopolitik bangsa Indonesia yang didasarkan
pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang luhur dengan jelas tertuang di dalam
Pembukaan UUD NRI 1945, bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai tetapi lebih
cinta kemerdekaan. Bangsa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan karena tidak sesuai
dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Oleh karena itu wawasan nusantara adalah
geopolitik Indonesia.

Bab IX Ketahanan Nasional

Sifat-sifat ketahanan nasional adalah sebagai berikut : 1) Mandiri, artinya ketahanan


nasional percaya pada kemampuan dan kekuatan dan keuletan dan ketangguhan yang
menyandang prinsip tidak mudah menyerah serta bertumpu pada identitas, integritas dan
kepribadian bangsa. 2) Dinamis, artinya ketahanan nasional tidaklah tetap melainkan dapat
meningkat dan menurun tergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan negara, serta kondisi
lingkungan startegisnya. 3) Manunggal, artinya ketahanan nasional memiliki sifat integrative
yang diartikan terwujudnya kesatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi danselaras
diantara seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 4) Wibawa,
artinya ketahanan nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat manunggal dapat
diwujudkan kewibaan nasional yang akan diperhitungkan oleh pihak lain sehingga dapat
menjadi daya tangkal suatu negara. 5) Konsultasi dan kerjasama, artinya ketahanan nasional
tidak menutamakan sikap konfrontatif dan antagonis, tidak mengandalkan kekuasaan dan
kekuatan fisik semata, tetapi lebh pada sikap konsultatif dan kerjasama serta saling
menghargai dan mengandalkan kekuatan moral dan kepribadian bangsa.
9
BAB III

PEMBAHASAN / ANALISIS

A. Analisis Isi Buku

a. Keterkaitan antar Buku


Dalam buku “Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi” karya Apiek
Gandamana, S.Pd., M.Pd., serta pada buku “Konsep Dasar Pendidikan Kewarganegaraan”
karya Prof. Dr. Tukiran Taniredja, M.M., dkk., sama-sama membahas tentang konsep-konsep
yang berkaitan dengan prinsip-prinsip kewarganegaraan Republik Indonesia, negara hukum
dan konstitusi, hak dan kewajiban warga negara, demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD
NRI 1945, wawasan nusantara, dan upaya bela negara untuk mewujudkan ketahanan
nasional. Kedua buku ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

b. Kemutakhiran isi buku


Menurut saya pada buku “Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi”
karya Apiek Gandamana, S.Pd., M.Pd., sudah cukup relevan bagi para pembaca dan
mahasiswa karena telah dilengkapi dengan rangkuman, sumber referensi yang memadai, serta
soal-soal yang berupa pertanyaan untuk menguji wawasan kita di setiap akhir bab. Bahasa
yang digunakan pun cukup mudah dipahami, akan tetapi cara penyampaiannya cenderung
berputar-putar tidak fokus ke dalam satu pembahasan. Terkadang apa yang dituliskan di bab
pertama, muncul lagi di bab kedua, dan hal itu cukup banyak ditemui sehingga pembahasan
menjadi kurang fokus. Sedangkan pada buku “Konsep Dasar Pendidikan Kewarganegaraan”
karya Prof. Dr. Tukiran Taniredja, M.M., dkk., ide yang terkandung sangat terperinci
memaparkan tentang pendidikan kewarganegaraan dan terdapat pernyataan para ahli dalam
bahasa Inggris yang disertai dengan terjemahannya sehingga memudahkan pembaca untuk
mempelajari dan memahami isi buku.

10
B. Kelebihan dan Kekurangan Isi Buku

Kelebihan Buku Utama :

1. Buku ini menyajikan materi yang mendalam dan bisa digunakan oleh mahasiswa dengan
materi yang tidak sulit untuk dipahami.

2. Dari segi kebahasaan sangat tepat dan mudah dimengerti mengenai apa yang dijelaskan
pada isi buku ini.

3. Desain penyusunan buku cocok untuk menjadi pembelajaran bagi mahasiswa ataupun bagi
calon guru karena buku ini sangat membantu dengan adanya soal-soal dan pengembangan
sikap.

Kekurangan Buku Utama :

1. Terkadang apa yang dituliskan di bab pertama, muncul lagi di bab kedua, dan hal itu cukup
banyak ditemui sehingga pembahasan menjadi kurang fokus.

Kelebihan Buku Pembanding :

1. Dari segi pembahasan sangat lengkap dan detail, terdapat pernyataan para ahli disertai
dengan terjemahannya yang dijabarkan dalam buku ini.

2. Terdapat glosarium yang berisi kata kunci dan kata-kata sulit dalam buku sehingga
memudahkan pembaca lebih memahami isi buku.

3. Tercantum pasal-pasal dalam Undang-Undang yang sangat terperinci mengenai Hak Asasi
Manusia dalam Konstitusi.

Kekurangan Buku Pembanding :

1. Dalam buku Konsep Pendidikan Kewarganegaraan ini tidak terdapat rangkuman pada
setiap akhir bab sehingga mahasiswa/pembaca kurang dapat menemukan intisari dari materi.

11
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan :

Pancasila sebagai karya besar bangsa Indonesia yang setingkat dengan ideologi besar
dunia lainnya. Pancasila sebagai paradigma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk
menumbuhkan sikap demokratis bagi warga negara dalam mengaktualisasikan nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya. Buku ini berisi tentang materi kewarganegaraan yang sangat
tepat bagi mahasiswa dalam mengembangkan sikap berkewarganegaraan yang baik dan juga
membentuk mahasiswa menjadi warga negara yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah
air. Disusun dengan berdasarkan pada 4 konsensus kebangsaan yakni Pancasila, Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan substansi kajian untuk Pendidikan
Kewarganegaraan.

Saran :

Saran antara buku 1 (wajib) dengan buku 2 (pembanding) antara keduanya sudah
bagus. Dan keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan dari berbagai macam segi, baik
dari segi format dan penulisan struktur buku, penggunaan bahasa, kualitas isi buku, dan
sebagainya. Jadi, apa yang menjadi keunggulan ini maka hendaknya ditingkatkan lagi agar
kualitas buku ini semakin meningkat dan para pembaca semakin semangat untuk
membacanya. Dan apa yang menjadi kelemahan dari buku ini hendaknya diperbaiki agar
kesempurnaan buku ini tercapai.

12
DAFTAR PUSTAKA

Narmoatmojo, Winarno dkk. 2015. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi.


Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Taniredja, Tukiran dkk. 2013. Konsep Dasar Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:
Penerbit Ombak.

13