Anda di halaman 1dari 54

PERIODICAL INSPECTION

PC1250-8

TECHNICAL TRAINING DEPARTEMENT


SERVICE DIVISON
PT. UNITED TRACTORS.TBK
2013

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan
kasih sayang kepada seluruh umat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan modul ini sesuai
dengan yang diharapkan. Modul ini berjudul “PERIODICAL INSPECTION” sebagai salah satu
materi dalam program pendidikan di PT United Tractors Tbk.

Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan modul ini. Namun
demikian, tidak menutup kemungkinan adanya kekurangan yang dikarenakan keterbatasan
pengetahuan, kemampuan dan pengalaman yang dimiliki penulis. Penulis mengharapkan saran
dan kritik yang membangun atas segala kekurangannya, sehingga akan menjadi sebuah
perbaikan di kemudian hari.

Penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak


yang telah membantu dalam penyusunan modul ini. Akhir kata penulis berharap dengan segala
kekurangannya, semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, Juli 2013

Penulis

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC ii


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... iii

GLOSARIUM ......................................................................................................................... 1

BAB I ..................................................................................................................................... 2

PENDAHULUAN ................................................................................................................... 2

A. Deskripsi .................................................................................................................................2
B. Prasyarat.................................................................................................................................2
C. Petunjuk Penggunaan Modul ................................................................................................2
D. Tujuan Akhir............................................................................................................................3
E. Kompetensi.............................................................................................................................3
F. Cek Kemampuan....................................................................................................................4
BAB II .................................................................................................................................... 5

PEMBELAJARAN ................................................................................................................. 5

A. Rencana Belajar Peserta.......................................................................................................5


B. Kegiatan Belajar Peserta Pelatihan ......................................................................................6
General Knowledge of Inspection....................................................................................... 6

Maintenance Knowledge ............................................................................................................7


Rangkuman Materi 1 ............................................................................................ 32

Soal Latihan 1 ....................................................................................................... 33

PUMA Standart Operation Procedure............................................................................... 34

SBPR Overview.........................................................................................................................35
PUMA Standart Operation Procedure .....................................................................................36
Soal Latihan 2 ....................................................................................................... 48

BAB IV ................................................................................................................................ 49

PENUTUP............................................................................................................................ 50

Daftar Pustaka.................................................................................................................... 51

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC iii


GLOSARIUM

1. Inspection adalah pengontrolan yang dilakukan pada sebuah unit atau alat.
2. Down Time adalah waktu yang dibutuhkan untuk sebuah unit saat tidak bias beroperasi
atau sedang mengalami kerusakan.
3. Replace adalah penggantian suatu komponen pada sebuah alat.
4. Adjusting adalah penyetelan pada sebuah komponen yang betujuan untuk
mengembalikan performance sesuai standart.
5. Repair adalah perbaikan yang dilakukan pada sebuah alat.
6. Testing adalah pengetesan yang bertujuan untuk mengetahui kondisi komponen pada unit.
7. Service adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya abnormal
(kerusakan), sehingga umur alat dapat mencapai umur yang direkomendasikan
pabrik/principle.
8. Kawashima Project adalah aktifitas perawatan hose dan harness untuk menjaga poisisi
maupun instalasi agar dapat dipertahankan kondisinya dalam standart fungsinya.
9. Harness adalah kabel penghantar electricity yang terangkai pada sstem unit.
10. Hose adalah komponen tempat jalur hydraulic (oli) mengalir.
11. Clamp adalah komponen yang berfungsi untuk mengikat harness atau hose pada bodi
atau cover.
12. Clearance adalah jarak antara satu komponen dengan komponen lain.
13. Tierap adalah komponen tambahan dari plastic dengan tingkat ukuran dan kekuatan
tertentu yang berfungsi untuk mengikat komponen lain.
14. Vinyl tape adalah komponen pengikat yang terbuat dari bahan karet yang biasa digunakan
untuk metode isolasi electric.
15. Rubber adalah bahan karet yang sering dimanfaatkan untuk pelapis supaya hubungan
antara komponen tidak saling bergesek secara langsung.
16. Spiral wrap adalah komponen tambahan yang berfungsi sebagai pelais berbahan plastic
keras dan berbentuk spiral yang berfungsi untuk melindungi pergesekan antara komponen
hose satu dengan lainnya.
17. Conduit adalah komponen tambahan yang berfungsi untuk melapisi komponen harness.
18. Grommet adalah komponen pelapis untuk melapisi hose dengan clamp untuk melindungi
hose supaya tidak bergesekan langsung dengan clamp.
19. Twist adalah terpuntir – puntiran.
20. House guide adalah bagan penjelasan mengenai bagian-bagian dari SBPR.
21. Workstream adalah flow atau aliran kerja
22. Rest time adalah waktu saat istirahat.
23. Morning change shift adalah pergantian shift pagi.
24. Refueling time adalah waktu saat pengisian bahan bakar.
25. Washing time adalah waktu saat pencucian dilaksanakan.
26. Opportune Inspection adalah inspection yang dilakukan dengan memanfaatkan waktu
yang luang diluar waktu inspeksi (inspection schedule) dengan mencari unit yang sedang
idle untuk dapat dilakukan inspection.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 1


BAB I
PENDAHULUAN

A. Deskripsi
Modul Periodical Inspection ini membahas tentang pengetahuan dasar dari perawatan
terhadap unit alat berat. Tujuan dari modul ini adalah agar peserta pelatihan memiliki
pengetahuan tentang Periodical Inspection secara global pada unit.

Modul ini terdiri dari 3 kegiatan belajar meliputi :


1. General Knowledge of Inspection
2. PUMA Standart Operation Procedure
3. Inspection Process

B. Prasyarat
Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan modul-modul yang harus
dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.

