Anda di halaman 1dari 19

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengertian survei konsumsi pangan adalah serangkaian kegiatan pengukuran
konsumsi makanan pada individu, keluarga dan kelompok masyarakat atau sebuah
institusi dengan menggunakan metode pengukuran yang sistematis, menilai
asupan zat gizi dan mengevaluasi asupan zat gizi sebagai cara penilaian status gizi
secara tidak langsung melalui berbagai metode seperti: food weighing, food recall,
foodrecord, food frequency questionnaire, dan dietary history, dan sebagainya.
Pola Konsumsi adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah
bahan makanan rata-rata per orang per hari, yang umum dikonsumsi masyarakat
dalam jangka waktu tertentu. Jenis bahan pangan dibedakan menurut berbagai
cara. Jenis bahan makanan yang dikonsumsi idealnya memenuhi syarat kualitas
maupun kuantitas. Secara kualitas pangan yang dikonsumsi harus mampu
memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi. Bahan pangan yang dikonsumsi apabila
telah mampu menyediakan semua jenis zat gizi yang dibutuhkan maka ia disebut
berkualitas.
Dinamika konsumsi pangan yang berubah secara terus menerus sesuai dengan
perkembangan berbagai sektor seperti sektor pendapatan harus dipantau setiap
periode waktu tertentu. Pemantauan ini dijelaskan sebagai salah cara untuk
mendeteksi secara dini kemampuan sektor produksi untuk menjamin pasokan
guna mengatasi gejolak harga yang dapat memicu inflasi. Makanan adalah pemicu
inflasi yang paling potensial. Jika inflasi naik karena kenaikan harga makanan
pokok maka ini dapat memicu lahirnya masalah gizi dan kesehatan. Perubahan itu
layaknya dapat dimonitor melalui survei konsumsi pangan penduduk secara
berkala.
Berdasarkan hal demikian maka, survei konsumsi pangan penduduk menjadi
salah satu alasan penting dalam memahami dinamika konsumsi pangan serta
dampak penyerta bagi gizi dan kesehatan. Pengukuran konsumsi pangan adalah
beragam sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pengukuran konsumsi pangan
dibedakan salah satunya menurut individu, keluarga dan kelompok.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Metode Food Frequency dan Metode Dietary History?
2. Bagaimana prinsip Metode Food Frequency dan Metode Dietary History?
3. Bagaimana langkah-langkah Metode Food Frequency dan Metode Dietary
History?
4. Apa kelebihan Metode Food Frequency dan Metode Dietary History?
5. Apa kelemahan Metode Food Frequency dan Metode Dietary History?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Metode Food Frequency dan Metode Dietary
History
2. Untuk mengetahui prinsip Metode Food Frequency dan Metode Dietary
History
3. Untuk mengetahui langkah-langkah Metode Food Frequency dan Metode
Dietary History
4. Untuk mengetahui kelebihan Metode Food Frequency dan Metode Dietary
History
5. Untuk mengetahui kelemahan Metode Food Frequency dan Metode Dietary
History

2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode Food Frequency

2.1.1. Pengertian Food Frequency


Food Frequency Questionnare Method (FFQ/ Metode Kuesioner Frekuensi
makanan) adalah Salah satu metode dietary assesment dalam konteks individu
yang mencatat frekuensi individu terhadap beberapa jenis makanan (<100) dalam
kurun waktu tertentu (1 bulan terakhir/6 bulan terakhir/1 tahun terakhir).Selain itu
dengan metode FFQ dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan
secara kualitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dapat
membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi, maka cara
ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi.
Metode FFQ dikenal sebagai metode frekuensi pangan, dimaksudkan
untuk memperoleh informasi pola konsumsi pangan seseorang. Untuk itu
diperlukan kuesioner yang terdiri atas dua komponen yaitu daftar jenis pangan
dan frekuensi konsumsi pangan(Riyadi 2004). Pada metode ini ditanyakan tentang
frekuensi konsumsi sejumlahmakanan jadi atau bahan makanan selama periode
tertentu seperti hari, minggu, bulanatau tahun.

