Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan keluarga yang komprehensip merupakan suatu proses yang rumit, sehingga memerlukan suatu
pendekatan yang logis dan sistematis untuk bekerja dengan keluarga dan anggota keluarga . Pendekatan ini
disebut proses keperawatan. Menurut Yura dan Walsh (1978), “proses keperawatan merupakan inti dan sari
dari keperawatan”. Proses adalah suatu aksi gerak yang dilakukan dengan sengaja dan sadar dari satu titik ke
titik yang lain menuju pencapaian tujuan. Pada dasarnya, proses keperawatan merupakan suatu proses
pemecahan masalah yang sistematis, yang digunakan ketika bekerja dengan individu, keluarga, kelompok
atau komunitas.
Salah satu aspek terpenting dari keperawatan adalah penekanannya pada keluarga. Keluarga bersama
dengan individu, kelompok dan komunitas adalah klien atau resipien keperawatan. Secara empiris, disadari
bahwa kesehatan para anggota keluarga dan kualitas kesehatan keluarga mempunyai hubungan yang erat.
Akan tetapi, hingga saat ini sangat sedikit yang diberikan perhatian pada keluarga sebagai objek dari studi
yang sistematis dalam bidang keperawatan. Beberapa alasan penting meyakinkan mengapa unit keluarga
harus menjadi focus sentral dari keperawatan keluarga, yaitu : Dalam sebuah unit keluarga, disfungsi apa saja
(penyakit, cedera, perpisahan) yang mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga, dan dalam hal tertentu,
sering akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan unit ini secara keseluruhan.
Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan anggotanya.
Melalui perawatan kesehatan keluarga yang berfokus pada peningkatan, perwatan diri (self care),
pendidikan kesehatan, dan konseling keluarga serta upaya-upaya yang berarti dapat mengurangi resiko yang
diciptakan oleh pola hidup dan bahaya dari lingkungan.
Upaya menemukan kasus merupakan suatu alasan bagus lainnya untuk memberikan perawatan kesehatan
keluarga.
B. Rumusan Masalah
Pengertian Keperawatan Keluarga
Tingkatan Keperawatan Keluarga
Proses Keperawatan Keluarga

C. Tujuan
1. Calon mahasiswa baru dapat mengetahui tentang asuhan keperawatan keluarga.
2. Calon mahasiswa baru dapat memahami tingkatan – tingkatan perawatan keluarga.
3. Calon mahasiswa baru dapat memahami proses keperawatan keluarga.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Keperawatan Keluarga


Merupakan bidang kekhususan spesialisasi yang terdiri dari keterampilan berbagai bidang keparawatan.
Praktik keperawatan keluarga didefinisikan sebagai pemberian perawatan yang menggunakan proses
keperawatan kepada keluarga dan anggota-anggotanya dalam situasi sehat dan sakit. Penekanan praktik
keperawatan keluarga adalah berorientasi kepada kesehatan, bersifat holistik, sistemik dan interaksional,
menggunakan kekuatan keluarga.

B. Tingkatan Keperawatan Keluarga


Ada empat tingkatan keperawatan keluarga, yaitu:
1. Level 1
keluarga menjadi latar belakang individu/anggota keluarga dan fokus pelayanan keperawatan di tingkat
ini adalah individu yang akan dikaji dan diintervensi.
2. Level 2
keluarga merupakan penjumlahan dari anggota-anggotanya, masalah kesehatan/keperawatan yang sama
dari masing-masing anggota akan diintervensi bersamaan, masing-masing anggota dilihat sebagai unit yang
terpisah.
3. Level 3
Fokus pengkajian dan intervensi keperawatan adalah sub-sistem dalam keluarga, anggota-anggota
keluarga dipandang sebagai unit yang berinteraksi, fokus intervensi: hubungan ibu dengan anak; hubungan
perkawinan; dll.
4. Level 4
seluruh keluarga dipandang sebagai klien dan menjadi fokus utama dari pengkajian dan perawatan,
keluarga menjadi fokus dan individu sebagai latar belakang, keluarga dipandang sebagai interaksional
system, fokus intervensi: dinamika internal keluarga; struktur dan fungsi keluarga; hubungan sub-sistem
keluarga dengan lingkungan luar.

C. Proses Keperawatan Keluarga


1. pengkajian
Proses pengumpulan informasi yang dilakukan terus menerus dan untuk dapat mengartikan
data/informasi yang diperoleh dan digunakan kemampuan profesional. Sumber-sumber data yang diperlukan
berasal dari: pengkajian keluarga; observasi rumah dan lingkungannya; pemeriksaan fisik seluruh anggota
keluarga; data sekunder:hasil lab/X-ray. Ada dua tahap dalam pengkajian, yaitu:
a) Pengkajian tahap I
 Data umum
Nama kepala keluarga
Alamat
Komposisi keluarga (dalam table) lengkapi dengan genogram
Tipe keluarga
Suku
Agama
Status sosial ekonomi keluarga
Aktivitas rekreasi keluarga
 Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Riwayat keluarga inti
Riwayat keluarga sebelumnya (pihak suami dan istri)
 Lingkungan
Karakteristik rumah
Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Mobilitas geografis keluarga
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Sistem pendukung keluarga
 Struktur keluarga
Pola komunikasi keluarga
Struktur kekuatan keluarga
Struktur peran (formal dan informal)
Nilai atau norma keluarga

