Anda di halaman 1dari 5

Persamaan dan perbedaan antara larangan perjanjian oligopoli, kartel, dan trust ditinjau dari

aspek subjek, maksud dan tujuannya, serta metode larangannya!

Jawab:

Dunia bisnis mengenal bentuk-bentuk kerja sama antar perusahaan yang cenderung
menguntungkan pihak-pihak yang bekerja sama, akan tetapi merugikan pihak lain. Oleh karena
itu, dalam dunia bisnis diperlukan lembaga yang mengawasi persaingan antar pengusaha atau
perusahaan. Lembaga tersebut di Indonesia adalah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
Lembaga tersebut diatur dengan peraturan perundang-undangan, yaitu Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat. KPPU yang merupakan lembaga independen di Indonesia, secara umum memiliki tugas
untuk menilai perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan serta kegiatan-
kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Dari bermacam-macam perjanjian-
perjanjian antar perusahaan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan ada yang sifatnya
dilarang oleh peraturan perundang-undangan. KPPU memiliki wewenang untuk menangani
perkara yang terkait dengan adanya perjanjian usaha serta kegiatan usaha yang dilarang tersebut.

Perjanjian usaha yang akan dibahas disini adalah mengenai Perjanjian oligopoli, kartel dan trust,
di mana ketiga perjanjian tersebut memiliki Persamaan dan Perbedaan.

Perjanjian oligopoli

Secara sederhana oligopoli ditafsirkan sebagai suatu bentuk pasar yagterdapat beberapa penjual
dimana salah satu atau beberapa penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar (Priceleader).
Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tapi kurang dari sepuluh. Kondisi pasar yang
oligopolistik menyebabkan tindakan salah satu penjual dalam pasar dapat memengaruhi
keuntungan penjual yang lain. Artinya, perusahaan-perusahaan oligopolistik saling terkait satu
sama lain dengan cara yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan yang berkompetisi dalam
sebuah pasar persaingan sempurna. Pelaku usaha dalam hal ini dilarang membuat perjanjian
dengan pelaku usaha lain untuk secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan atau
pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat.
Tindakan dari oligopolis yang dapat membahayakan persaingan di pasar tersebut juga menjadi
perhatian pembuat undang-undang dalam menyusun UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam UU No. 5 Tahun 1999, oligopoli
dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal umumnya oligopoli terjadi
melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada barang-barang yang bersifat homogen dan identik.
Ketentuan mengenai oligopoli dalam UU No. 5 Tahun 1999 diaturdalam Pasal 4 yang berbunyi:

Ayat (1)

“Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk secara bersama-sama
melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat”

Ayat (2)

“Pelaku usaha patut diduga atau dianggap secara bersama-sama melakukan


penguasaan produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa, sebagaimana dimaksud ayat
(1), apabila 2 (dua) atau 3 (tiga) pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari
75 % (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu”

Kartel

Secara sederhana kartel dapat dipahami sebagai suatu bentuk kerjasama diantara para produsen
independen untuk menghalau persaingan dan menguasai pasar.Tujuan dari kartel adalah untuk
menentukan harga, membatasi suplai produk dan kompetisi. Kartel muncul dari kondisi oligopoli,
di mana di dalam pasar terdapat sejumlah produsen dengan jenis produk yang homogen. Alasan
dari dilakukannya kerjasama dalam bentuk kartel adalah agar produsen selaku pelaku usaha dapat
memperoleh kekuatan pasar. Mengapa kekuatan pasar penting? Kekuatan pasar memungkinkan
produsen untuk mengatur harga dengan cara membuat kesepakatan pembatasan ketersediaan
produk di pasar, membatasi produksi, dan membagi wilayah penjualan. Ketersediaan produk yang
terbatas dapat menyebabkan kelangkaan, sehingga produsen dapat menaikkan harga untuk
menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Berdasarkan hukum anti monopoli, kartel
dilarang di hampir semua negara. Walaupun demikian, kartel tetap ada baik dalam lingkup
nasional maupun internasional, formal maupun informal.

