Anda di halaman 1dari 10

A.

Jurnal yang diambil


- Jurnal: Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an Program Studi Pendidikan
Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta
- Peneliti: Annisa Fitriani, Intan Hanifah, Yunita dwi, Ratna Indrawati
- Judul: Potensi Teh Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus)
Sebagai Terapi Komplementer Untuk Menurunkan Infeksi Opurtunistik
Pada Penderita HIVAIDS

Cara Pembuatan Teh Kulit Buah Naga

Teh herbal merupakan istilah umum yang digunakan untuk minuman


yang bukan berasal dari tanaman teh, Camellia sinensis. Teh herbal lebih
aman dikonsumsi karena tidak mengandung alkaloid yang dapat
mengganggu kesehatan seperti kafein. Teh herbal dibuat dari bebungaan,
bebijian, dedaunan, atau akar dari beragam tanaman. Teh herbal dikonsumsi
layaknya minuman teh, diseduh dan disajikan seperti teh biasa (Liliana,
2015).

Kulit buah naga merah yang akan dijadikan teh harus melalui proses
pengeringan. Pengeringan merupakan salah satu cara untuk memperpanjang
masa simpan akibat pengurangan kadar air. Pengeringan dapat dilakukan
dengan bantuan sinar matahari dan alat pengering. Pengeringan
menggunaan sinar matahari lebih memerlukan waktu yang lama dan suhu
tidak dapat diatur, sedangkan pengeringan menggunakan alat pengering
lama waktu pengeringan dapat dipersingkat dan suhu dapat diatur (Winarno,
1980). Suhu pengeringan herbal yang baik adalah berkisar antara 300C-900C
tetapi suhu terbaik untuk pengeringan sebaiknya tidak melebihi 600C
(Departemen Kesehatan RI, 2011).

Pengeringan dapat mempengaruhi warna air seduhan dari kulit buah


naga merah. Dari hasil percobaan pendahuluan yang telah dilakukan,
semakin tinggi suhu pengeringan yang digunakan maka semakin pudar
warnayang dihasilkan dari air seduhan. Aroma dari air seduhan juga akan
mengalami perubahan, semakin tinggi suhu pengeringan maka aroma yang

6
2

dihasilkan sedikit agak tengik.Sedangkan rasa yang dihasilkan dari seduhan


dari pengeringan suhu tinggi menjadi hambar.

Mekanisme Teh Kulit Buah Naga Merah Menjadi Agen Terapi


Oportunistik Bagi Penderita HIV

Teh kulit buah naga merah yang masuk ke dalam tubuh tidak akan
mengalami fase mekanik dan langsung mengarah ke lambung melalui
kerongkongan. Lambung merupakan organ berukuran sekepal tangan dan
terletak di dalam rongga perut sebelah kiri, di bawah sekat rongga badan.
Dinding lambung sifatnya lentur, dapat mengembang apabila berisi makanan
dan mengempis apabila kosong. Muatan di dalam lambung dapat
menampung hingga 1,5 liter makanan. Waktu mencerna berbeda-beda untuk
setiap makanan atau minuman. Makanan yang padat akan membutuhkan
waktu yang lebih lama daripada zat cair (minuman) sehingga menurut ilmu
kesehatan dianjurkan mengunyah makanan 32 kali agar makanan menjadi
lebih lembut, sehingga akan meringankan beban lambung untuk melumatkan
makanan tersebut.

Di sinilah kelebihan pengolahan kulit buah naga merah menjadi teh


dibandingkan dengan sediaan yang lain, karena semakin lumat makanan
yang masuk lambung, maka makin cepat melintasi lambung. Lambung
merupakan tempat berkumpulnya semua makanan yang selanjutnya akan
mengalami serangkaian proses kimiawi oleh getah lambung, sekitar 1 – 2 liter
yang dihasilkan oleh 35 juta kelenjar, antara lain HCl, enzim pepsin, enzim
renin, lipase, mukus (lendir), dan faktor intrinsik.