C. Petunjuk Penggunaan Modul


1. Petunjuk Bagi Peserta Pelatihan
Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam mempelajari materi modul ini,
langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:
a. Baca dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada pada masing-
masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta dapat bertanya pada
instruktur.
b. Kerjakanlah setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar
pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap
kegiatan belajar.
c. Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktek, perhatikanlah hal-hal berikut ini:
1) Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.
2) Pahami setiap langkah kerja (Shop Manual, QA Sheet, SOP) dengan baik.
3) Sebelum melaksanakan praktik, rencanakan tools yang diperlukan secara cermat.
4) Gunakan alat sesuai prosedur yang pemakaian yang benar.
5) Untuk melakukan kegiatan belajar praktek yang belum jelas, harus meminta ijin
instruktur lebih dahulu.
6) Setelah selesai praktek, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula.
d. Jika belum menguasai tingkat materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar
sebelumnya atau bertanyalah kepada instruktur yang bersangkutan.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 2


2. Peran instruktur antara lain
a. Membantu peserta dalam merencanakan proses belajar.
b. Membimbing peserta melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
c. Membantu peserta dalam memahami konsep dan praktek baru dan menjawab pertanyaan
peserta mengenai proses belajar peserta.
d. Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang
diperlukan untuk belajar.
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
f. Merencanakan mentor/ pendamping (among) dari tempat kerja untuk membantu jika
diperlukan (peserta OJT/experience).
g. Merencanakan proses penilaian dan menyiapkan perangkatnya.
h. Melakasanakan penilaian.
i. Menjelaskan kepada siswa tentang sikap pengetahuan dan keterampilan dari suatu
kompetensi yang perlu untuk dibenahi dan merundingkan rencana pembelajaran
selanjutnya,
j. Mencatat pencapaian kemajuan siswa.

D. Tujuan Akhir
Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini peserta
diharapkan “memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan Periodical
Inspection pada unit, lokasi dan critical point pada pekerjaan Inspection”

E. Kompetensi
Modul ini membantu peserta dalam memberikan pengetahuan nama, lokasi serta
prosedur pekerjaan maintenance dengan tepat dan benar.

Pokok Pemelajaran
Elemen Kriteria Lingkup
Ketrampila
Kompetensi Unjuk Kerja Bahasan Pengetahuan Sikap
n

1. Mengetahui 1. General - Maentenance - Mengetahui - Menjelaskan - Mengikuti


General Knowledge Knowledge definisi dan dasar dan setiap
Knowledge of dapat - Kawashima klasifikasi dari filosofi pembelaja
Inspection diketahui Procedure maintenance maintenance ran
- Component - Mengetahui - Menjelaskan dengan
Failure philosofi dari philosofi dan sesuai
Recommendati kawashima aktifitas dari prosedur.
on project kawashima - Mengikuti
- Mengetahui - Menjelaskan setiap
phenomena failure faktor-
kerusakan dan analisis dan faktor
recommendati recommend safety
on activity ation

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 3


2. Mengetahui 2. PUMA - SBPR - Mengetahui - Menjelaskan
PUMA Standart Standart Overview SBPR tentang
Operation Operation - PUMA Standart overview overview
Procedures Procedures Operation SBPR
dapat Procedures - Mengetahui secara
diketahui Standart global. sda
prosedur
operasi PUMA - Menjelaskan
procedure-
procedure
dari aktifitas
PUMA

3. Mengetahui 3. Inspection - Inspection Zona - Mengetahui - Dapat


Inspection Process - Inspection zona inspeksi melakukan
Process dapat Report pada unit kegiatan
diketahui - Mengetahui inspection
standart report secara tepat.
sda
inspection - Dapat
melakukan
reporting
dengan form
report yang
benar.

F. Cek Kemampuan
Sebelum mempelajari modul ini, isilah dengan tanda cek (v) kemampuan yang telah
dimiliki peserta dengan sikap jujur dan dapat dipertanggung jawabkan.

Jawaban Bila jawaban


Kompetensi Pernyataan “ya”
Ya Tidak
kerjakan
Saya mampu menjelaskan
Soal latihan
gambaran dasar kegiatan
Mampu 1
Inspection
mendeskripsikan
Saya mampu menjelaskan PUMA Soal latihan
tentang komponen,
Standart Operation Procedure 2
lokasi serta
Saya mampu menjelaskan
prosedur pekerjaan
pembagian zona kerja Periodic Soal latihan
maintenance
Inspection dan melakukan 3
reporting hasil inspection

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 4


BAB II
PEMBELAJARAN

A. Rencana Belajar Peserta


Rencanakanlah setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan
mintalah bukti belajar kepada instruktur jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan belajar.
Tempat Alasan Paraf
Lingkup Bahasan Hari/Tanggal Waktu
Belajar perubahan Instruktur
1. General
Knowledge of
Inspection

2. PUMA Standart
Operation

3. Inspection
Process

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 5


B. Kegiatan Belajar Peserta Pelatihan

KEGIATAN BELAJAR I

Tujuan Kegiatan Belajar 1


General Knowledge of Inspection

Ranah
Elemen Kompetensi
Kegiatan Pembelajaran Indikator Keberhasilan
Kompetensi
P K S
Dapat menjelaskan definisi
Maintenance Knowledge
dan konsep dari maintenance
General Dapat menjelaskan definisi
Knowledge of Kawashima Project dan konsep dari kawashima
Inspection project
Dapat menjelaskan point-point
Component Failure
pada failure component

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 6


Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Maintenance Knowledge

Secara garis besar maintenance merupakan kunci dari kondisi dan performance unit yang baik
(standart), lebih dari itu cost yang digunakan terhadap unit juga akan terkendali (reduce) jikalau
plan yang dilakukan adalah tepat dalam melakukan maintenance unit. Ini adalah alasan penting
dimana Maintenance sangatlah berperan tinggi dalam pengelolaan unit alat berat.

Gb. Klasifikasi Maintenance

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 7


Periodic Inspection

Periodic Inspection, yaitu inspeksi atau pemeriksaan yang dilakukan secara berkala
dengan management waktu yang telah distandartkan untuk melihat kondisi a ktual unit supaya
dapat dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu untuk melakukan aktifitas perbaikan.
Selain kegiatan inspeksi ini berlangsung dalam konteks preventive maintenance akan
tetapi dalam pelaksanaannya juga akan menyangkut dengan aktifitas corrective maintenance.
Ini akan terjadi bila dalam kegiatan inspection diperlukan untuk kegiatan repair and adjustment
saat ditemui kondisi yang kurang standart dan harus segera ditangani karena masalah safety
ataupun kinerja unit.

