Anda di halaman 1dari 84

PROPOSAL

PENELITITAN TINDAKAN KELAS

PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN INKUIRI MAMPU

MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI SAINS DAN

PRESTASI BELAJAR SISWA KEAS III SD PADA KONSEP

PERUBAHAN WUJUD BENDA DI SDN PASIR DURUNG 1

KABUPATEN PANDEGANG

Oleh :
UMA FARIDA
NOMOR PESERTA 19280120271002
KELAS A
Pendidikan Guru Sekolah Dasar

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2019

1
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN HASIL PERBAIKAN
KEMAMPUAN LITERASI SAINS DAN PRESTASI BELAJAR
MATERI PERUBAHAN WUJUD BENDA
KELAS III SD NEGERI PASIRDURUNG 1

Nama Mahasiswa : UMA FARIDA


No Peserta : 19280120271002
Program Studi : PPG dalam Jabatan
Tempat Mengajar : SD Negeri Pasirdurung 1
Jumlah Siklus Pembelajaran : 2 Siklus
Tempat Pelaksanaan : SD Negeri Pasirdurung 1

Masalah yang Merupakan Fokus Perbaikan :


1. “Apakah penerapan metode Inkuiri dapat meningkatkan kemampuan
Literasi Sains dan Prestasi belajar pada materi perubahan wujud benda di
kelas III SD Negeri 1 Pasirdurung?”
2. “ Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan Literasi Sains dan
Prestasi belajar di kelas III SD Negeri 1 Pasirdurung pada materi
perubahan wujud benda ?”

Menyetujui Muntok, Nopember 2019


Dosen Pembimbing, Mahasiswa,

INDHIRA ASIH VY, M.Pd. UMA FARIDA


NIP.196906292003122000 Nopes. 19280120271002

2
DAFTAR ISI

PROPOSAL 1
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................................4
A. Latar Belakang Masalah ...................................................................................... 4
B. Identifikasi Masalah ............................................................................................. 8
C. Rumusan Masalah ................................................................................................ 9
D. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran ........................................................ 10
E. Alternatif dan prioritas pemecahan masalah ...................................................... 10
F. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran ...................................................... 10
G. Kerangka Berpikir .............................................................................................. 11
H. Hipotesa Tindakan.............................................................................................. 15
D. Penelitian Relevan...................................................................................... 33
BAB III 50
METODE PENELITIAN .............................................................................................50
A. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................................ 50
1. Tempat Penelitian ...................................................................................... 50
2. Waktu Penelitian ........................................................................................ 50
B. Metode , Desain Penelitian dan langkah-langkah tindakannya .......................... 50
a) Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran .......................................................... 51
C. Subjek/ partisipan yang terlibat .......................................................................... 55
D. Indikator Keberhasilan ....................................................................................... 55
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................................. 55
F. Teknik Analisis Data .......................................................................................... 56
G. Rencana Jadwal Kegiatan................................................................................... 57
LAMPIRAN 61
1.Apakah yang dimaksud mencair? .............................................................................. 83

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pengembangan kemampuan siswa dalam bidang sains (IPA) merupakan salah satu

kunci keberhasilan peningkatan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan

perubahan dan memasuki dunia teknologi, termasuk teknologi informasi. Sains

memiliki peran yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan manusia, oleh

karena itu sains diperlukan oleh seluruh masyarakat Indonesia dalam membentuk

masyarakat yang melek sains. Latar belakang Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) salah satunya adalah amanat Undang-undang Nomor 20

Tahun 2003 yang menyatakan “Penyelenggaraan pendidikan diharapkan dapat

mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai

generasi penerus bangsa di masa depan”. Adanya tantangan eksternal yang harus

dihadapi siswa-siswi di Indonesia di masa depan, salah satunya adalah materi

yang terdapat pada Programe for Internasional Student Assessment (PISA).

PISA merupakan suatu bentuk studi lintas negara yang memonitor dari sudut

ketercapaian hasil belajar peserta didik.

PISA menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya,

yakni proses sains, konten sains dan konteks aplikasi sains. Item-item penilaian

sains PISA 2006 misalnya, menuntut siswa untuk mengidentifikasi masalah-

4
masalah ilmiah, menjelaskan fenomena alam secara ilmiah, dan memanfaatkan

data sains.

Tiga kompetensi tersebut dipilih disebabkan oleh kemanfaatannya terhadap

praktik sains dan kaitannya dengan kemampuan kognitif seperti penalaran induktif

dan deduktif, berfikir berbasis sistem, pengambilan keputusan kritis, transformasi

informasi (misal membuat tabel atau membuat grafik dari data mentah),

pemodelan dan penggunaan sains. Siswa perlu dapat membedakan masalah-

masalah ilmiah dan masalah-masalah yang tidak ilmiah. Masalah ilmiah harus

dapat dijawab berdasarkan bukti-bukti ilmiah. Kompetensi mengidentifikasi

masalah ilmiah meliputi pemahaman terhadap pertanyaan tentang penyelidikan

ilmiah dalam situasi tertentu dan mengidentifikasi kata kunci untuk mencari

informasi dari topik yang diberikan. Kompetensi juga meliputi pemahaman

terhadap karaketeristik penyelidikan ilmiah: misal, variabel apa yang diubah dan

dikendalikan, informasi tambahan apa yang dibutuhkan, kegiatan apa yang

dilakukan sehingga data yang relevan dapat dikumpulkan. Mengidentifikasi

masalah ilmiah menghendaki siswa memiliki pengetahuan tentang sains itu

sendiri. Pendidikan sains disekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa

untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan dan

penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi sains berarti mampu menerapkan konsep-konsep atau fakta-fakta

yang didapatkan disekolah dengan fenomena-fenomena alam yang terjadi dalam

kehidupan sehari-hari. Kemampuan literasi sains mencerminkan kesiapan warga

negara dalam menjawab tantangan global yang semakin hari semakin mendesak.

5
Sains yang sebenarnya bisa dieksplorasi dari keseharian anak-anak,

semakin berjarak dan tidak menarik. Penguasaan konsep-konsep sains yang

seharusnya diprioritaskan untuk dipahami anak-anak SD hingga jenjang

berikutnya dimana semestinya mampu mengaplikasikan sains dalam kehidupan

sehari-hari justru terlupakan. Padahal, penguasaan sains merupakan kunci penting

untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi guna mendukung daya

saing dan kemajuan suatu bangsa hingga mampu bersaing dalam kancah

internasional.

PISA-OECD (Programe for International Student Assessment-

Organisation for Economic Cooperation and Development) telah melakukan

suatu pemonitoran mengenai kemampuan literasi sains Negara Indonesia. Hasil

PISA tahun 2009 menempatkan Indonesia pada peringkat 60 dari 65 negara

peserta untuk kategori sains dengan skor 383. Berbeda 192 poin dari China yang

berada di peringkat pertama dan lebih buruk dari negara tetangga Singapura yang

berada di peringkat ke-4 (PISA-OECD). Dari hasil tersebut dapat terlihat masih

rendahnya kemampuan literasi sains siswa Indonesia dibandingkan negara-negara

lain di dunia bahkan di tingkat asia saja Indonesia masih tertinggal dari Jepang,

Korea dan Thailand. Kemudian di tahun 2012, prestasi Indonesia untuk

kemampuan literasi sains menurun ke posisi 64 dari 65 negara peserta PISA. Jelas

hal tersebut bukan prestasi yang menggembirakan bagi pendidikan Indonesia.

Menurut (Liliasari, 2011), pembelajaran sains bertanggungjawab atas

literasi sains peserta didik, karena itu kualitas pembelajaran sains perlu

ditingkatkan agar dapat mencapai taraf pengembangan yang berkelanjutan.

6
Untuk dapat menyikapi perkembangan iptek yang begitu cepat dalam era

globalisasi ini, literasi sains bagi masyarakat akan menjadi kebutuhan yang tak

dapat ditunda. Literasi sains sangat penting dalam lapangan pekerjaan.

Menururt (Klausner, 1996:1), banyak sekali pekerjaaan yang

membutuhkan keterampilan tingkat tinggi, membutuhkan tenaga kerja yang dapat

belajar, bernalar, berpikir kreatif, membuat keputusan, dan memecahkan masalah.

Namun, dalam pembelajaran sains khususnya di Sekolah Dasar (SD), perhatian

guru untuk mengembangkan literasi siswa sangat kurang. Guru lebih cenderung

berorientasi pada materi yang tercantum pada kurikulum dan soal-soal ujian, tanpa

menyentuh aspek keterkaitan antara materi-materi sains dengan kehidupan

masyarakat. Hal ini terungkap dari hasil studi pendahuluan di salah satu SD

Negeri II Durajaya yang berada di Kabupaten Cirebon. Siswa belum dapat

menjelaskan mengapa terjadi embun di pagi hari dan mengapa ketika memasak air

selalu berkurang sesaat setelah air tersebut mendidih, padahal mereka telah

mempelajari materi perubahan wujud benda di jenjang kelas sebelumnya. Ini

menandakan bahwa materi yang mereka dapatkan hanyalah berbentuk parsial,

sekadar hapalan dan sains belum diterapkan pada kehidupannya sehari-hari.

Salah satu alasan rendahnya kemampuan literasi sains siswa dikarenakan materi

sains tidak diberikan secara mendalam dan tidak di ajarkan dengan metode yang

tepat. Membangun literasi sains dalam proses pembelajaran sangat penting agar

membentuk masyarakat yang melek sains dan berkarakter.

Menurut (Liliasari, 2011:1), “Sains yang bersifat unity in dIII ersity sejalan

dengan falsafah bangsa Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika, dengan demikian

7
melalui belajar sains dapat pula dikembangkan karakter kebangsaan”. Hal ini

didukung pula oleh tuntutan UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3

menyebutkan bahwa: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk mengatasi hal tersebut maka upaya yang dapat dilakukan agar dapat

membantu siswa dalam memiliki kemampuan literasi sains yang baik, yakni

dengan menerapkan metode inkuiri dalam pembelajaran. Inkuiri berasal dari kata

inquire yang berarti menanyakan, meminta keterangan, atau penyelidikan, dan

inkuiri berarti penyelidikan. Siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental

maupun fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberikan dan

diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka

memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka menemukan sendiri konsep-

konsep yang direncanakan oleh guru.

Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut, penelitian ini mengambil

tema Upaya Meningkatkan Literasi Sains dan Prestasi Siswa Kelas III

SD Negeri 1 Pasirdurung Melalui Pembelajaran Inkuiri pada Materi Perubahan

Wujud Benda.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat diidentifikasikan

masalahnya adalah sebagai berikut:

8
1. Sebagian besar siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal

(KKM) yang diharapkan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya penguasaan

konsep materi pembelajaran serta kurangnya penguasaan metode,

pendekatan, maupun strategi pembelajaran yang digunakan didalam kelas.

2. Pembelajaran tidak interaktif. Hal tersebut dikarenakan guru mengajar masih

menggunakan metode ceramah dan pembagian tugas serta mengharap siswa

duduk, diam, dengar, catat, hafal (3DCH), sehingga pembelajaran berpusat

pada guru.

3. Kemampuan siswa untuk menggali informasi pembelajaran masih kurang

memuaskan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pemahan siswa.

4. Sebagian besar siswa tidak bersemangat dalam mengikuti pembeljaran

dikelas. Hal ini dikarenakan kurang kreatifnya guru dalam mengemas

pembelajaran dan mencari sumber-sumber belajar dan pembelajaran, alat

praga yang efektif, sehingga dampak yang kurang baik bagi perkembangan

belajar peserta didik khususnya dalam mata pelajaran IPA.

5. Minat dan aktvitas peserta didik menjadi rendah sehingga hasil belajarnya

menjadi kurang baik.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya,
maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

“Mampukah penerapan metode inkuiri meningkatkan literasi sains dan

Prestasi Belajar siswa kelas III SD melalui pembelajaran inkuiri

materi Perubahan Wujud Benda?