Demikian pula yang terjadi pada minuman di dalam lambung, tetapi


jenis minuman akan lebih mudah diserap mineralnya tanpa harus diproses
secara kimiawi terlebih dahulu, salah satunya adalah flavonoid yang ada di
dalam teh kulit buah naga merah. Flavonoid adalah senyawa yang memiliki
aktifitas antioksidan yang dapat mempengaruhi beberapa reaksi yang tidak
diinginkan dalam tubuh, misalnya dapat menghambat reaksi oksidasi,
sebagai pereduksi radikal hidroksil dan superoksid serta radikal peroksil.35Di
samping lain, salah satu penyebab infeksi oprtunistik yang paling banyak
adalah karena infeksi jamur. Pada sel jamur, dinding sel memiliki peranan
penting dalam kelangsungan hidup dan patogenisitas jamur. Selain menjadi
3

pelindung dan pemberi bentuk atau morfologi sel, dinding sel jamur
merupakan tempat penting untuk pertukaran dan filtrasi ion serta protein,
sebagaimana metabolisme dan katabolisme nutrisi kompleks.
Mekanisme flavonoid pada kulit buah naga merah sebagai agen terapi
infeksi oportunistik melalui berbagai cara diantaranya, menghambat reaksi
oksidasi, menganggu permeabilitas membran sel jamur, serta memiliki
aktivitas penghambatan pada bakteri gram positif sehingga dapat merusak
fungsi dinding sel dan akan menyebabkan sel menjadi lisis.

B. Aspek Legal Etik


Sebelumnya untuk aspek legal dalam tatalaksana perawatan pasien
dengan ODHA sudah tertulis dalam pasal 4 UU Kesehatan No.36/2009
dinyatakan bahwa setiap orang berhak atas kesehatan. Permasalahan HIV dan
AIDS sangat terkait dengan hak atas kesehatan. Hak atas kesehatan adalah
asset utama keberadaan umat manusia karena terkait dengan kepastian akan
adanya pemenuhan atas hak yang lain, seperti pendidikan dan pekerjaan. Tugas
pemerintah dalam hal ini untuk menyediakan tenaga medis, paramedik dan
tenaga kesehatan lainnya yang cukup dalam memberikan pelayanan kesehatan
bagi penderita HIV/AIDS dan menjamin ketersediaan segala bentuk upaya
kesehatan sehingga tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan serta jaminan ketersediaan obat dan
alat kesehatan diatur dalam UU Kesehatan dan berlaku juga bagi penderita
HIV/AIDS.
Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien ODHA kita sebagai
tenaga kesehatan juga harus memperhatikan aspek etik yaitu dengan menjaga
kerahasiaan data yang berhubungan dengan pasien, tidak menyakiti pasien,
menjaga hak dan otonomi pasien serta melakukan inform consent untuk setiap
tindakan yang akan kita berikan kepada pasien. Perawat sebagai anggota tim
harus memperlihatkan sikap dan perilaku professional baik ketika merawat
ODHA di klinik, rumah sakit maupun saat kunjungan rumah. Sikap dan perilaku
professional itu meliputi mengikuti protocol atau SOP dalam melakukan tindakan
atau prosedur, selalu aktif berpartisipasi dalam diskusi kasus dengan tim
kesehatan lain serta selalu menjaga kesehatan dan penampilan agar menjadi
role model bagi ODHA dan keluarganya.
Terapi yang sering digunakan adalah pengobatan herbal dan salah
satunya adalah dari buah naga merah. Pengobatan herbal sudah dilakukan di
4

