Anda di halaman 1dari 15

URBAN AND

REGIONAL
PLANIN
G FAKULTAS ARSITEKTUR, DESAIN, DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
MATA KULIAH TEORI PERANCANG DAN MORFOLOI KOTA
STUDI KASUS KABUPTEN GRESIK, ASPEK EKONOMI

NENA MELSANTI
08211840000024
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kota sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan
penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial-ekonomi yang heterogen dan materialistis
dibandingkan dengan daerah belakangnya. Dalam memberikan definisi dari kota, para ahli
mengajukan beberapa aspek yang akan mendasari menurut pendapat mereka masing-masing.
Perkembangan, pertumbuhan dan kemajuan suatu kota ditentukan oleh beberapa faktor
diantaranya pertumbuhan penduduk, pergerakan/dinamika penduduk, serta perkembangan
perekonomian. Dari beberapa faktor tersebut perkembangan ekonomi memiliki pengaruh yang
paling dominan. Perkembangan aktivitas ekonomi pada suatu kota akan mengakibatkan kota
tersebut menjadi semakin ramai dan padat sehingga mempengaruhi struktur ruang yang ada.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, permintaan kebutuhan hidup manusia
semakin meningkat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Peningkatan kebutuhan hidup
tersebut tentu akan meningkatkan aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat di suatu
wilayah. Di daerah perkotaan, peningkatan aktivitas ekonomi akan berlangsung lebih cepat
dibandingkan di daerah pedesaan karena jumlah penduduk di perkotaan lebih banyak dan gaya
hidup masyarakatnya juga lebih konsumtif. Perkembangan aktivitas ekonomi pada suatu kota akan
mengakibatkan kota tersebut menjadi semakin ramai dan terlalu padat (Khadiyanto, 2005).

Pelabuhan Gresik merupakan pelabuhan yang pernah menduduki sebagai pelabuahan


internasional pada masanya. Pelabuhan ini berdiri dan berkembang dalam jaringan pelayaran dan
perdagangan, sekaligus sebagai proses penyebaran Islam berlangsung. Sejak kemunculannnya
pada pertengahan abad ke 14 M dengan cepat mampu menjadi pelabuhan dagang terbesar dan
terbaik di Jawa pada dasawarsa kedua abad 16 M. Kabupaten Gresik merupakan salah satu kota
dengan bandar dagang di Jawa. Kabupaten Gresik terletak di sebelah Barat Laut dari ibukota
provinsi Jawa Timur (Surabaya) memiliki luas 1.191,25 km2 terdiri dari 993,83 km2 luas dataran
ditambah sekitar 197,42 km2 luas Pulau Bawean. Luas wilayah perairan adalah 5.773.80 km2
dengan panjang pantai 140 km2 yang sangat potensial untuk perikanan laut.

Dalam perjalanan sejarah terbukti bahwa pusat kota Gresik berpindah-pindah, baik karena
kondisi geologis maupun karena perubahan politik di pusat kekuasaan Majapahit. Kondisi geologis
terjadi karena pengendapan yang terus menerus, karena kota Gresik diapit oleh dua muara sungai
besar, yaitu sungai Lamong dan sungai Solo. karena posisi Gresik yang strategis Gresik Lahir
sebagai kota perdagangan dan kota bandar internasional. Sebagai kota pelabuhan, Gresik secara
geografis berada di pantai utara Laut Jawa yang menjadi jalur pelayaran utama perdagangan
Nusantara dan Internasional. Kondisi geologi dan struktur tanah pantai Gresik yang sebagian besar
berbatu-batu menjamin tidak ada proses pendangkalan pantai, sehingga memudahkan kapal
berlabuh. Kondisi itu tidak didapati pada pantai lain yang letaknya berdekatan dengan kota Gresik.
Letak geografisnya kota Gresik yang diapit oleh dua muara sungai Brantas di sisi timur,
menjadikan kota Gresik sebagai kota pelabuhan yang strategis. Pelabuhan Gresik merupakan salah
satu pelabuhan terbesar dan terbaik di seluruh Jawa di mana orang-orang Gujarat, Calicut, Bengal
Siam, Cina dan Liu-Kiu (Lequeos) dulunya berlayar dan mendarat. Tidak dalam hal perdagangan,
pelabuhan Gresik juga sebagai pintu masuknya Islam pertama di Jawa, yang antara lain ditandai
dengan adanya makam-makam Islam kuno dari Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Fatimah binti
Maimun. Gresik sudah menjadi salah satu pelabuhan utama dan kota dagang yang cukup penting
sejak abad ke 16 M, serta banyak kapal-kapal dari manca negara yag singgah di pelabuhan Gresik.