9
D. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Meningkatkan kemampuan literasi sains siswa kelas III SD Negeri 1


Pasirdurung pada pokok bahasan Perubahan Wujud Benda melalui
penggunaan metode pembelajaran Inkuiri.
2. Mendeskripsikan penggunaan metode Inkuiri pada pembelajaran IPA
pokok bahasan Perubahan Wujud Benda yang dapat meningkatkan
kemampuan Literasi Sains.
3. Mengetahui dampak penerapan metode Inkuiri dalam pembelajaran
terhadap kemampuan Literasi Sains.

E. Alternatif dan prioritas pemecahan masalah


Alternatif dalam pemecahan masalah ini selain dengan metode Inkuiri
yaitu dengan cara guru mengembangkan cara belajar siswa aktif ( berpusat pada
siswa), memberi perhatian dan fokus pada siswa secara menyeluruh. Guru sebagai
fasilitator harus bisa lebih terampil dalam menjelaskan materi kepada siswa,
misalnya guru menggunakan bahasa yang lugas, ucapan yang jelas dan kata/istilah
yang dapat dipahami siswa, memberikan contoh dan ilustrasi. Selain itu juga guru
harus bisa sepenuhnya melibatkan siswa dalam pembelajaran, misalnya siswa
diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan pendapat.

F. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Adapun manfaat penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :

1. Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan


diharapkan mempunyai manfaat :

10
a. Memperkenalkan pengetahuan dalam bidang pendidikan
tentang pembelajaran IPA, sehingga dapat membantu
meningkatkan kualitas pendidikan.
b. Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya.

2. Secara praktis

Hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat

sebagai berikut:

a. Bagi siswa, dapat memberikan pengalaman belajar yang

lebih bermakna karena siswa dilibatkan langsung dalam

pembelajaran.

b. Bagi guru dan calon guru, untuk memberikan masukan

tentang alternatif penggunaan metode pembelajaran,

alternatif pemecahan masalah untuk perbaikan kegiatan

pembelajaran sehingga dapat meningkatkan literasi sains

siswa.

c. Bagi peneliti, dapat memberikan informasi mengenai

kemampuan literasi sains siswa SD melalui metode

pembelajaran inkuiri.

d. Bagi sekolah, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan

informasi dan kajian dalam pengembangan pembelajaran

IPA.

G. Kerangka Berpikir

11
Data studi awal siswa menunjukkan bahwa hasil belajar siswa

tentang hasil belajar mengenai materi perubahan wujud benda masih

rendah, untuk itu harus segera diadakan perbaikan pembelajaran. Untuk

meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya kemampuan literasi sains,

guru harus pandai memfasilitasi pembelajaran dan menggunakan metode

pembelajaran. Belajar menggunakan metode inkuiri menekankan pada

bagaimana proses kegiatan pembelajaran itu dilaksanakan.

Proses pembelajaran memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat

aktif dalam kegiatan belajar. Proses belajar menyangkut perubahan aspek-

aspek tingkah laku, seperti pengetahuan, sikap dan keterampilan. Untuk itu

diperlukan ketepatan metode yang mampu mengaktifkan siswa, yaitu

metode inkuiri.

Begitu banyak model-model dan metode pembelajaran yang

dikembangkan berdasarkan model pembelajaran inkuiri. Metode

pembelajaran disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kompetensi

yang ingin dicapai. Tiga komponen penting dalam sebuah pembelajaran,

yaitu perencanaan, proses dan evaluasi. Evaluasi adalah sistem penilaian

dimana system penilaian ini akan digunakan sebagai dasar dalam

mengambil kebijakan. Evaluasi di awali oleh proses pencatatan data. Data

yang dicatat menggunakan alat pencatatan atau alat ukur yang sesuai

dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Jika tujuan pembelajaran

yang akan dicapai adalah literasi sains maka alat ukur yang digunakan

12
haruslah benar-benar bisa mengakses informasi mengenai kemampuan

literasi sains siswa.

Salah satu komponen yang bisa diukur untuk mengakses

kemampuan literasi sains siswa adalah dengan mengakses kemampuan

inquiri. Wenning (2007: 5) dalam jurnalnya Assessing Inquiry Skills as a

component of Scientific Literacy mengatakan bahwa kemampuan literasi

sains dapat diketahui dengan mengukur kemampuan inkuiri siswa.

Kemampuan inkuiri berati kemampuan menyelidiki. Metode inkuiri

berusaha merangsang siswa untuk bersifat aktif dan kreatif, memberikan

suasana yang kondusif dan terbuka memungkinkan siswa untuk belajar

aktif baik secara indIII idual maupun kelompok berani memecahkan

masalah yang dihadapi dengan pemikirannya sendiri, menjadikan

komponen banyak arah dalam proses pembelajaran, kondisi demikian akan

menggairahkan semangat belajar siswa yang akhirnya meningkatkan belajar

siswa. Maka berdasarkan pemaparan tersebut, alur berfikir yang

digunakan dalam penelitian ini adalah:

Gambar 1.1

Bagan Kerangka Berfikir

Permasalahan

1. Siswa menjawab pertanyaan Pada saat pembelajaran


berdasarkan teks book
siswa ini terlihat saat
2. Masih ada siswa yang
mendapatkan nilai di bawah proses belajar mengajar
Kriteria Ketuntasan berlangsung, siswa masih
Minimum (KKM) yang terpaku pada teks book,
ditetapkan.
Kondisi awal tidak berdasarkan hasil
3. Penggunaan model13
pembelajaran yang digunakan analisis sehingga
masih kurang tepat pada saat mengakibatkan kurangnya
proses pembelajaran. hasil belajar yang
4. Kreativitas dan prestasi
belajar siswa rendah
diperoleh oleh siswa.
Siklus 1 melalui
tahap perencanaan,
pepelaksanaan,
pelaksanaan,
observasi dan refleksi

Siklus 2 melalui
tahap perencanaan,
pepelaksanaan,
pelaksanaan,
observasi dan refleksi

Literasi sains siswa


meningkat

C. Asumsi Prestasi Belajar

Berdasarkan kerangka atau pradigma penelitian sebagaimana diurutkan

diatas, maka beberapa asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Wenning (2007: 11) dalam jurnalnya Assessing Inquiry Skills as a

component of Scientific Literacy mengatakan bahwa kemampuan literasi

sains dapat diketahui dengan mengukur kemampuan inkuiri siswa.

Kemampuan inkuiri berati kemampuan menyelidiki. Metode inkuiri

berusaha merangsang siswa untuk bersifat aktif dan kreatif, memberikan

14
suasana yang kondusif dan terbuka memungkinkan siswa untuk belajar aktif

baik secara indIII idual maupun kelompok berani memecahkan masalah

yang dihadapi dengan pemikirannya sendiri, menjadikan komponen banyak

arah dalam proses pembelajaran, kondisi demikian akan menggairahkan

semangat belajar siswa yang akhirnya meningkatkan belajar siswa.

H. Hipotesa Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir yang telah dipaparkan, yaitu dalam

pembelajaran siswa tidak aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan

yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran maka hipotesis

penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah Metode

Pembelajaran Inkuiri Mampu Meningkatkan Kemampuan Literasi

Sains Siswa Dan Prestasi Belajar Siswa Keas III SD Pada Konsep

Perubahan Wujud Benda Di SDN Pasir Durung 1 Kabupaten

PandegLang

15
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hakikat IPA

1. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD

a. Pengertian PembelajaranIPA di SD

Pengertian Ilmu Pengrtahuan Alam (IPA) dipandang dari beberapa sudut

pandang masing-masing tokoh, sehingga tidak hanya terdapat satu definisi yang

tunggal tentang pengertian IPA.

Menurut Darmojo (Samatowa, 2011: 2) IPA adalah “pengetahuan yang

rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya”.

Sejalan dengan pendapat menurut Nast (Samatowa, 2011: 3) IPA adalah “suatu

cara atau metode untuk mengamati alam”.

Menurut Samatowa (2011: 3) “IPA membahas tentang gejala – gejala alam

yang disusun secara sistematis yang dilakukan oleh manusia”.

Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler (Samatowa, 2011: 3)

bahawa, “IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala – gejala alam

dan kebendaan yang sistematis yang tersususn secara teratur, berlaku namun

berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen/sistematis (teratur)”.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulakan bahwa IPA

merupakan pengetahuan yang rasional dan objektif dari hasil kegiatan manusia,

16
berupa pengetahuan dan gejala – gejala alam yang disusun secara sistematis

melalui hasil percobaaan dan pengamatan.

b. Karakteristik IPA di SD

Meskipun pengertian matematika berbeda-beda menurut para tokoh tetapi

IPA matematika memiliki ciri khusus atau karekteristik sebagai berikut.

1) IPA mempunyai nilai ilmiah artinya kebenaran dalam IPA dapat

dibuktikan lagi oleh semua orang dengan menggunakan metode ilmiah dan

prosedur seperti yang dilakukan terdahulu oleh penemunya. http://51-

374.blogspot.com/2009/04/stanza-lilin-kecil.html Contoh : nilai ilmiah

”perubahan kimia” pada lilin yang dibakar. Artinya benda yang mengalami

perubahan kimia, mengakibatkan benda hasil perubahan sudah tidak dapat

dikembalikan ke sifat benda sebelum mengalami perubahan atau tidak dapat

dikembalikan ke sifat semula.

2) IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara

sistematis, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-

gejala alam.

3) IPA merupakan pengetahuan teoritis. Teori IPA diperoleh atau disusun

dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi,

eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, observasi dan demikian

seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain

4) IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan. Dengan

bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen

17
dan observasi, yang bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih

lanjut (Depdiknas, 2006).

5) IPA meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, aplikasi dan sikap.

Produk dapat berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum. Proses merupakan

prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah

meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen,

percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis melalui eksperimentasi;

evaluasi, pengukuran, danpenarikankesimpulan. Prawirohartono

(http://tpardede.wikispaces.com/Unit+1.1.2+Karakteristik+IPA+)

c. Tujuan Pembelajaran IPA di SD

Tujuan mata pelajaran IPA di SD/MI adalah agar peserta didik memiliki

kemampuan sebagai berikut.

1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa

berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya

2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang

bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang

adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,

teknologi dan masyarakat

4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,

memecahkan masalah dan membuat keputusan

18
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga

dan melestarikan lingkungan alam

6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya

sebagai salah satu ciptaan Tuhan

Berbagai alasan yang menyebutkan mata pelajaran IPA dimasukkan di

dalam suatu kurikulum sekolah yaitu :

1) Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa, kiranya hal itu tidak perlu

dipersoalkan panajang lebar.

2) Bila diajrkan IPA menurut cara tepat, maka IPA merupakan suatu mata

pelajaran yang melatih/mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

3) Bila IPA diajarkan melalui percobaan – percobaan yang dilakukan

sendirioleh anak, maka IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat

hafalan belaka.

Menurut Samatowa (2011: 6), mata pelajaran IPA mempunyai nilai – nilai

pendidikan yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan.

d. Ruang Lingkup Pembelajaran IPA di SD

Dalam pembelajaran IPA, selain memiliki tujuan juga memiliki ruang

lingkup bahan kajian yang tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) tentang pembelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD) dengan

meliputi aspek-aspek berikut.

1) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan

interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan

19
2) Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas

3) Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik,

cahaya dan pesawat sederhana

4) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda

langit lainnya. (KTSP, 2006 : 484).

B. Literasi

1. Pengertian Literasi

Menurut (Echols & Shadily, 1990: 13), secara harfiah literasi berasal dari

kata Literacy yang berarti melek huruf/gerakan pemberantasan buta huruf

Sedangkan istilah sains berasal dari bahasa inggris Science yang berarti ilmu

pengetahuan.

Puskur (2006: 23) mengatakan bahwa: “sains merupakan sekelompok

pengetahuan tentang obyek dan fenomena alam yang diperoleh dari pemikiran dan

penelitian para ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen

menggunakan metode ilmiah”.

Menurut (UNESCO, dikutip dalam Holbrook & Rannikmae. 2009),


mendefinisikan:Literasi sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami,
menginterpretasikan, membuat, berkomunikasi, menghitung dan menggunakan
bahan-bahan cetak dan tulisan yang terkait dengan berbagai konteks. Literasi
melibatkan sebuah pembelajaran dalam menentukan kemungkinan indIII idu
untuk mencapai tujuan mereka, untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi,
dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat sekitar dan masyarakat luas.

