Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dielektrik adalah sejenis bahan isolator listrik yang dapat dikutubkan (polarized) dengan cara
menempatkan bahan dielektrik dalam medan listrik. Bahan dielektrik yaitu bahan yang apabila
diberikan medan potensial (tegangan) dapat mempertahankan perbedaan potensial yang timbul
diantara permukaan yang diberikan potensial tersebut. Fungsi dari bahan listrik dielektrik
diantaranya:
1) Menyimpan energy listrik (dalam bentuk muatan) misalnya kapasitor.
2) Memisahkan bagian bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan (isolator)
misalnya: plastic, celah udara tansformator, mica, gelas, porselin,kayu, karet ,dll.
Definisi bahan dielektrik adalah zat yang dapat digunakan untuk memperbesar kapasitas
kapasitor. Bahan dielektrik biasanya terikat kuat oleh masing-masing atom sehingga tidak dapat
bergerak walaupun bahan itu berada dalam medan listrik. Bila suatu bahan dielektrik diletakkan
dalam medan listrik, maka dipol listrik yang terjadi akan mengarahkan diri sehingga permukaan
bahan akan timbul muatan-muatan listrik induksi. Muatan-muatan ini akanmenimbulkan medan
listrik baru di dalam bahan yang arahnya berlawanan dengan medan listrik luar akibatnya medan
listrik di dalam bahan menjadi lebih lemah, yaitu 1/𝑘 kali medan listrik luar, sedangkan k
merupakan tetapan dielektrik. Sering dikatakan bahwa bahan konduktor memiliki tak terbatas
persediaan muatan yang bergerak bebas melalui bahan.Dalam prakteknya, biasanya diartikan bahwa
ada beberapa electron (satu atau dua per atom dalam tipe logam), tidak terhimpun dalam inti khusus,
tetapi berkeliaran bebas.Di dalam dielektrik kebalikan dengan konduktor, yaiut seluruh muatan diikat
oleh atom-atom khusus (menurut jenisnya) atau molekul.Muatan-muatan itu terikat erat dan mereka
semua dapat melakukan gerak sedikit dalam molekul.Pergeseran ini tidak dramatis seperti
penyusunan kembali besar muatan-muatan dalam konduktor.Pergeseran mikroskopik merupakan
efek komulatif untuk watak /karakter bahan dielektrik yang berupa peregangan (stretching) dan
perputaran untuk menormalkan distribusi muatan (rotating).

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa defenisi dari dielektrik?
2. Jelaskan bagian-bagian dari polarisasi?
3. Bagaimana rapat muatan terikat dalam dielektrik?
1
4. Bagaimana Hukum Gauss dalam Dielektrik?
5. Bagaimana klasifikasi dalam Dielektrik?

5.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui defenisi dari dielektrik
2. Mengetahui bagian-bagian dari polarisasi.
3. Mengetahui rapat muatan terikat dalam dielektrik.
4. Mengetahui Hukum Gauss dalam Dielektrik.
5. Mengetahui klasifikasi dalam Dielektrik.

2
BAB II
PEMBAHASAN

5.1 Pengertian Dielektrik


Dielektrik adalah suatu bahan yang memiliki daya hantar arus yang sangat kecil atau bahkan
hampir tidak ada. Bahan dielektrik dapat berwujud padat, cair dan gas.Tidak seperti konduktor, pada
bahan dielektrik tidak terdapat elektron-elektron konduksi yang bebas bergerak di seluruh bahan oleh
pengaruh medan listrik. Medan listrik tidak akan menghasilkan pergerakan muatan dalam bahan
dielektrik. Sifat inilah yang menyebabkan bahan dielektrik itu merupakan isolator yang baik. Dalam
bahan dielektrik, semua elektron-elektron terikat dengan kuat pada intinya sehingga terbentuk suatu
struktur regangan (lattices) benda padat, atau dalam hal cairan atau gas, bagian-bagian positif dan
negatifnya terikat bersama-sama sehingga tiap aliran massa tidak merupakan perpindahan dari
muatan. Karena itu, jika suatu dielektrik diberi muatan listrik, muatan ini akan tinggal terlokalisir di
daerah di mana muatan tadi ditempatkan. Dielektrik merupakan suatu isolator. Isolator merupakan
suatu bahan yang sulit menghantarkan arus listrik. Dilektrik tidak memiliki pembawa muatan bebas,
namun dielektrik memiliki inti yang positif dan elektron yang bermuatan negatif. Karena muatan-
muatannya telah berpasang-pasangan maka sulit bagi bahan dielektrik untuk berinteraksi atau
bertumbukan dengan muatan-muatan lain diluar dielektrik.