dunia kedokteran Islam sejak lama, bahkan Allah menurunkan ayat yang
menganjurkannya, antara lain dari surat An- Nahl ayat 69 yang mempunyai arti:
“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan
Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perut lebah itu keluar minuman
(madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang
menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”
Dalam pembuatan teh kulit buah naga ini sudah melewati beberapa
proses uji yang dilakukan dalam penelitian Bambang, (2014) tentang
pemanfaatan kulit buah naga sebagai teh berkhasiat di Institut Teknologi Riau
yaitu mulai dari proses pengeringan kulit buah naga. Yaitu Pengeringan
menggunaan sinar matahari lebih memerlukan waktu yang lama dan suhu tidak
dapat diatur, sedangkan pengeringan menggunakan alat pengering lama waktu
pengeringan dapat dipersingkat dan suhu dapat diatur (Winarno, 2011). Suhu
pengeringan herbal yang baik adalah berkisar antara 300C-900C tetapi suhu
terbaik untuk pengeringan sebaiknya tidak melebihi 600C (Departemen
Kesehatan RI, 2010) hingga uji aktivitas antioksidan dengan metode Blois dan uji
afeksi bertujuan untuk mengetahui perbedaan pada suatu produk yang dapat
dikenali oleh konsumen dan berpengaruh terhadap kesukaan dan
penerimaannya.

C. Manfaat Terapi Komplementer

HIV dan AIDS sering dianggap penyakit yang tidak ada obatnya dan
dikaitkan dengan kematian secara cepat. Padahal, kita bisa hidup sehat dengan
HIV di dalam tubuh untuk waktu yang sangat lama, bahkan melebihi pikiran
yang umum yaitu lima sampai sepuluh tahun. Banyak cara yang bisa ditempuh
agar kekebalan tubuh tidak berkurang dan kita tidak rentan terhadap serangan
penyakit.
Ketika kita baru memulai terapi alternative, barangkali kita sedikit
kebingungan. Ada akupuntur, yoga, jamu-jamuan, pijat, refleksi, meditasi,
vitamin,olahraga pernapasan dan lain-lain. Sebelum memilih tarapi tertentu, ada
baiknya kita perjelas lagi apa yang kita harapkan dari terapi tersebut. Proses
belajar ini bemanfaat untuk dijalani, karena akan memperluas wawasan kita
mengenai HIV dan kesehatan secara keseluruhan.
5

Menurut WHO (World Health Organization). Pengobatan komplementer


adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari Negara yang
bersangkutan. Misalnya jamu yang merupakan produk Indonesia dikategorikan
sebagai pengobatan komplementer di Negara Singapura. Di Indonesi sendiri,
jamu dikategorikan sebagai pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang
dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan
diturunkan secara turun-temurun pada suatu Negara.
Terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem-
sistem tubuh. Terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh
dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit. Karena tubuh kita
sebenarya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri,
asalkan kita mau mendengarkanya dan memberikan respon dengan asupan
nutrisi yang baik lengkap serta perawatan yang tepat. Meski tidak bisa
menyembuhkan, terapi komplementer seperti: terapi informasi, terapi spritul,
terapi nutrisi, dan terapi spritula, bisa memperpanjang hidup pengidap HIV/AIDS
positif dan membuat mereka hidup lebih produktif.
Hampir semua orang yang terinfeksi HIV dan tidak mendapat
pengobatan, akan berkembang menjadi AIDS. Progresivitas infeksi HIV
bergantung pada karakteristik virus dan hospes. Usia kurang dari lima tahun atau
lebih dari 40 tahun, infeksi yang menyertai, dan faktor genetik merupakan faktor
penyebab peningkatan progresivitas. Bersamaan dengan progresifitas dan
penurunan sistem imun tersebut, penderita HIV menjadi lebih rentan terhadap
infeksi. Salah satu jenis kelainan yang hampir secara umum muncul pada
perjalanan penyakit HIV adalah kelainan kulit, yaitu sebagai akibat dari
menurunnya sistem imun atau berhubungan dengan pengobatan antiretrovirus.
Penurunan fungsi sel langerhans yang terinfeksi HIV menjadi penyebab kelainan
pada kulit.
Infeksi opurtunistik menjadi lebih sering terjadi pada penyakit HIV stadium
lanjut yang tidak diobati, dengan meliputi berbagai penyebab diantaranya adalah
bakteri, virus, dan jamur. Maka dari itu, untuk mengatasi berbagai kelainan akibat
HIV tersebut, digunakan pengobatan antiretroviral (ARV) yang telah terbukti
secara bermakna menurunkan angka kematian dan kesakitan orang dengan
HIV/AIDS (ODHA).9 Namun demikian, efek samping obat antiretroviral
merupakan kejadian yang cukup sering terjadi pada pasien HIV dan umumnya
6