2.1.2. Prinsip Food Frequency


Prinsip umum dalam penggunaan FFQ dan Semi FFQ adalah kekerapan
konsumsi pangan sebagai faktor risiko munculnya kasus gizi salah. Kekerapan
konsumsi pangan ninilah yang harus dapat terukur dengan tepat melalui metode
FFQ. Berdasarkan pertimbangan ini maka beberapa prinsip FFQ adalah sebagai
berikut:
a. Studi Pendahuluan
Pengukuran yang sistematis pada metode FFQ maupun semi FFQ adalah
diawali dengan studi pendahuluan. Studi pendahuluan bertujuan untuk
mengidentifikasi bahan makanan yang akan dimasukkan dalam daftar FFQ
maupun Semi FFQ. Daftar bahan makanan disesuaikan dengan besarnya
korelasi dengan risiko paparan konsumsi dan timbulnya penyakit. Penyakit
yang dimaksudkan adalah penyakit yang terbukti berhubungan dengan risiko
gizi salah. Makanan yang tidak ada kaitannya dengan risiko gizi salah

3
(malnutrition) sebaikan dihapus dalam daftar FFQ maupun semi FFQ (Shai et
al. 2004). Penghapusan beberpa item makanan dalam FFQ adalah bertujuan
untuk efisiensi waktu wawanca dan tepat dalam interprertasi hasil. Daftar
bahan makanan yang terlalu banyak sementara tidak satupun yang dikonsumsi
oleh subjek adalah salah satu sebab wawancara lama dilakukan. Prinsip
kekerapan konsumsi adalah penting diperhatikan dalam bentuk kesesuaian
daftar makanan dengan pilihan paling populer responden (Rafael A Garcia,
Douglas Taren, Nocolette 2000).
Cara untuk memastikan satu jenis makanan atau minuman dimasukkan
dalam daftar adalah apabila ia memiliki kekerapan konsumsi yang tinggi. Skor
konsumsi yang tinggi dari hasil studi pendahuluan dijadikan dasar dalam
penentuan makanan terpilih. Tidak ada ketetapan baku ambang batas skor
konsumsi. Hal ini diserahkan kepada peneliti untuk menentukan skor terendah
sebagai batas penerimaan. Misalnya dalam sebuah studi pendahuluan tentang
konsumsi sayuran ditemukan kangkung memiliki rerata skor 20. Jika skor 20
dipandang kecil untuk memberikan efek yang signifikan penyebab munculnya
risiko malnutrition, maka kangkung tidak didaftar dalam formulir FFQ. Hal
yang berbeda juga demikian, jika dipandang skor 20 adalah signifikan
memberikan efek malnutrisi, maka kangkung didaftar dalam daftar FFQ atau
semi FFQ.(Rafael A Garcia, Douglas Taren, Nocolette 2000), (Shai et al.
2004).
Pertimbangan lain adalah menetapkan ambang batas skor berdasarkan
muatan instrument. Jika setelah dilakukan penskoran dari skor tertinggi hingga
sekor terendah ditemukan jumlah bahan makanan 50 items, ingin dipilih 20
item saja, maka skor dari urutan tertinggi hingga urutan ke 20 dimasukkan
kedalam daftar.
b. Daftar Makanan dan Minuman.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan diperoleh daftar bahan makanan.
Daftar bahan makanan ini adalah daftar yang sudah diseleksi secara hati hati.
Tujuannya agar wawancara lebih efektif dan kekerapan konsumsi makanan
lebih akurat. Membuat daftar makanan terlalu banyak disaat yang sama tidak

4
semua dikonsumsi oleh responden, adalah tidak efektif karena tidak
memberikan nilai skor.
c. Kelompok Bahan Makanan.
Seringkali skor konsumsi pangan dihitung berdasarkan kelompok bahan
makanan. Tujuannya adalah untuk menilai skor konsumsi menurut paparan
kelompok bahan makanan. Kelompok bahan makanan pokok, lauk hewani,
lauk nabati, sayuran, dan buah. Pada setiap kelompok dihitung skor konsumsi
pangan. Ini hanya untuk membedakan kontribusi setiap sumber bahan
makanan terhadap skor total konsumsi pangan.
d. Periode Waktu lama.
Metode FFQ juga memiliki prinsip pengukuran dalam durasi waktu yang
lama. Waktu mingguan, bulanan dan harian. Periode pengukuran waktu yang
berjangka lama dimaksudkan untuk mendeskripsikan peluang perbedaan
konsumsi antar hari dan minggu.
e. Kalibrasi dengan metode lain.
Metode FFQ karena sifatnya kualitatif maka perlu dikalibrasi dengan
metode lain. Metode yang sering digunakan untuk kalibrasi adalah
metode Food Recall 24 Jam. Ini khususnya digunakan jika memakai metode
semi FFQ. (Upreti et al. 2012).
f. Mengukur kecenderungan.
Metode FFQ fokus pada ukuran sebaran bukan ukuran memusat. Ukuran
sebaran lebih cocok untuk mengukur keragaman konsumsi pangan. Atas
prinsip tidak ada satu bahan makanan mampu memenuhi semua kebutuhan zat
gizi. Skor Konsumsi pangan identik dengan nilai sebaran.
g. Skor Konsumsi Pangan.
Metode ini adalah metode yang didasarkan pada skor konsumsi bukan
pada jumlah yang dikonsumsi. Penekanan pada jenis makanan lebih penting
karena ingin mengukur keragaman. Jika skor konsumsi tinggi berarti makanan
yang dikonsumsi beragam.
h. Kelompok literasi rendah.
Pada umumunya metode FFQ digunakan dengan interview langsung,
maka dapat dilakukan pada kelompok atau individu dengan status rendah

5
literasi. Tidak diperlukan kemampuan baca tulis responden seperti pada
metode food account.