5.2 Polarisasi
Meskipun tidak ada perpindahan muatan ketika dielektrik-dielektrik dipengaruhi suatu medan
listrik, tetapi terjadi pergeseran sedikit pada muatan negative dan positif dari atom-atom atau
molekul dielektrik , sehingga memiliki kelakuan seperti dipole sangat kecil. Pada dielektrik tersebut
dikatakan terjadi pengutuban atau dalam keadaan terkutubkan ketika dipole-dipole ditampilkan.
Misalkan sebagai contoh sederhana,polarisasi ditampilkan/digambarkan sebagai suatu dipole
listrik. Muatan titik positif menggambarkan inti dan muatan negative menggambarkan muatan
electron dan kedua muatan tersebut terpisah jarak yang sangat kecil.Orbit electron pada inti
bertindak seperti awan mengitari inti. Ketika atom-atom tidak terjadi polarisasi, awan yang
mengelilingi inti adalah simetri (gambar.1a) dan momen dipolnya nol (karena pergeseran muatan
positif dan negative =0). Dengan adanya pengaruh medan listrik, maka awan electron menjadi
bergeser sedikit atau tidak simetris (gambar.1b), dan atom dikutubkan (terjadi polarisasi). Atom
tersebut dapat digambarkan ekuivalen dengan dipole muatan titik (gambar 1c).

3
c. –q +q

L
(Gambar: 1. a. Atom tidak berpolarisasi b. atom menjadi terpolarisasi kutub E
c. ekuivalen dipole)

Suatu dielektrik papan marmer permitivitasnya 𝜀 (gambar 2) dalam ruangan hampa. Medan
listrik serba sama𝐸̅ diterapkan pada aras normal, menyebabkan polarisasi dalam dielektrik, yaitu
dipole-dipole atom induksi menembus papan marmer. Hasil akhir dari polarisasi adalah
menghasilkan lapisan mutan negative pada salah satu permukaan dan lapisan muatan positif pada
permukaan lain dari papan trsebut, dengan muatan tiap-tiap dipole dilapisi oleh jarak L’
(L’=ketebalan papan marmer)

(Gambar .2. Dielektrik papan marmer dalam medan listrik seragam)


4
Jadi, bila suatu dielektrik dalam medan listrik, maka dalam dielektrik terbentuk dipole-dipole
listrik. Bila diambil elemen volume dari dielektrik dV, maka momen dipole pada elemen volume itu
̅̅̅̅
𝑑𝑝. Polarisasi didefinisikan sebagai momen dipole tolak persatuan volume, sehingga dapat
dirumuskan
⃗ = 𝒅𝒑⃗…………………………(1)
⃗𝑷
𝒅𝑽

𝑃⃗ = 𝑣𝑒𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑜𝑙𝑎𝑟𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖
Dari persamaan diatas diperoleh
⃗⃗ 𝒅𝑽...........................................(2)
⃗ = ∮𝒗𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝑷
𝒑
P= momen dipole total

Contoh
Hitung polarisasi di dalam bahan dielektrik dengan 𝜀𝑟 = 2,8 bila 𝐷 = 3 × 10−7 𝑎𝑥 𝐶/𝑚2
𝐷
𝐷 = 𝜀0 𝜀𝑟 𝐸 → 𝐸=
𝜀0 𝜀𝑟
𝜒𝑒 = 𝜀𝑟 − 1 → 𝑃 = 𝜒𝑒 𝜀0 𝐸 = (𝜀𝑟 − 1)𝜀0 𝐸
𝐷 𝜀𝑟 − 1
𝑃 = (𝜀𝑟 − 1)𝜀0 = 𝐷
𝜀0 𝜀𝑟 𝜀𝑟
2,8 − 1 𝐶
𝑃= 3 × 10−7 𝑎𝑥 = 1,93 × 10−7 𝑎𝑥 2
2,8 𝑚

Bahan dielektrik bukan penghantar listrik. Tetapi karena tidak inert terhadap medan listrik.
Elektron dan proton akan bergeser tempat akibat medan listrik tersebut. Sebagai contoh, tempat
kedudukan (rata-rata) dari elektron akan bergeser mendekati elektroda positif, sedang inti atom
sendiri, yang mengandung proton, akan bergeser mendekati elektroda negatif. Peristiwa ini disebut
sebagai polarisasi. Bila ada medan arus bolak balik, muatan tadi akan bergeser bolak balik mengikuti
frekuensi medan listrik. Polarisasi dapat digolongkan kedalam :

5.2.1 Polarisasi elektronik


Polarisasi Elektronik. Polarisasi elektronik terjadi pada semua jenis dielektrik. Polarisasi ini
terjadi karena pergeserana elektron pada atom atau molekul karena adanya medan listrik, pusat
muatan listrik positif dan negatif yang semula berimpit menjadi terpisah sehingga terbentuk dipole.
Pemisahan titik pusat muatan ini berlangsung sampai terjadi keseimbangan dengan medan listrik

5
yang menyebabkannya. Dipole yang terbentuk merupakan dipole tidak permanen; artinya dipole
terbentuk selama ada pengaruh medan listrik saja. Jika medan listrik hilang maka titik-titik pusat
muatan kembali berimpit lagi. Apabila medan yang diberikan adalh medan searah, dipole terbentuk
hampir seketika dengan hadirnya medan listrik. Oleh karena itu polarisasi elektronik bisa terjadi pada
medan listrik bolak balik berfrekuensi tinggi.

