Anda di halaman 1dari 2

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN TEORI LEV VYGOTSKY DAN JEAN PIAGET

oleh: Abbas Prentha*

A. PENDAHULUAN

Jean Piaget berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang
termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan dengan membagi skema melalui empat periode
utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia, yakni: 1) Periode
sensorimotor (usia 0–2 tahun), 2) Periode praoperasional (usia 2–7 tahun), 3) Periode operasional
konkrit (usia 7–11 tahun) dan 4) Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa).

Dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan
pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru
didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada.

Sedangkan menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seorang seturut
dengan teori sciogenesis. Dimensi kesadaran social bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya
bersifat derivative atau merupakan turunan dan bersifat skunder. Artinya, pengetahuan dan
pengembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber social di luar dirinya. Hal ini tidak berarti
bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan
pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya.

Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan
penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem
matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang
dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.

B. PEMBAHASAN

Guru kiranya bisa memanfaatkan baik teori Piaget maupun teori Vygotsky dalam upaya untuk melakukan
proses pembelajaran yang efektif. Di satu pihak, guru perlu mengupayakan supaya siswa berusaha agar
bisa mengembangkan diri masing-masing secara maksimal, yaitu mengembangkan kemampuan berpikir
dan bekerja secara independen (sesuai dengan teori Piaget), di lain pihak, guru perlu juga mengupayakan
supaya tiap-tiap siswa juga aktif berinteraksi dengan siswa-siswa lain dan orangorang lain di lingkungan
masing-masing (sesuai dengan teori Vygotsky). Jika kedua hal itu dilakukan, perkembangan kognitif tiap-
tiap siswa akan bisa terjadi secara optimal.
Contohnya, jika seseorang siswa membuat suatu kesalahan dalam mengerjakan sebuah soal, sebaiknya
guru tidak langsung memberitahukan di mana letak kesalahan tersebut. Sebagai contoh, jika seorang
siswa menyatakan bahwa untuk sebarang bilangan real x dan y berlaku (x-y)^2 = x^2 - y^2 [baca: buka
kurung x kurang y tutup kurung dipangkatkan 2 sama dengan x pangkat 2 kurang y pangkat 2]. Guru tidak
perlu langsung menyatakan bahwa itu salah. Lebih baik guru memberi pernyataan yang sifatnya
menuntun, misalnya: berapakah (3-2)^2 = ? [baca: buka kurung 3 kurang 2 tutup kurung dipangkatkan 2
sama dengan]. Dengan menjawab pertanyaan, siswa akan bisa menemukan sendiri letak kesalahannya
yang ia buat pada pernyataan semula.

Dari contoh ini kiranya jelas bahwa guru bisa membantu siswa dengan cara memilih pendekatan
pembelajaran yang sesuai, agar proses konstruksi pengetahuan dalam pikiran siswa bisa berlangsung
secara optimal. Pertanyaan yang diajukan guru tersebut untuk menuntun siswa supaya pada akhirnya
siswa bisa menemukan sendiri letak kesalahan yang ia buat, merupakan contoh scaffolding yakni istilah
terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk mendeskripsikan perubahan dukungan
selama sesi pembelajaran, dimana orang yang lebih terampil mengubah bimbingan sesuai tingkat
kemampuan anak.

C. PENUTUP

Dalam pembelajaran matematika guru harus mampu menuntun siswa bernalar dengan baik dengan
memberikan motivasi kepada siawa untuk menemukan aendiri jawaban dari masalah yang diberikan
kepada siswa