Anda di halaman 1dari 61

LAPORAN TUTORIAL

SISTEM GASTROINTESTINAL

PHLEGMON (CASE 1)

Disusun oleh,

Kelompok 1

Prima Rizky D 10100115091


Ryan Majid 10100116047
Ligar Yusup Budiman 10100116060
Ris Nurlaila Maulin Nimah 10100116070
Putri Fauzia Nugraha 10100116073
Fatimah Az Zakiyah 10100116100
Prajnya Kamila Ramadhanty 10100116115
Muhamad Adafiah 10100116135
Nada Maudy 10100116138
Karina Festiana Novitasari 10100116155
Levantisa Gantriani 10100116214

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2017/2018
CASE REVIEW

Miss N, 18 tahun

CC :

- Mengeluarkan banyak air liur


- Bengkak pada mulut dan kelua sisi area mandibula sejak kemarin

Riwayat :

- 4 tahun yang lalu  dental caries pada RL 2nd molar


- Treatment tidak sesuai
- 2 minggu yang lalu  sakit dan bengkak pada area mandibula kanan
- Diberi antibiotik dan analgesik
- Treatment ditinggalkan

Investigasi :

- Suhu 39,2oC
- Pulse Rate 106 bpm
- RR 32x/m
- Menggigil
- Pucat
- Extra dan Intra Oral Exam :
o Bilateral massive indurated pada area submandibular dan leher.
o Kulit tegang, kerasa saat ditekan, mengkilap, kemerahan.
o Keras seperti papan.
- Intra Oral :
o Lidah keatas, kering, coated.
o Mukosa kasar mulut naik ke atas.
o (+) Trimus
o Apd. 1 jari (2cm)
o Gigi ada caries dalam

Laboratory Exam :

- WBC meningkat
- Diff. Count : 0/2/7/80/10/1

Treatment :

- Kompres panas pada leher


- Posisi semi reclining
- 5% glucose dan normal saline IV
- Antibiotic dan Analgesic (obat anti inflamasi)

2
Daftar Isi

BAB I BASIC SCIENCE........................................................................................................................ 4


TOOTH DEVELOPMENT (EMBRYOLOGY) ............................................................................ 4
ANATOMI ORAL CAVITY............................................................................................................ 9
ANATOMI GIGI ............................................................................................................................ 16
ANATOMI LEHER ........................................................................................................................ 23
Fisiologi ............................................................................................................................................ 38
MASTIKASI................................................................................................................................ 38
MEKANISME MENELAN ........................................................................................................ 40
Mikrobiology .................................................................................................................................... 41
Mikroorganisme Rongga Mulut ................................................................................................ 41
BAB II CLINICAL SCIENCE ............................................................................................................. 43
Dental Caries ................................................................................................................................... 43
Cellulitis ........................................................................................................................................... 46
TRISMUS ........................................................................................................................................ 47
ODONTOGENIC INFECTIONS (OIs) ........................................................................................ 47
Phlegmon / Ludwig’s Angina ......................................................................................................... 51
PATOMEKANISME ............................................................................................................................ 58
BHP ....................................................................................................................................................... 60
IIMC...................................................................................................................................................... 60
Daftar Pustaka ....................................................................................................................................... 61

3
BAB I
BASIC SCIENCE

TOOTH DEVELOPMENT (EMBRYOLOGY)


Bentuk wajah tidak hanya ditentukan oleh perluasan sinus paranasal tapi juga oleh
pertumbuhan mandibular dan maksila untuk mengakomodasi gigi. Gigi itu sendiri dibentuk
oleh interaksi epitel-mesenkim antara epitel mulut di atas dan mesenkim di bawahnya yang
berasal dari sel krista neuralis.

Memiliki 7 tahap:

1. Lamina stage
2. Bud stage
3. Cap stage
4. Bell stage
5. Crown stage
6. Root stage
7. Eruption stage

4
Neural crest cells

Epithelial (epitel mulut di atas) Mesenchymal (mesenkim di bawahnya)

Tumbuh ke dalam mesenkim di bawahnya Dental Papilla

Mahkota gigi tumbuh & lekukan semakin dalam


Lapisan basal epitel (yang melapisi rongga mulut)
membentuk
Gigi berbentuk lonjeng  Bell Stage
Dental Lamina (berbentuk C) di
sepanjang rahang atas & bawah
Tumbuh membentuk Diferensiasi sel-sel mesenkim dari Sel lainnya di papila
Dental Bud: 10 pada setiap rahang papilla yang berdekatan dengan
Membentuk pulp
lapisan gigi bagian dalam
Invaginasi permukaan dalam buds of the tooth
Odontoblasts
Cap Stage (stadium pembentukan mahkota gigi)
Lapisan predentik  dentin

Bagian Lapisan odontoblas dan


tengah ameloblas bergerak menjauh
Lapisan luar Lapisan dalam

Outer dental Inner dental Stellate reticulum


epithelium epithelium (jaringan yang
teranyam longgar)

Diferensiasi sel-sel epitel inner dental epithelium


Email knot (mengatur
perkembangan gigi awal) Ameloblasts (pembentuk email)

Prisma-prisma/ batang email panjang yang


diendapkan/ deposit menutupi dentin

Email pertama kali di letakkan di apeks gigi


Crown Stage
Menyebar ke arah leher

Email menebal & ameloblas mundur ke dalam stellate reticulum

Ameloblas mengalami regresi

Meninggalkan suatu membran tipis: dental


cuticle di permukaan email (sementara)

Setelah erupsi gigi  membran tersebut bertahap terkelupas

5
Root Stage
Dental epithelial layers inner & outer
 bertemu membentuk cervical loop

Menembus/ penetrasi ke mesenkim di bawahnya

Membentuk selubung akar epitel/ rooth sheath

Dentin berkontak dengan mesekim luar gigi Dentin bersambungan dengan mahkota

Diferensiasi sel-sel mesenkim di bagian Dentin yang diendapkan/ deposit ↑↑


luar gigi & berbentuk dengan dentin akar FO
Pulp chamber menyempit
Cementoblasts Saluran berisi pembuluh darah dan saraf gigi
Menghasilkan
Lapisan tulang khusus yang tipis : Cementum

Di luar Mesenkim  periodontal ligament: menahan


lapisan
gigi secara kuat pada posisinya dan berfungsi
semen
sebagai shock absorber (peredam kejut)

Eruption Stage

Panjang akar >>; mahkota gigi perlahan terdorong melalui


lapisan jaringan di atasnya ke dalam rongga mulut

Eruption of deciduous/ milk teeth (pada usia 6-24 bulan sesudah lahir)

Buds for the permanent teeth terbentuk selama bulan


ke-3 perkembangan (letak: aspek lingual gigi susu)

Tunas-tunas tetap norman sampai sekitar 6 tahun

Seiring tumbuhnya gigi Tunas mulai tumbuh


permenen, akar gigi susu Menekan sisi bawah gigi susu dan membantu
yang berada di atasnya tanggalnya gigi-gigi susu tersebut
diserap oleh osteoklas
Definitive/ permanent tooth

6
REGULASI MOLEKULAR PEMBENTUKAN GIGI

Mesenkim  mengekspresikan gen-gen HOX Sinyal-sinyal untuk perkembangan:

Regulasi pembentukan pola - Faktor pertumbuhan: WNT, BMP, FGF


gigi dari insisivus-molar - Faktor yang diekspresikan: SHH
- Faktor transkripsi: MSX 1 & 2

Berinteraksi dalam jalur kompleks

Terjadi diferensiasi sel

Pembentukan pola masing-masing gigi

Memiliki pusat sinyal “pengatur” untuk


perkembangan gigi: simpul email/ enamel knot

Muncul di region epitel gigi yang berbatas tegas di ujung tunas gigi

Membesar pada cap stage  menjadi kelompok sel yang terkemas rapat

Selagi ada, ekspresikan: Apoptosis & lenyap


di akhir stadium ini
- FGF 4: regulasi pertumbuhan keluar tunas cuspis
- SHH: mengkode protein yang mengatur aktivasi gen-gen
lain
- BMP 2: faktor pertumbuhan yang kuat dalam
menginduksi pembentukan tulang
- BMP 4: regulasi penentuan saatnya apoptosis sel-sel
simpul email

7
USIA ERUPSI GIGI

Anak-anak: 20 gigi susu


Dewasa: 32 gigi permanen

8
ANATOMI ORAL CAVITY

Mulut atau juga disebut oral cavity / bucal cavity disusun oleh cheeks, hard palate/Palatum
durum, soft palate/Palatum mole, dan tongue.

