Anda di halaman 1dari 17

1.

JENIS SISTEM PENGEBORAN

Dengan Sistem Bor Kering/ Dry Drilling: menggunakan mata bor spiral dengan cara memutar mata bor
dan diangkat setiap interal 0.5 mtr dan dilakukan berulang-ulang hingga kedalaman yang ditentukan;

Dengan Sistem Bor Basah/ Wash Drilling: menggunakan mata bor Cross Bit/ Diamond Widia/ setara ex
design/ hand made, yang mempunyai kecepatan putaran sekitar 375rpm dengan tekanan ± 200kg.

Dalam pekerjaan ini system pengeboran yang digunakan adalah dengan system Bor Basah/ Wash
Drilling.

2. ALAT YANG DIGUNAKAN

Rig Bor;

Earth Drill, Auger Bucket, Bucket Bor, Bucket Cleaning;

Pipa Tremie, Sling, Pipa-pipa Cashing;

Pompa air, pompa lumpur;

Bar Cutter, Bar Bender, Mesin las (Jika diperlukan);

Concrete Pump (Jika diperlukan);

Thodilite, meteran, lot vertical, dsb;

. SPESIFIKASI
Mutu Beton bor pile : K 300
Slump : 18 ± 2 s.d 15 ± 2
Water Cement Ratio : 0.55
Max fly ash : 15% (digunanakan Non Fly Ash)
Minimum Cement Content : 310kg/m3
4. PERSIAPAN & MONITORING
Buat denah titik tiang bor dan no urut bor;
Menyiapkan mix design beton dengan kuat tekan beton yang diisyaratkan;
Merencanakan dan memastikan akses keluar masuk ready mix, kolam sirkulasi air dan pembuangan
lumpur sementara (termasuk mobil pembuang lumpur jika diperlukan);

5. PENGEBORAN
Pengeboran dilakukan dengan rotary drilling machine merk Watson/Soilmec/ …….. yang ditambatkan
pada suatu dudukan tiang hidrolik yang didirikan diatas lokasi yang akan dibor dengan mata bor Cross
Bit;
Auger atau bucket dipasang pada ujung kelly bar (bisa single/double/triple, tergantung pada kedalaman
lubang yang akan dibor) diputar dengan mesin bor dengan kecepatan putar 375 rpm & dibantu dengan
hydraulic jack dengan tekanan ± 200 kg sehingga auger atau bucket masuk kedalam tanah;
Setelah bucket atau auger terisi oleh tanah hasil bor, maka kelly bar diangkat dan tanah/lumpur
dikeluarkan dari bucket atau auger dan dibuang dipermukaan atas tanah disisi lubang bor. Kemudian
bucket yang telah kosong diputar masuk kedalam tanah pada lubang yang terjadi, untuk mengulangi
atau melanjutkan tanah yang dianggap memenuhi persyaratan sebagai lapisan pendukung (bearing
layer);
Apabila menghadapi lapisan tanah yang mudah gugur/longsor maka “Temporary Steel Casing” dapat
dipergunakan untuk mencegah kelongsoran tersebut, juga dengan mengisi/ menembak air ke dalam
lubang bor (Reverse head of water) melalui lubang stang bor yang dihasilkan dari Pompa NS 80/……,
guna membantu pengikisan tanah tersebut sehingga tanah yang terkikis menjadi lumpur dan terdorong
keluar dari lubang seluruhnya, dan agar permukaan air didalam lubang lebih tinggi dari permukaan air
tanah diluar lubang, sehingga tekanan hydrostatis air didalam lubang akan menekan sisi lubang dan
mencegah kelongsoran.
Setelah kedalaman tercapai, pengeboran diberhentikan tetapi mata bor tetap berputar tetapi
penekanan dihentikan dan sirkulasi air tetap berjalan dan mengalir terus hingga serpihan tanah
terdorong atau keluar semua/ seluruhnya; f. Selama pembersihan ini berlangsung, pembesian dan pipa
tremi sudah harus disiapkan di dekat lubang bor, setelah bersih, stang bor diangkat dari lubang bor,
untuk segera di cor.

6. PEMBESIAN
Setelah pengeboran mencapai lapisan pendukung (bearing layer) yang direncanakan, lubang bor
dibersihkan dengan mempergunakan “cleaning bucket” yang berfungsi mengangkat lumpur atau
endapan-endapan dari dasar lubang bor;
Kemudian “steel cage” mulai diturunkan perlahan-lahan untuk menghindarkan benturan/sentuhan
terhadap sisi lubang bor dan ketinggian steel cage diatur sesuai dengan batas “cut-off” yang diinginkan;
Lubang bor yang terbuka terlalu lama karena pengiriman beton readymix mengalami sesuatu
hambatan/gangguan, harus dibersihkan lagi dengan “cleaning bucket” agar dasar lubang bebas dari
lumpur atau endapan-endapan;
Baja tulangan yang telah disetting diangkat tegak lurus dengan lubang bor, dan diturunkan dengan hati-
hati agar tidak banyak bersingungan dengan lubang bor. Baja tulangan yang telah dimasukan kedalam
lubang, ditahan dengan potongan besi/ tulangan melintang lubang
Bila ternyata tulangan harus dimasukan secara sambungan, maka penyambungan dapat dilakukan
dengan diikat dengan kawat beton dengan panjang overlap 50-60 cm;
Setelah besi tulangan terpasang, maka pipa tremi harus dimasukan kedalam lubang dengan panjang
sesuai dengan kedalaman, dan bila terjadi singungan dengan lubang bor dan terjadi keruntuhan lagi,
maka diperlukan pembersihan ulang dengan memasang head kombinasi Dia. 6 inch ke 2 inch, dan
memompa air kedalam stang bor dan pipa tremi, sehingga reruntuhan dan tanah yang menempel pada
besi tulangan dapat dibersihkan kembali.