Literasi sains atau scientific literacy didefinisikan PISA sebagai kapasitas

untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan

dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan
20
membantu membuat keputusan tentang dunia alami dan interaksi manusia dengan

alam. Definisi literasi sains ini memandang literasi sains bersifat

multidimensional, bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains,

melainkan lebih dari itu. Literasi sains dianggap sebagai kunci hasil belajar dalam

pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan mempelajari

sains atau tidak setelah itu. Sejak dari jenjang SD, literasi sains harus mulai

dimiliki oleh siswa siswi agar menjadi persiapan di ajang PISA. Berpikir ilmiah

merupakan tuntutan warga negara, bukan hanya ilmuwan. Keinklusifan literasi

sains sebagai suatu kompetensi umum bagi kehidupan merefleksikan

kecenderungan yang berkembang pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan

teknologi. Definisi yang digunakan dalam PISA tidak termasuk bahwa orang-

orang dewasa masa yang akan datang akan memerlukan cadangan pengetahuan

ilmiah yang banyak. Hal yang penting adalah siswa dapat berpikir secara ilmiah

tentang bukti yang akan mereka hadapi.

Sesuai dengan pandangan tersebut, penilaian literasi sains dalam PISA tidak

semata-mata berupa pengukuran tingkat pemahaman terhadap pengetahuan sains,

tetapi juga pemahaman terhadap berbagai aspek proses sains, serta kemampuan

mengaplikasikan pengetahuan dan proses sains dalam situasi nyata yang dihadapi

peserta didik, baik sebagai individu, anggota masyarakat, serta warga dunia.

Para ahli pendidikan menyebutkan bahwa scientific literacy merupakan

tujuan utama dari pembelajaran sains (Wenning, 2007: 21). Sering disebutkan

bahwa pencapaian scientific literacy (melek sains) merupakan tujuan utama

pembelajaran sains.

21
National Science Education Standards (Wenning, 2007: 21)

mengidentifikasi ada enam elemen penting dari scientific literacy (melek sains),

yaitu: sains sebagai inkuiri (penyelidikan); konten sains; sains dan teknologi; sains

dalam perspektif indIII idu dan masyarakat; sejarah dan sifat dasar sains, serta

kebersatuan konsep dan proses.

Jika dikaitkan dengan Aspek pengetahuan dalam taksonomi bloom, literasi

sains ini lebih dominan dengan domain pengetahuan Applying, Analysing, dan

evaluating dalam kehidupan sehari-hari. Jika dikembangkan lebih lanjut domain

pengetahuan Applying, Analysing, dan evaluating dalam kehidupan sehari-hari, akan

menciptakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu (creating).

Lederman dalam Wenning (2006: 3) menyatakan “secara khas, IPA merujuk

pada epistomologi dan sosilogi dari sains, sains sebagai jalan untuk mengetahui

sesuatu, atau nilai-nilai dan kepercayaan yang tidak terpisahkan dari pengetahuan

sains dan perkembangannya.

2. Ciri-ciri Literasi

Menurut PISA (2009: 34), dimensi literasi sains sebagai berikut:

A. Kandungan Literasi Sains

Dalam konsep ilmiah, peserta didik perlu menangkap sejumlah konsep

kunci untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubaha yang terjadi

akibat perubahan manusia.

22
B. Proses Literasi Sains

Mengkaji kemampuan peserta didik untuk menggunakan pengetahuan dan

pemahaman ilmiah, seperti kemampuan peserta didik untuk mencari, menafsirkan,

dan memperlakukan bukti-bukti. Pisa menguji lima proses semacam itu, yakni:

1) Mengenali pertanyaan ilmiah

2) Mengidentifikasi bukti

3) Menarik kesimpulan

4) Mengkomunikasikan kesimpulan

5) Menunjukkan pemahaman konsep ilmiah

C. Konteks Literasi Sains

Konteks sains melibatkan isu-isu yang sangat penting dalam kehidupan

secara umum, yaitu:

a. Kehidupan dan kesehatan

b. Bumi dan lingkungan

c. Sains teknologi

Ciri-ciri bahwa seseorang memiliki literasi sains menurut National Science

Teacher Association (NSTA, dalam Poedjiadi 2005: 102-103):

1. Menggunakan konsep sains

2. Mengetahui bagaimana masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi dan

sebaliknya.

3. Mengetahui bahwa masyarakat mengontrol sains dan teknologi

4. Menyadari keterbatasan dan kegunaan sains dan teknologi

23
5. Memahami sebagian besar konsep sains

6. Menghargai sains dan teknologi sebagai stimulus ilmu pengetahuan

7. Mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah bergantung pada proses inkuiri dan

teori

8. Membedakan fakta ilmiah dan opini pribadi

9. Mengetahui asal usul sains

10. Mengetahui aplikasi teknologi

11. Mengetahui pengetahuan dan pengalaman yang cukup

3. Karakteristik Literasi

a. Kemampuan Dasar yang Diukur

Kemampuan yang diukur dalam PISA adalah kemampuan pengetahuan dan

keterampilan dalam tiga dominan kognitif, yaitu membaca,matematika, dan

ilmu pengetahuan alam. Kemmpuan yang diukur itu berjenjang dari tingkat

kesulitan yang paling rendah kepada tingkat yang lebih sulit.

b. Sampel dan Variabel

Data yang dikumpulkan dalam PISA ini terdiri atas tiga kategori data, yaitu

literasi siswa, latar belakang siswa, dan latar belakang sekolah.Aspek literasi

adalah aspek utama dari data yang dikumpulkan yang terdiri atas

pengetahuan dan keterampilan dalam membaca, matematika dan ilmu

pengetahuan alam.

24
4. Faktor-faktor Literasi

Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci dari sains yang diperlukan

untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam

melalui aktIII itas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi

cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang menjadi kurikulum sains

sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang diperoleh melalui sumber-

sumber informasi lain yang tersedia. Kriteria pemilihan konten sains adalah

sebagai berikut

a. Relevan dengan situasi nyata,

b. Merupakan pengetahuan penting sehingga penggunaannya berjangka

panjang,

c. Sesuai untuk tingkat perkembangan anak usia 15 tahun.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka dipilih pengetahuan yang sesuai untuk

memahami alam dan memaknai pengalaman dalam konteks personal, sosial dan

global, yang diambil dari bidang studi biologi, fisika, kimia serta ilmu

pengetahuan bumi dan antariksa.

Menurut (Rustaman et al., 2004: 7), proses sains merujuk pada proses

mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan

masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan

kesimpulan PISA menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian

literasi sains, yaitu:

25
1) Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara

ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains.

2) Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses

ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk

menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang

diperlukan untuk memperoleh bukti itu.

3) Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan

menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya

mendasari kesimpulan itu.

4) Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara

tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia.

5) Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni

kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari

apa yang telah dipelajarinya.

PISA menilai pengetahuan sains relevan dengan kurikulum pendidikan sains

di negara partisipan tanpa membatasi diri pada aspek-aspek umum kurikulum

nasional tiap negara.Penilaian PISA dibingkai dalam situasi kehidupan umum

yang lebih luas dan tidak terbatas pada kehidupan di sekolah saja. Butir-butir soal

pada penilaian PISA berfokus pada situasi yang terkait pada diri indIII idu,

keluarga dan kelompok indviidu (personal), terkait pada komunitas (social), serta

terkait pada kehidupan lintas negara (global). Konteks PISA mencakup

bidang-bidang aplikasi sains dalam seting personal, sosial dan global, yaitu:

26
kesehatan, sumber daya alam, mutu lingkungan, bahaya dan perkembangan

mutakhir sains dan teknologi.

C. Prestasi Belajar

1. Pengertian Prestasi Belajar

Menurut (Prakosa, 1991: 51), prestasi belajar banyak diartikan sebagai

seberapa jauh hasil yang telah dicapai siswa dalam penguasaan tugas-tugas atau

materi pelajaran yang diterima dalam jangka waktu tertentu.Prestasi belajar pada

umumnya dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan

dengan suatu kriteria.

Sutratinah Tirtonegoro (1984: 4), mengemukakan bahwa prestasi belajar

adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk

symbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah

dicapai oleh setiap anak didik dalam periode tertentu.

Menururt Siti Partini (1980: 49), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai

oleh seseorang dalam kegiatan belajar.

Sunarya (1983: 4), menyatakan prestasu belajar merupakan perubahan

tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, efektif, dan psikomotorik yang

merupakan ukuran keberhasilan siswa.

Menurut Djamarah (1994: 21), prestasi adalah hasil dar suatu kegiatan yang

telah dikerjakan, diciptakan baik secara indIII idu maupun secara kelompok.

27
Menurut Mas`ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah (1994: 21), bahwa

prestasi adalah apa yang telah diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang

menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.

Gagne (1985: 40), menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi

lima aspek, yaitu: kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal,

sikap dan keterampilan.

Menurut Asmara (2009: 11), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai

seseorang dalam penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan

dalam pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes angka nilai yang diberikan oleh

guru.

Menurut Hetika (2008: 23), prestasi belajar adalah pencapaian atau

kecakapan yang dinampakkan dalam keahlian atau kumpulan pengetahuan.

Harjati (2008: 43), menyatakan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang

dilakukan dan menghasilkan perubahan yang dinyatakan dalam bentuk symbol

untuk menunjukkan kemampuan pencapaian dalam hasil kerja dalam waktu

tertentu.

Menurut Slameto (2003: 23), melihat kemajuan belajar peserta didik dalam

hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan

yang telah ditetapkan.

Menurut Muhubin Syah (2002: 23), prestasi merupakan hasil yang telah

dicapai dari usaha yang telah dilakukan dan dikerjakan.

28
2. Faktor-faktor Prestasi Belajar

Menurut Slameto (2003: 45), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi

belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu faktor intern yang

bersumber pada diri siswa dan faktor ekstern yang bersumber dari luar diri siswa.

Faktor intern terdiri dari kecerdasan atau intelegensi, perhatian, bakat, minat,

motIII asi, kematangan, kesiapan dan kelelahan.Sedangkan factor ekstern terdiri

dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Mudzakir dan Sutrisno (1997: 3) mengemukakan faktor-faktor yang

mempengaruhi prestasi belajar secara lebih rinci, yaitu:

a. Faktor iternal (factor dari dalam diri manusia).

Faktor ini meliputi:

1) Faktor fisiologi (yang bersifat fisik) yang meliputi:

a) Karena sakit

b) Karena kurang sehat

c) Karena cacat tubuh

2) Faktor psikologi (factor yang bersifat rohani) meliputi:

a) Intelegensi

Setiap orang memiliki tingkat IQ yang berbeda-beda.Seseorang yang

memiliki IQ 110-140 dapat digolongkan cerdas, dan yang memiliki IQ

140 ke atas tergolong jenius.Golongan ini mempunyai potensi untuk

dapat menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi.Seseorang yang

memiliki IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental, mereka inilah yang

banyak mengalami kesulitan belajar.

29
b) Bakat

Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawah sejak

lahir.Setiap indIII idu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang

akan lebih mudah mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakatnya.

Apabila seseorang harus mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan

bakatnya, ia akan cepat bosan, mudah putus asadan tidak senang. Hal-hal

tersebut akan tampak pada anak suka mengganggu kelas, berbuat gaduh,

tidak mau pelajaran sehingga nilainya rendah.

c) Minat

Tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul

kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai

dengan kebutuhannya, tidak sesuai dengan kecakapan dan akan

menimbulkan problema pada diri anak. Ada tidaknya minat terhadap

suatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti pelajaran, lengkap

tidaknya catatan dan aktiftidaknya dalam proses pembelajaran.

d) Faktor Kesehatan mental

Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga

menyangkut segi kesehatan mental dan emosional.Hubungan kesehatan

mental dengan belajar adalah timbale balik. Kesehatan mental dan

ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik demikian

juga belajar yang selalu sukses akan membawa harga diri seseorang. Bila

harga diri tumbuh akan merupakan factor adanya kesehatan mental.