1. Cheeks
 Membentuk dinding lateral dari oral cavity
 Pada bagian eksternal dilapisi oleh kulit dan pada bagian internal dilapisi oleh mucous
membrane.
 Dilapisi oleh sel – sel nonkeratinized stratified squamous epithelium.
 Terdapat otot buccinators dan connective tissue yang berada diantara kulit dan mucous
membrane.
 Bagian anterior pipi berakhir di bibir
2. Lips
 Fleshy folds surrounding the opening mouth
 Terdapat otot orbicularis oris
 Di bagian luar dilapisi oleh kulit dan di bagian dalam dilapisi oleh membrane mukosa.
 Permukaan dalam lips melekat pada gusi oleh labial frenulum.
 Pada proses pengunyahan, kontraksi otot buccinators dan orbicularis oris membantu
menyimpan makanan antara upper dan lower teeth, juga membantu dalam proses
berbicara.
3. Vestibule of the oral cavity
Adalah suatu ruangan yang dibatasi pipi dan bibir pada bagian eksternal, oleh gigi dan gusi
pada bagian internal.

4. Oral Cavity proper


Ruangan memanjang dari gusi dan gigi ke fauces pembukaan antara oral cavity dan
pharynx.

9
10
Salivation

- Diproduksi oleh kelenjar saliva, yang terdiri dari:


 Kelenjar parotis

 Kelenjar submandibular

 Kelenjar sublingualis

- Sekresi saliva normal harian berkisar 800-1500 ml.


- Saliva menyekresi dua jenis protein yang utama:
1. Serous secretion : yang mengandung ptyalin (suatu  - amylase), yan
merupakan enzim untuk mencerna karbohidrat.
2. Mucous secretion : Mengandung mucin untuk lubrikasi dan meapisi
permukaan mulut.

Fungsi saliva untuk kebersihan mulut

 Saliva dapat membantu mencegah proses kerusakan pada mulut ( kerusakan jaringan dan
karies gigi) melalui beberapa cara:

1. Pertama, aliran saliva sendiri membantu membuang bakteri pathogen juga partikel-
partikel makanan yang memberi dukungan metabolic bagi bakteri..
2. Kedua, saliva mengandung beberapa factor yang menghancurkan bakteri. Salah satunya
adalah ion tiosianat dan yang lainnya adalah beberapa enzim proteolitik – terutama
lisozim, yang:
a. Menyerang bakteri
b. Membantu ion tiosianat memasukin bakteri, tempat ion ini kemudian menjadi
bakterisid, dan
c. Mencerna partikel-partikel makanan, jadi membantu menghilangkan pendukung
metabolic bakteri lebih lanjut.
3. Ketiga, saliva sering mengandung sejumlah besar antibody protein yang menghancurkan
bakteri rongga mulut, termasuk beberapa yang menyebabkan karies gigi.

11
Saliva dikeluarkan terus – menerus namun dalam jumlah yang cukup untuk menjaga
kelembaban membrane mukosa oral cavity. Jumlah saliva yang dikeluarkan seharinya sekitar
1 – 1,5 L. Ketika makanan masuk ke mulut, sekresi saliva meningkat, dan melubrikasi,
melarutkan , dan melalukan pencernaan kimia dari makanan. Sekresi saliva dikontrol dengan
automic nerveus systeme.
Normalnya, stimulus parasimpatik merangsan sekresi saliva dalam jumlah yang cukup.
Stimulus simpatik dominan selama stress menghasilkan mulut kering. Jika tubuh dehidrasi,
kelenjar saliva menghentikan sekresi saliva untuk menahan air, menyebabkan kekeringan
mulut dan menimbulkan sensasi haus (minum tidak hanya memperbaiki homeostasis air tubuh
tapi juga membasahi mulut).
Perasa makanan juga sebagai stimulus terhadap sekresi saliva. Bahan-bahan kimia dalam
salivamerangsang reseptor di taste bud pada lidah dan impuls saraf disampaikan ke superior
dan inferior salivary nuclei di brainstem lalu parasimpatik memberikan impuls pada serat CN
VII dan CN IX untuk mensekresikan saliva dalam jumlah yang banyak untuk beberapa saat.
Penciuman, pandangan, bunyi atau memikirkan makanan juga dapat menstimulus sekresi
saliva. Stimulus tersebut berhubungan denga faktor psychological activation dan melibatkan
behaviour. Ketka ingatan berhubungan dengan makanan, impuls saraf dari cerebral cortex
disampaikan ke salivatory nuclei di brainsten untuk salivatory gland activated.

5. Lidah
 Massa otot rangka yang dilapisi oleh membrane mukosa. Struktur bervariasi sesuai daerah
yang diamati. Serat – serat otot saling menyilang dalam 3 bidang, bergabung dalam berkas
– berkas dan biasanya dipisahkan oleh jaringan ikat.
 2/3 anterior lidah terletak di oral cavity dan 1/3 posterior terletak di pharynx dan menempel
pada hyoid bone.
 Masa melingkar dari lingual tonsils terletak pada bagian permukaan superior pada bagian
dasar lidah.
 Permukaan inferior lidah dihubungkan sepanjang midline anterior ke lantai mulut oleh
posisi vertical lingual frenulum.
 Membrane mukosa melekat erat pada otot, karena jaringan ikat dari lamina propria
menyusup ke dalam celah-celah diantara berkas-berkas otot.