 Fungsi keluarga
Fungsi afektif
Fungsi sosialisasi
Fungsi perawatan keluarga
f. Stress dan koping keluarga
Stressor jangka pendek dan panjang serta kekuatan keluarga
Kemampuan keluarga berespons teradap situasi/stressor
Strategi koping yang digunakan
Strategi adaptasi disfungsional
g. Pemeriksaan fisik
h. Harapan keluarga
b) Pengkajian tahap II
mengacu pada pelaksanaan 5 tugas kesehatan keluarga oleh keluarga.
a. Mengenal masalah
Pengertian
Penyebab
Tanda dan gejala
Identifikasi tingkat keseriusan masalah pada keluarga
b. Mengambil keputusan
Akibat
Keputusan keluarga
c. Melakukan perawatan sederhana
Cara-cara perawatan yang sudah dilakukan keluarga
Cara-cara pencegahan
d. Modifikasi lingkungan
Lingkungan fisik
Lingkungan psikologis

e. Pemanfaatan fasilitas kesehatan


Pelayanan kesehatan yang biasa dikunjungi keluarga
Frekuensi kunjungan

2. Diagnosa Keperawatan
Merupakan panduan dalam dalam memberikan tindakan keperawatan, ada tiga jenis yaitu actual, risiko,
dan potensial.
Komponen diagnosa keperawatan keluarga :
a. Masalah
mengacu pada respon keluarga terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan dasar
b. Etiolgi
mengacu pada pelaksanaan 5 tugas kesehatan keluarga
c. Tanda dan gejala
KOMUNIKASI KEPERAWATAN KELOMPOK
Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang
bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan
dan keinginannya berbagi informasi dalam hampir semua aspek kehidupan. Ia merupakan media untuk
mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana
meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bisa pula merupakan alat untuk
memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan masalah). Jadi,
banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa
ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang
yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang
antisocial. Dalam dunia keperawatan sendiri komunikasi kelompok digunakan sebagai metode untuk
mengatasi masalah-masalah kejiwaan atau psikologis yang dialami oleh klien.

A.DEFINISI
1. Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk
berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi
pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik. Makalah ini difokuskan pada komunikasi
interpersonal yang terapeutik. Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua
orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi interpersonal yang sehat
memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal
2. Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain
untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari
kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi,
kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan.
Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori
komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
3. Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok
“kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon
(dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara
tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan
masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain
secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi
tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
1. Tujuan Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok dapat digunakan untuk bermacam-macam tugas atau untuk memecahkan masalah.
Tetapi, dari semua tujuan itu dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu :
a. Tujuan Personal
- Hubungan Sosial
Komunikasi ini dilakukan agar kita dapat bergaul dengan orang lain. Tujuannya adalah memperkuat
hubungan interpersonal dan menaikkan kesejahteraan kita.
- Penyaluran
Tujuan ini biasa dilakukan dalam suasana yang mendukung adanya pertukaran pikiran atau atau dalam
diskusi keluarga, dimana keterbukaan diri sangat dibutuhkan. Tujuan ini juga cenderung memfokuskan
komunikasi kepada masalah personal daripada hubungan interpersonal.
- Kelompok Terapi
Komunikasi kelompok ini juga dapat bertujuan untuk terapi. Biasanya digunakan untuk memabantu orang
menghilangkan sikap-sikap buruk mereka, atau tingkah laku dalam beberapa aspek kehidupan mereka.
Misalnya, suatukelompok terapi mencakup orang-orang yang suka minum-minum keras, obat-obatan atau
masalah lainnya. Biasanya kelompok terapi ini dibimbing oleh tenaga profesional yang terlatih untuk
melakukan psikoterapi kelompok atau bimbingan dengan baik. Dalam keperawatan hal ini dilakukan untuk
mengupayakan kepulihan klien yang dirawat di RSJ oleh perawat yang sudah terlatih.
- Belajar
Tujuan belajar ini digunakan oleh seseorang untuk belajar dari orang lain. Belajar terjadi dalam bermacam-
macam setting dan paling biasa dalam kelas.Asumsi yang mendasari daribelajar kelompok, adalah ide dari
dua kepala atau lebih.
b. Tujuan yang Berhubungan Dengan Pekerjaan
- Pembuatan Keputusan
Orang-orang berkumpul bersama dalam kelompok untuk membuat keputusan mengenai sesuatu. Bila orang
berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, mereka lebih suka menerima hasil kerjanya dan melakukannya
dengan baik.

