Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

1. DEFINISI
Kejang merupakan suatu perubahan fungsi pada otak secara mendadak
dan sangat singkat atau sementara yang dapat disebabkan oleh aktifitas otak
yang abnormal serta adanya pelepasan listrik serebral yang sangat berlebih
(Hidayat Aziz, 2008 : 89 ).
Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-
klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang
ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak
pada infeksi bakteri atau virus. (Price, 1995).
Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya
terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi
tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu (Arif
Mansjoer, 2000).
Kejang terjadi akibat lepasnya muatan paroksimal yang berlebihan
dari suatu populasi neuron yang mudah tepicu sehingga dapat mengganggu
fungsi otak.
2. ETIOLOGI
Menurut Arif Mansjoer. 2000) demam yang terjadi sering disebabkan oleh :
a. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)
b. Gangguan metabolic
c. Penyakit infeksi diluar susunan saraf misalnya tonsilitis, otitis media,
bronchitis.
d. Keracunan obat
e. Faktor herediter
f. Idiopatik.

1
Selain penyebab diatas Ada 5 Faktor yang mempengaruhi kejang, faktor –
faktor tersebut adalah:
a. Umur
1) Kurang lebih 3% dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah
mengalami kejang demam.
2) Jarang terjadi pada anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih
dari 5 tahun.
3) Insiden tertinggi didapatkan pada umur 2 tahun dan menurun
setelah berumur 4 tahun. Hal ini mungkin disebabkan adanya
kenaikan dari ambang kejang sesuai dengan bertambahnya umur.
Serangan pertama biasanya terjadi dalam 2 tahu pertama dan
kemudian menurun dengan bertambahnya umur.
b. Jenis kelamin
Kejang demam lebih sering didapatkan pada anak laki-laki daripada anak
perempuan dengan perbandingan 2:1. Hal tersebut mungkin disebabkan
oleh karena pada wanita didapatkan kematangan otak yang lebih cepat
dibanding laki-laki.
c. Suhu badan
Adanya kenaikan suhu badan merupakan suatu syarat untuk terjadinya
kejang demam. Tingginya suhu badan pada saat timbulnya serangan
merupakan nilai ambang kejang. Ambang kejang berbeda-beda untuk
setiap anak, berkisar antara 38.30C – 41.40C. Adanya perbedaan ambang
kejang ini dapat menerangkan mengapa pada seseorang anak baru timbul
kejang sesudah suhu meningkat sangat tinggi sedangkan pada anak
lainnya kejang sudah timbul walaupun suhu meningkat tidak terlalu tinggi.
d. Faktor keturunan
Faktor keturunan memegang peranan penting untuk terjadinya kejang
demam. Beberapa penulis mendapatkan 25 – 50% daripada pada anak
dengan kejang demam mempunyai anggota keluarga yang pernah
mengalami kejang demam sekurang-kurangnya sekali.

2
3. MANIFESTASI KLINIS
Berikut tanda dan gejala pada kejang:
a. Serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral
b. Mata terbalik ke atas
c. Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan
atau kekakuan fokal
d. Umumnya kejang berlangsung kurang dari 6 menit, kurang dari 8%
berlangsung lebih dari 15 menit
e. Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara (hemiparesis todd)
f. Suhu 38oc atau lebih

4. ANATOMI DAN FISIOLOGI


a. Anatomi

b. Fisiologi
1) Sel saraf (neuron)

Merupakan sel tubuh yang berfungsi mencetuskan dan


menghantarkan impuls listrik. Neuron merupakan unit dasar
dan fungsional sistem saraf yang mempunyai sifat exitability
artinya siap memberi respon saat terstimulasi.

3
2) Badan sel saraf

Merupakan bagian yang paling besar dari sel saraf. Badan sel
saraf berfungsi untuk menerima rangsangan dari dendrite dan
meneruskannya ke akson.

3) Dendrit

Merupakan serabut sel saraf pendek dan bercabang-cabang.


Dendrite merupakan perluasan dari bandan sel dan berfungsi
untuk menerima dan mengantarkan rangsangan ke badan sel .

4) Akson

Akson juga disebut neurit. Neurit adalah serabut sel saraf


panjang yang merupakan perjuluran sitoplasma badan sel.