12
 Pada permukaan bawah lidah, mukosanya licin.
 Permukaan dorsal lidah tidak teratur, di anterior ditutupi banyak sekali tonjolan kecil yang
disebut papilla.
 Sepertiga bagian posterior permukaan dorsal lidah dipisahkan dari dua pertiga bagian
anteriornya oleh batas berbentuk V.
 Di belakang batas ini, permukaan lidah bertonjolan kecil-kecil yang terutama terdiri atas 2
jenis kelompok limfosit kecil; kelompok kecili limfonoduli, dan tonsila lingualis, dengan
limfonoduli berkumpul mengelilingi invaginasi (kriptus) dari membrane mukosa.
● Papilla
Papilla adalah penonjolan epitel mulut serta lamina propia yang mengambil bentuk-bentuk
dan fungsi berlainan. Ada 4 jenis;
- Papilla Filiformis
Bentuk kerucut memanjang, jumlahnya banyak dan tersebar diseluruh permukaan lidah.
Epitelnya yang tidak mengandung kuncup kecap, seringkali sebagian berlapis tanduk.
- Papilla Fungifomis
Mirip jamur karena memiliki tangkai sempit dan bagian atas melebar dengan pemukaan
yang licin. Pailla ini mengandung kuncup kecap pada permukaan atasnya, tersebar secara
tidak teratur diantara papilla filiformis
- Papilla Foliata
Kurang berkambang pada manusia. Terdiri atas 2 atau lebih rabung (ridge) dan alur
(furrow) parallel pada permukaan dorsolateral lidah. Duktus dari kelenjar serosa
bermuara pada dasar alur.
- Papilla Sirkumvalata
Adalah 7-12 papila sirkular yang sangat besar, dengan permukaan datarnya menonjol
diatas papilla lain. Papilla tersebut tersebar sepanjang daerah V pada bagian posterior
lidah. Banyak kelenjar serosa (Von Ebner) mengeluarkan secretnya ke dalam lairan setiap
papilla. Alur tersebut mengalirkan cairan pada kuncup kecap sepanjang sisi papilla.
Kelenjar tersebut mensekresikan lipase untuk menghambat terbentuknya lapisan
hidrofobik pada kuncup kecap. Aliran ini juga penting untuk menghanyutkan partikel-
partikel makanan.

13
14
Otot Mastikasi

15
ANATOMI GIGI

Maxillary : rahang atas

Mandibular : rahang bawah

Distal : gigi menjauhi arah


midline

Mesial : gigi menuju arah


midline

Gigi memiliki 4 surface, yaitu :

- Lingual : gigi menghadap ke arah lidah


- Buccal : gigi menghadap ke arah pipi
- Labial : gigi menghadap ke arah bibir
- Facial : gigi menghadap ke arah wajah

16
Fungsi utama gigi :

- Incise (memotong), mereduksi (mengurangi), dan mencampur bahan makanan dengan


saliva saat pengunyahan
- Membantu menahan dalam soket gigi dengan membantu perkembangan dan proteksi
jaringan yang mendukungnya.
- Berpartisipasi dalam artikulasi (ucapan terhubung yang berbeda)

Klasifikasi gigi dibagi menjadi 2 yang berdasarkan :

 Jenis gigi
1. Primary dentition / casts of deciduous (gugur)
2. Secondary dentition / permanent
 Karakteristik gigi
1. gigi incisors (seri)
o terdiri dari 4 gigi : 2 central dan 2 lateral incisor
o ujung pemotongan tipis
o Fungsinya untuk memotong
2. gigi canines (taring)
o terdiri dari 2 gigi : canines kiri dan kanan
o kerucut menonjol tunggal dan terletak di posterior dari gigi incisors
o merupakan gigi terpanjang
o Fungsinya untuk menangkap.
3. gigi premolar (bicuspids)
o dua katup pada buccal (pipi) dan lingual (lidah)
o terdiri dari 4 gigi : 2 first premolar, 2 second premolar
o Fungsinya untuk mengunyah
4. gigi molar (geraham)
o tiga atau lebih katup
o Terdiri dari 6 gigi : 2 first molar, 2 second molar, 2 third molar
o Fungsinya untuk mengunyah.

Anak-anak memiliki 20 gigi sulung (desidus) dan orang dewasa biasanya memiliki 32 gigi tetap.
Usia yang biasa terjadi pada erupsi ("gugurnya gigi") adalah sebagai berikut :

17
Sebelum erupsi, gigi yang tumbuh berada di alveolar arch sebagai tooth buds

Bagian Dan Struktur Gigi :

18
Gigi memiliki crown (mahkota), neck (leher), dan root (akar).

- Crown dilapisi enamel, sedangkan root dilapisi cementum


- Crown dan root berada pada cementonamel junction / cervical line dari gigi
- Sebagian besar , gigi terdiri dari dentin yang dilapisi enamel pada crown dan cementum
pada root
- Neck berada di antara batas crown dan root

Pada jaringan gigi, ia memiliki 4 jaringan yaitu enamel/email, dentin, cementum dan pulpa.

1. Enamel/email
- Lapisan terluar yang melapisi crown
- Berasal dari epitel (ectodermal) yang banyak mengandung kalsium
2. Dentine
- Membentuk bagian terbesar gigi
- Merupakan jaringan yang mengalami kalsifikasi seperti tulang
3. Cementum
- Termasuk bagian jaringan periodontium
- Menghubungkan root dengan periodontal ligamen
4. Pulpa
- Jaringan lunak di bagian tengah gigi
- Sebagai pembentuk, penyokong, merupakan integral dari dentin yang mengelilinginya
- Bagian : pulp cavity, pulp canal

Vaskulatur gigi :

19
superior dan inferior alveolar arteries, percabangan dari maxillary artery, mensupply masing-
masing gigi maxillary dan mandibular

alveolar veins memiliki nama dan distribusi yang sama menyertai arteri.

Lymphatic vessels dari gigi dan gingivae (gusi) terutama berpindah ke kelenjar getah bening
submandibular

Inervasi gigi :

Cabang superior (CN V2) dan inferior (CN V3) alveolar nerves sebagai pleksus gigi yang
menyuplai gigi maxillary dan mandibular

20
Nomenclature :

1. FDI (Federation Dentaire Internationale)

21
Digit puluhan : kuadran rahang
Digit satuan : gigi dalam kuadran tersebut

1-4 : gigi tetap / permanen


1 = rahang kanan atas ; 2 = rahang kiri atas ; 3 = rahang kiri bawah ; 4 = rahang kanan
bawah

5-8 : gigi sulung / desidus


5 = rahang kanan atas ; 6 = rahang kiri atas ; 7 = rahang kiri bawah ; 8 = rahang kanan
bawah

Dalam arah yang searah jarum jam di mulai dari sisi kanan atas pada kuadran gigi diberi
nomor dari garis median ke belakang dari 1-5 merupakan gigi desidus dan 1-8 merupakan
gigi tetap.

2. Universal notation (American dental association)

22
ANATOMI LEHER

Leher ---> Area tersisi antra ---> clavicula ( secara inferior )

---> cranium ( secara superior )

---> Terdapat banyak bagian penting ---> muscle

---> klenjar

---> trakea

---> arteri & vena

---> esofagus

---> lymph

Contoh: Carotid a } anterolateral

Jugular v

Brachial plesus ---> inferalateral

athryrod cartilage

Carvical lymph node }middle of the anterior aspect

---> Skeleton of neck 1. Carvical verlebroe

2. Hyord bone. } Axial skeletan

3. manubcrium of sternum

4. Clavicles ---> Appendicular skeletan

1. Carvical vertebrae

- 7 cervical vertebrae membentuk cervical region melindungi --> Spinal cord

- Vertebal body ---> menyokong kepala. --> meningens

23
- Intervertebral anticulatian di ujung superior ---> Feksibilitas untuk posis kepala

Dibagi 2

Typical ( lll-lV )

- Vertebral body keal lebih panjang dari sisi kiri sisi secara anteroposterior superiornya konkaf,
inferiorny konveks

- Foramen vertebral besar bentuk△

Facies anticularis ---> Superior mengarah ke superoposterior

---> Inferior mengarah ke Inferoposterior

- Processus spmosus pendek dan bercabang ( terbelah 2 )

Atypical

- C1 / atlas - Sperti ginjal mirip cicin yang (x) memilik procesus spinosus / carpus

spinosu

- Terdiri dari 2 massa lateral yang di hubungkan oleh --> arcus anterior atlntis

--> arcus poterior atlantis

- C2 / axis sperti pasak ( procesus odontoideus ) berproyeksi ke superior dari corpusnya