2.1.3. Langkah-langkah Food Frequency


Dengan menggunakan metode food frequency dapat diperoleh gambaran
pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tapi karena periode
pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan rangking
tingka konsumsi zat gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam
epidemiologi gizi. Langkah-langkah metode Food Frequency adalah sebagai
berikut (Supariasa, 2001)
1. Responden diminta untuk memeri tanda pada daftar makanan yang tersedia
pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaannya dan ukuran porsinya.
2. Lakukan rekapitulasi tentan frekuensi penggunaan jenis-jenis bahan
makanan terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi
tertentu selama periode tertentu.
Sedangkan prosedur penggunaan SQ FFQ menurut Fahmida dan Dillon
(2007) adalah sebagai berikut;
1. Subyek diwawancarai mengenai frekuensi mengkonsumsi jenis makanan
sumber zat gizi yang ingin diketahui, apakah harian, mingguan, bulanan
atau tahunan.
2. Subyek diwawancarai mengenai ukuran rumah tangga dan porsinya. Untuk
memudahkan subyek menjawab, pewawancara menggunakan alat bantu foto
ukuran bahan makanan.
3. Mengestimasi ukuran porsi yang dikonsumsi subyek ke dalam ukuran berat
(gram).
4. Mengkonvesi semua frekuensi daftar bahan makanan untuk perhari.
Misalnya:
a. Nasi dikonsumsi 3x perhari ӑ ekuivalen dengan 3
b. Tahu dikonsumsi 4x perminggu ӑ ekuivalen dengan 4/7 perhari= 0,57
c. Es krim dikonsumsi 5x perbulan ӑ ekuivalen dengan 5/30 perhari=0,17
d. Untuk buah musiman digunakan kategori pertahun. Misalnya mangga
dikonsumsi 10x diatas bulan Oktober ke Desember ӑ ekuivalen dengan
10/365 per hari= 0,03 perhari.

6
5. Mengalihkan frekuensi perhari dengan ukuran porsi (gram) untuk
mendapatkan berat yang dikonsumsi dalam gram/hari.
6. Hitung semua daftar bahan makanan yang dikonsumsi subyek penelitian
sesuai dengan yang terisi di dalam form.
7. Setelah semua bahan makanan diketahui berat yang dikonsumsi dalam
gram/hari, maka semua berat item dijumlahkan sehingga diperoleh total
asupan zat gizi dari subyek.
8. Cek dan teliti kembali untuk memastikan semua item bahan makanan telah
dihitung dan hasil penjumlahan berat (gr) bahan makanan tidak terjadi
kesalahan.

2.1.4. Kelebihan Food Frequency


Kelebihan metode food frequency adalah sebagai berikut (Iqbal &
Puspaningtyas, 2018):
1. Relatif murah, mudah, dan sederhana
2. Dapat dilakukan sendiri oleh subjek/ responden
3. Tidak terlalu membebani jika dibandingkan dengan metode dietary history.
4. Tidak membutuhkan latihan khusus
5. Dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dengan
kebiasaan makan
Kelebihan metode food frequency adalah dapat memperoleh data asupan zat
gizi dalam jumlah besar yang mencakup 50-150 jenis makanan (Adriani &
Wirjatmadi, 2014).
2.1.5. Kelemahan Food Frequency
Kelemahan metode FQQ dibanding dengan banyak metode survei
konsumsi pangan yang lain adalah :
1. Butuh persiapan yang lebih rumit
Persiapan yang rumit adalah persiapan dalam rangka membuat studi
pendahuluan daftar bahan makanan yang akan dimasukkan kedalam
Formulir FFQ. Studi pendahuluan ini harus mencerminkan makanan dan
minuman yang memang nyata ditemukan di pasar lokal setempat. Kalau
tidak dilakukan studi pendahuluan maka daftar makanan dan minuman yang
dimasukkan dalam formulir FFQ menjadi faktor penghalang untuk

