Anda di halaman 1dari 30

EVIDENCE BASED PRACTICE

TERAPI BERMAIN TERHADAP KECEMASAN ANAK YANG MENJALANI


HOSPITALISASI DI RUANG ANAK LANTAI DASAR
RSUP DR. KARIADI SEMARANG

Oleh :
NIA NANDY KHAIRUNNISAK
P1337420919024

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN-POLTEKKES KEMENKES
SEMARANG
2019

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hospitalisasi merupakan keadaan dimanaseseorang dalam kondisi
yangmengharuskanuntuk mendapat perawatan dirumahsakit untukmengatasi atau meringankan
sakitnya.Hospitalisasi pada anak dapat menimbulkankecemasan dan stress dimana hal
itudiakibatkan karena adanya perpisahan,kehilangan control, ketakutan mengenaikesakitan pada
tubuh, serta nyeri dimanakondisi tersebut belum pernah dialamisebelumnya. Respon fisilogis
yang dapatmuncul akibat kecemasanyang tidak teratasiyaitu seperti adanya perubahan pada
systemkardiovaskuler berupa palpitasi, denyutjantung meningkat, perubahan pola nafas
yangsemakin cepat, nafsu makan menurun, gugup,pusing, tremor, hingga
insomnia,keluarkeringat dingin, wajah menjadi kemerahan,gelisah, rewel, anak mudah terkejut,
menangis,berontak,menghindar hingga menarik diri,tidak sabar,tegang, waspada
terhadaplingkungan, hospitalisasi juga akan berdampakpada perkembangan anak dimana juga
akanmengakibatkan terganggunya prosespengobatan. Perawatan anak yang berkualitastinggi
akan dapat mengurangi kecemasan danketakutan yang terjadi karena bilakecemasandan
ketakutan tidak ditangani akan membuatanak menolak tindakan perawatan danpengobatan yang
diberikan sehinngga akanmempengaruhi lamanya perawatan,memperberat kondisi anak
bahkanmenyebabkan kematian pada anak, dampakdari anak sakit yang tidak ditangani juga
akanmenyebabkan kesulitan dan kemampuanmembaca yang buruk, memiliki gangguanbahasa,
menurunnya kemampuan intelektualdan social serta fungsi imun (Saputro, 2017).
Bermain atau yang lebih dikenal dengan terapibermain diharapkan dapat mengurangi
dampakakibat hospitalisasi, karena rumah sakitmerupakan lingkunganbaru bagi anak
yangdimana terjadi tindakan-tindakan medis yangdianggapmenakutkan bahkan
terkadangmenimbulkan trauma yang dapat mengangguperkembangan anak. Terapi bermain
adalahterapi yang diberikan pada anak yang
mengalami kecemasan, ketakutan, danmengenal lingkungannya. Tujuan dari terapibermain ini
adalah menciptakan suasana amanbagian akan untuk mengekspresikan diri
mereka, memahami bagaimana sesuatu dapatterjadi, mempelajari aturan social danmengatasi
masalah mereka serta memberikankesempatan bagi anak anak untuk berekspresidan mencoba
sesuatu hal yang baru, selain itudengan terapi bermaindiharapkan anak dapatmelajutkan fase
tumbuh kembangnya secaraoptimal, mengembangkan kreativitas anaksehingga anak dapat
beradaptasi lebih efektifterhadap stress (Saputro, 2017).
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan
EBNP (Evidance Based Nursing Practice) berupa terapi bermain pada anak
dengan kecemasan sebagai dampak hospitalisasi di ruang Anak Lantai Dasar
RSUP Dr. Kariadi Semarang.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui respon pasien yang mengalami kecemasan sebagai
dampak hospitalisasi di ruang Anak Lantai Dasar RSUP Dr. Kariadi
Semarang.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat kecemasan sebelum dilakukan terapi bermain
b. Mengetahui tingkat kecemasan setelah dilakukan terapi bermain
c. Mengevaluasi respon pasien selama pelaksanaan terapi bermain
C. Manfaat
Dapat memberikan informasi, penerapan serta pengembangan EBNP tentang
terapi bermain dalam menurunkan tingkat kecemasan pada anak sebagai
dampak hospitalisasi selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecemasan atau ansietas