- Pemecahan Masalah
Kelompok adalah cara yang terbaik dalam memecahkan masalah. Sehingga dapat pula menyempurnakan
hubungan yang kurang baik.
Sedangkan tujuan komunikasi menurut Effendy (2006:8) antara lain:
a. Perubahan sikap (attitude change)
b. Perubahan pendapat (opinion change)
c. Perubahan perilaku (behavior change)Perubahan sosial (social change)
B. UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI
Untuk terjadinya proses komunikasi minimal terdiri dari 3 unsur yaitu:
1. Pengirim pesan (komunikator).
2. Penerima pesan (komunikan).
3. Pesan itu sendiri.
Awal tahun 1960-an, David K. Berlo membuat formula komunikasi yang lebih sederhana yang dikenal
dengan ”SMCR”, yaitu: Source (pengirim), Message (pesan), Channel (saluran-media) dan Receiver
(penerima).
a. Komunikator
Pengirim pesan (komunikator) adalah manusia berakal budi yang berinisiatif menyampaikan pesan untuk
mewujudkan motif komunikasinya.
Komunikator dapat dilihat dari jumlahnya terdiri dari:
- Satu orang.
- Banyak orang dalam pengertian lebih dari satu orang.
- Massa.
b. Komunikan
Komunikan (penerima pesan) adalah manusia yang berakal budi, kepada siapa pesan komunikator
ditujukan.Peran antara komunikator dan komunikan bersifat dinamis, saling bergantian.
c. Pesan
Pesan bersifat abstrak. Pesan dapat bersifat konkret maka dapat berupa suara, mimik, gerak-gerik, bahasa
lisan, dan bahasa tulisan.
- Pesan bersifat verbal (verbal communication) antara lain:
Oral (komunikasi yang dijalin secara lisan).
Written (komunikasi yang dijalin secara tulisan).
- Pesan bersifat non verbal (non verbal communication) yaitu:
Gestural communication (menggunakan sandi-sandi -> bidang kerahasiaan)
C. PENGGUNAAN KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK
komunikasi digunakan sebagai awal dalam membina rasa percaya antara manusia yang satu dengan
manusia yang lainnya, yaitu perawat dengan perawat, perawat dengan klien, klien dengan klien yang lainnya.
Dengan begitu seorang yang kita ajak berbicara bisa dengan tenang dan tidak ragu dalam mengeksplor
perasaannya, mengungkapkan segala masalah yang dihadapinya sehingga tiap-tiap klien mau saling berbagi
kepada anggota kelompoknya dengan demikian klien akan merasa lebih lega dan merasa beban masalah yang
dihadapi lebih ringan.
Dengan berkolompok seseorang akan lebih mudah menyelesaikan tugas yang diberikan karna segala
sesuatu yang dikerjakan secara bersama-sama akan lebi ringan daripada dikerjakan sendiri-sendiri.
Selain itu hidup berkelompok juga bisa Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh
kebahagiaan. Sejak lahir, kita tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita perlu dan harus
berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan biologis kita seperti makan dan minum, dan
memnuhi kebutuhan psikologis kita seperti sukses dan kebahagiaan. Para psikolog berpendapat, kebutuhan
utama kita sebagai manusia, dan untuk menjadi manusia yang sehat secara rohaniah, adalah kebutuhan akan
hubungan sosial yang ramah, yang hanya bisa terpenuhi dengan membina hubungan yang baik dengan orang
lain. Abraham Moslow menyebutkan bahwa manusia punya lima kebutuhan dasar: kebutuhan fisiologis,
keamanan, kebutuhan sosial, penghargaan diri, dan aktualisasi diri.
D. MANFAAT KELOMPOK DALAM KEPERAWATAN
Pentingnya kelompok dalam Keperawatan disebabkan karna :
1. Profesi perawat merupakan bagian dari profesi kesehatan yg anggotanya terdiri dari perawat dimana terjadi
satu ikatan profesi yg mempunyai tujuan untuk kepentingan yg sama dalam bidang keperawatan .
2. Profesi perawat terbentuk dari adanya suatu kelompok-kelompok perawat yg mempunyai tradisi, norma,
prosedur dan terjadi aktifitas yg sama dalam menjalankan tugas sebagaimana seorang perawat.
3. Terbentuknya kelompok karena adanya partisipasi dari anggota yang mempunyai motivasi dan tujuan dari
masing-masing anggota.
4. Setiap anggota saling tergantung satu dg yang lain karena saling memerlukan bantuan
KOMUNIKASI MASYATAKAT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain melalui
penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain. (Barelson dan
Steiner, 1964)
Kesehatan adalah salah satu konsep yang sering digunakan namun sukar untuk dijelaskan artinya.
Faktor yang berbeda menyebabkan sukarnya mendefinisikan kesehatan, kesakitan dan penyakit[1]
(Gochman,1988; De Clercq,1993). Setidaknya definisi kesehatan harus mengandung paling tidak komponen :
biomedis,personal dan sosiokultural. “ ....keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani), dan sosial,
dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan[2].”
Komunikasi merupakan hal terpenting dalam kehidupan. Komunikasi dibuat untuk menyebarluaskan
pesan kepada publik, mempengaruhi khalayak dan menggambarkan kebudayaan pada masyarakat. Hal ini
membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat. Untuk memenuhi
kebutuhan berinteraksi yang bersifat antarpribadi, dipenuhi melalui kegiatan komunikasi interpersonal atau
antarpribadi. Sedangkan kebutuhan untuk berkomunikasi secara publik dengan orang banyak, dipenuhi
melalui aktivitas komunikasi massa.
Dengan demikian komunikasi menjadi unsur penting dalam berlangsungnya kehidupan suatu
masyarakat. Selain merupakan kebutuhan, aktivitas komunikasi sekaligus merupakan unsur pembentuk suatu
masyarakat. Sebab tidak mungkin manusia hidup di suatu lingkungan tanpa berkomunikasi satu sama lain.
Komunikasi massa adalah proses penyampaian informasi kepada khalayak massa dengan
menggunakan saluran-saluran media massa. Jadi komunikasi massa tidak sama dengan media massa. Media
massa hanyalah salah satu faktor yang membentuk proses komunikasi massa tersebut, yaitu sebagai alat atau
saluran[3].