IndIII idu di dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan

30
dan dorongan-dorongan, seperti: memperoleh penghargaan, dapat

kepercayaan, rasa aman, rasa kemesraan, dan lain-lain. Apabila

kebutuhan itu tidak terpenuhi akan membawa masalah-masalah

emosional dan akan menimbulkan kesulitan belajar.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan factor yang berasal dari luar diri seseorang,

faktor ini meliputi:

1) Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Yang

termasuk faktor ini antara lain:

a) Perhatian orang tua

Dalam lingkungan keluarga setiap individu atau siswa memerlukan

perhatian orang tua dalam mencapai prestasi belajarnya. Karena

perhatian orang tua ini akan menentukan seseorang siswa dapat mencapai

prestasi belajar yang tinggi. Perhatian orang tua diwujudkan dalam hal

kasih sayang, memberi nasihat-nasihat dan sebagainya.

b) Keadaan ekonomi orang tua

Keadaan ekonomi keluarga juga mempengaruhi prestasi belajar siswa,

kadang kala siswa merasa kurang percaya diri dengan keadaan ekonomi

keluarganya.Akan tetapi ada juga siswa yang keadaan ekonominya baik

tetapi prestasi belajarnya rendah atau sebaliknya siswa yang keadaan

ekonominya rndah malah mendapat prestasi belajar yang tinggi.

31
c) Hubungan antara anggota keluarga

Dalam keluarga harus terjadi hubungan yang harmonis antar personil

yang ada. Dengan adanya hubungan yang harmonis antara anggota

keluarga akan mendapatkan kedamaian, ketenangan dan ketentraman.

Hal ini dapat menciptakan kondisi belajar yang baik, sehingga prestasi

belajar siswa dapat tercapai dengan baik pula.

2) Lingkungan Sekolah

Yang dimaksud sekolah, antara lain:

a) Guru

b) Faktor alat

c) Kondisi gedung

3) Faktor media dan lingkungan sosial (masyarakat)

a) Faktor media meliputi: bioskop, tv, surat kabar, majalah, buku-buku

komik yang ada di sekeliling kita. Hal-hal itu yang akan menghambat

belajar apabila terlalu banyak waktu yang dipergunakan, hingga lupa

tugas belajar.

b) Lingkugan sosial

Teman bergaul berpengaruh sangat besar bagi anak-anak.Maka

kewajiban orang ua adalah mengawasi dan memberi pengertian untuk

mengurangi pergaulan yang dapat memberikan dampak negative bagi

anak tersebut.

Menurut Rola (2006: 23), terdapat empat faktor yang mempengaruhi

prestasi belajar, yaitu:


32
a. Pengaruh budaya dan kebudayaan

b. Peranan konsep diri

c. Pengaruh dari peran jenis kelamin

d. Pengakuan dari prestasi

3. Ciri-ciri Prestasi Belajar

Djamarah (1994: 24) mengungkapkan cirri-ciri prestasi belajar sebagai

berikut:

1. Prestasi belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur. Untuk mengukur

tingkah laku terebut dapat digunakan tes prestasi belajar.

2. Prestasi menunjuk kepada individu sebagai sebab, artinya indVidu sebagai

pelaku.

3. Prestasi belajar dapat dievaluasi tinggi rendahnya, baik berdasarkan atas

criteria yang ditetapkan terlebih dahulu atau ditetapkan menurut standar

yang dicapai oleh kelompok

4. Prestasi belajar menunjuk kepada hasil dari kegiatan yang dilakukan secara

sengaja dan disadari.

D. Penelitian Relevan

Hasil penelitian terkait dengan penelitian yang dilakukan dalam penelitian

ini yaitu sebagai berikut:

33
1. Sukma Budi (2012) meneliti tentang penerapan metode inkuiri

pembelajaran IPA tentang alat pencernaan makanan pada manusia

untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SDN Sayang

Kecamatan Jatinangor. Adapun hasilnya yaitu sebagai berikut:

a) Penerapan metode inkuiri dapat meningkatkan kinerja guru

dalam pembelajaran pembelajaran IPA tentang materi “Alat

Pencernaan Makanan Pada Manusia” di kelas V SDN Sayang.

b) Penerapan metode inkuiri dapat meningkatkan aktiviitas siswa

dalam pembelajaran IPA tentang materi “alat Pencernaan

Makanan pada Manusia” di kelas V SDN Sayang.

c) Penerapan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar

siswa dalam pembelajaran IPA tentang materi “Alat

Pencernaan Makanan pada Manusia” di kelas V SDN Sayang.

2. Rantawati Dewi (2012) berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan

bahwa Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA Tentang Energi

Panas dan Energi Bunyi Melalui Pendekatan Inkuiri Pada Siswa

Kelas III di SDN Balong Jepon Blora hasil belajar yang dilakukan di

kelas III di SDN Balong Jepon Blora hasil belajar yang dilakukan di

kelas control rata-rata sebesar 73,95 dan kelas eksperimen sebesar

83,95.

34
D. Inkuiri

1. Definisi Inkuiri

The National Science Teachers Association (NSTA) Inkuiri adalah

suatu cara berbeda dimana siswa belajar tentang alam dan mengajukan

penjelasan berdasarkan pada fakta yang diturunkan dari pekerjaan mereka.

Inkuiri sebagai cara yang kuat dalam pemahaman konten sains. Siswa

belajar bagaimana cara untuk mengajukan pertanyaan dan menggunakan

fakta untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam proses pembelajaran

inkuiri, siswa belajar untuk melakukan investigasi dan mengumpulkan

data dari berbagai sumber, mengembangkan suatu penjelasan dari data,

dan mengkomunikasikannya serta menentukan kesimpulan.

MenurutGulo (Triatno, 2007: 4), menyatakan bahwa strategi

inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara

maksimal seluruh kemampuan siswa mencari dan menyelidiki secara

sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan

sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Menurut Hosfstein and Lunetta (Tsai dan Tuan, 2006: 5) mendefinisikan inkuiri

sebagai berikut:

Inquiry as the ways of method, thinking, interpretation, which are adopted

by scientists to study the nature, and the evidences based on scientific

investigate, emphasizing learners have the abilities to study the phenomenon

of the nature world, raise notions, interpret the results base on evidences,
35
and debate their own statement to show the scientific spirit in the process of

inquiry.

Menururt Piaget (Soesanti.N, 2005: 11), model pembelajaran inkuiri adalah

model pembelajaran yang mempersiapkan situasi anak untuk melakukan

eksperimen sendiri, dalam arti luas ingin melihat yang terjadi, menggunakan

symbol-symbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan

penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang

ditemukan orang lain.

Menurut (Hilda Marghareta, 2002: 133), model pembelajaran inkuiri adalah

penerapan suatu model belajar mengajar siswa untuk menemukan sendiri konsep

pembelajaran melalui percobaan dan penyelidikan yang mendorong dan memberi

kesempatan bagi siswa untuk mencari dan menemukan informasi melalui

pengumpulan data dalam merumuskan suatu konsep pengetahuan.

Menurut Supriyadi yang dikutip Kholifudin (2012: 2), model pembelajaran


inkuirimempunyai beberapa ciri-ciri antara lain adanya ruang lingkup untuk
melakukan suatu penyelidikan atau pengamatan diberikan kepada siswa, siswa
melakukan restrukturisasi masalah-masalah, siswa melakukan identifikasi masalah
yang berdasar penyelidikan atau pengamatan, dan siswa melakukan identifikasi
masalah yang berdasar penyelidikan atau pengamatan, dan siswa melakukan trial
and eror atau berspekulasi berbagai cara untuk memecahkan masalah dan
kesulitan.
Menurut Wayan Memes yang dikutip oleh Ismawati (2007: 38), ada enam

langkah yang harus diperhatikan dalam inkuiri, yaitu merumuskan masalah,

membuat hipotesis, merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan,

mengumpulkan data, dan mengambil kesimpulan. Enam langkah ini akan

36
membentuk peserta didik menjadi lebih berani berkomunikasi dan menggali

informasi untuk dapat memecahkan masalah.

Menurut Roestiyah (1998: 4), pembelajaran inkuiri dapat membentuk dan


mengembangkan “self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti
tentang konsep dasar dan ide-ide yang lebih baik, membantu dalam menggunakan
ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru, mendorong siswa
berfikir, bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka,
situasi proses belajar menjadi lebih aktif, dapat mengembangkan bakat atau
kecapakapan individu, memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
Menurut Suchman (dalam Chaerul, 2010: 26) menemukan model inkuiri

didasarkan pada konfrontasi intelektual siswa diberi teka-teki untuk diselidiki.

Menururt Karli H dan Margaretha (dalam Yasmi, 2010: 20),

mengemukakan tujuan model inkuiri adalah membantu mengembangkan disiplin

intelektual dan keterampilan yang diperlukan dengan memberikan pertanyaan-

pertanyaan dan mendapatkan jawaban-jawaban atas dasar keingin tahuan mereka.

Menurut Sapriya (dalam Chaerul, 2010: 26), bahwa model inkuiri

merupakan proses untuk bertanya serta pendidikan dasar dan pendidikan

menengah bahwa inkuiri lebih dari sekedar bertanya, inkuiri merupakan suatu

proses mempertanyakan makna ntertentu yang menuntut seseorang menunjukkan

kemampuan intelektualnya supaya ide, gagasan atau pemikirannya dapat

dimengerti.

2. Karakteristik Inkuiri

Terdapat beberapa strategi pembelajaran yang sering digunakan guru untuk

menyelenggarakan kelas sains berbasis inkuiri yang efektif yang disebutkan dalam

Inquiry-Based Learning strategi tersebut yaitu:


37
a. Pertanyaan (Questions).

b. Keterampilan Proses Sains.

c. Menurut (Piaget dalam Sund dan Trowbridge, 1973), peristiwa yang

bertentangan (Discrepant Event). Kapanpun guru mendapatkan perhatian

dari siswanya, itulah saat dimana siswa berpotensi untuk terlibat dalam

pembelajaran.

d. Pembelajaran induktif menyuguhkan suatu suasana bagi siswa dimana

mereka bisa menemukan suatu konsep atau prinsip. Dengan pendekatan ini,

siswa menemui suatu gagasan, kemudian gagasan tersebut didiskusikan.

Pendekatan induktif ini memberikan siswa pengalaman nyata dimana

mereka mendapatkan kesan sensori dan data dari objek dan peristiwa nyata.

e. Kegiatan Deduktif. Pendekatan deduktif merupakan kebalikan dari

pendekatan induktif dan sering digunakan dalam pembelajaran di kelas.

Dengan pendekatan deduktif, konsep dan prinsip didefinisikan dan

didiskusikan dalam label dan istilah yang tepat, diikuti dengan eksperimen

untuk mengilustrasikan ide-ide. Pendekatan deduktif biasa disebut sebagai

model pembelajaran “vocabulary-before-experience” dimana ceramah dan

diskusi dilakukan sebelum melakukan eksperimen.

f. Pengumpulan Informasi.

g. Problem Solving. Pendekatan problem solving dalam pembelajaran sains

tidak boleh dilupakan karena strategi tersebut sangat potensial untuk

melibatkan siswa dalam kegiatan investigasi dan membangun skill inkuiri.

38
3. Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri

Menurut Wenning (2005: 105), menjelaskan level pelaksanaan inkuiri secara

pedagogi pendidikan adalah sebagai berikut:

a. Pembelajaran penemuan (Discovery learning)

Pembelajaran penemuan adalah bentuk fundamental dari pembelajaran

berorientasi inkuiri. Fokus dari pembelajaran penemuan (discovery learning)

adalah tidak pada menemukan aplikasi pengetahuan tetapi lebih pada

membangun pengetahuan dari pengalaman.

b. Demonstrasi interaktif (Interactive Demonstration)

Demonstrasi interaktif (interactive demonstration) secara umum adalah guru

memanipulsi atau mendemonstrasikan suatu peralatan secara ilmiah dan

kemudian mengajukan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi (prediksi)

atau bagaimana sesuatu mungkin dapat terjadi (penjelasan).

c. Pembelajaran inkuiri (Inquiry Lesson)

Dalam beberapa cara pembelajaran inkuiri sama dengan demonstrasi

interaktif. Akan tetapi terdapat beberapa perbedaan penting yaitu pada

pembelajaran inkuiri menekankan pada eksperimen ilmiah yang lebih

kompleks. Pedagogi merupakan dasar guru dalam menetapkan petunjuk,

memimpin dan bertanya. Petunjuk yang diberikan tidak secara langsung

menggunakan strategi pertanyaan yang tepat. Guru menekankan pada

menolong siswa merumuskan pendekatan eksperimen mereka,

mengidentifikasi dan mengontrol variabel, dan mendefinisikan sistem.