1. Definisi kecemasan atau ansietas
Ansietas merupakan keadaan ketika individu atau kelompok
mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivasi sistem saraf
autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas, nonspesifik
(Carpenito, 2007).
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak percaya diri. Keadaan
emosi ini tidak memiliki obyek yang spesifik. Ansietas dialami secara
subjektif dan dikomunikasikan secara interpersonal. Ansietas berbeda
dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu
yang berbahaya. Ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian
tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup,
tetapi tingkat ansietas yang berat tidak sejalan dengan kehidupan. (Stuart,
2007).
Ansietas merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan
dengan sesuatu di luar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam
mengatasi permasalahan (Asmadi, 2008)
2. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal ansietas :
1) Dalam pandangan psikoanalitik, ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara dua elemen kepribadian, id dan superego. Id
mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang,
sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan
dikendalikan oleh norma – norma budaya seseorang. Ego atau Aku,
berfungsi menengahi hambatan dari dua elemen yang bertentangan
dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2) Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan
takut terhadap tidak adanya penerimaan dari hubungan
interpersonal. Ansietas juga berhubungan dengan perkembangan,
trauma seperti perpisahan dan kehilangan, sehingga menimbulkan
kelemahan spesifik. Orang dengan harga diri rendah mudah
mengalami perkembangan ansietas yang berat.
3) Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi,
yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang
untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Daftar tentang
pembelajaran meyakini bahwa individu yang terbiasa dalam
kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan
lebih sering menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya.
4) Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan
hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih
dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan
depresi.
5) Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor
khusus benzodiazepine. Reseptor ini mungkin membantu mengatur
ansietas penghambat dalam aminobutirik. Gamma neuroregulator
(GABA) juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme
biologis berhubungan dengan ansietas sebagaimana halnya
endorfin. Selain itu telah dibuktikan kesehatan umum seseorang
mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap ansietas.
Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya
menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor.
b. Faktor Presipitasi
Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal.
Stressor pencetus dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori :
1) Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk
melakukan aktivitas hidup sehari - hari.
2) Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan
identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
3. Klasifikasi
Ansietas memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek
membahayakan, yang bergantung pada tingkat ansietas, lama ansietas yang
dialami, dan seberapa baik individu melakukan koping terhadap ansietas.
Menurut Peplau (dalam Videbeck, 2008) ada empat tingkat kecemasan
yang dialami oleh individu yaitu ringan, sedang, berat dan panik.
a. Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan
membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan
membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar,
menyelesaikan masalah, berpikir, bertindak, merasakan, dan
melindungi diri sendiri. Menurut Videbeck (2008), respons dari
ansietas ringan adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
a) Ketegangan otot ringan
b) Sadar akan lingkungan
c) Rileks atau sedikit gelisah
d) Penuh perhatian
e) Rajin
2) Respon kognitif
a) Lapang persepsi luas
b) Terlihat tenang, percaya diri
c) Perasaan gagal sedikit
d) Waspada dan memperhatikan banyak hal
e) Mempertimbangkan informasi
f) Tingkat pembelajaran optimal
3) Respons emosional
a) Perilaku otomatis
b) Sedikit tidak sadar
c) Aktivitas menyendiri
d) Terstimulasi
e) Tenang
b. Ansietas sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada
sesuatu yang benar-benar berbeda; individu menjadi gugup atau
agitasi. Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas sedang adalah
sebagai berikut :
1) Respon fisik :
a) Ketegangan otot sedang
b) Tanda-tanda vital meningkat
c) Pupil dilatasi, mulai berkeringat
d) Sering mondar-mandir, memukul tangan
e) Suara berubah : bergetar, nada suara tinggi
f) Kewaspadaan dan ketegangan menigkat
g) Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri
punggung
2) Respons kognitif
a) Lapang persepsi menurun
b) Tidak perhatian secara selektif
c) Fokus terhadap stimulus meningkat
d) Rentang perhatian menurun
e) Penyelesaian masalah menurun
f) Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan
3) Respons emosional
a) Tidak nyaman
b) Mudah tersinggung
c) Kepercayaan diri goyah
d) Tidak sabar
e) Gembira
c. Ansietas berat, yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman,
memperlihatkan respons takut dan distress. Menurut Videbeck (2008),
respons dari ansietas berat adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
a) Ketegangan otot berat
b) Hiperventilasi
c) Kontak mata buruk
d) Pengeluaran keringat meningkat
e) Bicara cepat, nada suara tinggi
f) Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
g) Rahang menegang, mengertakan gigi
h) Mondar-mandir, berteriak
i) Meremas tangan, gemetar
2) Respons kognitif
a) Lapang persepsi terbatas
b) Proses berpikir terpecah-pecah
c) Sulit berpikir
d) Penyelesaian masalah buruk
e) Tidak mampu mempertimbangkan informasi
f) Hanya memerhatikan ancaman
g) Preokupasi dengan pikiran sendiri
h) Egosentris
3) Respons emosional
a) Sangat cemas
b) Agitasi
c) Takut
d) Bingung
e) Merasa tidak adekuat
f) Menarik diri
g) Penyangkalan
h) Ingin bebas
d. Panik, individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena
hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun
dengan perintah. Menurut Videbeck (2008), respons dari panik adalah
sebagai berikut :
1) Respons fisik
a) Flight, fight, atau freeze
b) Ketegangan otot sangat berat
c) Agitasi motorik kasar
d) Pupil dilatasi
e) Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun
f) Tidak dapat tidur
g) Hormon stress dan neurotransmiter berkurang
h) Wajah menyeringai, mulut ternganga
2) Respons kognitif
a) Persepsi sangat sempit
b) Pikiran tidak logis, terganggu
c) Kepribadian kacau
d) Tidak dapat menyelesaikan masalah
e) Fokus pada pikiran sendiri
f) Tidak rasional
g) Sulit memahami stimulus eksternal
h) Halusinasi, waham, ilusi mungkin terjadi
3) Respon emosional
a) Merasa terbebani
b) Merasa tidak mampu, tidak berdaya
c) Lepas kendali
d) Mengamuk, putus asa
e) Marah, sangat takut
f) Mengharapkan hasil yang buruk
g) Kaget, takut
h) Lelah