7. PENGECORAN
Pengecoran beton adalah tahapan pekerjaan yang sangat penting pada pelaksanaan pondasi bored
piles. Beton yang akan digunakan harus mempunyai “workability” yang cukup untuk mendapatkan
beton yang homogen dengan “self compaction” dan pengecoran harus dilakukan secara kontinyu untuk
satu tiang pondasi, sehingga biasanya beton yang dipergunakan harus memenuhi antara lain, beton
readymix, slump minimum 15 cm dan retardation minimum 4 jam;
Pada umumnya lubang bor berisi air tanah, sehingga pengecoran (under water concreting) harus
dilakukan dengan sistim tremie (tremie method) dengan sistim beton yang keluar dari pipa tremie akan
“flow” dan mendesak semua lumpur dan endapan dasar lubang terjamin dari “Trap Mud”;
Pipa tremie harus diturunkan sampai ujung bawah menyentuh dasar lubang;
Di awal pengecoran, untuk memisahkan adukan beton dari lumpur limbah pengeboran, maka dapat
digunakan kawat ayam + plastik sheet yang diletakkan pada ujung atas atau pipa tremie atau dengan
menempatkan plastik yang diisi adukan beton dan diikat dengan kawat beton kemudian digantung
dibagian dalam lubang tremi diposisi 1 meter dibawah/ dari corong tremie;
Setelah persiapan pengecoran selesai, beton mulai dituangkan kedalam corong dan pada saat yang
bersamaan pipa dinaikkan + 25 cm dan secara kontinyu beton mulai dituangkan lagi kedalam corong.
Dengan adanya plastik sheet + kawat ayam beton yang masuk kedalam pipa tremie akan dipisah dengan
air yang ada di dalam tremie
Dan bila menggunakan kantong plastik yang diisi adukan beton, maka setelah beton cukup penuh
kantong plastik dilepas, sehingga beton mendorong lumpur yang ada didalam tremi;
Pengecoran dilakukan terus menerus untuk menghindari kemacetan pada pipa tremi. Dengan system
tremi ini pengecoran dilakukan dari dasar lubang dengan mendorong air/ lumpur dari bawah menuju
keluar lubang;
Setelah pipa premie penuh dan ujung atas tremie tertanam beton dan beton tidak bisa dituangkan/
mengalir lagi karena penuh dan ada tekanan dari bawah, maka harus dilakukan hentakan-hentakan atau
diturunkan/naikkan, selain untuk pemadatan (self compaction) beton disekeliling tremie juga untuk
menurunkan beton dalam pipa tremie tadi, tentu saja pengangkatan pipa-pipa ini tidak boleh melewati
muka atas beton yang berada didalam lubang bor karena kejadian ini akan menyebabkan bercampur
lumpur atau terjadinya necking atau harus dipastikan bahwa pipa tremie harus selalu tertanam di
didalam cor beton (yang dibawah) dan pengisian didalam corong harus dijaga terus menerus dan
dipastikan tidak kosong, hingga pengecoran selesai;
Pemotongan tremie pada umumnya dilakukan pada waktu beton didalam pipa tremie sudah sulit untuk
mengalir turun, karena beton disekeliling tremie sudah tinggi sehingga hanya yang diperlukan untuk
mendorong beton keatas juga cukup besar atau pipa tremie bisa dilepas per 3 meter dengan tetap
memastikan bahwa ujung bawah pipa tremie tetap terendam/ tertanam dalam coran beton;
Pengecoran dilakukan dengan cara-cara tersebut diatas sampai melebihi + 0.5 m diatas pipa cut-off level
yang mana berupa beton kualitas jelek karena tercampur lumpur/air kotor nantinya akan
dibobok/dibuang sehingga kita mendapatkan beton yang berkualitas baik pada batas cut-off atau
pengecoran bisa dihentikan setelah coran beton yang naik ke permukaan telah bersih dari lumpur;
Setelah pengecoran selesai baru temporary steel casing diangkat perlahan-lahan dan peralatan
dibersikan dari sisa beton dan lumpur untuk disiapkan dan dipakai kembali pada titik bor selanjutnya.

ekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dalam
sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan teknik pancang dan teknik bor. Berikut
merupakan teknis / langkah-langkah pelaksanaan tiang bor sebagai pondasi suatu bangunan

Persiapan Lapangan
Dalam persiapan lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
– Harus tersedia jalan kerja yang memadai
– drainase harus dibuat dan dipelihara selama proses pekerjaan.
– Dapat diperlukan blok beton atau plat baja sebagai bantalan untuk menahan crane dan beton mixer
agar dapat mencapai titik pile.
– dipersiapkan penerangan yang cukup dilokasi-lokasi penting dalam proyek.