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Apa arti dari komunikasi?
2. Bagaimanakah pandangan terhadap komunikasi masyarakat khususnya dibidang kesehatan ?
3. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis komunikasi dalam masyarakat?
4. Bagaimana peran media massa dalam masyarakat?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah daripada makalah ini adalah
1. Dapat mengetahui manfaat komunikasi umum
2. Dapat mengetahui manfaat komunikasi kesehatan masyarakat
3. Dapat mengetahui hal-hal apa yang berhubungan dengan komunikasi
umum dan komunikasi kesehatan.
4. Untuk mengetahui peranan dari komunikasi.
1.4 Manfaat Penulisan
Mafaat dari penyusunan makalah ini yaitu agar kita dapat mengetahui tatacara berkomunikasi dengan
baik dan benar dari berbagai kalangan, khususnya dalam kalangan umum dan kalangan kesehatan
(Masyarakat). Yang dimana, komunikasi sangatlah penting untuk proses pertukaran pendapat.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Terminologi Komunikasi dan Kesehatan


Menurut Effendi (2005) komunikasi itu sendiri bisa diartikan sebagai suatu proses penyampaian
pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberikan atau untuk mengubah sikap, pendapat atau
perilaku baik secara langsung (lisan) maupun tak langsung[4].
Sebenarnya Istilah ‘komunikasi’ (communication) berasal dari bahasa Latin ‘communicatus’ yang
artinya berbagi atau menjadi milik bersama. Dengan demikian komunikasi menunjuk pada suatu upaya yang
bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan.
Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus
(biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lain
(khalayak)[5].
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain melalui
penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain[6].
Kesehatan adalah salah satu konsep yang sering digunakan namun sukar untuk dijelaskan artinya.
Faktor yang berbeda menyebabkan sukarnya mendefinisikan kesehatan, kesakitan dan penyakit
(Gochman,1988; De Clercq,1993). Setidaknya definisi kesehatan harus mengandung paling tidak komponen :
biomedis,personal dan sosiokultural. WHO (1947) menyebutkan“ ....keadaan (status) sehat utuh secara fisik,
mental (rohani), dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan
kelemahan...”
2.2. Definisi Komunikasi Kesehatan
Proses penyampaian pesan kesehatan oleh komunikator melalui saluran/media tertentu kepada
komunikan dengan tujuan untuk mendorong perilaku manusia tercapainya kesejahteraan sebagai kekuatan
yang mengarah kepada keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani), dan sosial[7].
Komunikasi Kesehatan adalah sebuah pendekatan berbagai segi dan disiplin untuk menjangkau
pendengar yang berbeda dan membagi informasi kesehatan dengan tujuan mempengaruhi, melibatkan, dan
mendukung individu, komunitas, tenaga kesehatan, kelompok khusus, pembuat kebijakan dan masyarakat
untuk memperjuangkan, memperkenalkan, melakukan, atau mempertahankan menjadi kebiasaan, praktis,
atau kebijakan yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan hasil-hasil kesehatan.