7
kenyamanan wawancara akibat terlalu banyak makanan dan minuman yang
tidak pernah dikonsumsi subjek.
2. Tidak dapat menggambarkan konsumsi aktual
Konsumsi aktual adalah konsumsi makanan dan minuman hari ini.
Metode FFQ tidak dapat digunakan untuk menanyakan asupan makanan
hari ini, karena metode ini adalah metode untuk mengukur kebiasaan makan
masa lalu dan masih berlangsung hingga hari ini. Jika ingin menilai asupan
gizi aktual hari ini metode FFQ tidak dapat digunakan, karena tidak ada
ukuran jumlah yang dikonsumsi. Atas alasan inilah maka muncul metode
Semi FFQ untuk menentukan asupan zat gizi. Akan tetapi metode Semi
FFQ memiliki kelemahan karena Porsi makan yang digunakan adalah porsi
rerata bukan porsi aktual. Porsi rerata adalah ukuran yang paling sering
digunakan subjek jika mengonsumsi makanan tertentu (Slater et al. 2003).
3. Tidak dapat mengukur kuantitas makanan yang dimakan saat ini
Metode FFQ tidak dapat mengukur jumlah bahan makanan yang
terdistribusi dalam rumah tangga dan jumlah bahan makanan yang
dikonsumsi setiap individu. Metode ini hanya mengukur keragaman tetapi
tidak mengukur jumlah seperti pada Metode Jumlah Makanan (food
Account). Konsekwensinya kurang peka untuk mendeteksi ketahanan
pangan rumah tangga (Puckett 2004).
4. Tidak dapat mengukur pemenuhan kebutuhan gizi
Metode ini tidak dapat menguukur asupan zat gizi. Asupan zat gizi dapat
dihitung, jika kita memiliki data berat bahan makanan. Pada metode ini
tidak ada data tentang berat bahan makanan yang dikonsumsi setiap subjek
sehingga tidak secara tepat digunakan untuk mengetahui asupan individu
ataupun keluarga. Metode ini tidak dapat mendeskripsikan secara utuh
ketersediaan pangan dari sisi kuantitasnya seperti pada metode NBM
(Androniiki 2009),(Purwaningsih 2008; Fao 2002).

8
2.2 Metode Dietary History

2.2.1. Pengertian Dietary History


Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola konsumsi
bedasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama ( bisa satu minggu, satu
bulan, satu tahun). Metode ini terdiri dari 3 komponen :
1. Wawancara (termasuk recall 24 jam ), yang mengumpulkan data tentang
apa saja yang dimakan responden selama 24 jam terakhir.
2. Frekuensi penggunaan dari sejumlah bahan makan dengan memberikan
daftar (check list) yang mudah disiapkan.
3. Pencatatan konsumsi selama 2-3 hari sebagai cek ulang.

2.2.2. Prinsip Dietary History


Prinsip umum dalam Dietary History (DH) adalah pencatatan riwayat
makan dari aspek keteraturan waktu, komposisi gizi, kecukupan asupan gizi.
Kepatuhan diet, dan makanan pantangan. Riwayat ditelusuri dengan dua
pendekatan yaitu frekuensi konsumsi makanan dan porsi makan setiap hari selama
beberapa hari. Berdasarkan pertimbangan ini maka beberapa prinsip Dietary
History (DH) adalah sebagai berikut:

1. Waktu Makan
Metode DH mencantumkan waktu makan sebagai bagian dari pola makan.
Waktu makan yang dimaksud adalah waktu makan utama dan makanan
selingan pada subjek. Berdasarkan cara ini maka di Indoensia dikenal waktu
makan pada pagi, siang dan malam hari. Tiga waktu makan ini masih
diselingi dengan makanan selingan pada pagi menjelang siang dan sore hari.
Makan selingan ini tidak selalu ada pada setiap kelompok masyarakat. Ini
disesuaikan dengan kondisi masing masing wilayah dan satuan sosial tertentu.
Deskripsi waktu makan penting dalam kajian dietetik subjek. Salah satu
pertimbangannya adalah hormon leptin yang mengatur rasa lapar dan rasa
kenyang dipengaruhi oleh keteraturan waktu makan. Selain itu waktu makan
juga dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk kesibukan dan pola penyediaan
hidangan. Hal ini berarti bahwa kebiasaan makan menurut kajian metode DH
adalah mengkaji berbagai determinan faktor konsumsi. Faktor konsumsi