4
5. PATOFISIOLOGI
a. Pathway

Infeksi ekstrakranial: suhu tubuh

Gangguan keseimbangan membrane sel neuron

Difusi Na dan Ca berlebih

Depolarisasi membrane dan lepas muatan listrik berlebih

Kejang

Parsial
Umum
Sederhana kompleks

Abses Mioklonik Tonik-klonik Atonik

Kesadaran gg. peredaran darah Aktivitas otot

Resiko Reflek menelan Hipoksi Metabolisme


injury
Aspirasi Permeabilitas kapiler Keb Suhu
O2 tubuh
meningkat
Sel neuron otak rusak
Asfiksia

5
b. Narasi

Pemicu dari kejang adalah depolarisasi paroksimal neuron individu yang


disebut paroxysmal depolarization (DPS). Hal ini disebabkan oleh aktivasi
kanal kalsium. Masuknya kalsium akan membuka kanal kation spesifik dan
menyebabkan depolarisasi massif atau depolarisasi besar yang di akhiridengan
pembukaan kalsium yang akan mengaktivasi kanal kalium dan klorida.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan laboratorium
b. Lumbal fungsi
c. Elektroensefalografi
d. CT SCAN
7. PENATALAKSANAAN
a. Diazepam yang diberikan secara intravena (0,3 – 0,5 mg/kg perlahan
lahan dengan kecepatan 12 mg/menit atau dalam waktu 35 menit, dengan
dosis maksimal 20 mg.
b. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang,
dianjurkan ke rumah sakit.
c. Bila kejang tetap belum berhenti, berikan fenitoin secara intravena dengan
dosis awal 1020 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang
dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 48
mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal.
d. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti, maka pasien harus dirawat di
ruang rawat intensif. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat
selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam, apakah kejang demam
sederhana atau kompleks dan faktor resikonya (Hartono, 2011: 198-199 ).

6
8. ASUHAN KEPERAWATAN secara TEORI
1) Pengkajian

Menurut Hidayat (2009 : 20) riwayat penyakit juga memegang


peranan penting untuk mengidentifikasi faktor pencetus kejang untuk
pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang
ditimbulkan oleh kejang.

1. Aktifitas : Keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus


otot/kekuatan otot, gerakan involunter.
2. Sirkulasi : Peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau
depresi dengan penurunan nadi dan pernapasan.
3. Integritas ego : Sterssor eksternal/internal yang berhubungan dengan
keadaan atau penanganan, peka rangsangan.
4. Eliminasi : Inkontinensia episodik, peningkatan kandung kemih dan
tonus spinkter.
5. Makanan/cairan : Sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah
yang berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan
lunak/gigi
6. Neurosensori : Aktivitas kejang berulang, riwayat trauma kepala dan
infeksi cerebral.
7. Riwayat jatuh/trauma.

2) Diagnosa keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan
ketidakefektifan regulasi suhu sekunder terhadap infeksi
2. Resiko terjadi kejang berulang berhubungan dengan hipertermi

7
3) Rencana keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan
ketidakefektifan regulasi suhu sekunder terhadap infeksi

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses


keperawatan diharapkan suhu dapat diturunkan

Kriteria :

1. Suhu badan anak berkurang hingga 37,5º C


2. Temperatur kulit hangat

Intervensi :

1. Kaji TTV
2. Pantau suhu
3. Beri selimut dingin/matras
4. Berikan kompres hangat
5. Ajarkan kluarga untuk kompres hangat
6. Kolaborasi pemberian obat sesuai dengan ketentuan

b. Resiko terjadi kejang berulang berhubungan dengan hipertermi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses


keperawatan diharapkan tidak akan terjadi cidera dengan kriteria
hasil anak tidak mengalami cidera akibat kejang

Intervensi:

1. Lakukan kewaspadaan kejang, seperti pasang penghalang


tempat tidur.
2. Catat berbagai gerakan tubuh anak dan lama kejangnya

8
3. Kaji status pernapasan anak
4. Kolaborasi:Beri pengobatan antikonuulsan sesuai indikasi

9
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz. (2008). Pengantar ilmu keperawatan. Jakarta :


Salemba.

10