2.3. Tujuan Komunikasi Kesehatan


Komunikasi tentu tidak dilakukan bukan tanpa tujuan. Ada banyak tujuan yang hendak dicapai
dengan melakukan komunikasi. Selain menyampaikan pesan, kegiatan komunikasi memiliki tujuan lainnya,
yakni sebagai berikut:
1. Relay information – meneruskan informasi kesehatan dari suatu sumber kepadapihak lain secara berangkai
(hunting).
2. Enable informed decision making – memberi informasi akurat untuk memungkinkan pengambilan
keputusan.
3. Promote Healthy behavior – informasi untuk memperkenalkan hidup sehat.
4. Promote peer information exchange and emotional support – mendukung pertukaran informasi pertama dan
mendukung secara emosional pertukaran informasi kesehatan.
5. Promote self care – memperkenalkan pemeliharaan kesehatan diri sendiri.
6. Manage demand for health service – memenuhi permintaan layanan kesehatan.
2.4. Fungsi Komunikasi Kesehatan
Komunikasi merupakan hal terpenting dalam kehidupan. Komunikasi dibuat untuk menyebarluaskan
pesan kepada publik, mempengaruhi khalayak dan menggambarkankebudayaan pada masyarakat[8]. Hal ini
membuat media menjadi bagian dari salah satu institusiyang kuat di masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan
berinteraksi yang bersifat antarpribadi,dipenuhi melalui kegiatan komunikasi interpersonal atau antarpribadi.
Sedangkan kebutuhanuntuk berkomunikasi secara publik dengan orang banyak, dipenuhi melalui
aktivitaskomunikasi massa.
Dengan demikian komunikasi menjadi unsur penting dalam berlangsungnyakehidupan suatu
masyarakat. Selain merupakan kebutuhan, aktivitas komunikasi sekaligus merupakan unsur pembentuk suatu
masyarakat. Sebab tidak mungkin manusia hidup di suatulingkungan tanpa berkomunikasi satu sama lain.
Komunikasi massa adalah proses penyampaian informasi kepada khalayak massadengan
menggunakan saluran-saluran media massa. Jadi komunikasi massa tidak samadengan media massa[9].
Media massa hanyalah salah satu faktor yang membentuk proseskomunikasi massa tersebut, yaitu sebagai
alat atau saluran.Iklan merupakan berita pesanan untuk mendorong, membujuk orang agar tertarik pada
barangyang ditawarkan. Secara garis besar iklan dibagi menjadi dua, yang pertama iklan komersilyaitu iklan
yang bertujuan untuk meningkatkan pemasaran suatu produk dan jasa. Yangkedua iklan non komersil yaitu
bagian dari kampanye sosial dengan tujuan mengajak,menghimbau atau menyampaikan gagasan demi
kepentingan umum. Iklan non komersil lebihdikenal dengan iklan layanan masyarakat.
Kontribusinya antara lain:
a. Meningkatkan kebutuhan terhadap produk/pelayanan
b. Memberitahu cara pemanfaatan produk/pelayanan secara benar
c. Merangsang terjadinya perubahan perilaku yang berkaitan dengan kesehatan
d. Memberikan sumbangan terhadap peningkatan kesehatan.
2.5. Komunikasi Kesehatan Masyarakat
Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok.
Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu
sendiri. Manusia sejak dilahirkan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya. Gerak dan tangis yang
pertama pada saat ia dilahirkan adalah suatu tanda komunikasi.
2.6. Hubungan Komunikasi Kesehatan Masyarakat
Hubungan masyarakat (public relations) mempunyai ruang lingkup (scope) kegiatan yang
menyangkut banyak manusia (public, masyarakat, khalayak), baik di dalam (public intern) dan di luar (publik
ekstern). Humas sebagai komunikator mempunyai fungsi ganda yaitu keluar memberikan informasi kepada
khalayak dan ke dalam menyerap reaksi dari khalayak. Organisasi atau instansi atau lembaga mempunyai
tujuan dan berkehendak untuk mencapai tujuan itu.
Hubungan masyarakat dalam suatu organisasi melaksanakan fungsi manajemen. Humas
merupakan salah satu fungsi sebagai unsur pimpinan. Dengan demikian fungsinya adalah untuk
menumbuhkan hubungan yang baik dan serasi antara publik intern dan publik ekstern dalam rangka
memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi.
2.7.Prinsip Komunikasi Kesehatan
1. Prinsip yang pertama menyatakan bahwa komunikasi merupakan proses simbolik. Komunikasi merupakan
proses pembentukan simbol. Simbol dapat berupa huruf, angka, kata , bahasa, penampilan, makanan dan
lain-lain. Dalam bidang kesehatan masyarakat, prinsip komunikasi sebagai proses simbolik dapat diterapkan
pada saat penyuluhan. Penyuluhan hendaknya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat
yang sedang diberi penyuluhan. Selain itu, proses simbolik yang lain contohnya adalah dandanan. Pada saat