9
pangan dari sisi kandungan gizi tetapi juga dari aspek penyediaan dan sistem
sosial lain yang memengaruhinya.
2. Nama Hidangan
Nama hidangan hendaknya ditulis lengkap, dan mengikuti nama yang
dikenal oleh masyarakat setempat sebagaimana ia disebut dalam kehidupan
sehari hari. Tujuan penamaan yang sifatnya dikenal oleh masyarakt umum
adalah dalam rangka edukasi gizi dimasa yang akan datang. Memudahkan
kita berkomunikasi dan menyampaikan pesan pesan gizi yang terkait dengan
kontent hidangan tersebut sesuai hasil kajian DH. Nama hidangan ini
kemungkinan berbeda untuk hidangan yang sama ditempat atau etnis lain.
Menghidari salah persepsi atas nama hidangan pada kasus seperti diatas,
maka akan dapat dihindari, karena pada setiap nama hidangan selalu diikuti
dengan rincian nama bahan atau komponen penyusunnya.
3. Bahan Hidangan
Bahan hidangan adalah seluruh bahan yang digunakan untuk membuat
hidangan. Bahan hidangan terdiri dari dari dua yaitu bahan pokok dan bahan
tambahan. Hidangan dari waktu ke waktu mengalami modifikasi dengan cara
memodifikasi dari resep aslinya. Pada konteks ini seringkali satu jenis
makanan atau minuman dimodifikasi dengan memberikan bahan tambahan
lain dengan tujuan memperbaiki rasa atau penampilan. Pada metode DH
semua bahan yang digunakan untuk membuatnya adalah ditulis secara
lengkap. Komponen yang sedikit pemakaiannya adalah ditulis secara lengkap,
kandungan yang sedikit belum tentu pengaruhnya kecil pada komposisi gizi
seimbang. Contohnya adalah penggunaan garam, pada setiap makanan olahan
adalah sangat sedikit, akan tetapi pengaruhnya secara fisiologi sangat besar
jika kekerapan konsumsinya sering.
4. Porsi acuan
Porsi acuan adalah porsi yang dijadikan acuan untuk membandingkan
porsi pada hari hari pengamatan selama DH dilakukan. Jadi dengan demikian
tujuan porsi acuan adalah untuk mengetahui porsi yang paling sering
digunakan oleh subjek dan mengetahui konsistensi subjek pada porsi acuan
dari hari kehari. Porsi acuan ini jumlahnya sama dengan porsi rerata atau

10
porsi yang paling sering muncul atau sering digunakan oleh subjek jika
mengonsumsi satu jenis makanan. Porsi acuan berbeda untuk setiap jenis
makanan. Misalnya porsi makan sayuran berbeda dengan porsi makan buah.
Porsi makan lauk hewani berbeda dengan porsi makan lauk nabati. Porsi
acuan ini diperoleh dari beberapa cara yaitu wawancara langsung dengan
subjek atau penimbangan langsung oleh subjek. Cara lain adalah menentukan
sesuai dengan porsi pada pesan gizi seimbang (PGS). Biasanya di Indonesia
digunakan porsi acuan pada buku PGS.
5. Porsi konsumsi
Porsi konsumsi adalah porsi yang dikonsumsi oleh subjek. Porsi konsumsi
dapat sama atau berbeda dengan porsi acuan. Perbedaan ini diberikan simbol
K=kecil, S=Sedang dan B=besar. Jika subjek mengonsumsi lebih kecil dari
porsi acuan maka diberi simbol K, Jika subjek mengonsumsi sama dengan
porsi acuan maka diberi simbol S, dan jika subjek mengonsumsi lebih besar
dari porsi acuan maka diberi simbol B. Bobot ukuran besar, sedang dan kecil
dapat diketahui dengan cara penimbangan saat wawancara berlangsung.
Studi Diet Total (SDT) di Indonesia tahun 1994 pernah menggunakan metode
penimbangan makanan saat wawancara recall konsumsi 24 jam. Cara
penimbangannya adalah subjek diminta untuk menentukan jumlah makanan
atau minuman yang biasa dikonsumsi melalui bentuk (pangan) aslinya.
Setelah subjek sudah menentukan takaran makanan, lalu ditimbang oleh
enumerator dan dicatat hasilnya sebagai porsi konsumsi. Cara ini dipandang
sebagai cara untuk mengetahui porsi konsumsi aktual setiap subjek.
6. Catatan Diet
Catatan diet adalah tanda yang diberikan pada setiap hari, untuk kepatuhan
subjek menjalankan diet yang digunakannya. Jika subjek sedang menerapkan
diet tertentu maka tanda ceklist dibubuhkan pada kolom hari pengamatan,
Jika subjek tidak menerapkan diet pada hari pengamatan maka, kolom ini
dikosongkan atau diberi tanda silang, Tujuan catatan diet ini juga berguna
untuk menilai kepatuhan subjek pada diet. Diet dalam konteks ini adalah diet
yang beredar di masyarakat.
7. Pantangan