- C7 / vertebra prominens processus spinosus (x) terbelah 2

processus tranvesus besar

foramina tranversarium kecil

2 Hyoid bone

- Mobile hyoid bone / hyoid terletak di pras anterior atlantis setingi C3

pada angulus di antra ---> mandibula

---> cartilago thyroidea

- Bergantung pada otot-otot yang menghubungkan dengan ---> mandibula

---> processus styloideus

---> cartlago thyroidea

24
---> manubrium

---> scopula

Asal nama hyoid yang berbentu U dari kata yunani hyoeides --> bentuk mirip hurup upsilan

- Hyoid (x) bersartikulasi dengan tulang lain

- Tergantung pada processus styloideus ossis temporalis melalui ligamentum stylohyoideum dan
terikat kuat dengan cartilago thyroidea

Terdiri dari coipus dan carnu majus dan minw

- Berperan sebagai pelekat untiluk musculas cervicais anterior dan penyangga yang menjangga
jalan napas agar tetap terbuka

Fascia carvicalis

- Struktur dileher dikelilingin oleh lapisan jaringang subkukutan ( Fascia superficralis ) dan
dibagi oleh lapisan-lapisan fascia cervicalis

a. Cervical subkutaneous Tissue & Platysma

- Jaringan subkuta leher ( fascia carvicalis superficalis )

• lapisan jaringan ikat berdarah diantara ---> dermis kulit

---> fascia ininvestiens pada fascia cervicalis profunda

• Jaringannya lebih tipis dari pada jaringan diregio lain terutama di anterior

• mengandung ---> saraf kulit

---> pembulu darah

---> pembulu limfatik

---> nodr lymphatici superficiales

---> banyak lemak

- Musculus Platysina

• Slembar otot tipis yang lebar dalam jaringan subkutan leher

• Berasal dari lembaran kontinu otot yang berasal dari meserkim pada arcus

25
pharyngeus ll embrio Disuplai oleh cabang-cabang N facialis (N Vll)

• Dipresarafi oleh R carvicalic (N Vll) vena jegularis externa yang turun dari angules

mandibulae ke bagian tengah clavicula dan nervus artenous utama dibagian dalam

• Inseasio superior ---> menegangkan kulit

---> menghasilkan cristo kulit vertical

---> melepaskan tek pada vena superficialis

inferior ---> membantu menekan mandibula

---> menarik sudut mulut ke inferior ( menyeringai )

otot ekspresi wajah ---> membawa tegangan / sters

b. Fascia Cervicalis Profunda

- terdiri dari 3 lapisan fascial ---> investiens

---> lamina pretrachealrs fasciae cervicalis

---> prevertebralis

menopang ---> vicera

---> otot

---> pembulu darah

---> nodr lymphatici

- mengeras disekitar ---> arteria carotrs communis

---> V jugularis inyerna } membentuk selubung karotis

---> N vagus

C. Lamina Superficialis Facia Cervicalis Profunda

- lapisan fascial profunda paling superfisial

- mengitari seluruh leher disebelah dalam kulit & jaringan subkutan

- melekat pada ---> linea nuchealisvsuperior assis occipitalis

---> arus zygomaticus

26
---> margo inferior mandibulae

---> Os hyoidemi

---> processus spinosus vertebra cervicalis

d. Lamina Pretrachealis Fascia Cervicalis

- Terbatas dibagian anterior leher

- Membentang ke inferior dari os hyoideum ke dalam thorax

- Meliputi ---> Pras muscularis tipis : melapisi M. Infrahyoideus

---> Pras viscelaris : melapisi glandula ---> Thyroidea

---> Trachea

---> Oesophagus

---> berlanjut ke post dan sup dengan fascia buccopharyngealis pharyne

- Menyatu di lateral dengan vagrna carotica fasciae cervicalis

Lamina Pervertebralis Fascia Cervicalis Profunda

- Membentuk lembaran tubular untuk columna vertebralis dan otot-otot yang berhubungan --->
M. longus coll

---> M. longus capitis

---> Musculus scalenus

-Terfiksasi pada basis craniidi superior

- Di inferior menyatu dengan ---> Fascia endhothoracica di perifer

---> Ligamentum longitudinale anterior di sentral

- Meluas ke lateral sebangai vagina axillaris yang mengelilingi pembuludarah axillaris dan
plexus brhacialis

- Selubung karotis ---> • Investasi fascia tubular yang meluas dari basis cranii ke

akar leher

• berisi ---> arteri carotis communis & A. carotis interna

---> V. jugularis interna

27
---> N.vagus (N.X)

---> nodr lymphatici cervicales profundi

---> N. sinus caroticus

---> serat saraf simpatis

Regio Cervicalis Lateralis

- dibatasi ---> anterior : margo pasterior SCM

---> pasterior : margo anterior trapezius

---> inferior : 1/3 media clavrcula diantra M. trapezius & SCM

---> apex SCM &

---> atap : terbentuk oleh lamina surperficralis fascia cervicalis profunda

---> dasar terbentuk oleh otot-otot yang di tutupi oleh lamina preveryebralis

fascia cervicalis profunda

Otot - otot Pada Regio Cervicalis Lateral

- dasarnya terbentuk oleh lamina pervertebralis di atas ---> M. scalenus medius

---> M. splenius capitis

---> M. levator scapulae

---> M. scalenus posterior

- terbagi menjadi ---> trigonum occipitale

---> paling penting yang menyilangnya : N.occessorius (N Xl)

---> trigonum omoclaviculare

---> sering disebut trigonum subclavian ---> bagian ke 3 A

subclavian di regolio terrsebut

Arteri - arteri Pada Regio Cervicalis Lateral

A. Transversa cervicis

28
- Asal dari truncus thyrocervicalis

- Berjalan secara superfisial & lateral menyilang N.phrenius dan M.scalenus anterior

- M.scalenus antara 2-3 cm di sup.clavicula ---> melalui trunci plevus brachialis yang menyuplai
cabang - cabang ke vena nervorum nya & berjalan disebelah dalam M.trapezius

- Ramus superficialis A transversa cerrcic menyertai N.accesorius ( N X) di sepanjang permukan


anterior (dalam) M.trapezius

- Ramus profundus berjalan di anterior M.rhomboideus sebagai A.dorsalis scapulae

A. Supraclavicularis

- Berjalan secara inferolateral di sepanjang M.scalenus anterior dan N.phrenicus arteria --->
menyilang bagian ke3 A.subclavia dan corda plexus brachialis ---> berjalan posterior untuk
memperdarahi otot pada aspek posterior scapula

Cabang ke3 subclavia

- memperdarahi ekstrenitas atas

- selebar jari di superior clavicula berlawanan dengan margo lat M.scalenus anterior

- Tersembunyi di ---> pars inferior cervicalis lateralis

---> posterosuperior V.subclavio

FASCIAL SPACES

29
---> Ruang yang di bentuk oleh lapisan fascia

---> Jenis - Suprahyoid

- Infrahyoid

- Seluruh leher

- Suprahyoid Fascial Spaces

• Submandibular

- lokasi :

- Anterior & lateral ---> mandible

- Pasterior ---> hyoid bone

- Superior ---> mucosa of the floor of the oral cavity

- Inferior ---> superfacial layer of deep carvical fascia

- Hubungan :

