Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan


Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua yang berupa ilmu dan amal. Dan
berkat Rahmat dan Hidayah-Nya pula, penulis dapat menyelesaikan makalah
ini tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak akan tuntas
tanpa adanya bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,
khususnya kepada:

1. Allah atas belas kasih-Nya terhadap hamba-Nya.


2. Pak RANNO MARLANY RACHMAN, ST., M.Kes Dr. selaku dosen
pembimbing mata kuliah Tata Tulis Laporan Ilmiah.
3. Materi-materi yang berada di Internet.

Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas final mata kuliah Tata
Tulis Laporan Ilmiah yang berjudul “Ragam Dialek dan Bahasa di Indonesia”.

Penulis cukup menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi perbaikkan makalah dipenyusunan makalah yang akan
datang. Harapan penulis ialah semoga makalah ini bermanfaat dan memenuhi
harapan berbagai pihak.

Kendari, 8 Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …………………………………………………………..1

B. Rumusan Masalah ……………………………………………………….2

C. Tujuan Makalah …………………………………………………………3

D. Manfaat Makalah ………………………………………………………..3

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Dialek ……………………………………………………………4

1. Jenis-jenis Dialek …………………………………………………….6

2. Pengaruh Dialek Dalam Komunikasi Bahasa Indonesia ………….7

B. Definisi Bahasa …………………………………………………………..8

1. Sifat-sifat bahasa …………………………………………………...10

2. Definisi Ragam ……………………………………………………..13

3. Dasar Ragam Bahasa ………………………………………………15

ii
4. Jenis Ragam Bahasa ………………………………………….……16

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN ……………………………………………..…………..21

B. SARAN ……………………………………………………………..…...21

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………....22

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya dimiliki
oleh manusia. Kehidupan tidak terlepas dari bahasa, walaupun sebenarnya
manusia dapat menggunakan alat lain sebagai alat unutk berkomunikasi.
Namun, bahasa merupakan salah satu media komunikasi yang paling baik
digunakan dan paling sempurna dalam penggunaannya.

Bahasa merupakan komponen pokok yang dinilai tidak dapat dipisahkan


lagi dari manusia sejak awal kehadirannya di dunia hingga saat ini. Bahasa
telah menjadi sebuah tuntutan mutlak bagi hadirnya keterpaduan ide dan
pikiran manusia yang satu dengan yang lainnya. Hal ini terjadi karena bahasa
adalah jembatan penghubung antar sesama manusia. Namun, dengan luasnya
wilayah di dunia ini telah membuat wujud bahasa menjadi sangat
beranekaragam. Kondisi inilah yang seolah menjadikan manusia terkotak-
kotak berdasarkan bahasanya masing-masing.

Bahasa di dunia tidaklah sama. Dalam suatu negara, beragam bahasa yang
dipergunakan, bahkan pada suatu daerah tertentu beragam bahasa yang dapat
kita dengar dipergunakan orang. Di Indonesia kita mengenal adanya bahasa
nasional (bahasa persatuan, bahasa resmi, bahasa negara, bahasa pengantar,
bahasa kebudayaan) dan bahasa daerah. Keragaman bahasa tersebut merupan
subsistem-subsistem bahasa yang berbeda, yang banyak mengandung
permasalahan yang kompleks dan menghasilkan suatu variasi ragam yang
berbeda (Saefi, 2007).

1
Sampai saat ini, usaha untuk memaparkan dengan jelas dan tegas batas-
batas yang membedakan bahasa dan dialek masih juga belum berhasil
memperoleh rumusan yang memuaskan (Ayatrohaedi, 1983: 1). Oleh karena
itu, penutur diharapkan dapat membedakan dialek dengan variasi bahasa yang
lain agar tidak terjadi salah pengertian. Disamping itu, penutur juga
diharapkan dapat membedakan ragam dialek dengan ragam bahasa yang lain.

Bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa yang juga harus dibina dan
dikembangkan. Kebijakan yang tidak serius melakukan pembinaan bahasa
daerah sehingga lambat laun akan membawa kepunahan bahasa daerah. Hal
ini secara tidak langsung merupakan tindak perampasan hak hidup
masyarakat pendukung bahasa-bahasa lokal (Ummi, 1999). Penutur
diharapkan dapat menjaga kelestarian bahasa daerahnya sehingga tidak
menuju kearah perkembangan yang memburuk.