Metode Pengeboran
metode pengeboran harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadi ketidak lurusan lubang bor
secara vertikal. sebelum menyentuh MAT, mata bor yang digunakan adalah auger sedangkan bila sudah
menyentuh MAT, mata bor yang digunakan adalah bucket.

Slurry
Slurry digunakan untuk berbagai kepentingan dalam metode bored pile, biasanya untuk mencegah
kelongsoran. Slurry yang digunakan pada metode bored pile adalah air, polimer, dan bentonite. Polimer
berfungsi untuk mempercepat terjadinya pengendapan sedangkan bentonite berfungsi untuk mencegah
kelongsoran. penggunaan slurry disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. berikut ini merupakan
bentonite properties yang perlu dicapai saat pelaksanaannya:
– pH appatus : 7.5-11
– viscosity : 32-45 s
– density : 1.02-1.2
– sand content : <3% vol
– fluid loss : 20-40ml
– cake : <1-3mm
semuanya itu harus dilakukan percobaan saat pembuatan bentonite sesuai kebutuhan. namun biasanya
yang dilakukan hanyalah pH appatus, viscosity, dan density. padahal fluid loss dan cake penting juga
untuk dilakukan. namun batasan waktu dan biaya menyebabkan fluid loss and cake tidak dilakukan. Lalu
dalam pelaksanaan pembuatan bentonite juga perlu diperhatikan, baik dalam pembuatan maupun
pembuangannya. jangan sampai dibuang sembarangan karena akan menyebabkan masalah lingkungan.

Pembuangan Tanah
Pembuangan tanah pada metode bored pile perlu diperhatikan karena bila tidak dapat menimbulkan
permasalahan di lapangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam metode bored pile adalah:
– Tanah hasil pengeboran di kumpulkan disamping crane bor.
– Tanah tersebut harus segera dikeluarkan agar tidak mengganggu proses pengeboran.
– Umumnya disiapkan suatu lokasi dalam proyek untuk penampungan sementara tanah galian untuk
kemudian dikeluarkan dari lokasi proyek pada malam hari

Desanding / Recycling
proses reclying ini perlu dilakukan untuk memisahkan tanah dan bentonite, dan excavation soil.

Pemasangan Pembesian
Dalam pemasangan pembesian, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
– Pembesian ini perlu dipasang spacer beton
digantung ke casing dengan menggunakan batang besi.
– Penurunan besi kedalam lubang dimana dasar galian cukup bersih.
– Bagian bawah pembesian dimasukan terlebih dahulu kedalam lubang dan digantung di dinding casing.
– Besi berikutnya dimasukan menyusul diatas besi pertama serta dilakukan penyambungan.
– Penyambungan umumnya menggunakan sistem pengelasan pada sejumlah overlap besi utama.
– Setelah pembesian terpasang dimana kedalaman galian diukur ulang untuk memeriksa adanya
pengendapan atau kelongsoran selama pemasangan besi.
– sedimentasi: proses pembersihan dasar galian dapat dilakukan dengan menurunkan pompa
submersible untuk menyedot kotoran.
– Kelongsoran terjadi maka pembesian harus diangkat ulang

Pemasangan Tremie Pipe


Tremie pipe merupakan pipa yang digunakan untuk memasukan beton ke dalam lubang bor agar beton
tidak rusak akibat bercampur dengan cairan pengisi lubang

Pengecoran
Dalam proses pengecoran, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
– Slump beton: 175mm sampai 225mm.
– Pipa tremie: diameter dalam 220mm dengan panjang yang variatif, 0.5m, 1m, 2m, dan 4m.
– Jika diperhitungkan waktu pengecoran yang lama diperlukan retarder untuk menjaga agar beton
masih belum set selama proses pengecoran
– Selama proses pengecoran, perlu dilakukan pencatatan serta pembuatan grafik ketinggian muka beton
VS volume beton serta dibanding dengan perhitungan teoritis.
– Pembuatan sampel beton
– Jika batas atas pengecoran berada dibawah level permukaan proyek maka diperlukan penimbunan
dengan material yang cukup stabil setelah beton set.
– Jika galian mengalami kelongsoran total, maka lubang harus di tutup dengan dengan menggunakan
lean concrete

Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan:


