Anda di halaman 1dari 2

TUGAS KEPERAWATAN ANAK

KASUS II (EPISTAKSIS)

Dalam penanganan perdarahan, posisi kepala harus tegak, dengan sedikit condong ke
depan untuk mencegah darah memasuki nasofaring dan faring yang akan menyebabkan batuk
dan muntah, yang bila terjadi akan menyebabkan kepanikan yang berlebih dan sering
mengaburkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Kesalahan paling umum adalah anak terlentang
atau kepala ditengadahkan. Posisi ini hanya akan membuat darah tidak tampak keluar, tetapi
perdarahan tetap terjadi.

Pembekuan darah akan terjadi jika pasien dengan posisi yang tepat dan penerapan
tekanan yang tepat. Jika pembekuan darah tidak terjadi dengan sempurna, maka dapat dilakukan
pemasangan tampon anterior.

Dokter harus mengetahui letak perdarahan. Jika pendarahan telah berhenti, untuk
melakukan identifikasi sumber perdarahan dapat menggunakan aplikator kapas yang diusap
dengan lembut pada area septum anterior. Membran mukosa yang normal, ketika dengan diusap
lembut dengan aplikator kapas seperti itu, tidak akan berdarah tetapi jika yang diusap adalah
pembuluh darah, maka akan rusak dan berdarah kembali, dan sumber perdarahan pun
teridentifikasi.

Setelah letak perdarahan tampak, tampon kapas dengan anestesi topikal ditempel di atas
sumber perdarahan itu, hal ini berguna agar bayi tidak rewel dan memudahkan perawatan hidung
lanjutan. Setelah area insensitif, pembuluh darah atau area dapat dengan ringan disentuh dengan
kapas yang telah dicelup ke dalam asam kromat atau perak nitrat ataupun jika alat tersedia dapat
menggunakan elektrokauter. Dikarenakan elektrokauter mengeluarkan suara dan penampilan alat
yang menakutkan bagi pasien anak, kauter kimia biasanya lebih dipilih. Setelah kauterisasi,
tampon kapas yang dicelup dengan petrolatum jelly dimasukan ke dalam lubang hidung untuk
menghambat pengeringan daerah yang dirawat dan untuk menjaga pasien dari menyentuhnya
dengan jari. Setelah itu, jelly pelumas seperti petrolatum jelly dapat diterapkan sekali atau dua
kali sehari selama seminggu.
Tampon hidung jarang diperlukan pada anak-anak; tetapi dalam kasus perdarahan dari kelaianan
sistemik, seperti pada leukemia atau kondisi lain di mana ada gangguan koagulasi, pemasangan
tampon anterior dan kadang-kadang tampon posterior, sangat penting untuk dipasang.

Antibiotik profilaksis harus diberikan kepada setiap anak yang membutuhkan tampon hidung
selama lebih dari 48 jam.

Setelah perdarahan dapat diatasi, selanjutnya anak diistirahatkan, untuk dilakukan observasi
apakah terapi telah memadai.