Namun kenyataannya, banyak penutur yang masih belum mengetahui


batas-batas dan peran dialek dalam kehidupannya sehari-hari. Banyak penutur
yang masih mencampur adukkan pengertian dialek sama dengan variasi
bahasa lain seperti aksen dan logat. Penutur juga kurang menyadari bahwa
telah terjadi pencampuran bahasa antara bahasa pertama (bahasa asli) dengan
bahasa kedua (bahasa asing). Selain itu penutur juga sulit membedakan
antara pengertian dialek jika dibandingkan dengan variasi bahasa lain.

B. Rumusan Masalah

1. Pengertian dialek?

2. Jenis-jenis dialek?

3. Hakikat Bahasa?

2
C. Tujuan Makalah

1. Mengetahui pengertian dan jenis-jenis dialek,

2. Mengetahui pengertian dan macam-macam dialek.

D. Manfaat Makalah

1. Belajar memahami masalah dan mencari solusinya,


2. Menerapkan ilmu pengetahuan yang dipelajari untuk
diimplentasikan di lapang,
3. Membuka pikiran untuk memahami permasalahan di lapang,
4. Sebagai latihan sebelum membuat tugas skripsi,
5. Memahami cara-cara penulisan makalah dengan benar.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Dialek

Dialek (bahasa Yunani: διάλεκτος, dialektos) atau logat adalah varietas


bahasa yang melingkupi suatu kelompok penutur. Dialek berkontras
dengan ragam bahasa, yaitu bentuk bahasa yang diperbedakan menurut
konteks pemakaian. Variasi ini memiliki perbedaan satu sama lain, tetapi
banyak menunjukkan kemiripan linguistik sehingga belum pantas disebut
bahasa yang berbeda. Walaupun begitu, pembedaan konsep dialek dan
bahasa tersendiri seringkali dilatarbelakangi oleh faktor simbolis dan
sosiopolitik, bukan ilmu bahasa.

Menurut definisi yang lebih terbatas, dialek merupakan varietas bahasa


yang berkontras dengan bahasa baku. Dalam pengertian populer, istilah
dialek juga digunakan untuk merujuk kepada bahasa yang tidak digunakan
dalam bentuk tulis. Definisi ini umumnya tidak diterima dalam ilmu
linguistik.

Biasanya pemerian dialek dilakukan berdasarkan geografi, namun bisa


berdasarkan faktor lain, misalkan faktor sosial.

Sebuah dialek bisa dibedakan berdasarkan kosakata, tata bahasa, dan


pengucapan (fonologi, termasuk prosodi). Jika pembedaannya hanya
bedasarkan pengucapan, istilah yang tepat menurut terminologi linguistik
ialah aksen dan bukan dialek.

4
Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983), ada 2
(dua) ciri yang dimiliki dialek, yaitu:

a. Dialek adalah seperangkat bentuk ujaran setempat yang


berbeda-beda, yang memiliki ciri-ciri umum dan masing-
masing lebih mirip sesamanya dibandingkan dengan bentuk
ujaran lain dari bahasa yang sama.

b. Dialek tidak harus mengambil semua bentuk ujaran dari sebuah


bahasa. (Meillet 1967: 67)

Dengan meminjam kata-kata Claude Fauchet, dialek ialah mots de leur


terroir yang berarti dialek adalah kata-kata di atas tanahnya (Chaurand,
1972: 149), yang di dalam perkembangannya kemudian menunjuk kepada
suatu bahasa daerah yang layak dipergunakan dalam karya sastra daerah
yang bersangkutan.

Pada perkembangannya tersebut, kemudian salah satu dialek yang


kedudukannya sederajat itu sedikit demi sedikit diterima sebagai bahasa
baku oleh seluruh daerah. Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor, baik
faktor subyektif maupun obyektif. Faktor-faktor yang menentukan
penobatan suatu dialek menjadi bahasa baku terutama politik, kebudayaan
dan ekonomi (Meillet, 1967: 72). Di dalam proses tersebut, kaum
perantara juga turut berjasa di antaranya mereka yang berpendidikan dan
menguasai bahasa budayanya (Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa, 1983).