11
Makanan pantangan adalah makanan yang pada umumnya orang konsumsi
tetapi untuk subjek tertentu tidak dikonsumsi dengan alasan subjektif diluar
penilaian organoleptik. Makanan pantangan ditolak untuk dikonsumsi karena
alasan subjektif. Alasan subjektif karena persepsi yang menyimpang dari
kaidah ilmu pengetahuan gizi dan makanan. Alasan seringkali berhubungan
dengan mitos atau legenda secara turun temurun. Jika subjek memiliki
makanan pantangan maka kolom ini diberi tanda ceklist. Tujuan kolom ini
adalah untuk memberikan deskripsi secara lengkap bahwa subjek memiliki
makanan pantangan. Pada wawancara mendalam dapat ditelusuri tentang
alasan memantangkan makanan tertentu dan bagaimana efeknya pada
keragaman konsumsi subjek.
8. Deskripsi DH
Deskripsi DH adalah penjelasan narasi yang mudah dipahami atas fakta
fakta riwayat makan subjek. Deskripsi DH adalah dirinci terkait konsistensi
waktu makan, sumber makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, kelompok
sayuran, dan kelompok buah buahan, serta makanan bersama atau even sosial
lainnya. Makanan pantangan juga dijelaskan jika ada atau tidak ada.
Deskripsi ini adalah ringkasan tentang riwayat makan subjek.
9. Interpretasi DH
Interpretasi DH adalah simpulan atas riwayat makan subjek. Simpulan ini
diuraikan menurut dimensi keragaman konsumsi sesuai dengan pilar gizi
seimbang dan dilengkapi dengan asupan rerata harian selama DH. Asupan
terhadap gizi makro dan mikro. Jika dilakukan penyederhanaan maka,
disesuaikan dengan tujuan DH. Jika tujuan DH adalah untuk menelusuri efek
riwayat makan dengan munculnya kasus malnutrisi gizi makro maka di
interpretasi relasinya dengan gizi makro saja.
Pada metode DH tidak diperlukan studi pendahuluan yang sistematis seperti
pada metode FFQ maupun semi FFQ. Studi tidak diperlukan karena formulir DH
adalah formulir dengan pertanyaan terbuka. Dilakukan identifikasi bahan
makanan sudah dikonsumsi setiap hari. Hal ini berbeda dengan metode FFQ dan
Semi FFQ dimana daftar makanan sudah ditentukan sebelumnya dari hasil studi
pendahuluan.

12
Pada metode DH agak berbeda dengan metode FFQ dalam hal
pencantuman daftar makanan di formulir. Pencatuman nama makanan pada
metode FFQ adalah makanan dengan skor tertinggi atau memiliki korelasi kuat
dengan kasus malnutrisi (Rafael A Garcia, Douglas Taren, Nocolette 2000), (Shai
et al. 2004). Pencantuman nama makanan dan minuman pada
metode DH adalah sesuai dengan informasi subjek yang aktual saat wawancara
pertama atau wawancara di hari pertama. Penting diperhatikan bahwa pada
metode apapun, selalu dibedakan antara bahan makanan dan makanan. Bahan
makanan adalah bahan asli asal tumbuhan dan hewan yang digunakan untuk
membuat makanan sedangkan makanan adalah makanan siap konsumsi baik segar
ataupun olahan. Jika makanan olahan maka harus diuraikan bahan penyusunnya.
Pada metode DH, rincian bahan makanan diuraikan terpisah dari formulir
DH.. Formulir DH hanya menuliskan nama hidangan sedangkan bahannya dibuat
sesuai dengan resepnya. Metode DH adalah salah satu metode penilaian konsumsi
pangan yang didasari pada makan individu dalam jangka waktu yang lama.
Jangka waktu yang lama dalam pernyataan ini adalah bahwa kebiasaan makan
yang diamati selama periode pengamatan adalah mewakili kebiasaan atau riwayat
makan individu pada periode waktu lainnya. Kebiasaan makan individu adalah
terbentuk sejak masa pertama kali menerima respon rasa pada indra pengecapan
yang diterima sebagai rasa atau sensori khusus. Diterima sebagai satu karakter
rasa yang subjektif setiap individu. Kesukaan terhadap rasa makanan adalah
dibiasakan dan dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang sering dan
dibiasakan sejak masa pemberian makanan pendamping Air Susu Ibu.
Metode DH jelas berbeda dengan metode lainnya termasuk dengan metode
FFQ, pada metode ini menanyakan riwayat makan subjek. Riwayat makan subjek
ditelaah dalam multi dimensi, jumlah, dan jenis, frekuensi, asal makanan dan
kebiasaan makan sehari hari. Kekhususannya dalam aspek multi dimensi,
disebabkan metode ini mengompilasi dua metode lainnya yaitu metode FFQ dan
metode recall 24 Jam. Kesesuain data antara hasil FFQ dengan hasil metode recall
24 jam, dirumuskan menjadi sebuah catatan kebiasaan makan atau sering disebut
riwayat makan. Inilah yang disebut dengan Dietary Histori (DH).

