Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit Tb paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan olehbakteri


Mycobakterium tuberkulosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga
dikenal juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Tuberkulosis paru (Tb paru) adalah penyakit
infeksius, yang terutama menyerang penyakit parenkim paru. Tb paru ini bersifat menahun
dan secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan.
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada waktu batuk atau bersin,
penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang
dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan. Jadi penularan
TB tidak terjadi melalui perlengkapan makan, baju, dan perlengkapan tidur.

KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PENDERITA


Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam:
1) Tuberkulosis Paru BTA Positif.
a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan
gambaran tuberkulosis aktif.
2) Tuberkulosis Paru BTA Negatif
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TB Paru BTA Negatif Rontgen Positif
dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan.
Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan
paru yang luas (misalnya proses "far advanced" atau millier), dan/atau keadaan umum
penderita buruk.
Tuberkulosis Ekstra Paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain
paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain. TB ekstra-paru
dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
1) TB Ekstra Paru Ringan Misalnya: TB kelenjar limphe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
2) TB Ekstra-Paru Berat Misalnya: meningitis, millier, perikarditis, peritonitis,
pleuritis eksudativa duplex, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan
alat kelamin.
TANDA – TANDA DAN GEJALA KLINIS
Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk dan berdahak
terus-menerus selama 3 minggu atau lebih, batuk darah atau pernah batuk darah. Adapun
gejala-gejala lain dari TB pada orang dewasa adalah sesak nafas dan nyeri dada, badan
lemah, nafsu makan dan berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat
malam, walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
Pada anak-anak gejala TB terbagi 2, yakni gejala umum dan gejala khusus.
1. Gejala umum, meliputi :
a. Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas dan tidak
naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik.
b. Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau
infeksi saluran nafas akut) dapat disertai dengan keringat malam.
c. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, paling sering di daerah
leher, ketiak dan lipatan paha.
d. Gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lebih dari 30 hari (setelah disingkirkan
sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan nyeri dada.
e. Gejala dari saluran cerna, misalnya diare berulang yang tidak sembuh dengan
pengobatan diare, benjolan (massa) di abdomen, dan tanda-tanda cairan dalam
abdomen.
2. Gejala Khusus, sesuai dengan bagian tubuh yang diserang, misalnya :
a. TB kulit atau skrofuloderma
b. TB tulang dan sendi, meliputi :
 Tulang punggung (spondilitis) : gibbus
 Tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul
 Tulang lutut: pincang dan atau bengkak
c. TB otak dan saraf Meningitis dengan gejala kaku kuduk, muntah-muntah dan
kesadaran menurun.
d. Gejala mata
 Conjunctivitis phlyctenularis
 Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyebab kematian utama yang diakibatkan
oleh infeksi. Tuberkulosis merupakan suatu penyakit kronik yang salah satu kunci
keberhasilan pengobatannya adalah kepatuhan dari penderita (adherence). Kemungkinan
ketidak patuhan penderita selama pengobatan TB sangatlah besar. Ketidak patuhan ini dapat
terjadi karena beberapa hal, diantaranya adalah pemakaian obat dalam jangka panjang,
jumlah obat yang diminum cukup banyak serta kurangnya kesadaran dari penderita akan
penyakitnya. Oleh karena itu perlu peran aktif dari tenaga kesehatan sehingga keberhasilan
terapinya dapat dicapai.Sedangkan berdasarkan riwayat pengobatan penderita, dapat
digolongkan atas tipe; kasus baru, kambuh, pindahan, lalai, gagal dan kronis.
1. Kasus Baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian).
2. Kambuh (Relaps) adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali lagi berobat
dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.
3. Pindahan (Transfer In) adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu
kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan
tersebut harus membawa surat rujukan / pindah.
4. Lalai (Pengobatan setelah default/drop-out) adalah penderita yang sudah berobat
paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang kembali
berobat. Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA
positif.
5. Gagal adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan ke 5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau lebih; atau
penderita dengan hasil BTA negatif Rontgen positif menjadi BTA positif pada akhir
bulan ke 2 pengobatan.
6. Kronis adalah penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai
pengobatan ulang kategori 2.
TERAPI
Pengendalian atau penanggulangan TB yang terbaik adalah mencegah agar tidak
terjadi penularan maupun infeksi. Pencegahan TB pada dasarnya adalah :