39
d. Laboratorium inkuiri (Inquiry Labs)

Lab inkuiri secara umum adalah dimana siswa sendiri mengembangkan dan

melaksanakan suatu perencanaan eksperimen dan mengumpulkan data yang

sesuai. Terdapat tiga jenis dari lab inkuiri berdasarkan cara berpikir dan

lokus kontrol yaitu pertama inkuiri terbimbing (guide inquiry), kedua inkuiri

terbatas (bounded inquiry) dan inkuiri bebas (free inquiry). Lab inkuiri

terbimbing (guided inquiry) adalah dicirikan oleh dimana guru

mengidentifikasi masalah dan berbagai pertanyaan sebagai jalan untuk

melakukan prosedur. Lab inkuiri terbimbing diawali dengan aktivitas lab

pendahuluan atau diskusi, dalam lab ini siswa diberikan jelas dan singkat

sasaran yang akan dilakukan. Lab inkuiri terbatas (Bounded Inquiry Lab),

siswa disediakan dengan jelas dan singkat sasaran yang akan ditampilkan

siswa dihubungkan dengan suatu konsep, tetapi mereka diharapkan

merancang dan melakukan sebuah eksperimen tanpa lab pendahuluan atau

pertanyaan arahan tertulis. Mereka diminta membuat observasi sederhana

tentang hubungan variabel dan kemudian ditugaskan untuk menampilkan

analisis dimensi sebagai suatu cara untuk merumuskan dasar logis dalam

melakukan eksperimen. Lab inkuiri bebas (Free Inquiry Lab), siswa

mengidentifikasi masalah untuk dipecahkan dan membuat rancangan

eksperimen.

e. Inkuiri hipotetik (Hypothetical Inquiry)

Inkuiri hipotetik (Hypothetical Inquiry) merupakan bentuk inkuiri yang

paling maju dimana siswa mungkin menjadi generasi hipotesis dan penguji.
40
Menurut Bruner (1966), pengajur pembelajaran dengan basis inkuiri,

menyatakan idenya sebagai berikut: “kita mengerjakan suatu bahan kajian itu,

tetapi lebih ditunjukkan untuk siswa berfikir untuk diri mereka sendiri,

meneladani seperti apa yang dilakukam sejarawan, mereka turut mengambil

bagian dalam proses mendapatkan pengetahuan.

5. Materi

a. Langkah – langkah Pembelajaran Model Pembelajaran Inkuiri

Langkah – langkah pembelajaran inkuiri menurut Sanjaya (2010 : 201),

Suyadi (2012 : 123) Secara umum sebagai berikut:

1. Orientasi

Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau

pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru atau pendidik

mengkondisikan peserta didik agar siap melaksanakan proses pembelajaran.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi adalah:

1) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai

oleh siswa.

2) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk

mencapai tujuan.

3) Menjelaskan kepada pentingnya topik dan kegiatan belajar.

41
2. Merumuskan Masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu

persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan merupakan

persoalan yang menantang peserta didik untuk berpikir memecahkan teka-teki

tertentu. Beberapa hal yang diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya

adalah:

1) Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa.

2) Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang

jawabannya pasti.

3) Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui

terlebih dahulu oleh siswa.

3. Merumuskan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang

dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Dalam

konteks ini, hipotesis yang dimaksud adalah ketika guru mengajukan pertanyaan

kepada siswa yang mendorongnya untuk merumuskan berbagai perkiraan

kemungkinan jawaban dari suatu masalah yang sedang dibahas. Perkiraan sebagai

hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir

yang kuat, sehingga hipotesis yang dimunculkan bersifat rasional dan logis.

42
4. Mengumpulkan Data

Mengumpulkan data adalah aktivitas mencari informasi yang dibutuhkan

untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri,

mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam

pengembangan intelektual.

5. Menguji Hipotesis

Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap

diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan

pengumpulan data. Adapun yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah

mencari tingkat keyakinan peserta didik atas jawaban yang diberikan.

6. Merumuskan Simpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang

diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan

merupakan langkah penting dalam proses pembelajara. Seringkali kebanyakan

data yang diperoleh menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus

terhadap masalah yang hendak dipecahkan.Oleh karena itu, untuk mencapai

kesimpulan yang akurat, sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data

mana yang relevan.

Berdasarkan langkah-langkah diatas, dapat diketahui bahwa model

pembelajaran inkuiri mempunyai fase-fase dalam pembelajaran. fase – fase

tersebut menurut (Wahab Jufri, 2013:109) sebagai berikut.


43
Tabel 2.1

Sintaks Model Pembelajaran Inkuiri

Fase Kegiatan Pendidik Kegiatan Peserta Didik

Fase 1: Membantu peserta didik Mengidentifikasi dan

Identifikasi dan menemukan dan merumuskan merumuskan masalah yang

perumusan masalah. akan mengarahkan

masalah investigasi.

Fase 2: Membimbing peserta didik Merumuskan hipotesis yang

Perumusan untuk merumuskan hipotesis. akan diuji melalui investigasi.

hipotesis

Fase 3: Memfasilitasi peserta didik Melaksanakan eksperimen

Pengumpulan dalam merancang eksperimen dan mengumpulkan data.

data untuk mengumpulkan data.

Fase 4: Membimbing peserta didik untuk Mennyusunargumen yang

Interpretasi menganalisis data dan menguji mendukung data dan menguji

data hipotesis. hipotesis.

Fase 5: Membimbing peserta didik untuk Menjelaskan hubungan membuat

Pengembangan membuat induksi atau generalisasi melalui induksi.

kesimpulan generalisasi.

Fase 6: Membimbing dan meminta Mengulangi eksperimen,

Pengulangan peserta didik untuk membuktikan mendapatkan data baru, dan

kebenaran generalisasi. merevisi kesimpulan.

44
7). Implementasi Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP.Pelaksanaan

pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

a) Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan, guru:

(1) Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti

proses pembelajaran

(2) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan

sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari

(3) Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan

dicapai

(4) Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai

silabus.

b). Kegiatan Inti

Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai

KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,

memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang

cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan

perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan

metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran,

yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

(1) Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

45
(a) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam

tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan

prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

(b) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran,

dan sumber belajar lain;

(c) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara

peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

(d) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan

pembelajaran; dan

(e) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium,

studio, atau lapangan.

(2) Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

(a) membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam

melalui tugas-tugas tertentuyang bermakna;

(b) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-

lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun

tertulis;

(c) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan

masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;

(d) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan

kolaboratif;

46
(e) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk

meningkatkan prestasi belajar;

(f) memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang

dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun

kelompok.

(g) memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual

maupun kelompok;

(h) memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival,

serta produk yang dihasilkan;

(i) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan

kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

(3) Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

(a) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan,

tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,

(b) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta

didik melalui berbagai sumber,

(c) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh

pengalaman belajar yang telah dilakukan,

(d) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang

bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

47
1. berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab

pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan

menggunakan bahasa yang baku dan benar;

2. membantu menyelesaikan masalah;

3. memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan

hasil eksplorasi;

4. memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;

5. memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum

berpartisipasi aktif.

c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

a. bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat

rangkuman/simpulan pelajaran;

b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah

dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran

remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan

tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil

belajar peserta didik

e. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

48
4). Penilaian hasil pembelajaran

Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk

mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai

bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses

pembelajaran.

Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan

menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja,

pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk,

portofolio, dan penilaian diri.Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar

Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.

49
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 1 Pasirdurung, Kecamatan


Sindangresmi Kab. Pandeglang Provinsi Banten pada semester ganjil
tahun pelajaran 2019/2020.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini telah diawali dengan observasi pada tanggal 05 September


2019 dan penelitian akan dilaksanakan pada semester ganjil dari tanggal
03 September 2019 sampai dengan 27 Nopember 2019 di kelas III
tahun pelajaran 2019/2020.

Jadwal Pelaksanaannya sebagai berikut :

No Siklus Tanggal Materi Ajar


Pelaksanaan
1. Pra 03 September 2019 Perubahan Wujud Benda
2. I 17 Oktober 2019 Perubahan Wujud Benda
3. II 27 November 2019 Perubahan Wujud Benda

B. Metode , Desain Penelitian dan langkah-langkah tindakannya

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang


difokuskan pada situasi kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang
dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan
50
untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa jadi
meningkat (Aqib, Zainal:2010). Terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu:
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi, sebagai berikut:
1. Perencanaan (planning) adalah merencanakan program tindakan yang akan
dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran.

2. Tindakan (acting)adalah pembelajaran yang dilakukan peneliti sebagai


upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran.

3. Pengamatan (observing)adalah pengamatan terhadap siswa selama


pembelajaran berlangsung.

4. Refleksi (reflection)adalah kegiatan mengkaji dan mempertimbangkan


hasil yang diperoleh dari pengamatan sehingga dapat dilakukan revisi
terhadap proses belajar selanjutnya.

Keempat tahap tersebut dilakukan secara berulang dalam bentuksiklus, yang


dilakukan di dalam penelitian ini 2 siklus.

a) Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Perbaikan pembelajaran ini terdiri dari beberapa tahap pelaksanaan
tindakan.

1. Siklus I
1) Perencanaan Tindakan I
Dalam perencanaan siklus I peneliti dibantu oleh supervisor 2
dalam merumuskan masalah yang terjadi sebelum melakukan
perbaikan. Dalam perencanaan perbaikan peneliti merencanakan tindakan
metode ceramah pada pembelajaran agar siswa lebih mampu menguasai
materi Perubahan Wujud Benda.

51
Adapun kegiatan yang dilakukan yaitu:

1. Melakukan rencana perbaikan pembelajaran siklus I (terlampir).


2. Menyiapkan alat dan bahan untuk pemberian materi kepada siswa.
3. Menyiapkan lembar observasi.
4. Lembar evaluasi.
5. Menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).

2) Pelaksanaan Tindakan I
Tindakan yang dilakukan pada siklus I adalah meningkatkan
kemampuan siswa dalam menguasai materi tentang Perubahan Wujud
Benda dalam pembelajaran. Pada awal pertemuan guru mengucapkan
salam, mengabsen siswa, memotivasi siswa dan menjelaskan tujuan
pembelajaran pada materi ini. Setelah siswa mulai memperhatikan ke
depan, guru mulai menjelaskan materi. Guru dan siswa melakukan tanya
jawab mengenai Perubahan Wujud Benda. Guru meminta siswa
menyebutkan macam-macam Perubahan Wujud Benda.

Kemudian guru menjelaskan materi perubahan wujud benda. Untuk


memperluas pemahaman siswa guru meminta siswa menuliskan beberapa
contoh benda yang bisa mencair ketika dipanaskan. Setelah siswa menulis
beberapa contoh benda yang bisa mencair ketika dipanaskan, guru
mengajak siswa mengamati gambar proses perubahan wujud benda
mencair.

Diakhir pertemuan guru memberikan pemantapan materi dan


dilanjutkan evaluasi secara individu.

3) Observasi Tindakan I
Observasi dilakukan terhadap aktifitas belajar siswa dalam kelompok dan
kerja sama dalam kelompok pada waktu menyelesaikan LKPD.

52
4) Refleksi Tindakan I
Setelah dilaksanakan siklus I peneliti bersama-sama dengan supervisor 2,
observer melakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran siklus I. Hasil
refleksi dijadikan sebagai bahan masukan untuk perbaikan dalam siklus II.

2. Siklus II
a. Perencanaan Tindakan II
Dalam perencanaan siklus II peneliti akan memperbaiki kekurangan yang
terjadi di siklus I yaitu siswa belum menguasai materi Perubahan Wujud Benda.