13
2.2.3. Langkah-langkah Dietary History
1. Petugas menanyakan kepada responden tentang pola kebiasaan
makanannya. Variasi makan pada hari-hari khusus seperti hari libur ,
dalam keadaan sakit dan sebagainya juga dicatat. Termasuk jenis
makanan, frekuensi penggunaan, ukuran porsi dalam URT serta cara
memasaknya (direbus, digoreng, dipanggang dan sebagainya).
2. Lakukan pengecekan terhadap data yang diperoleh dengan cara
mengajukan pertanyaan untuk kebenaran data tersebut.
Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengumpulan data adalah
keadaan musim-musim tertentu dan hari-hari istimewa seperti hari pasar, awal
bulan, hari raya dan sebagainya. Gambaran konsumsi pada hari-hari tersebut harus
dikumpulkan.
2.2.4. Kelebihan Dietary History
Beberapa kelebihan metode riwayat makanan menurut (Supariasa, Bakri,
& Fajar, 2017), antara lain :
1. Dapat memberikan gamabaran konsumsi pada periode yang panjang
secara kualitatif dan kuantitatif.
2. Biaya relatif murah.
3. Dapat digunakan di klinik gizi untuk membantu mengatasi masalah
kesehatan yang berhubungan dengan diet pasien.
2.2.5. Kelemahan Dietary History
Kelamahan metode dietary history dibanding dengan banyak metode
survei konsumsi pangan yang lain adalah:
1. Pelaksanaan memerlukan waktu lama
Pelaksanaan metode DH adalah pelaksanaan metode yang paling lama
diantara semua jenis metode penilaian konsumsi makanan. Hal ini
disebabkan karena metode ini salah satu cirinya adalah mendeskripsikan
secara multidimensi riwayat makan subjek. Analisis dan telaahan yang
multi dimensi inilah menjadi salah satu kendala terutama jika survei
dilakukan pada populasi yang besar atau pada penelitian dengan jumlah
sampel yang besar.
2. Memerlukan enumerator yang banyak, jika survei pada populasi

14
Tenaga pengumpul data yang banyak Jika metode ini digunakan, pada
jumlah subjek yang banyak, maka dipastikan tenaga pengumpul data harus
berjumlah banyak. Jumlah yang banyak pada satu sisi akan mempercepat
periode pengumpulan data, akan tetapi di sisi lain kemampuan pengumpul
data hendaknyna homogen dan sudah mendapatkan pelatihan yang cocok
dengan survei konsumsi metode DH. Standarisasi petugas pengumpul data
sangat diperlukan sehingga biaya pelaksanaannya lebih mahal dibanding
dengan metode lain.
3. Memerlukan tenaga pengumpul data yang sangat terlatih
Hanya dapat dilakukan oleh tenaga sangat terlatih Menggali riwayat
makan, tidak semata mata fokus pada instrumen DH semata mata. Tenaga
terlatih yang memahami dengan baik budaya makan setempat dan
memahami proses penyiapan, pengolahan dan distribusi makanan.
Pemahaman ini bukan saja mencakup aspek individu tetapi sistem sosial
masyarakat setempat yang berhubungan dengan budaya makan.

15
BAB 3. ANALISIS JURNAL

3. 1 Identitas Jurnal
1. Judul : Gambaran Status Gizi, Asupan, Dan Kualitas Konsumsi
Makanan Pada Ibu Dan Balita Desa Sinarsari Bogor
2. Pengarang : Wiwi Febriani
3. Jenis Jurnal : Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Volume 2
No 1 Juni 2017
4. ISSN : 2086-6909
3. 2 Analisis 5W+1H
1. What
Gambaran Status Gizi, Asupan, Dan Kualitas Konsumsi
Makanan Pada Ibu Dan Balita
2. Where
Desa Sinarsari Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3. Who :
15 orang ibu dan 15 orang anak usia di bawah lima tahun (balita) yang
bersedia diukur status gizi dan diwawancara.
4. When :
Bulan Oktober 2016.
5. Why :
Status gizi kurang atau buruk pada anak dapat menghambat pertumbuhan
fisik, mental dan kemampuan berfikir yang pada akhirnya menurunkan
produktivitas. Sementara gizi kurang atau buruk pada ibu akan
mempengaruhi status gizi anak dan produktivitas kerja. Keadaan ini
menggambarkan bahwa status gizi kurang atau buruk akan mempengaruhi
sumber daya manusia. Berdasarkan Riskesdas 2013 prevalensi anak gizi
buruk dankurus serta anak pendek meningkat dari tahun 2010. Meskipun nilai
prevalensi status gizi di Jawa Barat masih di bawah prevalensi normal,
penelitian ini tetap dilakukan guna mengetahui karakteristik responden,
pengetahuan gizi, status, asupan, tingkat kecukupan gizi serta gambaran
konsumsi pangan ibu dan balita di Desa Sinarsari.
6. How :