B. Terapi Bermain terhadap Kecemasan Anak yang Menjalani Hospitalisasi


Terapi merupakan penerapan sistematis dari sekumpulan prinsip belajar
terhadap suatu kondisi atau tingkah laku yang dianggap menyimpang, dengan
tujuan melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud bisa berarti
menghilangkan, mengurangi, meningkatkan, atau memodifikasi suatu kondisi
atautingkah laku tertentu. Secara umum terdapat dua macam terapi. Pertama,
terapijangka pendek untuk masalah ringan, yang dapat diselesaikan dengan
memberdukungan, member ide, menghibur atau membujuk anak. kedua, terapi
jangkapanjang untuk masalah yang membutuhkan keteraturan dan kontinuitas
demiperubahan tingkah laku anak (Adriana, 2011).Bermain adalah salah satu
aspek penting dari kehidupan anak dan salahsatu alat paling penting untuk
menatalaksanakan stres karena hospitalisasimenimbulkan krisis dalam
kehidupan anak, dan karena situasi tersebut seringdisertai stress berlebihan,
maka anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkanrasa takut dan cemas yang
mereka alami sebagai alat koping dalam menghadapistress. Bermain
sangatpenting bagi mental, emosional dan kesejahteraan anakseperti
kebutuhanperkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti padasaat
anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2004).
Terapi bermain merupakan usaha mengubah tingkah laku bermasalah,
dengan menempatkan anak dalam situasi bermain. Biasanya ada ruangan
khususyang telah diatur sedemikian rupa sehingga anak bisa merasa lebih santai
dandapat mengekspresikan segala perasaaan dengan bebas. Dengan cara ini
dapatdiketahui permasalahn anak dan bagaimana mengatsinya
BAB III
METODE PENULISAN

A. Rancangan Solusi yang Ditawarkan


Penulisan ini disusun menggunakan design studi kasus atau case ctudy.
Case study adalah metode yang digunkan untuk memahami individu yang
dilakukan secara integrative dan menyeluruh, dengan tujuan didapatkannya
pemahaman yang mendalam mengenai kondisi individu tersebut beserta
masalah yang dihadapinnya, dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan
dan memperoleh perkembangan diri yang baik (Rahardjo & Gudnanto 2010).
Dalam mengatasi kecemasan anak yang menjalani hospitalisasi dilakukan
desain inofatif melakukan terapi bermain kemudian kecemasan diukur dengan
kuisioner modifikasi ZSRAS dan T-MAS yang disesuaikan dengan kondisi
anak di rumah sakit.
B. Teknik Pengumpulan Data
1. Tekhnik pengumpulan data dengan melakukan skrining pasien di ruang
Anak lantai Dasar RSUP Dr Kariadi Semarang.
2. Pasien yang termasuk dalam kriteria inklusi kemudian dimintakan
persetujuan untuk dilakukan tindakan atau intervensi terapi bermain
3. Pasien dan keluarga pasien mendapat penjelasan mengenai mekanisme dan
tujuan terapi bermain.
4. Apabila pasien dan keluarga setuju kemudian dilakukan intervensi
5. Catat hasil atau evaluasi setelah dilakukan tindakan atau intervensi.
C. Luaran Pasien
1. Mengetahui penerapan terapi bermain di ruang Anak lantai Dasar RSUP Dr

Kariadi Semarang.
2. Menganalisis bagaimana penerapan terapi bermain di ruang Anak lantai
Dasar RSUP Dr Kariadi Semarang.
3. Melaporkan hasil yang didapatkan selama studi kasus ini mengenai
penerapan terapi bermain di ruang Anak lantai Dasar RSUP Dr Kariadi
Semarang.
D. Kriteria Pasien
Populasi dalam studi kasus ini adalah pasien anak di ruang Anak lantai
Dasar RSUP Dr Kariadi Semarang, yang akan di ambil 1 orang pasien dengan
kriteria sebagai berikut :
1. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria yang apabila terpenuhi dapat
mengakibatkan calon objek menjadi objek penelitian (hijijah, 2012) kriteria
inklusi dalam studi kasus ini yaitu :
a. Pasien dengan orientasi baik
b. Pasien dengan mobilisasi yang baik
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria ekslusi yaitu kriteria di luari inklusi (Hijijah, 2012), kriteria
ekslusi dalam studi kasus ini yaitu :
a. Pasien dengan penurunan kesadaran
E. Prosedur Intervensi Keperawatan Mandiri berdasarkan EBP
1. Penulis mengumpulkan data pasien anak yang menjalani hospitalisasi di

ruang Anak lantai Dasar RSUP Dr Kariadi Semarang.