Proses pengembangan dialek bermula pada kelompok yang


berpendidikan. Dwibahasawan meraka mempergunakan koine, yaitu
ungkapan-ungkapan bahasa baku sebagai bahasa budaya, dan dialek
sebagai bahasa praja. Koine mereka pergunakan untuk sesama mereka, dan
dialek mereka pergunakan jika berkomunikasi dengan penduduk setempat,

5
petani dan kelompok sederhana lainnya. Sementara itu penduduk sendiri
adalah ekabahasawan. Walaupun mereka mengagumi koine, tapi mereka
hanya mempergunakan dialek saja. Pada tahap berikutnya, masyarakat
berpendidikan itu menjadi ekabahasawan. Mereka menghindari pemakaian
dialek yang sudah kehilangan dasar-dasar kaidahnya. Sejak ini penduduk
bahasanya menjadi dwibahasawan. Pada mulanya mereka belum
memenuhi semua persyaratan bahasa baku tersebut, tergantung kepala
taraf pendidikan mereka. Di samping itu mereka tetap mempergunakan
dialek di antara sesama mereka saja (Gairaud, 1970: 7-8, di kutip oleh
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1983).

1. Jenis-jenis Dialek

Dialek dibagi menjadi dua jenis utama berikut ini:

 Dialek regional (dialek geografis/regiolek): dialek yang dipakai


di daerah tertentu. Misalnya, bahasa Indonesia dialek Jakarta,
atau dialek Medan.

 Dialek sosial (sosiolek): dialek yang dipakai oleh kelompok


sosial tertentu atau yang menandai strata sosial tertentu.
Misalnya, dialek remaja.

Selain dari dialek regional dan sosial, ada istilah “dialek temporal”
atau “dialek hitoris” yang merujuk secara khusus kepada bentuk bahasa
yang diperbedakan menurut pemakaiannya pada kurun waktu tertentu
(misalnya, dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman
Abdullah). Sedangkan dialek adalah system kebahasaan yang khusus
digunakan oleh individua tau bisa diartikan “dialek pribadi”. Idiolek

6
merupakan keseluruhan ciri bahasa seseorang yang khas pribadi dalam
lafal, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.

2. Pengaruh Dialek Dalam Komunikasi Bahasa Indonesia

Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya


relatif yang berbeda dari satu tempat wilayah atau area tertentu (menurut
Abdul Chaer). Pengucapan bahasa Indonesia dipengaruhi oleh dialek
karena Indonesia sendiri terdiri dari beberapa suku dan daerah yang
tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Dialek tersebut biasanya
dipengaruhi oleh bahasa ibu sebagai bahasa pertama yang dipelajari dalam
keluarga. Pengucapan bahasa Indonesia berdasarkan wilayah tertentu ada
yang merubah pengucapan dari kata asli misalnya dangan penambahan
huruf vokal dan terdapat penekanan-penekanan tertentu seperti.

Hal tersebut memiliki pengaruh positif dan negatif dalam komunikasi.


Pengaruh positif penggunaan dialek dalam komunikasi sehari-hari:

1) Dianggap lebih komunikatif jika digunakan oleh penutur yang


berada pada di daerah yang sama,

2) Sebagai sarana mengakrabkan diri,

3) Penutur lebih nyaman karena dialek yang mereka ucapkan


merupakan bahasa ibu.

Disisi lain, pengaruh negatif penggunaan dialek dalam komunikasi


juga bermacam di antaranya:

1) Menyalahi kaidah-kaidah bahasa baku,

7
2) Dialek tersebut akan terbawa meskipun dalam komunikasi
formal,

3) Jika penutur tetap memakai dialeknya, tidak semua lawan


bicara mengerti apa yang dimaksudkan dikarenakan lawan
bicara tidak hanya berasal dari daerah yang sama dengan
penutur.

B. Defenisi Bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi


yang dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa terdiri atas kata-kata atau
kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan
abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang
diwakili kumpulan kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara
alfabetis, atau menurut urutan abjad,disertai penjelasan artinya dan
kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus.

Berikut ini beberapa pengertian bahasa menurut para ahli:

1. Harimurti Kridalaksana (1985: 12)

Menyatakan bahwa bahasa adalah sistem bunyi bermakna yang


dipergunakan untuk komunikasi oleh kelompok manusia.

8
2. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001: 88)

Bahasa adalah sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota
suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi
diri.

3. Finoechiaro (1964: 8)

Bahasa adalah sistem simbol vokal yang arbitrer yang memungkinkan


semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu, atau orang lain yang
mempelajari sistem kebudayaan itu, berkomunikasi atau berinteraksi.

4. Carol (1961: 10)

Bahasa merupakan sistem bunyi atau urutan bunyi vokal yang


terstruktur yang digunakan atau dapat digunakan dalam komunikasi
internasional oleh kelompok manusia dan secara lengkap digunakan untuk
mengungkapkan sesuatu, peristiwa, dan proses yang terdapat di sekitar
manusia.