memberi penyuluhan tentang kesehatan, sebaiknya dandanan jangan terlalu mencolok (mewah), namun
jangan juga terlalu biasa saja. Pakaian yang terlalu mewah mendatangkan kesan sombong bagi masyarakat
sehingga mempengaruhi keefektifan penyampaian materi pada saat penyuluhan. Sedangkan pakaian yang
terlalu biasa menimbulkan persamaan antara orang yang memberi penyuluhan dan orang yang diberi
penyuluhan. Sehingga mungkin orang yang diberi penyuluhan akan menganggap enteng materi penyuluhan
tersebut. Dengan demikian penampilan harus disesuaikan dengan keadaan. Karena penampilan merupakan
suatu simbol, dimana orang atau masyarakat akan memberikan arti terhadap penampilan seseorang.
2. Prinsip yang kedua menyatakan bahwa setiap perilaku memiliki potensi komunikasi. Dalam bidang
kesehatan masyarakat, seorang Tenaga Kesehatan harus paham dengan apa yang dilakukan masyarakat,
karena mereka memiliki body language. Misalnya, disaat menyampaikan informasi kesehatan, seorang
Tenaga Kesehatan harus dapat melihat respon mereka. Apakah mereka senyum, atau diam saja, atau malah
menunjukkan muka yang kurang sedap. Dengan demikian dapat diketahui tindakan apa yang dapat
dilakukan. Misalnya jika respon audience hanya diam saja atau menunjukkan respon yang kurang baik
seperti menggerutu, bicara sendiri atau memandang dengan tatapan sinis, mungkin cara penyampaian
informasi harus diubah. Menjadi lebih menarik dan menyenangkan sehingga penyampaian informasi menjadi
lebih efektif.
3. Prinsip yang selanjutnya menyatakan bahwa komunikasi memiliki dimensi isi dan hubungan. Hal ini
berhubungan dengan bagaimana cara menyampaikan suatu pesan. Ada kalanya satu pesan artinya sama,
namun karena cara menyampaikannya berbeda, pesan tersebut dimaknakan berbeda pula[10]. Contohnya
dalam bidang kesehatan masyarakat adalah proses penyampaian informasi kesehatan kepada anak kecil dan
orang dewasa. Seorang Tenaga Kesehatan harus dapat membedakan pesan kepada anak kecil dan orang
dewasa. Misalnya, “adek, jangan buang sampah sembarangan”, akan berbeda artinya dengan, “bapak, jangan
buang sampah sembarangan”. Anak kecil akan menanggapi perkataan itu mungkin dengan biasa saja dan
mengikuti perintah tersebut yaitu tidak membuang sampah sembarangan. Namun, orang dewasa atau bapak-
bapak akan menanggapi pesan itu mungkin dengan perasaan negatif. Mungkin merasa dirinya dianggap
kurang disiplin dan dianggap seperti anak kecil. Sehingga si penyampai informasi tersebut atau Tenaga
Kesehatan akan dianggap kurang sopan. Dengan demikian, seorang Tenaga Kesehatan harus memperhatikan
cara penyampaian pesan. Jangan sampai menimbulkan salah persepsi pada masyarakat.
2.8. Hal-hal yang Mempengaruhi Komunikasi Kesehatan
1. Faktor Sender (komunikator), meliputi ketermpilan, sikap, pengetahuan dan media saluran yang
digunakan. Sebagai pengirim informasi, ide, berita, pesan, komunikator perlu menguasai cara-cara
penyampaian, baik secara tertulis maupun lisan. Sikap komunikator sangat berpengaruh terhadap
komunikan. Keangkuhan dalam komunikasi dapat mengakibatkan informasi yang diberikan akan ditolak
oleh komunikan. Demikian pula ragu-ragu apat menyebapkan ketidakpercayaan terhadap informasi pesan
yang disampaikan.
2. Faktor Receiver (komunikan), ketermpilan, sikap, pengetahuan dan media saluran yang digunakan.
Keterampilan komunikan dalam mendengar dan membaca pesan sangat penting. Pesan yang diberikan akan
dapat dengan mudah dimengerti dengan baik jika komunikan mempunyai keterampilan mendengar dan
membaca. Sikap komunikan yang berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi misalkan sikap apriori,
meremehkan, dan berprasangka buruk terhadap komunikator.
2.9. Penerapan Prinsip Komunikasi dalam Bidang Kesehatan Masyarakat
Manusia dalam kehidupannya memiliki tiga fungsi, sebagai makhluk Tuhan, individu dan sosial
budaya. Yang saling berkaitan dimana kepada Tuhan memiliki kewajiban untuk mengabdi pada Tuhan,
sebagai individu harus memenuhi segala kebutuhan pribadinya dan sebagai makhluk sosial budaya harus
hidup berdampingan dengan orang lain dalam kehidupan selaras dan saling membantu. Dalam menjalani
kehidupan selaras dengan manusia lain, diperlukan adanya komunikasi. Komunikasi adalah proses
penyampaian pesan dari sumber ke penerima melalui saluran atau media. Sehingga terbentuk interaksi dalam
masyarakat yang membentuk suatu sistem sosial.
Interaksi yang terjadi dalam masyarakat melibatkan berbagai aspek misalnya pendidikan,