2. Penulis melakukan penilaian tingkat kecemasan.
3. Penulis meminta persetujuan kepada pasien dan keluarga pasien untuk
dilakukan terapi bermain.
4. Melaksanakan intervensi sesuai dengan jurnal terkait.
5. Menilai ulang kecemasan pasien dengan instrument yang sama setelah
dilakukan intervensi.

BAB IV

LAPORAN KASUS

PENGKAJIAN
A. Data Demografi
1. Klien/Pasien
a. Tanggal Pengkajian : 03 September 2019
b. Tanggal masuk : 30 Agustus 2019
c. Ruangan : Anak Lt. Dasar
d. Identitas
Nama : An. R
Tgl lahir/umur : 6 Juli 2009/10 tahun 1 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Jawa
Diagnosa medis : Hidrosefalus Non Komunikan
Penanggung jawab : Ny. K
2. Orangtua / Penanggung jawab
Ibu
a. Nama : Ny. K
b. Umur : 29 tahun
c. Hub. Dengan klien : Ibu
d. Pendidikan : SMA
e. Pekerjaan : IRT
f. Suku : Jawa
g. Agama : Islam
h. Alamat : Siramin rt 4 rw 7 Brebes
i. No.telp :-
Ayah
a. Nama : Tn. A
b. Umur : 20 tahun
c. Hub. Dengan klien : Ayah
d. Pendidikan : SMA
e. Pekerjaan :-
f. Suku : Jawa
g. Agama : Islam
h. Alamat : Siramin rt 4 rw 7 Brebes
i. No.telp :-

B. Riwayat Keperawatan Pasien


1. Keluhan Utama
Klien tampak lemas
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Awal bulan Juli SMRS klien mengalami penurunan kesadaran, kemudian
orangtua klien membawa klien periksa ke RSUD Brebes. Di RSUD Brebes
klien mendapat perawatan di PICU, kemudian pasien dirujuk ke RSUP Dr.
Kariadi untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Klien tiba di IGD pada tanggal
29 September pukul 03.00 WIB, dokter melakukan pemeriksaan dan
memberikan diagnosa hidrosefalus non komunikan. Kemudian klien dipindah
ke ruang perawatan anak lantai dasar pada tanggal 30 September jam 18.00
WIB. Riwayat operasi pemasangan selang VP shunt. Keluarga juga
mengatakan bahwa An. R berjalan mulai sempoyongan.
3. Riwayat penyakit klien sebelumnya
Ibu An. R mengatakan sebelumnya klien pernah masuk rumah sakit dengan
keluhan muntah dan pernah dirawat di RSUP Dr. Kariadi dengan diagnosa
medis hidrosefalus serta sudah dilakukan tindakan operasi pemasangan selang
VP shunt.
4. Riwayat kehamilan
Ibu An. R selalu memeriksakan kandungannya selama hamil 1 bulan sekali dan
selama hamil tidak pernah mengalami masalah apapun.
5. Riwayat persalinan
Pada saat proses ANC, ibu An. R melahirkan secara normal.
6. Riwayat Imunisasi
An. R sudah mendapatkan imunisasi lengkap yaitu imunisasi BCG, hepatitis B,
Polio DPT dan campak.
7. Riwayat alergi
An. R tidak memiliki riwayat alergi makanan maupun obat.
8. Riwayat pemakaian obat – obatan
Ibu maupun Ayah dari An. R tidak hafal dengan obat – obat apa saja yang telah
digunakan saat sakit.
9. Riwayat tumbuh kembang
a) Motorik halus
An. R dapat berman sesuai hobinya. Selama sakit An. R tetap bisa bermain
dengan bantuan orang tua.
b) Motorik kasar
An. R dapat duduk dari tempat tidur tanpa bantuan orang tua. Selama sakit
An. R dibantu orang tua saat ingin duduk dari tempat tidur.
c) Bahasa
An. R dapat melakukan percakapan dengan baik seperti menyebutkan
kalimat “ingin cepat pulang”, tetapi secara perlahan. Pasien tampak cemas
dan gelisah
d) Personal sosial
An. R senang diajak berkomunikasi saat dilakukan pengkajian mengenai
masalah kesehatan yang terjadi pada dirinya dan suka menanyakan kapan
penyakitnya sembuh.
10. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak mempunyai riwayat penyakit keganasan seperti kanker,
penyakit keturunan dan penyakit menular.