1. Mencegah penularan kuman dari penderita yang terinfeksi dengan cara memberikan
obat anti TB yang benar dan cukup, serta dipakai dengan patuh sesuai ketentuan
penggunaan obat.
2. Menghilangkan atau mengurangi faktor risiko yang menyebabkan terjadinya
penularan dengan cara mengupayakan kesehatan perilaku dan lingkungan
menghindari meludah sembarangan, batuk sembarangan, mengkonsumsi makanan
yang bergizi yang baik dan seimbang
Sesuai dengan sifat kuman TB, untuk memperoleh efektifitas pengobatan, maka prinsip-
prinsip yang dipakai adalah :
- Menghindari penggunaan monoterapi. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diberikan
dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat
sesuai dengan kategori pengobatan. Hal ini untuk mencegah timbulnya kekebalan
terhadap OAT.
- Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat, pengobatan dilakukan
dengan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang
Pengawas Menelan Obat (PMO).
- Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Tahap intensif
a. Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
b. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
c. Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.
Tahap Lanjutan
a. Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama
b. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant) sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.
Penggunaan Obat Anti TB yang dipakai dalam pengobatan TB adalah antibotik dan
anti infeksi sintetis untuk membunuh kuman Mycobacterium. Aktifitas obat TB
didasarkan atas tiga mekanisme, yaitu aktifitas membunuh bakteri, aktifitas sterilisasi,
dan mencegah resistensi. Obat yang umum dipakai adalah Isoniazid, Etambutol,
Rifampisin, Pirazinamid, dan Streptomisin. Kelompok obat ini disebut sebagai obat
primer. Isoniazid adalah obat TB yang paling poten dalam hal membunuh bakteri
dibandingkan dengan rifampisin dan streptomisin. Rifampisin dan pirazinamid paling
poten dalam mekanisme sterilisasi.
PERHATIAN KHUSUS UNTUK PENGOBATAN
Beberapa kondisi berikut ini perlu perhatian khusus :
1. Wanita hamil. Pada prinsipnya paduan pengobatan TB pada wanita hamil tidak berbeda
dengan pengobatan TB pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk wanita hamil,
kecuali streptomisin karena dapat menembus barier placenta dan dapat menyebabkan
permanent ototoxic terhadap janin dengan akibat terjadinya gangguan pendengaran dan
keseimbangan yang menetap pada janin tersebut. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil
bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat
berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkannya terhindar dari kemungkinan penularan
TB.
2. Ibu menyusui dan bayinya. Pada prinsipnya paduan pengobatan TB pada ibu menyusui
tidak berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu
menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT
secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah
penularan kuman TB kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi
tersebut dapat terus menyusu. Pengobatan pencegahan dengan INH dapat diberikan
kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya selama 6 bulan. BCG diberikan
setelah pengobatan pencegahan.
3. Wanita penderita TB pengguna kontrasepsi. Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi
hormonal (pil KB, suntikan KB, susuk KB), sehingga dapat menurunkan efektifitas
kontrasepsi tersebut. Seorang wanita penderita TB seyogyanya mengggunakan
kontrasepsi nonhormonal, atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50
mcg).
4. Penderita TB dengan infeksi HIV/AIDS. Prosedur pengobatan TB pada penderita dengan
infeksi HIV/AIDS adalah sama seperti penderita TB lainnya. Obat TB pada penderita
HIV/AIDS sama efektifnya
5. Penderita TB dengan hepatitis akut. Pemberian OAT pada penderita TB dengan hepatitis
akut dan atau klinis ikterik, ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan.
Pada keadaan dimana pengobatan TB sangat diperlukan dapat diberikan SE selama 3
bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan RH selama 6 bulan, bila
hepatitisnya tidak menyembuh seharus dilanjutkan sampai 12 bulan.
6. Penderita TB dengan penyakit hati kronik. Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati,
dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan TB. Kalau SGOT dan SGPT
meningkat lebih dari 3 kali OAT harus dihentikan. Pirazinamid (Z) tidak boleh
digunakan.
7. Penderita TB dengan gangguan ginjal Isoniazid, Rifampisin dan Pirazinamid dapat
diberikan dengan dosis normal pada penderita-penderita dengan gangguan ginjal. Hindari
penggunaan Streptomisin dan Etambutol kecuali dapat dilakukan pengawasan fungsi
ginjal dan dengan dosis diturunkan atau interval pemberian yang lebih jarang. Paduan
OAT yang paling aman untuk penderita dengan gangguan ginjal adalah 2RHZ/6HR.
8. Penderita TB dengan Diabetes Melitus. Diabetesnya harus dikontrol. Perlu diperhatikan
bahwa penggunaan Rifampisin akan mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes
(sulfonil urea) sehingga dosisnya perlu ditingkatkan. Hati-hati dengan penggunaan
etambutol, karena mempunyai komplikasi terhadap mata.
KASUS
R/ INH tab mg 300 XXX……….S1 dd Tab I
R/ Rifampicin tab mg 450 XXX…S1 dd tab I
R/ Pirazinamid tab mg 500 LX…..S1 dd tab II
R/ Ethambutol tab mg 500 LX …..S1dd tab II
R/ Vit B1 tab 10 mg XXX ……….S1 dd I