Adapun kegiatan yang dilakukan yaitu:

1) Menyiapkan rencana perbaikan pembelajaran siklus II,


2) Menyiapkan sistematika laporan siklus II,
3) Menyiapkan alat dan bahan ( 4 gelas cangkir plastik transparan, es
batu, coklat, mentega dan kapur tulis) untuk percobaan,
4) Menyiapkan lembar observasi,
5) Lembar evaluasi, dan
6) Menyiapkan LKPD.

b. Pelaksanaan Tindakan II
Di awal pertemuan guru memotivasi siswa dengan menunjukan gambar percobaan
proses perubahan wujud benda mencair. Dalam tindakan siklus II ini guru
menggunakan langkah-langkah pembelajaran model pembelajaran inkuiri antara
lain;

1) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat

dicapai oleh siswa.

2) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa

untuk mencapai tujuan.


53
3) Menjelaskan kepada pentingnya topik dan kegiatan belajar.

Secara berkelompok siswa melakukan percobaan untuk mengetahui proses


perubahan wujud benda diluar kelas. Untuk membuktikan apa yang terjadi pada es
batu, coklat, mentega, dan kapur, guru meminta siswa melakukan percobaan
keluar kelas dengan memasukkan es batu, coklat, mentega dan kapur kedalam
masing-masing gelas plastik untuk membuktikan apa yang terjadi pada es batu,
coklat, mentega dan kapur jika diletakkan di ruang terbuka dalam waktu 15 menit.
Selanjutnya siswa diminta menyampaikan kedepan kelas hasil dari percobaan dan
pengamatan dari kelompok masing-masing.

Di akhir pertemuan guru memberi pemantapan. Setelah tidak ada


pertanyaan secara individu siswa mengerjakan soal evaluasi.

c. Observasi Tindakan II
Hal-hal yang menjadi bahan observasi meliputi aktifitas belajar siswa
dalam kelompok dan kerjasama pada waktu menyelesaikan LKPD.

d. Refleksi Tindakan II
- Refleksi dilakukan setelah selesai pembelajaran. Refleksi ini digunakan
sebagai bahan laporan penelitian perbaikan pembelajaran agar guru
mengetahui kelemahan dan kelebihan dalam mengajar.
- Untuk mempermudah kita dalam mencari solusi.
- Untuk meningkatkan cara melaksanakan suatu pelaksanaan pembelajaran
dari yang kurang baik menjadi lebih baik.
- Agar bisa mengatasi masalah yang dihadapi dalam melaksanakan suatu
pelaksanaan pembelajaran.
- Untuk mempermudah kita dalam memperbaiki kekurangan –kekurangan
sehingga pertemuan kedepannya bisa ditingkatkan lagi.

54
C. Subjek/ partisipan yang terlibat
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri 1 Pasirdurung pada
semester I tahun pelajaran 2019/2020, sebanyak 23 orang dengan jumlah laki-laki
11 orang dan perempuan 12 orang. Adapun tempat dan waktu pelaksanaan
kegiatan perbaikan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dilaksanakan di
tempat penulis bertugas, SD Negeri 1 Pasirdurung.

D. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dapat dilihat
adanya peningkatan nilai aktivitas belajar siswa setiap siklusnya. Hasil belajar
siswa dianggap tuntas apabila adanya peningkatan rata-rata nilai siswa setiap
siklusnya dan secara klasikal dianggap tuntas apabila mencapai ≥75% (kategori
tinggi) dari jumlah siswa seluruhnya mencapai KKM ≥65.

E. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan selama pelaksanaan tindakan kelas, yaitu
menggunakan teknik non tes dan teknik tes.
1. Teknik Non Tes
Teknik non tes dilakukan melalui observasi. Observasi dilakukan oleh peneliti
menggunakan lembar observasi kinerja guru dan lembar aktivitas belajar siswa
dengan cara memberikan tanda cek list (√) pada lembar observasi. Observasi
digunakan untuk mengetahui apakah dengan menggunakan metode discovery
pada materi perubahan wujud benda dapat meningkatkan kinerja guru dan
aktivitas belajar siswa.

2. Teknik Tes
Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data nilai-nilai siswa, guna
mengetahui hasil belajar siswa pada materi Perubahan Wujud Benda dengan
menggunakan motode discovery. Data diperoleh melalui tes hasil belajar
menggunakan soal berdasarkan tujuan pembelajaran dan materi yang telah
dipelajari.

55
F. Teknik Analisis Data
Dalam PTK sebenarnya memang kita tidak boleh membatasi siklus, karena
siklus hanya dapat dihentikan ketika kita memperoleh data yang sudah jenuh,
artinya sudah tidak ada lagi peningkatan yang signifikan/bermakna dari perlakuan
yang kita berikan terhadap objek/variabel yang menjadi target untuk ditingkatkan.
Pada penelitian ini, peneliti melakukan dalam 2 siklus, karena peneliti melihat
peningkatan prestasi peserta didik sudah memuaskan, menurut pertimbangan
peneliti tersebut.

Teknik analisis data dalam PTK sangat tergantung pada data yang
terkumpul. Seperti halnya penelitian jenis lain, data dalam PTK dapat
dikumpulkan dengan menggunakan berbagai instrumen penelitian (alat
monitoring), seperti: catatan harian, lapangan, berkala, lembar observasi, pedoman
wawancara, lembar angket/kuesioner, soal prestasi, lembar masukan peserta didik
(refleksi tindakan), tugas portofolio, dokumen, lembar penilaian unjuk kerja,
instrumen perekam gambar/suara (video), dan lain-lain. Semua instrumen tersebut
harus dipersiapkan secara baik dan matang sebelum kita mulai melakukan PTK.
Agar PTK yang kita lakukan bisa mencapai hasil yang maksimal, sesuai dengan
yang kita harapkan.

Analisis data bertujuan untuk memperoleh bukti kepastian apakah


perbaikan, peningkatan, dan atau perubahan sebagaimana yang diharapkan. Maka
dari itu sebelum menganalisis data diperlukan teknik analis data yang tepat. Oleh
karena itu ketika suatu PTK berhasil menunjukkan terjadinya perbaikan,
peningkatan, dan atau perubahan sebagaimana yang diharapkan, maka berarti
sekaligus peneliti (guru) telah berhasil menemukan model dan prosedur tindakan
yang memberikan jaminan terhadap upaya pemecahan masalah tersebut.

56
G. Rencana Jadwal Kegiatan

No Rencana Kegiatan Waktu (Minggu Ke)


Bulan September Bulan Nopember
1 2 3 4 1 2 3 4
1. Perencanaan
Menyusun konsep pelaksanaan X
Menyepakati jadwal dan tugas X
Menyusun Instrumen X
Seminar konsep pelaksanaan X
2 Tindakan
Menyiapkan keals dan alat X
Melakukan tindakan siklus I X
Melakukan tindakan siklus II X
Melakukan tindakan siklus III X
Menyusun Proposal
Latar Belakang X
Kajian Pustaka X
Metodelogi Penelitian X
Seminar Proposal

57
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Susanto. 2013. Teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar.

Kencana Prenadamedia Group: Jakarta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Rineka Cipta: Jakarta.

Djamarah, Bahri Syaiful dan Aswan Zain. (2010). Strategi Belajar Mengajar.

Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2009. Pendekatan Baru Strategi Mengajar Berdasarkan CBSA.


Bandung: Sinar Baru Algensido

K. N, Roestiyah, 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

M. A, Sardiman. 2011. Interaksi dan MotIII asi Belajar Siswa. Jakarta: Rajawali
Pers

Fisher, Alec. 2008 Berpikir Kritis. Jakarta: Erlangga

Heryana, Yana. 2010. Meningkatakan Hasil Belajar Siswa Pada Konsep


Perubahan Sifat Benda Melalui Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri di
Kelas V SDN Padamulya Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten
Sumedang”. Skripsi UPI:
http://yanaheryana.blogspot.com/2011/01/meningkatkan-hasil-belajar-siswa-
pada.html diakses tanggal 28 Juli 20013

L, Zulkifli. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset

58
Mendiknas. 2006. Peraturan Materi Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar
dan Menengah. Jakarta: Mendiknas

Mendiknas. 2007. Peraturan Materi Pendidikan Nasional Republik Indonesia


Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta:
Mendiknas

Nisa Dwi Isti, Sofiatun. 2008 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Pada Mata Pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam. UNS: http://anisasofiatundwiisti.blogspot.com diakses
tanggal 11 Juli 2013

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group

Sanjaya, Wina. 2011. Penelitian Tindikan Kelas. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group

Sapriati, Amalia, dkk. 2009. Pendidikan IPA di SD. Jakarta: UnIII ersitas Terbuka

Samatowa, Usman. 2010. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Indeks

Sitohang, Kasdin, dkk. 2012. Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis.


Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Sumantri, Mulyani dan Nana Syaodih. 2006. Materi Pokok Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta: UnIII ersitas Terbuka

Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja


Rosdakarya

59
Wahab Jufri, A. Belajar dan Pembelajaran Sains. 2012. Mataram: Pustaka Reka
Cipta

60
LAMPIRAN

61
Siklus 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)

Satuan Pendidikan : SDN PASIRDURUNG 1


Kelas / Semester : III B (Tiga) / 1
Tema 3 : Benda di Sekitarku
Sub Tema 3 : Perubahan Wujud Benda
Pembelajaran : 5
Alokasi Waktu : 1 Hari

A. KOMPETENSI INTI (KI)


KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar,
melihat, membaca dan menanya ) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu
tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda
yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain.
KI 4 : Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis, dan
logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak
sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan peri-laku anak beriman dan
berakhlak mulia

B. KOMPETENSI DASAR (KD)


Bahasa Indonesia
NO KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR
1 3.1 Menggali informasi tentang konsep perubahan wujud benda 3.1.1 Menemukan kata/istilah
dalam kehidupan sehari-hari yang disajikan dalam bentuk khusus berkaitan dengan
lisan, tulis, visual, dan/atau eksplorasi lingkungan. perubahan wujud .

2 4.1 Menyajikan hasil informasi tentang konsep perubahan wujud 4.1.1 Memahami konsep
benda dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk lisan, tulis, perubahan wujud.
dan visual menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif.
PPKn
NO KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR
1 1.3 Mensyukuri keberagaman karakteristik individu di 1.3.1 Memahami informasi tentang
lingkungan sekitar sebagai anugerah Tuhan Yang perubahan wujud.
Maha Esa.
2 2.3 Menampilkan kebersamaan dalam keberagaman 2.3.1 Mengerti daftar tugas individu
karakteristik individu di lingkungan sekitar. berdasarkan perannya masing-
masing dengan tepat.

3 3.3 Memahami makna keberagaman karakteristik 3.3.1 Menceritakan kembali pokok-pokok


individu dalam kehidupan sehari-hari. informasi tentang perubahan
wujud.
62
4 4.3 Menceritakan makna keberagaman karakteristik 4.3.1 Membuat daftar tugas individu
individu dalam kehidupan seharihari. berdasarkan perannya masing-
masing dengan tepat.

NO KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR


1 3.7 Mendeskripsikan dan menentukan hubungan antar 3.7.1 Memahami konversi satuan baku
satuan baku untuk panjang, berat, dan waktu yang dengan tepat.
umumnya digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
2 4.7 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan 4.7.1 Menyelesaikan masalah sehari-hari
hubungan antarsatuan baku untuk panjang, berat, yang terkait dengan konversi berat.
dan waktu yang umumnya digunakan dalam
kehidupan sehari-hari.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Dengan menyusun paragraf menjadi cerita yang runtut, siswa dapat menyusun
informasi tertulis tentang perubahan wujud dengan berurutan.
2. Dengan memasangkan kata dengan arti yang sesuai, siswa dapat menjelaskan
makna atau istilah yang sesuai yang berkaitan dengan perubahan wujud
dengan tepat.
3. Dengan melakukan diskusi dalam kelompok, siswa dapat membuat daftar
tugas individu berkaitan dengan perannya di sekolah dengan tepat.
4. Dengan menyimak penjelasan guru, siswa dapat memahami konversi satuan
baku dengan tepat.
5. Dengan menyelesaikan soal cerita, siswa dapat menyelesaikan masalah sehari-
hari yang terkait dengan konversi berat.