C. Riwayat Penyakit Sekarang


1. Penampilan umum
a. Keadaan umum : lemah
Kesadaran : composmentis
GCS : 15
Respon buka mata (Eye Opening, E) :4
Respon verbal (V) :5
Respon motorik terbaik (M) :6
b. Pemeriksaan tanda – tanda vital
Nadi : 100 x/menit
Suhu : 36,7oC
RR : 22x/menit
2. Nutrisi
a. PB/TB : 140 cm
b. BB : 21 kg
c. Kebutuhan Nutrisi : klien makan 3kali/hari dengan bubur dan susu yang
disediakan dari rumah sakit.
d. Jenis makanan : bubur halus lauk pauk dan susu
e. Makanan yang disukai : berkuah
f. Alergi makanan : An. R tidak memiliki alergi pada makanan
g. Kesulitan saat makan : An. R memiliki kesulitan untuk makan karena
respon tubuh yang lambat, sehingga klien makan dengan pelan tetapi habis
dalam 1 porsi.
h. Kebiasaan khusus saat makan : Ibu An. R selalu mengajarkan berdoa
sebelum makan
i. Keluhan : tidak ada keluhan
3. Istirahat tidur
a. Lama waktu tidur (24 jam) : 8 - 9 jam / hari
b. Kualitas tidur : nyenyak, kadang terbangun saat ingin
BAK
c. Tidur siang : 1 – 2 jam pada pukul 14.00 – 16.00
d. Kebiasaan sebelum tidur : klien ingin dipijat ibunya
4. Pengkajian nyeri (Wong-Beker Faces Pain Ratting) : keterangan dari
keluarga
P : keluarga klien mengatakan An. R mengalami sakit diseluruh tubuh
Q : keluarga klien mengatakan nyeri seperti dicengkeram
R : keluarga klien mengatakan nyeri An. R seluruh tubuh
S : skala 4 (hurt little more/sedikit lebih nyeri)
T : hilang timbul 30 menit
5. Pemeriksaan Fisik (Head to Toe)
a. Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid
b. Kepala : normochepal, simetris, terdapat lesi post VP shunt
c. Mata : simetris, konjunctiva tidak anemis,pupil isokhor, sklera non
ikterik, sklera memerah, keluarga mengatakan bahwa pandangan anak
kabur dibuktikan saat ditanya apakah anak melihat tulisan nama perawat
kemudian anak menjawab tidak dengan melambaikan tangan.
d. Hidung : lubang hidung simetris, tidak ada sekret
e. Mulut : simetris, tidak ada epistaksis dan sianosis
f. Telinga : simetris, tidak ada gangguan pendengaran
g. Dada
1) Jantung :
I : datar, tidak terjadi pembesaran, tidak tampak iktus kordis
Pa : iktus kordis teraba pada intercosta ke 4-5
Pe : Redup
A : tidak ada bunyi jantung tambahan
2) Paru :
I : simetris, bentuk normal, kosta tidak menonjol
Pa : tidak ada benjolan, tidak ada nyeri dada
Pe : sonor
A : tidak ada suara nafas tambahan
h. Abdomen
a. Inspeksi : tidak ada pembesaran perut (asites)
b. Auskultasi : terdengar bunyi bising usus
c. Palpasi : tidak ada massa feses, tidak ada nyeri tekan
d. Perkusi : timpani
i. Ekstremitas
1) Ekstremitas atas : tidak ada edema, turgor kembali kurang dari 2 detik
Kekuatan otot kanan 1 kiri 1
2) Ekstremitas bawah : tidak ada edema,turgor kembali kurang dari 2
detik
Kekuatan otot kanan 1 kiri 1
6. Resiko jatuh