Dalam upaya pembangunan perkotaan yang berwawasan identitas, salah satu aspek yang
sering terlupakan adalah konservasi bangunan kuno/bersejarah, yang banyak terdapat di segenap
pelosok daerah. Budihardjo (2003). Lagipula perubahan masyarakat maupun lingkungan
binaannya memang sering tidak dapat dielakkan. Akibatnya, beberapa tahun terakhir ini banyak
bangunan kuno/bersejarah yang dibongkar atau digusur, dengan alasan lahannya diperlukan untuk
pembangunan fasilitas baru, namun di sisi lain, dengan hilangnya bangunan kuno tersebut, lenyap
pulalah bagian dari sejarah suatu tempat yang sebenarnya telah menciptakan suatu identitas
tersendiri.

Keberadaan kota lama semakin memudar seiring dengan terdapatnya fenomena perubahan
yang mengakomodasikan perkembangan yang terjadi. Kota lama Gresik terletak di sekitar alon-
alon yang merupakan perkampungan kuno dan terletak di dalam kota. Seiring dengan
perkembangannya perubahan fisik dan lingkungan ditandai dengan penambahan, perubahan dan
pembongkaran bangunan bersejarah yang mencerminkan identitas kawasan dengan bangunan baru
yang jauh berbeda dari karakteristik bangunan asli. Terjadinya perubahan fisik dan lingkungan
tersebut di indikasikan karena faktor fisik (pengguna lahan dan kondisi bangunan) dan fakor non
fisik (ekonomi, sosial budaya dan masyarakat sekitar dan faktor hukum) terjadinya perbedaan
infrastruktur kawasan, terjadinya perubahan fungsi bangunan, belum terdapatnya peraturan
bangunan/lingkungan serta terjadinya perbedaan struktur pertumbuhan ekonomi kawasan serta
kurangnya pengetahuan dan keperdulian masyarakat akan sejarah dan kebudayaan yang dimiliki
merupakan beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya perubahan fisik dan lingkungan di
kawasan kota lama Gresik.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari Identifikasi Bentuk Kota Aspek Ekonomi Kabupaten Gresik, yaitu:
1. Mengetahui bentuk dan struktur ruang kota dari Kabupaten Gresik berdasarkan dari
aspek ekonomi.
2. Mengidentifikasi salah satu contoh bentuk kota yang akan dijadikan rujukan dalam
pembahasan ini adalah Kota lama Gresik.
3. Menganalisis sejarah pembentukan kota dan aspek ekonomi yang mempengaruhi
pembentukan kota dari Kabupaten Gresik.

C. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari Identifikasi Bentuk Kota Aspek Ekonomi Kabupaten Gresik,
yaitu:
1. PENDAHULUAN. Membahas latar belakang, tujuan dan sistematika penulisan
mengenai makalah ini mengenai Pembentukan dan Morfologi Kota yaitu Kabupaten
Gresik.
2. GAMBARAN UMUM. Membahas mengenai gambaran umum mengenai Kabupaten
Gresik.
3. PEMBENTUKAN KOTA. Membahas mengenai inti dari penulisan ini yaitu sejarah
pembentukan kota, dan faktor penyebab lainnya Kabupaten Gresik.
4. KESIMPULAN. Membahas mengenai kesimpulan dari analisis identifikasi makalah
ini.
GAMBARAN UMUM
A. Letak Geografis

Sumber: Google Maps 2019


Gambar 1
Peta Kabupaten Gresik
Lokasi Kabupaten Gresik terletak disebelah barat laut Kota Surabaya yang merupakan
Ibukota Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 1.191,25 km². Pemerintahan Kabupaten Gresik
terbagi menjadi 18 kecamatan yang terdiri dari 357 desa atau kelurahan. Selain itu, di Kabupaten
Gresik mengalir dua sungai besar, yaitu Bengawan Solo di sebelah Utara dan Sungai Brantas di
sebelah Selatan, masing-masing dengan anak cabangnya, seperti Kali Lamong, Kali Corong, dan
Kali Manyar. Dilihat dari keadaan tanahnya, kabupaten Gresik merupakan dataran rendah dengan
ketinggian rata-rata 0 sampai 12 meter di atas permukaan air laut. Sedangkan wilayah yang
memiliki permukaan di atas 12 meter sampai dengan 25 meter sangat sedikit. Kabupaten Gresik
mempunyai batas administrasi sebagai berikut:
Sebelah Utara: Laut Jawa,
Sebelah Timur: Selat Madura dan Kota Surabaya,
Sebelah Selatan: Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto
Sebelah Barat: Kabupaten Lamongan.
Di Kabupaten Gresik mengalir dua sungai besar, yaitu Bengawan Solo di sebelah Utara dan Sungai
Brantas di sebelah Selatan, masing-masing dengan anak cabangnya, seperti kali Lamong, kali
Corong, dan kali Manyar. Wilayah Selatan, berdekatan Sungai Brantas, meskipun berdekatan tapi
para petani di daerah tersebut tidak dapat memanfaatkan dan mengembangkan pertanian. Karena
irigrasi tidak dapat maksimal. Wilayah Barat Daya yang dilintasi sungai lamongan, sungai ini
airnya tampak hanya sedikit, apabilah pada saat musim kemarau sungai ini dapat dikatakan tidak
ada airnya sama sekali. Dengan kondisi ini jelas tidak mendukung usaha pertanian. Wialaya Utara
yaitu sekitar Bengawan Solo, endapan lumpur yang terbawa oleh Bengawan solo mungkin sangat
baik untuk pertanian, namun ketika ada banjir kiriman dengan di ikuti musim kemarau yang sedikit
air, berdampak pada masuknya air laut ke sungai ini. Dengan begitu Wilayah Gresik memberi
kesan bahwa tidak cocok usaha pertanian.

