Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA

PERKAWINAN MONOHIBRID PADA Drosophila melanogaster

Disusun Oleh:

Siti Anindya Putri (170210103095)

Kelas C/ Kelompok 4

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

2018
I. JUDUL
Perkawinan Monohibrid Pada Drosophila melanogaster
II. TUJUAN
1. Mengetahui cara mengembangbiakan Drosophila melanogaster
2. Latihan membuat persilangan monohibrid
3. Menghitung ratio fenotip keturunan F1 dan F2
III. TINJAUAN PUSTAKA
Persilangan monohibrida adalah dasar untuk ilmu genetika Mendel.
Informasi terkait yang berhubungan dengan pemisahan genetik seperti
yang muncul dalam kombinasi monohibrida. Persilangan semacam itu
dapat terjadi dalam semua kelompok organisme utama yang
bereproduksi secara seksual. Dari kenyataannya bahwa ciri-ciri induk
muncul kembali pada turunan (Firdauzi, 2014).
Mendel menyimpulkan bahwa kedua faktor untuk kedua ciri tidak
bergabung (tidak bercampur) dalam cara apapun kedua faktor itu akan
tetap berdiri sendiri selama hidup individu dan memisah pada masa
pembentukan gamet-gamet. Dalam hubungan ini separuh gamet
membawahi satu faktor, sedangkan separuhnya yang lain membawahi
faktor lainnya. Kesimpulan inilah yang dikenal dengan hukum
pemisahan Mendel (segregasi) (Firdauzi, 2014).
Persilangan monohibrid merupakan persilangan dengan satu sifat
beda sedangkan persilangan dihibrid merupakan persilangan dengan
dua sifat beda. Persilangan dihibrid ini lebih rumit dibandingkan
dengan persilangan monohibrid karena pada persilangan dihibrid
melibatkan dua lokus. Konsep penting dalam genetika populasi yang
melibatkan dua lokus adalah adanya keterkaitan antar keduanya
(Wijayanto et al., 2013).
Drosophila melanogaster adalah satu organisme model yang sering
digunakan dalam mempelajari berbagai konsep biologi. Organisme ini
telah digunakan sebagai organisme model selama berabad-abad untuk
mempelajari berbagai aspek dalam proses biologi, termasuk genetika
dan pewarisan sifat, perkembangan embrio, perilaku, dan penuaan.
Drosophila melanogaster sebagai organisme model dalam
penelitiannya karena beberapa keuntungan teknis, semisal tidak
membutuhkan biaya yang cukup besar dalam membudidayakannya
serta memiliki siklus hidup yang sangat pendek (Fauzi et al., 2016).
Persilangan monohibrid Persilangan strain N x e (P1) digunakan
untuk mendemonstrasikan keberadaan hukum Mendel I. Anakan dari
persilangan tersebut (F1) digunakan sebagai P2. Anakan dari P2 (F2)
dicatat untuk dianalisis lebih lanjut (Fauzi et al., 2016).
Hasil persilangan monohibrid atau keturunan pertama dari kedua
gamet adalah F1 dan generasi kedua yang merupakan persilangan dari
F1 disilangkan dengan F1 disebut F2. Ketika hanya satu karakter dan
dua sifat berada di bawah pertimbangan itu disebut monohibrid
(Arumingtyas, 2016).
Salah satu contoh percobaan Mendel dalam tautan antara gen-gen
memengaruhi pewarisan dua karakter yang berbeda pada Drosophila
melanogaster yaitu pada tipe Wild dengan ciri-ciri badan berwarna
abu-abu dan sayap berukuran normal, alel-alel mutan resesif terhadap
alel tipe wild, dan kedua gen tidak terletak pada kromosom seks
(Campbell et al, 2008).
Untuk mengetahui keakuratan suatu data dan hasil pengamatan
pada suatu penelitian pada persilangan misalnya apakah memenuhi
rasio fenotipe pada literature ataupun buku atau menyimpang dari rasio
tersebut perlu dilakukan suatu pengujian secara statistika. Uji yang
lazim digunakan adalah uji X² (Chi-square test) atau ada yang
menamakannya uji kecocokan (goodness of fit) (Arumingtyas, 2016).
IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Alat dan Bahan
4.1.1 Alat
1. Kuas kecil
2. Selang besar dan selang kecil
3. Kertas pupasi
4. Botol selai
4.1.2 Bahan
1. Pisang
2. Tape
3. Pernipan
4. Gula merah
5. Sumbat busa
6. Kasa
7. Lalat buah berbagai umur
4.2 Cara Kerja (Skematis)
4.2.1 Cara pembuatan medium