Parameter Kriteria Nilai Skor


Usia  < 3 tahun 4 2
 3 - 7 tahun 3
 7 -13 tahun 2
 >= 13 tahun 1
Jenis kelamin  Laki-laki 2 2
 Perempuan 1
Diagnosis  Diagosis neurologi 4 4
 Perubahan oksigenasi 3
(diagnosis respiratorik, 2
dehidrasi, anemia, anorekia,
1
sinkop, pusing dsb)
 Gangguan perilaku/psikiatri
 Diagnosisi lainnya
Gangguan kognitif  Tidak menyadari keterbatsan 3 1
2
lainnya 1
 Lupa akan adanya
keterbatasan
 Orientasi baik terhadap diri
sendiri
Faktor lingkungan  Riwayat jatuh/bayi diletakan 4 2
3
di tempat tidur dewasa
 Pasien menggunakan alat 2
bantu/bayi diletakan dalam 1
tempat tidur bayi/perabot
rumah
 Pasien diletakan pada tempat
tidur
 Area diluar rumah sakit
Respon terhadap  Dalam 24 jam 3 1
 Dalam 48 jam 2
pembedahan/sedasi/
 >48 jam atau tidak menjalani 1
anastesi
pembedahan/sedasi/anestes
Penggunaan  Penggunaan multiple: 3 1
medikamentosa sedative, obat hipnosis, 2
barbiturate, fenotiazi, 1
antidepresan, pencahar,
diuretik, narkose
 Penggunaan salah satu obat
diatas
 Penggunaan medikasi
lainnya/tidak ada medikasi
Jumlah 13 (Risiko
Tinggi )
Keterangan :
Skor assessment resiko jatuh : (skor minimum 7, skor maksimum 23)
Skor 7-11 : Resiko rendah
Skor ≥12 : Resiko tinggi
7. Psikososial anak dan keluarga
a. Respon hospitalisasi (rewel, tenang)
An. R kadang tenang dan kadang gelisah selama menjalani perawatan di
rumah sakit karena klien bosen ingin cepat pulang.
b. Kecemasan (anak dan orang tua)
Ibu An. R merasakan cemas karena penyakit yang dialami oleh anaknya
kemudian bertanya kepada perawat dan dokter mengenai bagaimana
melakukan tindakan yang baik untuk penyembuhan pada klien, kemudian
klien juga cemas dan mengatakan kepada perawat bahwa kapan dirinya
sembuh dan bisa pulang kembali kerumah.
Kecemasan anak diukur dengan instrument skala kecemasan modifikasi
ZSRAS dan T-MAS berupa kuisioner yang disesuaikan dengan kondisi
anak di rumah sakit sebelum terapi bermain, item pernyataan terdiri atas 22
pernyataan positif dan 6 pernyataan negatif. Skor 0-14 menunjukkan
kecemasan ringan dan skor 15-28 kecemasan sedang.
No Pernyataan Ya Tidak
1. Saya merasa dada saya berdebar-debar 
2. Saya jarang sakit kepala 
3. Saya merasa sulit konsentrasi 
4. Saya merasa gemetar 
5. Saya sering merasa sakit perut 
6. Saya merasa lemah 
7. Saya merasa ketakutan tanpa sebab 
8. Saya merasa tidak berdaya 
9. Saya merasa sering ingin kencing 
10. Saya merasa sulit tidur tadi malam 
11. Saya merasa gembira 
12. Saya sering mimpir buruk 
13. Saya tidak suka lingkungan di RS 
14. Saya merasa ingin menangis 
15. Kadang saya nyeri dada 
16. Saya merasa santai 
17. Saya merasa tidak nafsu makan 
18. Saya takut pada luka saya 
19. Saya tidak takut disuntik 
20. Saya takut sembuhnya lama 
21. Saya merasa ingin marah 
22. Saya senang jika perawat datang 
23. Saya mudah tersinggung 
24. Saya merasa gelisah 
25. Saya merasa sesak napas 
26. Saya merasa mudah lelah 
27. Kadang saya nyeri punggung 
28. Saya merasa tenang 
18 (kecemasan
TOTAL SKOR
sedang)

c. Koping klien/keluarga dalam menghadapi masalah


Ibu An. R mengatakan jika ada masalah yang terjadi pada salah satu
anggota keluarganya terutama menyangkut anaknya selalu dibicarakan
bersama dengan suami.
d. Pengetahuan orang tua tentang penyakit anak
Orang tua An. R belum memahami penyakit anaknya
e. Keterlibatan orang tua dalam perawatan anak
Keterlibatan orang tua dalam perawatan anaknya yaitu setiap hari An. R
dijaga oleh ibunya di rumah sakit.
f. Konsep diri
Body image : tidak dapat terkaji
Identitas diri : tidak dapat terkaji
Harga diri : tidak dapatt terkaji
Peran diri : An. R masih berusia 10 tahun 1 bulan
Ideal diri : tidak dapat terkaji
g. Spritual
Keluarga mengatakan sejak sakit An. R ingin shalat tetapi tidak kuat karena
badannya sakit semua dan merupakan anak yang rajin berdoa.
h. Adakah terapi lain selain medis yang dilakukan
Tidak ada terapi lain selain terapi medis yang dilakukan untuk An. R.
8. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium pada tanggal 30 Agustus 2019 jam 05.33 WIB


HASIL
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN
RUJUKAN
HEMATOLOGI

Hemoglobin 10.9 g/dL 11.50-14.80 L


Hematokrit 35.5 % 36-44 L
Eritrosit 5.06 10^6/uL 3.1-5.4
MCH 21.5 pg 24.00-30.00
MCV 70.2 fL 77-95
MCHC 30.7 g/dL 2900-36.00
Leukosit 10.2 10^3/uL 5-13.5
Trombosit 419 10^3/uL 150-400 H
RDW 13 % 11.60-14.80
MPV 12.1 fL 4.00-11.00 H
KIMIA KLINIK

Glukosa sewaktu 86 mg/dL 80-160


Ureum 11 mg/dL 15-39 L
Kreatinin 0.5 mg/dL 0.60-1.30 L
Calcium 2.1 mmol/L 2.12-2.52
Elektrolit

Natrium 138 mmol/L 136-145


Kalium 3.7 mmol/L 3.5-5.1
Klorida 103 mmol/L 98-107

9. Terapi Obat
1. RL 12 tpm → IV
2. Dexametason 5 mg/8jam → IV
3. Ranitidine 25 mg/12 jam → IV
4. Paracetamol syr 2c/8jam → PO
DAFTAR MASALAH
Masalah
No Tgl/Jam Data Fokus
Keperawatan
1. 7September DS : Ansietas
2019 berhubungan
Keluarga pasien mengatakan bahwa
dengan
13.10 WIB An. R gelisah karena ingin cepat
hospitalisasi
pulang