Manajemen lapangan
– Proses penggalian yang menggunakan air atau slurry dapat berpeluang merusak ke bersihan serta
kestabilan permukaan lapangan.
– Perlu sistem drainase lapangan yang baik + perawatan sistem tersebut
– Lapangan yang rusak akibat permukaan yang terendam air akan menyebabkan resiko crane yang tidak
stabil serta mixer beton yang sulit mencapai lokasi
Posisi Pembesian
– Dengan adanya aliran beton disaat pengecoran dapat mengangkat pembesian sehingga tidak berada di
level yang diinginkan.
– Posisi pembesian ini perlu diperhatikan selama pengecoran agar besi tidak naik.
– Biaya perbaikan posisi besi ini biasanya melibatkan angka yang sangat besar
Cara Pelaksanaan Pondasi Bore Pile

Label:bore pile,jasa bor pile biaya jasa bor pile, bore pile jakarta, Bored pile, harga bor pile per
meter, Jasa bore pile, metode bore pile, perhitungan harga bor pile, pondasi bore pile, proses
pengecoran bore pile

Pondasi Bore Pile adalah jenis pondasi dalam yang berbentuk tabung, yaitu berfungsi meneruskan
beban struktur bangunan diatasnya dari permukaan tanah sampai lapisan tanah keras di
bawahnya. Pondasi bore pile memiliki fungsi yang sama dengan pondasi tiang pancang atau pondasi
dalam lainya. Perbedaan di antara keduanya adalah pada cara pelaksanaan pengerjaanya. Jasa
pelaksanaan pondasi bore pile diawali dari pembuatan lubang di tanah dengan cara tanah di bor
terlebih dahulu kemudian penginstalan besi tulangan ke dalam lubang yang dilanjutkan dengan
pengecoran bor pile dengan tremi.

Ada beragam jenis alat dan cara untuk pelaksanaan pembuatan pondasi bore pile, diantaranya:

Alat Bore Pile mini crane .

Dengan menggunakan alat / mesin bore mini crane bisa dilakukan pengeboran dengan diameter 30cm
sampai 60cm dengan pilihan kedalaman 6meter sampai 24meter bahkan lebih. Yaitu dengan cara
menggunakan wash borring / bor basah. Wash borring membutuhkan air yang cukup banyak untuk
mempermudah pelaksanaan pekerjaan bore pile.

Dalam bangunan gedung, jembatan, tower dan bangunan lainnya yang di dirikan tentunya
membutuhkan pondasi yang kuat dan kokoh.

Apa bila kondisi tanah di permukaan tidak mampu menahan beban bangunan, maka beban harus di
lanjutkan ke lapisan tanah keras di bawahnya memakai konstruksi pondasi dalam berupa tiang pancang
atau bore pile .

Pondasi tiang pancang sering dipakai pada lahan yang luas dimana getaran yang ditimbulkan pada saat
pengerjaan pemancangan tidak mengganggu lingkungan sekitarnya, Namun jika bangunan tersebut di
dirikan di lokasi yang dekat bangunan yang ada di sekitar, maka getaran yang ditimbulkan akan menjadi
sebuah kendala, karena dalam pelaksanaanya sangat mengganggu dan dapat merusak bangunan di
sekitarnya. Dengan kondisi sedemikian rupa pemakaian pondasi jenis bore pile merupakan pilihan
pondasi yang tepat. Proyek besar dimana sarana transportasinya mendukung, dalam pembuatan bore
pile sering digunakan alat berat berupa crane. Namun untuk proyek kecil apalagi jika sarana
transportasinya kurang mendukung, maka penggunaan crane sering mengalami kendala karena untuk
mobilisasinya dibutuhkan dana yang cukup besar, sehingga biaya operasional menjadi tidak ekonomis
lagi.

Baca juga ----->> Perbedaan pondasi bor pile dan strauss pile

Kami melayani jasa pekerjaan bore pile dengan alat bore mini crane dan bore pile manual yang sangat
praktis dan mudah dalam mobilisasi maupun pengoperasian alat-alatnya.

Keunggulan Bore Pile Mini Crane :

 Praktis Saat mobilisasinya.

 Mudah Dalam pengoperasianya.


 Tidak Menimbulkan getaran terhadap lingkungan sekitar.

 Memenuhi syarat teknik dan spesifikasi bangunan.

Hal ini sangat penting, terutama untuk pembuatan pondasi di daerah perkotaan yang bangunannya
cukup rapat dan tidak memungkinkan adanya pelaksanaan pemancangan.

Kemampuan mesin Bore Pile Mini Crane :

 Dapat Melakukan pengeboran dari diameter 30 cm sampai dengan 60 cm.

 Kedalaman Dapat mencapai 24 meter atau sampai kedalaman tanah keras di daerah tersebut
sesuai data soundir.

 Dapat dioperasikan dengan dua cara, sistem wash borring maupun sistem dry drilling.

Kecepatan pelaksanaan pekerjaan tergantung pada beberapa faktor sebagai berikut:

 Kondisi lapisan tanah setempat.

 Lokasi kerja ( bobokan pondasi lama,dan bekas instalasi lainya pada bangunan lama, dll)

 Kelancaran droping material

 Kesiapan pembuangan limbah hasil pengeboran.