Mencampurkan semua bahan yang disiapkan dengan menaambah air


lalu memblender sampai benar-benar halus

Memasak hingga mendidih dan sedikit kental

Memasukkan medium dalam botol kultur, setelah medium dalam


keadaan hangat

Menunggu hingga dingin dan memasukkan kertas pupasi

Menutup dengan sumbat spons

4.2.2 Cara inokulasi

Menyiapkan selang kecil yang ujungnya sudah ditutup dengan kasa


Memasukkan ke dalam selang besar

Menggabungkan selang tadi kemuadian memasukkan dalam botol yang


didalamnya sudah ada lalat buah

Menyedot lalat dengan menggunakan selang tadi hingga lalat masuk ke


dalam selang besar

Menutup ujung selang besar dan memindahkan lalat ke botol kultur

4.2.3 Membuat Persilangan

Mengeluarkan lalat dewasa (imago) dari botol kultur setelah


mengambil lalat pada selang. Lalu mengeluarkan dan mencatat
tanggalnya

Mengeluarkan semua lalat yang baru menetas dari pupan setelah 8 jam,
lalu memilih betinanya.

4.2.4 Persilangan

Mengambil 2 botol kultur lalat bertipe normal (liar), tipe curly (sayap
walik) melengkung ke atas

Memasukkan 5 ekor lalat betina tipe normal dan 5 ekor lalat jantan tipe
curly pada botol yang telah berisi medium dan kertas pupasi
Menutup botol kultur dengan spons

Memberi keterangan tentang macam persilangan dan tanggal


persilangan

Menyimpan botol kultur pada tempat yang telah ditentukan

Memindahkan semua parental pada hari ke-7. Mencatat kapan lalat


pertama kali muncul

Membius lalat dan menghitung jumlah lalat jantan yang muncul pada
hari ke-10. Membedakan jenis kelamin lalat dan menghitung
jumlahnya

Membuat daftar data

Membuat persilangan antara lalat-lalat F1

Mengambil 5 ekor lalat jantan dan lalat betina setelah membius

Memasukkan pada botol kultur yang telah berisi medium yang baru
dan telah berisi kertas pupasi
Menyimpan di tempat yang telah ditemukan. Mencatat jenis
persilangan, tanggal persilangan dan nama praktikan serta menulis
pada tabel

Memindahkan semua parental pada hari ke-7. Mencatat kapan lalat


pertama kali muncul

Mendapatkan lalat-lalat F2 pada hari ke-10. Membius dan memisahkan


jenis kelamin, menghitung dan mencatat fenotip. Kemudian membuaat
daftar data

V. HASIL PENGAMATAN
Kelompok Jenis Jumlah Fenotip ∑F Keterangan
Kelamin
1 Jantan 2 Normal - Pupa tidak
Betina 2 Ebony menetas