DO :

- Pasien tampak gelisah

- skor kecemasan 18 (kecemasan


sedang)

- Hasil pemeriksaan TTV :

N : 100 x/menit
RR : 22 x/menit

S : 36,7 oC

RENCANA KEPERAWATAN

Tgl/ No Dx. Kep Tujuan Intervensi Rasionalisasi TTD

Jam
07/09/ 1 Ansietas Setelah 1. Lakukan terapi 1. Untuk nad
2019 berhubungan dilakukan bermain yang mengatasi ia
dengan tindakan disukai anak kecemasan
13.15
hospitalisasi keperawatan dan dengan padapasien
WIB
selama 3x24 pertimbangan akibat dari
jam, perawat yang hospitalisa
diharapkan sesuai dengan si
2. Agar pasien
pasien dengan usia anak
2. Manajemen nyaman
Ansietas
lingkungan: dengan
berhubungan
kenyamanan kondisi
dengan
3. Monitor
lingkungan
hospitalisasima
kecemasan
mpu 4. Monitor TTV sekitar
3. Untuk
memenuhi
mengetahui
kriteria hasil
kestabilan
yaitu :
kondisi
1. Pasien fisik pasien
tidak
gelisah
2. Pasien
tidak cemas
3. TTV
normal

TINDAKAN KEPERAWATAN

Kode
Tgl/Jam Tindakan Keperawtan TTD
Dx. Kep
07/09/2019 1 1. Melakukan terapi bermain yang disukai nadia
anak dan dengan pertimbangan perawat
13.20 WIB
yang sesuai dengan usia anak
2. Memanajemen lingkungan: kenyamanan
3. Memonitor kecemasan
4. Memonitor TTV
CATATAN PERKEMBANGAN

Tgl/Jam Kode Evaluasi (SOAP) TTD


Dx Kep
07/09/2019 1 S: nadia

13.30 WIB Pasien dan keluarga pasien mengatakan


sangat senang setelah mengikuti
kegiatan bermain dan mendapatkan
hadiah

O:

Skor kecemasan turun dari 18


(kecemasan sedang) menjadi 8
(kecemasan ringan)