Gb. Contoh pemeriksaan daily maintenance

Uraian Materi Kegiatan Belajar 1


Kawashima Procedures

Dalam suatu kegiatan Inspeksi sangatlah diperlukan sekali keahlian dalam menilai kondisi
suatu komponen dalam unit, ini sangat berhubungan erat dengan tingkat selera seorang inspector
dalam menilainya. Baik penilaian terhadap komponen secara instalasi maupun dalam kondisi fisik
dari komponen. Dalam aktifitas Kawashima project hal-hal tersebut sangat diperhatikan.
Terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian penting saat melakukan aktifitas kawashima
project yaitu mengenai penanganan harness dan penanganan hose.
Beberapa contoh kasus tentang perlakuan pada pemasangan hose dan harness serta
beberapa problem yang terjadi beserta penyelesainnya dapat kita lihat dalam materi dibawah ini :

1. Point 1 :
Permasalahan :
Harness atau hose pada engine bergerak bebas, berpotensi untuk bersinggungan dengan
kabel atau hose lainnya.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 8


Langkah pencegahan :
Antara Hose dan wiring harness tidak dijadikan satu dan di clamp ataupun ditierap
sehingga tidak bergerak bebas dan bersinggungan.

Clamp tambahan

Wiring harness

Clearance sesuai standard

Clamp tambahan

Spill hose

Langkah Perbaikan :
• Tambahkan clamp pada wiring harness atau hose, pasang clamp pada dudukan atau
mounting bolt yang sudah ada. Spesifikasi untuk tierap, vinyl tape, rubber, spiral wrap, dll
pada kabin engine minimal 100ºC, dan Jarak ideal antara hose dan wiring harness adalah
antara 80mm-100mm.
• Pisahkan antara hose dan wiring harness dengan jarak yang aman, yaitu aman dari
persinggungan satu dengan yang lain saat unit beroperasi dan hose bergetar karena
tekanan.
Bebas bergerak Tambah Clamp


2. Point 2 :
Permasalahan :
harness diikat dengan hose yang bertekanan sehingga kabel ikut bergetar dan dalam
jangka waktu tertentu akan menyebabkan kabel putus diujung konektor atau komponen
elektrik.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 9


Langkah pencegahan :
Antara Hose dan wiring harness tidak dijadikan satu dan di clamp ataupun ditierap
meskipun sudah digunakan rubber untuk proteksinya.

Langkah Perbaikan :
• Pisahkan antara hose dan wiring harness dengan jarak yang aman, yaitu aman dari
persinggungan satu dengan yang lain saat unit beroperasi dan hose bergetar karena
tekanan.
• Tempatkan dan pastikan kekencangan posisi dari hose dan wiring harness dengan
menggunakan clamp dan bolt, jika tidak terdapat dudukan dapat digunakan double clamp
atau ditambahkan bracket, atau cara lain sehingga pada posisi aman. Jarak ideal antara
hose dan wiring harness adalah antara 80mm-100mm.


Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 10
3. Point 3 :
Permasalahan :
Radius tekukan dari kabel (pada Starting Motor, Battery, dll) terlalu kecil, sehingga dapat
menimbulkan serabut kawat dari kabel PATAH. Disamping itu dapat juga menimbulkan bolt
mudah kendur karena vibrasi/getaran jika tekukan terlalu kecil.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 11


Langkah pencegahan :
Tidak melakukan penekukan yang berlebihan pada kabel hingga dibawah standard.

Langkah Perbaikan :
• Reposisi dan pastikan radius dari tekukan kabel adalah 6 kali dari diameter kabel.
• Fixed posisi dari kabel dengan menggunakan clamp dan bolt, tierap atau media lainnya
sehingga kabel pada posisi aman.

4. Point 4 :
Permasalahan :
Radius tekukan dari kabel (pada konektor) terlalu kecil, sehingga dapat menimbulkan
putusnya pada persambungan dan serabut kawat dari kabel PATAH.
Langkah pencegahan :
Tidak melakukan penekukan yang berlebihan pada kabel hingga dibawah standard.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 12


Langkah Perbaikan :
• Reposisi dan pastikan radius dari tekukan kabel adalah 6 kali dari diameter kabel.
• Fixed posisi dari kabel dengan menggunakan clamp dan bolt, tierap atau media lainnya
sehingga kabel pada posisi aman. (perhatikan posisi tierap pada konektor seperti gambar
disamping)

5. Point 5 :
Permasalahan :
Kabel terlalu panjang, radius tekukan penggulungan dari kabel (pada konektor maupun
sensor) terlalu kecil, sehingga dapat menimbulkan putusnya pada persambungan dan serabut
kawat dari kabel PATAH.
Langkah pencegahan :
Tidak melakukan penekukan yang berlebihan pada gulungan kabel yang terlalu panjang
hingga dibawah standard.
Panjang kabel yang ideal sesuai kebutuhan dan tidak terlalu panjang.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 13


® UNITED TRACTORS

Radius tekukan pada Wlnng harness Radius tekukan pada wwng harness
terlalu kecil dan d1bawah standard. sesualstandard ya1tu mln1mal 6 kall
diameter kabeldan diikat dengan
tierap.

Rad1us gulungan pada Wiring harness


Radius gulungan pada Wiring sesuai standard yartu minimal6 kah
harness cukup,akan tetapt kurang fix diameter kabeldan d1ikat dengan 2
J•ka hanya dilkat dengan 1 tierap saja buah t1erap

1. Kabel tertalu panJang dan


digulung dengan radius
dibawah standard.
2. Stressmg potnt pada
persambungan kabel
dengan senso dan
salah satu penyebabnya
adalah gulungan kabel
tidak pada posis1 fix.
3. Stress pomt pada
sambungan kabel pada
konektor

IA;t Technical Training Department P/-MDM/13/00/PC 14


6. Point 6 :
Permasalahan :
Kabel mengalami stressing karena jarak antara ujung spiral conduit dan konektor terlalu
pendek dan kabel di isolasi pada ujung conduit.
Kabel patah karena radius tekukan dibawah standard karena jarak antara ujung spiral
conduit dan konektor terlalu pendek
Langkah pencegahan :
Tidak mengaplikasikan konduit terlalu panjang sehingga mengakibatkan jarak antara ujung
konduit dan konektor terlalu pendek.