Gambar 2
Peta Kota Lama Gresik
Secara administratif Kota Lama Gresik termasuk dalam Kelurahan Kebungson,
Pekelingan, Kemuteran dan Kecamatan Gresik (Gambar 2). Pembatasan wilayah studi di atas
meliputi kawasan yang berada di dalam Kampung “Kemasan”. Pada masa pemerintahan kolonial
Belanda Kampung tersebut merupakan cikal bakal berdirinya kegiatan industri di Kabupaten
Gresik. Seiring perkembangan zaman, kampung ini mengalami penurunan fungsi karena
penduduknya sudah banyak beralih profesi dan bukan lagi sebagai pengusaha penyamakan kulit
seperti yang pernah dikerjakan oleh nenek moyangnya dulu, sehingga Kampung Kemasan terkesan
sudah mati. Luas Kawasan Kota Lama seluas ± 33 hektar, terdiri dari fungsi hunian, perdagangan,
dan budaya.

B. Kondisi Gresik dalam Aspek Ekonomi


Gambar 3
Pelabuhan Gresik
Letak Gresik yang strategis yaitu berada dijalur perdagangan Malaka-Maluku membuat
banyak pedagang dari luar wilayah untuk singgah dan memperdagangkan barang bawaan mereka.
Namun dibalik itu semua ada peran dari saudagar islam yang mahir dalam dunia perdagangan yang
memliki prasarana dan relasi dagang yang luas. Kedatangan rombongan saudagar islam yaitu
Maulana Maghfur dan Maulana Ibrahim membawa perubahan bagi perdagangan Gresik. Gresik
yang awalnya hanya sebagai sebuah pelabuhan dagang dan pelabuhan nelayan berkembang
menjadi bandar dagang besar. Hal ini tidak lepas dari peranannya ketika diangkat sebagai
Syahbandar. Beliau diberi kepercayaan oleh penguasa Majapahit untuk mengurusi masalah
administrasi pusat perdagangan. Islamisasi yang cepat juga berpengaruh pada pertumbuhan
perdagangan Gresik. Dalam ajaran islam yang menganggap semua manusia mempunyai harkat
dan martabat yang sama, hal ini mendorong saudagar dari berbagai wilayah bahkan negara merasa
dihormati sehingga mereka tinggal lebih lama dan merasa aman karena kepentingannya
terlindungi. Selain itu ramainya perdagangan Gresik juga karena beberapa kebijakan yang
diterapkan terhadap pedagang asing, misalnya tidak adanya cukai (pajak) serta tidak ada
pemaksaan untuk berlabuh. Namun juga ada faktor lain yang mempengaruhi ramainya aktivitas
dagang Gresik diantaranya letak pelabuhan Gresik yang berada ditengah-tengah jalur perdagangan
dari Malaka-Maluku sehingga pedagang Gresik dapat berfungsi sebagai penyalur barang dagangan
dari kedua daerah ini. Perdagangan Gresik mencapai kebesarannya ketika dibawah kepemimpinan
Nyai Ageng Pinatih sebagai syahbandar, ia memiliki kapal-kapal dan relasi dagang yang cukup
luas. Setelah wafatnya berita digantikan dengan Giri. Gresik semakin ramai didatangi oleh
pedagang-pedagang dari berbagai wilayah atau manca negara setelah malaka jatuh ke tangan
Portugis Pada awal abad ke-16 (1511 M) . Para pedagang portugis yang terus berlayar mendarat
di Gresik pada 1513 M. saat itu Gresik sebagai bandar transit rempah-rempah yang didatangkan
dari Maluku, kain sutra dan kain kasar dari India, lilin dan kayu cendana dari Nusa Tenggara.
Sepanjang abad ke-16 Gresik dapat menggeser peran Tuban. Dipilihnya Pelabuhan Gresik sebagai
tempat tempat berlabuh oleh para pedagang ulama asing tidak lain adalah karena keamanan kapal-
kapal akan lebih terjamin, baik dari angin topan maupun dari bajak laut serta tidak dipungutnya
bea cukai. Disisi lain pelabuhan gresik kuno yang berdekatan dengan muara bengawan solo sangat
memungkinkan diangkutnya hasil-hasil bumi dari pedalaman ke bandar melalui jalur sungai.
PEMBENTUKAN KOTA
A. Sejarah Pembentukan Kota
Kawasan Kota Lama Gresik merupakan cikal bakal terbentuknya Kabupaten Gresik, yang
memiliki nilai sejarah yang tinggi dan kekhasan kawasan dilihat dari aspek fisiknya. Pergeseran
fungsi kawasan dari pusat industri pada masa kolonial Belanda menjadi kawasan permukiman saat
ini merupakan hal yang melatarbekalangi penulisan ini. Berikut tahapan dari sejarah pembentukan
Kabupaten Gresik:

Peta

Stadia Tahap I Tahap II Tahap III Tahap IV Tahap V


(Periode tahun (Periode (Periode (Periode tahun (Periode tahun
1480-1487) tahun 1487- tahun 1605- 1748-1916) 1916-2008)
1605) 1748)
Deskrip Tahap Kota Grisse Pada masa ini Tahap IV Setelah
si perkembangan mulai Giri Jedaton ditandai dengan memasuki
awal Kerajaan berkembang tidak tumbuhnya pasca
Giri Kedaton dengan berkembang, kegiatan kemerdekaan,
masih murni membuka malah perindustrian di pada tahun
sebagai pusat pelabuhan. mengalami Kampung 1977 Gresik
pengembangan Perubahan ini penurunan Kemasan yang lepas dari
dan menjadikan cenderung menjadi cikal bagian Kota
pendalaman bentukan baru diabaikan bakal Surabaya
ajaran Islam di bagi Kota akibat konflik terbentuknya berdiri menjadi
seluruh Jawa. Grisse, yaitu kepentingan image Kabupaten
sebagai kota antara Kabupaten Gresik,
dengan fungsi Kerajaan Gresik menjadi barulah
ekonomi Mataram kota industri. Kabuapten
dengan Permukiman Gresik
Pemerintah Kota Lama berbenah dan
Belanda mulai meluas pembangunan
ke arah timur berjalan
dan ke barat kembali. Kota
dengan Gresik mulai
pembangunan meluas dari
arah utara ke
permukiman arah selatan
dan industri. dengan
pembangunan
permukiman,
perdagangan
dan industri
Ciri Kerajaan Giri Terdapat Pemukiman Kerajaan giri Pemukiman
Morfolo sebagai nodes nodes dan tampak lebih sudah tidak ada terlihat
gi dan pusat path yaitu banyak dari (tidak ada menyebar luas.
kegiatan aliran sungai sebelumnya. nodes). Fasilitas umum
masyarakat. dan jalan Masih MUncul tersebar di area
Serta adanya setapak. terdapat fasilitas umum tersebut.
aliran sungai nodes dan yang dikelilingi
(path) jalan mulai pemukiman.
terlihat jelas
(path)
Pada abad ke-14 M, kota Gresik sudah menjadi bagian dari Majapahit. Karena posisi
Gresik yang strategis, Gresik lahir sebagai kota perdagangan dan kota bandar internasional. Secara
geografis, Gresik berada di pantai utara laut Jawa yang menjadi jalur pelayaran perdagangan
Nusantara. Kota Gresik saat itu menjadi pusat perdagangan sekaligus proses islamisasi terjadi.
Gresik menjadi salah satu pelabuhan utama dan kota dagang yang cukup penting sejak abad ke 14
sampai 16 M. Pelabuhan Gresik muncul pada adad ke 14 M yang ditemukan oleh pedagang Cina.
Kemudian seorang mubaligh Islam yaitu Maulana Malik Ibrahim mendarat di Gresik. Sejak saat
itulah pembentukan syahbandar dimulai. Ada tiga syahbandar yang memainkan peran penting
dalam kemajuan dan perkembangan pelabuhan Gresik. Dengan adanya syahbandar tersebut
pelabuhan Gresik menjadi salah satu pelabuhan terbesar dan terbaik di Jawa hingga abad ke 16 M
Pelabuhan Gresik sebagai proses perdagangan dan Islamisasi mulai berkembang sejak abad ke 14
M. Banyak pedagang dari berbagai negara yang melakukan perdagangan di pelabuhan Gresik.
Menurut catatan Tome Pires telah ada kontak antara kapal Gresik dengan Gujarat, Calicut,
Bangelan, Siam, Cina, Liu-kiu, Maluku, serta Banda. Tidak hanya itu, pelabuhan Gresik sebagai
proses slamisasi juga terjadi pada saat para pedagang mulai melakukan perdagangan sekaligus
berdakwah.
Faktor-Faktor Pendukung Kota dagang, diantaranya:

1. Pelabuhan. Secara geografis pelabuhan merupakan tempat pertemuan antara wilayah


darat dan wilayah maritim. Di tempat inilah diberikan pelayanan kepada wilayah
belakang (hinterland) dan wilayah depan (foreland). Dalam pengertian ini dapat
dikatakan bahwa pelabuhan merupakan sebuah titik dimana jalur transportasi darat dan
laut bertemu. Dengan demikian, fungsi utama pelabuhan adalah untuk memindahkan
muatan dari laut ke darat dan sebaliknya dari darat ke laut. Secara historis intensitas
transportasi mencerminkan tingkat kemunduran atau perkembangannya suatu
pelabuhan. Kemunduran atau perkembangan tersebut dapat menjadi indikator tingkat
kemakmuran penduduk kota yang bersangkutan maupun wilayah-wilayah di
sekitarnya. Untuk mengetahui dinamika tersebut perlu diperhitungkan faktor
lingkungan fisik dan faktor manusianya. a.Faktor Lingkungan Fisik Faktor lingkungan
fisik dimaksudkan sejumlah kondisi yang dapat mempengaruhi suatu tempat agar
memenuhi syarat sebagai pelabuhan yang ideal. Diantaranya yang paling pokok adalah
(1) memiliki kemudahan untuk masuk keluarnya kapal; (2) airnya cukup dalam
sehingga sehingga dimungkinkan kapalkapal dengan tonase besar dapat masuk; (3)
selisih air pasang dan surut yang kecil sehingga aktivitas bongkar muat pasang barang
tidak terlalu terganggu. Dan (4) pola iklim yang tidak mengganggu operasi pelabuhan
sepanjang tahun. Meskipun semua syarat ini jarang sekali ditemukan tetapi jelas bahwa
memiliki atau tidaknya syarat tersebut memberi pengaruh pada daya tarik pelabuhan.
Aspek fisik dari pelabuhan biasanya akan mencerminkan juga sifat khususnya.
Misalnya apakah pelabuhan ini termasuk tipe pelabuhan laut, atau pelabuhan sungai.
Sarana apa yang digunakan oleh masing-masing pelabuhan tersebut untuk mencegah
pengaruh pasang surutnya air. Bila itu pelabuhan laut apakah memiliki sistem pemecah
gelombang.
2. Faktor Manusia disini mengacu kepada peranan manusia dalam mempengaruhi kondisi
pelabuhan. Peranan manusia tersebut pada prinsipnya merupakan usaha manusia untuk
mengurangi hambatan yang diakibatkan oleh keterbatasan yang dimiliki oleh
pelabuhan. Peranan-peranan tersebut misalnya adalah (1) pembuatan tanggul untuk
menahan arus yang besar; (2) pembuatan dermaga yang kokoh untuk memudahkan lalu
lintas bongkar muat barang adalah contoh yang paling sering ditemukan; dan ((3) usaha
memperdalam perairan di pelabuhan lebih jelas merupakan contoh yang amat serius
dari usaha manusia dalam mengatasi keterbatasan kondisi lingkungan pelabuhannya.
Peranan manusia juga nampak dalam keputusan-keputusannya dalam menentukan
fungsi pokok untuk pelabuhan, yaitu (1) apakah akan dijadikan sebagai pusat kegiatan
niaga; (2) pusat politik; (3) pusat penyebaran agama; (4) kombinasi diantara fungsi-
fungsi tersebut. Untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi tersebut biasanya diperlukan
usaha-usaha penunjangnya, yaitu: sistem keamanan yang dapat menjamin keselamatan
kapal dan orang dari tindakan-tindakan kejahatan.; dan (2) tersedianya kebutuhan
pokok yang diperlukan oleh para pedagang yang berlabuh ditempat tersebut. Secara
umum peranan faktor manusia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan keruntuhan
pelabuhan dapat direntang dari jenis aktifitas yang berskala global dimana kontrol lokal
tidak begitu berpengaruh sampai dengan aktivitas setempat ditentukan oleh sistem
organisasi pelabuhan dari tingkat pusat sampai paling bawah. Bentuk-bentuk pengaruh
tersebut dapat didasarkan atas kepentingan politik, ekonomi, maupun ideologi baik
sendiri-sendiri maupun kombinasi di antaranya.
3. Daerah belakang (hinterland) merupakan wilayah dimana barang-barang yang keluar
dari pelabuhan dikonsumsi. Dalam konteks ini wilayah belakang dianggap sebagai
wilayah konsumen barangbarang “impor”. Dalam arti yang lebih umum wilayah ini
juga dapat mengacu kepada sumber-sumber bahan atau produksi yang hendak
dikeluarkan melalui pelabuhan untuk keperluan “ekspor”. Wilayah belakang bisa
meliputi daerah yang kecil tetapi juga bisa meliputi wilayah yang sangat luas. Dalam
hal wilayah tersebut amat luas bisa terjadi bahwa tempat tersebut merupakan wilayah
belakang lebih dari satu pelabuhan. Wilayah belakang juga bervariasi ukurannya.
Tergantung dari jenis barang yang dikonsumsi. Barang-barang jenis pertanian misalnya
akan memiliki luas wilayah belakang yang lebih besar daripada barang-barang mewah
yang terbatas pada kelompok masyarakat tertentu. Yang tinggal di kota. Faktor jarak
dan sarana transportasi menentukan luas wilayah belakang. Semakin dekat suatu
wilayah dari pelabuhan dan semakin baik sarana transportasi ke wilayah tersebut
semakin luas daerah belakang. Komposisi penduduk di wilayah belakang dan jenis
barang yang dikonsumsi dari luar akan mempengaruhi seberapa luas wilayah belakang
tersebut. Barang-barang keperluan pertanian misalnya, akan memiliki wilayah
belakang yang luas jika tempat ini sebagian besar penduduknya bekerja di sektor
pertanian. Sebaliknya barang-barang mewah akan dikonsumsi oleh penduduk yang
sedikit di wilayah tersebut.
4. Daerah Depan (Foreland) merupakan wilayah dimana barang-barang yang keluar dari
suatu pelabuhan tertentu dikonsumsi. Dalam arti ini wilayah depan dapat dianggap
sebagai daerah impor dalam batas-batas jika wilayah tersebut merupakan wilayah
negara lain. Secara umum wilayah depan memiliki jangkauan geografis yang lebih
beraneka ragam. Terutama dari segi jaraknya. Daerah depan bisa merupakan wilayah
yang ada dalam satu batas sosiobuudaya yang sama. Dalam hal ini pengeluaran barang
dari suatu pelabuhan bukan terutama karena untuk kepentingan ekspor, tetapi sebagai
upaya distribusi barang ke tempat-tempat dalam wilayah sendiri. Hal ini terjadi
terutama dalam wilayah yang banyak menggunakan sarana transportasi air. Seperti
halnya daerah belakang luas daerah depan juga ditentukan oleh faktor jarak, sarana
transportasi, jenis barang yang dikonsumsi dan komposisi penduduk dari daerah depan
tersebut. Pada masyarakat pra-industri, barangbarang berharga biasanya memiliki
daerah depan yang jauh, tetapi jumlah konsumen relatif sedikit. Contoh ini berlaku
untuk keramik dari cina atau rempahrempah dri wilayah nusantara. Sebagaimana
daerah belakang, daerah depan juga bisa diklaim sebagai wilayah konsumen dari
sejumlah pelabuhan di luar negeri. Pelabuhan-pelabuhan tersebut biasanya adalah
tempat-tempat yang saling bersaing.