Berhubungan dengan lateral pharyngeal space

• Sublingual

- lokasi

Diantara mucosa & mylohyoid m

- Hubungan

Berhubungan dengan submaxillary space

• Submaxillary

- Lokasi :

diantara mylohyoid M & lapisam superficial deep fascia layer

- Hubungan

30
dengan sublingual space

• Lateral Pharyngeal

lokasi pada lateral aspect faring

- Hubungan

• Submandibular ---> anterior

• Retropharyngeal ---> pasterior

- lokasi

Terbaik ketika lapisan superficial deep terpisah untuk menutup Ramus of mandible

- Hubungan

Temporal space

• Temporal

- Lokasi

Terbentuk ketika lapisan superficial deep fascia metup temporalis m

- Hubungan

masticator space

Infrahyoid Fascial Space

• Pretracheal

- lokasi :

superior ---> larynx

• Inferior superior ---> mediastinum

- Hubungan :

adanya perfasia pada reforpharyngeal space

31
SELURUH LEHER

• Superficial

lokoasi : disekeliling platysma

Hubungan : face

• Retropharyngeal

lokasi :

posterior bucopharyngael layer

Hubungan :

lateral pharyngeal space sulingual space

Biasanya karena infeksi waldaye's Rhe

• Prevertabral

lokasi :

diantara prevertebral space & vertebral colum

Hubungan

Spread of injection is not common

• Carotid Sheath

Hubungan :

visceral spaces

32
33
ANATOMI
MASTIKASI

Mastikasi
merupakan motalitas
mulut yg melibatkan pemotongan, penghancuran, penggilingan dan pencampuran makanan yg

34
dicerna oleh gigi (Sherwood). Sedangkan sistem mastikasi merupakan unit fungsional yg terdiri
dari gigi, struktur penyokongnya (rahang), sendi temporomandibular, otot yang bekerja langsung
ataupun tidak langsung dalam mastikasi, sistem pembuluh darah serta saraf yang mensuplai
jaringan tersebut.

***Otot-otot yang berperan ada di anatomi pada page sebelumnya**

Pergerakan Sendi
Temporomandibular

1. Elevasi (mulut tertutup)


Otot temporal, masseter, dan
medial pterygoid
2. Depresi (mulut terbuka)
Otot lateral pterygoid, suprahyoid,
dan infrahyoid
3. Protrusi
Otot lateral pterygoid, medial
pterygoid, dan masseter
4. Retrusi
Otot temporalis dan otot masseter
5. Lateral (menggiling dan mengunyah)
Otot temporalis (di sisi yang sama), pterygoid (di sisi yang berlawanan), dan otot
masseter

35
Adapun Ligament yang menyusun TMJ :

- Ligament lateral / temporomandibular (intrinsik) yang berfungsi untuk mencegah


dislokasi posterior sendi
- Ligament Stylomandibular yang merupakan penebalan kapsula fibrosa paratiroid gland
yang berjalan dari styloid process ke angle of mandibular.
- Ligament sphenomandibular yang merupakan penoang pasif primer mandibular.
Otot- otot yang Otot-otot yang terutama bertanggung jawab untuk menggerakkan
mandibula selama proses pengunyahan adalah m.masseter, m.temporalis, m.pterygoideus

36
lateralis, m.pterygoideus medialis. Otot pengunyahan tambahan seperti muskulus
mylohyoideus, m.geniohyoideus, m.stylohyoideus, m.infrahyodeus, m.buccinator dan
labium oris

37
Fisiologi
MASTIKASI
Mastikasi merupakan motalitas mulut yg melibatkan pemotongan, penghancuran,
penggilingan dan pencampuran makanan yg dicerna oleh gigi. Gigi didesain untuk mengunyah.
Gigi anterior (incisor) meberikan proses pemotongan yang kuat dan gigi posterior (molar)
didesain untuk proses menggiling. Seluruh otot rahang bila bekerja sama dapat menahan gaya
sebesar 55 pounds untuk gigi incisor dan 200 pounds untuk gigi molar.

Hampir seluruh otot pengunyah diinervasi oleh motorik CN V. Pengunyahan dikontrol oleh
nuclei di brainstem tepatnya di brainstem taste centers yang akan menghasilkan Rhytmical
Chewing Movements. Stimulasi area di hypothalamus, amygdala, dan cerebral cortex terdekat
juga dapat menstimulus proses mastikasi. Hampir seluruh proses mastikasi disebabkan oleh
Rhytmical Chewing Reflex dengan bantuan otot skelet rahang, bibir, pipi, dan lidah sebagai
respon terhadap tekanan makanan terhadap jaringan oral namun mastikasi juga dapat dilakukan
secara sadar.

Fungsi Mastikasi:

1. Menggiling dan menghancurkan makanan ke dalam ukuran yang lebih kecil sehingga
memudahkan proses menelan
2. Meningkatkan area permukaan makanan yang merupakan tempat salivary enzyme
bekerja
3. Mencampur saliva dan makanan
4. Menstimulasi taste buds untuk meningkatkan sensasi menyenangkan dan meningkatkan
reflex sekresi saliva, lambung, pancreas, dan empedu.

38
Proses mastikasi:

Adanya bolus makanan di mulut

Memicu inhibisi reflex dari otot mastikasi

Rahang bawah turun

Penurunan rahang memicu stretch reflex otot rahang

Terjadi rebound contraction

Rahang tertarik ke atas

Terjadi inokulasi (penutupan) gigi

Mengkompresi bolus di mulut

39
MEKANISME MENELAN
Pusat menelan : Medula Oblongata

Phase:

1. Oral Phase
Volunteer
Yang berperan : lidah dan palatum
Bolus di ditekan oleh lidah kearah atas (palatum) kemudian di dorong ke posterior
menuju faring.

2. Faringeal Phase
Involunteer
- Inisiasi “Swallow Reflex” neuromuscular control.
Bolus menekan/bersentuhan dengan tiang-tiang tonsil dan cincin yang mengelilingi
pembukaan faring  stimulasi tactil receptor di orofaring  trigeminal n. dan
nosofaringeal n.  Medula Oblongata
- Efek: lidah memblok oral cavity, soft palate menutup nasofaring, vocal folds tertutup,
laring terangkat keatas anterior, dan epiglottis nutup ke bawah.
- Upper spincter esophagus relax sehingga memudahkan bolus memasuki esophagus.
Sementara jika tidak ada makanan, atau dalam keadaan respirasi, maka spincter akan
berkontraksi sehingga udara akan masuk ke jalur yang benar, yaitu trakea.
- Faring  gerakan peristaltic

3. Esophageal Phase
Dorong bolus dengan gerakan peristaltic
- Gerakan peristaltic primer
Gerakan peristaltic lanjutan dari faring. Hanya membutuhkan waktu 8-10 detik bolus
sampai ke lambung melalui esophagus. Kalau makan dalam posisi tegak  (+)
gravitasi  5-8 detik
- Gerakan peristaltic sekunder
Muncul ketika ada bolus yang tertahan di esophagus dan peristaltic primer tidak bisa
mendorongnya.
Dimulai?
½ dimulai oleh sirkuit saraf intrinsic dalam system saraf mienterikus
½ reflex-refleks yang dimulai oleh faring  afferent vagus  medulla oblongata 
efferent vagus dan glosofaringeal nerve  esophageal

40
Mikrobiology

Mikroorganisme Rongga Mulut

Mikroorganisme terdiri dari bakteri, virus, jamur dan lain-lain. Didalam rongga mulut
manusia terdapat banyak mikroorganisme baik flora normal maupun yang patogen.