Dialog konseling pada resep :


AA: selamat pagi bapak, ada yang bisa saya bantu?
P: selamat pagi mbak, saya ingin menebus resep ini (menampilkan resep)
AA: oh baik, sebentar bapak.. silahkan bapak duduk dulu, nanti namanya saya panggil..
P: baik mbak (berjalan menuju kursi)
Beberapa saat kemudian AA memanggil..
AA: pasien bapak Anto
P: iya saya mbak..
AA: ini sudah saya buatkan resepnya ya pak, jadi ini buat obatnya, untuk obat
INH,rifampicin, vitamin B1 diminum 1 kali sehari 1 tablet, dan untuk obat pirazinamid dan
ethambutol diminum 1 hari sekali 2 tablet. Diminumnya harus rutin nggih pak..apakah bapak
sudah jelas?
P: iya mbak saya sudah jelas.. tapi mbak, kemarin saya sempat berhenti minum obat selama 1
bulan, apakah tidak masalah mbak?
AA: wah, sebenarnya obatnya harus diminum rutin Pak, dan jika sampai tidak minum selama
sebulan harus diulangi pengobatannya dari awal pak. Untuk lebih jelasnya, apakah bapak
mau berkonsultasi dengan apoteker kami?
P: iya mbak saya mau, sekalian saya mau nanya kok batuk saya gak sembuh sembuh ya
mbak, padahal sudah sebulan saya pengobatan,walaupun kemarin sempat berhenti.
AA: baik kalo begitu pak, mari ikut saya ke ruang konsultasi
P: baik mbak..
Setibanya di ruang konsultasi….
AA: selamat pagi apoteker dita, ini bapak Anto ingin berkonsultasi tentang resep yang
barusan ditebus (sambil menyerahkan resep dan data pasien)
A: baik, mbak.. mari pak Anto silahkan masuk, kenalkan saya apoteker dita, bisa dipanggil
mbak dita saja. Ada yang bisa saya bantu, Pak?
P: oh iya mbak, Terimakasih. Jadi begini, saya sakit batuk sudah sejak 3 bulan yang lalu, tapi
saya baru periksa ke dokter baru 2 bulan yang lalu dan ternyata positif TBC. Setelah itu saya
diberi resep ini dan melakukan pengobatan selama satu bulan. Tapi pada bulan kedua saya
kesulitan biaya, soalnya obatnya juga banyak jadi saya belum control ke dokter dan tidak
melakukan pengobatan, saya pikir dengan minum obat selama 1 bulan sudah sembuh,
ternyata saat berhenti kemarin batuk saya blm sembuh dan bahkan saat malam hari semakin
parah dan mengeluarkan darah. Apakah tidak bisa sembuh mbak, walaupun saya saat ini
melakukan pengobatan lagi?
A: oh jadi begitu masalahnya pak.. Jadi begini, sebenarnya memang pengobatan buat TBC
tidak boleh terlambat apalagi dalam waktu 1 bulan pak, karena pada terapi penyakit TBC
sendiri diterapkan selama 6 bulan pak dan penggunaan obat harus rutin digunakan karena jika
terlewat maka pengobatannya harus diulang dari awal lagi nggih pak, selain itu alasan lain
yang mengharuskan obat tidak boleh terlewat minumnya adalah diktakutkan nanti terjadinya
reaksi resistensi pada obat yang bapak gunakan dan hal lainnya yaitu dikhawatirkan TB dapat
menyebardari paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas,atau
penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya, bahkan kalau tidak diobati secara
serius penyakit TB ini dapat menyebabkan kematian Pak.
