Anda di halaman 1dari 8

NAMA : ADELHEIT ADVELIA SIJUM

NPK : 17023000005

PETA KONSEP

MATERIALITAS RISIKO DAN STRATEGI AUDIT AWAL

1. KONSEP MATERIALITAS
MATERIALITAS 2. MENGAPA KONSEP MATERIALITAS
PENTING DALAM AUDIT ATAS LAPORAN
KEUANGAN ?
3. PERTIMBANGAN AWAL TENTANG
MATERIALITAS

 Materialitas pada tingkat laporan


keuangan
 Materialitas pada tingkat saldo akun
 Alokasi materialitas laporan keuangan ke
akun
 Penggunaan materialitas dalam
mengevaluasi bukti audit

1. RISIKO AUDIT PADA TINGKAT LAPORAN


RISIKO AUDIT KEUANGAN DAN TINGKAT SALDO AKUN
2. UNSUR RISIKO AUDIT
3. PENGGUNAAN INFORMASI RISIKO AUDIT
4. HUBUNGAN ANTARUNSUR RISIKO
5. HUBUNGAN ANTARA MATERIALITAS RISIKO
AUDIT DAN BUKTI AUDIT

 Risiko audit keseluruhan


 Risiko audit individual
 Risiko pengendalian
 Risiko deteksi
STRATEGI AUDIT  UNSUR STTRATEGI AUDIT AWAL
AWAL  PENDEKATAN TERUTAMA SUBSTANTIF
 PENDEKATAN RISIKO PENGENDALIAN
RENDAH
 PERBANDINGAN DUA STRATEGI AUDIT
TERSEBUT
MATERIALITAS RISIKO DAN STRATEGI AUDIT AWAL

A. Konsep materialitas
Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi
akuntansi, yang dilihat dari kedaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan
perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakakn
kepercayaan terhadap informasi tersebut karena adanya penghilangan atau salah saji.
Dengan demikian auditor harus memperhatikan baik- baik untuk :
1. Keadaan yang berkaitan dengan entitas
2. Kebutuhan informasi pihak yang akan meletakan kepercayaan atas laporan
keuangan auditan.

Pemahaman materialitas membutuhkan pertimbangan kearifan profesional dan


kebutuhan informasi keuangan oleh para pengguna laporan keunagan dengan asumsi :

1. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas bisnis ekonomi, dan akuntansi.
2. Memahami bahwa laporan keuangan disusun , disajikan dan diaudit berdasarkan
tingkat materialitas tertentu.
3. Mengakui bahwa setiap entitas adanya ketidakpastian risiko bawaan.

B. Mengapa Konsep Materialitas Penting dalam Audit Atas Laporan Keuangan?


Dalam audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan bagi
klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan audit
adalah akurat.
Oleh karena itu, dalam audit atas laporan keuangan , auditor memberikan keyakinan
(assurance) berikut ini:
1. Jumlah – jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan beserta
pengungkapanya telah dicatat, diringkas, digolongkan dan dikompilasi
2. Ia telah mengumpulkan bukti audit kompeten yang cukup sebagai dasar
memadai untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan.
3. Dalam bentuk pendapat (memberikan informasi dalam hal terdapat
pengecualian), bahwa laporan keuangan sebagai keseluruhan disajikan secara
wajar dan tidak terdapat salah saji material karena kekeliruan dan kecurangan.

C. Pertimbangan Awal tentang Materialitas


Pertimbangan materialitas mencakupi pertimbangan kuantitatif dan kualitatif.
 Pertimbangan kuantitatif berkaitan dengan hubungan salah saji dengan jumlah
kunci tertentu dalam laporan keuangan.
 Pertimbangan kualitatif berkaitan dengan penyebab salah saji.

Contoh pertimbangan kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan auditor dalam


mempertimbangkan materialitas.

1. Hubungan salah saji dengan jumlah kunci tertentu dalam laporan seperti :
a. Laba b ersih sebelum pajak dalam laporan keuangan
b. Total aktiva dalam neraca
c. Total aktiva lancar dalam neraca
d. Total pemegang saham dalam neraca
2. Faktor kualitatif
a. Kemungkinana terjadinya pembayaran yang melanggar hukum
b. Kemungkinan terjadinya kecurangan
c. Syarat yang tercantum dalam perjanjian penarikan kredit dari bank yang
mengharuskan klien untuk mempertahankan beberapa rasio keuangan pada
tingkat minimum tertentu
d. Adanya gangguan pada trend laba
e. Sikap manajemen terhadap integritas laporan keuangan

Dalam perencanaan suatu audit, auditor harus menetapkan materialitas pada dua tingkat
berikut ini:

a. Tingkat laporan keuangan, karena pendapat auditor atas kewajaran mencakup laporan
keuangan sebagai keseluruhaan
b. Tingkat saldo akuan, karena auditor memverifikasi saldo akun dalam mencapai
kesimpulan menyeluruh atas kewajaran laporan keuangan

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pertimbangan adalah sebagai berikut:

Materialitas Pada Tingkat Laporan Keuangan

Auditor menggunkan dua cara dalam menerapkan materiliatas, yaitu:

 Pertama, auditor menggunakan materiliatas dalam perencanaan audit.