Mikroba dalam jumlah yang sangat banyak, di antaranya streptococci (100%),


staphylococci (65.4%) dan P.aeruginosa (7.7%) yang semuanya telah diketahui bersifat patogen,
mengakibatkan nosokomial dan merupakan infeksi yang mengancam nyawa bagi orang yang
mempunyai sistem imunitas yang rendah

Tipe mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit dibagi menjadi kategori, yaitu:

1. Bakteri
2. Virus
3. Jamur
4. Protozoa

Bakteri aerob dan fakultatif anaerob yang dapat berada dirongga mulut :
a) Golongan Gram-negatif : (Escherichia coli, Proteus vulgaris, Klebsiella pneumonia,
Eikenella corrodens, Bordetellapertussis, Haemophilus influenza, Actinobacillus
actinomycetemcomitannc, Campylobacter rectus).
b) Golongan Gram negatif diplococcic:(Moraxella catarrhalis, Neisseriameninggitis,
Neisseria flavescens, Neisseria gonorrhoeae)
c) Golongan Gram-positif dan coryneform bacteria (Lactobacillusacidophilus,
Corynebacterium diphteriae)
d) Golongan Staphylococci : (Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis,
Staphyloccocus spp.)
e) Golongan Streptococci : ( Streptococcus mutans, Streptococcus salivarius, Streptococcus
milleri, Streptococcus sangius, Streptococcus pyogenes, Streptpcoccus pneumonia,
Streptococcus Spp. Enterococcus faecalis)
f) Golongan Enterococcus spp : Spirochetes (Treponema pallidum) Mycoplasmas (
Mycoplasma pneumonia)

41
Bakteri anaerob dirongga mulut meliputi:

a) Golongan Gram-negatif : (Prophyromonas Gingivalis, Prevotella Intermedia, Prevotella


Melaninogenica, Prevotella Oralis, Prevotella Spp, Fusobacterium Nucleatum,
Fusobacterium Spp, Bacteroides Spp, Verillonella Spp)
b) Golongan Gram-positif : (Arachnia Spp, Bifidobacterium Spp, Eubacterium
Spp,Propionibacterium Spp, Peptostreotococcus Micros, Peptostreptococcus Spp)
c) Golongan yang membentuk spora :Actinomycetes( Actinomysesviscosus, Actinomyces
Israelii, Actinomyses Spp)
d) Bakteri yang terdapat dirongga mulut akibat penyakit gigi dan periodontal
- Bakteri penyebab karies : Streotococcus Mutans, Lactobacillus Acidophilus Dan
Actinomyces Viscosus.
- Bakteri anaerob yang menyebabkan periodontitis : Porphyromonas Gingivalis,
Prevotella Intermedia Dan Peptostreptococcus Micros.

42
BAB II
CLINICAL SCIENCE

Dental Caries
Definisi

- Transmissible bacterial disease process caused by acids fom bacterial metabolism


diffusing into enamel, dentine, and dissolving the mineral (Australian Dental Journal)
- Destruction of dental hard acellular tissue by acidic by-products from the bacterial
fermentation of dietary carbohydrates especially sucrase (Asian Journal of Biometal &
Pharmaceutical Sciences)

Etiologi

Level Anak-Anak

1. Frekuensi Meminum Minuman Manis


2. Sikat Gigi yang Tidak Teratur
3. Plaque yang Terlihat
4. Kolonsasi Dini yang Dibawa Bakteri
Level Keluarga

1. Kebiasaan Merawat Gigi dari Orang Tua


2. Kesehatan Maternal
3. Pola Hidup Ketika Hamil dan Awal Setelah Melahirkan
4. Faktor Demografis Keluarga
Level Komunitas

1. Kesehatan Gigi dan Klinik Gigi yang Tersedia


2. Faktor Budaya dan Lingkungan Sekitar

Gigi Umur, Jumlah Fluorida, Nutrisi, Carbonate


Substrat Kebersihan Gigi, Frekuensi Makan, Karbohidrat
Flora Streptococus Initasi – Mutan, Milleri, Mitior, Sanguis, Salivaris
Progres – Karies Gigi dan Karies Akar Gigi
Locatobacilli Initasi – Acidophilus, Casei
Progresi – Dentin

43
Actinomyses Initasi – Visvosus, Naeslundsi
Progresi – Actinomycoses (Israelli, Odontolyticus)

Faktor Resiko

1. Saliva
2. Diet
3. Fluorida
4. Oral Biofilm
5. Faktor Perubahan Gaya Hidup, Lokasi Gigi, Status Ekonomi dan Sosial. Kondisi
Gigi Saat ini & Dahulu. Kondisi Kesehatan. Cara Merawat Gigi
dan Cara Diet

Type

1. Primer : Kerusakan pada lokasi yang sebelumnya belum pernah rusak


2. Sekunder
3. Lainnya
Klasifikasi

1. Tingkat Progres
A. Akut
B. Kronis
2. Dampak
A. Enamel
B. Dentinal
C. Cementum
3. Lokasi
A. I. Pit dan Fissure
B. II. Permukaan dari Gigi Posterior
C. III. Gigi Anterior Tanpa Efek Tepi Incisal
D. IV. Gigi Anterior Dengan Efek Tepi Incisal
E. V. Permukaan Gingival/Cervical dalam aspek lingual atau facial (Anterior / Posterior)
F. VI. Tepi Incisal dari Gigi Anterior atau Titik Tertinggi dari Gigi Posterior

44
Penetration to The Tooth Pulp

Pulpitis Akut
Mild & (Sensitif Terhadap
Chronic Panas/Dingin, Nyeri)

Spreading Periopical Per


Granuloma C
Irreversible Pulpitis

Pulp Necrosis Radioluscent


apex
Severe Pain Sharp Throbbing

Makin parah

Deep Fascial
Planes

Virulent Cellulitis
(Ludwig’s Angina)

Submandibular S
45
Floor of the M
Cellulitis
a. Definisi
 Suatu penyebaran oedematus dariinflamasi akut pada permukaan jaringan lunak
danbersifat difuse sepanjang fascia space.
 Selulitis mengenai jaringan subkutan bersifat difus, konsistensinya bisa
sangat lunak maupun keras seperti papan, ukurannya besar, spongius dan tanpa
disertai adanya pus, serta didahului adanya infeksi bakteri. Tidak terdapat
fluktuasi yang nyata seperti pada abses, walaupun infeksi membentuk suatu
lokalisasi cairan (Peterson)

b. Etiologi
 Mikroorganisme aerob & anaerob.
 Infeksi Primer selulitis dapat berupa: perluasan infeksi/abses periapikal,
osteomyielitis dan perikoronitis yang dihubungkan dengan erupsi gigi molar tiga
rahang bawah, ekstraksi gigi yang mengalami infeksi periapikal/perikoronal,
penyuntikan dengan menggunakan jarum yang tidak steril, infeksi kelenjar ludah
(Sialodenitis), fraktur compound maksila / mandibula, laserasi mukosa lunak
mulut serta infeksi sekunder dari oral malignancy

c. Klasifikasi
1) Ludwig’s Angina / Phlegmon
2) Selulitis yang berasal dari inframylohyoid
3) Selulitis Senator’s Difus Peripharingeal
4) Selulitis Fasialis Difus
5) Fascitis Necrotizing dan gambaran atypical lainnya
d. Manfes
Gejala lokal antara lain pembengkakkan mengenai jaringan lunak/ikat
longgar, sakit, panas dan kemerahan pada daerah pembengkakkan, pembengkakan
disebabkan oedem, infiltrasi s elular dan kadang kare na adanya pus,
pembengkakkan difus, konsistensi kenyal – keras seperti papan, kadang-kadang
disertai trismus dan kadang-kadang dasar mulut dan lidah terangkat.
Gejala sistemik seperti temperatur tinggi, nadi cepat dan tidak teratur,
malaise, lymphadenitis, peningkatan jumlah leukosit, pernafasan cepat, muka

46
kemerah-merahan, lidah kering, delirium terutama malam hari, disfagia dan
dispnea.