P: oh jadi begitu mbak, jadi saya harus mengulang pengobatan ini dari awal lagi? Oh yah
mbak tadi sempet bilang jika obat pemakaiannya tidak rutin bias mengakibatkan resisten
obatnya itu maksudnya gimana yah mbak?
A : nggih pak, jadi begitu.. mengenai banyaknya obat ini tidak bisadikurangi pak karena
pengobatan TB harus tuntas dan obat tidak boleh diganti karena sementara ini baru obat itu
yang poten untuk mengobati TB. Untuk resisten tadi maksudnya begini pak, jadi jika bapak
tidak rutin minum obat maka bakteri penyebab TB dapat tahan terhadap obat yang diberikan
ke bapak sehingga penyakit TB bapak bisa sulit untuk disembuhkan, dan jika bapak ada
kesulitan dalam pemakaian obat, bapak bisa meminta bantuan keluarga bapak untuk
mengingatkan pemakaian obatnya nggih pak.
P : Apa obatnya beneran gak bisa dikurangi ya mbak?Masa saya cuma sakit batuk sampe 5
obatnya. Cuma biasanya kalo batuk minum obh saja sembuh masa ini tidak. Apa bedanya
batuk biasa dengan batuk TB mbak?
A: Jadi begini pak, bedanya batuk biasa dengan batuk TBC adalah suatu penyakit infeksi
yang disebabkan oleh bakteri Mycobakterium tuberkulosis sedangkan batuk biasa adalah
reaksi yang terjadi apabila sel-sel pada saluran udara dikerongkongan teriritasi . Apakah
bapak sedang mengkonsumsi obat lain atau ada penyakit gangguan kesehatan yang lain selain
TB pak? Misalnya penyakit ginjal?
P: ooh jadi begitu ya mbak, saya paham. Alhamdulillah saya Cuma sakit batuk ini aja mbak,
sakit ginjal juga enggak. Saya juga gak suka minum obat mbak, jadi Cuma yang diresepin
dokter ini saja yang saya minum.
A: iya pak..syukurlah kalo bapak tidak ada riwayat sakit ginjal..karena obat-obat ini akan
diekskresikan melalui ginjal pak, jadi dikhawatirkan akan semakin memberatkan kerja ginjal
Pak. Oh iya pak, untuk cara minum obatnya apakah bapak sudah tau?
P: iya sudah tau mbak, dikasih tau sama mbak yg didepan tadi INH,rifampicin, vitamin B1
diminum 1 kali sehari 1 tablet, dan untuk obat pirazinamid dan ethambutol diminum 1 hari
sekali 2 tablet.
A : saya tambahkan ya Pak, untuk obat TB nya, yaitu INH, rifampicin, pirazinamid dan
etambutol sebaiknya diminum saat lambung kosong, 1-2 jam sebelum makan atau 1-2 jam
setelah makan, apabila ada keluhan saluran cerna seperti mual, atau tidak nafsu makan
setelah mengkonsumsi obat ini maka sebaiknya diminum sebelum tidur atau diminum dengan
mengkonsumsi sedikit makanan, sebaiknya obat ini diminum pada jam yang sama ya Pak,
supaya tidak kelupaan, dan satu lagi di resep bapak terdapat obat vit B1 nah fungsi obat itu
agar dapat menghilangkan efek samping seperti lemas dari obat INH nggih pak, konsumsi vit
B1 ini boleh setelah makan, artinya perut tidak harus kosong. Oh iya, ini ada kartu
penggunaan obat untuk memudahkan Bapak agar selalu ingat untuk meminum obat tepat
waktu (menyerahkan kartu), setiap selesai minum obat kartunya diisi ya Pak, kalau ada