5. I.G.N. Oka dan Suparno (1994: 3)

Bahasa adalah sistem lambang bunyi oral yang arbitrer yang


digunakan oleh sekelompok manusia (masyarakat) sebagai alat
komunikasi.

6. Kamus Linguistik (2001: 21)

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan


oleh para anggota suatu masyarakat untuk kerja sama, berinteraksi dan
mengidentifikasikan diri.

9
7. Gorys Keraf (1984: 1 dan 1991: 2)

Bahasa adalah komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang


bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

8. D.P. Tambulan (1994: 3)

Bahasa adalah untuk memahami pikiran dan perasaan, serta


menyatakan pikiran dan perasaan.

9. H.G. Brown (1987: 4)

Bahasa adalah suatu sistem komunikasi menggunakan bunyi yang


diucapkan melalui organ-organ ujaran dan didengar di antara anggota-
anggota masyarakat, serta menggunakan pemrosesan simbol-simbol vokal
dengan makna konvensional secara arbitrer.

1. Sifat-sifat Bahasa

a. Bahasa itu adalah Sebuah Sistem

Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu


keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. sistem terbentuk oleh
sejumlah unsur yang satu dan yang lain berhubungan secara fungsional.
Bahasa terdiri dari unsur-unsur yang secara teratur tersusun menurut pola
tertentu dan membentuk satu kesatuan.

Sebagai sebuah sistem,bahasa itu bersifat sistematis dan sistemis.


Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun
secara acak. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal,

10
tetapi terdiri dari sub-subsistem atau sistem bawahan (dikenal dengan
nama tataran linguistik). Tataran linguistik terdiri dari tataran fonologi,
tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon.
Secara hirarkial, bagan subsistem bahasa tersebut sebagai berikut.

b. Bahasa itu Berwujud Lambang

Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam bidang


kajian ilmu semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada
dalam kehidupan manusia. Dalam semiotika dibedakan adanya beberapa
tanda yaitu: tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala
(sympton), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Lambang
bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan langsung yang bersifat wajib
antara lambang dengan yang dilambangkannya.

c. Bahasa itu berupa bunyi

Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf


sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena
perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang
dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa

d. Bahasa itu bersifat arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak


tetap, mana suka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak
adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu)
dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.
(Ferdinant de Saussure, 1966: 67) dalam dikotominya membedakan apa
yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant (penanda) adalah

11
lambang bunyi itu, sedangkan signifie (petanda) adalah konsep yang
dikandung signifiant.

Bolinger (1975: 22) mengatakan bahwa seandainya ada hubungan


antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang
tidak tahu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila
dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak
makna sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang
belum pernah kita dengar, karena bunyi kata tersebut tidak memberi
”saran” atau ”petunjuk” apapun untuk mengetahui maknanya.

e. Bahasa itu bermakna

Salah satu sifat hakiki dari bahasa adalah bahasa itu berwujud
lambang. Sebagai lambang, bahasa melambangkan suatu pengertian, suatu
konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud
bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyi makna.
Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai
makna dapat disebut bukan bahasa.
[kuda], [makan], [rumah], [adil], [tenang] : bermakna = bahasa
[dsljk], [ahgysa], [kjki], [ybewl] : tidak bermakna = bukan bahasa.

f. Bahasa itu bersifat konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang


dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut
untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota
masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu
digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya, binatang
berkaki empat yang biasa dikendarai, dilambangkan dengan bunyi [kuda],
maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya. Kalau

12
tidak dipatuhinya dan digantikan dengan lambang lain, maka komunikasi
akan terhambat.

g. Bahasa itu bersifat unik

Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa mempunyai ciri


khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa
menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan
kalimat, atau sistem-sistem lainnya.

2. Defenisi Ragam

Pengertian kata ragam secara umum dalam bahasa Indonesia adalah


tingkah, jenis, langgam, corak dan laras. Ragam bahasa diartikan sebagai
variasi bahasa menurut pemakaian yang dibedakan menurut topik
pembicaraan, sikap penutur, dan media atau sarana yang digunakan.
Pengertian ragam bahasa ini memperhatikan situasi yang dihadapi,
masalah yang hendak disampaikan, latar belakang pendengar dan pembaca
yang dituju, dan media atau sarana yang hendak digunakan.