Langkah Perbaikan :
• Perbaiki jarak antara ujung conduit dengan konektor sesuai standard dengan memotong
conduit.
• Tempatkan dan pastikan kekencangan dari posisi dari kabel dengan menggunakan clamp
dan bolt, tierap atau media lainnya sehingga kabel pada posisi aman. Pastikan jarak clamp
sesuai standard.

7. Point 7 :
Permasalahan :
Kabel Power menghasilkan percikan api yang cukup besar jika terjadi short circuits
Langkah Perbaikan :
• Tambahkan spiral conduit pada kabel power (kabel yang berarus tinggi) dan tambahkan
Vinyl tape pada ujung conduit.
• Tempatkan dan pastikan kekecangan dari posisi dari kabel dengan menggunakan clamp
dan bolt, tierap atau media lainnya sehingga kabel pada posisi aman.
• Aplikasikan spiral conduit dan clamp sesuai standard.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 15


e UNITED TRACTORS
-
Kabel Power Battery

Clamp

Condurt

Sp1ralcondurt untuk mehndung1 dari t1mbulnya percikan api karena


tef)ad1nya short c1rcuit pada arus besar

Kabel power d1benspiral


conduit. pematikan jarak
antara UJung sp1rat condurt
dengan terminalkabel harus
sesua1 standard
Tujuan pada kabeldiberi
spiral conduit adalah
sebagaipelindung jika
tetjadi percikan ap1Jika
tetjadishort circuits.

KabelBattery (Terminal
posrtrve)harus diberi cover
spralconduit
Ujung Condurt harus difixed
secara baik dengan vinyltape.

Konsentrasi
Stress pada.
satu tlllk

Bergemk
bebas

menghiD
pergera t=J
bebas

Fixdengan
vi nyltape

Technical Training Department PI-MDM/13/00/ PC 16


8. Point 8 :
Permasalahan :
Hose atau harness bergetar, clamp mudah rusak, penataan tidak rapi,
Langkah pencegahan :
Aplikasikan clamp pada setiap instalasi harness atau hose.

Langkah Perbaikan :
• Pada Kabin Engine aplikasikan clamp untuk wiring harness atau hose dengan jarak antar
clamp 25 cm.
• Untuk diluar kabin engine aplikasikan clamp untuk wiring harness atau hose dengan jarak
antar clamp minimal 50 cm.
9. Point 9 :
Permasalahan :
Hose/Harness berada di posisi bawah (lantai/floor) yang sangat memungkinkan untuk
terinjak, mudah kotor, berpotensi cepat mengalami kerusakan.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 17


Langkah pencegahan :
Jangan memposisikan hose/harness dilantai/floor.

Langkah Perbaikan :
• Menaikkan posisi harness/hose pada jarak minimal 7 cm dari floor/lantai, dan diberi clamp
dengan jarak antar clamp 50 cm untuk diluar kabin engine dan 25 cm untuk di area kabin
engine.
• Jika memungkinkan reposisi dapat dilakukan di wall/dinding pada body unit dengan jarak
minimal dari floor 7 cm, atau dapat juga melalui jalur lain pada body sehingga pada posisi
aman.

10. Point 10 :
Permasalahan :
Hose/harness bersinggungan dengan ujung dari tekukan body sehingga dapat
menimbulkan hose/harness rusak
Hose bersinggungan satu dengan yang lainnya sehingga berpotensi menimbulkan
kerusakan
Langkah Perbaikan :
• Reposisi hose/harness sehingga pada ujung tekukan body jarak antara hose dengan body
+minimal 1,5 cm jika perlu tambahkan plate agar posisi dudukan hose/harness lebih tinggi.
• Jika hose pada posisi lurus keatas dan dekat dengan body dan tekukan body unit maka
jarak antara hose dengan body minimal 3 cm
• Jarak antara hose satu dengan yang lainnya minimal 5 cm.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 18


e UNITED TRACTORS

• Tempatkan dan pastikan kekencangan dari posisi dari hose/harness dengan menggunakan
clamp dan bolt, tierap atau media lainnya sehingga kabel pada posisi aman. (perhatikan
posisi clamp pada gambar)

l.'ln !iOmm

Hose bersinggungan Hose tidak bersinggungan setelah


dengan ujung dan tekukan direposisi dan menyesuaikan clearance
body Main Pump dengan standard

11. Point 11 :
Permasalahan :
Kesalahan dalam mengaplikasikan clamp sehingga fungsi clamp tidak efektif bahkan dapat
menimbulkan kerusakan pada harness atau hose yang di clamp.

l&t Technical Training Department PI-MDM/13/00/PC 19


Langkah pencegahan :
Lakukan metode clamping yang baik dan benar.

Langkah Perbaikan :
• Aplikasikan ukuran clamp sesuai dengan ukuran hose atau harness
• Perbaiki posisi persambungan 2 clamp yaitu dengan tidak melakukan pemasangan yang
bersilangan antara satu dengan yang lainnya, Pemasangan bersilangan dapat
menimbulkan diameter dari clamp berubah dan tidak sesuai dengan ukuran standardnya.
• Jika tidak didapatkan clamp sesuai ukuran diameter hose atau harness maka dapat
ditambahkan gromet, rubber atau media lainnya.
• Clamp yang tidak memiliki proteksi perlu ditambahkan gromet atau rubber

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 20


® UNITED TRACTORS

D1omeler domp bdok se5uoJ dengon Cl mp d beri grornet el·11nggo se u i


dlame r hose ehlngga clamp tldak dei1Qan ukuran hose dan sebagai
mem1hkl fullgc1, elamp tJdak momthkt p91lndung darl kontak langsung antara
protek&J dan plate elamp kontak damp dengan hoM
lengsung dengan hose, hal mi dapat
merusak hose.

Hydraulic hose dan Body


ke boom fiXed dengan
insulators (Gromet, rubber).
Pada posisi ini merupakan
area VJbrasJ yang cukup
t1nggl, Jlka t1dak terdapat
insulators dapat
mengaktbatkan hose rusak
pada area clamp
Hydraulic hose dari work
equ1pment fixed dengan
insulatorn (Gromet)

IA;t Technical Training Department P/-MDM/13/00/PC 21


12. Point 12 :
Permasalahan :
Kesalahan dalam hose installation sesuai dengan alur lekuk hose.
Langkah pencegahan :
Lakukan metode instalasi hose secara tepat dengan melihat natural curv (lekukan
alami/awal) dari hose.

13. Point 13 :
Permasalahan :
Kesalahan dalam hose installation sehingga fungsi kondisi hose sudah tegang saat install
dikarenakan twist pada hose.
Langkah perbaikan :
Lakukan metode instalasi hose sesuai dengan ukuran hose yang genuine-nya

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 22


14. Point 14 :
Permasalahan :
Kesalahan dalam hose installation yaitu untuk penentuan panjang hose saat dilakukan
instalasi. Hose terlalu pendek akan mengakibatkan sudut bending menjadi radius yang kecil
sehingga akan muncul stress.

Langkah perbaikan :
Lakukan metode instalasi hose sesuai dengan pasangannya, hindari tekukan hose yang
terlalu kecil dan panjang hose juga harus diperhatikan.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 23


15. Point 15 :
Permasalahan :
Spiral wrap atau media proteksi lainnya mengalami pergeseran dari tempatnya sehingga
tidak berfungsi dengan baik.
Langkah perbaikan :
Tambahkan vinyl tape sebagaimana gambar disamping, yaitu masuk ke lokasi spiral wrap
sejauh 20mm dan kelokasi hose sejauh 20 mm.perputaran pengisolasian diulangi sebanyak
3kali. Tujuan dari penambahan vinyl tape ini yaitu agar tidak terjadi ergeseran dari spiral wrap
atau media pelindung lainnya.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 24


e UNITED TRACTORS

Hose body contact langsung Install Rubber pada hose


dengan body unit sehingga body ,diikat dengan tierap
akan memperpendek lifetjme bertujuan agar supaya rubber
hose tidak lari dari posisi jika
terkena vibration

Hose PPC contact dengan Install spiral wrap dengan


body control valve ujungnya diikat dengan
memakai spiral tape

l&t Technical Training Department PI-MDM/13/00/ PC 25


Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Komponen Failure & Recommendation

Dalam suatu kegiatan inspeksi kemungkinan besar akan banyak ditemui kondisi-kondisi yang
tidak normal jika dalam operasiona ataupun maintenance unit kurang bagus. Kondisi tidak normal
tersebut dapat berupa 3 hal antara lain :
1. Mechanical Failure
Kerusakan mechanical dapat terjadi pada suatu alat akibat salah pengoperasian atau salah
penanganan terhadap unit. Kerusakan tersebut dapat berupa leak, crack, bending, dent,
scretch, wear.
a. Crack (Retak)
Kerusakan ini terjadi biasanya karena external force atau internal force yang ditunjang
dengan komposisi material yang kurang bagus. Faktor yang mempengaruhi kondisi ini
adalah getaran tinggi, panas yang tinggi, umur dan benturan.
Beberapa contoh kasus yang mungkin terjadi dapat dilihat di bawah ini :

Crack pada komponen Crack pada komponen


“Boom” PC2000-8 “vessel” Dumptruck

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 26


b. Missing (hilang)
Sering sekali dijumpai bahwa kondisi komponen tidak termounting dengan benar
karena tidak ada/kurangnya fastener yang disebabkan hilang pada saat operasi ataupun
kecerobohan saat melakukan maintenance unit.

Nut pengikat hilang/tidak


ada
Nut pengikat hilang/tidak ada

Bolt dan spacer damper pengikat


Bolt pengikat hilang/tidak
hilang/tidak ada

c. Bending (Bengkok)
Kerusakan ini terjadi biasanya karena external force atau beban yang terjadi dalam
kurun waktu lama akan tetapi pembebanannya kurang seimbang.

d. Dent (penyok)
Kerusakan ini terjadi biasanya karena external force atau ketika unit beroperasi.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 27


e. Scretch (Bergores)
Kerusakan tipe ini biasanya disebabkan oleh bergesekannya antara material metal
dengan metal atau metal dengan debu. Goresan yang terjadi bisa saja dalam skala besar
atau hanya kecil tergantung dengan beban saat bergesekan.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 28


f. Worn (Aus)
Kerusakan tipe ini biasanya disebabkan oleh bergesekannya antara material metal
dengan metal dan material lainnya. Keausan adalah wajar kecuali berada diluar dari umur
yang teah ditentukan maka dari itu inspeksi sangat diperlukan sekali. Khususny untuk
komponen undercarriage management penanganan keausan sangat diperhatikan.

g. Leak (bocor)
Kerusakan tipe ini dapat disebabkan akibat pengencangan komponen yang kurang dari
standart (jika merupakan assembly component), keausan dalam skala besar, kerusakan
komponen penyekat, dll.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 29


h. Weep (rembes)
Kerusakan tipe ini dapat disebabkan akibat pengencangan komponen yang kurang dari
standart (jika merupakan assembly component), keausan dalam skala kecil, kerusakan
komponen penyekat, dll.

Rembes pada bagian Main Pump PC3000 Rembes pada bagian Breather Hyd tank PC3000

Rembes pada bagian manifold block PC3000 Rembes pada bagian Colling Fan Motor PC3000

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 30


Rembes pada bagian Main Pump PC2000

i. Broken
Kerusakan tipe ini dapat disebabkan akibat instalasi yang kurang tepat, kesalahan
operasi, dll. Ini dapat terjadi pada komponen hose atau komponen lainnya.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 31


Rangkuman Materi 1

1. Preventive Maintenance adalah perawatan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah
kemungkinan timbulnya gangguan atau kerusakan alat.

2. Periodic maintenance adalah pelaksanaan service yang dilakukan setelah alat bekerja
untuk jumlah jam operasi tertentu.

3. Periodic Insection, yaitu inspeksi atau pemeriksaan yang dilakukan secara berkala dengan
management waktu yang telah distandartkan untuk melihat kondisi actual unit supaya
dapat dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu untuk melakukan aktifitas perbaikan.

4. Corrective maintenance adalah perawatan yang dilakukan untuk mengembalikan kondisi


machine ke kondisi standart melalui pekerjaan repair (perbaikan) atau ad justment
(penyetelan).

5. Harness atau hose yang bergerak bebas, berpotensi untuk bersinggungan dengan kabel
atau hose lainnya. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah antara hose dan
wiring harness tidak dijadikan satu dan di clamp ataupun ditierap sehingga tidak bergerak
bebas dan bersinggungan.

6. Harness yang diikat dengan hose yang bertekanan akan membuat kabel ikut bergetar dan
dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan kabel putus diujung konektor atau
komponen elektrik. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah antara hose dan
wiring harness tidak dijadikan satu dan di clamp ataupun ditierap, kemudian gunakan
rubber untuk proteksinya.

7. Radius tekukan dari kabel (pada Starting Motor, Battery, dll) terlalu kecil, sehingga dapat
menimbulkan serabut kawat dari kabel PATAH. Disamping itu dapat juga menimbulkan bolt
mudah kendur karena vibrasi/getaran jika tekukan terlalu kecil. Langkah pencegahannya
adalah tidak melakukan penekukan yang berlebihan pada kabel hingga dibawah standard.

8. Kabel terlalu panjang, radius tekukan penggulungan dari kabel (pada konektor maupun
sensor) yang terlalu kecil, akan dapat menimbulkan putus pada persambungan dan
serabut kawat dari kabel PATAH.

9. Kabel power daripada battery berpotensi menghasilkan percikan api yang cukup besar jika
terjadi short circuits. Langkah perbaikan yang dapat dilakukan adalah dengan
menambahkan spiral conduit pada kabel power (kabel yang berarus tinggi) dan tambahkan

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 32


Vinyl tape pada ujung conduit. .

10. Hose terlalu pendek akan mengakibatkan sudut bending menjadi radius yang kecil
sehingga akan muncul stress.

Soal Latihan 1

1. Apa yang dimaksud dengan Maintenance ?


2. Apakah tujuan dilakukan Periodical Inspection ?
3. Apa sajakah yang menjadi titik perhatian dari kawashima project ?
4. Sebutkan beberapa contoh kasus yang sering di temui dalam kawashima project ?
5. Sebutkan mengenai beberapa trouble yang sering didapatkan saat melakukan Inspeksi.
6. Apakah yang sering menjadi penyebab terjadinya weap atupun leak? jelaskan!
7. Dalam kegiatan kawashima project bagaimanakah point-point penting mengenai perlakuan
hose?
8. Jelaskan mengenai perlakuan-perlkuan yang dilakukan terhadap wiring atau harness dalam
kawashima project!

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 33


KEGIATAN BELAJAR II

Tujuan Kegiatan Pembelajaran 2


PUMA Standart Operation Procedure

Elemen Kegiatan Ranah Kompetensi


Indikator Keberhasilan
Kompetensi Pembelajaran P K S
Dapat menjelaskan apa yang
SBPR dimaksud SBPR, dan apa
PUMA Overview konsentrasinya.
Standart
Operation PUMA Dapat menjelaskan prosedur
Procedure Standart dan item pekerjaan PUMA
operation

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 34


Uraian Materi Kegiatan Belajar 2
SBPR Overview

Pada house guide diatas dapat kita lihat bahwa salah satu pilar untuk menopang goal
adalah “Periodic Inspection” yang terdiri dari PUMA-EX & PUMA-DT.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 35


Uraian Materi Kegiatan Belajar 2
PUMA Standart Operation Procedure

A. PUMA Workstream
Kegiatan Inspeksi yang dilakukan pada setiap waktu dapat dikatakan sudah bagus namun
perlu dikemas lagi supaya lebih sistematis agar dapat meningkatkan effectivitas dan lebih
efficience waktu dalam bekerja. Inilah latar belakang adanya program PUMA pada periodic
Inspection. Beberapa hal telah dilakukan perubahan menjadi lebih sistematis dan tepat
sasaran.
Lebih lanjut dapat kita lihat pada table dibawah ini :

1. Dokument Baru
Dengan PUMA telah dilakukan improvement dalam beberapa hal yaitu pembaharuan
pada dokumen-dokumen yang digunakan dalam kegiatan periodic inspection. Dokumen
tersebut terdiri dari beberapa item yaitu PUMA Book, MEET Map & PUMA Monitoring.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 36


PUMA Book berisi tentang prosedur-prosedure aktifitas PUMA yaitu mengenai SOP
PUMA EXA/DT, PUMA Review agenda dan absensi, jadwal inspeksi dari customer,
PUMA Monitoring EXA/DT, MEET Map EXA/DT, Backlog Monitoring Sheet (BMS),
Pareto problem unscheduled breakdown report.
Meet Map digunakan untuk memetakan unit yang telah dilakukan inspeksi maupun unit
yang belum dilakukan inspeksi. Ini dilakukan untuk melakukan control dan scheduling
dalam pelaksanaan aktifitas PUMA setiap harinya.
PUMA Monitoring EXA/DT digunakan untuk merecord hasil Periodic Inspection setiap
harinya dan disertai dengan catatan-catatan hasil temuan saat inspeksi.

2. Penerapan Zona Kerja


Supaya dalam suatu pekerjaan inspeksi dapat berjalan secara efektif, efisien dan
terkontrol dengan baik baik maka perlu dilakukan pembagian zona kerja agar dalam
kegiatan inspeksi dapat lebih focus. Contoh zona kerja excavator PC2000-8 dibagi menjadi
3 zona yaitu :
Zona 1 : area yang dilakukan PI adalah daerah untuk area lower structure dan
attachment.
Zona 2 : area yang dilakukan PI adalah area hydraulic termasuk area hose dan
lubrication.
Zona 3 : area yang dilakukan PI adalah area engine dan cabin.

3. Perbaikan Proses
Hasil dari periodical inspection akan selalu direview secara reguler dan temuan
termasuk untuk backlog management dan disimpan kedalam database sehingga tim
Periodical Service (PANTHER-P) akan melakukan action pada saat periodical service.

B. Tugas & Tanggung Jawab

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 37


C. PUMA Standart Operation Procedure

1. MEET Map
Dalam aktifitas PU terdapat aktifitas pengisian MEET Map untuk schedule hari
berikutnya pada sore hari setelah kegiatan PI selain itu pada saat itu juga dilakukan PUMA
review untuk mengevaluasi hasil PI hari itu.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 38


Dibawah ini adalah gambaran MEET Map untuk PUMA EXA.

Priority Table

Poin-poin implementasi yang harus diperhatikan :


1. Urutan prioritas : jadwal inspeksi dari customer, unit yang belum dicek baik oleh shift
siang hari ini atau sebelumnya, unit yang akan dicek shift malam hari ini dan prioritas
terakhir adalah unit yang telah dicek hari ini oleh tim inspeksi shift siang
2. Semakin lama unit tersebut tidak dicheck, semakin prioritas utama untuk dicheck.
3. Mekanik harus meminta dan memiliki washing schedule dan refueling schedule ke
supervisor, Jika menggunakan waktu washing time dan atau refueling time untuk
inspeksi
Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 39
Langkah – langkah pengisian:
1. Berilah tanda silang (x) pada unit-unit yang berada di area blasting pada saat rest time
2. Mencocokan unit yang akan diinspeksi dengan timing waktu yang tersedia (contoh :
morning change shift, rest time day shift, refueling time and washing time), kemudian
berilah tanda lingkaran hitam () pada pertemuan unit tsb dengan timing waktunya.

Dibawah ini adalah gambaran MEET Map untuk PUMA DT.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 40


2. Daily Check Sheet

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 41


Poin implementasi yang harus diperhatikan :
Mekanik tidak hanya melakukan pemeriksaan fisik saat inspeksi, tapi juga bisa
melakukan perbaikan minor, lubrikasi dan testing unit. Tergantung dari waktu yang
tersedia, kesiapan parts dan ketersediaan equipment.

No. Form
DAILY INSPECTION SHEET Revision
01/SVC-DIV/ IX/2012
5
PC 2000-8 Owner Service Division

Inspection Date Location Cnd Note Priority


No Description Foto
Unit Serial Number Shift G B U 1 2 3 4 5 6 1 2 3
Unit Code Time To Start 3 LH lock pin boom pivot
SMR Time Finish 4 RH lock pin boom pivot
D. Front Central Frame
1 Front Frame
Zone 1 : Front Attachment and Track Group 2 Front Swing Circle
3 Front Connection (hose & pipe)
4 Check stop valve HIC
E. Cylinder Attachment
1 Boom Cylinder LH

E A 2 Boom Cylinder RH
3 Arm Cylinder LH
E A 4 Arm Cylinder RH
5 Bucket Cylinder LH
6 Bucket Cylinder RH
I F. Bucket
1 Bucket

F 2 Link Bucket
3 Teeth Buc ket
4 Shroud
5 Pin Buc ket
6 Central Grease Manifold Arm
H 7 Hose Grease Pin
C D G. Track Group RH
B H 1 RH Frame

C G D Thick of Soil Level 2


3
Idler RH
Tension of Track
J B 4 Track Roller
G Clean Medium High 5 Carrier Roller
J 6 Track Shoe
7 Shoe Bolt
Soil 8 Track Link
9 Sproket RH
10 Level Hard of Soil U/C RH Clean : Soft : Hard :
Please check list (V) according actual condition of soil in undercarriage RH & LH 11 Level Thick of Soil U/C RH Clean : Medium : High :
H. Travel Motor
Condition (Cnd) Note (Nt) Priority (Pr'ty) 1 Trave Motor LH
G Good Condition 1 Leaking 4 Loosen 1 Ganti sekarang juga 2 Travel Motor RH
B Bad Condition 2 Broken 5 Worn 2 Ganti saat change shift 3 LH Cover & Bottom Guard U
Tidak dicheck 3 Missing 6 Crack 3 Open backlog 4 RH Cover & Bottom Guard
Please fulfill remark for detail condtion of component/ item, if it bad condition I. Rear Central Frame
Please mark (V) if took a picture during inspection 1 Rear Frame
2 Rear Swing Circle
Cnd Note Priority 3 Rear Connection (Hose & Pipe)
No Description Re ma rk Foto
G B U 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 Piping Travel Motor LH & RH
A. Main Ladder (Left Ladder) J. Cabin Base
1 Main Ladder 1 Valve & Solenoid Pilot Sys

3 Mounting of Ladder
2 Cylinder
1 3 Accumulator PPC
2 Related Hose of Pilot Sys
4 Step Ladder 4 Press Switch Sensor Pilot Sys
5 Ladder Switch
6 Ladder Lamp
B. Track Group LH
1 LH Frame
2 6
7
8
5 Electrical Panel
Related Electric Cable
Fuse
Cabin Base Lamp
2 Idler LH 9 Level of Water W ipper Low : High : Std :
3 Tension of Track
4 Track Roller
5 Carrier Roller
6 Track Shoe
7 Shoe Bolt Operator Name : Sign Mechanic Name Operator Na me
8 Track Link Comment :
9 Sproket LH Sign : Sign :
10 Level Hard of Soil U/C LH
11 Level Thick of Soil U/C LH
C. Working Attac hment
Clean :
Clean :
Soft :
Medium :
Hard :
High : 3
1 Boom Attachment Sign Date : Sign Date :
2 Arm Attac hment

Page 1

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 42


• Berilah tanda cek () atas kondisi aktual unit pada kolom yang tersedia. Jika tidak
melakukan pemeriksaan pada item-item tertentu, berilah tanda cek () pada kolom
unchecked atas item tersebut.
• Ambillah gambar/foto pada item yang berkondisi buruk, berilah tanda cek () pada
kolom photo atas item tersebut.
• Interview operator untuk mengetahui gejala-gejala atau permasalahan yang dialami
selama unit beroperasi dan harus mendapatkan tandatangan operator unit tersebut.