VI. PEMBAHASAN
Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu
yang berasal dari spesies yang sama dengan satu sifat beda.
Persilangan ini sangat berkaitan dengan hukum Mendel 1 atau yang
disebut dengan hukum segregasi. Hukum Mendel 1 berbunyi “Pada
pembentukan gamet, gen-gen yang berpasangan akan dipisahkan
(disegregasikan) ke dalam dua gamet (sel kelamin) yang terbentuk".
Karakteristik dari persilangan monohibrid ialah persilangan yang
memiliki satu sifat beda, sifat yang kuat disebut sifat dominan dan
bersifat menutupi sifat yang resesif, dan sifat yang lemah disebut sifat
resesif dan tidak tampak. Dengan hasil perbandingan yaitu 3:1.
Alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali
ini adalah sebagai berikut, alat-alat yang digunakan antara lain; kuas
kecil, selang besar dan kecil, kertas pupasi dan botol selai. Kuas kecil
berfungsi untuk memisahkan butiran-butiran pernipan agar terpisah
dan mudah dalam pengambilan dan menghitungnya. Selang besar dan
kecil yang dihubungkan berfungsi untuk menyedot lalat buah dan
menjadi alat bantu memasukka lalat buah ke dalam botol selai.
Kertas pupasi berfungsi sebagai tempat melekatnya pupa lalat buah
di dalam botol selai setelah pemberian medium agar mudah diamati
nantinya. Botol selai berfungsi sebagai wadah untuk tempat
pekembangbiakan serta pemeliharaan lalat buah.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini antara
lain; lalat buah berbagai umur, sumbat busa, kasa, pisang, tape,
pernipan dan gula merah. Lalat buah dalam berbagai umur digunakan
sebagai objek percobaaan yang akan diamati. Sumbat busa berfungsi
untuk menyumbat botol selai agar lalat buah tidak keluar dari botol.
Kasa berfungsi sebagai penyumbat antara selang besar dan selang kecil
saat dihubungkan. Pisang (merah) berfungsi sebagai bahan campuran
untuk pembuatan medium bagi lalat buah (untuk makanan).
Tape berfungsi sebagai bahan campuran pula untuk pembuatan
medium bagi lalat buah. Pernipan berfungsi untuk menyediakan ruang
udara pada medium saat di botol selai. Gula merah berfungsi sebagai
bahan campuran pula dalam pembuatan medium bagi lalat buah yang
dimasukkan ke dalam botol selai.
Langkah kerja pada praktikum kali ini, yang pertama yaitu cara
dalam pembuatan medium. Pertama kita mencampurkan semua bahan
yang telah disiapkan dan tambahkan air secukupnya, lalu haluskan
dengan menggunakan blender hingga bahan-bahan yang digunakan
benar-benar halus. Kedua, kita memasaknya dalam panci hingga
mendidih dan sedikit kental sambil terus diaduk. Setelah itu,
memasukkan medium atau adonan yang telah dimasak tadi dalam
botol kultur atau botol selai lalu tunggu dingin lalu menaburi medium
dengan pernipan sebanyak 7 butir tiap botol kultur atau selai.
Kemudian, memasukkan kertas pupasi ke dalam botol kultur atau selai.
Setelah itu, menutupnya dengan sumbat busa.
Langkah selanjutnya adalah cara inokulasi, pertama kita
menyiapkan selang kecil yang ujungnya sudah ditutupi dengan kasa.
Lalu, menghubungkannya dengan selang besar dengan cara
memasukkan selang besar ke selang kecil dengan pembatas kasa
diantara kedua selang tersebut. Setelah itu, memasukkan selang yang
telah dihubungkan tadi ke dalam botol kultur atau selai yang
didalamnya sudah diletakkan beberapa lalat buah. Kemudia, menyedot
lalat buah dengan menggunakan selang yang telah digabungkan tadi
hingga lalat buahnya masuk ke dalam selang besar. Setelah itu,
menutup ujung selang besar dan memindahkan lalat ke botol kultur.
Langkah berikutnya adalah membuat persilangan pada lalat buah.
Langkah pertama dalam membuat persilangan adalah dengan
cara isolasi virgin terlebih dahulu. Setelah tadi kita mengambil lalat
buah menggunakan selang, setelah itu mengeluarkan lalat buah dewasa
(imago) dari botol kultur atau selai, setelah mengeluarkannya dan kita
mencatat tanggalnya. Setelah 8 jam, mengeluarkan semua lalat buah
yang baru menetas, lalu memilih betinanya dengan cara isolasi pupa.
Setelah itu, mengambil 2 botol kultur lalat bertipe normal (liar) dan
tipe curly (sayap walik). Memasukkan 5 ekor lalat betina tipe normal
dan 5 ekor lalat jantan tipe curly pada botol yang telah berisi medium
dan kertas pupasi. Lalu menutup botol kultur atau selai dengan sumbat
busa.
Langkah selanjutnya dalam membuat persilangan adalah
memberi keterangan tentang macam-macam persilangan dan tanggal
persilangan. Kemudian, menyimpan botol kultur atau selai pada tempat
yang telah ditentukan. Setelah itu, memindahkan semua parental
(indukan) pada hari ke-7 dan mencatat kapan lalat buah pertama kali