5.2.2 Polarisasi Ionik


Polarisasi jenis ini hanya teramati pada material dengan ikatan ion. Polarisasi terjadi karena
pergeseran ion-ion yang berlawanan tanda karena pengaruh medan listrik. Gambar dibawah
menggambarkan peristiwa ini. Sebagaimana halnya dengan polarisasi elektronik, dipole yang
terbentuk dalam polarisasi ionik juga merupakan dipole tidak permanen. Namun polarisasi ionik
terjadi lebih lambat dari polarisasi elektronik. Apabila di berikan medan searah, diperlukan waktu
lebih lama untuk mencapai keadaan seimbang, demikian pula jika medan dihilangkan posisi ion akan
kembali pada posisi semula dalam waktu lebih lama dari polarisasi elektronik.
Polarisasi ionik merupakan pergeseran ion negatif dan positif ke elektroda positif dan negatif.
Sama dengan polarisasi elektronik, polarisasi ionik ditimbulkan oleh medan listrik luar.
Karena ion lebih berat jika dibandingkan dengan elektron, ion tak mungkin berpolarisasi
dengan cepat. Polimerisasi ion terbatas hingga frekuensi maksimum sebesar 1013 Hz. Ini berada
dibawah frekuensi sinar biasa. Oleh karena itu, berkas sinar tidak mungkin menghasilkan polarisasi
ionik dan hanya akan menghasilkan polarisasi elektronik.

(Gambar 4.Polarisasi Ionik)

5.2.3 Polarisasi Muatan Ruang


Polarisasi ini terjadi karena pemisahan muatan-muatan ruang, yang merupakan muatan-
muatan bebas dalam ruang dielektrik. Dengan proses ini terjadi pengumpulan muatan sejenis di dua
sisi dielektrik. Polarisasi ini berlangsung lebih lambat lagi dan pada waktu medan listrik dihilangkan

6
muatan ruang dapat menempati posisi yang baru, tidak seluruhnya kembali pada posisi awal. Muatan
ruangan atau polarisasi antar permukaan terjadi bila ada penghantaran muatan lokal dalam dielektrik.
Sebagai contoh Al2O3, bahan bukan penghantar, mengandung partikel aluminium yang sangat kecil,
elektron konduksi dapat bergeser kearah elektroda positif dalam medan bolak-balik. Akan tetapi,
mereka tetap terikat didalam partikel metal. Contoh ini hanya untuk penjelasan belaka, dan jarang
dijumpai dalam barang rekayasa.

(Gambar. 5 Polarisasi Muatan Ruang)

2.2.4 Polarisasi Orientasi.


Polarisasi ini terjadi pada material yang memiliki molekul asimetris yang membentuk momen
dipole permanen. Dipole-dipole permanen ini akan cenderung mengarahkan diri sejajar dengan
medan listrik, namun tidak semua dipole akan sejajar dengan arah medan. Kebanyakan dipole
permanen ini membentuk sudut dengan arah medan. Lihat Gambar.6. Waktu yang diperlukan untuk
mencapai keseimbangan juga cukup lama.

(Gambar. 6 Polarisasi Orientasi)

Penerapan bahan dielektrik ini berdasarkan hukum Gauss. Di mana Gauss menyatakan bahwa
jumlah garis gaya atau fluks listrik yang keluar dari suatu permukaan tertutup sebanding dengan
jumlah muatan listrik yang dilingkupi oleh permukaan tertutup itu. Secara matematis, pernyataan
tersebut dituliskan sebagai :

7
dengan S adalah suatu permukaan tertutup dan adalah jumlah muatan yang ada di dalam atau
dilingkupi oleh permukaan tertutup tersebut. Hukum Gauss terutama digunakan untuk menghitung
medan listrik oleh benda bermuatan yang berbentuk khusus, misalnya berbentuk pelat.

5.3 Rapat Muatan Terikat


Pandang suatu bahan dielektrik yang terpolarisasi, yang dicirikan oleh polarisasi di setiap titik
𝑟, 𝑃⃗(𝑟 ′ ). Kita akan menghitung medan listrik di titik 𝑟 diluar bahan dielektrik tersebut.

(Gambar 7 Potensialdi luar suatu benda terpolarisasi)

Potensial akibat momen dipol elemen 𝑑𝑣 ′ :


⃗ (𝒓
𝒅𝒑 ⃗ −𝒓⃗ ′) ⃗⃗ (𝒓
𝑷 ⃗ −𝒓⃗ ′)
𝒅𝑽 = 𝟒𝝅𝜺 = 𝟒𝝅𝜺 𝒅𝑽′ ; 𝒅𝒑
⃗ ⃗⃗ 𝒅𝒗′
=𝑷 (3)
|𝒓
𝟎 ⃗ −𝒓⃗ ′ |𝟐 |𝒓
𝟎 ⃗ −𝒓 ⃗ ′ |𝟐

Potensial pada titik 𝑟 merupakan jumlah dari potensial akibat elemen volume.
Dengan 𝑅̂ = 𝑟 − 𝑟 ′ dan 𝑅 = |𝑟 − 𝑟 ′ |
𝟏 𝑷(𝒓′ )𝑹
̂ 𝟏 𝟏
𝑽(𝒓) = 𝟒𝝅𝜺 ∫𝑽 𝒅𝑽′ = 𝟒𝝅𝜺 ∫𝑽 𝑷. ⃗𝛁 𝑹 𝒅𝑽′ (4)
𝟎 𝟎 𝑹𝟐 𝟎 𝟎