 Kedua , pada saaat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanaan audit.

Materialitas Pada Tingkat Saldo Akun

Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat
dalam saldo akun tidak boleh dicampuradukan dengan istilah saldo akun material.

Saldo akun material adalah besarnya saldo akun yang tercatat , sedangkan konsep materialitas
berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi
keuangan.

Alokasi Materialitas Laporan Keuangan Ke Akun

Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya salah


saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memferifikasi akun
tersebut.

Contoh soal :untuk menggambarkan alokasi materialitas , misalkan PT.X memiliki


komposisi aktiva sebagai berikut:
Kas Rp 500.000
Piutang Usaha Rp 1.500.000
Sediaan Rp 3.000.000

Aktiva Tetap Rp 5.000.000


Jumlah Aktiva Rp 10.000.000

Auditor memperkirakan salah saji dalam akun kas dan aktiva tetap kemungkinana kecilnya
terjadi dan salah saji dalam akun piutang usaha dan sedian kemungkinan lebih banhyak
terjadi.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan klien, auditor memperkirakan akun dengan


sedikit salah saji akan sangat murah biayanya untuk mengaudit dibandingkan dengan akun
lain. Misalnya jika prakiraan awal materialitas laporan keuangan adalah 1% dari total aktiva,
atau Rp100.000, auditor tersebut dapat mempertimbangkan dua alternatif dalam
mengalokasikan materialitas laporan keuangan ke akun secara individual sebagai berikut :

Alokasi materialitas
Akun Alternatif A % Alternatif B %
Kas 5.000 5 2.000 2
Piutang usaha 15.000 15 18.000 18
Sediaan 30.000 30 50.000 50
Aktiva tetap 50.000 50 30.000 30

Total 100.000 100 100.000 100


Dalam alternatif A, materialitas dialokasikan secara proporsional kedalam setiap akun , tanpa
memperhatikan taksiran salah saji moneter dan biaya audit untuk mendeteksi salah saji
tersebut.

Penerapan materialitas dalam tahapan Audit

Konsep materialitas diterapkan auditor pada semua tahapan audit mulai dari perencanaan ,
pelaksanaan audit dan pada saat merumuskan opini dalam laporan auditor.

Materialitas dalam perencanaan Audit

Dalam perencanaan audit auditor mempertimbangkan kesalahan yang dipandang material


sebagai dasar untuk :

 Menentukan sifat saat dan luas prosedur penilaian resiko


 Mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji material
 Menentukan sifat saat dan luas prosedur audit lanjutan

Pada saat menetapkan strategi audit secara keseluruhan auditor harus menetukan materialitas
untuk laporan keuangan secara keseluruhaan “overail Materiality” yang didasarkan atas
presepsi auditor mengenai kebutuhan informasi keuangan dari pengguna laporan keuangan.
Materialitas pada tahap pelaksanan audit

Pada tahap pelaksanaan audit penentuaan materialitas dilaksanakan pada tingkat saldo akun,
jenis tranasksi, dan pengungkapan “spesific materiality”

Materialitas bukanlah ukuran kuantitatif semata, tetapi secara kualitatif. Materialitas dalam
makna kualitatif berhubungan dengan sifat/kondisi/penyebab salah saji. Contoh kerugian
negara karena korupsi pengadaan Al Qur’an secara kuantitatif kecil. Namun secara kualitatif
kerugian tersebut material karena pengeluaran APBN tersebut mempunyai nilai lugur umat
islam.