muncul. Setelah itu, membius lalat buah dan menghitung jumlah lalat
buah jantan yang muncul pada hari ke-10 dan membedakan jenis
kelamin lalat buah dan menghitung jumlahnya serta membuat daftar
data hasil pengamatan. Setelah itu, membuat persilangan antara lalat-
lalat buah F1. Setelah membius lalat, mengambilnya 5 ekor lalat jantan
dan lalat betina. Kemudian, memasukkannya pada botol kultur atau
selai yang telah terisi medium baru dan telah diberi kertas pupasi.
Langkah selanjutnya dalam persilangan adalah menyimpan botol
kultur atau selai di tempat yang telah ditentukan dan mencatat jenis
persilangannya, tanggal persilangan dan nama praktikan serta
menulisnya pada tabel untuk memudahkan dalam pengamatan. Setelah
itu, memindahkan semua parental pada hari ke-7 dan mencatat kapan
lalat pertama kali muncul. Lalu, memindahkan lalat-lalat buah F2 pada
hari ke-10. Kemudian, membius lalat buah dan memisahkan jenis
kelaminnya, menghitung jumlah dan mencatat fenotip serta membuat
daftar data.
Dalam modul petunjuk praktikum genetika (2018), terdapat 12
pertimbangan yang menjadikan alasan digunakannya lalat buah dalam
percobaan kami kali ini. Hal ini dikarenakan lalat buah memiliki
beberapa keunggulan; mudah diperoleh, mudah dipelihara (biasa
dipelihara dalam botol yang berisi medium dengan pisang, tape dan
gula merah), murah biaya perawatannya, tidak butuh banyak tempat
(membutuhkan 1 botol selai yang dapat diisi 300-500 ekor lalat
dewasa), ukuran hewan kasat mata (hanya berukuran 2-5 mm saja),
hewan tidak berbahaya (buas atau liar), memiliki siklus hidup yang
pendek atau cepat, memiliki jenis yang variatif (dalam hal warna mata,
bulu, warna tubuh dan bentuk sayap), kromosom sederhana, memiliki
banyak mutan dan lalat buah jantan tidak pindah silang.
Untuk membuat persilangan antara varietas lalat buah adalah
lalat betina harus perawan. Maka dari itu dilakukan isolasi perawan
yang memiliki tujuan untuk mendapatkan lalat buah betina yang
perawan. Hal ini dikarenakan lalat buah betina yang masih perawan
dapat menampung sperma dalam spermatecha dalam waktu yang
cukup relatif panjang. Karakteristik dari lalat buah tipe normal ialah
memiliki ciri mata yang merah dan jumlahnya majemuk, bentuknya
bulat dan memiliki mata oceli di bagian atas kepalanya dengan ukuran
yang kecil dibanding mata majemuknya. Memiliki warna tubuh kuning
kecoklatan dengan cincin tubuh yang berwarna hitam di bagian
belakang yang tampak jelas. Ukuran tubuhnya sekitar 3-5 mm,
sayapnya cukup panjang dan berwarna transparan.
Sedangkan, mutan lalat buah memiliki karakteristik yang
berbeda dengan lalat buah normal pada umunya. Bentuk mutan yang
didapatkan menyimpang dari lalat tipe normal, antara lain dapat dilihat
dari bentuk sayapnya, warna mata, warna tubuh, bentuk mata dan bulu.
Seperti misalnya pada mutan lalat buah Strain Se (sepia) mengalami
mutasi pada warna matanya yaitu menjadi berwarna coklat, sementara
ciri-ciri yan lain pada mutan seperti badan yang berwarna terang dan
sayap yang panjang dan ciri-ciri tersebut masih sama dengan lalat buah
normal. Lalat buah tipe ebony yang digunakan dalam praktikum kami
kali ini, memiliki ciri-ciri tubuh yang berwarna gelap, hampir
berwarna hitam di bagian badannya namun bukan hitam gelap. Hal
tersebut disebabkan karena adanya mutasi gen yang terletak pada
kromosom ketiga.
Kemungkinan F1 yang dihasilkan jika persilangan monohibrid
ini akan berhasil adalah Pada persilangan monohibrid berlaku Hukum
Mendel I karena pada saat pembentukan gamet kedua (G2), gen di
dalam alel yang sebelumnya berpasangan akan mengalami pemisahan
secara bebas dalam dua sel anak (gamet). Persilangan pada kasus
dominansi penuh akan terjadi apabila sifat gen yang satu lebih kuat
dibandingkan dengan sifat gen yang lainnya. Akibatnya, sifat gen yang
lebih kuat itu dapat menutupi sifat gen yang lemah. Dalam hal ini, gen
yang memiliki sifat yang kuat disebut gen dominan dan gen yang
memiliki sifat yang lemah disebut gen resesif maka dari itu karena
alelnya homozigot maka gametnya hanya satu itu bersifat dominan
pada hasil F1.
Penentuan jenis kelamin ada 2 faktor yang mempengaruhinya,
yaitu faktor lingkungan dan faktor genetik. Faktor lingkungan
mengambil peran dalam keadaan fisiologis sekitar lalat buah hidup.
Apabila kadar hormon tidak seimbang dalam peredaran dan hasilnya
dapat menyebabkan fenotip pada suatu lalat buah mengenai kelamin
bisa berubah. Pada umumnya, faktor genetik yang menentukan jenis
kelamin suatu makhluk hidup, bahan genetik ada di dalam kromosom
dan perbedaan jenis kelamin ada didalam komposisi atau bahan dari
kromosom tersebut.