𝑅 1 1
Ingat :𝑅2 = −∇ 𝑅 = ∇′ 𝑅

Dari sifat operator Nabla:


⃗⃗⃗ ⃗ . 𝐴 + 𝐴. ∇
∇′ . (𝑓𝐴) = 𝑓∇ ⃗𝑓

⃗𝑃 1 1
⃗⃗⃗
∇′ . = ⃗∇′ . 𝑃⃗ + 𝑃⃗ ⃗∇′ .
𝑅 2 𝑅
⃗⃗
⃗⃗⃗ ⃗𝛁 ′ 𝟏 = ⃗𝛁
𝑷. ⃗ ′ . 𝑷 − ⃗𝛁 ′ . 𝟏 . P ..............................................(5)
𝑹 𝑹 𝑹

Maka diperoleh persamaan

8
1 𝑃⃗ ⃗∇′ . 𝑃⃗
𝑉(𝑟) = (∫ ( ) 𝑑𝑉 − ∫ . 𝑑𝑉 )
4𝜋𝜀0 𝑉′ 𝑅 𝑉′ 𝑅
Teorema divergensi:

∮𝑠 , . 𝐹 . 𝑛⃗𝑑𝑎 = ∫𝑉′ ⃗∇. 𝐹 𝑑𝑣


Maka diperoleh:
𝟏 ⃗ .𝒏𝒅𝒂′
⃗𝑷 𝟏
𝑽(𝒓) = 𝟒𝝅𝜺 (∮𝒔 , . ⃗⃗⃗⃗ 𝒅𝒗)............................................ (6)
− ∫𝑽′ 𝑹 (𝛁′. 𝑷)
𝟎 𝑹

Dengan 𝑆 ′ permukaan dari 𝑉 ′ dengan arah normal keluar (=𝑛̂)

Bila persamaan diatas dikorespondensikan dengan pembatas potensial muatan kontiniu, maka
dapat dianalogikan bahwa persamaan diatas mencetak potensial yang dihasilkan oleh distribusi rapat
muatan volume (−𝜌𝑏 ) meliputi seluruh volume dan rapat muatan permukaan 𝜎𝑏 jarak permukaan
yang terikat. Oleh karena itu dapat dianalogikan bahwa:
𝝆𝒃 = −𝛁 ′ . ⃗𝑷
⃗ ...............................................(7)

𝝈𝒃 = ⃗𝑷
⃗ .𝒏
̂ = 𝑷𝒏 ................................................(8)
𝟏 𝝈𝒃 𝒅𝒂′ 𝟏
𝑽(𝒓) = 𝟒𝝅𝜺 (∮𝒔 , . − ∫𝑽′ 𝑹 𝝆𝒃 𝒅𝒗)............................................ (9)
𝟎 𝑹

Dalam kenyataannya persamaan


𝜌𝑏 = −∇′ . 𝑃⃗
dapat dituliskan:
⃗⃗ ..................................................(10)
𝝆𝒃 = −𝛁 . 𝑷

Dengan pengertian bahwa diferensial dibuat terhadap koordinat titik sumber.Indeks b yang
ditunjukkan dalam setiap persamaan mencerminkan kenyataan bahwa rapat muatan muncul dari
muatan terikat suatu dielektrik.Sebagai akibatnya, hal itu biasanya digunakan acuan sebagai rapat
muatan terikat atau rapat muatan polarisasi.

5.4 Hukum Gauss Dalam Dielektrik


Hukum Gauss menyatakan bahwa fluks listrik yang melewati suatu permukaan tertutup
sembarang sebanding dengan muatan total yang dilingkupi permukaan tersebut. Dalam menerapkan
Hukum Gauss pada suatu daerah yang mengandung muatan-muatan yang diletakkan didalam bahan
dielektrik, kita harus memperhitungkan seluruh muatan didalam permukaan Gauss (polarisasi
muatan).

9
Efek polarisasi menghasilkan susunan rapat muatan yaitu 𝜌𝑏 = −∇. 𝑃⃗ dalam dielektrik dan 𝜎𝑏 =
𝑃⃗. 𝑛̂ pada permukaan. Berikut akan disajikan tentang medan oleh muatan terikat dan muatan bebas.
Muatan bebas boleh terdiri atas electron-elektron pada konduktor atau ion-ion berkeliling dalam
bahan dielektrik atau sembarang muatan, dengan kata lain bukan akibat resultan dari polarisasi. Di
dalam dielektrik rapat muatan total dapat dituliskan :
𝜌 = 𝜌𝑏 + 𝜌𝑓
Oleh karena itu hukum Gauss dapat ditulis
𝜺𝟎 𝛁. ⃗𝑬
⃗ = 𝝆 = 𝝆𝒃 + 𝝆𝒇 = −𝛁. ⃗𝑷
⃗ + 𝝆𝒇 (11)

Dengan 𝐸⃗ = muatan total.