N : 98 x/menit

RR : 20 x/menit

S : 36,5oC

A : masalah teratasi

P : pertahankan intervensi terapi


bermain

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Setelah dilakukan intervensi berupa terapi bermain yang diambil
berdasarkan jurnal tervalidasi pada An. Rmasalah keperawatan
ansietas/kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi yaitu menunjukkan Skor
kecemasan turun dari 18 (kecemasan sedang) menjadi 8 (kecemasan ringan)
setelah mengikuti kegiatan bermain. HR : 100 x/menit, RR : 22 x/menit, S :
36,7oC menjadi HR : 98 x/menit, RR : 20 x/menit, S : 36,5oC.
No Pernyataan Ya Tidak
1. Saya merasa dada saya berdebar-debar 
2. Saya jarang sakit kepala 
3. Saya merasa sulit konsentrasi 
4. Saya merasa gemetar 
5. Saya sering merasa sakit perut 
6. Saya merasa lemah 
7. Saya merasa ketakutan tanpa sebab 
8. Saya merasa tidak berdaya 
9. Saya merasa sering ingin kencing 
10. Saya merasa sulit tidur tadi malam 
11. Saya merasa gembira 
12. Saya sering mimpir buruk 
13. Saya tidak suka lingkungan di RS 
14. Saya merasa ingin menangis 
15. Kadang saya nyeri dada 
16. Saya merasa santai 
17. Saya merasa tidak nafsu makan 
18. Saya takut pada luka saya 
19. Saya tidak takut disuntik 
20. Saya takut sembuhnya lama 
21. Saya merasa ingin marah 
22. Saya senang jika perawat datang 
23. Saya mudah tersinggung 
24. Saya merasa gelisah 
25. Saya merasa sesak napas 
26. Saya merasa mudah lelah 
27. Kadang saya nyeri punggung 
28. Saya merasa tenang 
8 (kecemasan
TOTAL SKOR
ringan)
B. Pembahasan
Hospitalisasi dapat dianggap sebagai sesuatupengalaman yang mengancam dan
dapatdianggap sebagai stressor, serta dapatmenimbulkan krisis bagi anak dan keluarga.Hal
tersebut terjadi dimana kondisi anak tidakmemahami mengapa dirawat, sehingga akanterjadi
stress dengan adanya perubahan akanstatus kesehatan, lingkungan dan kebiasaansehari hari dan
keterbatasan mekanismekoping. Anak-anak dapat bereaksi terhadapstress hositalisasi sebelum,
selama, dan setelahpemulangan. Konsep sakit yang dimiliki olehanak bahkan lebih penting bila
dibandingkandengan usia dan kematangan intelektual dalammemperkirakan kecemasan.
Berkembangnya gangguan emosional jangkapanjang merupakan dampak dari
hospitalisasi.Gangguan emosional tersebut terkait denganlama dan jumlah masuk rumah sakit,
dan jenisprosedur yang dijalani di rumah sakit.Hospitalisasi berulang dan lama rawat lebihdari
4 minggu dapat berakibat gangguan dimasa yang akan datang.
Gangguanperkembangan juga merupakandampak negative dari hospitalisasi,
penelitianyang dilakukan oleh lilis murtutik dan wahyunidalam Utami, Y (2014) menunjukkan
bahwasemakin sering anak menjalani hospitalisasiberisiko tinggi mengalami gangguan
padaperkembangan motorik kasar.
Anak yang sakit dimungkinkan di rawat dirumah sakit khusus anak atau di rumah
sakitumum yang memiliki fasilitas ruangan khususuntuk anak. Perlu
mempertimbangkankebutuhan dan perkembangan anak denganmempersiapkan sarana di unit
perawatan anakdengan perabotan yang berwarna cerah dansesuai dengan usia anak, dekorasi
ruanganyang menarik dan familiar bagi anak, sertaadanya ruang bermain yang
dilengkapiberbagai macam alat bermain.
Menurt marks (1998) dalam Utami, Y(2014) tempat bermain sebaiknya memiliki area
yangluasuntuk memfasilitasi mobilitas kursi roda,standar infus dan anak yang terpasang
traksi.Keberagaman alat bermain sesuai dengan usiadan kebutuhan anak penting dimiliki
untukmelengkapi tempat bermain tersebut.Meskipun tempat bermain penting disediakandi
setiap bangsal anak terdapat beberapakondisi yang memungkinkan anak tidak dapatterlibat di
dalam tempat bermain. Situasi inimengharuskan perawat lebih kreatif untukmemberikan
kesempatan bermain pada anak
(Utami, Y,2014).
Terapi bermain diharapkan dapat menjadialternative dalam menangani kecemasan
anak.Agar anak dapat bermain secara efektifdirumah sakit. Hal ini didukung oleh
berbagaipenelitian yang dilakukan diantaranya olehKaluas I, Ismanto dan Kundre
(2015)didapatkan hasil bahwa terapi bermain puzzledan bercerita juga efektif dalam
penurunankecemasan anak usia prasekolah selamahospitalisasi di ruang anak manado.Perawat
dapat menggunakan terapi bermainuntuk membantumenurunkan stress dankecemasan pada
anak yang berhubungandengan hospitalisai. Bermain yangdimaksudkan adalah permainan
therapeutik (therapeutic play), yaitu, upaya yang dilakukanuntuk membantu melanjutkan
perkembangannormal yang memungkinkan anak beresponlebih efektif terhadap situasi yang
sulit sepertipengalaman pengobatan,merupakan permainanbentuk kecil berfokus pada bermain
sebagaimekanisme perkembangan dan peristiwa yangkritis seperti hospitalisasi, terdiri dari
aktivitas-aktivitas yang tergantung dengan kebutuhanperkembangan anak maupun lingkungan,
dandapat disampaikan dalam berbagai bentuk yangdiantaranya adalah wayang interaktif,
seniekspresi atau kreatif, permainan boneka dll
(Utami, 2014).
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Intervensi terapi bermain dapat mengatasi kecemasan anak dengan
hospitalisasi dibuktikan dengan Skor kecemasan turun dari 18 (kecemasan
sedang) menjadi 8 (kecemasan ringan) dan HR : 100 x/menit, RR : 22 x/menit,
S : 36,7oC menjadi HR : 98 x/menit, RR : 20 x/menit, S : 36,5oC.
B. Saran
Diaharapkan terapi bermain dapat diterapkan di pelayanan klinik maupun
dapat menjadi bahan ajar atau informasi bagi mahasiswa di Institusi serta dapat
dikembangkan maupun dimodifikasi bagi para peneliti selanjutnya untuk
mengatasi masalah kecemasan pada anak dengan hospitalisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Adriana, D. (2011) Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain pada Anak. Jakarta :
SalembaMedika, h : 50-52,56,77,80.
Gloria M. Bulechek, et al. (2013). Nursing Interventions Classifications (NIC). Edisi
keenam. Missouri: Mosby Elsevier
Moorhead Sue, dkk. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC), 5th Indonesian
edition. Indonesia: Mocomedia.
Nanda. (2018). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2018-2020, Edisi 11.
Jakarta: ECG.
Saputro,Heri&Fazrin, Intan. 2017. Anak SakitWajib Bermain Di Rumah Sakit.
Sukorejo: Forikes
Utami, Yuli.2014. Dampak HospitalisasiTerhadap Perkembangan Anak.Jurnal
ImiahWIDYA Volume 2 Nomor 2 Mei–Juli 2014

Wong,D,L. 2009.Buku Ajar KeperawatanPediatrik (Vol.Volume


1).Jakarta:EGC