Pengertian ragam bahasa menurut para ahli sangat penting untuk


dipahami, karena dari situ kita bisa menyimpulkan sendiri pengertian
ragam bahasa versi kita sendiri. Berikut ini adalah beberapa definisi ragam
bahasa yang dijelaskan oleh para ahli.

a) Pengertian ragam bahasa menurut Bachman

Menurut Bachman (1990), “ragam Bahasa adalah variasi bahasa


menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan,

13
menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta
menurut medium pembicara.”

b) Pengertian ragam bahasa menurut Dendy Sugono

Menurut Dendy Sugono (1999), “bahwa sehubungan dengan


pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah
penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di
sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku.
Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar,
kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.”

c) Pengertian ragam bahasa menurut Fishman ed

Menurut Fishman ed (1968), suatu ragam bahasa, terutama ragam


bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk
menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi
anutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu
yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang
berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan),
pelaku bicara, dan topik pembicaraan.

Ragam bahasa adalah variasi dalam pemakaian bahasa, yaitu


perbedaan penutur, media, situasi, dan bidang.

1. Perbedaan penutur

Tiap-tiap individu mempunyai gaya tersendiri dalam berbahasa.


Perbedaan antar individu disebut disebut idiolek sedangkan perbedaan asal

14
daerah penutur bahasa juga menyebabkan variasi berbahasa yang disebut
dialek.

2. Perbedaan media

Perbedaan media yang digunakan dalam berbahasa menentukan pula


ragam bahasa yang digunakan, sehingga bahasa lisan berbeda dengan
bahasa tulisan.

3. Perbedaan situasi

Situasi pada saat pembicaraan dilakukan akan sangat berpengaruh


terhadap ragam bahasa yang digunakan, sehingga ragam bahasa pada
situasi santai akan berbeda dengan situasi resmi.

4. Perbedaan bidang

Ragam bahasa yang digunakan pada bidang yang berbeda mempunyai


ciri yang berbeda pula, misalnya bahasa jurnalistik berbeda dengan ragam
bahasa sastra.

3. Dasar Ragam Bahasa

Pada ragam bahasa yang paling pokok adalah seseorang itu menguasai
atau mengetahui kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa. Kerena kaidah
bahasa dianggap sudah diketahui, uraian dasar-dasar ragam bahasa itu
diamati melalui skala perbandingan bagian persamaan bagian perbedaan.
Dasar-dasar ragam bahasa yang akan diperbandingkan itu didasarkan atas
sarana ragam bahasa lisan dan ragam tulisan.

15
4. Jenis-jenis Ragam Bahasa

A. Ragam bahasa berdasarkan media

1. Ragam Bahasa Media (Lisan)

Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian


sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun hal
itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian
ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan
kalimat dan unsur-unsur didalam struktur kalimat tidak menjadi
ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi
pembicara menjadi pendukung didalam memahami makna gagasan
yang disampaikan secara lisan.

Pembicara lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan


kaidah kebakuannya dengan pembicara lisan dalam situasi tidak
formal atau santai. Jika ragam bahasa dituliskan, ragam bahasa itu
tidak bisa disebut ragam bahasa tulis, tetapi tetap disebut sebagai
ragam lisan. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri- cirinya
tidak menunjukan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan
dengan tulisan, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan
sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing adapun ciri
dari keduanya:

Ciri-ciri ragam lisan:

1. Memerlukan orang kedua atau teman bicara,


2. Tergantung kondisi, ruang, dan waktu,

16
3. Tidak harus memperlihatkan gramatikal, hanya perlu
intonasi serta bahasa tubuh,
4. Berlangsung cepat.
Contohnya; “Sudah saya baca buku itu”

2. Ragam Tulis

Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulisan makna


kalimat yang diungkapkan nya ditunjang oleh situasi pemakaian
sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalomat. Oleh
karrena itu, enggunaan ragam baku tulis diperlukan kecermatan
dan ketepatan dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan,
struktur bentuk katadan struktur kalimat, serta kelengkapaan unsur-
unsur bahasa di dalam struktur kalimat.

Ciri-ciri ragam tulis:

1. Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara,


2. Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu,
3. Harus memperhatikan unsur gramatikal,
4. Berlangsung lambat,
5. Selalu memakai alat bantu,
6. Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi,
7. Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik
muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
Contohnya: “Saya sudah membaca buku itu”.