Hal itu memudahkan untuk mengkombinasikan dua suku divergen yaitu:
𝜀0 ∇. 𝐸⃗ + ∇. 𝑃⃗ = 𝜌𝑓 → ∇. (𝜀0 . 𝐸⃗ + 𝑃⃗) = 𝜌𝑓

Dalam hal ini 𝜀0 . 𝐸⃗ + 𝑃⃗ = 𝐷


⃗ dengan
⃗𝑫
⃗ = 𝜺𝟎 . ⃗𝑬 + ⃗𝑷
⃗ (12)
⃗ = didefinisikan sebagai medan pergeseran listrik.
𝐷
Oleh karena itu hokum Gauss dapat dinyatakan
⃗𝑫
⃗ . 𝛁 = 𝝆𝒇 (13)
Dalam bentuk integral

∮𝒑𝒆𝒓𝒎𝒖𝒌𝒂𝒂𝒏 ⃗𝑫
⃗ 𝒅𝒂
⃗ = 𝑸𝒇(𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒊𝒏𝒈𝒌𝒖𝒑𝒊) (14)

Dengan 𝑄𝑓 adalah total muatan bebas didalam volume yang dibatasi permukaan. Hal ini sebagai
cara khusus untuk menyatakan Hukum Gauss didalam konteks dielektrik, sebab hal itu dibuat hanya
untuk muatan bebas, dan muatan bebas adalah muatan bahan yang dikontrol. Dalam hal khusus,
⃗ dapat segera dihitung dnegan metode hokum Gauss.
bilamana diperlukan suatu simetris, maka 𝐷

10
Contoh

Kawat lurus membawa muatan garis serba sama𝜆 dikelilingi bahan penyekat karet dengan
jari-jari R seperti gambar. Carilah medan pergeseran listriknya!

Penyelesaian
⃗ 𝑑𝑎 = 𝑄𝑓(𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑢𝑝𝑖) , dengan 𝑄𝑓 = 𝐿. Maka;
∮𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝐷

𝐷. 𝐴 = 𝑠𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛 𝐴 = 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑠𝑖𝑙𝑖𝑛𝑑𝑒𝑟 = 𝜆𝐿2


Sehingga, 𝐷(2𝜋𝜆𝐿) = 𝜆𝐿
𝜆
𝐷= 𝑟̂
2𝜋𝑟
Perlu diperhatikan bahwa penggunaan rumus tersebut dalam bahan penyekat dan diluar
adalah sama. Dalam daerah yang terakhir (diluar), 𝑃⃗ = 0 sehingga dari persamaan bila 𝑃⃗ = 0
maka
1
⃗ = 𝜆 𝑟̂ untuk𝑟 > 𝑅
𝐸⃗ = 𝜀 𝐷
0 2𝜋𝜀 𝑟0

Di dalam karet, medan listrik tidak dapat dihitung , sebab untuk mengetahui P di tempat itu
tidak diketahui caranya

5.5 Klasifikasi Dielektrik


Pada umumnya diharapkan bahwa ada hubngan fungsional antara polarisasi dan medan listrik,
𝑃⃗ = 𝑃⃗(𝐸⃗ )𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑃𝑥 = 𝑃𝑥 (𝐸𝑥, 𝐸𝑦, 𝐸𝑧 ) dan selanjutnya. Diskripsi makroskopikteori electromagnet tidak
meramalkan bentuk dari fungsi tersebut, tetapi mengambilnya sebagai informasi luar.Hubungan
tersebut ditinggalkan, kemudian ditentukan dari eksperimen, atau dihitung secara teori dari keadaan
mikroskopik suatu bahan. Hal ini dibahas dalam cabang fisika lain yaitu mekanika statistika dan
fisika zat padat. Kombinasi eksperimen dan teori menunjukkan bahwa sebagian besar bahan dapat
diklasifikasikan dengan mudah, dan hasil dapat digunakan untuk menyederhanakan seluruh teori dan
membuat sangat bermanfaat.

5.5.1 Polarisasi Permanen


Jika 𝐸⃗ = 0, maka ada dua kemungkinan nilai dari 𝑃⃗=0 atau 𝑃⃗ ≠ 0 maka bahan dipolarisasikan
rata dalam ketidak hadiran medan, seperti dijelaskan sebelumnya. Hal ini dikatakan memiliki
11
polarisasi permanen. Selanjutnya untuk 𝑃⃗(0) = 0, adalah banyak tipe dan banyak rupa yang
dihasilkan oleh medan, secara umum digunakan istilah dielektrik.

5.5.2 Dielektrik non Linear


Daerah dengan 𝑃⃗(0) = 0, adalah masih memungkinkan hubungan antara 𝑃⃗ dan 𝐸⃗ dapat benar-
benar sulit untuk sebagian besar bahan. Bagaimanapun juga membutuhkan perkecualian keadaan
kondisi, seperti medan yang sangat besar/panjang, atau temperature rendah atau keduanya. Oleh
karena itu pencarian tersebut sering cukup memberikan sebagai deret pangkat dalam komponen 𝐸⃗ ,
yaitu:
𝑷𝒊 = ∑𝒋 𝜶𝒊𝒋 𝑬𝒋 + ∑𝒋 ∑𝒌 𝜷𝒊𝒋𝒌 𝑬𝒋 𝑬𝒌 + ⋯ ………………………….. (15)
Dalam indeks I,j,dan k mengambil nilai x,y,dan z. bentuk tersebut memenuhi seluruh asumsi
bahwa 𝑃⃗(0) = 0. Nilai khusus dari koefisien 𝛼𝑖𝑗 , 𝛽𝑖𝑗𝑘 … akan terganggu keadaan yang meliputi

dielektrik khusus. Jika orde kedua atau suku-suku tinggi dalam komponen 𝐸⃗ dibutuhkan untuk
menggambarkan merincikan bahan, maka dielektrik disebut non linear.Hal ini membutuhkan
eksperimen untuk menentukan apakah persamaan perlu diadakan kasus yang diberikan sebagai
contoh, beberapa keramik menjadi dalam kategori tersebut.