TRISMUS
Definisi

Tonic Contraction of The Muscles of Mastication ; Any restriction to the mouth opening,
including restrictions caused by trauma, surgery / mediation.

Grade

- Grade 1 > 3,0 cm


- Grade 2 2,0 – 3,0 cm
- Grade 3 < 2,0 cm

SEMI RECLINING POSITION

- Kepala dinaikkan 30 - 45°


- Bagian Depan Oral Cavity Terangkat & Punggung Diturunkan
- Gaya Gravitasi Membuat Bolus Lebih Mudah Bergerak dari Oral Cavity ke Pharynx
- Respiratory Tract terangkat & esophagus pada posisi lebih turun
Bolus Ke Posterior Pharynx

Esophagus

Tujuan

- Mempermudah Pindah dari Kasur Untuk Makan


- Untuk Makan Tanpda Bantuan Posisi Harus 60° lebih tinggi dari posisi supinasi (jika
kurang harus dibantu)
- Untuk Dypagia Parah (30°)

ODONTOGENIC INFECTIONS (OIs)


a. Definisi
INFEKSI. Adalah invasi dan kolonisasi patogen mikroorganisme ke jaringan tubuh,
menghasilkan injuri seluler lokal yang disebabkan oleh respon metabolisme kompetitif,
toksin, replikasi intraseluler, atau antigen-antibodi

47
INFEKSI ODONTOGENIK. Adalah infeksi yang berasal dari dental pulp, periodontium,
jaw bones, atau jaringan sekitarnya. Infeksi odontogenik kebanyakn oleh bakteri. (SM Balaji,
Textbook of Oral & Maxillofacial Surgery)

Infeksi odontogenik adalah penyakit pada gigi yang disebabkan oleh infeksi akibat bakteri
flora normal yang ada pada rongga mulut (Streptococcus) dan berasal dari gigi.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi orofasial

c. Etiologi
- Microbacterial atau terdapat banyak bakteri pada rongga mulut
- Plaque pada gigi
- Bad hygine
- Diet (pola makan) suka makan makanan yang manis
d. Mikrobiologi infeksi odontogenik

48
95% kasus:
- Gram + cocci aerobic (Streptococcus spp.) dan anaerobic (Streptococcus spp.,
peptococcus spp., dsb)
- Gram – bacilli anaerobic (Prevotella spp., Porphyromonas spp.)

e. Rute penyebaran
- Penyebaran langsung: jaringan lunak superfisial, fascial spaces berdekatan, dan spaces
medulari lebih dalam dari tulang alveolar  penyebaran osteomyelitis
- Penyebaran tidak langsung: rute limfatik (nodus regional di kepala dan leher: submental,
submandibular, deep cervical, parotid, and occipital) dan rute hematogen (ke organ-organ
seperti otak)

f. Tahap-tahap infeksi
Tahap-tahap infeksi odontogenik umumnya melewati tiga tahap sebelum mereka
menjalani resolusi, yaitu selama 1-3 hari: pembengkakan lunak, ringan, lembut, dan
adonannya konsisten, antara 5-7 hari: tengahnya mulai melunak dan abses merusak kulit atau
mukosa sehingga membuatnya dapat ditekan. Pus mungkin dapat dilihat lewat lapisan epitel,
membuatnya berfluktuasi; akhirnya abses pecah, mungkin secara spontan atau setelah
pembedahan secara drainase. Selama fase pemecahan, regio yang terlibat kokoh/tegas saat
dipalpasi disebabkan oleh proses pemisahan jaringan dan jaringan bakteri.

g. Klasifikasi
Berdasarkan tipe infeksinya :
a) Infeksi odontogen lokal
Ex: abss periodontal akut, periimlantitis

49
b) Infeksi odontogen luas atau menyebar
Ex: early cellulitis
c) Mengancam jiwa
Ex: fascilitis, Ludwig’s

Menurut buku Fragiskos D. Fragiskos. Oral Surgery

1) Dental caries : penyakit pada gigi yang disebabkan oleh metabolisme gula di plaque gigi,
yang diakibatkan oleh dari infeksi bakteri streptococcus mutans
2) Periodontal disease : penyakit akibat akumulasi plaque dan calculus pada gigi (alcified
dental plaque/tartar)
- Acut inflamatory
- Chronic purulent inflamation
Gejala : lokal → pain, edem, kemerahan. Sistemik→ demam, malaise, mual, dan muntah.
3) Acute dentoalveolar abcess : inflamasi purulent akut dari jaringan periapical pada gigi.
Gejala : pain, edem, gigi sensitive
4) Inflamasi gingival hyperplasia : pembesaran atau pelebaran dari gingival akibat inflamasi
lokal
5) Acute necritizing stamatitis : penyait pada oral cavty yang disebabkan oleh poor hygine
dan malnutrisi juga jarang menjadi infeksi yang parah.
Gejala : edema, bleeding, necrotic pada alveolar bone, gingival inflammation
Etiologi : HIV, immine suppresion, malnutrisi

h. Manifestasi Klinis + Diagnosis


1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik:
- Tanda inflamasi: rubor/ redness, tumor/ swelling, calor/ heat, dolor/ pain, dan functio
laesa/ loss of function
- Demam/ pyrexia
- Menggigil berulang
- Limfadenopati
- Sakit kepala
- Lain-lain: sulit membuka mulut, sulit menelan, banyak saliva, perubahan fonasi, dan
sulit bernapas
3. Pemeriksaan radiologis: CT-scan

i. Manajemen
8 langkah manajemen infeksi odontogenik:
1. Tentukan tingkat keparahan infeksi
2. Evaluasi pertahanan host
3. Tentukan pengaturan perawatan

50
4. Surgical
5. Support medically
6. Pilih dan resepkan terapi antibiotik
7. Berikan antibiotik yang benar
8. Evaluasi pasien sesering mungkin

j. Komplikasi
1. Direct spread
- Ludwig’s angina
- Necrotizing fasciitis of the head and neck
2. Distant spread
- Thrombosis of the cavernous sinus
- Cerebral abscess
- Meningitis
- Orbital infection

Phlegmon / Ludwig’s Angina


Selulitis yang mengancam jiwa
Infeksi yang terjadi pada connective tissue dari lantai mulut, terjadi pada orang dewasa,
bersamaan dengan infeksi gigi dan jika dibiarkan tidak diobati.