 Karakter siswa yang diharapkan : Religius


Nasionalis
Mandiri
Gotong Royong
Integritas

E. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pendahuluan  Guru menyapa siswa, menanyakan kabar, dan mengecek kehadiran 10 menit
siswa.
 Siswa berdoa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaan
masing-masing dipimpin oleh salah satu siswa. Religius
 Menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama-sama. dilanjutkan lagu
Nasional “Maju Tak Gentar”. Nasionalis
 Pembiasaan Membaca 15 menit. Literasi
 Guru membuka dengan pertanyaan: Pernahkah anak-anak melihat
kapur, tapi bukan kapur untuk papan tulis? Bisa menyerap bau dan
lama kelamaan bisa menghilang?
 Siswa memberikan jawabannya, beri kesempatan siswa untuk hanya
menjawab satu kali dan memberi kesempatan kepada seluruh siswa.
63
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Inti  Guru menunjukkan contoh kapur barus dan siswa mengamati kapur 150 menit
barus tersebut. Tanyakan apakah siswa pernah melihat kapur barus
ini sebelumnya? Creativity and Innovation
 Apa fungsi dari kapur barus. (Alternatif Jawaban: kapur barus
berfungsi untuk mengharumkan ruangan, kapur barus umumnya
diletakkan di lemari pakaian atau kamar mandi.)

 Siswa menyimak penjelasan guru, tugas selanjutnya adalah


menyusun kalimat menjadi sebuah cerita. Nomor satu telah diberikan.
Siswa melanjutan nomor berikutnya. Communication
 Berikut adalah nomor urut yang tepat:

 Setelah mengurutkan perwakilan siswa membaca nyaring urutan


yang sudah siswa buat, sekaligus memeriksa urutan yang dibuat.
 Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang
materi tersebut.
 Selanjutnya siswa menyimak penjelasan guru tentang menyublim.

 Siswa memberikan contoh lain dari menyublim yang ia ketahui.


 Kegiatan selanjutnya siswa menyebutkan kembali perubahan wujud
yang telah ia pelajari.
 Siswa menghubungkan kata dengan arti yang sesuai.
 Setelah bersama memeriksa hasil pekerjaan bersama-sama. Gotong
Royong
 Siswa memerhatikan wacana tentang menghablur dan mengkristral.
Siswa membaca dengan saksama.
 Perwakilan siswa diminta memberikan pernyataan satu kalimat

64
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
tentang apa yang dipahaminya dari bacaan tersebut.

 Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya. Bagi siswa


yang bias menjawab diberikan kesempatan untuk menjawab.
Communication

 Guru kembali mengulangi istilah perubahan wujud yang telah


dipelajari seperti berikut.
- Mencair adalah perubahan wujud padat menjadi cair.
- Membeku adalah perubahan wujud cair menjadi padat.
- Menguap adalah perubahan wujud cair menjadi gas.
- Menyublim adalah perubahan wujud padat menjadi gas.
- Mengembun verubahan wujud gas menjadi cair.
- Mengkristal adalah perubahan wujud gas menjadi padat.
 Selanjutnya guru mengajak siswa untuk mensyukuri perubahan yang
ada di alam, bagaimana alam dengan perubahannya membuat
kehidupan di bumi seimbang.
 Kegiatan selanjutnya adalah persiapan untuk mengerjakan proyek
diakhir pembelajaran.
 Guru menginformasikan bahwa kegiatan selanjutnya adalah
merencanakan proyek untuk akhir pembelajaran.

 Siswa dibagi ke dalam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5


orang. Collaboration
 Secara berkelompok, siswa berdiskusi dan menentukan jenis
makanan yang akan mereka masak dan menuliskannya di Buku
Siswa. Communication

 Setelah itu mereka membagi tugas setiap kelompok.


 Siswa menuliskan tugas setiap anggota kelompok di Buku Siswa.
 Siswa mencari tahu bahan yang akan digunakan, cara memasak, dan
perubahan wujud yang terjadi.
 Di rumah siswa mencari gambar makanan yang dimaksud atau
memfotonya.
65
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
 Tugas tersebut disalin kembali di kertas dan diberi hiasan.
 Kegiatan selanjutnya siswa diperkenalkan dengan es kering.
Peristiwa menyublim juga terjadi pada es kering. Jika es kering
diletakkan di udara terbuka, lama-kelamaan es kering akan berubah
wujud menjadi gas. Es kering adalah CO2 yang dibekukan. Es kering
bisa berfungsi sebagai pendingin. (Akan lebih baik jika guru dapat
menunjukkan wujud es kering kepada siswa.) Critical Thinking and
Problem Solving

 Siswa menyimak cerita guru tentang es kering.

 Siswa memberikan pendapatnya untuk menyelesaikan soal tersebut.


 Siswa menyimak penjelasan guru tentang bagaimana penyelesaian
dari tema tersebut.
- Berat awal adalah 1 kg
- Berat akhir setelah 3 jam adalah 400 gram
- Langkah 1.
Samakan satuan berat 1 kg = 1000 gram
- Langkah 2.
Hal yang ditanya adalah berapa es kering yang telah berubah
menjadi gas.
Maka, lakukan operasi pengurangan:
1 kg – 400 gram = 1000 gram – 400 gram
= 600 gram
 Guru mengingatkan siswa untuk mengubah satuan terlebih dahulu
jika dalam operasi perhitungan ditemukan satuan yang berbeda.
 Guru memberikan contoh soal lain yang siswa kerjakan.
 Contoh soal yang diberikan adalah sebagai berikut:
- Siti membeli buah jeruk sebanyak 2 kg, 500 gram diberikan
kepada Edo.
- Berapa Jeruk yang masih dimiliki oleh Siti?
- Ibu membeli gula sebanyak 3,5 kg, setelah itu ibu membeli lagi
750 gram untuk persiapan. Berapa jumlah gula yang dimiliki ibu
sekarang?
 Kegiatan dilanjutkan dengan menyelesaikan soal konversi kilogram
ke gram.
66
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
 Siswa memasangkan satuan kilogram ke satuan gram yang sesuai.
 Setelah itu siswa menyelesaikan soal cerita yang ada di Buku Guru:
a. Untuk membuat kue tart cokelat, ibu Dayu membeli 2 kg 500
gram cokelat.
Cokelat yang dicairkan sebanyak 1 kg 200 gram. Berapa sisa
cokelat yang belum dicairkan?
Berat cokelat diawal
2 kg 500 gram = 2000 gram + 500 gram
= 2500 gram
Berat cokelat yang dicairkan
1 kg 200 gram = 1000 gram + 200 gram
= 1200 gram
Banyak cokelat yang tersisa = 2500 gram – 1200 gram = 1300
gram
b. Untuk membuat ikan tetap segar, nelayan membutuhkan 750 kg
es kering setiap harinya. Berapa kilogram es kering yang
dibutuhkan dalam seminggu?
Es yang dibutuhkan setiap hari 750 kg
Es yang dibutuhkan selama seminggu (7 hari) 7 x 750 kg = 5250
gram
c. Ibu Dayu membeli tepung terigu sebanyak 2 kg. Persediaan
tepung terigu di rumah ada sebanyak 550 gram. Berapa gram
jumlah seluruh tepung terigu Ibu Dayu sekarang?
Banyak tepung terigu Ibu Dayu 2 kg
Persediaan tepung di rumah 550 gram
Jumlah seluruh tepung terigu 2 kg + 550 gram = 2000 gram +
550 gram
= 2550 gram
d. Siti membeli 4 kg cokelat, kemudian cokelat itu dicairkan.
Cokelat cair itu dibagi ke dalam bungkus lebih kecil yang
memuat 500 gram cokelat. Berapa bungkus yang dihasilkan dari
4 kg cokelat itu?
Berat cokelat: 4 kg = 4000 gram
Cokelat dibagi ke bungkus kecil, setiap bungkus 500 gram.
Banyak bungkus yang dihasilkan = 4000 gram : 500 gram = 8
bungkus
e. Berat kemasan A yang berisi kapur barus seberat 1 kg 200 gram.
Berat kemasan B lebih ringan 400 gram dari kemasan A. Berapa
berat kapur barus pada kemasan B?
Berat kemasan A = 1 kg 200 gram = 1000 gram + 200 gram =
1200 gram
Kemasan B lebih ringan 400 gram dari dari kemasan A.
Kemasan B = 1200 gram – 400 gram = 800 gram
 Setelah siswa menyelesaikan soal, penyelesaian soal dibahas satu per
satu.

Penutup  Setelah itu kegiatan diakhiri dengan mengucapkan syukur atas segala 15 menit
nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
67
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
 Siswa diminta untuk merefleksi apa yang sudah dipelajari kesulitan
apa yang dihadapi, guru mencatat masukan dari siswa.
 Siswa menyebutkan contoh menyublim dan menghablur yang ia
ketahui.
 Menyanyikan lagu daerah “Kicir-Kicir”
 Kegiatan kelas diakhiri dengan doa bersama sesuai dengan agama
dan kepercayaan masing-masing oleh petugas. Religius

E. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN


 Buku Pedoman Guru Tema : Benda di Sekitarku Kelas III (Buku Tematik
Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
2018).
 Buku Siswa Tema : Benda di Sekitarku Kelas III (Buku Tematik Terpadu
Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018).
 Kapur barus

Mengetahui Sindangresmi , ............................20.....


Kepala SDN Pasirdurung 1 Guru Kelas III

EUIS SUHAYATI,S.Pd SD UMA FARIDA


NIP. 1966090119922001 NIP. 19850629201472001

Lampiran 1
F. MATERI PEMBELAJARAN
 Menyusun paragraf menjadi cerita yang berurutan.
 Memasangkan kata dengan arti yang sesuai.
 Diskusi pembagian peran dalam kelompok.
 Mengamati contoh soal konversi.
 Menyelesaikan soal cerita.

G. METODE PEMBELAJARAN
 Pendekatan : Saintifik
 Metode : Permainan/simulasi, diskusi, tanya jawab, penugasan dan
ceramah

68
Lampiran 2
H. PENILAIAN
Penilaian Sikap
Perubanan tingkah laku
Tanggung
Santun Peduli
No Nama Jawab
K C B SB K C B SB K C B SB
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 ...................
2 ...................
3 ……………..
4 ……………..
5 ……………..
Dst ……………..
Keterangan:
K (Kurang) : 1, C (Cukup) : 2, B (Baik) : 3, SB (Sangat Baik) : 4

Penilaian Pengetahuan
Menyusun paragraf menjadi susunan cerita yang urut.
Memasangkan kata dengan arti yang sesuai.
Menyelesaikan soal latihan satuan berat

Penilaian Keterampilan
1. Rubrik melaksanakan Peran dalam kelompok.

69
SILABUS

TAHUN PELAJARAN 2019 / 2020

Nama Sekolah : SDN PASIRDURUNG1

Kelas / Semester : III / 1

Tema 3 : Benda di Sekitarku

Sub Tema 3 : Perubahan Wujud Benda

PB : 1

KOMPETENSI INTI (KI)


KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang
dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati
(mendengar, melihat, membaca dan menanya ) dan menanya
berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan
dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah,
sekolah, dan tempat bermain.
KI 4 : Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis,
dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan
peri-laku anak beriman dan berakhlak mulia

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

SUB TEMA 3 PB 1
Bahasa Indonesia

70
3.1 Menggali informasi Perubahan wujud benda  Membaca wacana di
tentang konsep
Buku Siswa.
perubahan wujud
benda dalam  Menjawab pertanyaan
kehidupan sehari- yang ada di Buku
hari yang disajikan Siswa Selanjutnya
dalam bentuk lisan,
siswa menyimak
tulis, visual,
dan/atau eksplorasi pertanyan guru,
lingkungan. apakah semua benda
padat akan mencair?
Apakah semua benda
padat mencair pada
suhu yang sama?
Bagimana
membuktikannya?
 Melakukan percobaan
yang ada di Buku
Siswa. CreatIII ity
and Innovation

Mengetahui Sindangresmi ,
Kepala SDN Pasirdurung 1 ............................20.....
Guru Kelas III

EUIS SUHAYATI,S.Pd SD
NIP. 1966090119922001 UMA FARIDA
NIP. 19850629201472001

71
Siklus II

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)

Satuan Pendidikan : SDN PASIRDURUNG 1


Kelas / Semester : III (Tiga) / 1
Tema 3 : Benda di Sekitarku
Sub Tema 3 : Perubahan Wujud Benda
Pembelajaran : 1
Alokasi Waktu : 2 x 35 Menit

A. KOMPETENSI INTI (KI)


KI 1 : Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang
dianutnya.
KI 2 : Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati
(mendengar, melihat, membaca dan menanya ) dan menanya
berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan
dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah,
sekolah, dan tempat bermain.
KI 4 : Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis,
dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan
peri-laku anak beriman dan berakhlak mulia

B. KOMPETENSI DASAR (KD)


Bahasa Indonesia

NO KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR

1 3.1 Menggali informasi 3.1.1 Membaca wacana


tentang konsep tentang perubahan
perubahan wujud wujud benda

72
benda dalam mencair
kehidupan sehari-hari 3.1.2 Mengidentifikasi
yang disajikan dalam informasi yang
bentuk lisan, tulis, terkait dengan
visual, dan/atau perubahan wujud
eksplorasi lingkungan. mencair.

3.1.3 Siswa melakukan


percobaan kedepan
kelas untuk
mempraktekkan
perubahan wujud
benda.
2 4.1 Menyajikan hasil 4.1.1 Melakukan
informasi tentang percobaan
konsep perubahan 4.1.2 Menuliskan
wujud benda dalam informasi
kehidupan sehari-hari perubahan wujud
dalam bentuk lisan, sesuai dengan hasil
tulis, dan visual percobaan.
menggunakan
kosakata baku dan
kalimat efektif.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Dengan membaca wacana tentang perubahan wujud benda mencair,
siswa dapat mengidentifikasi informasi yang terkait dengan perubahan
wujud mencair dengan tepat.
2. Dengan melakukan percobaan, siswa dapat menuliskan informasi
perubahan wujud sesuai dengan hasil percobaan.

D. MATERI PEMBELAJARAN
• wacana.
• Melakukan percobaan tentang perubahan wujud mencair.

E. METODE PEMBELAJARAN
73
 Pendekatan : Saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi / mencoba, mengasosiasi / mengolah
informasi, dan mengkomunikasikan)
 Metode : discovery (penemuan), diskusi, tanya jawab,
penugasan dan ceramah

F. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN


 Buku Pedoman Guru Tema : Benda di Sekitarku Kelas III (Buku
Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, 2018).
 Buku Siswa Tema : Benda di Sekitarku Kelas III (Buku Tematik
Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2018).
 Benda-benda di sekitar lingkungan kelas.
 Gelas plastik bekas minuman mineral 4 buah.
 Es Batu, cokelat, kapur dan mentega.

G KEGIATAN PEMBELAJARAN
Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pendahuluan  Guru menyapa siswa, menanyakan 10 menit
kabar, dan mengecek kehadiran siswa.
 Siswa berdoa bersama sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing
dipimpin oleh salah satu siswa. Religius
 Menyanyikan lagu “Indonesia Raya”
bersama-sama. dilanjutkan lagu
Nasional “Bagimu Negeri”. Nasionalis
 Pembiasaan Membaca 15 menit.
Literasi
 Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran.
 Guru membuka pelajaran dengan
membawa satu gelas air es, guru
melontarkan pertanyaan apakah es akan
selalu bertahan di dalam gelas.
74
 Siswa memberikan pendapatnya
terhadap hal tersebut. Bagaimana jika es
dibiarkan diletakkan di ruangan, apa
yang akan terjadi? Communication

Inti  Siswa membentuk kelompok yang terdiri 50 menit


dari 3-4 orang. Siswa terlebih dahulu
membaca pengarahan di Buku Siswa.
 Siswa membaca wacana di Buku Siswa.
 Kemudian siswa diberikan kesempatan
untuk bertanya. Communication
 Siswa menjawab pertanyaan yang ada di
Buku Siswa Selanjutnya siswa
menyimak pertanyan guru, apakah
semua benda padat akan mencair?
Apakah semua benda padat mencair
pada suhu yang sama? Bagimana
membuktikannya?
 Siswa melakukan percobaan yang ada di
Buku Siswa. CreatIII ity and
Innovation dan Mencoba
 Sebelumnya siswa ditugaskan untuk
maju kedepan membawa benda-benda
yang digunakan pada percobaan.
 Siswa mengikuti instruksi di buku,
biarkan siswa melakukan pengamatan.
 Setelah itu siswa menuliskan hasil
pengamatan di Buku Siswa. Mengamati
 Siswa membuat kesimpulan, apakah
semua benda padat dapat mencair dalam
waktu yang bersamaan? Critical
Thinking and Problem Solving
 Siswa menyampaikan hasil percobaan di
depan kelas. Siswa memberikan
kesimpulan. Mengasosiasi
 Siswa membaca informasi di Buku
Siswa tentang perbedaan titik leleh

75
setiap benda.
 Siswa menghubungkan informasi yang
diperoleh dengan hasil percobaannya.
 .

Penutup  Kegiatan diakhiri dengan 10 menit


menyimpulkan materi yang dipelajari
bersama-sama dengan siswa.
 Menyanyikan lagu daerah “Ampar-
Ampar Pisang”
 Kegiatan ditutup dengan membaca doa
penutup sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing.
Religius

H. PENILAIAN PEMBELAJARAN
1.Penilaian diri aspek sikap sosial
Rubrik Penilaian : Sikap Sosial

KRITERIA BAIK BAIK CUKUP KURANG


SEKALI 3 2 1
4
JUJUR Tindakan Tindakan Tindakan Tindakan tidak
selalu sesuai kadang- kurang sesuai dengan
dengan kadang sesuai ucapan
ucapan sesuai dengan
dengan ucapan
ucapan
TANGGUNG Tertib Tertib Kurang tertib Tidak tertib dan
JAWAB mengikuti mengikuti mengikuti dan tidak
instruksi dan instruksi instruksi , menyelesaikan
selesai tepat dan selesai selesai tidak tugas.
waktu. tidak tepat tepat waktu.
waktu.
PEDULI Selalu care/ Sering care/ Kadang- Belum/tidak
empati empati kadang care/ care/ empati
dengan dengan empati dengan
lingkungan lingkungan dengan lingkungan
sekitar dan sekitar dan lingkungan sekitar dan
temannya. temannya. sekitar dan temannya.
76
temannya.
PERCAYA Tidak terlihat Terlihat Memerlukan Belum
DIRI ragu-ragu ragu-ragu bantuan guru menunjukkan
kepercayaan
diri

Lembar Jurnal Hasil Observasi Sikap Sosial

Nama Tanggung Percaya


No. Jujur Peduli
Siswa Jawab Diri

1 S-1

2 S-2

3 S-3
S-4
4
S-5
5
S-6
6
S-7
7
S-8
8

2. Penilaian Pengetahuan
PEDOMAN PENSKORAN

ASPEK KOGNITIF

JUMLAH SOAL = 10

PENSKORAN = JUMLAH BENAR X 100


JUMLAH SOAL

= 10 X 100 = 100
10

77
3. Penilaian Keterampilan
Kegiatan menampilkan hasil pengamatan

Kesesuaian Penggunaan Partisipasi dalam


No Nama
langkah kerja kalimat yang kelompok.
dengan efektif dalam
Membuat
instruksi.
melaporkan
pengamatan
dan kesimpulan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 S-1

2 S-2

3 S-3
S-4
4
S-5
5
S-6
6
S-7
7
S-8
8

Rubrik menuliskan hasil pengamatan.

No. Baik Sekali Baik Cukup Kurang


Kriteria
(4) (3) (2) (1)
1. Kesesuaian Mengikuti Terdapat 1- Terdapat lebih Tidak
langkah semua 2 kesalahan dari 2 satupun
kerja dengan instruksi dalam kesalahan instruksi
instruksi. dengan memahami dalam yang
benar. instruksi. memahami dilakukan
instruksi. dengan
benar.
2. Penggunaan Seluruh Terdapat 1- Terdapat lebih Seluruh
kalimat yang kalimat 2 kalimat dari 2 kalimat kalimat

78
efektif menggunakan Mengguna menggunakan menggunak
dalam kalimat yang kan kali mat kalimat yang an kalimat
Membuat efektif. yang kurang kurang yang
me laporkan efektif. efektif. belum
pengamatan efektif.
dan
kesimpulan.
3. Partisipasi Siswa aktif Siswa hanya Kurang dari Tidak ada
dalam dalam setengah setengah aktIII itas
kelompok. kelompok atau lebih aktIII itas yang
secara mengikuti diikuti siswa diikuti oleh
mandiri kegiatan secara siswa
kelompok mandiri. secara
secara mandiri.
mandiri.

79
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

( LKPD )

Satuan Pendidikan : SDN Pasirdurung 1

Kelas / Semester : 3 /1

Tema : 3.Benda di Sekitarku

Sub Tema : 3.Perubahan Wujud Benda

Pembelajaran ke : 1

MAPEL : IPA

NO KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR

1 3.1 Menggali informasi tentang 3.1.1 Membaca wacana tentang


konsep perubahan wujud benda perubahan wujud benda
dalam kehidupan sehari-hari mencair
yang disajikan dalam bentuk 3.1.2 Mengidentifikasi informasi
lisan, tulis, visual, dan/atau yang terkait dengan
eksplorasi lingkungan. perubahan wujud mencair.
2 4.1 Menyajikan hasil informasi 4.1.1 Melakukan percobaan
tentang konsep perubahan wujud 4.1.2 Menuliskan informasi
benda dalam kehidupan sehari- perubahan wujud sesuai
hari dalam bentuk lisan, tulis, dengan hasil percobaan.
dan visual menggunakan
kosakata baku dan kalimat
efektif.

80
TUJUAN :

1.Dengan membaca wacana tentang perubahan wujud benda mencair, siswa dapat
mengidentifikasi informasi yang terkait dengan perubahan wujud mencair dengan
tepat.

2.Dengan melakukan percobaan, siswa dapat menuliskan informasi perubahan


wujud sesuai dengan hasil percobaan.

MATERI : Perubahan Wujud Benda

Macam-macam perubahan wujud benda dan contohnya.

1. Mencair ( melebur) adalah perubahan wujud zat padat menjadi zat cair.
Contohnya : es batu atau es krim dibiarkan di udara terbuka jadi meleleh.

2. Membeku adalah perubahan wujud zat cair menjadi zat padat.


Contohnya: air dimasukkan kedalam freezer jadi membeku dan menjadi es
batu.

3. Menguap adalah perubahan wujud dari zat cair menjadi gas.


Contohnya: air pada panci dipanaskan terus menerus lama-lama mendidih
dan akhirnya menguap.

4. Mengembun adalah perubahan wujud dari gas menjadi zat cair.


Contohnya: pada pagi hari, rumput dilapangan terasa basah, padahal sore
harinya tidak hujan.

5. Mengkristal (deposisi) adalah perubahan wujud dari gas menjadi padat.


Contohnya: proses terbentuknya butiran es salju dari uap air di awan. Jika
awan bergerak ke daerah pegunungan tinggi atau daerah yang suhunya
rendah, maka uap air bukan menjadi tetesan hujan, malah menjadi butiran
es salju.

6. Menyublim adalah perubahan wujud dari zat padat menjadi gas.


Contohnya: kapur barus di dalam lemari semakin lama ukurannya
menjadi semakin kecil.

CARA KERJA :

81
Secara berkelompok siswa memperhatikan instruksi langkah-langkah percobaan.
Siswa diminta mengamati percobaan perubahan wujud benada serta siswa
memaparkan hasil pengamamatan.
Gambar Alat dan bahan untuk percobaan.

GAMBAR PERCOBAAN PERUBAHAN BENTUK BENDA

82
NILAI
Kelompok:

Nama siswa : 1.
2.
3.
4.

1.Apakah yang dimaksud mencair?

2. Berikan contoh proses mencair dalam kehidupan sehari - hari !

Paraf Orang Tua

83
84