Pertimbangan materialitas dari aspek kualitatif meliputi:

1) Kemungkinan terjadinya pembayaran yang melanggar hukum


2) Kemungkinan terjadinya kecurangan
3) Syarat perjanjian kredit dari bank
4) Adanya gangguan trend laba
5) Integritas manajemen dalam laporan keuangan

D. Hubungan Antara Materialitas Dengan Bukti Audit


Semakin rendah tingkat materialitas , semakin besar mumlah bukti yang diperlukan.
Hal ini disebabkan karena materialitas merupakan satu diantara faktor yang
mempengaruhi pertimbangan auditor tentang kecukupan (kuantitas) bukti audit.
E. Risiko Audit
Risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor , tanpa disadari, tidak
memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya , atas suatu laporan keuangan yang
mengandung salah saji material.
F. Risiko Audit Pada Tingkat Laporan Keuangan Dan Tingkat Saldo Akun
Risiko audit dibagi dalam dua bagian yaitu:
1. Risiko audit keseluruhan (overal audit risk)
Pada tahap perencanaan auditnya , auditor pertama kali harus menentukan risiko
audit keseluruhaan yang direncanakan , yang merupakan besarnya resiko yang
dapat ditanggung oleh auditor dalam menyatakan bahwa laporan keuangan
disajikan secara wajar, padahal kenyataanya, laporan keuangan tersebut berisi
salah saji material.
2. Risiko audit individual
3. Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara individual, risiko
audit secara keseluruhaan harus dialokasikan kepada akun-akun yang berkaitan.
G. Unsur Risiko Audit
Terdapat tiga unsur risiko audit yaitu:
a. Risiko bawaan
Adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu
salah saji material , dengan asumsi bahwa tidak terdpat kebijakan dan prosedur
pengendalian intern yang terkait.
b. Risiko pengendalian
Risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat
dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas.
c. Risiko deteksi
Adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material
yang terdapat dalam suatu asersi.
H. Penggunaan Informasi Risiko Audit
Rumus :
Risiki audit individual = risiko bawaan X risiko pengendalian X risiko deteksi

Dari formula tersebut resiko deteksi dapat dihitung dengan formula berikut:

Risiko deteksi : risiko audit individual


Risiko bawaan X risiko pengendalian
Dari formula ini risiko deteksi dapat dihitung melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1. Menetapkan risiko audit, risiko bawaan dan risiko pengendalian secara individual
berdasarkan pertimbangan profesional auditor
2. Melakukan penghitungan risiko deteksi sesuai dengan formula tersebut
I. Hubungan Antarunsur Risiko
Risiko bawaan Risiko pengendalian risiko deteksi

Kerentanan asersi Prosedur Laporan


Pengendalia
individual Salah saji material auditor untuk
n intern keuangan
terhadap salah tidak dapat menverifikasi Salah saji material
klien yang beriswi
saji material dicegah atau tidak asersi tetap tidak dapat
salah saji
dapat dideteksi dideteksi dalam
dengan material
asersi individual
pengendalian namun
intern klien deiberi
kloien
pengendalian inten
dengan
dan dideteksi
Salah saji ditengah

pendeapat
wajar tanpa
verifikasi auditor
dengan prosedur
Salah saji dideteksi

pengecualian

J. Hubungan Antara Materialitas Risiko Audit dan Bukti Audit


Jika materialitas rendah jumlah salah saji yang kecil saja dapat mempengaryhi
keputusan pemakaian informasi keuangan auditor perlu mengumpulkan bukti audit
kompoten dalam jumlah banyak. Sebaliknya jika materialitas tinggi jumlah salah saji
besar baru dapat mempengaruhi informasi pemakaian informasi keuangan auditor
hanya perlu mengumpulkan bukti audit kompoten dalam mumlah sedikit.
Sebaliknya semakin tinggi risiko audit auditor harus bersedia untuk mennanggung
risiko audit tinggi sehingga tingkat kepastian yang diinginkan oleh auditor adalah
rendah .
K. Srategi Audit Awal
Unsur strategi audit awal
a) Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan
b) Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh
c) Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko
pengendalian
d) Tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit
ketingkat yang cukup rendah
Strategi audit awal dibagi menjadi :
 Pendekatan terutama substantif
Auditor mengumpulkan semua atau hampir semua bukti audit dengan
menggunakan pengujian subtantif dan auditor sedikit meletakkan
kepercayaan atau tidak mempercayai pengendalian intern,
Alasan para auditor melakukan pendekatan ini :
 Hanya terdapat sedikit kebijakan jika ada, dan prosedur
pengendalian intern yang relavan dengan perikatan audit atas
laporan keuangan
 Kebiajakn dan prosedur pengendalian intern yang berkaitan
dengan asersi untuk akun dan golongan transaksi signifikan
tidak efektif
 Peletalan kepercayaan besar terhadap pengujian subtantif lebih
efisien untuk asersi tertentu.
 Pendekatan risiko pengendalian rendah
Dalam pendekatan ini, auditor meletakan kepercayaan moderat atau
pada tingkat kepercayaan penuh terhadap pengendalian , sebagai
akibatnya auditor hanya melaksanakan sedikit pengujian substantif.