PROSES PENGEBORAN

1. Pengeboran dengan sistem bor kering / dry drilling : Tanah di bor dengan menggunakan mata
bor spiral. Dengan cara memutar mata bor dan diangkat setiap interval 0,5meter. Hal ini
dilakukan berulang-ulang sampai kedalaman yang ditentukan.

2. Pengeboran dengan sistem bor basah / wash borring : Tanah di bor dengan menggunakan
mata bor cross bit ex design sesuai kebutuhan yang memiliki kecepatan putar 375 rpm dan
tekanan +/- 200 kg. Jika tanah dalam keadaan mudah runtuh dapat diberi chasing sementara
terlebih dahulu untuk menghindari kelongsoran dinding lubang hasil pengeboran. Pengikisan
tanah dibantu dengan tembakan air lewat lubang stang bor yang dihasilkan dari pompa NS-80.
Hal ini menyebabkan tanah yang terkikis menjadi lumpur dan terdorong keluar dari
lubang. Setelah mencapai kedalaman sesuai rencana, pengeboran dihentikan, sementara mata
bor dibiarkan berputar tetapi beban penekanan dihentikan dan air sirkulasi tetap mengalir terus
sampai serpihan tanah terdorong keluar dari lubang seluruhnya. Selama pembersihan ini
berlangsung, baja tulangan dan pipa tremi sudah disiapkan di dekat lubang bor. Setelah cukup
bersih, stang bor diangkat dari lubang bor. Dengan bersihnya lubang pengecoran akan
mendapatkan hasil yang terbaik.
PEMBERSIHAN LUBANG BOR

Tahap kedua adalah pembersihan lubang bor pile dari lumpur pekat yang terjadi. Pembersihan harus
dilakukan dengan alat pembersih kusus dengan ukuran yang sesuai dengan diameter lubang bor.

PEMASANGAN BESI BETON DAN PIPA TREMI

Tahap ketiga adalah pemasangan besi beton dan pipa tremi untuk pengecoran.
Kerangka baja tulangan yang telah di instal diangkat dengan bantuan diesel dan power winch dalam
posisi tegak lurus terhadap lubang bor dan diturunkan dengan hati-hati agar tidak terjadi banyak
singgungan dengan lubang bor. Baja tulangan yang telah dimasukan dalam lubang bor ditahan dengan
potongan tulangan melintang lubang bor. Bila kebutuhan baja tulangan lebih dari 12 meter bisa
dilakukan penyambungan dengan diikat dengan kawat beton dengan panjang overlap 50-60cm atau
sesuai pada gambar yang di sediakan.

Setelah rangka baja tulangan terpasang, maka pipa tremi harus di masukkan kedalam lubang dengan
panjang sesuai kedalaman lubang bor. Bila pada waktu pemasangan baja tulangan terjadi singgungan
dan terjadi keruntuhan di dalam lubang bor, maka diperlukan pembersihan ulang dengan memasang
head kombinasi diameter 6 "ke diameter 2". Dengan memompa air kedalam stang bor dan pipa tremi,
maka reruntuhan dan tanah yang menempel pada besi tulangan dapat dibersihkan kembali.

PENGECORAN BORE PILE

Tahap keempat adalah pekerjaan pengecoran bore pile ke dalam lubang bor.
1. Untuk memisahkan adukan beton dari lumpur limbah pengboran di awal pengecoran, maka di
gunakan kantong plastik yang diisi adukan beton dan diikat dengan kawat beton kemudian
digantung di bagian dalam lubang tremi satu meter kebawah dari corong pipa tremi.

2. Setelah persiapan pengecoran selesai, beton slump 18+-2cm ditampung di dalam corong tremi
dan ditahan oleh bola plastik yang berisi adukan beton setelah cukup penuh bola kantong plastik
dilepas sehingga beton mendorong lumpur yang ada di dalam lubang tremi.
Pengecoran dilakukan secara terus-menerus untuk menghidari kemacetan pada pipa
tremi. Dengan sistem tremi ini pengecoran dimulai dari dasar lubang dengan mendorong air /
lumpur dari bawah menuju keluar lubang.

3. Setelah pipa tremi penuh dan ujung pipa tremie tertanam beton sehingga beton tidak dapat
mengalir karena ada tekanan dari bawah. Untuk memperlancar adukan beton didalam pipa
tremi, maka harus dilakukan hentakan-hentakan pada pipa tremi. Pipa tremi harus selalu
tertanam di dalam adukan beton dan pengisian di dalam corong harus dijaga terus menerus
agar corong tidak kosong.

4. Pipa tremi dilepas setiap 3 meter akan tetapi ujung pipa di dalam harus dalam keadaan
tertanam di dalam beton. Pengecoran dihentikan setelah adukan beton yang naik ke permukaan
telah bersih dari lumpur.

5. Setelah pekerjaan pengecoran selesai, semua peralatan pengecoran dibersihkan dari sisa beton
dan lumpur dan disiapkan kembali untuk dipakai pada titik bor selanjutnya.