Perbedaan antara ragam lisan dan tulisan (berdasarkan tata


bahasa dan kosa kata):

17
 Tata Bahasa:

a. Ragam bahasa lisan


1. Nia sedang baca surat kabar.
2. Ari mau nulis surat.
3. Tapi kau tak boleh menolak lamaran itu.

b. Ragam bahasa tulisan.


1. Nia sedang membaca surat kabar.
2. Ari mau menulis surat.
3. Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran
itu.

 Kosa kata:

a. Ragam bahasa lisan


1. Ariani bilang kalau kita harus belajar.
2. Kita harus bikin karya tulis.
3. Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak.

b. Ragam bahasa tulisan


1. Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
2. Kita harus membuat karya tulis.
3. Rasanya masih telalu muda bagi saya, Pak.

18
B. Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur

1) Ragam Bahasa Berdasarkan Pendidikan Penutur

Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur


yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan,
terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing,
misalnya fitnah, kompleks, vitamin, video, film, fakultas. Penutur
yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah,
komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas.

Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa,


misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari.
Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan
awalan yang seharusnya dipakai.

2) Ragam Bahasa Berdasarkan Sikap Penutur

Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur


terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap
pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan
santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur
atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita
dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika
melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan
kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam
bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan
kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan
bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat
keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang
digunakan.

19
3) Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi

A. Ragam Baku

Ragam baku adalah ragam bahasa yang dipakai dalam


forum resmi. Ragam ini bisa juga disebut ragam resmi.

B. Ragam Tidak Baku

Ragam tidak baku adalah ragam bahasa yang menyalahi


kaidah-kaidah yang terdapat dalam bahasa baku.

4) Ragam Bahasa Berdasarkan Bidang

a. Ragam Ilmu dan Teknologi

Ragam ilmu dan teknologi adalah ragam bahasa yang


digunakan dalam bidang keilmuan dan teknologi.

b. Ragam Sastra

Ragam satra adalah ragam bahasa yang bertujuan untuk


memperoleh kepuasan estetis dengan cara penggunaan pilih jata
secara cermat dengan gramatikal dan stilistil tertentu.

c. Ragam Niaga

Ragam niaga adalah ragam bahasa yang digunakan untuk


menarik pihak konsumen agar dapat melakuakan tindak lanjut
dalam kerjasama untuk mencari suatu keuntungan finansial.

20
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Dialek dibagi menjadi dua jenis utama berikut ini:

a. Dialek regional (dialek geografis/regiolek): dialek yang


dipakai di daerah tertentu. Misalnya, bahasa Indonesia
dialek Jakarta, atau dialek Medan.

b. Dialek sosial (sosiolek): dialek yang dipakai oleh kelompok


sosial tertentu atau yang menandai strata sosial tertentu.
Misalnya, dialek remaja.

2. Bahasa merupakan alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi


yang dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa terdiri atas kata-kata atau
kumpulan kata.

Saran

Penggunaan dialek sebaiknya memperhatikan situasi dan kondisi. Apabila


sedang berada dalam situasi informal penggunaan dialek dapat ditoleransikan
sebagai sarana untuk mengakrabkan diri dan kenyamanan dalam
berkomunikasi dengan kelompoknya. Namun jika sedang dalam kondisi
formal penutur diharap dapat menempatkan dirinya untuk menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah yang berlaku, karena
tidak semua lawan bicara dapat mengerti bahasa dialek yang digunakan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Sari, N. E., 2014. Makalah Sosiolinguistik.


Available at: https://www.academia.edu/11471109/makalah_sosiolinguistik
[Diakses 9 Juni 2019].

Buncis, T. K., 2013. Makalah Bahasa tentang pengaruh dialek terhadap


keefektifan berbahasa.
Available at: http://tuankacangbuncisayang.blogspot.com/2013/01/makalah-
bahasa-tentang-pengaruh-dialek.html
[Diakses 9 Juni 2019].

SUKRINIAM, 2015. MAKALAH SOSIOLINGUISTIK BAHASA BAKU DAN


DIALEK DALAM BAHASA INDONESIA.
Available at: https://sukriniam.blogspot.com/2015/12/makalah-sosiolinguistik-
bahasa-baku-dan.html
[Diakses 6 Juni 2019].

Wahyuni, S., 2016. MAKALAH RAGAM BAHASA DI INDONESIA.


Available at:
https://www.academia.edu/28865777/MAKALAH_RAGAM_BAHASA_DI_IND
ONESIA
[Diakses 9 Juni 2019].

22