kebudayaan, keagamaan, kesehatan dan lain-lain. Aspek yang akan dibahas di artikel ini adalah aspek
kesehatan. Khususnya tindakan pencegahan terhadap penyakit yang dapat menimbulkan masalah kesehatan
di masyarakat. Masalah kesehatan pada dasarnya merupakan masalah semua manusia. Karena tidak ada satu
manusiapun yang dapat terbebas dari penyakit. Namun, terkadang ada beberapa orang yang kurang
memperhatikan kesehatan sehingga menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi dirinya maupun orang
lain disekitarnya. Masalah kesehatan juga dapat timbul dari faktor penyakit (agent) yang dapat menyebabkan
seseorang menderita sakit. Oleh karena itu, diperlukan tenaga ahli dalam bidang kesehatan masyarakat, yang
dapat membawa masyarakat ke hidup yang lebih sehat. Tenaga ahli tersebut salah satunya adalah sarjana
kesehatan masyarakat atau biasa disebut SKM.
Prinsip yang kedua menyatakan bahwa setiap perilaku memiliki potensi komunikasi. Dalam bidang
kesehatan masyarakat, seorang SKM harus paham dengan apa yang dilakukan masyarakat, karena mereka
memiliki body language. Misalnya, disaat menyampaikan informasi kesehatan, seorang SKM harus dapat
melihat respon mereka. Apakah mereka senyum, atau diam saja, atau malah menunjukkan muka yang kurang
sedap. Dengan demikian dapat diketahui tindakan apa yang dapat dilakukan. Misalnya jika respon audience
hanya diam saja atau menunjukkan respon yang kurang baik seperti menggerutu, bicara sendiri atau
memandang dengan tatapan sinis, mungkin cara penyampaian informasi harus diubah. Menjadi lebih menarik
dan menyenangkan sehingga penyampaian informasi menjadi lebih efektif.
Prinsip yang selanjutnya menyatakan bahwa komunikasi memiliki dimensi isi dan hubungan. Hal ini
berhubungan dengan bagaimana cara menyampaikan suatu pesan. Ada kalanya satu pesan artinya sama,
namun karena cara menyampaikannya berbeda, pesan tersebut dimaknakan berbeda pula. Contohnya dalam
bidang kesehatan masyarakat adalah proses penyampaian informasi kesehatan kepada anak kecil dan orang
dewasa. Seorang SKM harus dapat membedakan pesan kepada anak kecil dan orang dewasa. Misalnya,
“adek, jangan buang sampah sembarangan”, akan berbeda artinya dengan, “bapak, jangan buang sampah
sembarangan”. Anak kecil akan menanggapi perkataan itu mungkin dengan biasa saja dan mengikuti perintah
tersebut yaitu tidak membuang sampah sembarangan. Namun, orang dewasa atau bapak-bapak akan
menanggapi pesan itu mungkin dengan perasaan negatif. Mungkin merasa dirinya dianggap kurang disiplin
dan dianggap seperti anak kecil. Sehingga si penyampai informasi tersebut atau SKM akan dianggap kurang
sopan. Dengan demikian, seorang SKM harus memperhatikan cara penyampaian pesan. Jangan sampai
menimbulkan salah persepsi pada masyarakat.
Komunikasi juga berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan. Hal ini juga termasuk dalam
prinsip komunikasi. Kadang seseorang bermaksud untuk tidak melakukan komunikasi, namun orang lain
menganggapnya melakukan komunikasi. Inilah yang dimaksud komunikasi yang tidak disengaja. Sedangkan
komunikasi yang disengaja, merupakan komunikasi yang real, dimana adanya timbal balik yang jelas antara
komunikator dan komunikan. Prinsip ini juga penting dalam bidang kesehatan masyarakat. Misalnya, seorang
petugas kesehatan sebelum makan selalu mencuci tangan. Dan hal tersebut diamati oleh seorang masyarakat
yang kebetulan memang memiliki hubungan yang dekat. Pada awalnya, kegiatan mencuci tangan ini
merupakan bentuk rutinitas yang memang sudah biasa dilakukan sang petugas kesehatan. Namun tanpa
sengaja, masyarakat yang mengamatinya menjadi terpengaruh untuk meniru kegiatan tersebut. Dengan
demikian, hendaknya kesengajaan ini terjadi dalam hal-hal positif yang dapat meningkatkan kesehatan
masyarakat.
Komunikasi bersifat irreversible yang artinya tidak dapat kembali. Maksudnya, apa yang telah
diucapkan tidak akan bisa ditarik lagi dan dianggap ucapan itu tidak ada. Mungkin memang kadang terjadi
seseorang menarik kembali ucapannya. Namun, ucapan itu tetaplah pernah diucapkan dan tidak dapat lenyap
begitu saja. Sehingga sebagai seorang SKM, dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat
harus selalu berhati-hati. Jangan sampai informasi-informasi tersebut disampaikan dengan cara yang kurang
sopan atau mungkin menyakiti hati audience. Sekali hati seseorang terluka, akan sulit untuk mengobatinya.
Dengan demikian untuk mencapai sebuah komunikasi yang efektif, prinsip yang satu ini juga harus