terjadi dalam tiga bulan pertama setelah inisiasi ARV, walaupun efek samping
jangka panjang juga kerap didapati sesudahnya.
Banyaknya komplikasi yang terjadi terkait penyakit satu ini janganlah
membuat kita sebagai umat muslim berpatah semangat dalam upaya
meningkatkan kualitas hidup para penderita HIV. Hal lain yang seyogyanya
diketahui oleh seorang muslim adalah tidaklah Allah menciptakan suatu penyakit
kecuali Dia juga menciptakan penawarnya. Oleh karena itu dibutuhkan peran kita
sebagai tenaga kesehatan untuk memberikan terapi komplementer lain sebagai
ikhtiar untuk dapat meningkatkan kualitas hidup penderita HIV ini. Terapi yang
sering digunakan adalah pengobatan herbal dan salah satunya adalah dari buah
naga merah.
Berdasarkan penelitian Nurmahani, International Food Research Journal
19(1): 77-84 (2012), aktivitas antibacterial dari ethanol, chloroform dan hexane
extracts dari kulit Hylocereus polyrhizus (red flesh pitaya) dan Hylocereus
undatus (white flesh pitaya) dapat melawan sembilan pathogens yang dievaluasi
melalui disc diffusion method dan broth microdilution method. Aktivitas
antibacterial dari kulit buah naga yang mempunyai spectrum luas yang dapat
menghambat pathogenesis bakteri gram positif dan gram negatif diharapkan
dapat menjadi terapi komplementer pendamping ARV dalam mencegah
terjadinya infeksi oportunistik pada penderita HIV AIDS.
Buah naga merah adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga
Hylocereus dan Selenicereus yang memiliki komponen aktif yang dapat mengikat
radikal bebas dan dikatakan sebagai sumber antioksidan. Kandungan
antioksidan yang tinggi tidak hanya terdapat pada buah naga, namun juga
terdapat pada kulit buah naga. Dalam 1mg/ml kulit buah naga dapat
menghambat sebanyak 83.48 ± 1.02% radikal bebas, sedangkan untuk 1 mg/ml
daging buah naga hanya dapat menghambat radikal bebas sebesar 27,45 ±
5,03%. Dengan kata lain kulit buah naga memiliki potensi sebagai antioksidan
yang lebih tinggi daripada dagingnya. Selain itu, dalam kulit buah naga juga
ditemukan adanya senyawan flavonoid yang dapat menghambat infeksi jamur,
bakteri, maupun virus. Oleh karena itu, penulis mengusulkan teh dari kulit buah
naga merah sebgai terapi komplemetenter untuk menurunkan infeksi oportunistik
pada penderita HIV AIDS.
Berdasarkan sumber di atas, dapat diketahui bahwa pemanfaatan kulit
buah naga menjadi teh dapat lebih diterima penderita, dikarenakan sediaan
7