Note: slump beton untuk pengecoran bored pile yaitu 18+-2cm supaya beton dapat mengisi lubang
secara maksimal dan untuk mempermudah proses pengecoean bored pile atau supaya beton tidak
terhenti di dalam pipa tremi.

Bagi yang membutuhkan jasa bor pile dengan teknik kerja yang baik serta alat bored pile yang memadai
dan di dukung tenaga profesional silahkan hubungi contact di bawah ini:
PDA TEST (PILE DRIVING ANALYSIS)

TUJUAN PENGUJIAN PDA TEST

Tujuan pengujian tiang dengan Pile Driving Analyzer ( PDA ) adalah untuk mendapatkan data tentang :
1. Daya dukung aksial tiang.
2. Keutuhan / integritas tiang.
3. Efisiensi enerji yang ditransfer.

Jenis fondasi tiang yang dapat diuji dengan ‘PDA’ tidak terbatas pada tiang pancang saja. ‘PDA’ juga
dapat digunakan untuk tiang yang dicor di tempat seperti tiang bor, tiang franki dan jenis fondasi tiang
lainnya.
1. Daya Dukung Aksial Tiang
Penentuan daya dukung aksial tiang didasarkan pada karakteristik dari pantulan gelombang yang
diberikan oleh reaksi tanah ( lengketan dan tahanan ujung ).
Korelasi yang baik antara daya dukung tiang yang diberikan dari hasil ‘PDA’ dengan cara statis yang
konvensional telah diakui, yang membawa pada pengakuan ‘PDA’ sebagai metode yang sah dalam
ASTM D-4945-1996.
Meski demikian, harus dicatat korelasi yang ditujukan dalam grafik didasar-kan pada hasil pengujian jika
daya dukung batas ( ultimate ) dicapai baik dengan ‘PDA’ maupun dengan pengujian statis yang
konvensional.

Keutuhan Tiang
Kerusakan pada fondasi tiang dapat terjadi karena beberapa hal antara lain pada saat pengangkatan
tiang atau selama pemancangan tiang. Untuk tiang bor, pengecilan penampang dan longsornya tanah
adalah kerusakan yang paling umum dijumpai. Kerusakan ini dapat dideteksi dengan ‘PDA’.
Berdasarkan ‘F’ ( gaya ) dan ‘V’ ( kecepatan ) yang terekam dari gelombang selama perambatannya
sepanjang tiang, lokasi dari kerusakan dapat dideteksi dan luas penampang sisa dari tiang dapat
diperkirakan.
Jika hanya keutuhan tiang saja yang dibutuhkan, sebuah sub-sistem dari ‘PDA’ yang disebut ‘ Pile
Integrity Tester ‘ lebih ekonomis untuk digunakan dari pada ‘PDA’.
Efisiensi Palu Pancang
‘PDA’ mengukur enerji pemancangan actual yang ditranfer selama pengujian. Karena berat palu pancang
dan tinggi jatuh palu pancang dapat diketahui, maka efisiensi enerji yang ditransfer dapat dihitung.

PERALATAN PDA TEST


Peralatan untuk pengujian ‘PDA’ terdiri dari :
1. Pile Driving Analyzer ( PDA ),
2. Dua (2) strain transducer.
3. Dua (2) accelerometer
4. Kabel Penghubung.
Peralatan dapat dimasukkan dalam kotak perjalanan yang cukup kuat. Setiap set ‘PDA’ dan
perlengkapannya membutuhkan satu atau dua kotak yaitu berukuran sekitar 600 mm x 500 mm x 400
mm: dengan berat sekitar 30 kg.

PROSEDUR PENGUJIAN PDA TEST


Pengujian dinamis tiang didasarkan pada analisis gelombang satu dimensi yang terjadi ketika tiang
dipukul oleh palu.

Regangan dan percepatan selama pemancangan diukur menggunakan strain transducer dan
accelerometer. Dua buah strain transducer dan dua buah accelerometer dipasang pada bagian atas dari
tiang yang diuji ( kira-kira 1,5- x diameter dari kepala tiang ).
Pemasangan kedua instrument pada setiap pengukuran dimaksudkan untuk menjamin hasil rekaman
yang baik dan pengukuran tambahan jika salah satu instrument tidak bekerja dengan baik.
Pengukuran direkam oleh ‘PDA’ dan dianalisis dengan ‘ Case Method’ yang sudah umum dikenal,
berdasarkan teori gelombang satu dimensi. Latar belakang teoristis pengujian dinamis tiang dapat
dibaca pada lampiran A.
Pemasangan Instrumen
Pengujian dinamis dilaksanakan untuk memperkirakan daya dukung aksial tiang.
Karena itu, pemasangan instrument dilakukan sedemikian rupa sehingga pengaruh lentur selama
pengujian dapat dihilangkan sebanyak mungkin.
Untuk itu harus dilakukan adalah :
1. Strain transducer harus dipasang pada garis netral dan accelerometer pada lokasi berlawanan secara
diametral.
2. Posisi dari palu pancang harus tegak lurus terhadap garis strain transducer.
Persiapan Pengujian PDA TEST
Persiapan pengujian terdiri dari :
1. Penggalian tanah permukaan sekeliling kepala tiang, apabila kepala tiang
sama rata permukaan tanah.
2. Pengeboran lubang kecil pada tiang untuk pemasangan strain transducer dan accelerometer.
3. Pemasangan instrument.
Informasi yang diperlukan dalam PDA test.
1. Gambar yang menunjukan lokasi dan identifikasi tiang.
2. Tanggal pemancangan.
3. Panjang tiang dan luas penampang tiang.
4. Panjang tiang tertanam.
pedoman pengujian
Pengujian ‘PDA’ dilaksanakan berdasarkan prosedur yang tercantum dalam ASTMD-4945-1996.
Waktu Pengujian PDA test