Grodinsky (1939), mengkarakteristikkan dengan:

- Bilateral lebih dari 1 ruang

51
- Produksi infiltrasi serosanguineous gangrene dengan atau tanpa pus
- Melibatkan connective tissue dan otot tapi struktur kelenjar tidak
- Menyebar dengan cara terus-menerus (berlangsung) bukan melalui lymphatic

Etiologi:
- Streptococcus
- Staphylococcus
- Bacteroides

Faktor Resiko:

- Kebersihan gigi dan mulut yang buruk


- Trauma pada mulut
- Cabut gigi
- Setelah terjadi infeksi pada akar gigi molar kedua atau ketiga
- Kondisi immunocompromise: HIV, diabetes, alkoholik, penerima donor organ

Sign & symptoms

- Board-Like Swelling of The Floor of The Mouth


- Consequent Elevation of The Tounge
- The Swelling is Firm, Parnful & Diffuse
- Difficulty of Eating, Swallowing, and Breathing
- Usually Hight Fever
- PR , RR
- Moderate Leukocytosis
Diagnosis

1. Anamnesis
- Sakit Gigi
- Nyeri pada Leher
- Pergerakan Leher Terbatas
- Tenggorokan Kering
- Dysphagia
- Dysphonia

2. Physical Examination
- Tachypnea
- Tachycardia
- Demam

52
- Erythema
- Swelling
- Drooling
- Dyspnea
- Tenderness Topalpation of Submandibular Area
- Neck Rigidity
- Trismus
- Tongue Displacement

3. Diagnostic finding
- Evaluasi Laboratorium : WBC Count, ESR
- Diagnostuic imaging: X-Ray Leher & Dada, CT pada Leher

53
54
55
 Management
Untuk management pada kasus ini terdapat 8 step yaitu
1. Tentukan tingkat keparahan infeksi
Tingkat keparahan phlegmon/ Ludwig’s Angina dilihat berdasarkan anatomic
location, rate of progression, airways compromise
a. Anatomical Location
Lokasi anatomic dapat menentukan tingkat keparahan
- Buccal, infraorbital vestibular, superperiosteal space : Tingkat keparahan
rendah, tidak mengancam jalan napas
- Submesseteric, pterygomandibular, superficial & deep temporal space,
perimandibular space (submandibular, submental, sublingual) : tingkat
keparahan sedang karena adanya gangguan pernapasan
- Lateral pharyngeal, retropharyngeal dan mediastinum : keadaan paling parah
b. Rate of Progression
Lihat progresif dari pasien seperti lihat dari gejala-geala pasien (tingkat rasa sakit,
trismus, jalan napas)
c. Airways compromise
Lihat dari jalur napasnya ada gangguan atau tidak
2. Evaluasi penyebabnya
a. Immune System Compromise
Lihat apakah pasien memiliki penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
system imun atau kekebalan tubuh contoh : diabetes melitus
3. Tentukan perawatan yang akan digunakan
4. Oprasi/ surgically
Indikasi dilakukannya oprasi
1) Jalan napas sudah sangat terganggu
2) Moderate to high anatomical severity
3) Multiple space involument
4) Progresiditas infeksi cepat
5) Membtuhkan anastesi total
5. Support Medically

56
a. Pemebrian antibiotic selama 10 hari
 Penicillin G 4 juta unit / 12 jam I.M
 Streptomidin 1mg/12 jam I.V
 Staphcilin 900mg/4jam I.M
 Tetracilin 500mg/12 jam I.V
b. Supportive Care
Istirahat dan nutrisi yang cukup
c. Pemberian analgesic
 Diklofenak 50mg/8 jam
 Ibuprofen 100-600 mg/8 jam
Catatan : jika kortikosteroid diberikan, tambahkan anakgesic murni seperti
paracetamol 650mg/4-6 jam atau opioid dosis rendah kodein 30mg/6 jam
6. Pilih dan Resepkan Antibiotik
 Inisiasi intraoral : sublingual space
 External iniciation : perimandibular space
 Nasotracheal : apabila kesulitan membuka mulut/ ada edem di mulut
7. Berikan antibiotic dengan benar
8. Sellau evaluasi pasien
 Komplikasi
1. Massive swelling In neck (Bull Neck)
2. Di larynx ( Edema Epiglottis)
3. Di Retropharyngeal space (Mediastinum Infaction)
4. Di lateral pharyngeal space (Trombosi jugular Vein)
5. Asphyxia
 Prognosis
AD BONAM

57
PATOMEKANISME
Ms N 18 thn

Kurang menjaga higenitas oral

Mudah terinfeksi bakteri flora normal

Streptococcus mutans Streptococcus Hemolyticus

Metabolism karbohidrat suukrosa + sisa-sisa makanan

Diubah menjadi polimersukrosa  Asam Laktat

Terbentuk plaque

PH mulut menjadi asam / PH turun

Melarutkan ion ca2+ sehingga demineralisasi

Destruksi gigi email – dentin

Caries Dental

Tidak patuh minum obat (Antibiotik)

Bakteri menyebar lewat odontogenik

Palpitis  Nekrosis pulpa dental

Menyebar ke jaringan periapical

Respon Inflamasi Inflamasi ke bagian jaringan


sistemik spatium facialis

58
Memicu pengeluaran IL -1 Eksudat spatium primer
Reaksi Inflamasi Stimulasi ke Penyebaran submandibular Sublingual Submental
reseptor bakteri
Nyeri hebat hipotalamus Pembengkakan Sulit Bengkak
dasar mulut berbicara di leher
Neutrophil
Memicu
Saraf IX, V, X batang
parogen
meningkat Progressive ke
endogen Menganggu otot
Cortex cerebri bagian leher
masseter
Terdapat
Suhu naik
Hiperstimulasi parogen Lidah elevasi
39.60c
kelenjar paratiroid
Trismus Sulit
saliva Obstruksi jalur membuka
nafas mulut
Drools
Sesak

RR meningkat

59
BHP
1. Memberikan edukasi pada pasien tentang hygene dan bagaimana dampaknya jika poor
hygene

2. Memberikan edukasi kepada pasien untuk tetap mengikuti pengobatan dengan tuntas
dan teratur dan menjelas kantentang komplikasi jika pengobatan tidak tuntas

3. Menjelaskan tentang penyakit yang dialami sekrang dan menyarankan untuk


melakukan tindakan operatif

IIMC
- Surat At-Taubah ayat 108

‫ج ا ٌل ي ُ ِح ب و ان أ ا ْن‬ ‫اَل ت اق ُ مْ ف ِ ي هِ أ ا ب ا د ًا ۚ ل ا ام سْ ِج د ٌ أ ُس ِ ا‬
‫س ع ا ل ا ى ال ت َّق ْ او ٰى ِم ْن أ ا َّو ِل ي ا ْو ٍم أ ا اح ق أ ا ْن ت اق ُ وما ف ِ ي هِ ۚ ف ِ ي هِ ِر ا‬
‫ي ا ت اط ا هَّ ُر وا ۚ او َّللاَّ ُ ي ُِح ب ال ْ ُم ط َّ ه ِ ِر ي ان‬
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid
yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut
kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

- Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

ُ ‫اك لََم ْرت ُ ُه ْم أُمتِي على أ‬


َ‫شق أ ْن لىْل‬ ِ ‫ء ُوضُى ُك ِل ِع ْند بِالسِى‬

“Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka


bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR. Bukhari)

60
Daftar Pustaka

 Berini, et al, 1997, Medica Oral: Buccal and Cervicofacial Cellulitis. Volume 4, (p337-50).
 Dimitroulis, G, 1997, A Synopsis of Minor Oral Surgery, Wright, Oxford (71-81)
 Falace, DA, 1995, Emergency Dental Care. A Lea & Febiger Book. Baltimore (p 214-26)
 Milloro, M., 2004, Peterson’s of Principles Oral and Maxillofacial Surgery, 2nd edition, Canada:
BC Decker Inc.
 Neville, et al, 2004, Oral and Maxillofacial Pathology. WB Saunders, Philadephia
 Pedlar, et al, 2001, Oral Maxillofacial Surgery. WB Saunders, Spanyotl (p90-100)
 Peterson, et al, 2002, Oral and Maxillofacial Surgery. Mosby, St. Louis
 Topazian, R.G & Golberg, M H, 2002,
 Oral and Maxillofacial Infection, WB Saunders, Philadelphia

61