Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PRAKTIKUM COMPOUNDING AND DISPENSING

KASUS PASIEN DERMATITIS

DISUSUN OLEH

APOTEKER C-2

1. Sandi Mahesa Yudhantara (1720343861)


2. Singgih Bayu Adji (1720343862)

PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SETIA BUDI

SURAKARTA

2017
BAB I
A. PENDAHULUAN

1. Dermatitis
Dermatitis adalah peradangan non-inflamasi pada kulit yang bersifat akut, sub-akut,
atau kronis dan dipengaruhi banyak faktor. Menurut Djuanda 2006, Dermatitis adalah
peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen
dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik dan keluhan gatal.
Terdapat berbagai macam dermatitis, dua diantaranya adalah dermatitis kontak dan
dermatitis okupasi. Dermatitis kontak adalah kelainan kulit yang bersifat polimorfi sebagai
akibat terjadinya kontak dengan bahan eksogen (Dailli 2005).
2. Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang
menempel pada kulit dan dikenal dua macam dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak
iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergik (DKA), keduanya dapat bersifat akut maupun
kronik. Dermatitis iritan merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik, jadi kerusakan
kulit terjadi langsung tanpa diketahui proses sensitasi. Dermatitis alergik terjadi pada
seseorang yang telah mengalami sensitasi terhadap suatu alergen (Djuanda 2006; Stateschu
2011).
a. Dermatitis Kontak Iritan
 Definisi
Dermatitis kontak iritan (DKI) adalah efek sitotoksik lokal langsung dari bahan
iritan baik fisika maupun kimia yang bersifat tidak spesifik, pada sel-sel epidermis dengan
respon peradangan pada dermis dalam wakttu dan konsentrasi yang cukup (Verayati 2011).
 Etiologi
Penyebab munculnya DKI adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan
pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam alkali, serbuk kayu, bahan abrasif, enzim, minyak,
larutan garam konsentrat, plastik berat molekul rendah atau bahan kimia higroskopik.
Kelainan kulit yang muncul bergantung pada beberapa faktor, meliputi faktor dari iritan itu
sendiri, faktor lingkungan dan faktor individu penderita (Strait 2001; Djuanda 2003).
Iritan adalah substansi yang akan menginduksi dermatitis pada setiap orang jika
terpapar pada kulit dalam konsentrasi yang cukup, pada waktu yang sufisien dengan
frekuensi yang sufisien. Masing-masing individu memiliki predisposisi yang berbeda
terhadap berbagai iritan, tetapi jumlah yang rendah dari iritan menurunkan dan secara
bertahap mencegah kecenderungan untuk menginduksi dermatitis. Fungsi pertahanan dari
kulit akan rusak baik dengan peningkatan hidrasi dari stratum korneum (suhu dan
kelembaban tinggi, bilasan air yang sering dan lama) dan penurunan hidrasi (suhu dan
kelembaban rendah). Efek dari iritan merupakan concentration-dependent, sehingga hanya
mengenai tempat primer kontak (Safeguards 2000).
Pada orang dewasa, DKI sering terjadi akibat paparan terhadap bahan yang bersifat
iritan, misalnya bahan pelarut, detergen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu.
Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi,
vehikulum, serta suhu bahan iritan tersebut, juga dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang
dimaksud yaitu lama kontak, kekerapan (terus-menerus atau berselang), adanya oklusi
menyebabkan kulit lebih permeabel, demikian pula gesekan dan trauma fisis. Suhu dan
kelembaban lingkungan juga berperan (Fregert 1998).
Faktor lingkungan juga berpengaruh pada dermatitis kontak iritan, misalnya
perbedaan ketebalan kulit di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas; usia
(anak dibawah umur 8 tahun lebih muda teriritasi); ras (kulit hitam lebih tahan daripada
kulit putih), jenis kelamin (insidensi dermatitis kontak alergi lebih tinggi pada wanita),
penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan
turun), misalnya dermatitis atopik (Beltrani et al. 2006).
Sistem imun tubuh juga berpengaruh pada terjadinya dermatitis ini. Pada orang-
orang yang immunocompromised, baik yang diakibatkan oleh penyakit yang sedang
diderita, penggunaan obat-obatan, maupun karena kemoterapi, akan lebih mudah untuk
mengalami dermatitis kontak (Hogan 2009).
 Patofisiologi
Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan
melalui kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin,