5.5.3 Dielektrik Linier


a. Susebtibilitas, Permitivitas, Konstanta Dielektrik
Kita sudah melihat akibat adanya polarisasi P di dalam bahan dielektrik, tetapi belum
mengenal sebab terjadinya polarisasi tersebut. Secara kualitatif dapat diungkapkan bahwa P
tergantung pada resultan medan listrik E yang ada didalam dielektrik. Dalam kebanyakan
bahan, jika Etidak terlalu besar, polarisasi yang terjadi pada bahan sebanding dengan medan
listrik.
𝐏 = 𝛜 𝐨 𝛘𝐞 𝐄 (16)
dengan χe = Suseptibilitas medium, suatu tetapan tidak berdimensi (tanpasatuan).Nilai
χe tergantung pada struktur mikroskopis dari substansi yang bersangkutan (dan juga pada
kondisi eksternal seperti suhu). Bahan yang mengikuti hubungan seperti diatas, disebut
dielektrik linier.
Perhatikan bahwa E dalam Persamaan. 4.30 adalah medan listrik total, yang terdiri
dari sebagian muatan bebas dan bagian dari polarisasi itu sendiri. Jika, misalnya, kita
menempatkan sepotong dielektrik ke medan eksternal Eo, maka kita tidak dapat menghitung
P langsung dari Persamaan. 4,30; medan eksternal akan mempolarisasimaterial, dan

12
polarisasi ini akan menghasilkan medannya sendiri, yang kemudian berkontribusi terhadap
medan total. Pendekatan paling sederhana adalah mulai dengan perpindahan, setidaknya
dalam kasus-kasus di mana D dapat disimpulkan secara langsung dari distribusi muatan
gratis.

Bahan-bahan yang memenuhi hubungan jika dituliskan :

(17)
Jadi D sebanding dengan E

(18)
Dengan

(19)
∈ merupakan konstanta yang disebut permitivitas bahan. (Dalam ruang hampa, di mana tidak
terjadi polarisasi, maka seseptibilitasnya adalah nol, dan permitivitas adalah ∈o. Oleh sebab
itu ∈o disebut permitivitas ruang bebas. Adapun permitivitas yang terjadi untuk memiliki nilai
8,85 x 10 ~ 12 C2 / N-m2.)

(19)
Dengan ∈r disebut permitivitas relatif, atau konstanta dielektrik suatu material. Konstanta
dielektrik untuk beberapa zat umum tercantum dalam Tabel 1.
Table 1 Dielectric Constants (unless otherwise specified, values given are for 1 atm, 20° C).
Source: Handbook of Chemistry and Physics, 78th ed.
(Boca Raton: CRC Press, Inc., 1997).

Nilai P dan D proporsional terhadap E. Pada antarmuka antara yang terpolarisasi dielektrik
dan vakum (Gambar 8), P adalah nol pada satu sisi tetapi tidak pada sisi yang lain. Di sekitar

13
ini loop dan karenanya, oleh teorema Stokes', curl P tidak dapat menghilang di
mana-mana dalam loop.

(Gambar 8 Vacuum Dielectric)

Tentu saja, jika ruang sepenuhnya diisi dengan dielektrik linear homogen, maka

sehingga D dapat ditemukan dari muatan bebas seolah-olah dielektrik tidak ada di sana:
D = ∈o Evac
di mana Evac adalah bidang distribusi muatan bebas yang sama yang akan menghasilkan
dalam ketiadaan setiap dielektrik. Menurut Persamaan. 4.32 dan 4.34, oleh karena itu,

(20)
Kesimpulan: Ketika semua ruang diisi dengan dielektrik linear homogen, di setiap medannya
akan dikurangi oleh faktor konstanta dielektrik. (Sebenarnya tidak demikian, melainkan
diperlukan dielektrik untuk mengisi semua ruang, di daerah di mana medan listrik adalah nol,
keberadaan dielektrik tidak begitu terpengaruh, karena tidak ada polarization dalam setiap
peristiwa.
Misalnya, jika muatan gratis q disematkan dalam dielektrik besar, maka medan listrik
yang dihasilkannya:

(21)
(itu merupakan ∈, tidak ∈o) dan gaya yang diberikannya pada muatan di dekatnya berkurang
dengan sendirinya. Tapi itu tidak ada yang salah dengan hukum Coulomb; sebaliknya,
polarisasi medium sebagian "melindungi" muatan, dengan mengelilinginya pada muatan
terikat dari tanda yang berlawanan

14
(Gambar 9)
Contoh
Kapasitor pararel (Gambar 9) diisi dengan bahan insulasi dari konstanta dielektrik ∈r. Apa
pengaruhnya terhadap kapasitansi ini?
Solusi: Karena bidang terbatas pada ruang di antara lempeng, dielektrik akan berkurang E,
dan karenanya juga beda potensial V, dengan faktor l / ∈r. Dengan demikian, kapasitansi C =
Q / V dinaikkan oleh faktor konstanta dielektrik,

(22)
Ini, pada kenyataannya, cara umum untuk memperkuat sebuah kapasitor.