Mengenai keadaan ekonomi dan politik di Gresik pada permulaan abad ke-16 M terdapat
keterangan-keterangan penting dalam buku Tome Pires, Surna Oriental. Musafir Portugis itu
menganggap Gresik sebagai kota perdagangan laut yang paling kaya dan paling penting di seluruh
Jawa. la memberitakan adanya transaksi yang diadakan oleh kapal-kapal dari Gujarat, Calicut,
Bengalen, Siam, Cina, dan Liu-Kiu dengan Gresik, dan perdagangan antara Gresik dan Maluku
serta Banda.50 Dijelaskan juga bahwa akhir abad 16 M Gresik merupakan sebuah kota pelabuhan
yang paling penting di pesisir utara Jawa karena Gresik menjadi perantara perdagangan rempah-
rempah di berbagai negara. Pada akhir zaman Majapahit terjadi peningkatan secara besar-besaran
pada perdagangan rempah-rempah tingkat Internasional. Peningkatan itu terjadi karena permintaan
yang terus bertambah besar sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Eropa pasca
abad pertengahan. Penggunaan rempah-rempah sangat meluas, baik untuk obat-obatan maupun
untuk keperluan hidup sehari-hari. Kondisi inilah yang juga memberikan keuntungan besar para
pedagang Gresik. Pada zaman VOC pertambakan merupakan sokongan terbesar bagi
perekonomian Belanda di Gresik. Berdasarkan data yang direkam oleh P.W.A Spall pada abad ke
19 M Karisedenan Gresik memiliki tambak seluas 15.399 bau dan Karisedenan Sedayu seluas
1.972 bau. Kendala utama dalam membuat tambak adalah kurangnya biaya karena Pemerintah
Hindia Belanda tidak memberikan modal uang. Kredit modal dalam bentuk uang baru diberikan
pemerintah Belanda pada awal abad 20 M dengan berdirinya bank-bank perkreditan. Tercatat pada
tahun 1910 total kredit untuk sektor perikanan Karisedenan Surabaya (termasuk Gresik dan
Sedayu) sebesar 20.765 Gulden.
Gresik juga terkenal dengan sektor perindustrian. Beberapa perusahaan besar berdiri kokoh
di kota ini. Selain itu juga terdapat industri rumah tangga yang memegang peranan penting dalam
kegiatan perekonomian masyarakat Gresik. Industri rumah tangga ini banyak dikerjakan oleh
penduduk yang kurang memiliki tanah untuk usaha pertanian atau pertambakan. Pada abad 19 M
kota Gresik menjadi sepi dan Gresik mulai redup yang menyebabkan adalah berkurangnya peran
pelabuhan saat itu. Dan perekonomian berganti ke Surabaya. Gresik mengalami peningkatan lagi
setelah adanya industrialisasi mulai memasuki era ini, dengan beridrinya Pabrik Semen Gresik
pada tahun 1957. Pembangunan pabrik Semen Gresik menjadi titik awal terjadinya proses
industrialisasi di Gresik. Setelah berdirinya pabrik Semen, Kabupaten Gresik kemudian menjadi
kota industri di Jawa Timur yang menyokong perekenomian Surabaya. Berdirinya Pabrik Semen
menandai kota Gresik melangkah ke era industrialisasi dan menjadi kabupaten yang semakin
semarak dengan pembangunan berbagai macam infrastruktur.