Cara menentukan jenis kelamin pada makhluk hidup tidak


sama. Pada lalat buah sendiri menentukan jenis kelaminnya
menggunakan tipe XY. Inti sel pada lalat buah memiliki 8 kromosom,
maka dari itu lalat buah dapat sangat mudah diamati serta dihitung
untuk pengamatan. 8 kromosom tersebut dibedakan lagi menjadi; 6
kromosom atau 3 pasang pada lalat betina ataupun jantan sama saja
dalam hal bentuk, maka dari itu disebut kromosom autosom.

Uji Chi square test adalah uji yang digunakan untuk mengetahui
apakah ada penyimpangan yang terjadi pada percobaan yang
dilakukan karena kebetulan (acak) atau karena faktor yang lainnya.
Pada praktikum yang kami lakukan kali ini data yang didapatkan tidak
sesuai dengan literature dan harapan atau pengamatan kami kali ini
gagal. Hal ini terjadi dikarenakan pupa tidak menetas, sehingga tidak
terjadi persilangan monohibrid dan tidak ada F1 yang didapatkan.

VII. PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua
individu yang berasal dari spesies yang sama dengan satu sifat
beda. Persilangan ini sangat berkaitan dengan hukum Mendel 1
atau yang disebut dengan hukum segregasi. Hukum Mendel 1
berbunyi “Pada pembentukan gamet, gen-gen yang berpasangan
akan dipisahkan (disegregasikan) ke dalam dua gamet (sel
kelamin) yang terbentuk". Dengan hasil perbandingan F1 3:1.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami lakukan tidak
ada data yang dapat kami sajikan dikarenakan pengamatan kami
gagal dan tidak sesuai harapan maupun literature yang telah ada
sebab beberapa faktor mungkin dari lalat buahnya, lingkungan, dll.
Uji Chi Square dalam analisis genetikadi hukum Mendel 1
lebih tepatnya dapat digunakan secara efektif untuk membuktikan
kebenaran dari perbandingan hasil percobaan sehingga data dan
hasil yang didapatkan agar datanya semakin valid dan akurat.
7.2 Saran
Praktikan dapat lebih teliti dalam pengamatan yang
dilakukan
DAFTAR PUSTAKA

Aumingtyas, Estri Laras. 2016. Genetika Mendel : Prinsip Dasar Pemahaman


Ilmu Genetika. Malang: Universitas Brawijaya Press.

Campbell, Neil A, dkk. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Fauzi, Ahmad dan Aloysius Duran Corebima. 2016. Pemanfaatan Drosophila


melanogaster Sebagai Organisme Model Dalam Mempelajari Hukum
Pewarisan Mendel. Jurnal Prosiding Seminar Nasional Biologi. Vol. 1
(1): 372-379.

Firdauzi, Nirmala Fitria. 2014. Rasio Perbandingan F1 Dan F2 Pada Persilangan


Strain N x b, Dan Strain N x tx Serta Resiproknya. Jurnal Biology
Science And Education. Vol. 3 (2): 197-204.

Wijayanto, Dwi Agus, Rusli Hidayat, dan Mohammad Hasan. 2013. Penerapan
Model Persamaan Diferensi dalam Penentuan Probabilitas Genotip
Keturunan dengan Dua Sifat Beda. Jurnal Ilmu Dasar. Vol. 14 (2): 79-
84.
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai