Anda di halaman 1dari 14

Farmaka

Volume 14 Nomor 3 95

REVIEW: DISINTEGRAN DAPAT MENINGKATKAN KINERJA TABLET


ORODISPERSIBEL (ODT) SEBAGAI NEW DRUG DELIVERY SYSTEM (NDDS)

Resa Handayani, Marline Abdasah


Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung-Sumedang KM 21 Jatinangor, Sumedang 45363
email:resahandayani15@gmail.com

ABSTRAK

Untuk mencegah disfagia dan meningkatkan kepatuhan pasien, tablet orodispersibel (ODT)
diperkenalkan sebagai Drug Delivery System (DDS) oral yang dikembangkan dengan
penambahan disintegran untuk memberikan efek disintegrasi ketika kontak dengan sekresi air
liur di mulut. Pada review kali ini dibahas tentang pengaruh perbedaan disintegran yang
ditambahkan pada formulasi beberapa obat terhadap kinerja ODT dengan mengukur waktu
hancur dengan disintegration tester dan laju disolusinya dengan dissolution tester. Hasilnya
adalah disintegran yang berbeda dapat meningkatkan waktu hancur dan laju disolusi tablet
ODT. Hal ini dipengaruhi oleh mekanisme kerja dari tiap disintegran, sifat fisikokimia zat
aktif dan kompatibilitas dengan eksipien lainnya.

Kata Kunci: ODT, NDDS Oral, disintegran, waktu hancur, laju disolusi

ABSTRACT

To prevent dysphagia and improve patient adherence, orodispersibel tablet (ODT) was
introduced as a Drug Delivery System (DDS) Oral developed with the addition of disintegrant
to give the effect of disintegrating upon contact with the secretion of saliva in the mouth. In
this review are discussed about the effects of different disintegrant are added to the
formulation of some drugs against ODT performance by measuring the time destroyed by
disintegration tester and the rate of dissolution with the dissolution tester. The result is a
different disintegrant can increase disintegration time and dissolution rate ODT tablets. This
is influenced by the mechanism of action of each disintegrant, the physicochemical properties
of the active substance and compatibility with other excipients.

Keywords:ODT, NDDS Oral, disintegrant, disintegration time, dissolution rate

Pendahuluan namun tablet dan kapsul memiliki

Pemberian obat yang diberikan kelemahan umum yaitu bagi individu yang

secara oral masih dianggap sebagai sistem memiliki kesulitan dalam menelan

standar dalam bidang farmasi dan masih menyebabkan kurangnya kepatuhan

dianggap paling aman, metode yang khususnya pasien geriatri (Hannan et

mudah dan metode adminsitrasi ekonomis al.,2016). Telah dilaporkan bahwa disfagia

yang memberikan rute terbaik untuk (kesulitan menelan) di antara semua

kepatuhan pasien (Parul et al., 2012), kelompok usia dan lebih spesifik pada
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 96

anak, populasi geriatri dan pasien dengan tanpa bantuan air (Battu et al., 2007;

komplikasi mual, muntah, dan mabuk Bhardwa et al., 2010). Hal ini

(Priyanka dan Vandana, 2013). menguntukan dalam kondisi seperti di

Pemberian obat oral konvensional mana air tidak tersedia, atau dilarang

hadir dengan pelepasan cepat yang dapat minum seperti sebelum operasi, di

hilang seperti tanpa menghasilkan efek kinetosis, saat batuk karena stimulasi

yang diinginkan karena keberadaan neurologis atau infeksi dada. Metode yang

makanan, pH lambung, degradasi berbeda untuk memproduksi tablet

enzimatik, perubahan motilitas GIT dan orodispersibel dengan tujuan memberikan

sebagainya, memberikan tidak cukup disintegrasi cepat untuk bentuk sediaan

waktu untuk diserap (Hannan et al.,2016; karena adanya kontak dengan air liur

Reddy et al., 2010). Sekarang ini banyak dengan perasaan menyenangkan (Bhardwa

cara untuk merancang sistem penghantaran et al., 2010). ODT juga disebut sebagai

obat dan penerimaan pasien maksimum tablet larut mulut, meleleh dalam mulut,

dalam pediatri dan kelompok geriatri melarutkan cepat, cepat mencair atau tablet

(Hannan et al.,2016). Banyak karya berpori (Parul et al., 2012; Hannan et

inovatif yang dilakukan pada pemberian al.,2016).

obat oral lebih disukai karena kemudahan Waktu terbaik untuk tablet

administrasi, biaya terapi efektif, orodispersible terdispers adalah kurang

pengobatan diri dan metode non-invasif dari satu menit. Sebagian besar waktu

menyebabkan kepatuhan pasien disintegrasi bervariasi dari 5 sampai 30

meningkat. detik (Hannan et al.,2016). Berbagai teknik

Untuk mencegah disfagia dan yang digunakan dalam penyusunan tablet

meningkatkan kepatuhan pasien, tablet orodispersibel adalah teknik molding,

orodispersibel (ODT) diperkenalkan kompresi langsung, liofilisasi, granulasi

sebagai Drug Delivery System (DDS) oral, basah, ekstrusi masa (Hannan et al.,2016;

yang dirancang untuk hancur di mulut Hari et al., 2012). Dalam review kali ini,
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 97

dibahas metode granulasi basah adalah Pada beberapa hasil penelitian

proses yang membantu dalam mengurangi dilakukan pembuatan tablet dari beberapa

masalah kompresibilitas dan daya alir zat aktif (olopatadin HCl, parasetamol,

dalam formulasi (Hari et al., 2012). cetirizin, karbamazepin, natrium

ODT dikembangkan dengan diklofenak, dan glimepirid) dengan metode

penambahan disintegran untuk granulasi basah dan kemudian di evaluasi

memberikan efek disintegrasi ketika hasilnya untuk melihat pengaruh

kontak dengan air atau sekresi air liur. Di penambahan disintegran yang berbeda baik

antara eksipien tablet, disintegran sering secara intragranular, ekstragranular atau

dianggap sebagai yang paling penting intra dan ekstragranular pada tiap

karena dapat menentukan pemecahan dari formulasi terhadap waktu hancur dan profil

bentuk sediaan menjadi fragmen kecil pada disolusi secara in vitro.

saat absorpsi dan memungkinkan Metode granulasi basah adalah

terjadinya disolusi obat (Bhardwa et al., metode pembuatan tablet yang membentuk

2010). Penggunaan berbagai pengikat dan butiran dengan mengikat serbuk dengan

super dapat mempengaruhi waktu hancur perekat, bukan oleh pemadatan. Teknik ini

dan laju disolusi (pelepasan obat) (Hari et menggunakan larutan, suspensi, atau bubur

al., 2012). yang mengandung pengikat, yang biasanya

Oleh karena itu, pada review kali ditambahkan ke dalam campuran serbuk.

ini akan dibahas tentang pengaruh Setelah proses ini selesai, massa basah

perbedaan disintegran yang ditambahkan digiling dan dikeringkan untuk

pada formulasi beberapa obat terhadap menghasilkan butiran. Massa basah

kinerja dari tablet orodispersibel (ODT) biasanya dikeringkan selama 8-24 jam.

sebagai New Drugs Delivery System Butiran yang dihasilkan kemudian

(NDDS) dengan melihat parameter waktu dicampur dengan bahan pengisi tambahan

hancur dan laju disolusinya. ke dalam tablet sebelum dikompres

Diskusi (Priyanka dan Vandana, 2013).


Farmaka
Volume 14 Nomor 3 98

Mode penambahan disintegran ada ekstragranular memecah tablet menjadi

3, yaitu secara intragranular (IG), butiran dan butiran hancur oleh sebagian

ekstragranular (EG) atau penggabungan intragranular untuk melepaskan zat obat

keduanya (IG/EG) (Sekar and Chellan, dalam larutan (Priyanka dan Vandana,

2008). Intragranular yaitu dalam metode 2013).

granulasi basah, disintegran yang Evaluasi kinerja tablet, yaitu

ditambahkan ke eksipien lain sebelum mengukur waktu hancur dan laju disolusi

membasahi serbuk dengan cairan in vitro. Uji waktu hancur pada tiap

granulasi. Dengan demikian, disintegran penelitian menggunakan disintegration

tergabung dalam butiran. Ekstragranular tester dengan cara 6 tablet diukur waktu

umumnya dilakukan sebelum kompresi. hancurnya dalam 900 mL aquades 37oC.

Dalam metode granulasi basah disintegran Uji disolusi pada tiap penelitian dilakukan

ditambahkan ke butiran kering selama secara in vitro menggunakan dissolution

pencampuran dan sebelum dikompers. tester dengan metode berdasarkan

Intra dan Ekstragranular juga disebut ketentuan yang tercantum dalam United

sebagai pencampuran internal dan State Pharmacopeia (USP) baik tipe I

eksternal disintegran. Dalam hal ini bagian (metode keranjang) atau tipe II (metode

dari disintegran ditambahkan ke dayung) dengan medium tertenu.

intragranules dan bagian untuk Kemudian dibuat grafik profil disolusi

ekstragranul. Disintegran dibagi menjadi antara interval waktu terhadap % disolusi

dua bagian. Satu porsi ditambahkan zat aktif. Untuk menentukan % disolusi

sebelum pembentukan granul (intra) dan dengan cara menghitung konsentrasi

sisanya sebagian ditambahkan ke butiran pelepasan zat aktif dengan memasukkan

(tambahan) dengan pencampuran sebelum nilai absorbansi 5 sampel pada tiap interval

kompresi. Metode ini dapat lebih efektif. waktu 0, 5, 10, 15, 30, 45 dan 60 menit

Jika kedua metode intragranular dan yang diukur dengan spektrofotometer UV

ekstragranular digunakan, sebagian pada panjang gelombang maksimum zat


Farmaka
Volume 14 Nomor 3 99

aktif tersebut pada persamaan garis linier Setiap formula tablet dengan

kurva baku dan dibandingkan konsentrasi disintegran yang berbeda memiliki waktu

awal (Hari et al., 2012; Rajendran et al., hancur dan profil disolusi yang berbeda.

2011; Veerreddy et al., 2012; Rahman et al., Hal ini dapat ditunjukkan dengan data

2011; Preetha et al., 2008). sebagai berikut.

Tabel 1. Hasil evaluasi waktu hancur dan uji disolusi in vitro tiap tablet

Evaluasi
Mode
Waktu Uji disolusi
Zat aktif Disintegran Penambaha Sumber
hancur in vitro
n
(menit) (menit/%)
SSG IG/EG 0,47 60/98.92
Rajendran et
CCS IG/EG 0,49 60/98.47
Olopatadin HCl al., 2011
CP IG/EG 0,89 45/99.35
Pati sitrat IG 1,30
Veerreddy et al.,
Parasetamol pati fosfat IG 1,13 Gambar 2a
2012
SSG IG 1,09
CP IG 4.07 19.430/80
EG 3.93 18.647/80
IG 5.9 58.447/80 Rahman et al.,
Parasetamol SSG
EG 6.2 47.424/80 2011
IG 12.11 74.041/80
Na CMC
EG 10.22 72.492/80
EG 4,8
CCS
IG 6
EG/IG 5,2
EG 4,2
SSG
IG 4,8
EG/IG 4,3 Preetha et al.,
Parasetamol Gambar 2c
EG 3,6 2008
PolyplasdonXL IG 3,9
EG/IG 3,4
EG 3,2
Polyplasdon XL-
IG 4,1
10
EG/IG 3,6
Pati sitrat IG 0,58
Veerreddy et al.,
Cetirizin pati fosfat IG 0,55 Gambar 3a
2012
SSG IG 0,37
EG 5,5
CCS IG 6,5
EG/IG 6,2
EG 5,4
SSG
IG 5,2
Preetha et al.,
Cetirizin EG/IG 6,1 Gambar 3b
2008
Polyplasdon XL EG 3,9
IG 3,4
EG/IG 3,8
Polyplasdon XL- EG 4,6
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 100

10 IG 4,9
EG/IG 5,2
Pati sitrat IG 1,38
Natrium Veerreddy et al.,
pati fosfat IG 1,33 Gambar 4
diklofenak 2012
SSG IG 1,16
EG 3,0
CCS
IG 3,2
EG/IG 3,5
EG 4,4
SSG
IG 4,8
EG/IG 4,2 Preetha et al.,
Karbamazepin Gambar 5
EG 3,4 2008

Polyplasdon XL IG 3,6
EG/IG 3,2
EG 1,3
Polyplasdon XL-
IG 1,5
10
EG/IG 0,9
CCS IG 1,02 60/91,7
SSG IG 0,98 60/94,7 Hari et al., 2012
Glimepirid
CP IG 1,05 60/89,1
Keterangan: Sodium Starch Glycolate (SSG), Croscarmellose sodium (CCS),
Crospovidone (CP), Sodium carboxymethylcellulose (Na CMC), Intragranular (IG),
Ekstragranular (EG), Intra dan Ekstragranular (IG/EG).

ODT adalah tablet yang dapat dengan penambahan super untuk bentuk

terdispersi atau hancur ketika kontak sediaan, dengan melepaskan obat dalam

dengan air liur dengan pelepasan zat aktif, mulut yang meningkatkan bioavailabilitas

memberikan bioavailabilitas obat yang (Masareddy et al., 2009). Tiga metode

maksimal dibandingkan dengan bentuk yang berbeda untuk penambahan

sediaan konvensional (Hannan et al.,2016). disintegran yang digunakan, yaitu intra

Bioavailabilitas obat akan naik karena granular (dalam granul), ekstragranular

penyerapan oral dan pregastrik, (penambahan setelah granulasi) dan

mengurangi metabolisme pertama di kombinasi kedua proses (Sekar and

saluran pencernaan (Bhowmik et al., Chellan, 2008). Penggunaan berbagai

2009). Sifat terdispersi ini diperoleh pengikat dan super dapat mempengaruhi
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 101

waktu hancur dan laju disolusi (pelepasan Pada pembuatan tablet olopatadin

obat) (Hari et al., 2012). HCl dengan metode granulasi basah

Disintegran adalah zat atau menggunakan disintegran yang berbeda

campuran zat yang ditambahkan ke dalam dengan mode penamabahan intragranular

formulasi obat yang memfasilitasi dan ekstragarnular menunjukkan

pemecahan atau disintegrasi tablet atau perbedaan terhadap waktu hancur dan laju

konten kapsul menjadi partikel yang lebih disolusinya. Selain itu, diamati bahwa

kecil yang larut lebih cepat dibandingkan karakteristik fisiko-kimia seperti sudut

dengan tidak adanya disintegran. istirahat, kekerasan, kompresibilitas, dan

Disintegran dapat ditambahkan ke dalam keseragaman bobot dengan analisis DSC

formulasi baik secara intragranular, tidak signifikan dipengaruhi oleh baik

ekstragranular atau intra dan disintegran atau eksipien lain. yang

ekstragranular (Rahman et al., 2011). Di digunakan adalah CP, CCS, dan SSG yang

antara eksipien tablet, disintegran sering sangat efisien pada tingkat konsentrasi

dianggap sebagai yang paling penting rendah (2-5 b/b %) dalam formulasi tablet

karena dapat menentukan pemecahan dari untuk memfasilitasi tingkat dan luasnya

bentuk sediaan menjadi fragmen kecil pada disintegrasi tablet. Pada disintegran CP

saat absorpsi, untuk memungkinkan menunjukkan waktu hancur yang relatif

terjadinya disolusi obat (Moreton, 2008). lebih cepat dari CCS dan SSG. CP yang

Selain itu, sering dikaitkan dengan padat merupakan homopolimer silang dari

mempromosikan penetrasi kelembaban ke N-vinil 2-Pyrrolidone yang memiliki

dalam matriks tablet untuk memulai proses partikel berpori memungkinkan untuk

disintegrasi. Proses disintegrasi mekanis dengan cepat menyerap cairan ke dalam

dapat dibagi menjadi 2 tahap pemecahan tablet melaului kapiler dan untuk

menjadi agregat kasar dan berikutnya menghasilkan ekspansi volume yang cepat

menjadi partikel primer halus (Quodbach serta tekanan hidrostatik yang

and Kleinebudde, 2014). menghasilkan tablet hancur. Disolusi


Farmaka
Volume 14 Nomor 3 102

penting untuk obat yang akan diserap Na-CMC menunjukkan waktu hancur

melalui membran biologis ke dalam terlama.

sirkulasi sistemik untuk keberhasilan Tablet yang diformulasikan dengan

terapi. Profil disolusi dilakukan pada CP memiliki waktu hancur lebih lebih

medium dapar pH 1,2. Meskipun CP, CCS cepat dan partikel seragam halus,

dan SSG digunakan untuk menyediakan sedangkan tablet yang diformulasikan

fungsi yang sama dalam formulasi, namun dengan Na-MC dan SSG waktu hancur

berbeda dalam struktur kimia, morfologi lebih lama dan partikel lebih kasar. Tablet

partikel dan sifat serbuknya. Perbandingan yang mengandung Na-CMC dan SSG

disolusi antara formulasi menunjukkan tampak mengembang. Tablet dengan CCS,

bahwa formulasi yang mengandung CP Na-CMC dan SSG menunjukkan

menghasilkan laju disolusi dari olopatadin mengembang yang luar biasa sebelum

HCl lebih cepat dalam waktu yang lebih disintegrasi (Rahman et al., 2011).

singkat (45 menit) (Gambar 1). Hal ini


Profil Disolusi Olopatadin HCl
menunjukkan bahwa ketiga disintegran 120
100
% Disolusi

80
(SSG, CCS, CP) tampaknya 60 CCS
40 SSG
mempengaruhi laju disolusi obat 20 CP
0
0 20 40 60
olopatadin HCl (Rajendran et al., 2011). Waktu (menit)

Pada pembuatan tablet parasetamol


Gambar 1. Perbandingan % profil
ditambahkan disintegran secara EG, IG disolusi olopatadin HCl pada medium
dapar pH 1,2 (Rajendran et al., 2011)
menunjukkan bahwa tablet dengan CP
Tablet yang diformulasikan
menunjukkan sedikit perbedaan pada
menggunakan pati sitrat dan pati fosfat
waktu hancur, sedangkan terjadi
sebagai disintegran yang berkualitas baik
peningkatan waktu hancur meningkat
berkaitan dengan variasi berat, kekerasan,
untuk tablet yang mengandung Na-CMC
kerapuhan, dan kandungan obat, namun
dan SSG ketika ditambahkan IG atau EG.
waktu hancur lebih lama dibandingkan
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 103

dengan SSG (Sekar and Chellan, 2008).

Polyplasdone (XL dan XL-10)

menunjukkan waktu hancur relatif lebih

cepat dari CCS dan SSG dan mode

penambahan disintegran tampaknya tidak

banyak berpengaruh pada waktu hancur.


(a)
Polyplasdon merupakan homopolimer
Profil Disolusi Parasetamol
yang padat silang dari N-vinil-2-Pirolidon 80
70
yang memiliki morfologi partikel berpori 60 CP (IG)

Waktu (menit)
50
CP (EG)
40
memungkinkan dengan cepat menyerap 30
SSG (IG)

20 SSG (EG)

cairan ke dalam tablet dengan tindakan 10 Na CMC (IG)


0 Na CMC (EG)
0 25 50 75 100
kapiler dan untuk menghasilkan ekspansi % Disolusi

volume yang cepat dan tekanan hidrostatik


(b)
untuk menghasilkan tablet disintegrasi
Profil Disolusi Parasetamol T80%
(Preetha et al., 2008).
20
Waktu (menit)

15
Profil disolusi parasetamol dalam 10
5
grafik (Gambar 2). Parameter disolusi 0
CCS SSG Polyplasdon Polyplasdon
XL XL-10
menunjukkan laju disolusi yang cepat pada Desintegran

formulasi tablet yang menggunakan pati EG IG EG/IG

sitrat dan pati fosfat sebagai disintegran


(c)
yang setara dengan SSG (Gambar 2a).
Gambar 2. Perbandingan % profil
Oleh karena itu pati sitrat dan pati fosfat disolusi parasetamol pada medium dapar
posfat, (a) pH 7.8 (Veerreddy et al., 2012),
adalah pilihan ekonomis dan lebih baik (b) pH 5.8 (Rahman et al., 2011) (c) pH 5.8
(Preetha et al., 2008)
untuk penggunaan disintegran komersial

(Veerreddy et al., 2012). Disintegran CP lebih unggul

dibandingkan dengan SSG dan Na-CMC

untuk obat paasetamol dan secara umum


Farmaka
Volume 14 Nomor 3 104

penggabungan ekstragranular tampaknya pati (Veerreddy et al., 2012). Disintegran

mendukung disolusi. Formulasi tablet Polyplasdon XL dengan mode

parasetamol yang mengandung CP baik penambahan intragranul yang

intragranular dan ekstragranular diformulasikan pada tablet cetirizin

menunjukkan laju disolusi yang baik yaitu menghasilkan waktu hancur yang paling

T80% selama 18.647-19.430 menit, cepat dibandingkan dengan polyplasdon

sedangkan formulasi yang mengandung XL-10, CCS, dan SSG. Mode penambahn

SSG dan Na-CMC dengan intragranular tidak memiliki pengaruh signifikan

menunjukkan waktu pelepasan obat lebih terhadap waktu hancur, karena relatif sama

lama daripada yang ekstragranular antar mode penambahan tiap disintegran

(Gambar 2b) (Rahman et al., 2011). (Preetha et al., 2008).

Dengan penambahan polyplasdone XL dan Pada pengujian disolusi tablet

XL-10 mencapai disolusi lebih cepat dari cetirizin pada formulasi yang

parasetamol jika dibandingkan dengan menggunakan pati sitrat dan pati fosfat

CCS dan SSG. Pelepasan parasetamol dari sebagai disintegran menghasilkan laju

tablet yang mengandung polyplasdone XL disolusi yang relatif lebih cepat daripada

dan XL-10 tidak terpengaruh oleh mode SSG meskipun tidak signfikan (Gambar

penambahan (intragranular, ekstragranular 3a) (Veerreddy et al., 2012). Dengan

atau intra dan ekstragranular). Namun, penambahan polyplasdon, terutama

dalam SSG ekstragranular memiliki polyplasdon XL disolusi cetirizin

pengaruh disolusi lebih cepat (Gambar 2c) meningkat signifikan dan mode

(Preetha et al., 2008). penambahan tampaknya tidak memiliki

Pada tablet cetirizin yang efek pada tablet yang mengandung

diformulasikan menggunakan SSG Polyplasdon. Namun, dengan CCS dan

memiliki waktu hancur yang lebih cepat SSG, selain ektragranular mengakibatkan

jika dibandingkan dengan pati sitrat dan disolusi relatif lebih cepat. Penyebab

pati fosfat sebagai disintegran modifikasi signifikan pelepasan obat dari tablet yang
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 105

mengandung CCS dan SSG dapat dikaitkan

dengan interaksi ionik antara cetirizin,

yang kationik di alam dan disintegran ini,

yang anionik di alam (Gambar 3b)

(Veerreddy et al., 2012).

Gambar 4. Profil % Disolusi natrium


diklofenak pada medium dapar fosfat pH
6,8 (Veerreddy et al., 2012)

Tablet Narium diklofenak yang

diformulasikan dengan penambahan

disintegran modifikasi pati yaitu pati sitrat


(a)
Profil Disolusi Cetirizine T80% dan pati fosfat menghasilkan tablet dengan
50
Waktu (menit)

40 waktu hancur cepat namun lebih lambat


30
20
10
jika dibandingkan dengan SSG walapun
0
CCS SSG Polyplasdon Polyplasdon tidak sginifikan. Penambahan disintegran
XL XL-10
Desintegran
pati sitrat dan pati fosfat pada tablet
EG IG EG/IG
natrium diklofenak menghasilkan laju
(b)
Gambar 3. Profil % Disolusi Cetirizin disolusi yang relatif lebih cepat daripada
(a) pada medium HCl 0,2 M (Moreton,
2008) (b) pada medium air (Preetha et al., SSG walapun tidak sginifikan.
2008)
Penambahan disintegran pati sitrat dan pati
Hasilnya sesuai dengan penelitian
fosfat pada tablet natrium diklofenak
lainnya dimana dalam obat: interaksi
menghasilkan laju disolusi yang relatif
eksipien diamati untuk cetirizin (terutama
lebih cepat daripada SSG meskipun tidak
dengan CCS dan SSG) dalam air karena
signfikan (Gambar 4) (Veerreddy et al.,
lebih sedikit ion lawan yang hadir di dalam
2012).
air (Balasubramanian et al., 2008).
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 106

Profil Disolusi Karbamazepin T80%


penambahan ekstragranular adalah
60
50
menguntungkan. Ketika digunakan
Waktu (menit) 40
30 intragranular, CCS gagal mencapai 80%
20
10
0 pelepasan obat selama periode penelitian
CCS SSG Polyplasdon XL Polyplasdon XL-
10
Desintegran (Gambar 5) (Preetha et al., 2008).
EG IG EG/IG
Profil Disolusi Glimepirid
120
Gambar 5. Profil % Disolusi 100

% Disolusi
80
Karbamazepin pada medium air dengan 60 CCS
1% SLS (Preetha et al., 2008) 40
20 SSG
0 CP
0 20 40 60
Pada formulasi tablet karbamazepin
Waktu (menit)

dengan penambahan disintegran


Gambar 6. Profil % Disolusi
polyplasdon (polyplasdon XL dan Glimepirid pada medium dapar fosfat pH
6,8 9
polyplasdon XL-10) menghasilkan waktu

hancur paling cepat dibandingkan dengan Penambahan disintegran SSG pada


CCS dan SSG. Mode penambahan formulasi tablet glimepirid menghasilkan
disintegran tidak banyak berpengaruh pada tablet dengan waktu hancur dan laju
waktu hancur, namun tablet yang yang disolusi (Gambar 6) paling cepat jika
mengandung polyplasdon XL- 10 dibandingkan dengan CCS dan CP (Hari et
menunjukkan disintegrasi yang paling al., 2012).
cepat dibandingkan dengan disintegran Dengan demikian, setiap formula tablet
lainnya, terutama pada mode penambahan yang ditambahkan dengan disintegran yang
intra dan ekstragranular. Polyplasdone XL- berbeda dapat menghasilkan waktu hancur
10 mampu meningkatkan disolusi dan laju disolusi yang berbeda pula.
karbamazepin. Itu sangat efektif ketika Pemilihan jenis disintegran yang
merata di dua mode fasa penambahan disesuaikan dengan sifat dari zat aktif dan
(intra dan ekstragranular). Namun, pada kompatibilitas dengan eksipien lainnya
disintegran lainnya dengan mode dapat meningkatkan waktu hancur dan laju
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 107

disolusinya sehingga dapat meningkatkan dalam menyelesaikan penyusunan dan

kinerja dari tablet orodispersibel (ODT) publikasi artikel review ini.

sebagai New Drug Delivery System Konflik Kepentingan

(NDDS) oral yang dapat pula menjadi Seluruh penulis menyatakan tidak

solusi bagi pasien yang sulit menelan dan terdapat potensi konflik kepentingan

untuk meningkatkan kepatuhan. dengan penelitian, kepenulisan

Simpulan (authorship), dan atau publikasi artikel ini.

Disintegran yang berbeda dapat dapat Daftar Pustaka

meningkatkan kinerja dari tablet Balasubramaniam,J., Bindu K.V. U, Rao


D. Ray, R. Haldar and Brzeczko, A. W.
orodispersibel (ODT) dengan adanya 2008. Effect of superts on dissolution of
cationic drugs. Disso. Technol. 15: 21-
peningkatan terhadap waktu hancur dan 26.
Battu,S.K,Michael A., Repka Madhusudan
laju disolusinya. Tablet orodispersibel R. Y. 2007. Formulation and Evaluation
of Rapidly Disintegrating Fenoverine
(ODT) sebagai New Drug Delivery Tablets Effect of Superts, Drug
Development and Industrial
System (NDDS) Oral dapat menjadi solusi Pharmacy.33:1225–1232.
Bhardwa, V., Bansal M. Sharma P.K.2010.
bagi pasien yang sulit menelan dan dapat Formulation and Evaluation of Fast
Dissolving Tablets of Amlodipine
meningkatkan kepatuhan. Besylate Using Different Super ts and
Camphor as Sublimating Agent.
American-Eurasian Journal of Scientific
Research.5 (4): 264-269.
Ucapan Terima Kasih Bhowmik,D.,Chiranjib B., Pankaj. 2009.
Fast dissolving tablet: An overview. J
Penulis mengucapkan terimakasih Chem Pharm Res.1:163-77.
Hannan P. A., Khan J. A., Khan A.,
kepada Fakultas Farmasi Universitas Safiullah S. 2016. Oral dispersible
system: A new approach in drug
Padjadjaran, para dosen Mata Kuliah delivery system. Indian J Pharm Sci.
78(1):2-7.
Metodelogi dan Penelitian dan Ibu Marline Hari, H. P. M, Duraivel S. 2012.Effect of
Different Binders and Super ts on
Abdasah sebagai dosen pembimbing, Formulation of Glimepiride Immediate
Release Tablets by Wet Granulation
orang tua serta rekan-rekan mahasiswa Method. International Journal of
Pharmaceutical and Clinical Research.
Farmasi yang telah memfasilitasi, 4(4): 44-47.
Masareddy RS, Kadia RV, Manvi FV.
membimbing, mendukung dan membantu 2008. Development of mouth dissolving
tablets of clozapine using two different
Farmaka
Volume 14 Nomor 3 108

techniques. Indian J Pharm Sci. 70:526- different tablet formulations as ts. Der
8. Pharmacia Lettre.4(6):1680-1684.
Moreton RC. ts in tableting. 2008. In:
Augsburger LL, Hoag SW, eds.
Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets.
3rd ed. New York, NY: Informa
Healthcare USA, Inc.217-249.
Parul S, Anoop K, Pankaj S, Sharad V.
2012.Fast disintegrating oral films: A
recent trend of drug delivery.Int J Drug
Dev Res. 4:80-94.
Preetha B, Pandit J.K, Rao V.U, Bindu K,
Rajesh Y.V, Balasubramaniam J.
2008.Comparative Evaluation of Mode
of Incorporation of Superts on
Dissolution of Model drugs from wet
granulated tablets. Acta Pharmaceutica
Sciencia. 50: 229-236.
Priyanka S, Vandana S. 2013.Superts. Int.
J. Drug Res. Tech.3 (4): 76-87.
Quodbach J, Kleinebudde P.
2014.Performance of tablet ts: impact of
storage conditions and relative tablet
density. Pharm Dev Technol.
20(6):762-768.
Rahman Md. M, Roy S, Hasan S, Alam
Md. A, Jha M K, Ahsan Q, Ferdaus J.
2011.Effect Of Mode Of Addition Of ts
On Dissolution Of Model Drug From
Wet Granulation Tablets. International
Journal of Pharma Sciences and
Research (IJPSR). 2(2):84-92.
Rajendran N, Natarajan R, Ronak P. A.
2011. Study on the Effect of Superts
and Processing Methods on the
Physicochemical and In-Vitro Release
Characteristics of Immediate Release
Tablets of Olopatadine Hydrochloride.
Research Journal of Pharmaceutical,
Biological and Chemical Sciences.
2(4):305-313.
Reddy PD, Swarnalatha D. 2010.Recent
advances in novel drug delivery
systems. Int J Pharm Technol Res.
3:2025-7.
Sekar V, Chellan VR. 2008.Immediate
release tablets of telmisartan using
supert-formulation, evaluation and
stability studies. Chem Pharm Bull
(Tokyo). 56:575-7.
Veerreddy K, Kumar T.P, Sandeep B,
Dangeti S K. 2012.Comparative
evaluation of modified starches in