keluhan juga di tulis di kolom ini, dan setiap ke dokter sebaiknya kartu ini di bawa ya Pak.
P : Nggih Mbak, Siap. Mbak, penyakit saya ini bisa menurun ke anak-anak saya gak ya?
Saya khawatir sama anak-anak saya mbak.
A : Enggak kok Pak, penyakit ini bukan penyakit keturunan Pak, jadi tidak akan menurun ke
anak-anak Bapak. Tapi penyakit ini bisa menular ke orang-orang terdekat Bapak. Penyakit ini
bisa menular melalui droplet yang Bapak keluarkan. Droplet itu kayak butiran air yang kecil-
kecil banget, kadang sampe kecilnya dia bisa terbang-terbang di udara, tapi gak kelihatan.
biasanya keluar waktu bapak bersin, batuk, atau saat Bapak bicara. Jadi biasanya kan kalau
kita bersin atau batuk keluar airnya ya Pak, nah itu namanya droplet, kalau kita bersin atau
batuk gak tutup mulut, droplet ini akan menyebar di udara dan bertahan di udara selama
beberapa jam, nah kalau droplet tersebut terhirup oleh orang lain, orang tersebut bisa tertular
Pak.
P : wah mbak, saya kadang-kadang saja mbak tutup mulut kalau bersin atau batuk. Jadi ada
resiko keluarga saya tertular ya mbak.
A : resiko untuk tertular ada Pak. Sebaiknya Bapak memeriksakan anggota keluarga Bapak
jika ada anggota keluarga Bapak yang merasakan gejala seperti yang Bapak alami seperti
batuk terus-menerus selama tiga minggu, Sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu
makan dan berat badan menurun, rasa kurang enak badan kemudian batuk darah atau pernah
batuk darah. Seseorang yang tertular TBC biasanya juga mengalami demam meriang selama
satu bulan, dan berkeringat di malam hari. Jadi kalau ada anggota keluarga Bapak yang
merasakan gejala tersebut sebaiknya langsung dibawa ke dokter untuk diperiksakan nggih
Pak, biar bisa cepat diobati dan tidak menularkan ke anggota keluarga yang lain. Jadi mulai
sekarang bapak harus selalu ingat untuk menutup mulut saat bersin atau batuk, tidak meludah
sembarangan, kemudian harus pakai masker ya Pak, selain itu kebersihan rumah dan
lingkungan harus dijaga, dan jangan lupa mengkonsumsi makanan yang bergizi ya Pak.
P : Iya mbak saya dulu gejalanya kayak gitu. Tapi alhamdulillah di keluarga saya gak ada
yang mengalami gejala kayak saya mbak. Terus kalau baju-baju saya, perlengkapan tidur,
atau perlengkapan makan bisa jadi sumber penularan gak mbak? Apa perlu pengangan
khusus untuk perlatan saya tersebut mbak?
A : Penularan TB terjadi melalui udara Pak. Seperti yang saya jelaskan tadi, penularan terjadi
saat droplet tersebut dikeluarkan kemudian terhirup dan masuk ke saluran pernafasan, jadi
untuk peralatan yang Bapak sebutkan tadi tidak masalah, tapi tetap harus dijaga
kebersihannya ya Pak, kalau memang sudah kotor sebaiknya langsung dibersihkan atau
dicuci. Oh iya, kalau Bapak mengkonsumsi obat ini secara rutin maka resiko penularan ke
orang-orang terdekat bapak juga dapat diminimalkan Pak. Biasanya kalau sudah minum 2
bulan secara tertib, kumannya sudah tidak menginfeksi dan tidak menular, tapi pengobatan