olahannya lebih mudah dikonsumsi dan juga dengan efek samping minimal
karena menggunakan bahan herbal.
Teh kulit buah naga merah yang masuk ke dalam tubuh tidak akan
mengalami fase mekanik dan langsung mengarah ke lambung melalui
kerongkongan. Lambung merupakan organ berukuran sekepal tangan dan
terletak di dalam rongga perut sebelah kiri, di bawah sekat rongga badan.
Dinding lambung sifatnya lentur, dapat mengembang apabila berisi makanan dan
mengempis apabila kosong. Muatan di dalam lambung dapat menampung
hingga 1,5 liter makanan.33 Waktu mencerna berbeda-beda untuk setiap
makanan atau minuman. Makanan yang padat akan membutuhkan waktu yang
lebih lama daripada zat cair (minuman) sehingga menurut ilmu kesehatan
dianjurkan mengunyah makanan 32 kali agar makanan menjadi lebih lembut,
sehingga akan meringankan beban lambung untuk melumatkan makanan
tersebut.34 Di sinilah kelebihan pengolahan kulit buah naga merah menjadi teh
dibandingkan dengan sediaan yang lain, karena semakin lumat makanan yang
masuk lambung, maka makin cepat melintasi lambung.

D. Efek Samping
Dalam karya ilmiah Plant Betalains: Safety, Antioxidant Activity,
Clinical Efficacy, and Bioavailability oleh Mohammad Imtiyaj Khan,
diterangkan bahwa konsumsi betalain manusia karena penelitian yang masih
kurang dibatasi 100 mg perhari dan karena kurangnya penyerapan oleh
tubuh karena tingkat kelarutannya dalam air.
1 Buah naga merah dengan berat 260 g memiliki berat kulit sebanyak
20 % atau 52 g. Dalam 100 gram berat kering kulit buah naga terdapat 150
mg betasianin, artinya anda hanya boleh mengonsumsi 66 gram kulit buah
naga kering dalam satu hari. Ada tidak efek samping kulit buah naga? Bagi
manusia normal, efek samping yang dapat muncul dalam konsumsi normal
kulit buah naga contohnya dalam bentuk teh adalah kencing kencing. Tapi itu
wajar, karena proses detoksifikasi salah satu bentuknya adalah kencing.

E. Peluang jika diterapkan di Indonesia


Penyakit Menular Seksual (PMS) di Indonesia terus meningkat dari waktu
ke waktu. Beberapa Penyakit Menular Seksual (PMS) yang paling banyak terjadi
yaitu gonorrhoea, chlamydial infection, syphilis, trichomoniasis, chancroid, genital
herpes, genital warts, infeksi hepatitis B, dan infeksi human immunodeficiency
8

virus (HIV). Apabila dilihat dari jumlah kasus AIDS yang dilaporkan setiap
tahunnya, secara keseluruhan terdapat 34.0 milyar (31.4- 35.9 milyar) orang
hidup dengan HIV pada akhir 2011. Diestimasikan 0.8% orang di dunia usia 15-
49 tahun hidup dengan HIV dengan insidensi tertinggi di Sub- Saharan Afrika.2
Berdasarkan statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia tahun 2013 oleh Ditjen PP &
PL Kemenkes RI, angka kasus HIV mencapai 118.792 dengan peringkat
pertama provinsi Papua.
Kelainan kulit yang terjadi pada pasien HIV/AIDS yang sering menyertai
adalah infeksi oportunistik. Infeksi opurtunistik menjadi lebih sering terjadi pada
penyakit HIV stadium lanjut yang tidak diobati, dengan meliputi berbagai
penyebab diantaranya adalah bakteri, virus, dan jamur. Untuk mengatasi
berbagai kelainan akibat HIV tersebut, digunakan pengobatan antiretroviral
(ARV) yang telah terbukti secara bermakna menurunkan angka kematian dan
kesakitan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Namun demikian, efek samping obat
antiretroviral merupakan kejadian yang cukup sering terjadi pada pasien HIV dan
umumnya terjadi dalam tiga bulan pertama setelah inisiasi ARV, walaupun efek
samping jangka panjang juga kerap didapati sesudahnya.
Antiretroviral lini pertama yang digunakan di Indonesia adalah kombinasi
AZT/d4T dengan 3TC dan NVP/EFV. Buah naga merah adalah buah dari
beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus yang memiliki
komponen aktif yang dapat mengikat radikal bebas dan dikatakan sebagai
sumber antioksidan. Kandungan antioksidan yang tinggi tidak hanya terdapat
pada buah naga, namun juga terdapat pada kulit buah naga. Dalam 1mg/ml kulit
buah naga dapat menghambat sebanyak 83.48 ± 1.02% radikal bebas,
sedangkan untuk 1 mg/ml daging buah naga hanya dapat menghambat radikal
bebas sebesar 27,45 ± 5,03%. Dengan kata lain kulit buah naga memiliki potensi
sebagai antioksidan yang lebih tinggi daripada dagingnya. Selain itu, dalam kulit
buah naga juga ditemukan adanya senyawan flavonoid yang dapat menghambat
infeksi jamur, bakteri, maupun virus. Oleh karena itu, penulis mengusulkan teh
dari kulit buah naga merah sebgai terapi komplemetenter untuk menurunkan
infeksi oportunistik pada penderita HIV AIDS.
Di Indonesia sendiri buah ini banyak digemari karena cita rasanya yang
segar. Namun ketika anda memakan buah ini jangan buru-buru membuang
kulitnya. Karena manfaat yang terkandung di dalam kulit buah naga juga sangat
banyak. Anda dapat memanfaatkan kulit buah ini sebagai penangkal beberapa
9