diperhatikan[11].
Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah, khususnya masalah kesehatan.
Komunikasi bukan satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah kesehatan. Memang komunikasi penting
dalam menyelesaikan masalah. Namun komunikasi saja tidak cukup. Perlu adanya tindakan untuk
menyelesaikan masalah. Misalnya, dalam menanggulangi penyakit DBD di masyarakat, tidak cukup hanya
memberikan penyuluhan di puskesmas. Tapi juga harus dilakukan tindakan seperti melakukan kegiatan 3M
secara masal dengan pengawasan dari petugas kesehatan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional. Komunikasi merupakan suatu proses,
dimana proses ini tidak disadari kapan awal dan kapan akhirnya. Komunikasi bersifat dinamis, artinya
komunikasi tidaklah konstan. . Dengan demikian, sebagai seorang SKM, kita tahu bahwa proses komunikasi
tidak hanya terjadi pada saat penyuluhan saja. Komunikasi dalam kesehatan hendaknya selalu mengalami
perubahan seiring perubahan lingkungan dan disesuaikan dengan keadaan masyarakat dan pelaku atau
komunikator hendaknya lebih variatif dan inovatif dalam penyampaian pesan informasi kesehatan.
Perawatan keluarga yang komprehensif merupakan suatu proses yang rumit, sehingga memerlukan
suatu pendekatan yang logis dan sistematis. Dalam prakteknya, proses keperawatan keluarga menggunakan
dua tingkatan yaitu tingkatan ini digunakan untuk mengkaji dan melaksanakan keperawatan keluarga dengan
mengikuti langkah-langkah dalam proses keperawatan keluarga yaitu, Pengkajian (pengkajian terhadap
keluarga dan pengkajian dan anggota keluarga secara individu), identifikasi masalah keluarga dan individu
(diagnosa keperawatan ), rencana perawatan, intervensi dan evaluasi perawatan.
B. Saran
Makalah ini mebahas tentang komunikasi umum dan komunikasi kesehatan yang sangat penting dalam
kehidupan sehari-hari, di harapkan setelah membaca makalah ini untuk dapat di terapkan dalam kehidupan
sehari-hari cara berkomunikasi yang baik dalam masyarakat dan memahami cara-cara atau strategi dalam
berkomunikasi mengenai kesehatan khususnya kesehatan masyarakat.
Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menentukan Diagnosis Keperawatan :
1. Berorientasi kepada klien, keluarga dan masyarakat
2. Bersifat aktual atau potensial
3. Dapat diatasi dengan intervensi keperawatan
4. Menyatakan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, serta faktor-faktor penyebab
timbulnya masalah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Notoatmodjo, 2005, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta, Rineka Cipta
Fisher, Augrey, 1986, Theories of Communication (Terjemahan Soejono Trimo), Bandung, Remaja Karya
Green, 1980, Health Education Planning, A Diagnostic Approach, The John Hopkins University, Maryland,
Mayfield Publishing Company
Effendi, Saifuddin. 2005, Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya, Penerbit Pustaka Belajar, Yogyakarta
Lestari, Sri. 2009. Gambaran kesehatan Ibu dan Anak dalam bidang komunikasi kesehatan . Skripsi, FKM
USU, Medan
Marhaen fahar. Ilmu komunikasi teori dan praktek penerbit: Graha Ilmu
Saifulloh . (2008). Mencerdaskan anak . Jombang : Lintas Media
Baskoro, Anton. 2008. Komunikasi Kesehatan . Banyu Media, Yogyakarta.
Biancuzzo M. (2000). Breastfeeding the Newborn. Clinical Strategies for Nurses. 1st ed. St Louis Missouri:
Mosby Inc.
Depkes, RI, 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 450/MENKES/IV/ Tentang
Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi di Indonesia, Jakarta.
Dra. Hj. Woerjani, M.Pd. ,Dra. Ratnawati T, M.Hum Buku bahan ajar pelayanan prima
Graeff, AJudith, dkk. 1996 . Komunikasi dalam kesehatan dan perubahan perilaku .Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Ahmad. 2008. Manfaat IMD.http://myhealthblogging.com/parenting/2008/01/01/
Akhmad Ali Syaifuddin, 2006, Kesehatan Ibu dan Anak , MT.Indarti Yogyakart
http://ilmukeperawatan.wordpress.com/2008/04/07/keperawatan-keluarga-sebuah-pengantar/
http://ppnilumajang.wordpress.com/asuhan-keperawatan-keluarga/
http://yenibeth.wordpress.com/2008/06/01/diagnosis-keperawatan-4/
https://ikhwanul-khair.blogspot.com/2010/12/komunikasi-kelompok-dalam-keperawatan.html
TUGAS
KOMUNIKASI KEPERAWATAN KELUARGA,KELOMPOK DAN MASYARAKAT

POLITEKNIK KEMENKES KESEHATAN JAYAPURA


PRODI D-III KEPERAWATAN KAMPUS BIAK

KELOMPOK 9 :
1. GRASELDA R. KORWA
2. RAJAPAPUA ORIDEK R.H.L.TOBING
3. RIANA N. WAIRISSAL
4. SEBASTIANA R. MAGADY