harus tetap dilanjutkan dan bapak harus memakai masker sampai Bapak benar-benar sembuh
dan bebas TB. Bapak tidak perlu khawatir, penyakit ini bisa sembuh asalkan Bapak rutin dan
tertib mengkonsumsi obatnya, jangan sampai berhenti lagi ya Pak.
P : Tapi kadang saya gak ada uang mbak buat nebus obatnya.
A : Untuk masalah itu, sekarang ada layanan pemerintah yang namanya BPJS Pak, dengan
layanan tersebut kita bisa mendapatkan layanan pengobatan gratis sampai batas tertentu jadi
gak perlu khawatir kalau mau tebus obat Pak.
P : Beneran mbak ?
A : iya Pak untuk lebih lengkapnya bapak bisa tanya ke kantor BPJS terdekat.
P : Waah nanti saya tak ajak anak saya kesana mbak.
A : Siip Pak. Apa sudah jelas semuanya Pak? Atau ada yang mau ditanyakan lagi?
P : alhamdulilah sudah jelas mbak terima kasih atas infonya nggih mbak.
A: oke baiklah pak, untuk meyakinkan kalo bapak sudah mengerti bisa bapak ulangi cara
minumnya?
P: baik mbak jadi cara minumnya untuk obat TB INH dan rifampicin masing-masing 1 kali
sehari 1 tablet, kemudian pirazinamid dan ethambutol 1 hari sekali masing masing 2 tablet.
Obat-obat TB tersebut diminum dalam keadaan perut kosong, 1-2 jam sebelum atau sesudah
makan, kalau mual diminum sebelum tidur atau dengan makanan tapi sedikit saja
makanannya, minumnya di jam yang sama biar gak kelupaan, dan harus tertib minum setiap
hari. Kemudian Vit B1 nya 1 kali sehari, boleh setelah makan.
A: iya pak, benar sekali. Kemudian untuk pencegahan penularannya Pak?
P : emm... untuk pencegahan penularannya harus tutup mulut saat batuk dan bersin,
kemudian harus pakai masker, tidak boleh meludah sembarangan, harus bersih, gitu ya
mbak?
A: Nggih Pak, siip. Berarti bapak sudah paham. Jika nanti ada efek samping yang berat bisa
dikonsultasikan ke dokter nggih pak.Mungkin ada yg ditanyakan lagi pak?
P : Tidak ada mbak.
A: Baik Pak kalau begitu saya rasa konseling hari ini cukup. Semoga bermanfaat, dan lekas
sembuh nggih Pak. Kalau ada yang ditanyakan Bapak bisa menghubungi saya di nomor ini
(menyerahkan kartu nama)
P : Baik Mbak. Terimakasih ya Mbak. Saya Pamit dulu.
A : Iya Pak. Terimakasih atas kunjungannya.

Contoh Kartu Penggunaan Obat

Kartu Catatan Penggunaan Obat


Nama Pasien :
Waktu Minum Obat :
Obat INH Rifampisin Pirazinamid Etambutol Vit B1 Keluhan

Tgl

Keterangan :
1. Minum obat sesuai waktu yang ditentukan
2. Isilah tanda “√” setiap selesai minum obat pada pada kolom sesuai
jadwal
3. Catatlah setiap keluhan yang dirasakan
4. Bawa kartu ini setiap kunjungan ke dokter
DAFTAR PUSTAKA

Pharmaceutical care untuk penyakit tuberculosis. Direktorat bina farmasi komunitas dan
klinik, Direktorat jendral bina kefarmasian dan kesehatan departemen kesehatanRI. 2005.
Priyandani Yuni. 2014. Profil Problem Terapi Obat Pada Pasien Tuberkulosis Di Beberapa
Puskesmas Surabaya.Jurnal Farmasi Komunitas vol.1 No.2 30-35. Departemen Farmasi
Komunitas Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia