Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebijakan akuntansi ditetapkan pada tingkatan Internasional melalui Internasional


Accounting Standards Committee (IASC). Badan ini dibentuk pada tahun 1973 oleh para
wakil badan-badan profesional dari sebagian besar negara berkembang dan sejak itu terus
tumbuh hingga benar-benar mewakili seluruh masyarakat internasional. Kepatuhan kepada
standar-standar IASC terbatas pada diterimanya standar-standar itu, secara sukarela, oleh
masyarakat akuntansi profesional yang mewakili di IASC serta oleh organisasi dan badan
pemerinta lain di dalam negara yang diwakili. FASB, karena independen terhadap AICPA,
bukanlah anggota IASC dan karenanya tidak berkewajiban untuk mnyelaraskan standar-
standarnya dengan standar IASC. Walaupun demikian, FASB tetap berhubungan erat dengan
IASC.
Evaluasi strategi adalah tahapan proses manajemen strategi dalam mana manajer puncak
menentukan apakah implementasi dari strategi yang dipilihnya mencapai tujuan – tujuan
perusahaan.

B. Rumusan Masalah
1. Kebijakan Keuangan dan Akuntansi
2. Evaluasi Strategi

C. Tujuan
Agar dapat menjawab pertanyaan yang terdapat pada rumusan masalah.

1
BAB II

PEMBAHASAN

1. KEBIJAKAN KEUANGAN DAN AKUNTANSI

A. Pengertian Kebijakan Akuntansi


Kebijakan akuntansi adalah batang tubuh standar akuntansi, pendapat, penafsiran, aturan,
dan regulasi yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan dalam melaporkan keuangan
mereka. Kebijakan akuntansi suatu perusahaan mencakup “metode-metode untuk
mennerapkan prinsip- prinsip oleh manajemen satuan usaha dianggap sebagai prinsip-prinsip
yang paling tepat untuk keadaan saat itu, untuk menyatakan secara wajar posisi keuangan,
perubahan dalam posisi keuangan, dan hasil operasi sesuai prinsip-prinsip yang berlaku
secara umum yang karenanya telah dipakai untuk menyusun laporan keuangan tersebut.

B. Kebutuhan Dana

Dalam merumuskan kebijaksanaan yang berhubungan dengan penggunaan dan sumber


dana maka aliran kas memerlukan perhatian yang serius. Anggaran kas menunjukkan
bagaimana dan dalam jumlah berapa akan dapat diterima kas dari berbagai sumber. Dalam
aliran kas meliputi penggunaan dan sumber kas untuk kegiatan rutin maupun tidak rutin. Jadi
masalah penting yang dihadapai adalah :

 Menimbulkan dana dalam bentuk kas yang diperlukan


 Alokasi kas pada kegiatan yang memerlukannya.

Kebijaksanaan yang berhubungan dengan alokasi dana dihubungkan dengan setiap kegiatan
utama perusahaan. Misalnya untukkegiatan produksi dihubungkan dengan kas yang
diperlukan untuk membeli bahan, membayar upah, dan membeli jasa lainnya. Dana
mempunyai peranan untuk mendukung dan memberikan kemudahan – kemudahan sehingga
merupakan unsur penting dalam melaksanakan kegiatan, meskipun begitu dana tidak dapat
mengarahkan kegiatan karena pengarahan kegiatan tergantung pada fungsi manajemen.

C. Pengaturan Investasi Dalam Aktiva Tetap

1. Batasan – batasan umum

Dalam setiap perusahaan yang aktif, berbagai macam usulan untuk menambah aktiva
tetap dibuat oleh berbagai bagian dalam perusahaan. Setiap eksekutif biasanya cenderung
untuk mengusulkan pembelian aktiva tetap baru baru agar mereka dapat melaksanakan
tugasnya denga lebih baik. Tetapi usulan tersebut akan meningkatkan biaya dan dana yang
diperlukan dan kemungkinan tidak sesuai dengan tambahan manfaat yang diperoleh. Oleh
karena itu manajemen perlu menentukan kriteria untuk membatasi atau menilai usulan

2
penambahan investasi pada aktiva tetap. Suatu usulan diterima jika memenuhi kriteria –
kriteria yang telah ditentukan.

a. Konsisten dengan rencana jangka panjang

Strategis perusahaan seringkali menuntut penggunaan teknologi produksi yang lebih maju
untuk melayani perluasan penjualan di masa yang akan datang. Aspek dari strategis tersebut
dapat diterjemahkan ke dalam pedoman kebijaksanaan investasi dalam aktiva tetap adalah
salah satu kebijakan jangka panjang sehingga harus konsisten dengan rencana jangka panjang
perusahaan.

Suatu perusahaan mungkin malahan menggunakan strategi untuk berpindah pada bisnis
baru jika siklus kehidupan produk atau jasa yang dihasilkannya sudah sangat menurun.
Perpindahan bisnis tersebut memerlukan kebijaksanaan investasi dalam aktiva tetap yang
sama sekali baru dan mungkin tidak berhubungan dengan teknologi yang selama ini mereka
kuasai.

b. Rintangan rate of return

Kebijaksanaan investasi dalam aktiva tetap dibatasi atau memperoleh “rintangan” dari
tingkat rate of return minimum yang harus dicapai oleh suatu usulan investasi dalam aktiva
tetap. Sebagai contoh, misalnya suatu kebijaksanaan investasi baru dalam aktiva tetap
minimal harus menghasilkan rate of return sebesar 18% per tahun. Jika ada usulan membeli
mesin baru dengan harga peralihan Rp 20.000.000,00 yang akan menghasilkan laba Rp
3.000.000,00 per tahun maka usulan ini akan ditolak karena rate of returnnya hanya 15%,
lebih rendah 3% dibanding batas rate of return minimal.

Kebijaksanaan penentuan rateof return minimal untuk investasi dalam aktiva tetap harus
didukung oleh metode perhitunga rate of return yang pasti. Perbedaan metode perhitungan
dapat menghasilkan %- tase rate of return yang berbeda pula, sebagai contoh adalah
penggunaan metode depresiasi, dan penentuan aliran persediaan (FIFO, Rata – rata , LIFO)
yang berbeda menghasilkan rate of return yang berbeda.

Secara teoritis, tingkat rate of return minimu adalah sebesar biaya modal (cost of capital)
rata – rata pada perusahaan, sehingga tingkat rasio laba terhadap saham minimal sama
dengan tingkat bunga utang jangka panjang. Dalam praktik, seringkali para eksekutif yang
menyusun usulan investasi baru dalam aktiva tetap cenderung untuk terlalu optimis dalam
memprediksi manfaat atau laba yang akan diterima dari usulan tersebut agar dapat melampaui
batas “rintangan” rate of return.

2. Anggaran Modal

Anggaran modal (Capital budgeting) adalah suatu metode untuk pembuatan keputusan
tentang pemilihan investasi dalam aktiva tetap. Dalam anggaran modal di analisa

3
perbandingan antara beberapa alternatif proyek yang memungkinkan untuk dipilih serta
memutuskan proyek investasi dalam aktiva tetap yang dipilih dan ditolak.

 Mempersiapkan semua usulan – usulan untuk penambahan atau penggantian


aktiva tetap dalam rangka menyusun diskripsi, analisa dan prediksi tentang jumlah
investasi yang diperlukan dan manfaat setiap usulan tersebut.
 Menyusun prediksi tentang dana yang diperlukan atau tambahan pengeluaran kas
(cash outlay) dan tambahan penerimaan kas yang akan di hasilkan oleh setiap
usulan proyek.
 Merangking setiap usulan penambahan atau penggantian aktiva tetap.
 Manajemen membuat keputusan tentang usulan proyek mana yang dipilih dengan
mempertimbangkan faktor – faktor relevan terhadap keputusan tersebut.

Perusahaan dapat menganalisa investasi dalam aktiva tetap dengan berbagai cara.
Beberapa cara yang umum digunakan adalah periode payback, rate of return on invesment,
present value, discounted cash flow, daan sebagainya. Analisis tersebut dapat diterapkan
untuk penggantian aktiva tetap, pengadaan baru maupun ekspansi.

3. Keputusan untuk membeli atau leasing aktiva tetap

Analisis usulan investasi dalam aktiva tetap lebih menarik lagi jika perusahaan
mempunyai kesempatan untuk membeli atau mengadakan leasing atas aktiva tetap yang
diperlukannya. Pertimbangan leasing, di samping biaya operasional aktiva tetap yang
mungkin lebih rendah, adalah struktur keuangan perusahaan.

Selain mempertimbangkan kebaikan atau keuntungan yang diperoleh melalui leasing,


perusahaan juga harus mempertimbangkan kelemahan – kelemahan leasing, misalnya
kemungkinan timbulnya ketidakpastian dalam pemikiran, prospek ekspansi yang cepat dan
pengaturan kembali lokasi mungkin mempengaruhi fleksibilitas komimen – komitmen dalam
leasing aktiva tetap.

Terdapat berbagai cara untuk mengadakan perjanjian leasing. Manajemen perusahaan


harus dapat mempertimbangkan cara leasing mana yang paling menguntungkan bagi
perusahaannya.

D. Kebijaksanaan Pengadilan Aktiva Lancar

Kebijaksanaan pengendalian aktiva lancar berhubungan dengan pengaturan likuiditas


perusahaan, kelancaran kegiatan perusahaan, dan pengaturan dana yang tertanam pada aktiva
lancar. Kebijaksanaan ini terutama berhubungan dengan perencanaan dan pengendalian
terhadap kas, piutang, dan persediaan. Aktiva lancar yang berlebihan mengakibatkan dana
yang tertanam pada aktiva lancar terlalu besar sehingga tidak efisien, meskipun keadaan ini
akan memperlancar kegiatan dan likuiditas perusahaan. Di lain pihak, aktiva yang terlalu
kecil dapat mengakibatkan hambatan kelancaran kegiatan dan likuiditas perusahaan.

1. Kebijaksanaan kas

4
Kas adalah elemen aktiva lancar yang paling likuid. Perencanaan yang baik terhadap kas
dapat menjaga likuiditas perusahaan dengan tetap membatasi kas yang terlalu berlebihan.
Perencanaan kas meliputi perencanaan terhadap saldo awal kas, penerimaan kas, pengeluaran
kas dan saldo akhir kas. Dalam perencanaan kas meliputi kas di bank atau disebut rekening
giro dan kas di perusahaan.

Suatu perusahaan harus siap untuk segera menanamkan kelebihan kas yang timbul
dengan tanpa menggangu likuiditas perusahaan. Kas yang menganggur atau berlebihan lebih
baik ditanamkan atau diinvestasikan, misalnya dalam bentuk investasi jangka pendek, agar
memperoleh penghasilan dan dapat segera diuangkan jika diperlukan kas dengan segera.
Sebaliknya perusahaan juga harus siap untuk segera memperoleh utang dengan biaya modal
yang relatif rendah jika dalam suatu periode perusahaan kekurangan uang.

2. Kebijaksanaan piutang

Dalam penentuan kebijaksanaan piutang, manajemen puncak harus menentukan berbagai


kebijaksanaan di antaranya sebagai berikut :

 Kebijaksanaan kredit perusahaan hendaknya membantu melaksanakan strategi


perusahaan.
 Batas – batas anggaran dana yang tertanam pada piutang hendaknya ditentukan.
 Rasio perputaran piutang dapat ditentukan untuk mengecek kewajaran piutang dan
untuk mengurangi kerugian tidak tertagihnya piutang di waktu yang akan datang.

Perusahaan dapat pula menempuh kebijaksanaan penjualan dengan menggunakan


lembaga – lembaga keuangan luar, misalnya dengan bank atau lembaga kredit yang lain.
Bank atau lembaga kredit tersebut menyediakan kredit bagi para pembeli yang akan membeli
barang – barang perusahaan. Dengan cara ini perusahaan dapat menekan jumlah dana yang
tertanam dalam piutang dan dapat mengurangi risiko tidak tidak tertagihnya piutang. Dalam
perjanjian dengan bank atau lembaga kredit tersebut. Contoh perjanjian ini misalnya untuk
penjualan rumah, mobil, sepeda motor. Penentuan kebijaksanaan ini harus
mempertimbangkan :

1.) Seberapa jauh kerjasama dengan bank atau lembaga kredit tersebut dapat
meningkatkan penjualan dan mengurangi risiko tidak tertagihnya piutang.
2.) Seberapa besar fee yang harus dibayar dibandingkan dengan manfaat pada nomor satu
tersebut di atas.

Perusahaan dapat pula menggunakan piutang sebagai sumber penerimaan kas sebelum
piutang tersebut jatuh tempo dengan cara menggunakan piutang sebagai jaminan kredit,
menjual piutang, atau menggadaikan piutang pada bank atau lembaga keuangan lainnya.
Melalui cara ini jumla dana yang tertanam dalan piutang dapat ditekan tetapi cara ini
memerlukan biaya yang biasanya cukup tinggi.

3. Kebijaksanaan persediaan

5
Kebijaksanaan persediaan memadukan semua pertimbangan – pertimbagan tersebut.
Kemampuan untuk memadukan semua faktor – faktor tersebut merupakan salah satu masalah
utama dalam pengadaan persediaan.

 Batas – batas anggaran persediaan

Cara biasa yang digunakan untuk membatasi persediaan adalah menganggarkan ukuran
jumlah total persediaan untuk setiap bulan. Setiap bulan anggaran persediaan tersebut ditinjau
kembali dan jika perlu dilakukan revisi. Dengan penyusunan anggaran persediaan diharapkan
penggunaan dana dapat optimum.

 Kebijaksanaan perputaran persediaan

Untuk membatasi dana yang tertanam dalam persediaan, selain menggunakan batas
anggaran persediaan dapat pula ditentukan batas ukuran perputaran persediaan. Semakin
cepat jangka waktu perputaran persediaan berarti dana yang tertanam pada persediaan
semakin kecil, jadi semakin baik.

Penentuan ukuran perputaran persediaan yang tepat dapat menekankan barang – barang
yang perputarannya rendah, keusangan persediaan dan rusaknya persediaan sehingga dapat
menghindarkan perusahaan dari kerugian.

E. Perhitungan Laba

Kebijaksanaan akuntansi yang dibuat oleh manajemen banyak mempengaruhi


perhitungan laba perusahaan. Besarnya laba yang dicapai perusahaan akan mempengaruhi
kebijaksanaan dividen, pajakpenghasilan atas laba perusahaan , bonus para eksekutif, reputasi
perusahaan dalam dunia bisnis, para calon investor, kreditur, dan sebagainya. Banyaknya
pihak yang berkepentingan terhadap penentuan besarnya laba perusahaan mengakibatkan
perhitungan laba mempunyai peranan penting.

Dalam rangka penentuan laba dan penyajian posisi keuangan manajemen harus
menentukan berbagai kebijaksanaan akuntansi, kebijaksanaan tersebut harus sesuai dengan
PAI ( Prinsip Akuntansi Indonesia) dan diterapkan secara konsisten dengan tahun
sebelumnya. Beberapa kebijaksanaan akuntansi yang penting meliputi :

1. Kebijaksanaan depresiasi, deplesi, dan amortisasi aktiva tetap.


2. Kebijaksanaan penentuan kerugian piutang.
3. Kebijaksanaan penilaian persediaan.
4. Kebijaksanaan kapitalisasi pengeluaran.

6
F. Pembagian Dividen

Anggaran dasar suatu perseroan terbatas antara lain memuat tentang ketentuan pembagian
laba bersih setelah pajak. Demikian pula anggauran dasar persekutuan juga menentukan
distribusi laba pada para pemilik perusahaan. Oleh karena itu laba per lembar saham tidak
dapat mencerminkan dividen kas yang akan dibagikan kepada para pemegang saham.

Pembagian deviden ada tiga yaitu :

1) Menanamkan kembali laba perusahaan


2) Dividen stabil
3) Kebutuhan laba ditahan yang mencukupi.

G. Instrumen Untuk Memperoleh Modal

Dalam rangka memenuhi dana ataumodal yang ditanamkan kedalam aktiva tetap maupun
lancar, perusahaan harus memperoleh modal dari berbagai sumber. Dalam artian luas, modal
berasal dari para kreditur maupun dari para pemilik perusahaan, dalam arti sempit, istilah ini
digunakan oleh akuntansi, modal hanya berasal dari hak para pemilik perusahaan. Dalam
pembahasan ini pengertian modal ditinjau dari artian yang luas. Untuk memperoleh dana atau
modal yang diperlukan, perusahaan dapat menggunakan instrumen – instrumen sebagai
berikut :

 Pemilik
 Kreditur
 Kreditur jangka pendek.

H. Struktur Keuangan

Pemenuhan kebutuhan dana atau modal perusahaan mempengaruhi struktur keuangan


perusahaan. Oleh karena itu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemenuhan kebutuhan
dana harus mempertimbangkan pengaruhnya pada struktur keuangan. Beberapa faktor yang
mempengaruhi pada sumber modal yang dipakai oleh perusahaan adalah ukuran perusahaan,
sifat aktiva, jumlah dan stabilitas laba dan kondisi yang ada di pasar finansial. Dari waktu ke
waktu akan terjadi perubahan struktur keuangan. Perubahan tersebut disebabkan karena
sebagian kreditur memutuskan menarik modal yang dia tanamkan pada perusahaan,
perusahaan memperoleh sumber modalyang lebih menguntungkan, serta ekspansi atau
penciutan yang dilakukan perusahaan. Sebelah kanan neraca atau rekening utang dan
modalpada tanggal tertentyu akan menggambarkan struktur keuangan perusahaan yang
bersangkutan pada tanggal tersebut.

7
Contoh berikut ini menunjukkan struktur keuangan 3 buah perusahaan yang berbeda :

Neraca

Per 31 Desember 1985

Elemen PT Nusa PT Indah PT Permai


Aktiva Lancar
Kas Rp 140.000 Rp 600.000 Rp 5.000
Piutang (bersih) 410.000 100.000 29.000
Persediaan 650.000 300.000 56.000

Jumlah Aktiva lancar Rp 1.200.000 Rp 1.000.000 Rp 90.000


Aktiva Tetap (bersih) 1.500.000 49.000.000 110.000
Jumlah aktiva Rp 2.700.000 Rp 50.000.000 Rp 200.000

Utang
Utang Dagang Rp 115.000 Rp 600.000 Rp 60.000
Utang Lancar lain – lain 85.000 200.000 30.000
Jumlah utang lancar Rp 200.000 Rp 800.000 Rp 90.000
Utang jangka panjang 600.000 23.200.000 70.000
Jumlah utang Rp 800.000 Rp 24.000.000 Rp 160.000

Modal
Saham preferen Rp 600.000 Rp 9.000.000 Rp -
Saham biasa 1.000.000 10.000.000 35.000
Laba ditahan 300.000 7.000.000 5.000
Jumlah modal Rp1.900.000 Rp 26.000.000 Rp 40.000
Jumlah utang dan modal Rp 2.700.000 Rp 50.000.000 Rp 200.000

I. Pemulihan Sumber Modal

Tipe struktur keuangan perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain pada industri
tersebut akan memberikan arah pada manajemen pada pemilihan sumber modal yang
dianggap paling memuaskan. Manajemen harus membuat rencana sebaik – baiknya tentang
pemilihan sumber modal yang akan digunakan,faktor – faktor penting yang perlu
dipertimbangkan adalah :

 Penggunnaan Modal
 Biaya modal
 Hak yang diberikan pada sumber modal

J. Alternatif – alternatif
Adalah manfaat untuk mengetahui sejak awal berbagai cara penetapan kebijakan
akuntansi selama ini, misalnya SEC dan FASB merupakan regulator-regulator utama di

8
Amerikat dan organisasi-organisasi lain seperti Government Accounting Standards Board,
Railway Accounting Standards Board, United Nations Centre for Transnational Corporations,
Federal Government Procurement and Taxation Departments, National Association of
Accountas yang masing-masing mempunyai peran, struktur, dan filosofi yang berbeda
mengenai pembuatan kebijakan akuntansi.

 Pembuatan Kebijakan pada Tingkatan Perusahaan

Menurut George O. May setiap korporasi bebas untuk memilih metode akuntansinya sendiri
di dalam batas-batas yang sangat luas, tetapi diharuskan untuk mengungkapkan metode-
metode yang dipakai serta konsistensi penerapannya dari tahun ke tahun. Dalam batas-batas
yang cukup luas, bagi investor relative tidak penting aturan atau konvensi apa yang
sebenarnya dianut oleh suatu korporasi dalam melaporkan penghasilannya jika ia tahu
metode apa yang diikuti dan merasa yakin metode itu diikuti secara konsisten dari tahun ke
tahun. Namun dalam hal ini harus ditetapkan dengan mengharuskan korporasi untuk
mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum. Pertama, korporasi public harus
diwajibkan untuk mengungkapkan suatu pernyataan yang rinci mengenai metode akuntansi
yang digunakan. Kedua, korporasi harus menegaskan bahwa mereka telah mengikuti metode-
metode itu secara konsisten. Ketiga, auditor harus menegaskan bahwa korporasi mengikuti
metode-metode akuntansi yang mereka ungkapkan sendiri itu. Jadi keputusan kebijakan
akuntansi diserahkan kepada masing-masing kebijaksanaan perusahaan itu sendiri namun
harga bagi kebebasan ini adalah pengungkapan penuh yang akan melindungi pengungkapan
ini adalah suatu penerimaan yang universal atas prinsip-prinsip umum tertentu.

 Pembuatan Kebijakan di atas Tingkatan Perusahaan

Usulan-usulan May terbunuh oleh runtuhnya perekonomian setelah kehancuran pasar saham.
Pada tahun 1933, masyarakat membutuhkan obat yang lebih kuat daripada sekedar
pengungkapan. Hasilnya adalah dua peraturan utama yang mempengaruhi akuntansi, Truth-
in-Securities Act tahun 1933 dan Securities Exchange Act tahun 1934 serta dibentuknya
Securities and Exchange Commission pada tanggal 26 Juni 1934, dengan keyakinan bahwa
pengawasan atas lembaga-lembaga keuangan akan menghasilkan pasar modal yang lebih
efisien dengan memberikan lebih banyak keyakinan pada para investor bahwa mereka akan
mendapatkan seluruh informasi. mereka juga berharap mendorong dekembangkannya alat-
alat analisis yang lebih baik dan tanggung jawab yang lebih besar di pihak analis
professional. SEC mendelegasikan sebagian besar penetapan standarnya pada sektor swasta,

9
pada awalnya Committee on Accounting Procedures, lalu Accounting Principle Board, dan
sekarang Financial Accounting Standards Board.
Walaupun demikian, mendelegasikan tidak berarti menarik diri, karena sepanjang
hidupnya SEC membuat pengaruhnya pada akuntansi begitu terasa. SEC melakukannya
terutama melaui komentar-komentar atas draft-draft APB Opinion dan FASB Statement serta
persetujuan pada draft-draft opinion dan Statement sebelum dipublikasikan. Akan tetapi SEC
juga mempunyai pengaruh langsung melalui penerbitan Regulation S-X, Accounting Series
Release (ASR) yang diterbitakan SEC atau Chief Accountant SEC, dan keputusan-keputusan
resmi lainnya. dalam beberapa kasus SEC menyatakan suatu Opinion atau Statement tidak
berlaku dan mengancam akan bertindak sendiri jika perlu. Misalnya, APB pernah
mempertimbangkan akan menyatakan suatu pendapat mengenai klasifikasi suatu pajak
penghasilan yang ditangguhkan yang berhubungan dengan piutang cicilan, tetapi untuk
menghormati industry eceran APB belum memutuskan apakah akan mengharuskan
klasifikasi yang seragam dalam kasus ini. Atas petisi Arthur Andersen & Co., SEC
mendahului dan menerbitkan ASR 102, yang menetapkan bahwa pajak penghasilan yang
ditangguhkan harus diklasifikasikan secara konsisten dengan klasifikasi piutang terkait.
Manual Cohen, ketua SEC saat itu, kemudian berkomentar bahwa “suatu pernyataan
pendapat yang formal oleh SEC tampaknya diperlukan, dan kami merasa berkewajiban untuk
mengeluarkan pendapat itu…. Saya tidak percaya bahwa kami perlu sering menggunkan cara
itu-walaupun pilihan itu selalu terbuka bagi kami.”
Sebagi ilustrasi lain yang menggambarkan pengaruhnya, SEC mangambil posisi
terdepan dalam menentang penaikan (write up) nilai aktiva. Posisi ini merupakan salah satu
alasan kuatnya dukungan bagi dasar harga perolehan dalam akuntansi di Amerika Serikat.
Sebagai akibat dari posisi ini, APB sampai frustasi dalam upaya menerbitkan suatu pendapat
mengenai pegakuan keuntungan dan kerugian portofolio dari pemilikan sekuritas yang dapat
diperdagangkan. Posisi SEC ini dapat dihubungkan sebagian dengan oposisi yang kuat dari
industry asuransi, tetapi juga sejalan dengan posisi yang sudah lama dipegang SEC yang
menentang penggunaan nilai wajar.
SEC bahkan telah menerbitkan tafsiran APB Opinion. Pada tahun 1973, misalnya,
SEC menerbitkan ASR 146 sebagai penafsiran APB 16. Tindakan ini tidak hanya ditentang
oleh AcSEC AICPA, tetapi menyababkan salah satu kantor akuntan besar mengajukan
tuntutan terhadap SEC dengan alasan bahwa :

10
1. Masalah ini seharusnya ditangani oleh FASB karena SEC tidak boleh menafsirkan suatu
ketentuan yang belum diterima oleh SEC.
2. Jika SEC merupakan bahan pertimbangan, SEC seharusnya tidak dapat membatalkan
ketentuan FASB dengan suatu dekrit administrarif
3. SEC seharusnya diwajibkan untuk mengikuti prosedur pertimbangan, termasuk draft
eksposur dan dengan pendapat.
Keluhan kantor CPA ini menyatakan bahwa SEC telah melanggar Administrative
Procedures Act dengan tidak membuat pemberitahuan kepada masyarakat dan mengizinkan
diadakannya dengar pendapat atau komentar sebelum menerbitkan suatu terbitan. Kasus ini
kalah dan SEC terus menggunkan kekuatannya yang besar untk mempengaruhi akuntansi.
SEC pernah membatalkan ketentuan-ketentuan FASB dalam kesempatan-kesempatan
tertentu dan mengambil inisiatif dalam kesempatan-kesempatan lain. Misalnya. Tahun1978
SEC menerbitkan ASR 253 dan 258, yang menetapkan suatu bentuk akuntansi biaya penuh
bagi produsen minyak dan gas sebagai alternative yang diterima selain metode upaya berhasil
(successful efforts). Sebelumnya FASB mengharuskan digunakannya metode upaya berhasil
(SFAS 19). Tetapi, sebagai akibat dari tindakan SEC, FASB menerbitkan SFAS 25 pada
tahun 1979, yang menangguhkan keharusan digunakannya akuntansi upaya berhasil.
Professor Charles Horngern dari Stanford menyamakan hubungan antara SEC dengan
para kauntan public dengan hubungan antara manajemen puncak dan manajemen yang lebih
rendah. Walaupun SEC, dengan kekuasaan untuk menentukan prinsip akuntansim, sudah
mendelegasikan tugasnya melalui prinsip desentralisasi kepada CAP, dan kemudian kepada
APB dan FASB, sebagai manajemen puncak, SEC mempertahankan kekuasaanya untuk
menetapkan batasan-batasan dan melaksanakan hak veto. John Burton, yang pernah menjadi
akuntan kepada SEC, tidak setuju dengan Horngren dan berpendapat bahwa kedua organisasi
itu “bekerja sebagai sekutu dan bahwa kepentingan terbaik kami terpenuhi dalam atmosfer
yang tidak saling mengejutkan. Ia yakin bahwa SEC tidak menganggap dirinya berada dalam
posisi yang memiliki wewenang absolute sementara FASB bekerja untuk SEC.”
Bukti adanya rasa persekutuan antara SEC dan FASB ini diperlihatkan ketika pada
tahun 1976 SEC mengambil inisiatif untuk mengharuskan diungkapkannya informasi biaya
penggantian tertentu (ASR 190) tetapi menghapuskan persyaratan ini pada tahun 1979 (ASR
271) ketika FASB menerbitkan SFAS 33 Pelaporan Keuangan Dan Perubahan Harga.
Indikasi lain bahwa SEC memang inovatif dan kooperatif pada tahun 1970-an dan 1980-an
adalah kecenderungan kearah yang mengharuskan data lunak (informasi yang tidak dapat

11
diaudit dengan cara tradisional), seperti informasi biaya kini, informasi mengenai cadangan
minyak dan gas, data informasi interim, dan usulan informasi ramalan. Data lunak diterbitkan
dengan ketentuan “safe Harbor” yang melindungi akuntan, sebuah contoh semacam itu
ditemukan dalam ASR 203 yang berhubungan dengan informasi biaya kini yang diharuskan
oleh ASR 190. Waktulah yang akan menunjukan apakah sikap kooperatif ini akan berlanjut.

 Pembandingan Internasional

Kebijakan akuntansi ditetapkan pada tingkatan Internasional melalui Internasional


Accounting Standards Committee (IASC). Badan ini dibentuk pada tahun 1973 oleh para
wakil badan-badan profesional dari sebagian besar negara berkembang dan sejak itu terus
tumbuh hingga benar-benar mewakili seluruh masyarakat internasional. Kepatuhan kepada
standar-standar IASC terbatas pada diterimanya standar-standar itu, secara sukarela, oleh
masyarakat akuntansi profesional yang mewakili di IASC serta oleh organisasi dan badan
pemerinta lain di dalam negara yang diwakili. FASB, karena independen terhadap AICPA,
bukanlah anggota IASC dan karenanya tidak berkewajiban untuk mnyelaraskan standar-
standarnya dengan standar IASC. Walaupun demikian, FASB tetap berhubungan erat dengan
IASC.
K. Konsekuensi Ekonomi Kebijakan Akuntansi
PERAGA 8-2 Konsekuensi-konsekuensi ekonomi

Pemakai Konsekuensi Ekonomi

Investor dan Kreditor  Keputusan keuangan

 Biaya pengumpulan dan analisis informasi


keuangan

 Biaya penyusunan dan nantinya, mungkin, revisi


kontrak yang didasarkan pada angka-angka
akuntansi

Korporasi  Biaya penerbitan laporan-laporan keuangan

 Perubahan harga saham perusahaan melalui


informasi baru atau perbedaan volatilitas angka
penghasilan

Manajemen  Perilaku manajemen

Nasional  Alokasi sumber daya

Lain-lain  Kebijakan komisi regulator

 Persepsi masyarakat mengenai perusahaan

12
Akuntansi positif, yang dibahas secara lebih mendalam dalam bagian mengenai
pelaporan keuangan korporasi dalam bab 7, berupaya membentuk suatu kerangka dasar
teoritis di mana konsekuensi-konsekuensi ini dapat ditelaah secara lebih teliti. Salah saatu
argumentasi menyatakan bahwa preferensi para manajer terhadap kebijakan akuntansi
tertentu mungkin disebabkan oleh cara mereka melihat pengaruh kebijakan itu pada
kepentingan sendiri. Kompensasi dan bonus manajemen seringkali didasarkan pada angka-
angka akuntansi yang dilaporkan, seperti penghasilan bersih korporasi. Perubahan kebijakan
yang memang diinginkan mungkin mempunyai efek samping terjadinya perubahan yang
tidak diantisipasi dalam kompensasi mereka dan karenanya menyebabkan transfer kekayaan
yang tidak dikehendaki.
Dengan adanya konsekuensi-konsekuensi ekonomi yang mengalir dari kebijakan
akuntansi, tidaklah mengejutkan bahwa penetapan standar disertai oleh kontroversi. Untuk
pendekatan atas ke bawah untuk menetapkan kebijakan akuntansi, keberadaan konsekuensi
ekonomi ini dapat menimbulkan masalah yang berat. Pembuat kebijakan, seperti FASB,
mungkin ingin memperhitungkan keinginan semua konstituen mereka dan pengaruh
kebijakan pada mereka.

2.EVALUASI STRATEGI
A. Motifasi Untuk Mengevaluasi
Sebelum evaluasi akan dilaksanakan, para manajer puncak harus mempunyai keinginan
atau motivasi untuk mengevaluasi pelaksanaan atau prestasi. Motivasi tersebut berkembang
jika realisasi strategi mereka dapat gagal dan jika mereka memperoleh penghargaan atau
ganjaran atas prestasi yang dapat mencapai tujuan.
Faktor pertama yang memotivasi evaluasi adalah kemungkinan gagal dalam mencapai
tujuan. Fakor kedua yang memotivasi evaluasi adalah ganjaran atas prestasi pencapaian
tujuan. Ganjaran yang diberikan pada pencapaian tujuan berupa kenaikan pangkat, pemberian
insentif, penghargaan, dan sebagainya.
B. Umpan Balik Untuk Evaluasi
Untuk mengevaluasi diperlukan informasi yang dapat digunakan mengevaluasi strategi.
Informasi tersebut dihasilkan oleh sistem informasi manajemen yang efektif. Oleh karena itu
manajemen memerlukan sistem informasi manajemen yang efektif agar dapat dengan jujur.
Secara lengkap dan tepat waktu melaporkan hasil – hasil yang dicapai strategis.

13
Melalui sistem informasi manajemen yang efektif, perusahaan harus mendorong sistem
pelaporan yang cepat, akurat, lengkap dan jujur agar manajemen puncak dapat segera beraksi
terhadap penyimpangan – penyimpangan yang signifikan antara hasil – hasil yang diharapkan
atau dianggarkan dengan realisasinya. Manajemen perlu mengevaluasi penyimpangan
signifikan yang bersifat merugikan maupun menguntungkan sehingga dapat segera dilakukan
tindakan –tindakan yang diperlukan untuk mencapai sukses. Manajemen harus menentukan
tentang apayang disebut penyimpangan signifikan.
C. Kriteria Untuk Evaluasi
Strategis harus dievaluasi segera setelah periode implementasi strategi agar manajemen
yakin bahwa strategi tersebut bekerja dengan baik dan selanjutnya secara periodik juga
dievaluasi lagi untuk melihat apakah strategi tersebut masih dapat bekerja. Seymour Tilles
menyusun beberapa kriteria untuk mengevaluasi strategi segera setelah tahap implementasi,
kriteria tersebut:
1. Konsistensi internal. Apakah setiap implementasi kebijaksanaan strategi cocok
dengan pola – pola yang terintegrasi?
2. Konsistensi dengan lingkungan. Apakah setiap kebijaksanaan cocok atau selaras
dengan tuntutan lingkungan saat ini?
3. Kelayakan dengan sumber – sumber perusahaan. Apakah implementasi strategi
dilaksanakan dalam suatu cara penggunaan sumber – sumber yang sifatnya terbatas
secara efektif.
4. Dapat diterimanya tingkat resiko. Implementasi strategi memberikan tingkat risiko
tertentu pada manajemen, apakah strategi tersebut tingkat resikonya dapat diterima
oleh manajemen?
5. Kelayakan horison waktu. Apakah implementasi strategi meliputi pula ketetapan
waktu pencapaian tujuan.
6. Kemungkinan dapat dilaksanakan. Apakah strategi memungkinkan dapat
dilaksanakan untuk mencapai tujuan?

14
Richard Rumelt menulis paper tentang evaluasi strategi bisnis. Dalam paper tersebut dia
mengemukakan kriteria untuk evaluasi sebagai berikut:
1. Konsistensi: strategi harus tidak menggambarkan ketidakkonsistenan satu sama lain
antara tujuan – tujuan dengan kebijaksanaan kebijaksanaan.
2. Konsonansi: strategi harus menggambarkan suatu tanggapan adaptif terhadap
lingkungan eksternal dan terhadap perubahan – perubahan kritikal yang terjadi di
dalam lingkungan.
3. Keuntungan: strategi harus menyediakan kreasi atau pemeliharaan suatu keuntungan
persaingan dalam daerah kegiatan yang dipilihnya.
4. Kelayakan: strategi harus meniadakan kelemahan tersedianya sumber – sumber
maupun timbulnya masalah – masalah yang tidak dapat diselesaikan.
D. Kriteria Kuantitatif Untuk Evaluasi
Evaluasi melibatkan hubungan antara hasil – hasil strategi dengan tujuan organisasi yang
ditentukan pada awla proses penentuan strategi. Dalam usaha untuk mengevaluasi efektivitas
strategi corperate secara kuantitatif, kita dapat melihat bagaimana perusahaan
membandingkan faktor – faktor dibawah ini dengan keadaan pada periode yang lalu atau
dengan pesaingnya dalam periode yang sama, beberap kriteria kuantitatif yang dibandingkan
antara lain faktor – faktor sebagai berikut:

 Laba bersih
 Harga saham
 Tingkat deviden
 Laba per lembar saham
 Return atas modal sendiri
 Return atas investasi
 Bagian pasar
 Pertumbuhan penjualan
 Hilangnya hari kerja sebagai akibat pemogokan
 Biaya produksi dan efisien
 Biaya distribusi dan efisisen
 Trunover karyawan, absensi, dan indek kepuasan.

15
Adapun perbandingan strategi generik dan persaingan tersebut dapat dilihat pada tersebut:

Keterangan Aspek Generik Aspek persaingan


Pengukur sukses Pertumbuhan penjualan Bagian pasar

Return perusahaan Nilai tambah Return

Fungsi Syarat nilai pada langganan Memelihara atau memperoleh


posisi dapat bertahan.

Tugas strategi dasar Mengadaptasi perubahan dan Menciptakan rintangan dan


inovasi mengahalangi rival

Metode mengepresikan Ukuran produk dan pasar, Kebijaksanaan yang mengarahkan


strategi ukuran fungsional. pada posisi bertahan

Pendekatan dasar untuk Studi kelompok bisnis dari Perbandingan silang dengan rival
analisis waktu ke waktu pada suatu periode tertentu.

E. Penelitian Bidang Evaluasi


Steiner dan Hofer mencoba untuk membuat evaluasi dalam cara yang agak sistematis. Steiner
mencoba untuk menentukan adanya faktor – faktor strategi khusus yang sangat penting untuk
sukses dan bermanfaat untuk mengevaluasi. Faktor – faktor tersebut sebagai berikut:
1. Meningkatkan dan memelihara kualitas tinggi manajemen puncak.
2. Mengembangkan manajer operasi dosmetik di masa yang akan datang.
3. Memotivasi arah manajerial ke pencapaian laba
4. Menjamin judgment, kreativitas dan imajinasi yang lebih baik dalam pembuatan
keputusan peringkat manajemen puncak.
5. Memahami kebutuhan dan kesempatan baru atas produk
6. Mengembangkan program perencanaan jangka panjang yang lebih baik
7. Meningkatkan pelayanan pada langganan
8. Menyediakan return yang bersaing pada para pemegang saham
9. Memaksimumkan nilai investasi para pemegang saham
10. Mengembangkan keinginan yang lebih baik untuk menhadapi resiko sebanding
dengan return. Terutama dalam kesempatan bisnis baru untuk mencapai tujuan
pertumbuhan.

16
Beberapa pengukuran baru prestasi organisasional dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Karakteristik prestasi Beberapa pengukuran tradisional Pengukuran yang diusulkan


Pertumbuhan Rupiah penjualan, penjualan dalam Nilai tambah
unit, nilai aktiva.

Efisiensi Margin kotor, laba bersih, rupiah Return on value added


penjualan (ROVA)

Pemanfaatan aktiva ROI, return atas modal, laba per ROVA atau ROI
saham

17
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kebijakan akuntansi adalah batang tubuh standar akuntansi, pendapat, penafsiran, aturan,
dan regulasi yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan dalam melaporkan keuangan
mereka. Kebijakan akuntansi suatu perusahaan mencakup “metode-metode untuk
mennerapkan prinsip- prinsip oleh manajemen satuan usaha dianggap sebagai prinsip-prinsip
yang paling tepat untuk keadaan saat itu, untuk menyatakan secara wajar posisi keuangan,
perubahan dalam posisi keuangan, dan hasil operasi sesuai prinsip-prinsip yang berlaku
secara umum yang karenanya telah dipakai untuk menyusun laporan keuangan tersebu

Dalam merumuskan kebijaksanaan yang berhubungan dengan penggunaan dan sumber


dana maka aliran kas memerlukan perhatian yang serius. Anggaran kas menunjukkan
bagaimana dan dalam jumlah berapa akan dapat diterima kas dari berbagai sumber. Dalam
aliran kas meliputi penggunaan dan sumber kas untuk kegiatan rutin maupun tidak rutin. Jadi
masalah penting yang dihadapai adalah :

 Menimbulkan dana dalam bentuk kas yang diperlukan


 Alokasi kas pada kegiatan yang memerlukannya.
 Sebelum evaluasi akan dilaksanakan, para manajer puncak harus mempunyai
keinginan atau motivasi untuk mengevaluasi pelaksanaan atau prestasi. Motivasi tersebut
berkembang jika realisasi strategi mereka dapat gagal dan jika mereka memperoleh
penghargaan atau ganjaran atas prestasi yang dapat mencapai tujuan.
Faktor pertama yang memotivasi evaluasi adalah kemungkinan gagal dalam mencapai tujuan.
Fakor kedua yang memotivasi evaluasi adalah ganjaran atas prestasi pencapaian tujuan.
Ganjaran yang diberikan pada pencapaian tujuan berupa kenaikan pangkat, pemberian
insentif, penghargaan, dan sebagainya.

18