menyingkirkan lemak lapisan tanduk dan mengubah daya ikat air kulit. Kebanyak bahan
iritan (toksin) merusak membran lemak keratinosit tetapi sebagian dapat menembus
membran sel dan merusak lisosom, mitokondria atau komplemen inti (Streit 2001).
Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat
(AA), diasilgliserida (DAG), faktor aktivasi platelet, dan inositida (IP3). AA dirubah
menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien (LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi, dan
meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingga mempermudah transudasi komplemen dan
kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemotraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil,
serta mengaktifasi sel mast melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF, sehingga
memperkuat perubahan vaskuler (Beltrani et al. 2006; Djuanda 2003).
DAG dan second messenger lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis protein,
misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte macrophage-colony stimulating factor (GM-
CSF). IL-1 mengaktifkan sel T-helper mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2
yang menimbulkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut. Keratinosit juga
mengakibatkan molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel (ICAM-1). Pada kontak
dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNF-α, suatu sitokin proinflamasi yang dapat
mengaktifasi sel T, makrofag dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi sel dan
pelepasan sitokin (Beltrani et al. 2006).
Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat
terjadinya kontak di kulit tergantung pada bahan iritannya. Ada dua jenis bahan iritan,
yaitu: iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada
pajanan pertama pada hampir semua orang dan menimbulkan gejala berupa eritema, edema,
panas, dan nyeri. Sedangkan iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau
mengalami kontak berulang-ulang, dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh
karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawar, sehingga
mempermudah kerusakan sel dibawahnya oleh iritan. Faktor kontribusi, misalnya
kelembaban udara, tekanan, gesekan, dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya
kerusakan tersebut (Djuanda 2003).
Gejala klinis dermatitis iritan dibedakan atas dermatitis kontak iritan akut dan
dermatitis iritan kronik.
 Dermatitis kontak iritan akut. Reaksi ini bisa beraneka ragam dari nekrosis
(korosi) hingga keadaan yang tidak lebih daripada sedikit dehidrasi (kering) dan
kemerahan. Kekuatan reaksi tergantung dari kerentanan individunya dan pada konsentrasi
serta ciri kimiawi kontaktan, adanya oklusi dan lamanya serta frekuensi kontak (Fregret
1998).
Satu kali kontak yang pendek dengan suatu bahan kimiawi kadang-kadang sudah
cukup untuk mencetuskan reaksi iritan. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh zat alkali
atau asam, ataupun oleh detergen. Uap dan debu alkali dapat menimbulkan rekasi iritan
pada wajah. Jika lemah maka reaksinya akan menghilang secara spontan dalam waktu
singkat. Luka bakar kimia merupakan reaksi iritan yang terutama terjadi ketika bekerja
dengan zat-zat kimia yang bersifat iritan dalam konsentrasi yang cukup tinggi (Fregret
1998).
Kontak yang berulang-ulang dengan zat iritan sepanjang hari akan menimbulkan
fissura pada kulit (chapping reaction), yaitu berupa kekeringan dan kemerahan pada kulit,
akan menghilang dalam beberapa hari setelah pengobatan dengan suatu pelembab. Rasa
gatal dapat pula menyertai keadaan ini, tetapi yang lebih sering dikeluhkan pasien adalah
rasa nyeri pada bagian yang mengalami fissura. Meskipun efek kumulatif diperlukan untuk
menimbulkan reaksi iritan, namun hilnganya dapat terjadi spontan kalau penyebabnya
ditiadakan (Fregret 1998).
 Dermatitis kontak iritan kronis. DKI kronis disebabkan oleh kontak dengan
iritan lemah yang berulang-ulang, dan mungkin bisa terjadi oleh karena kerjasama berbagai
macam faktor. Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan
dermatitis iritan, tetapi bila bergabung dengan faktor lain baru mampu. Kelainan baru
nyata setelah berhari-hari, berminggu-minggu atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun
kemudian. Sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor paling penting (Djuanda
2003).

Gejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal dan
terjadi likenifikasi, batas kelainan tidak tegas. Bila kontak terus berlangsung maka dapat
menimbulkan retak kulit yang disebut fisura. Adakalanya kelainan hanya berupa kulit
kering dan skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita. Setelah kelainan
dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian (Djuanda 2003).

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana patofisiologi penyakit dermatitis?


2. Bagaimana terapi farmakologi dan non farmakologi penyakit dermatitis?
3. Bagaimana penatalaksanaan terapi yang tepat pada kasus yang telah ditetapkan?

C. TUJUAN

1. Mengetahui patofisiologi penyakit dermatitis.


2. Mengetahui terapi farmakologi dan non farmakologi penyakit dermatitis.
3. Mengetahui penatalaksanaan terapi yang tepat pada kasus yang telah ditetapkan.
BAB II
A. ISI

1. Kasus
Seorang ibu berumur 34 tahun sedang hamil 7 bulan datang ke apotek untuk
membeli obat dengan keluhan gatal-gatal disela-sela jari tangan yang disebabkan oleh
penggunaan deterjen baru. Sebelumnya pernah mengalami penyakit seperti ini, tidak
memiliki penyakit lain, dan tidak memiliki alergi.
Nama : Ny. Retno
Alamat : Kepatihan, Surakarta
Problem medic Subyektif Obyektif Terapi Riwayat Alergi

Gatal-gatal Belum
Dermatitis
disela-sela jari - mendapatkan -
Kontak Iritan
tangan terapi
sebelumnya

2. Penatalaksanaan
 Non Farmakologi. Menghindari paparan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik,
fisis atau kimiawi serta menyingkirkan faktor yang memperberat.
 Farmakologi. Mengatasi gatal-gatal dan iritasi dapat diberikan kortikosteroid topikal.
Beberapa contoh kortikosteroid topikal: Hidrokortison, Flupredniliden, Triamsinolon,
Betametason, Fluokortolon / Diflukortolon, Desoksimelason.
3. Dialog Konseling
Apoteker : Selamat siang ibu, ada yang bisa saya bantu.
Ny. Retno : Selamat siang, jadi begini mas, sela-sela jari tangan saya itu rasanya gatal.
Apoteker : Maaf, dengan ibu siapa?
Ny. Retno : Saya Retno mas.
Apoteker : Perkenalkan nama saya Sandi, saya apoteker di sini. Apa saya boleh melihat
sela-sela jari tangan ibu?
Ny. Retno : Iya mas silahkan.
Apoteker : Apakah ibu punya alergi?
Ny. Retno : Tidak ada mas. Tetapi sering kejadian seperti ini mas, terutama setelah
mencuci baju. Saya sudah mengganti detergen saya dengan detergen yang
katanya tidak mengiritasi di tangan, tetapi tetap saja mas, selalu muncul rasa
gatal di sela-sela jari setelah mencuci
Apoteker : Sebelum-sebelumnya ibu mengobati rasa gatal tersebut dengan apa?
Ny. Retno : Sebelumnya cuma saya diamkan mas, sambil saya garuk-garuk, tetapi lama
kelamaan rasa gatalnya membuat tidak nyaman.
Apoteker : Kalau boleh saya tahu usia kandungan ibu sudah berapa bulan?
Ny. Retno : Ini sudah tujuh bulan lebih mas.
Apoteker : Kalau boleh saya sarankan, sebelum memakai obat-obatan untuk meredakan
rasa gatal sebaiknya ibu mencoba terapi non obat dahulu.
Ny. Retno : Terapi non obat yang seperti apa mas?
Apoteker : Mungkin ibu bisa memulai dengan menjaga kelembapan kulit dengan
mengoleskan bahan-bahan alami seperti madu atau minyak zaitun, kemudian
lakukan olah raga rutin bu, karena keringat yang keluar dari kulit juga dapat
membantu menjaga kelembapan. Sebisa mungkin menahan rasa gatal,
diusahakan untuk tidak menggaruk, agar tidak terjadi luka yang nantinya bisa
memperparah keadaan kulit ibu.
Ny. Retno : Tapi rasa gatalnya sudah benar-benar mengganggu mas, sulit untuk menahan
agar tidak digaruk.
Apoteker : Baiklah bu kalau begitu, saya ambilkan dulu obatnya. Silahkan tunggu
sebentar
Ny. Retno : Iya mas.

Apoteker : Ibu Retno.


Ny. Retno : Iya mas.
Apoteker : Ini ibu saya berikan cream hidrokortison 2,5%, untuk pemakaiannya cukup
dioleskan tipis pada bagian yang gatal 2-3 kali sehari, sebelum dioleskan pada
sela-sela jari baiknya ibu mencuci tangan terlebih dahulu kemudian
mengeringkannya.
Ny. Retno : Iya mas.
Apoteker : Apabila nanti sudah sembuh, mungkin ibu bisa mencoba terapi non obat
seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Apabila nanti setelah mencuci dengan
detergen, saya anjurkan ibu untuk segera membilas tangan kemudian bisa
mengolesi tangan dengan pelembab. Apakah sudah jelas bu?
Ny. Retno : Iya mas, sudah cukup jelas.
Apoteker : Bisa ibu mengulangi penjelasan saya tadi?
Ny. Retno : Jadi cream ini nanti dioleskan tipis pada bagian yang gatal, 2-3 kali sehari.
Mencuci bersih tangan dan mengeringkannya sebelum dioleskan. Apabila nanti
sudah sembuh, kelembapan kulit tangan harus senantiasa dijaga agar tidak lagi
timbul rasa gatal.
Apoteker : Baik bu, ini ada kartu nama saya, apabila ada hal-hal yang ingin ditanyakan
silahkan kirim pesan ke nomor yang tertera. Semoga lekas sembuh ya bu.
Ny. Retno : Iya mas terima kasih
Apoteker : Sama-sama bu.