Pengujian ‘PDA’ dapat dilakukan selama pemancangan untuk memonitori perkembangan daya dukung
tiang sejalan dengan tiang masuk makin dalam, kenerja dari sistem pemancangan atau memonitor
tegangan pada saat pemancangan yang ekstrim.
Tetapi umumnya ‘PDA’ digunakan untuk menentukan daya dukung jangka panjang tiang fondasi. Untuk
tujuan ini, pengujian ‘PDA’ sebaiknya dilakukan beberapa hari setelah pemancangan, setelah gaya
lengketan tanah mulai bekerja.

Pengertian dan Penjelasan MC0 (Mutual Check 0%)


Mutual Check Nol adalah suatu bentuk laporan setiap jenis item uraian pekerjaan yang
dilengkapi dengan Berita Acara Pemeriksaan Lapangan Bersama (MC 0%), Berita Acara
Serah Terima Lapangan (BA MC 0%), Schedule, Dan Rekap MC 0%.

Mutual check nol (MC 0%) pasti akan kita jumpai pada saat melaksanakan suatu pekerjaan
dan ini menjadi salah satu kelengkapan yang wajib dibuat dan dilaksanakan karena ini akan
berpengaruh terhadap pekerjaan yang akan kita laksanankan apakah mengalami perubahan
Misal volume bertamabah atau berkurang dan apakah tetap.

Membuat mutual check nol (MC 0%) secara umumnya akan di sesusaikan dengan
standarisasi harga satuan yang telah di tetapkan pada proses Pembuatan Rencana
Anggaran Biaya (RAB) atau pada saat melakukan penawaran (pelelangan) sehingga kita
tidak bisa asal merubah atau menentukan harga sendiri. Garis besar dari pembuatan mutual
check adalah berupa laporan prosentase (%) dari semua item pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
ISI MC 0%

Pada mutual check nol (MC 0%) memiliki beberapa bagian yang perlu kita ketahui yaitu:

1. Nama Paket pekerjaan dan Alamat


2. Jenis uraian pekerjaan
3. Harga Satuan
4. Volume Kontrak

Pada Nama Paket pekerjaan dan Alamat ini merupakan hal penting sebagai pengenal atau
identitas suatu proyek dalam pembuatan MC 0% kita, sehingga tidak mungkin suatu proyek
tanpa memiliki nama.
Pada jenis uraian pekerjaan ini yang kita kenal pada umumnya terdapat beberapa bagian
yang akan di hitung seperti, mobilisasi, manajemen dan keselamatan, pengalaman
lingkungan hidup, manajemen mutu.dan lain sebagainya.

Pada harga satuan pada umumnya kita mengenal yang namanya ukuran ataupun satuan
misalnya, Ls, zak, m, ton, kg, liter, buah, jam, buah dan lain sebagainya. Harga satuan
sangatlah penting karena berpengaruh besar terhadap harga terutama bahan.

Pada volume kontrak , untuk volume kontrak ini pada umumnya juga sudah di tetapkan dan
ini sangat berhubungan dengan harga satuan sehingga harga ataupun volume setiap
pekerjaan dapat di pekirakan pada setiap jenis pekerjakan yang akan dilaksanakan.
Kalaupun harus berbeda jumlah volume maka harus dituangkan dalam CCO maka sebelum
itu harus diawali dengan perhitungan volume MC 0% atau backup volume 0% secara jelas
dan benar bila mana ada orang yang awam bisa melihat selisih dari volume pekerjaan.

Untuk yang lebih jelasnya mutual check nol (MC 0%) ini sebuah bentuk laporan dari semua
jenis pekerjaan antara kontrak kerja dan kajian atau Perhitungan teknis yang direncanakan
dan akan dilaksanakan dilapangan. Jadi dengan membuat mutual check nol kita bisa
mengetahuai setiap perbandingan dengan volume kontrak kerja dengan kajian atau
perhitungan teknis yang akan dilaksanakan.

Dan persentase pekerjaan tambah kurang setiap pekerjaan itu di ketahui , perbandingan
antara volume kontrak dengan kajian tekniks pada umumnya tidak jauh berbeda dan hasil
antara volume kontrak dengan volume kajian teknik sama – sama 100 % atau klop.