B. Kabupaten Gresik Sekarang


Sumber: Jurnal Pengaruh Perkembangan Aktivitas Ekonomi, Universitas Diponegoro
Gambar 4
Struktur Ruang Kota SWP III Berdasarkan Pendekatan Ekologikal
Tahun 2004 dan 2011
Menurut Jurnal Teknik PWK, Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa perkembangan
struktur ruang kota di SWP III dianalisis dengan cara membandingkan model struktur ruang kota
pada tahun 2004 dengan model struktur ruang kota pada tahun 2011. Berdasarkan pendekatan
ekologikal, model struktur ruang kota di SWP III dari tahun 2004 – 2011 tidak mengalami
perubahan, yaitu tetap mendekati model teori multiple nuclei. Model tersebut dianggap paling
mendekati karena ada dua daerah pusat kegiatan yang mempengaruhi wilayah tersebut, yaitu Kota
Surabaya sebagai daerah pusat kegiatan utama dan pusat kota Gresik sebagai daerah subpusat
kegiatan. Kota Surabaya sebagai Ibukota Provinsi Jawa Timur tentu memiliki kegiatan perniagaan
dengan skala pelayanan yang besar. Maka tidak mengherankan jika Kabupaten Gresik yang
berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, sebagian besar penduduknya masih cenderung tertarik
ke Kota Surabaya untuk melakukan aktivitas perdagangan dan jasa. Sedangkan pusat kota Gresik
sendiri tetap menjadi daerah pusat kegiatan di wilayah penelitian tetapi dengan skala pelayanan
yang lebih kecil sehingga daya tarik ekonominya tidak sekuat Kota Surabaya.