3. Backlog Entry Sheet


Temuan backlog baru dan backlog lama yang telah dieksekusi dimonitoring per unit
dalam sheet ini.

Langkah – langkah implementasi


1. Lengkapi Backlog Entry Sheet (BES) sebelum tiba di kantor, kecuali Part Number,
Figure, dan Index yang dilengkapi setelah di kantor karena membutuhkan data dari
LinkOne
2. Jika backlog dieksekusi (perbaikan minor), catatlah eksekusi backog tsb pada BES,
lengkapi problem, part description, part number dan kolom “Backlog Update”

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 43


4. Backlog Monitoring Sheet
Selain melakukan inspeksi juga dilakukan monitoring kondisi actual backlog yang masih
berstatus “open” per unit.

Langkah – langkah implementasi :


1. Mekanik wajib mengisi BMS pada kolom Log date (tanggal pencatatan, problem
description, part description, part number. Jika ada temuan backlog baru

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 44


2. Mendapatkan segera update (BMS) unit-unit dari ADM PPC setelah pekerjaan periodic
service selesai. (jika ada unit yang dijadwalkan PS)
3. Jika ada lebih dari satu PUMA Team, maka lakukanlah sharing data backlog terkini
antar team pada setiap akhir shift

5. PUMA Monitoring EXA


Aktifitas PUMA juga akan selalu di monitor dengan mengisi PUMA Monitoring report.
Segala macam info hasil PI sebelumnya akan direcord dan di update kepada mekanik pada
dayshift berikutnya.

Langkah – langkah implementasi


1. PUMA Monitoring ditandatangani oleh supervisor dan disimpan di PUMA Book
2. Dikembalikan ke ADM PPC jika sudah terisi penuh dan mencetak lembar baru
sebagai penggantinya.

6. Problem Log
Problem log bertujuan untuk memastikan pekerjaan dapat selesai sesuai dengan target
dan agar problem yang sama tidak berulang kembali. Supervisor/ team leader wajib
mencatat PIC pelapor dan PIC pe-follow up problem tersebut

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 45


Data yang sudah tercatat akan kebali direcord kedalam data base berikut dengan foto-foto
hasil temuan dari unit per unit.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 46


Rangkuman Materi 2

1. Terdapat 3 hal perbedaan yang terjadi antara periodic inspection old versio n dengan PUMA
inspection terdiri dari PUMA Dokumen Baru, Penerapan Zona Kerja, Perbaikan Proses.
2. Dokumen baru untuk PUMA terdiri dari PUMA Book, MEET MAP, & PUMA Monitoring.
3. PUMA Book berisi tentang prosedur-prosedure aktifitas PUMA yaitu mengenai SOP PUMA
EXA, PUMA Review agenda dan absensi, jadwal inspeksi dari customer, PUMA Monitoring
EXA, MEET Map EXA, Backlog Monitoring Sheet (BMS), Pareto problem unscheduled
breakdown report.
4. Meet Map digunakan untuk memetakan unit yang telah dilakukan inspeksi maupun unit
yang belum dilakukan inspeksi. Ini dilakukan untuk melakukan control dan scheduling
dalam pelaksanaan aktifitas PUMA setiap harinya.
5. Penerapan zona kerja terdiri dari 3 zona yaitu
- Zona 1 = area yang dilakukan PI adalah daerah untuk area lower structure dan
attachment.
- Zona 2 = area yang dilakukan PI adalah area hydraulic termasuk area hose dan
lubrication.
- Zona 3 = area yang dilakukan PI adalah area engine dan cabin.
Pembagian zona kerja untuk masing-masing unit akan berbeda tergantung dari jenis
unitnya. (PC1250,PC2000,PC3000,PC4000,HD785-7,HD1500).
6. Dalam aktifitas PU terdapat aktifitas pengisian MEET Map untuk schedule hari berikutnya
pada sore hari setelah kegiatan PI selain itu pada saat itu juga dilakukan PUMA review
untuk mengevaluasi hasil PI hari itu.
7. Selain melakukan inspeksi juga dilakukan monitoring kondisi actual backlog yang masih
berstatus “open” per unit.
8. Temuan backlog baru dan backlog lama yang telah dieksekusi akan selalu dimonitoring per
unit dalam backlog entry sheet.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 47


Soal Latihan 2
1. Jelaskan apa sajakah PUMA Workstream dalam SBPR.
2. Apa sajakah yang terdapat dalam PUMA Book SBPR?
3. Sebutkan tugas dan tanggung jawab personil-personil dalam aktifitas PUMA.
4. Sebutkan pembagian zona kerja pada aktifitas PUMA.
5. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan PU dalam PUMA.
6. Jelaskan pula apakah yang dimaksud M & A pada aktifitas PUMA.
7. Apakah fungsi dari Probem Log?

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 48


BAB III
PERIODIC INSPECTION

Setiap komponen/item pemeriksaan belum tentu memiliki aspek penilaian yang sama
ataupun sifat kerusakan yang sama. Hal ini dikarenakan oleh beberapa hal seperti jenis material
dengan fungsinya dan sifat komponen itu sendiri. Sehingga diperlukan penilaian kriteria kerusakan
pada setiap item inspeksi untuk memudahkan aktifitas periodical inspection. Beberapa aktifitas
periodical inspection dilakukan dengan critical point sebagai berikut :

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 49


BAB IV
PENUTUP

Peserta pelatihan secara pengetahuan harus menguasai kompetensi-kompetensi yang


terdapat pada modul ini. Pada dasarnya dalam modul ini bertujuan agar peserta pelatihan dapat
mengetahui komponen, lokasi serta prosedur dari maintenance. Modul Basic Maintenance ini
termasuk kedalam salah satu materi dalam pelatihan Basic Technical Course (BTC).
Peserta pelatihan diharapkan terus melanjutkan pembelajaran Basic Maintenance secara
mandiri setelah pelatihan ini berakhir, sehingga dapat dijadikan persiapa n untuk mengikuti
pelatihan selanjutnya. Akhir kata, semoga modul ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Technical Training Department PI-MDM/13/0O/PC 50


® UNITED TRACTORS

Daftar Pustaka

IA;t Technical Training Department P/-MDM/13/00/PC 51