penyakit. Selain itu juga berkhasiat untuk menjaga kecantikan. Buah naga
memiliki rasa yang enak dan sehat untuk dikonsumsi, selain itu buah naga juga
memiliki khasiat seperti menguatkan fungsi ginjal, tulang dan kecerdasan otak,
meningkatkan ketajaman mata,mencegah kanker usus, menguraikan kolesterol
dan sebagai antioksidan (Departemen Pertanian,2009).
Menurut Zainoldin dan Baba (2012), buah naga merah (Hylocereus
polyrhizus) memiliki kandungan lycopene yang merupakan antioksidan alami dan
dikenal untuk melawan kanker, penyakit jantung, dan merendahkan tekanan
darah. Sani dkk. (2009) menyatakan bahwa buah naga dapat menurunkan kadar
kolesterol, menyeimbangkan kadar gula darah, mencegah kanker usus,
menguatkan daya kerja otot, meningkatkan ketajaman mata, dan menghaluskan
kulit.
Manfaat kulit buah naga untuk kesehatan sangatlah banyak yaitu:
1. Melenturkan pembuluh darah
Zat triyepene, pentacyclic, dan juga taraxast yang terkandung di dalam
kulit buah naga dipercaya bisa membantu untuk melenturkan pembuluh
darah, sehingga darah yang mengalir ke seluruh tubuh menjadi lancar.
Pembuluh darah juga tak mudah pecah meskipun mendapat tekanan kuat
dari pompa jantung.
2. Mengobati tumor
Tumor merupakan penyakit yang bisa mematikan jika tidak segera
ditangani. Pertumbuhan sel abnormal di dalam tubuh yang dapat menjadi
tumor ini dapat ditangkal oleh senyawa yang mempunyai peran aktif dari kulit
buah naga.
3. Mencegah kanker
Selain tumor, kanker juga merupakan penyakit yang mematikan. OLeh
karena itu, sebelum terjadi penyakit serius yang menyerang jaringan ini,
seharusnya cepat-cepat dilakukan pencegahan. Kulit buah naga ini dapat
anda jadikan alternatif untuk mencegah penyakit kanker.
4. Mengobati diabetes
Kulit buah naga ini banyak mengandung zat-zat alami yang dapat anda
manfaatkan untuk mengobati penyakit diabetes yang berbahaya bagi
kesehatan.
5. Mengatasi penyempitan pembuluh darah
10

Penyempitan pembuluh darah adalah salah satu penyebab dapat


menimbulkan masalah serius bagi kesehatan anda. Penyempitan pembuluh
darah ini bisa memicu timbulnya tekanan darah tinggi atau bahkan serangan
jantung jika tidak segera diatasi. Untuk menghindari penyempitan darah
tersebut, anda dapat memanfaatkan kulit buah naga sebagai obat herbal.