16
Status gizi ibu dan balita diukur menggunakan pengukuran antropometri
dana supan gizi dengan cara pengisian kuesioner recall 1 x 24 jam untuk ibu
dan balita, dan food frequency (FFQ) pada ibu dengan teknik wawancara.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat balita pendek (TB/U)
sebesar 46,7%, balita kurus (BB/TB) 33,3%, dan balita gizi kurang (BB/U)
26,6%. Sementara itu pada ibu terdapat sebanyak 26,67% yang mengalami
overweight. Rata-rata asupan energi ibu dan balita kurang dari 80%. Hasil
Food Consumption Score (FCS) adalah 25,13 (masih butuh peningkatan
konsumsi pangan) dan skor kualitas konsumsi pangan (HEI) ibu dan balita
yang masih buruk (kurang dari 50).
3. 3 Analisis Sesuai Teori
Metode FFQ yang dipilih disini dikalibrasikan dengan recall1x24 jam dimana
digunakan untuk mengetahui asupan dan kualitas konsumsi makanannya. Data
asupan yang menggunakan recall 24jam asupannya dianalisis dengan
menggunakan program Nutrisurvey, dan dikategorikan menggunakan metode HEI
(Healthy Eating Index). Data FFQ (Food Frequency) dianalisis dengan metode
FCS (Food Consumption Score) dengan menjumlahkan seluruh hasil FFQ
responden yang sudah dikonversi perminggu dan dikalikan dengan bobot per
kelompok pangan yang sudah ditentukan dalam FCS.

17
BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Food Frequency Questionnare Method (FFQ/Metode Kuesioner Frekuensi
Makanan) adalah salah satu metode dietary assesment dalam konteks individu
yang mencatat frekuensi individu terhadap beberapa jenis makanan (<100) dalam
kurun waktu tertentu (1 bulan terakhir/6 bulan terakhir/1 tahun terakhir). Prinsip
umum dalam penggunaan FFQ dan Semi FFQ adalah kekerapan konsumsi
pangan sebagai faktor risiko munculnya kasus gizi salah. Menurut Supariasa
(2001), langkah-langkah metode Food Frequency ada dua. Sedangkan menurut
Fahmida dan Dillon (2007), terdapat 8 prosedur dalam penggunaan SQ FFQ.
Metode Food Frequency ini memiliki kelemahan dan kelebihan.
Metode dietary history merupakan metode retrospektif mengenai informasi
pola makan yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Prinsip umum dalam
Dietary History (DH) adalah pencatatan riwayat makan dari aspek keteraturan
waktu, komposisi gizi, kecukupan asupan gizi, kepatuhan diet, dan makanan
pantangan. Menurut Utami (2016), dalam pelaksanaan metode dietary history
(riwayat makanan) terdapat dua langkah. Metode dietary history ini memiliki
kelemahan dan kelebihan.
4.2 Saran
Setiap metode memiliki kelemahan dan kelebihan, tidak ada metode yang
terbaik untuk semua tujuan studi. Sehingga, untuk mengurangi kekurangan dari
suatu metode bisa dilakukan kombinasi dengan metode lainnya yang dapat
menutupi kekurangan dari suatu metode atau melakukan modifikasi seperlunya.
Kombinasi dari dua metode dapat memberikan informasi lebih, sehingga
informasi dari suatu hasil penelitian dapat lebih lengkap. Kombinasi yang dapat
dilakukan misalnya kombinasi antara metode recall dengan dietary history
(riwayat makan).

18
DAFTAR PUSTAKA

Supariasa, I Dewa. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Sirajuddin, Surmita, & Astuti, T. (2018). Survey Konsumsi Pangan. Jakarta:


KEMENKES RI.
Astuti T, Sirajuddin, Surmita.2018.Survey Konsumsi Pangan.Jakarta:Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.
Fahmida, Umi dan Drupadi HS Dillon. 2007. Handbook Nutritional Assessment.
SEAMEO-TROPMED RCCN UI : Jakarta

Iqbal, M., dan D.E Puspaningtyas. 2018. Penilaian Status Gizi:ABCD. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika

Adriani, M., dan B. Wirjatmadi. 2014. Gizi dan Kesehatan Balita. Jakarta:
Kencana Prenamedia Group

Utami, N. W. A. 2016. Modul Survei Konsumsi Makanan. Program Studi


Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_dir/18e4ebf2c0ccd280a
198372d113cd91f.pdf [Diakses Pada 22 Maret 2019].

19