Kemudian zona permukiman dan industri yang ada di SWP III merupakan zona
permukiman dan industri pinggiran karena letaknya yang jauh dari daerah pusat-pusat kegiatan
yang ada. Berdasarkan pendekatan morfologi kota, struktur ruang kota SWP III tahun 2004 – 2011
juga tidak mengalami perubahan. Struktur ruang kota di SWP III tetap dikategorikan dalam bentuk
kota tidak kompak, yaitu berbentuk kota terpecah. Kota jenis ini pada awal pertumbuhannya
mempunyai bentuk yang kompak dalam skala wilayah yang kecil. Dalam perkembangan
selanjutnya perluasan areal kekotaan baru yang tercipta ternyata tidak langsung menyatu dengan
kota induknya, tetapi cenderung membentuk “exclaves” pada daerah-daerah pertanian sekitarnya.
Kenampakan-kenampakan kekotaan yang baru ini dikelilingi oleh areal pertanian dan
dihubungkan dengan kota induk serta “exclaves” yang lain dengan jalur transportasi yang
memadai. Tersedianya lahan di luar kota induk yang cukup memungkinkan terciptanya keadaan
ini. “Privat Developers” mempunyai andil yang sangat besar dalam penciptaan tipe ini. Untuk
negara-negara berkembang “exclaves” ini kebanyakan merupakan daerah permukiman, baik
permukiman baru maupun lama yang telah berubah dari sifat perdesaan menjadi sifat kekotaan.
Lama-kelamaan daerah-daerah kekotaan yang terpisah-pisah tersebut dapat menyatu membentuk
kota yang lebih besar dan kompak (Yunus, 2004). Karakteristik kota terpecah tersebut mirip
dengan karakteristik pola penggunaan lahan permukiman yang ada di SWP III pada tahun 2004 –
2011. Kawasan permukiman tersebut membentuk pola menyebar yang terhubung dengan jaringan
jalan lokal yang juga berpola tidak teratur menyesuaikan pola permukimannya. Struktur ruang kota
seperti ini menunjukkan bahwa SWP III merupakan wilayah di Kabupaten Gresik yang baru
berkembang sehingga terlihat masih banyak lahan terbuka yang tersedia. Ketersediaan lahan
terbuka yang masih luas menjadikan para developer masih dapat dengan bebas memilih lokasi
dalam zona peruntukkan lahan permukiman untuk mereka kembangkan sebagai perumahan baru
di SWP III. Akibatnya kawasan permukiman baru tersebut berkembang secara menyebar sehingga
kurang terintegrasi dengan kawasan permukiman yang sudah ada sebelumnya. Dengan pola seperti
itu menjadikan kawasan permukiman di SWP III hingga tahun 2011 masih dikelilingi oleh lahan-
lahan pertanian.
KESIMPULAN
Salah satu fungsi kota sebagai tempat melangsungkan kehidupan manusia adalah fungsi
ekonomi. Fungsi ekonomi ini memainkan peranan yang besar dalam perkembangan kota. Fungsi
ekonomi dalam kehidupan manusia mengakibatkan adanya aktivitas ekonomi yang mempengaruhi
pola penggunaan lahan dan menggambarkan struktur ruang dari suatu wilayah kota.

Gresik lahir sebagai kota perdagangan dan kota bandar internasional. Secara geografis,
Gresik berada di pantai utara laut Jawa yang menjadi jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Kota
Gresik saat itu menjadi pusat perdagangan sekaligus proses islamisasi terjadi. Gresik menjadi salah
satu pelabuhan utama dan kota dagang yang cukup penting sejak abad ke 14 sampai 16 M.
Pelabuhan Gresik muncul pada adad ke 14 M yang ditemukan oleh pedagang Cina. Karena
ramainya pelabuhan Gresik tersebut, banyak pedagang-pedangan asing yang singgah di Gresik
dengan tujuan berdagang sekaligus berdakwah, khususnya pedagang muslim.16 Maka dari itu
para pedagang dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan
dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal
atau pemodal. Dari proses itulah para pedagang Islam atau para mubaligh menyebarkan agama
Islam. Pada abad 16 M catatan para pedagang Belanda menunjukkan bahwa pelabuhan Gresik
mulai menunjukkan geliatnya dengan pesat. Banyak kapal-kapal dagang lebih suka singgah dan
berdagang di pelabuhan Gresik.17 Pelabuhan Gresik dengan karateristik yang unik mampu
tumbuh dan berkembang dalam jaringan pelayaran perdagangan Nusantara klasik dan proses
islamisasi.

Hingga saat ini, di SWP III yang merupakan wilayah penyangga, sebagai penyedia lahan
alternatif untuk menampung perluasan kawasan industri dan permukiman di pinggiran Kota
Surabaya serta sebagai wilayah alternatif untuk pengembangan aktivitas industri dan permukiman
di Kabupaten Gresik mengakibatkan wilayah ini terus mengalami pertumbuhan penggunaan lahan
yang dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi yang ada terutama industri. Namun perkembangan
aktivitas ekonomi yang ada telah mempengaruhi elemen pembentuk struktur ruang kota, yaitu pola
penggunaan lahan dan jaringan jalan. Disarankan Pemerintah Kabupaten Gresik dapat terus
menjaga konsistensi rencana tata ruang yang telah dibuat sebelumnya agar tercipta keteraturan
pola dan struktur ruang yang diharapkan, mengingat potensi perkembangan wilayah di SWP III
yang cukup besar sehingga rawan untuk terjadi penyimpangan penggunaan lahan pada masa yang
akan datang yang dapat mengancam kelestarian lingkungan.