Gambar 10
Kristal umumnya lebih mudah untuk terpolarisasi di beberapa arah daripada yang lain, dan
dalam hal ini Persamaan. 4.30 diganti dengan relasi linear umum

(23)

15
b. Masalah Nilai Batas dengan Dielektrik Linier
Dalam suatu dielektrik linear homogen, densitas muatan terikat (b) sebanding dengan
densitas muatan bebas (f):

(24)
Dalam keadaan khusus, kecuali muatan bebassebenarnya tertanam dalam bahan,  = 0, dan
apa saja muatan yang harus berada di permukaan. Dengan demikian, dielektrik, berpotensi
mengikuti Persamaan Laplace. Namun, untuk menulis ulang kondisi batas yakni dengan cara
membuat referensi hanya untuk muatan bebas. Persamaan 4.26 mengatakan

(25)

(26)
Sedangkan potensi itu sendiri, tentu saja, berkelanjutan:
Vabove =Vbelow (27)
Contoh 4.7
Suatu bidang bahan dielektrik linear homogen ditempatkan dalam medan listrik yang
seragamEo (Gambar 11). Temukan medan listrik di dalam bola.

Gambar 4.11
Solusi:
Hal ini mengingatkan pada contoh 3.8, di mana bola berkonduksi yang tidak bermuatan
adalah diperkenalkan ke dalammedan yang seragam. Dalam hal ini, bidang muatan yang
diinduksi sepenuhnya dibatalkan Eo dalam bola, dalam dielektrik, pembatalan (dari muatan
terikat) ini hanya sebagian.

16
Masalah kami dapat diselesaikan denganpersamaan Laplace, untuk Vin (r, ) ketika r  R, dan
Vout (r , ) saat r  R, tunduk pada kondisi batas

(28)
(Persamaan kedua mengikuti Persamaan 4.41, karena tidak ada muatan bebas di permukaan).
Di dalam bola, potensial listrik dinyatakan :

(29)
Sementara potensial untuk di luar bola dinyatakan:

(30)
Kondisi batas (i) membutuhkan

(31)
Sementara kondisi (ii)

(32)

17
Sementara

(33)
dan karenanya bidang di dalam bola itu seragam, maka:

(34)

c. Energi dalam Sistem Dielektrik


Jika sebuah kapasitor dengan kapasitansi C, dimuati dengan beda potensial V, maka energi
total yang tersimpan di dalam kapasitor besarnya sama dengan kerja untuk memuati kapasitor
tersebut yaitu :
W = ½ CV2
Jika dalam kapasitor diisi dengan bahan dielektrik linear dengan konstanta dielektrik C, lalu
kapasitansi akan meningkat dengan faktor :
C = ∈rCvac
Sebagai konsekuensinya, energi dalam kapasitor juga akan meningkat dengan faktor C.
Sehingga
W = ½ CV2= ½ ∈rCvac V2
Pada Chapter 2, energi yang tersimpan pada sistem electrostatic adalah:

(35)
Sehingga pada kasus kapasitor yang diisi dielektrik energi yang tersimpan diubah menjadi

Maka

(36)

Karena , dimana D merupakan hasil muatan D. Jadi

18
Sehingga didapatkan :

Teorema divergensi mengubah kondisi awal menjadi integral permukaan, yang menghilang
jika kita mengintegrasikan seluruh ruang. Oleh karena itu, energi yang dilakukan sama
dengan

(37)
Terlebih lanjut, ini dapat diterapkan ke berbagai bahan. Jika mediumnya adalah dielektrik
linier, maka D = ∈E. Sehingga

Energi total merupakan energi yang dibangun dari muatan bebas hingga konfigurasi akhir

(38)

d. Gaya pada Dielektrik


Seperti halnya konduktor yang tertarik ke medan listrik, demikian pula dielektrik karena pada
dasarnya sama, muatan terikat cenderung menumpuk di dekat muatan bebas dari tanda yang
berlawanan. Tetapi perhitungan gaya pada dielektrik bisa sangat rumit.

19
Sebagai pertimbangkan, misalnya, kasus lempengan bahan dielektrik linear, sebagian
disisipkan di antara pelat kapasitor paralel-pelat. Jika medan seragam padaplat kapasitor
paralel, dan medan untuk bagian luar adalah nol. Maka tidak akan ada gaya total pada
dielektrik sama sekali, karena medan di mana-mana akantegak lurus dengan plat. Namun,
dalam kenyataannya ada medan fringing di sekitar tepinya, yang digunakan untuk sebagian
besar dapat diabaikan tetapi bertanggung jawab untuk keseluruhan efek. (Sesungguhnya,
medan tidak dapat berhenti tiba-tiba di tepi kapasitor, karena jika itu terjadi garis integral dari
E sekitar loop tertutup ditunjukkan pada Gambar. 4.31 tidak akan nol.) Dengan demikian
bidang fringing tidak seragam dapat menarik dielektrik ke dalam kapasitor.
Medan fringing sangat sulit untuk dihitung. Jika saya menarik dielektrik keluar sejauh
dx yang mana memiliki jarak yang sangat kecil, maka energi dapat diubah dengan jumlah
yang sama dengan usaha yang dilakukan:
dW = Fme dx (39)