4. Hidrokortison 2,5%
a. Mekanisme
Cream Hidrokortison adalah obat kortikosteroid berbentuk cream yang digunakan
untuk mengobati eksim, inflamasi, kemerahan, serta gatal-gatal pada kulit. Beberapa jenis
infeksi kulit yang dapat diobati contohnya dermatitis alergi, dermatitis kontak, dermatitis
atopi, pruritus anogenital, neurodermatitis, dan lain-lain. Mekanisme kerja Hidrokortison,
yaitu pengurangan komponen vaskular dari respons inflamasi, pengurangan pembentukan
cairan inflamasi, dan eksudat seluler. Reaksi granulasi juga menurun akibat efek
penghambatan Hidrokortison pada jaringan ikat. Stabilisasi butiran sel yang paling dan
selaput lysomal menurunkan mediator yang terlibat dalam respons inflamasi dan
mengurangi pelepasan enzim dalam sintesis prostaglandin. Dengan demikian, cream
hidrokortison dapat memberikan efek anti-inflamasi, anti-alergi dan antipruritus pada
penyakit kulit.
b. Kandungan / Komposisi
Tiap gram mengandung Hidrokortison asetat 25 mg
c. Indikasi dan Kegunaan
 Mengobati inflamasi pada kulit akibat eksim dan dermatitis,
seperti dermatitis atopi, dermatitis kontak, dermatitis alergik, pruritus
anogenital dan neurodermatitis.
 Mengatasi gigitan serangga.
 Mengobati ruam.
 Meredakan gatal pada alat vital bagian luar wanita.
 Mengatasi gatal pada dubur.
 Mengobati alergi.
d. Kontraindikasi
Beberapa orang dengan kondisi yang dimilikinya tidak diperkenankan
menggunakan obat ini, mereka adalah:
 Memiliki hipersensitif atau alergi terhadap kandungan obat ini.
 Penderita penyakit kulit akibat virus, seperti Herpes simplex, vaccinia,
dan varicella.
 Penderita rosasae akut.
 Penderita skabies.
 Pasien dermatitis perioral.
 Memiliki penyakit tinea.
 Penderita penyakit kulit akibat infeksi jamur, seperti candidal atau
dermatofit.
 Penderita penyakit kulit akibat inf eksi bakteri, seperti impetigo.
e. Dosis Cream Hidrokortison
Dosis yang tepat sesuai petunjuk dokter. Adapun dosis lazim yang
dianjurkan adalah:
Oleskan tipis pada kulit 2 – 3 kali sehari.
f. Cara Pemakaiannya
 Cuci tangan sebelum menggunakan cream ini. Bersih dan kering daerah
kulit yang hendak diobati. Ambil cream secukupnya lalu oleskan dengan
lembut pada kulit tipis-tipis saja.
 Hindari menutup bagian yang sudah diolesi dengan plester atau kasa
pembalut steril. Hal tersebut dapat menyebabkan adan ya penyerapan oleh
kulit, sehingga dapat memperbesar risiko terjadinya efek samping.
 Cuci tangan setelahnya menggunakan obat ini, kecuali jika Anda
mengoleskan cream ini untuk mengobati kulit tangan.
g. Efek Samping Cream Hidrokortison
Meskipun digunakan secara topikal, namun cream hidrokortison juga
berpotensi menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping cream
hidrokortison yang bisa terjadi, antara lain:
 Kulit terasa panas atau seperti terbakar Terasa gatal di kulit.
 Kulit mengalami kekeringan.
 Atrofi kulit (penipisan dan pengerutan kulit).
 Infeksi sekunder.
 Stretch mark.
 Kulit lebam.
 Perubahan warna kulit.
 Munculnya pembuluh darah halus di permukaan kulit.
BAB III
A. KESIMPULAN

1. Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap
pengaruh faktor eksogen dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi
polimorfik dan keluhan gatal.
2. Tata laksana terapi utama adalah menghindari faktor iritan, sedangkan pengobatan
medikamentosa tergantung dari tingkat keparahan yang diderita. Pengobatan
medikamentosa dapat berupa kortikosteroid topical.
3. Pemilihan cream Hidrokortison 2,5% dirasa sudah tepat karena hidrokortison berperan
sebagai anti-inflamasi, anti-alergi dan antipruritus pada penyakit kulit.
DAFTAR PUSTAKA

Djuanda A. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Ed 5 Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Florence SM. 2008. Analisis Dermatitis Kontak pada Karyawan pencuci Botol di PT X.
Medan. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Barat.

Lestari F & Utomo HS. 2007. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak
pada Pekerja di PT Inti Pantja Press Industri. Makara Kesehatan Vol 11
No 2. 61-68.