Praktik kartel dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dengan produk atau jasa yang sama atau
sejenis. Perusahaan-perusahaan tersebut kemudian membuat perjanjian mengenai penetapan
harga, pembagian wilayah, persekongkolan tender, dan pembagian konsumen. Perjanjian-
perjanjian tersebut wajib dipatuhi oleh perusahaan-perusahaan anggota kartel. Seperti karakteristik
kartel yang dijelaskan oleh KPPU, kartel biasanya disamarkan dengan asosiasi para pengusaha
yang tergabung dalam kartel tersebut. Kemudian anggota yang menghambat keefektifan kartel
dengan melanggar perjanjian akan dikenai ancaman sanksi terhadap pelanggaran. Di Indonesia
sendiri pengaturan kartel pun dilarang yang tercantum dalam pasal Pasal 11, Undang-Undang No
5 Tahun 1999 Tentang Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha yang Tidak Sehat (UU NO.
5/1999) disebutkan:

“Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian, dengan pelaku usaha saingannya, yang bermaksud
mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa,
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat”.

Trust

Trust dapat diartikan sebagai peleburan dari beberapa badan usaha menjadi satu perusahaan baru,
sehingga akan membentuk dan mendapatkan kekuasaan yang besar dan monopoli. Trust dijelaskan
dalam UU No. 5 tahun 1999 dalam BAB III pasal 12, di mana pada bagian tersebut dikatakan
bahwa kegiatan yang termasuk dalam kategori trust dilarang, sebagai berikut:

“Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sama
dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga
dan mempertahankan kelangsungan hidup masing-masing perusahaan atau perseroan anggotanya,
yang bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa, sehingga
dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.”

Pada dasarnya, kegiatan yang dilakukan oleh kartel dan trust sama dalam hal mengontrol
produksi dan pemasaran, menetapkan harga pada tingkat tertentu, dan perjanjian-perjanjian lain
yang juga merugikan konsumen bahkan perekonomian. Dalam hal ini, praktik trust terkesan lebih
serius karena adanya pembentukan badan usaha yang resmi atau perjanjian antar perusahaan
tersebut dilembagakan. Dampaknya adalah perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam trust
tidak dapat begitu saja melanggar perjanjian di tengah jalan, sehingga praktik persaingan usaha
tidak sehat menjadi lebih kuat. Hal tersebut semakin merugikan konsumen karena harus
menanggung harga tinggi yang ditetapkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas maka kita dapat menyimpulkan persamaan dan berbedaan antara
larangan perjanjian oligopoli, kartel, dan trust ditinjau dari aspek subjek, maksud dan tujuannya,
serta metode larangannya

1. Persamaannya
- Ketiga perjanjian tersebut merupakan perjanjian yang terlarang berdasarkan UU
No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat
- Ketiga perjanjian terlarang tersebut sebenenarnya saling keterkaitan yang berawal
daripada perjanjian oligopoli.
- Jika ditinjau daripada subjeknya maka kita akan dapat menentukan persamaan yang
mana dari ketiga perjanjian yang terlarang menurut UU No. 5 Tahun 1999 Tentang
Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat bahwa subjek daripada
yang melakukan perjanjian terlarang tersebut ialah pelaku usaha
- Ketiga perjanjian terlarang tersebut sama-sama dapat mengakibatkan (memiliki
maksud dan tujuan) praktek usaha monopoli sebagai mana yang dimaksud dalam Pasal
4, Pasal 11, Pasal 12 UU No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat

2. Perbedaannya
Sebagaimana yang disebutkan dalam persamaan perjanjian terlarang di poin ke 2 (dua)
bawasannya perjanjian yang terlarang itu berwawal daripada praktik oligopoli. Perbedaan
daripada perjanjian yang terlarang sebenarnya terletak daripada metode larangannya
atau karakteristik daripada perjanjian terlarang tersebut. Hal ini dapat diuraikan dalam table
dibawah

Perjanjian Oligopoli Kartel Trust


perjanjian ini memiliki perjanjian ini memiliki perjanjian ini memiliki
metode apabila beberapa metode membuat metode melakukan kerja
penjual bertindak sebagai perjanjian secara sengaja sama dengan membentuk
pemilik pasar terbesar oleh para perusahaan gabungan perusahaan
(priceleader) secara anggota kartel, seperti atau perseroan yang lebih

bersama-sama melakukan asosiasi atau gabungan besar yang nantinya akan


perusahaan dengan maksud
perjanjian penguasaan berdampak pada kegiatan
dan tujuan untuk
produksi nantinya akan usaha monopoli
mempengaruhi harga
mengakibatkan 2 (dua)
dengan mengatur produksi
atau 3 (tiga) pelaku usaha
atau kelompok pelaku
usaha menguasai lebih dari
75 %