Penyelidikan Tanah dengan Metode Pengeboran (Boring) 3 comments

32 Votes

Penyelidikan tanah dengan metode ini bertujuan menentukan jenis dan sifat-sifat tanah (soil properties)
pada lokasi yang akan dibangun pondasi dari tiap tebal lapisannya. Pengambilan sample tanah ini
dikenal dengan sebutan undisturbed soil sample (pengambilan tanah tidak terganggu). Pengambilan
sample tanah ini adalah dengan cara menge-bor sampai kedalaman tertentu dengan menggunakan
tabung (pipa) logam berongga kedalam tanah. Di proyek transmisi biasanya dengan metode Hand Auger
(manual), kedalaman umum dengan cara ini bisa sampai 5-6m, kedalaman ini mungkin memadai untuk
penyelidikan tanah pondasi pada tipe pad and chimney. Tapi tentu saja tidak cukup untuk rencana
pondalam (pile foundation), untuk itu dengan pengeboran dengan mesin diperlukan (deep boring).
Lembaga penyelidikan tanah seperti halnya konsultan tanah, lembaga PU (Pekerjaan Umum) dan
universitas2 tertentu yang memiliki peralatan dan laboratorium mekanika tanah biasanya jasa mereka
selalu dimanfaatkan dalam melakukan investigasi ini.

Dalam spesifikasi proyek TL, jumlah titik penyelidikan umumnya dilakukan pada tiap lokasi tower jenis
tension atau satu titik tiap jarak 10 km jalur, ataupun berdasarkan usulan kontraktor atau klien dalam
penentuan jumlah titik dan lokasinya. Biasanya pekerjaan bor ini melengkapi hasil penyelidikan tanah
dengan cara sondir, artinya sondir dilakukan terlebih dahulu. Kelemahan boring adalah kesulitan untuk
menembus lapisan batuan, untuk lapisan batuan diperlukan cara penyelidikan khusus yaitu core drill.

Tabung-tabung dimasukkan (ditekan/push) kedalam tanah, dengan cara menyambung ujung-ujungnya


bagian demi bagian sampai kedalaman yang dikehendaki. Sample tanah yang berada dalam tiap bagian
tabung selanjutnya dijaga dan dirawat (ujung-ujung pipa yang berisikan tanah ditutup dengan bahan
khusus/lilin), untuk kemudian dibawa ke laboratorium penyelidikan tanah. Umumnya untuk
menghemat, tidak seluruh tanah pada tiap lapisan yang dibawa ke laboratorium, hanya tanah pada
lapisan kedalaman desain rencana saja yang dibutuhkan, mungkin saja sample pada kedalaman 3-4 m.

Hasil uji dilaboratorium akan memberikan beberapa soil data/parameter penting yang dibutuhkan
dalam perhitungan desain pondasi. Untuk itu dipilih beberapa metode pengujian saja di laboratorium
yang akan menghasilkan data tanah yang diperlukan.

Data tersebut antara lain :

1. Indeks tanah (Y, w, e, gs, dll) :

– Pengukuran volume dan berat benda uji


– Uji saringan (sieve analysis test)
– Atterberg Test

2. Kuat Geser Tanah (c, Φ):

– Triaxial Test (UU,CU,CD)


– Direct Shear Test
– Unconfined Compression Test

…………

Laporan hasil pengeboran tanah harus dibuat jelas dan tepat pengawas lapangan yang menangani
pekerjaan selain harus selalu mencatat hal-hal kecil yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan,
seperti : pergantian alat dan tipenya, kedalaman pada waktu penggantian alat, metode penahanan
lubang bor agar stabil atau penahan tebing lobang uji.
Sesudah contoh tanah diuji di laboratorium, ditentukan klasifikasinya. Catatan lapangan bersama
dengan hasil pengujian laboratorium tersebut dirangkum sedemikian sehingga batas-batas antara
material yang berbeda diplot pada elevasi yang benar, menurut skala yang ditentukan.

Semua hasil-hasil pengeboran dicatat dalam laporan hasil pengeboran (atau disebut boring log), yang
berisi antara lain:

– Kedalaman lapisan tanah.

– Elevasi permukaan tiik bor, lapisan tanah dan muka air tanah.

– Simbol jenis tanah secara grafis.

– Deskripsi tanah.

-Posisi dan kedalaman pengambilan contoh. Disebutkan kondisi contoh terganggu atau tak terganggu.

– Nama proyek, lokasi, tanggal, dan nama penanggung jawab pekerjaan pengeboran.

Dalam penggambaran profil lapisan tanah, lapisan tanah disajikan dalam bentuk simbol-simbol yang
digambar secara vertical. Gambar berikut menyajikan contoh symbol-simbol tersebut. Kebanyakan
tanah terdiri dari beberapa campuran dari jenis tanah-tanah tertentu, seperti lempung berlapis, lanau
berlapis, lanau berpasir, kerikil berlanau, dan sebagainya. Dalam kondisi ini, symbol-simbol dapat
dikombinasikan, dengan kandungan tanah yang dominan digambar lebih banyak atau lebih tebal.