20
di mana Fme adalah gaya yang harus digunakan, untuk melawan gaya listrik F pada
dielektrik:Fme = - F. Dengan demikian gaya listrik pada pelat itu

(40)
Adapun energi yang tersimpan dalam kapasitor adalah

(41)
Dan kapasitansi pada kasus ini bernilai

(42)
Dengan l adalah panjang plat. Adapun muatan total pada plat diasumsikan Q = CV yang
diatur konstan sebagai perpindahan dielektrik.

Tanda minus menunjukkan bahwa gaya berada pada arah x negatif; dan dielektrik ditarik ke
dalam kapasitor.
Pada baterai juga terjadi usaha sebagai perpindahan dielektrik.

21
5.5.4 Dielektrik Isotropik Linier
Diasumsikan bahwa pada suatu titik yang diberikan memiliki kelistrikan dari dielektris tidak
tergantung arah 𝐸⃗ . Kemudian keadaan tersebut diketahui sebagai isotropi. Sejak itu satu arah adalah
kelengkapan ekuivalensi terhadap yang lain, harus parallel terhadap 𝐸⃗ , 𝜒𝑖𝑗 = 0, jika 𝑖 ≠ 0,dan 𝜒𝑥𝑥 =
𝜒𝑦𝑦 = 𝜒𝑧𝑧, , sehingga dapat ditulis sebagai berikut :

𝑃⃗ = 𝜒𝑒 𝜀0 𝐸⃗
Dimana 𝜒𝑒 , adalah suseptibilitas listrik.
Bila persamaan dikombinasikan dapat diperoleh
⃗ = 𝜀0 𝐸⃗ + 𝑃⃗ = 𝜀0 𝐸⃗ + 𝜒𝑒 𝜀0 𝐸⃗ = (1 + 𝜒𝑒 )𝜀0 𝐸⃗ = 𝐾𝑒 𝜀0 𝐸⃗
𝐷
⃗ = 𝜀𝐸⃗
𝐷
dengan: 𝐾𝑒 =1 + 𝜒𝑒 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑒𝑙𝑒𝑘𝑡𝑟𝑖𝑘 = 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑖𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓
𝜀 = 𝐾𝑒 𝜀0
Besarnya 𝜒𝑒, 𝐾𝑒 , 𝜀 dan menunjukan karakteristik sifat kelistrikan dari bahan yang
ditentukan dengan eksperimen, dan nilai-nilai tersebut dapat dicari dalam beberapa table.
Untuk semua bahan, dengan 𝜒𝑒 , positif untuk medan statis, maka:
𝐾𝑒 > 1
⃗ dan 𝐸⃗ diketahui bahwa parallel dalam keadaan itu.Persamaan
Dari persamaan dapat 𝐷
⃗ disebut sebagai persamaan konstitutif, yang bukan merupakan persamaan fundamental
𝐷
dari elektromagnet.

22
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1) Dielektrik adalah suatu bahan yang memiliki daya hantar arus yang sangat kecil atau bahkan
hampir tidak ada. Dilektrik tidak memiliki pembawa muatan bebas, namun dielektrik
memiliki inti yang positif dan elektron yang bermuatan negatif.
2) Peristiwa polarisasi adalah tempat kedudukan (rata-rata) dari elektron akan bergeser
mendekati elektroda positif, sedang inti atom sendiri, yang mengandung proton, akan
bergeser mendekati elektroda negatif.
3) Polarisasi dapat digolongkan menjadi 4 bagian yaitu :
a) Polarisasi Elektronik
b) Polarisasi Ionik
c) Polarisasi Muatan Ruang
d) Polarisasi Orientasi
4) Hukum Gauss menyatakan bahwa fluks listrik yang melewati suatu permukaan tertutup
sembarang sebanding dengan muatan total yang dilingkupi permukaan tersebut. Dalam
menerapkan Hukum Gauss pada suatu daerah yang mengandung muatan-muatan yang
diletakkan didalam bahan dielektrik, kita harus memperhitungkan seluruh muatan didalam
permukaan Gauss (polarisasi muatan).
5) Klasifikasi Dielektrik dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
a) Polarisasi Permanen
b) Dielektrik Non Linier
c) Dielektrik Linier
d) Dielektrik Isotropik Linier

3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka kami ingin kritik dan saran yang bersifat
membangun.

23
DAFTAR PUSTAKA

David J, Griffiths, 1981, Introduction to Electrodynamics, New Delhi.

Mustari Lama, Bahan Magnet Dielektrik dan Optik, Jakarta : PPBA-UMB

Nurdin Bukit, Eva. 2015. Elektrodinamika, Unimed Press.

R Kacaribu, 2011, Dielektrik, repository.usu.ac.id/bitstream/123456789


/23931/3/Chapter%20II.pdf, diakses pada 8 maret 2014 jan 7 :55.

24

Anda mungkin juga menyukai